Bohong..
Ini pasti mimpi...
Ya, mimpi...
Tapi pas aku cubit tanganku masih terasa sakit.
Tuhan, aku belum siap sama sekali...
Kuroko no Basuke
Disclaimer: Fujimaki Tadatoshi
Warnings: typo(s), OOC, I don't take any advantage by this fanfiction
Suasana terhening seketika saat Kuroko menembakku secara langsung dan terkesan blak-blakan, tapi serius. Aku sampai tak bisa mengucapkan kata-kata apapun saat ini. Aku hanya bisa mempertahankan wajah merahku yang sudah menutupi wajahku.
"Shirou-san, aku benar-benar fansmu. Aku tak menyangka bisa bertemu langsung dengan penulis blog yang selama ini aku kunjungi untuk membaca ceritanya. Bahkan sebelum tidur aku selalu mengecek update terbaru dari blogmu. Makanya..."
Aku menahan nafas menunggu jeda darinya.
"Aku jatuh cinta pada tulisan-tulisan indah yang kau buat di sana,"lanjutnya.
"Ku-Kuroko...huwaaaa! Aku belum siaaap!"jeritku tiba-tiba sambil menutup wajahku dengan kedua tanganku.
"Kenapa, Shirou-san?"tanyanya bingung dengan wajah polos.
Aku benar-benar malu sekarang dan tak sanggup menatap wajahnya langsung. Kami terdiam cukup lama sampai aku memberanikan diri untuk menatap Kuroko lagi.
"Kuroko-kun.."
"Ya?"sahutnya pelan.
"Ka-kamu...serius kan? Dengan ucapanmu..."
"Tentu saja, Shirou-san,"jawabnya tanpa ragu.
"Anu...sebenarnya...aku...aku...a-aku..."
Ucapanku terpotong saat ujung jarinya menyentuh bibirku, mengisyaratkan agar aku tidak melanjutkannya.
"Aku tahu, kamu menyukaiku kan?"terkanya.
Skakmat.
Aku sudah tak bisa menjawab apapun selain diam. Diam berarti iya.
"Tak apa, aku mengerti, Shirou-san. Kamu ingin mengatakannya duluan, tapi terlalu takut karena kita baru saja bertemu saat di toko buku waktu itu kan? Aku pun merasa demikian,"ujarnya.
"Uhh...iya..."anggukku.
Ia menghela nafas panjang, lalu duduk agak menjauh dariku. "Maaf, aku terlalu blak-blakan. Aku jarang bisa seperti ini. Tapi sungguh aku fans beratmu,"ujarnya. Ia duduk memeluk kedua lututnya sambil menundukkan kepalanya.
"Kuroko-kun...te-terima kasih sebelumnya. Aku pun juga tak menyangka kalau akan secepat ini kamu menyatakannya padaku. Aku pun juga menyukaimu, tapi masih banyak yang tidak aku tahu tentangmu. Jadi..."
Aku menjeda ucapanku, lalu ikut duduk berhadapan dengannya. Aku menyentuh tangannya dengan lembut dan hati-hati. "...kita berteman saja dulu, ya. Setelahnya baru kita jalani dengan lebih serius lagi,"lanjutku hati-hati.
Ia menatapku sesaat untuk mencerna kata-kataku. Aku tersenyum tipis untuk meyakinkan dirinya agar bisa percaya padaku. Barulah ia menghela nafas dan tersenyum sambil membalas tanganku.
"Baiklah, kalau itu maumu. Kita pelan-pelan saja, ya."ucapnya.
Aku tersenyum menjawab pernyataannya. Disisi lain aku bisa melihat dia cukup kecewa karena aku tidak langsung menerimanya. Tapi, mungkin ini yang harus aku jalani pertama agar selanjutnya tidak ada yang lebih kecewa diantara kami.
"Kuroko-kun..."
"Hm?"
"Kemarilah, anggap ini yang pertama untukmu dan juga untukku,"ucapku sambil merentangkan kedua tanganku. Sejujurnya aku malu sekali kalau harus menawarkan pelukan padanya dan jantungku berdebar hebat.
