Bleach masih tetap punya TITE KUBO...
Dhiya cuma mau minjem karakternya doank kok..
Oke..Silahkan di nikmati ya chapter ke 8 nya.. Semoga memuaskan... ^_^
Chapter 8
"Rangiku..." ucap Gin kaget. Wanita itu segera berlari kearah Gin dan memeluknya erat.
"Kau kemana saja, kenapa lama sekali. Bukankah kau berjani padaku untuk kembali secepatnya ke paris setelah memberitahukan kematian Byakuya pada gadis yang ia sukai. Kau membuatku khawatir saja, menelfon tidak, krim email pun tidak. Kau tahu, aku tidak enak pada ayah dan ibumu karna terus menunda-nunda pernikahan kita yang sudah didepan mata" ucap wanita itu panjang lebar.
Deg, jantung Rukia serasa terhenti saat mendengar kata-kata yang terlontar dari wanita bertubuh seksi itu. Telinga Rukia terasa berdengung, pandangannya sedikit kabur. Tubuhnya bergetar hebat, tak kuasa menahan gejolak jantungnya yang berdegup kencang, nafas nya terasa berat. Rukia benar-benar sangat terpukul mendengar kenyataan yang baru ia terima. Kenyataan bahwa orang yang mulai ia cintai ternyata menyakitinya sesakit ini. Lebih sakit dari yang ia rasakan saat Kaien menolaknya.
"R-Rukia..." lirih Gin mencoba memanggil Rukia yang diam terpaku. Matanya yang terbelalak karna kaget seketika mengeluarkan bukir-bulir kecil dari mata violetnya yang indah. Rukia yang baru tersadar dari keterkejutannya, mencoba berlari meninggalkan Gin dengan wanita yang memeluknya erat.
"Rukia !" teriak Gin sambil mendorong pelan wanita berambut orange itu agar terlepas dari dekapannya. Rukia tidak bergeming, ia terus berlari menuju keluar gerbang sekolah. Namun langkah kakinya terasa berat saat merasakan tangan kekar menggenggam kuat tangan kanannya.
"Dengarkan dulu penjelasanku !" ucap Gin sambil menghentakan tangan Rukia agar berhadapan dengannya. Emosi Rukia ternyata lebih besar dari tenaga Gin yang menghentak tangannya. Seketika genggaman tangan Gin terlepas karna ditarik paksa oleh Rukia yang tidak ingin disentuh oleh Gin.
"JANGAN SENTUH AKU !" teriak Rukia. Gin terlonjak kaget mendengar perkataan Rukia, matanya yang berwarna merah membulat sempurna tampak berkaca-kaca. Gin dapat merasakan emosi dan kekecewaan yang terlontar dari bibir mungil gadis dihadapannya ini. Ia melihat Rukia berlari dengan gontai meninggalkan dirinya, dapat dipastikan Rukia sangat rapuh saat ini. Benar-benar rapuh.
"Gin.." panggil Matumoto pelan. Yang dipanggil tidak mengindahkan atau menghiraukannya. Ia malah tetap menatap sosok yang berlari meninggalkan nya beberapa detik lalu, sosok yang menjauh dari pandangan mata, tak hanya menjauh dari mata tapi juga menjauhkan hatinya untuk Gin. Menutupnya rapat-rapat dengan kebencian yang mulai menjalar dihati gadis itu, gadis yang baru saja ia sakiti.
.
.
.
"Rukia-chan !" panggil Retsu saat melihat anak nya tanpa ba-bi-bu langsung masuk kekamar. Kekhawatiran mulai merasuki hati Retsu, tidak biasanya Rukia pulang sekolah seperti itu. Ia pun mencoba mengetuk pintu kamar kamar putri kesayangannya.
"Rukia..." panggil Retsu lagi dengan suara yang lembut.
"Iya. Ada apa Oka-san ?"
"Kau kenapa ?" tanyanya khawatir.
"Hnn, tidak apa-apa" jawab Rukia singkat.
"Apa kau perlu sesuatu ?" tanya Retsu lagi yang tidak puas dengan jawaban Rukia.
"Tidak. Aku saat ini sedang belajar Oka-san. Besok ada ujian penting. Kalau aku butuh apa-apa, aku bisa ambil sendiri. Aku tidak ingin merepotkan Oka-san" jelas Rukia.
"Baiklah kalau begitu. Maaf ya sudah menggangu waktu belajarmu sayang" ucap Retsu meninggalkan Rukia dalam keheningan. Seketika air mata Rukia yang ia tahan pun keluar dari mata dengan derasnya. Dipelukknya erat boneka Chappy yang selalu menemani ia tidur. Digenggam nya kerah bajunya. Sakit itulah yang ia rasakan saat ini.
.
.
.
