Kneelx Present

ChanBaek

HunHan

KaiSoo

Disclaimer : Fanfic ini benar-benar berasal dari otak author sendiri, author hanya meminjam nama untuk kepentingan cerita. Tidak suka dengan cerita ataupun cast silahkan menekan/memencet tanda kembali/back. Terima kasih


Konflik udah di mulai yaa..

REVIEW REVIEW REVIEWWW PLEASEE


"Oh Daepyo ada didalam?"

"Ah Hoejangnim" sapa lelaki yang bertugas sebagai sekretaris Sehun kaget seraya membungkukkan badannya hormat "Ne, Oh Daepyonim ada di dalam"

"Thankyou" ucap Chanyeol sambil mengangguk dan menuju pintu yang tak sebesar diruangannya pastinya.

Membuka pintu itu hingga menampakkan ruangan dengan tulisan 'RETAIL TEAM' yang terpampang besar dibalik punggung Sehun yang kini tengah menatapnya heran. Sesaat setelah Chanyeol masuk Sehun berdiri kemudian membungkuk sejenak.

"Ada keperluan apa Hoejangnim?"

Chanyeol terkekeh, ditutupnya pintu yang tadi dia buka kemudian menarik gorden menutupi ruangan Sehun sepenuhnya

"Sante cah, lu sama Jongin bener-bener kagak cocok pake sopan-sopanan"

"Kampret memang. Kenapa?" Sehun beranjak dari kursinya menuju sofa disebrang tempat Chanyeol yang tengah duduk nyender

"Kangeen"

Sehun cengo ditempat "Lu kerasukan apaan Yeol? Jijik gue" ucapnya merinding

"Sok-sokan jijik mpret, bilang aja lu seneng dikangenin cogan"

"Ternyata otak lu makin eror pas jatuh cinta"

Chanyeol tak menyanggah, malah nyengir lebar "Hehehe.. sepertinya yes"

BRAK

"DEDE OH SEEEH"

Keduanya mengalihkan pandangan kearah pintu. Terlihat Jongin yang menenteng kresek dengan tangan sebelahnya yang memeluk botol cola berukuran besar.

"Lu ngapain Jong?" tanya Chanyeol

"Nggak usah nanyain gue ngapain kalau lu kayak begini juga tadi. Iya kan? Ngaku lu" cerocosnya. Jongin mengambil langkah dan berakhir duduk di sebelah Chanyeol

"Maaf Jong, gue gak jadi kayak begitu tadi"

"Wa waa.. Kampret, tadi lu sama gue kan udah janjian" ucapnya kesal seraya melempar barang bawaannya ke atas meja.

"Janji apaan? Ooo lu berdua main kagak ngajak-ngajak gue? Ok fine. Cinta gue hilang, sahabat gue juga hilang"

Ternyata pepatah yang mengatakan orang yang sedang patah hati akan menjadi super sensitif itu benar. Jongin dan Chanyeol mendengus pelan kemudian berpindah duduk disebelah kiri dan kanan Sehun.

"Ngambek mulu Seh, lu bener-bener lagi datang matahari atau gimana?"

"Mau abang temenin ganti gak? Siapa tau bocor" setelah Chanyeol kini Jongin yang menggodanya.

"Mati aja lu berdua"

"Jangan dong, nanti siapa yang nemenin dede Sehun yang lagi patah hati?" Chanyeol bersuara, dan itu terdengar geli ditelinga Sehun

"Mati satu tumbuh seribu. dia hilang ntar banyak dia dia lain yang muncul. Kalem weh kalem" Jongin menyemangati

"Lu kira Luhan barang? Dan juga jangan sebut nama anak itu dulu"

"Barusan lu sendiri yang nyebut geb. Kangen ya? Rindu ya?" Chanyeol kalau ngomong suka bener memang

"Jangan rindu Seh, berat, biar gue saja" Jongin menirukan salah satu kalimat yang tengah booming di Indonesia.