Kuroko-kun mendekatiku dan memelukku hangat. Aku pun membalasnya. "Maaf ya kalau aku masih belum bisa sepenuhnya menerimamu. Tapi aku memang menyukaimu, Kuroko-kun,"bisikku.
"Iya, tak apa. Aku juga minta maaf karena aku terlalu mendadak bilangnya dan blak-blakan seperti yang kamu lihat,"balasnya.
"Permintaan maaf diterima,"sahutku.
Aku dan dia melepaskan pelukan masing-masing dan saling melempar senyum. Lalu, aku menoleh pada Nigou yang mulai terbangun karena kegaduhan kami.
"Nigou sepertinya sudah bangun,"ujarku.
Kuroko-kun menoleh ke belakang. Terlihat Nigou sedang menjilat-jilat bulunya dan wajahya yang baru bangun.
"Sepertinya sudah waktunya makan siang. Kamu tidak lapar?"tanya Kuroko-kun padaku.
"Uhm...sepertinya iya. Bagaimana kalau kita ke dapur untuk membuat sesuatu?"tawarku.
"Ide bagus. Ayo, Nigou! Kita ke bawah"
"Arf!"sahutnya.
Kami pun turun ke dapur untuk memasak. Aku membuka kulkas dan melihat bahan makanan yang kira-kira bisa kumasak. "Bagaimana kalau bikin kare?"usulku.
"Boleh,"
Aku mengeluarkan beberapa bahan ke atas meja dan mulai memotong beberapa bahan. Kuroko-kun juga ikut membantu dengan mengupas beberapa sayuran.
"Kalau di rumah kamu biasa masak apa?"tanyaku.
"Aku mungkin bisa masak, tapi hanya bisa merebus telur. Kalau yang lainnya aku masih harus belajar dengan Kagami-kun,"ujarnya.
Uwah, parah. Tapi bisa masak telur rebus masih termasuk beruntung daripada tidak bisa masak sama sekali. Baiklah, dengan waktu yang ada aku akan unjuk kebolehanku dalam hal memasak.
"Baikla, mumpung kita disini sekalian saja kuajari caranya. Supaya nanti pas dirumah kamu tidak masak telur rebus saja, Kuroko-kun,"ujarku semangat.
Ia terkekeh pelan dan mengiyakan apa yang kuucapkan. Setelah semua sayuran terpotong dan bumbu kare kukeluarkan, kami mulai memasak. Aku menumis sebentar sayuran-sayuran itu dan mulai memasukkan bumbunya. Tak butuh waktu lama, setelahnya hanya tinggal menunggunya mendidih di atas api kecil. Setelahnya aku memotong beberapa sosis untuk tambahan.
Kalau seperti ini rasanya jadi seperti...sepasang kekasih? Atau suami-istri?
Eh? Apa yang kupikirkan? Jangan berpikir yang tidak-tidak ah!
Sret!
"Akh!"jeritku. Tanpa sadar aku melukai jariku sendiri hingga berdarah. Pasti teriris cukup dalam. Dan lukanya terasa perih bersamaan dengan darah segar mengalir dari jari telunjuk kiriku.
"Kau tak apa-apa, Shirou-san?"tanyanya khawatir.
Ia melihat jariku yang terluka dan langsung menarik tanganku menuju washtafel di dekatnya dan memutar keran. Air yang mengalir membersihkan darahku yang keluar cukup banyak dan memberikan sensasi perih yang menggelitik. Setelahnya, Kuroko-kun menjilat luka tersebut dengan lidahnya.
Sesaat aku terpaku ketika ia menyentuhkan lidahnya dengan jari terlunjukku. Ini seperti mimpi rasanya. Ya, mimpi. Tolong seseorang bangunkan aku dari mimpiku sebelum aku mati jantungan karena terlalu lama menahan malu.
"Kuroko-kun..."
"Shirou-san, dimana kotak P3Knya?"tanyanya.