Gin memasuki kelas 1-3. Melihat sensei meraka datang, semua murid pun memberikan salam dengan menundukan kepala mereka sedikit. Gin pun duduk dikursinya. Pandangan mata nya menerawang keseluruh isi kelas, mencoba mencari sosok yang ia tunggu beberapa hari yang lalu semenjak insiden wanita berambut panjang bergelombang itu datang. Sosok itu tidak pernah menampakkan wajahnya lagi, baik itu disekolah maupun ditempat yang lainnya.
"Hinamori-san. Apa kau tahu kenapa Ukitake-san tidak masuk beberapa hari ini ?" tanya Gin pada salah satu murid perempuan berambut hitam dengan capul dibelakang rambutnya.
"Tidak tahu sensei. Saya sudah mencoba menghubungi dia tapi tak ada jawaban" jawab Momo.
"Dari keluarganya ?" tanya Gin lagi. Momo hanya menggeleng kemudian menundukkan kepalanya. Gin terdiam sejenak.
"Baiklah, sampai dimana pelajaran kita kemarin" kata Gin memulai pelajarannya.
.
.
.
"Rukia-chan tadi Momo telfon. Dia menanyakan keadaanmu kenapa tidak masuk akhir-akhir ini" kata Joushiro sambil mengetuk pelan pintu kamar putrinya.
"..."
"Rukia-chan sudah makan ?. Kalau belum ayo makan sedikit sayang, nanti kau sakit kalau tidak makan"
"...Iya, nanti aku akan makan" ucap suara yang berada dibalik pintu kamar itu.
Joushiro menghela nafas panjang. Ia sangat bingung dengan keadaan putrinya yang selama beberapa hari ini memilih menggurung diri terus dikamarnya. Retsu pun mulai menghampiri suaminya dengan raut wajah khawatir.
"Bagaimana ?" tanya Retsu. Joushiro hanya menggeleng, ia memeluk istrinya itu didekapannya agar tidak terlalu khawatir tentang keadaan anak semata wayangnya.
"Ia akan baik-baik saja ?" tanya Retsu lagi.
"Iya, setidaknya ia menjawab pertanyaan ku tadi. Tidak diam seperti kemarin-kemarin . Sudah lah kau jangan terlalu khawatir. Dia baik-baik saja kok. Mungkin sekarang ini dia hanya membutuhkan waktu untuk sendiri" ucap Joushiro sambil mengelus punggung istrinya.
"Aku ini ibunya. Wajar saja khawatir.." kata Retsu memeluk suaminya erat. Tampak jelas kegusaran melanda wanita berparas cantik itu.
.
.
.
Rukia yang tertidur dikamarnya, kembali terjaga saat mendengar bunyi handphone nya berbunyi. Dibiarkannya handphone nya berdering selama beberapa saat, hingga nada suara dari panggilan di handphone nya tidak lagi terdengar. Tak lama berselang beberapa detik, muncul getaran baru di handphone nya menandakan ada email masuk di ponselnya. Ia berfikir sejenak memikirkan perasaan teman-temannya yang khawatir akan keadaannya. Dengan enggan ia raih ponselnya, membuka ponsel dengan fitur flip itu, dan membacanya. Matanya sedikit terbelalak saat membaca isi pesan itu.
TO : Rukia Ukitake
FROM : Rangiku Matsumoto
Subjek :
Bisa kah kita betemu di cafe xxx, siang ini. Ada yang mau ku bicarakan denganmu. Ini sangat penting, aku harap kau mau meluangkan sedikit waktumu.
Melihat nama Rangiku, pikiran Rukia kembali melayang saat kejadian di sekolah beberapa hari lalu. Wanita berbadan tinggi dan berparas cantik sedang memeluk Gin erat. Grapp, Rukia menggenggam erat baju nya. Nyeri didadanya kembali muncul saat peristiwa itu menyeruak di pikirannya.
"Kenapa harus sesakit ini..." gumamnya lirih dengan airmata yang kembali jatuh didpipinya.
Matsumoto melirik jam ditangannya untuk kelima kalinya. Tampak jari telunjuknya mengetuk meja cafe, menandakan ia tidak sabar menunggu kedatangan sesorang. Treek, pintu cafe terbuka, sesosok gadis mungil dengan rambut sebahu mengedarkan pandangan nya sekeliling cafe, mencari sosok yang akan ia temui.
"Maaf sudah membuat anda menunggu" ucap gadis itu pada Rangiku yang duduk disalah satu meja. Dilihatnya gadis yang menyapa nya tadi. Penampilan gadis itu agak kacau. Matanya sembab, seperti habis menangis dalam waktu yang sangat lama. Rambutnya sedikit berantakan.
