Declaimer Always Mashasi Kishimoto
But, this story and some weird words always be mine.
WARNING : OOC, AU, Fantasy, ETC.
Genre : Advanture, Fantasy, Romance, Friendship, Humor, etc etc.
Rate : T+
Pair : SasuSaku
Book One : Destiny We Choose.
By Selenavella
CHAPITRE : VIII
.
.
Mobil hitam itu berpacu cepat di jalanan yang berkelok-kelok. Walaupun berada di sisi jurang dan jika si pengemudi oleng sedikit mereka bisa langsung terjun bebas ke laut, si pengemudi tidak menurunkan kecepatan mobilnya. Wajah kedua orang itu terlihat sama-sama tegang.
"Bagaimana ini…," gumam sang gadis. Ia menoleh ke arah pemuda tampan di sisinya. "Haruskah kita melapor pada Nona Tsunade?"
"Tidak," jawab Sasuke singkat. Pemuda itu mengeratkan pegangannya pada kemudinya. "Kita masih harus menunggu apakah yang dikatakan oleh Ukon itu benar. Kita belum tahu jamnya dengan pasti, dan kita tidak bisa mengacaukan Zleats Ball."
Jelas kedua orang itu sama-sama bingung, mereka masih bertanya-tanya apa yang Ukon katakan itu benar atau tidak. Lelaki itu memang berkata bahwa malam ini Damasquile akan di serang oleh Shadow Leakue, dan lelaki itu tahu semua ini dari saudara kembarnya yang merupakan pengikut dari White Aerith. Akan tetapi Ukon tidak tahu waktu pastinya kapan, tapi setelah beberapa kali melemparkan rayuan, akhirnya Ukon bersedia mencari tahu kapan pastinya Shadow Leakue akan menyerang.
Dan pemuda pemilik toko musik itu berjanji akan mengabari secepatnya.
"Kalau begitu apa yang harus kita lakukan Sasuke?" ujar Sakura pelan. Ia menggigit bibir bawahnya. "Aku takut."
Sasuke tidak bisa menyalahkan Sakura yang saat ini jelas ketakutan, tapi bagaimanapun juga mereka harus mengontrol diri mereka. Karena, apabila mereka tidak berpikir jernih maka keadaan malah akan semakin runyam.
Jika yang dikatakan Ukon hanya kebohongan semata maka itu merupakan hal yang melegakan.
Akan tetapi…
Jika itu adalah kebenaran?
"Kita lihat saja nanti." Sasuke membelokan mobilnya ke dalam jalan masuk menuju Damasquile. "Sementara ini, jangan jauh-jauh dariku Sakura."
Sasuke sendiri tidak tahu apa yang bisa ia lakukan.
.
.
.
.
Sasuke dan Sakura yang tiba di pintu aula utama membungkukan tubuhnya.
"Kalian kemana saja!" teriak Shizune. Ia mengambil microfon dari tangan Sasuke. "Sebentar lagi acara akan dimulai! Dan kalian malah belum tiba!"
"Tadi, ada sedikit halangan," Sasuke berkata dengan tenang. "Dimana Nona Tsunade?"
"Ia baru datang dari pusat kota, kalian bersiap-siaplah! Kalian tunggu saja di depan pintu aula, nanti ketika pintu terbuka kalian berdua masuklah dan berjalan menuju area di tengah sana ya? Mengertikan? Kalian sudah mendapatkan pengarahan bukan?"
"Ya, kali mengerti," Sakura mengangguk kaku.
"Kalau begitu, aku tinggalkan kalian terlebih dahulu," Shizune lalu dengan terburu-buru meninggalkan mereka berdua.
Keheningan kembali menyelimuti keduanya. Sakura adalah orang yang memecahkan keheningan itu dengan tawa canggungnya. Ia menggigit bibirnya dengan gugup, berharap tawanya bisa mencairkan suasana –walaupun jelas gagal.
"Ha ha ha, baiklah kita tidak akan menghancurkan acara Zleats Ball setelah usaha keras kita belakangan?" Sakura tertawa hambar. Ia menghembuskan nafasnya. "Siap tidak siap, kita harus membuka acara ini."
"Ya."
Sebuah tangan terulur ke arah Sakura. Gadis itu memandangi tangan orang itu dengan heran, ia lalu menatap wajah pemilik tangan. Sasuke sendiri hanya mengangkat alis sebelah kanannya, seolah menanyakan apa yang ditatap gadis itu.
"Hn?"
"Tangan?" dan begitulah jawaban pintar dari Haruno Sakura.
"Apalagi memang gadis bodoh?"