"Ah, disana. Sebentar ya"jawabku langsung bergegas mengambil kotak putih dengan lambang tanda plus berwarna merah di tutupnya.
Aku kembali dan menyerahkannya pada Kuroko-kun. Ia membukanya dan mengambil sedikit kapas dan membubuhkannya dengan obat merah. Setelahnya ia oleskan kapas itu ke jariku yang terluka dengan hati-hati. Aku meringis ketika obat merah itu beraksi dengan lukaku. Untuk mengurangi rasa sakit itu, Kuroko-kun meniupnya pelan. Dan terakhir ia membalutnya dengan hansaplas.
"Sudah..."
"Maaf, ya. Aku jadi merepotkanmu,"ucapku.
"Tak apa, sudah seharusnya begitu kan?"jawabnya.
Aku merona kembali dan membuang muka. Setelahnya aku bangkit dan kembali pada kare yang sudah mendidih setelah ditinggal beberapa saat. Sosis yang kupotong tadi kugoreng diatas wajan panas sebentar. Setelah selesai, aku menaruhnya diatas piring dan kami pun mulai makan bersama.
"Shirou-san, jangan terlalu banyak merona. Kalau seperti itu terus aku bisa menciummu kapan saja loh,"godanya.
"Uhh...jangan menggodaku, Kuroko-kun,"balasku kesal. Bagaimana tidak? Dia kan yang menyebabkan aku merona terus.
Ia tersenyum, lalu menarik wajahku padanya dan mencium pipiku singkat. "Tuh kan, apa kubilang? Aku bisa menciummu kapan saja loh,"ujarnya.
"Jahat, Kuroko-kun! Kembalikan ciuman pipi pertamaku!"sahutku kesal sambil memukul pelan lengannya.
Kuroko-kun, jahat. Aku baru tahu kalau ternyata dia tukang modus dan suka menggoda perempuan seperti itu. Padahal bagian luarnya dia selalu memasang wajah datar dan cuek. Tapi, kalau sudah bersamaku malah jadi begini.
Meski begitu aku senang karena bisa melihat dirinya yang sebenarnya. Yah,kupikir ini yang terbaik bagi kami. Aku harus lebih jujur juga pada diriku sendiri. Tapi, ciuman pipiku yang pertama rasanya...
"Shirou-san, jangan melamun. Habiskan porsimu sebelum dingin,"ujar Kuroko-kun membangunkanku dari lamunanku.
"Itu salahmu karena sudah membuatku melamun, Kuroko-kun,"tudingku.
"Kenapa jadi aku?"balasnya.
Aku tak menjawabnya dan kembali melahap kareku dengan kesal. Sedangkan Nigou yang melihat kami hanya bisa menggonggong senang seperti sedang menggodaku. Ah, tidak anjing maupun majikannya dua-duanya sama-sama suka menggoda perempuan.
Disitu aku harus bersabar.
.
.
.
.
Setelah acara 3M alias 'makan-makan-mesra', tiba-tiba hujan turun dengan lebat. Aku dan Shirou-san sempat kaget karena suara rintikan air yang jatuh dai langit begitu banyak dan deras. Shirou-san berlari menuju halaman belakang dan segera mengambil jemuran dengan cepat. Aku ikut membantunya dan membawa jemuran-jemuran itu ke dalam rumah. Alhasil kami basah kuyup.
"Terima kasih, Kuroko-kun. Tapi, kamu basah sekali. Kamu tidak apa-apa?"tanyanya khawatir.
"Tidak apa kok, asalkan jemurannya selamat saja,"jawabku santai.
"Bukan masalah jemurannya. Kalau sampai masuk angin bagaimana?"ujarnya khawatir.
Oh oke, dia serius kali ini. Setelahnya ia melesat menuju kamar lain dan mengambil sesuatu disana. Dan beberapa detik setelahnya ia kembali dengan membawa handuk dan beberapa helai pakaian. Kuakui dia cepat sekali larinya sampai-sampai aku heran dibuatnya.