"I-ya, tidak apa-apa. Silahkan duduk" ucap Rangiku mempersilahkan kan gadis itu duduk. "Kau Rukia Ukitake kan ?" menjulurkan tangan kanannya.
"Iya.." jawabnya singkat sambil menyambut tangan Rangiku.
"Aku Rangiku Matsumoto. Tunangan sekaligus calon istri Gin. Maaf menganggu waktumu, tapi ada hal yang harus ku bicarakan padamu. Hal yang seharusnya Gin katakan sejak pertama kali bertemu denganmu" kata Rangiku membuka topik pembicaraan. Mendengar Rangiku yang menyebutkan nama Gin, Rukia mengepalkan tangannya dengan kuat.
"Apakah Gin pernah menceritakan padamu tentang teman kami yang telah meninggal ?" tanya Rangiku.
Rukia hanya mengangguk pelan, ia ingat saat diruang kesenian Gin pernah membicarakan seorang temannya yang telah meninggal. Pria malang yang meninggal terlebih dahulu sebelum sempat menanyikan sebuah lagu pada gadis yang ia cintai tapi sang gadis tidak pernah mengenalnya.
"Nama nya Byakuya Kuchiki. Teman kami dari SMA hingga kuliah. Dia kuliah ditempat yang sama dengan kami yaitu University of Paris 1 Pantheon-Sorbonne jurusan Seni. Dia dan Gin sudah akrab dari dulu. Bahkan bagi Gin, Byakuya adalah sahabat yang terpenting bagi dirinya. Byakuya pernah bercerita pada Gin, kalau ia menyukai gadis kecil disebelah rumahnya. Ia pernah memuat janji penting dengan gadis itu 12 tahun yang lalu. Setelah lulus kuliah, dia berencana untuk pergi kejepang menjadi salah satu guru SMA di sekolah gadis yang ia sukai. Dan ia diterima disekolah itu. Dia sudah merencanakan jauh-jauh hari rencana pertemuan nya dengan gadis impiannya itu. Sebelum akhirnya rencana itu harus kandas karna kanker otak stadium 3 yang telah merenggut hidupnya. Sebelum menjelang kematiannya, ia berpesan pada Gin untuk menyerahkan video tentang dirinya dan juga cincin yang telah ia siapkan pada gadis itu. Aku sebenarnya tidak ingin Gin pergi karna dalam waktu dekat kami akan menyelenggarakan pernikahan kami yang tinggal menghitung hari. Tapi demi Byakuya, yang juga temanku. Aku mengesampikan egoisme ku, dan merelakan Gin pergi. Dia biiang ia pergi sebentar, hanya sebentar..." Rangiku menghentikan kata-katanya dan tertunduk lesu.
"Lalu apa hubungannya laki-laki bernama Byakuya itu denganku" tanya Rukia jengah.
Rangiku mendongkakkan pandangan nya kearah gadis mungil dihadapannya. Mata menatap langsung iris violet gadis itu. Ia terdiam sesaat, mengambil nafas panjang dan menghelanya perlahan.
"Gadis yang kumaksud itu adalah kau Rukia Ukitake..." jawab Rangiku.
Glegarr , terasa ada petir menggema ditelinga Rukia. Tubuh nya kembali bergetar hebat. Lemas, kepalanya terasa berat. Rukia merasa sesak didadanya mendengar kejutan lain yang diutarakan oleh Rangiku.
"Semula yang kutahu Gin kejepang hanya ingin menyerahkan barang –barang yang Byakuya titipkan untuk mu" Rangiku menyodorkan sebuah kotak besar pada Rukia. "Tapi seperti nya ia bertindak lebih dari itu. Dia bahkan menggantikan posisi Byakuya yang tidak harus ia perankan. Ak-..."
"Apa-apaan ini" gumam Rukia pelan dengan menundukkan kepalanya..
"..."
"Bicara apa kau ?. Apa yang ingin kau katakan sebenarnya ?" lanjut Rukia lagi dengan kepala yang masih tertunduk.
"U-Ukitake san" panggil Rangiku sedikit khawatir.
"Orang ini... Bicara apa sich" Rukia perlahan mengangkat kepalanya. Rangiku sedikit terbelalak melihat Rukia. Mata violet yang sendari tadi ia perlihatkan memudar seketika. Pandangan mata Rukia kosong, menunjukan kalau ia benar-benar shock akan kenyataan yang baru ia terima. Luka hati yang Gin goreskan beberapa hari yang lalu kembali ternganga. Membuat Rukia mati rasa seketika.
"Ukitake-san !" panggil Rangiku panik.
"Apa yang sebenarnya yang kalian rencana kan !. Kenapa membuat ku harus merasakan sakit seperti ini. Apa salahku pada kalian, KENAPA !. Beri aku jawaban atas semua ini !. Aku benar-benar tidak mengerti !" teriak Rukia dengan air mata yang terus mengalir dipipi putihnya.