"Huh," Sakura mendengus jengkel. "Hanya untuk malam ini."
"Aa, hanya untuk malam ini."
Dan, jemari Sakurapun menyambut uluran tangan Sasuke. Dalam hatinya, Sakura merasakan bahwa tangannya terasa begitu pas di dalam gandengan pemuda tampan itu. Merekapun berjalan bergandengan menuju pintu besar aula. Sakura menutup matanya berusaha menenangkan debaran yang menggila di dalam dadanya. Ia tidak pernah menyangka bahwa hari seperti ini akan tiba juga.
Suara alunan orkestra dari dalam ruangan menandakan acara itu akan di mulai.
Sesuai tradisi, sepasang Rhean dan Kleav itupun masuk ke dalam ruangan dengan tangan berpautan, membuka acara Zleats Ball sebagai orang yang pertama berdansa.
Begitu pintu di buka, Sasuke dan Sakura berjalan dengan tenang ke dalam ruangan. Sasuke masuk tetap dengan pandangan datarnya, sementara Sakura menebar senyumnya. Keduanya tampil begitu serasi, dan mau tak mau menimbulkan keirian dari banyak orang di dalam ruangan tersebut.
Jarak dari pintu aula ke tempat dansa cukup jauh, namun tidak di butuhkan waktu yang lama hingga mereka sampai di tengah ruangan.
Musik berhenti, tanda bagi pasangan itu untuk mempersiapkan diri untuk berdansa.
Begitu tangan keduanya sudah pada tempatnya masing-masing, permainan biolapun terdengar dan keduanya berputar-putar menari. Sakura nyari bisa mendengar bagaimana suara jantungnya terdengar begitu jelas. Ia bahkan takut Sasuke bisa mendengar debaran jantungnya.
Tapi, ia sendiri tidak mengerti mengapa sampai jantungnya berdebar sampai begitu.
Apa karena ketakutan akan serangan ke Damasquile, atau karena senyum tipis yang Sasuke lempar padanya.
"Rileks Sakura, jangan kaku begitu," bisik Sasuke ketika selesai mengangkatnya ke udara. Gaunnya mengembang dengan indah di udara ketika Sasuke memutar tubuhnya. Ketika lelaki itu menarik gadis itu mendekat lagi, itu merupakan tanda bahwa pasangan-pasangan di sekeliling lantai dansa boleh bergabung. "Ukon sepertinya sudah mengirimkan pesan, ponselku terasa bergetar."
"Bisakah kita –"
"Begitu lagu ini selesai, kita melapor pada Kakashi atau Tsunade, kemudian mencari teman-temanmu," potong Sasuke. Ia lalu memutar Sakura kembali. "Aku tahu kau khawatir bukan?"
Dan, Sakurapun bernafas lega. Ia tidak pernah tahu bahwa Sasuke sepandai itu membaca pikiran orang lain. Sakura tersenyum dan mengucapkan terima kasih dengan suara pelan. Karena keduanya tidak bisa meninggalkan lantai dansa dengan tiba-tiba, keduanya terpaksa menahan dirinya.
Lagu itu terasa begitu panjang bagi Sakura. Padahal sebelumnya, Sakura tidak pernah menyadari berapa lama lagu ini berlangsung.
Harapan Sakurapun terwujud, akhirnya orkestra berhenti memainkan lagu klasik tersebut. Masih dengan pegangan di jemari Sasuke, Sakura menarik Sasuke keluar dari lantai dansa. Matanya mulai mencari-cari temannya. Ino atau Hinata, siapapun yang bisa di percaya untuk mengabarkan pada guru atau siapapun untuk menambah penjagaan atau apapun–walaupun ia berharap bahwa isi pesan itu mengatakan bahwa semua itu hanyalah lelucon kejam.
"Mereka akan menyerang malam ini, pukul 8 atau 9. Mereka dalam perjalanan."
Suara Sasuke membuatnya menolehkan kepala ke jam besar yang terlihat dari jendela besar aula, ia membelalakan matanya melihat jam menunjukan angka 7.55.
Berarti –
"Kita cari Nona Tsunade dulu, brengsek kenapa kabar itu tidak sampai ke Itachi," maki Sasuke seraya menarik tangannya.
"Tunggu!" tukas gadis itu menghentikan langkah Sasuke. "Kita beritahu Naruto? Setidaknya, kita butuh bantuan bukan?"
Dan, ia menemukan lelaki berambut pirang itu dengan si wanita berambut indigo. Walau wajah Hinata yang terlihat seperti orang yang akan pingsan, Sakura tahu bahwa sahabatnya itu berbahagia. Ia jadi ragu untuk memberi tahu Hinata, ia tidak ingin merusak moment dari Hinata dan Naruto itu.