"Lu berdua kenapa jadi menggelikan gini? Hahaha.." tanya Sehun dengan tawa diwajahnya

"Asa.. lu liat kan Yeol, gue duluan yang bikin ni bocah ketawa. Berarti lu yang bayar hari ini" Jongin joget-joget heboh

"Hari ini apaan?" Sehun bingung kuadrat sekarang

"Kepo lu. Gue beli ayam tadi, ayo makan" setelah puas berjoget ria, Jongin kembali duduk kemudian membuka kresek tadi, semerbak aroma lezat memenuhi ruangan Sehun "Seh gelas kertas mana?"

"Disamping lemari" Sehun menunjuk rak yang penuh dengan dokumen-dokumen penting. Jongin beranjak mengambilnya lalu kembali ke posisi awal.

Ketiga manusia dalam ikatan sahabat itu memakan ayam dengan nikmat ditambah rasa cola yang menambah tingkat kemantapan makan siang mereka. Sesekali mereka tertawa dan kadang kembali serius saat membahas beberapa masalah perusahaan.

\/

Sehun diam ditempat, pupilnya bergerak mengamati pemandangan di hadapannya yang kemudian di akhiri dengan helaan nafas.

Selesai jam kantor tadi, Chanyeol yang biasanya tetap berada diruangannya dan mempelajari semua dokumen atau mungkin pergi bermesra-mesraan bersama Baekhyun dan Jongin yang biasanya akan pergi ke restaurant Kyungsoo, malah serentak mengajaknya ke sebuah taman bermain.

Mencoba mengerti usaha yang dilakukan Chanyeol dan Jongin untuk membuatnya merasa lebih baik, Sehun mencoba menikmati.

Namun kadang lirikan atau tatapan orang yang lewat membuatnya tak nyaman.

Bagaimana mereka tidak menjadi pusat perhatian, bayangkan tiga lelaki macho dengan setelan jas lengkap saling bergandengan lengan dengan yang paling putih berada ditengah.

Oh jangan lupakan bando bermotif telinga kucing, anjing dan singa di kepala mereka.

"Malu-maluin sumpah" gerutu Sehun sambil sesekali menutup wajahnya

"Nikmatin aja Seh" sahut Jongin sambil merangkul pundak Sehun

"Yoi, nikmatin aja. Kalem Seh, bukan lu dong yang malu"

Sehun menoleh ke kiri dan kanannya, baru dia sadar kalau wajah Chanyeol dan Jongin tak jauh beda dengan wajahnya yang memerah menahan malu. Baiklah, untuk kali ini Sehun akan mengikuti kegilaan mereka.

\/

"Fire!" seru ketiganya serentak

DOOR DOOR DOOR

Semua mata memandang Chanyeol, Jongin dan Sehun yang fokus menembak burung-burungan yang keluar tanpa henti. Disaat mereka asik menembak hampir semua burung-burungan, di sebelahnya ada pemilik tempat permainan yang berdoa agar tembakan mereka meleset.

"Wohoo, Yeah"

Sayangnya doa sang pemilik tidak didengarkan. Ketiganya tos satu sama lain dengan senyum lebar yang semakin melebar.

"Baiklah, silahkan dipilih hadiahnya" suruh bapak tadi pasrah.

Ketiganya bertatapan bingung. Mereka tak tahu harus memilih yang mana, lebih tepatnya mereka tak ingin memilih karena demi apa hadiahnya boneka dan tentu saja mereka tidak berniat mengoleksi boneka.

"Ahjussi simpan saja dulu hadiahnya. Nanti kalau kami bertiga kembali bersama pacar kami, baru kami ambil hadiahnya" Jongin mencoba negosiasi
"Bagaimana?"

Nada yang awalnya bersuara lembut mendayu, tiba-tiba berubah menjadi suara tegas tanpa ingin penolakan.

"O..oke"

"Sip. Ayo ketempat lain" Chanyeol bersorak dan ketiga seme itu kembali mencari korban penjual lain.

Setelah puas menjelajah tempat permainan, kini ketiganya tengah berdiri disalah satu stand jajanan tteobeoki dll, bibi penjual yang senang melhat mereka makan dengan lahap memberikan tambahan secara cuma-cuma. Ketiganya mengucap 'Terima kasih' bersamaan.