"Ini, mandilah dulu. Aku bisa mandi di kamar orang tuaku. Jangan sampai kamu masuk angin, Kuroko-kun,"ujarnya sambil menyerahkanku handuk dan pakaian ganti.
"Baiklah,"sahutku.
Aku menuju kamar mandi yang ditunjukkan oleh Shirou-san dan masuk ke dalamnya. Aku lepas semua kain yang lengket di badanku dan menaruhnya ke dalam ranjang. Setelahnya aku memutar keran shower dan air hangat yang keluar langsung membasahi tubuhku.
Sambil berpikir, aku ini blak-blakan sekali menyatakan perasaanku padanya. Dan semuanya terucap secara spontan. Benar-benar seperti bukan diriku saja. Mungkin karena wajah datarku dia tak bisa mengetahui betapa aku berdebar-debar saat tahu penulis blog yang selama ini menjadi langgananku adalah Shirou-san. Aku menyukai tulisannya yang ia posting disana. Dan tanpa sadar aku sudah jatuh hati pada postingan-postingannya itu.
Sebenarnya aku juga cukup kecewa karena Shirou-san masih belum bisa menerimaku sepenuhnya. Tapi, saat ia memelukku tadi aku benar-benar merasa nyaman dan tentunya tubuhnya yang cukup mungil itu nyaris tenggelam dalam tubuhku. Kalau pun aku yang memeluknya, akan kupeluk erat-erat penuh proteksi dan tak akan pernah kulepas sampai kapan pun.
Uh? Apa yang baru saja kupikirkan? Oi, Kuroko, kau harus kendalikan dirimu. Jangan terbawa nafsu, bodoh!
Aku langsung mengucek-ucek wajahku dengan air agar aku sadar dari lamunanku. Dan aku yakin wajah tampanku langsung luntur dibawa air.
.
.
.
.
Kok aku jadi narsis gini yah?
.
.
.
.
Kuroko-kun lama sekali mandinya. Apa dia ketiduran disana? Huuf, mana hujan makin deras pula. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore dan belum ada tanda-tanda akan reda. Aku bersama Nigou di ruang keluarga sedang menonton tayangan televisi yang meliput cuaca hari ini.
"Pemirsa, cuaca hari ini diperkirakan akan hujan deras disertai badai untuk wilayah Tokyo dan sekitarnya. Hujan akan terus berlangsung hingga malam nanti..."
Sampai malam? Yang benar saja? Masa' iya Kuroko-kun akan menginap?
"Wah, hujannya sampai malam ya?"
"Huwaaaa!"jeritku.
Baru kusadari bahwa pemilik suara itu sudah berada tepat di belakangku. Jantungku berdebar-debar hingga nyaris lepas dari tempatnya. Kalau berdua dengannya aku mungkin tambah takut karena kemunculannya yang tiba-tiba.
"Ma-maaf, Kuroko-kun. Aku..."
"Tidak apa, aku sudah biasa,"jawabnya santai.
Lalu ia berjalan dan duduk di sebelah Nigou. Aku jadi gugup ketika kami duduk bersisian -meski ada Nigou- seperti ini. Rasanya jadi seperti...pasangan pengantin baru.
Oke, stop. Hentikan imajinasi nista tersebut.
Di dalam rumah hanya kamu, dia, dan anjingnya. Sedangkan statusmu, baru saja menerima pernyataan cinta namun ditunda untuk sementara karena ketidaksiapan hati, jiwa, dan raga. Perlu ke klinik Cina terdekat untuk mengobatinya supaya tetap sehat setiap saat.
Aku bingung setengah hidup. Apa yang harus kulakukan ketika ada seorang laki-laki macam Kuroko-kun -yang numpang menginap hari ini karena hujan- dan aku tidak tahu banyak hal tentang dirinya.
Hujan makin deras dan awan terlihat gelap seperti malam meski ini masih sore. Aku baru saja menyalakan lampu ruang keluarga agar tidak terlalu gelap.
Selama aku melamun, tiba-tiba lampu mati dan sekelilingku gelap gulita.
"Astaga! Mati listrik!"jeritku ketakutan.