"Ayo."
Suara Sasuke menyadarkannya. Merekapun bersama-sama mendatangi Naruto dan Hinata. Ketika mereka sampai di depan Naruto dan Hinata, seringai Narutopun terkembang.
"Wah wah wah… Aku tidak menyangka kalau kalian malah jadi pasangan betulan," Naruto terkekeh masih dengan kedua tangannya yang melingkari tubuh Hinata. Ia menyeringai jahil, sambil memandangi Sakura dan Sasuke. "Kalian ini berpacaran kok tidak bilang-bilang sih!"
Sakura mengerutkan alisnya. Ia lalu mengikuti arah pandang mata biru Naruto. Dan iapun baru menyadari kalau tangan keduanya masih terpaut satu sama lain. Sakura menarik tangannya sambil memukul Naruto. "Naruto!"
Wajahnya mengeras, ia tidak mau satu orangpun ada yang menangkap wajahnya yang mulai memanas. "Ini bukan waktu yang tepat, dobe."
"Adududuh, sakit tahu Sakura! Kau ini monster jadi-jadian ya!"
"Ini bukan waktu yang tepat untuk bercanda idiot!"
"Sa-Sakura kenapa kemari?" Hinata angkat bicara, setengah b erusaha meredakan amarah sahabatnya itu. "Ke-kenapa?"
Perkataan Hinata seolah menamparnya dan mengingatkan gentingnya keadaan saat ini, ia meraih tangan Hinata dan menggenggamnya.
"Bisa kau bantu aku? Tolong cari Neji, berjaga-jagalah jangan lengah malam ini," terang Sakura panjang lebar. "Cari Shizune-sensei dan katakan Damasquile akan di serang, aku tidak tahu tapi para Shadow Leakue tengah dalam perjalanan kemari."
"Shadow Leakue?" mata Hinata berkilat kaget. "Ba-bagaimana –"
"Ini tidak penting, tolong pokoknya kerjakan secepat mungkin."
"Kau tahu dari mana?" tanya Naruto dengan mata menyipit.
"White Aerith, mereka katanya akan menyerang Damasquile hari ini," Sasuke melirik ponselnya. "Orang yang bertugas melaporkan ke Itachi di serang. Waktunya sudah di tentukan, pukul 8."
"A-apa?" ujar Sakura tergagap. Ia lalu menatap Naruto dengan tatapan memohon. "Tolong , aku percayakan semuanya pada kalian."
"He-HEY!" teriak Naruto.
Keduanya tidak bisa mendengarkan perkataan Naruto. Mereka nyaris berlari sangat cepat dan menghilang di kerumunan orang-orang. Naruto memandangi keduanya dengan cemas. Hal itu tertangkap oleh mata lavender Hinata.
"Ka-Kau susul saja mereka," ujar Hinata pelan. "Aku akan baik-baik saja, kita bertemu lagi nanti. Aku akan pergi dengan Kak Neji mencari Shizune-sensei. Aku tidak akan mungkin ditinggalkan Kak Neji di sini ne."
"Benar tidak apa-apa? Aku juga khawatir padamu tahu," ujar Naruto dengan bibir yang mengerucut.
"Aku tahu, tapi Na-Naruto pasti ingin membantu Sasukekan? Tidak apa-apa."
"Baiklah, tapi kalau ada apa-apa tolong hubungi ponselku ya?"
"Pasti," Hinata mengangguk yakin. "Pergilah."
.
.
.
.
.
.
.
Kleiv dan Rhean itu berlarian sepanjang koridor. Waktu mereka hanya tersisa sedikit, sementara ruangan Tsunade masih terasa begitu jauh. Waktu terus berputar, dan seakan-akan di kejar-kejar, keduanya berlarian makin cepat.
Ketakutan dalam diri mereka sama-sama tumbuh semakin besar.
DUAAAAAAAAAR!
Suara ledakan itu menghentikan kedua orang itu. Mereka saling memandang satu sama lain, walaupun Sasuke mampu menyembunyikan Sakurapun akhirnya berhenti berlari. Bulir-bulir keringat mulai terlihat di keningnya. Wajah gadis itu terlihat panik. "Sasuke… Barusan itu…"
Sebelum Sasuke mampu menjawab pertanyaan Sakura. Suara nyanyian terdengar dari bagian utara kastil –tempat ruang kerja Tsunade. Sakura cukup pintar untuk menyimpulkan apa yang terjadi. Ia tahu siapa yang bernyanyi itu. Suara orang-orang itu terdengar oleh seisi kastil mungkin.