"Aigoo, kalian terlihat sangat tampan. Apa pacar kalian sedang ke toilet?" tanya bibi itu dengan logat Satori yang kental

"Tidak, kami datang bertiga" jawab Chanyeol

"Kalian pasti sudah bersahabat untuk waktu yang lama"

"Waa.. ahjumma, apa anda peramal?" tanya Jongin

"Hahaha.. tidak-tidak, hanya saja ahjumma seperti pernah melihat kalian bertiga dulu"

"Mungkin kami dulu pernah ke sini" Sehun berspekulasi.

"Bisa jadi. Seh makan yang banyak, gue liat lu kurusant" Jongin menyodorkan lagi omuk dan beberapa jajanan ke piring Sehun

"Jangan cepet-cepet, keselek tau rasa lu" dan sekarang Chanyeol memberikannya air minum.

Lahir sebagai anak sulung membuat Sehun tak bisa merasakan kasih sayang seorang kakak. Meskipun memalukan, terkadang Sehun menyukai saat-saat Chanyeol dan Jongin memperhatikannya layaknya kakak seperti yang barusan terjadi.

Sehun memandang keduanya lembut, dia akui sebelum mereka datang dan membuat keributan di ruangannya tadi, Sehun benar-benar berada dalam mood terbawah sepanjang hidupnya.

Tentu saja kalian tahu siapa dan apa penyebabnya.

Hanya sekedar membayangkan bagaimana hidupnya tanpa 2 dorks ini saja Sehun tak mau. Jika di dunia ini tidak ada namanya gengsi, mungkin Sehun sudah menghambur memeluk dan mencium pipi keduanya dari tadi.

"Pacar lu berdua kagak marah ditinggal?"

"Baby Kyung gue ke apartemen Chanyeol. Baekhyun mau belajar masak katanya" jawab Jongin dengan mulutnya yang terbuka karna panasnya tteobokki.

"Doain Baekkie gue cepet pinter masak biar gue kagak makan-makanan asin lagi" Chanyeol berucap penuh harap

"Ok"

Jongin dan Chanyeol menyatukan telapak tangannya kemudian melipat jari jemarinya, retina masing-masing tertutup dengan mulut yang mulai komat-kamit tak jelas

"Lu pada ngapain?"

"Berdoa Seh, tadi kan si Chanyeol suruh berdoa. Lu juga cepetan berdoa"

Sehun menepuk jidatnya, dia baru ingat kalau mereka sedikit rada-rada. Karena Sehun sudah berjanji akan mengikuti kegilaan keduanya hari ini, dia juga memulai doanya.

'Biarkan kami selalu bersama seperti ini. Chanyeol hyung dan Jongin hyung, berikanlah mereka kesehatan dan kebahagiaan yang melimpah. Saya sayang mereka'

"Woy Seh, lama bener lu berdoa" Jongin menepuk tengkuk Sehun lumayan keras

"Jangan lu ganggu dulu Jong, siapa tau dede Sehun lagi berdoa dapet Luhan yang lain"

Sehun yang awalnya berdoa untuk kebaikan mereka merasa ingin menarik dan membatalkan doanya.

Drrtt...

Disela tawanya, Chanyeol merogoh kantungnya saat getaran penanda pesan terasa dipahanya.

'Kau terlihat bahagia sekali saat bersama dua idiot itu. Kenapa kau tak pernah sebahagia itu saat bersamaku?'
21.27 PM

Chanyeol mengangkat sebelah alisnya bingung. Pandangannya menatap layar ponsel lekat-lekat, matanya bergerak mengikuti arah kata demi kata yang dibacanya ulang.

'Jangan bingung seperti itu. Lanjutkan saja kegiatanmu'
21.32 PM

Chanyeol melebarkan matanya kaget, irisnya bergerak ke kiri, kanan depan dan belakang. Namun, yang terlihat hanyalah wajah orang asing yang berlalu lalang.

"Yeol, kenapa?"

Jongin menggoyangkan bahu Chanyeol pelan saat sahabatnya itu malah berdiri diam meninggalkan Jongin dan Sehun yang mulai berjalan ke tempat lain.