"Dimana senternya?"tanya Kuroko.
"Arf! Arf!"
"Disini saja kok, dibawah meja depan kita,"jawabku.
Aku berjongkok dan meraba-raba bawah meja kaca yang berada tepat di depan kami. Setelah menemukan benda berbentuk kotak dan berbahan plastik itu aku langsung menyalakannya. Aku menghela nafas-
"Fuhh, syukurlah kita sa-"
CTAAARRR!
"Kyaaa!"
-hanya untuk teriak selanjutnya.
Aku gemetar ketakutan dengan senter yang masih menyala di tanganku. Aku bukannya takut petir, hanya saja aku takut gelap.
"Shirou-san, kamu tidak apa-apa?"tanya Kuroko-ku khawatir.
Ia menyentuh bahuku dan menyadarkanku. Aku hanya bisa menggeleng pelan tanda aku tak baik-baik saja.
"Bagaimana kalau kita ke kamarmu saja? Kita istirahat sambil menunggu hujan reda,"usulnya.
Aku mengiyakan dan ia mengambil senter yang ada di tanganku dan menggandengku menuju kamar. Tak lupa Nigou juga masuk ke kamarku dan menemani kami berdua. Udara jadi terasa dingin di kamarku, waktu yang pas untuk tidur di balik selimut tebal selama hujan berlangsung.
"Kuroko-kun, bisa kamu ambil futonnya? Aku yang akan memegang senternya,"ucapku.
Ia mengiyakan dan mengambil futon yang ada di lemari bajuku paling atas. Setelahnya ia menggelar futon tersebut dan merapikannya. Aku berjalan menuju kasurku, tapi baru beberapa langkah aku tersandung sesuatu disertai teriakan Nigou-
"Arf!"
"Aduh!"
Bruk!
-dan jatuh setelahnya.
Namun anehnya aku jatuh pada sesuatu yang...err, antara empuk dan padat?
"Shirou-san, beraat..."
"Eh? Itu kamu kah, Kuroko-kun?"tanyaku.
Ia langsung menarikku dan berbisik, "menurutmu?"
Ah, oke, ini benar-benar dia. Tapi, posisi kami yang sekarang juga tidak bagus dan terkesan 'aku-akan-diserang-olehnya'
Samar-samar aku bisa melihat siluet wajahnya yang sedang menatapku. Aku langsung merona saat menyadari bahwa jarak antara kami sangat dekat, bahkan saling menyentuh. Aku bangun dari tubuhnya karena kasihan harus menahan berat tubuhku.
"Ma-maaf, aku pasti berat ya?"tanyaku ragu-ragu.
"Memang, tapi..."
"Tapi?"
"Tidak, lupakan,"sahutnya.
Aku seperti mendengar nada kecewa di kalimat terakhirnya. Memangnya aku salah apa?
"Uhm...aku ke kasurku dulu ya-"
"Tunggu,"
Aku terhenti saat sebuah tangan menarikku kembali dan saat kusadari aku sudah berada dibawah tubuhnya. Huwaaaa! Aku mau diapakaaan?
"Ku-Kuroko-kun? Apa yang-"
"Suka..."
"Eh?"
"Aku menyukaimu, Shirou-san,"bisiknya lirih.
Ia menunduk dan memelukku dengan hati-hati. Aku bisa mendengar suara nafasnya tepat ditelingaku. Dan itu membuatku berdebar-debar bukan main. Tubuhku gemetar saat tubuhnya bersentuhan denganku. Ada reaksi aneh pada tubuhku saat ia memelukku seperti ini.
"Aku...juga...Kuroko-kun,"sahutku lemah.
Setelahnya ia merebahkan tubuhnya disampingku dan memelukku erat. Aku tak percaya kalau ini mimpi. Aku dan Kuroko-kun, untuk pertama kalinya berdua dalam satu kehangatan seperti ini.
"Selamat tidur, Shirou-san,"bisiknya.
Dan tak lama aku pun terlelap dalam rengkuhannya.
To be continued...
Mind to RnR?