.
Kami adalah bayangan.
Kami para santo yang suci.
Kami akan menyucikan jiwa kalian.
Datanglah, bersujud pada White Aerith.
Karena, dialah orang utusan Tuhan untuk kami semua.
Hidup dengan kejayaan, bahagialah kalian yang mendengar ini.
.
Bulu kuduk Sakura mulai terasa berdiri. Ia tahu nyanyian sakral itu merupakan nyanyian para Shadow Leakue . Ini adalah pertanda bahwa penyerangan telah dimulai. Mereka sudah menyanyikan lagu kematian.
"SASUKE! SAKURA!"
Suara teriakan terdengar dari belakang mereka. Kedua orang itu sontak memutar tubuhnya dan menemukan seorang pemuda berambut kuning tengah berlari ke arah mereka. Wajah lelaki itu terlihat panik alih-alih ketakutan. Begitu dekat dengan kedua orang yang ia cari, Uzumaki Naruto menghentikan langkahnya.
"Penyerangan…," ujarnya pelan. Pemuda Uzumaki itu lalu memandang keduanya bergantian. "Ta-tadi aku bertemu Kakashi-sensei, dan diamenyuruh kita langsung pergi secepat mungkin dari sini."
"Apa?! Tapi bagaimana dengan Ibu?" seru Sakura frustasi. "Aku tidak mungkin meninggalkannya di sini! Tadi terjadi ledakan di kantornya! Aku ingin mengecek ke sana!"
"Sakura! Ini perintah!" seru Naruto dengan mata birunya yang terlihat begitu gelap kali ini. Ia lalu menatap Sasuke dengan harap. "Kau membawa kunci slovorieskymu?"
"Ya."
"Kita pergi," Naruto lalu menyeret tangan kedua temannya itu.
"NARUTO!" teriak Sakura. Ia menarik tangannya dengan kasar. Ia melotot marah pada Naruto. "Tsunade adalah Ibuku! Dan Ibu sedang ada di dalam! Walaupun ia bukan Ibu kandungku, aku tidak mau kalau sampai Ibu kenapa-kenapa!"
"Sakura! Ini perintah langsung dari Nona Tsunade! Dia memerintahkannya pada Kakashi, Nona Tsunade berpesan untuk langsung membawamu pergi dengan keadaan utuh. Mungkin, saat ini ia tengah bertarung di sana! Kumohon mengertilah!" teriak Naruto tak terkendali. Pemuda berambut kuning itu tidak pernah terlihat sepanik ini. "Jika kau benar-benar menyayangi Tsunade, maka tolong ikut denganku."
"Tapi…"
"Ikutlah Sakura, semuanya akan baik-baik saja."
Dengan enggan Sakurapun akhirnya mau di seret oleh kedua lelaki itu. Suara pekikan dan jeritan terdengar begitu jelas, Sakura menjadi takut. Ia membayangkan bagaimana jika itu adalah dirinya yang ada di dalam? Atau sahabatnya!
Demi Tuhan ia tidak pernah setakut ini.
Jarak dari koridor timur menuju tempat parkiran memang tidak begitu jauh. Mereka bertiga sampai tanpa menemui satu orang Shadow Leakue, Sasuke menyalakan alarm mobilnya sebelum melempar kuncinya pada Naruto. Naruto masuk ke dalam kursi pengemudi, sementara Sasuke dan Sakura duduk di jok belakang. Naruto yang mengendarai mobil Slovoriesky Sasuke mengumpat.
"Sialan! GPSmu menunjukan kalau gerbang depan tertutup. Ini pasti ulah mereka!" umpat Naruto. Ia lalu menghela nafasnya. Ia memundurkan mobilnya dengan kasar kemudian ia membanting setirnya dan menjalankan mobil dengan cepat.
"Kalau begitu kita lewat mana Naruto?" tanya Sakura.
"Kita lewat hutan pinus, Hinata, Ino, dan Neji dan yang lain juga pasti juga akan melewati tempat itu," Naruto terlihat kembali berkonsentrasi menyetir. Ia menatap Damasquile dari kaca spion mobilnya.
Dan hal itu membawa mimpi buruk pada Naruto.
Damasquile yang biasanya berdiri tegak dan megah, kini terlihat mengerikan. Kobaran api terlihat dimana-mana, menara Astronomi terlihat runtuh, dan suara jeritan-jeritan mengerikan itu terdengar begitu jelas.