"Kagak kenapa kenapa. Langsung pulang. Gue kangen Baekkie" Chanyeol memaksakan sebuah senyum diwajahnya

Chanyeol mengambil langkah lebih dulu, Jongin yang berada di belakangnya mengernyit heran. Sedetik kemudian dia mengendikkan bahunnya, Jongin yakin Chanyeol akan bercerita jika masalahnya besar.

\/

'Pagi Park, biasakan dirimu untuk membaca berita di pagi hari.
click the link : -bussnise-news/458924/Presiden-Direktur-PCC-is-Gay?'
07.55 AM

Matanya membelak kaget. Chanyeol bangun terduduk dengan ekspresi kaget tatkala pesan itu terbaca olehnya. Dia menggerakkan jempol kanannya mengetuk link yang dikirim oleh si noname.

Artikel itu terbuka menampakkan foto Chanyeol bersama Baekhyun di halte kemarin sebagai awalan isi artikel.

Selesai dengan bacaannya, bunyi gemeletuk gigi Chanyeol terdengar.

Sialan, siapa yang mencari gara-gara dengannya sekarang?

Keahliannya memainkan benda pintar itu tak membuatnya membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan sebuah kontak seseorang.

"Yixing hyung, lama tak bertemu. Aku butuh bantuanmu hyung?"

.

.

"Yeolliee, ayo bangun. Cuci mukamu terus sarapan" panggilan nyaring dari Baekhyun membuyarkan lamunan Chanyeol yang baru saja memutus sambungan telfon.

"Neee" responnya dan beranjak menuju wc.

"Kau masak apa pagi ini?" tanya Chanyeol setelah sebelumnya mengecup pucuk kepala Baekhyun

"Kare, hehehe.. Tunggulah sebentar lagi, dagingnya blm terlalu matang. Seharusnya aku memasukkan dagingnya dulu sebelum bumbu karenya. Ishh"

"Kkk.. gak apa-apa Baek" Chanyeol menyubit pipi Baekhyun gemas. "Baek pinjam hpmu sebenta, jaringan hp ku sedang gangguan"

"Iya pake aja. Ada di nakas dekat lemari"

Dengan langkah pasti Chanyeol kembali masuk ke kamarnya, mengambil ponsel Baekhyun dan mengacaukan sistem jaringan Baekhyun. Jangan bertanya bagaimana cara dia melakukannya karena author pun tak tahu.

"Yeol sudah matang"

"Aku datang Baekkiee" sahut Chanyeol besar lalu kembali ke meja makan

"Sudah?" tanya Baekhyun tepat saat Chanyeol mendudukkan bokongnya

"Jaringan hp mu juga rusak. Biar kubawa hpmu ketempat service nanti sekalian"

"Baiklah, lagi pula hari ini aku tak kemana-mana. Pimpinan belum memberikanku kasus baru"

"Tetaplah dirumah, aku akan pulang cepat"

"Tenang saja, aku akan memanggil Kyungsoo lagi hari ini"

Baekhyun layaknya cermin bagi Chanyeol. Karena ketika Baekhyum tersenyum, Chanyeol juga pasti akan tersenyum.

Telapak tangannya terangkat tuk mengacak surai Baekhyun yang kini berwarna karamel. Terlihat sangat manis untuknya. Dengan satu tarikan, Chanyeol menarik Baekhyun kedekapannya.

"Aku mencintaimu"

"Hahaha, ada apa denganmu pagi ini eoh?" Baekhyun menepuk punggung Chanyeol lembut

"Tak ada, hanya ingin kau tau kalau aku mencintaimu"

"Aku juga mencintaimu Yeolliee. Jadi sekarang lepas dan ayo makan" tepukan Baekhyun yang awalnya lembut berubah menjadi tepukan keras yang cukup menyakitkan hingga membuat Chanyeol meringis.

\/

"Apa-apaan berita itu. Terus kenapa kalau gue gay? Masalah buat mereka? Sialan!" Chanyeol bersuara garang.

Sehun dan Jongin yang kini tengah berada diruangannya terdiam. Mereka juga sama bingungnya, karena baru kali ini Chanyeol mendapat berita tak menyenangkan setelah lebih dari 3 tahun, terlebih sekarang beritanya mengenai kehidupan pribadi Chanyeol.

"Yeol, sekarang bukan waktu yang tepat buat lu marah-marah. Lu lihat penulis berita disana noname, kagak ada penjelasan apapun di profil penulis dan ternyata penulis itu baru gabung sore kemarin" Jongin berucap heran

"Gue udah nanya ke perusahaan yang berwenang atas situs itu dan mereka bahkan kagak tau berita itu dari situs mereka" sambung Sehun yang tak kalah herannya

"Hoejangnim" Tiffany menerobos masuk tanpa ada ketukan sebelumnya

"Ada apa?"

"Para pemegang saham dan jajaran direksi meminta adanya pertemuan manajemen"

Chanyeol tersenyum miring "Mereka meminta bertemu hanya karena sebuah artikel?"

Nada sinis Chanyeol meninggalkan efek merinding bagi Tiffany. Selama dia bekerja bersama Chanyeol, baru kali ini dia mendengar nada seperti itu.

"Baiklah, mari kita bertemu" senyum miringnya berganti dengan senyum lebar seperti biasa

"War world" bisik Jongin pada Sehun yang dibalas dengan anggukan setuju dari empunya.

\/

"Imej perusahaan bisa rusak jika seperti ini"

"Bagaimana pandangan perusahaan yang tengah menjalin kerja sama dengan perusahaan ini sekarang?"

Lontaran-lontaran protes itu terus berdatangan. Chanyeol yang duduk di kursinya mengetuk-ngetukkan jarinya dengan tempo teratur.

"Bagaimanapun juga kami tak setuju jika perusahaan ini di pimpin oleh penyuka sesama jenis seperti anda"

Ketukannya terhenti, matanya yang sempat terpejam terbuka dan melayangkan tatapan nyalang yang tertuju lurus pada lelaki paruh baya di sisi kanan meja sekarang.

Mencoba mengontrol emosinya, Chanyeol kembali menampakkan sebuah senyum.

"Kami? Kami siapa?" tanya Chanyeol membuka suara.

Suara-suara yang awalnya terdengar sangat ribut terasa damai dalam hitungan detik.

"Siapa saja 'kami' yang pak Lim maksud? Apa lebih dari 5 orang?"
"Jika kurang dari 5 orang, anda tahu resikonya kan? Dan saya tak peduli sekalipun anda pemegang saham terbanyak disini"
"Tapi kenyataannya, saham anda tak sebesar omongan anda"

Suasana dalam ruangan berubah menjadi tegang. Pak Lim terdiam ditempatnya dengan pandangan yang merunduk tak berani menatap balik Chanyeol.

"Saya mengerti kenapa masalah seksual saya bisa membuat para pemegang saham gempar"
"Namun sampai sekarang saya belum menerima panggilan protes dari perusahaan yang tengah menjalin kerja sama dengan perusahaan ini"
"Dan saya malah mendapatkan protes dari bapak-bapak dan ibu ibu pemegang saham yang terhormat" sambung Chanyeol dengan penuh penekanan di kalimat terakhirnya.

"Maaf menyela, bukan maksud mengganggu Park Hoejangnim. Tapi anda sekalian pasti tau kalau saya juga gay. Saat anda sekalian tahu, kenapa anda tak meminta saya untuk turun jabatan juga?"

Jongin bersuara tegas, batinnya tak senang melihat Chanyeol di pojokkan seperti ini.

"Saya tak meminta Park Hoejangnim untuk turun jabatan" pak Lim memberikan pembelaan

"'Tak setuju jika perusahaan di pimpin oleh penyuka sesama jenis.' Apa itu terdengar seperti tak meminta Park Hoejangnim turun jabatan?" Suara datar Sehun menyeruak

Para pemegang saham berbisik-bisik pelan. Kemudian salah satu dari mereka mengangkat tangan ragu

"Sebenarnya kami menerima pesan dari nomor tak dikenal bahwa Park Hoejangnim sudah tidak kompeten lagi untuk memimpin perusahaan karena masalah ketertarikan seksualnya"

"Kami semua hadir disini karena ingin memastikan bahwa perusahaan tetap berjalan lancar tanpa hambatan" tambah suara lainnya.