Entah mengapa ia merasa beruntung menemukan Kakashi. Jika bukan karena guru berambut perak itu, ia tidak akan tahu dimana Sasuke dan Sakura. Dan, ia juga tidak akan mengetahui jalan rahasia ini.
"Sasuke…," gumam Sakura. Mata hijaunya menutup dengan erat. Ia menutup wajahnya denga kedua telapak tangannya. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. "Demi Tuhan… Bagaimana ini? Kenapa semua ini harus terjadi?"
Uchiha bungsu itu tidak mampu menemukan jawabannya. Ia lalu menarik Sakura dan ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang gadis itu. Sasuke tahu Sakura sedang menangis kali ini di dalam pelukannya, bahu gadis itu bergetar.
Mungkin, jika ini adalah hari-hari biasa ia akan keberatan setengah mati.
Tapi, kali ini ia tidak keberatan.
Ia tahu bagaimana beban berat yang ada di dalam dada Sakura.
Begitu mereka memasuki hutan pinus, semua orang di dalam mobil mulai bernafas lega. Karena, mereka tahu mereka sudah mulai aman. Tidak ada tanda-tanda Shadow Leakue di luar pagar Damasquile. Dan, benar apa kata Kakashi.
Ada bagian dari tembok Damasquile yang bisa di tembus, karena itu hanya sebuah hologram.
"Tenanglah Sakura…," Sasuke memeluk Sakura lebih kencang. Ia ingin meringankan beban gadisi ni.
.
.
"Semua akan baik-baik saja Sakura-chan," gumam Naruto.
.
.
"–Semuanya akan baik-baik saja."
.
.
.
Dan mobil itupun melanju dalam kegelapan menuju…
Mansion Uchiha.
.
.
.
.
.
TO BECONTINUE.
.
.
.
Catatan Author :
Bakakakakakak, akhirnya di update jugaaaaa! Cepetkaan? Saya lagi kejar setoran, mumpung rajin yaa update deh hehehe.
Oh ya, saya lagi ngerjain nih oneshoot baru fantasy juga sih, gara-gara nonton saint seiya saya jadi keinspirasi nulis itu fanfic, tapi gatau kapan di publish. Sakura jadi Athena, dan Sasuke si ganteng jadi Hades kekeke.
Udah ya segini dulu, kita ketemu minggu depan? Atau minggunya minggu depan? See ya!
SPECIAN THANK'S
GazzelE VR (Makasih pujiannya hehehe, bukan kok Shadow Leakue yaa liat nanti tapi bukan akatsuki yaa! Soalnya akatsuki ceritanya baik kok hehe. Ini syudaah update!) ; Pinky Blossom (Syudaah di update yaah hehee) ; cheryxsasuke (iyaa nih, lagi kejar setoraan hehehe. Iya ini udah klimaks Damasquile arc, kalau arc arc yang lain belum mulaaai. Makasih yaaa) ; cherryemo (Makaaaaasih pujiannya! Ini udah update yaah hehehe) ; uchiharuno (Arisa-chan mungkin hehe. Waah ini nagih dark moon di sini salah tempaat huehuehe, dark moon udah beres tapi mungkin gak'an di update dulu yaa, hehehe maafkkaaan) ; Gin Kazaha (romancenya mungkin nanti di chapter belasan yaaa hehehe. Ini sudah di update yaa makasih udah nunggu!) ; hanazono yuri (sudaaaaah update kilat hehe) ; Fujiwara Aeris (Waah typo kayaknya, maafkan yaah! Akasuna Sakura kok bukan Haruno hehe) ; .3 (syudaaaaaah update) ; Tsurugi De Lelouch (Kan kalau dingin juga pasti leleeeeeh hehehe. Saya gak jago bikin action gituuu, maafkan yaah kalau penyerangannya keliatannya garame) ; Alihyun (Iyaa, konfliknya mulai nih soalnya arc 1 sudah tamaat. Engga kok, emang gada mic aja makannya Tsunade nyuruh wkwkwk. Emaang, Sasori yang siscom tuuuh kyaaa XD) ; Refunny (Aku jugaaa pengen punya kakak kayak Sasori hiks. Oh ya? Makasih yaaa, aku kadang masih banyak kosakata yang salah! Sama kok aku juga masih banyaak belajar hehehe) ; mautauaja (Whoaaa makasih udah suka! Hehehehe, udah update cepet yaaah :D ) ; Haekal Uchiha (Mungkin chapter kedepaaannya bakalan banyak romance…mungkin, soalnya genre disini advanture fantasy siiiih yang diutamakan hehehe. Sudaaah di update yaa! Makasih udah nungguin hehe)