Chanyeol membuang nafasnya pelan "Komisaris Lee, bisa anda jelaskan keadaan saham saat ini?" pintanya

"Ne Hoejangnim. Kami telah memperhatikan pengaruh artikel pagi tadi dengan harga saham kita di bursa pasar dan tidak ada perubahan yang drastis"
"Harga saham kita masih menduduki peringkat satu sebagai harga saham termahal dalam bisnis barang dan jasa"

"Tapi bagaimana jika berita ini semakin menyebar dan mengakibatkan turunnya harga saham?"

"Anda sekalian pasti sudah tau prestasi-prestasi apa saja yang di dapatkan perusahaan ini selama dibawah kepemimpinan Park Hoejangnim"
"Sekalipun harga saham turun, jika kinerja perusahaan kita tetap berada di level terbaikm maka harga saham akan membaik dengan cepat"

Komisaris Lee menjelaskan panjang lebar tentang dampak serta penganan atas isu yang menerpa Chanyeol.

"Baiklah pertama saya ingin meminta maaf karena masalah pribadi saya yang mungkin menyebabkan anda sekalian merasa tak nyaman"
"Meskipun nantinya akan ada penurunan harga saham, selama bapak-bapak dan ibu ibu sekalian percaya pada kinerja perusahaan ini, saya tak akan mengecewakan para pemegang saham yang telah bersama perusahaan ini sejak awal ataupun yang baru bergabung"

Selesai dengan kalimatnya, Chanyeol berdiri dari kursinya. Tubuhnya yang tegap perlahan merunduk hingga 90 derajat.

Kaget dengan aksi Chanyeol, para pemegang saham dan jajaran direksi maupun komisaris ikut berdiri dan membalas bungkukkan Chanyeol.

Para pemegang saham sekalipun, meski masih ragu tapi mereka akhirnya setuju dan memutuskan untuk tidak menarik investasi mereka.

Pertemuan telah berakhir dan kini hanya tersisa Chanyeol, Jongin dan Sehun dalam ruangan rapat tadi.

"Yeol jujurdah, pasti ada terjadi sesuatu?" Jongin memulai percakapan

"Jong, Seh.." keduanya menatap Chanyeol fokus "..sebenernya gue nerima pesan aneh dari seseorang kemarin"

Jongin dan Sehun mengerutkan dahinya bingung setelah mendengarkan cerita Chanyeol. Sedikit seram jika membayangkan orang yang mengirimi Chanyeol pesan adalah seorang penguntit yang mungkin saja jatuh cinta pada Chanyeol.

"Tapi, bukannya pak Lim kelihatan aneh tadi?" Sehun mencoba meyakinkan pendapatnya

"Iya juga. Gak biasanya dia banyak bicara. Gimana Yeol?" Jongin menolehkan kepalanya ke arah Chanyeol

Chanyeol mengangguk membenarkan. "Firasat gue gak enak" ungkapnya.

\/

"Kyung, ini bener kan?"

"Hooh bener Baek, nah terus lu masukin kepiting yang kita rebus tadi"

"Ok"

Baekhyun beranjak sedikit ke sebelah lalu mengangkat kepiting dari panci satunya kemudian meletakkan kepiting yang telah matang sempurna itu diatas penggorengan berisi bumbu yang baru saja jadi.

"Pelan-pelan Baek. Baek gue pinjem telpon bentar ya. Mau nelfon Jongin"

"Eh, hp gue dibawa Chanyeol tadi Kyung"

"Maksud gue telpon rumah" Kyungsoo memutar matanya

"Yaudah langsung pake aja" balas Baekhyun judes

Tanpa sahutan lain Kyungsoo beranjak menuju ruang tengah, jemarinya mengangkat sebuah remote tv dan mematikan layar yang tengah menyajikan berita tentang salah satu isu dari pemilik sebuah perusahaan.

"Chanyeol kenapa?"

"Baekhyun-ah!" Kyungsoo berbalik dengan raut kagetnya

"Presiden direktur PC company itu Chanyeol kan? Kenapa dia masuk berita pagi?"

Kyungsoo terdiam ditempatnya, tak tahu harus berkata apa sekarang. Dia sudah janji pada Chanyeol untuk tidak mengatakan apapun pada Baekhyun.

"Kyung jawab, Chanyeol kenapa?" Baekhyun tak dapat menyembunyikan raut khawatirnnya.

Sebenarnya dia menyusul Kyungsoo untuk bertanya beberapa pertanyaan seputar masak. Tapi, tepat sebelum Kyungsoo mematikan televisi, Baekhyun sempat melihat berita itu sekilas.

"Chanyeol kagak kenapa-kenapa Baek. Memangnya apa yang bakal dilakuin yoda itu"

"Lu gak bisa bohong Kyung"

Terkutuklah Baekhyun dengan segala insting hukumnya. Kini lidah Kyungsoo mendadak kelu, dia paling tidak bisa dihadapkan dengan situasi seperti ini.

Tak bisa menutupinya lebih lama. Kyungsoo akhirnya bercerita tentang artikel pagi ini. Baekhyun mengambil ponsel Kyungsoo yang terletak di atas meja kemudian mencari nama Chanyeol, dan benar saja namanya berada di peringkat pertama pencarian Naver.

"Tapi kenapa gak ada artikel apapun kayak yang lu cerita Kyung?"

"Chanyeol sudah beresin yang itu pastinya"

Baekhyun tertunduk lesu "Terus sekarang gimana? Bukannya isu kayak gini bisa buat repot perusahaan?"

"Hey Baek, tegaklah. Meskipun berita ini gak kesebar sekarang, pasti nanti juga bakalan kesebar pas kalian lanjut ke jenjang pernikahan"

"Tapi, gimana kalau banyak orang yang nentang jabatan Yeollie sekarang?"

"Sekarang gue paham kenapa Chanyeol minta gue buat sembunyiin ini dari Lu Baek" Kyungsoo menghela nafasnya pelan

"Ni ya Baek, dengerin baik-baik. Nggak ada artikel kayak gini juga tetap ada orang yang nentang jabatan Chanyeol. Tapi lu lihat kan kalau Chanyeol sampai sekarang masih pertahanin jabatannya" jemari Kyungsoo menghapus butir bening yang jatuh dari pelupuk mata Baekhyun

"Dulu saat ada isu gak ngenakkin kayak gini. Chanyeol gak pernah gunain kuasanya buat hapus berita. Tapi sekarang, karena ini bersangkutan sama lu, dia langsung gerak cepat. Dia mikirin lu sampai gimana pekerjaan lu ntar"

"Jadi nanti pas Chanyeol pulang, lebih baik kalau lu kasih dia semangat yang gede. Karena gue yakin sekarang dia lagi puyeng kuadrat"

"Darimana lu tau dia lagi puyeng Kyung?" tanya Baekhyun curiga

"Tadi Jongin nelpon kasi tau. Btw Baek, masakan yang tadi gimana?"

"Astaga naga Kyung" Baekhyun melompat dari tempatnya dan berlari menuju dapur.

Kan Baeek.. untung gak gosong.

\/

'Bagaimana salam pembuka dariku? Ingatlah Park, ini baru permulaan'
13.41 PM

Chanyeol tersenyum remeh saat membaca pesan yang baru saja masuk

'Kutunggu. Pengecut ;)'
13.42

Bunyi notifikasi pesan membuat orang itu menghentikan kegiatannya sesaat. Dengan geram dibantingnya ponsel itu hingga membentur kerasnya dinding bata.

"PARK CHANYEOL SIALAN! TUNGGU SAJA KAU BANGSAT!"

.

.

TBC


Aing ndak pengen cuap banyak-banyak, cuma mau minta reviewnya...

See you di next chap..

REVIEW REVIEW REVIEEWW...