"Ukitake-san. Ku mohon tenangkan dirimu" ucap Rangiku.
"Kenapa !" seru Rukia histeris sambil mencengkram rambutnya.
"U-kitake-san. Ma-maaf kan kau. Aku tidak bermaksud menyakitimu atau semacamnya. A-aku hanya ingin menyampaikan amanat Byakuya yang tidak bisa Gin katakan. Ukitake-s..."
"DIAM !" teriak Rukia lagi. Orang-orang yang berada disekitar cafe kontan menoleh kearah mereka. Rangiku kembali membisu.
"Ukitake-san !" teriak Rangiku saat melihat Rukia melesat pergi membawa kotak yang ia sodorkan.
.
.
.
Rukia berlari sekencang mungkin menuju bukit belakang sekolahnya. Dipeluknya erat kotak yang ia dapatkan dari Rangiku. Grasak ! Rukia terjatuh karna kaki nya tersandung batu, dengan posisi telungkup. Kotak yang ada bersamanya pun ikut terpental tak jauh dari posisi ia terjatuh. Barang-barang yang tersusun rapi dikotak itu berceceran. Rukia diam, tak bergerak.
"Hei, apa yang kamu lakukan sich !. Kenapa berisik sekali" teriak seorang laki-laki yang sedang berbaring di tempat yang tidak jauh dari Rukia terjatuh. Ia pun segera mencari sosok yang membuat tidur siang nya terganggu.
"Hei, kau tidak apa-apa" ucap laki-laki itu kaget melihat Rukia yang masih terlengkup tak bergerak.
Ia pun segera berlari mendekat kearah Ruka, mencoba membantu sosok yang tak berdaya itu untuk duduk. Matanya terbelalak kaget melihat sosok yang tak asing baginya terlihat menyedihkan.
"Kau..." gumamnya pelan. Rukia mendongkakan kepalanya. Terlihat dari mata violet nya mengalir butir-butir bening yak tak bosan-bosannya menghiasai wajahnya yang cantik. Pria bertato dipipi kanannya itu menatap Rukia sendu. Diraihnya puncak kepala Rukia agar jatuh didekapannya.
"Menangislah jika itu bisa membuatmu tenang" gumamnya pelan, pandang laki-laki itu tertuju pada benda-benda yang berserakan pada sebuah kotak yang letaknya tak jauh dari Rukia. Sebuah kaset video dengan tulisan kecil disisi sudut kaset itu. Tertulis sebuah nama dengan huruf hiragana yang ditulis rapi. Byakuya Kuchiki.
"Uhhh. Huhuhuhuhuhuhu" isak Rukia saat mendengar perkataan laki-laki itu. Digengamnya baju kaos pria itu dengan sekuat tenaga. Meluapkan emosinya yang sendari terganjal di hatinya. Pria itu membenamkan pelukkannya, membuat Rukia menangis histeris, lebih keras dari yang sebelumnya ia keluarkan. Mencoba menghantarkan rasa sakit yang ia rasakan melalui airmatanya. Sakit yang teramat dalam. Rasa sakit yang diberikan oleh pahitnya cinta, kebohongan, kepalsuan, pengkhianatan, kekecewaan bercampur menjadi satu, dan melahirkan kebencian yang teramat besar.
.
.
Dikediaman Ukitake.
"Hari sudah malam. Kenapa Rukia-chan belum pulang juga ya" kata Retsu khawatir.
"Apa sebelum pergi, ia mengatakan sesuatu padamu ?" tanya Joushiro sambil menutup ponselnya.
"Tidak, dia tidak mengatakan apa-apa. Aku juga tidak tahu kalau ia keluar dari rumah. Kau sudah menghubungi teman-temannya. Apakah salah satu diantara mereka tahu dimana Rukia-chan berada sekarang" tanya Retsu balik.
"Aku sudah menghubungi semua temannya. Tapi tidak ada satu pun yang tahu dimana Rukia-chan berada sekrang" jelas Joushiro. Retsu menggenggam kedua tangan nya dengan erat. Ketakutan terpancar dari wajah wanita itu. Bagiamana ia tidak ketakutan, saat ini kondisi Rukia amat tidak baik. Dpiikirannya berkecamuk kemungkinan hal-hal buruk yang akan menimpa Rukia.
"Jika Rukia belum kembali saat pukul 11 malam nanti. Aku akan menghubungi polisi" sambung jaoushiro lagi yang tidak tega melihat istrinya khawatir seperti ini.
Ting-tong. Retsu pun segera berlari kearah pintu rumahnya mendengar bunyi bel berkumandang dipintu rumahnya.
"Rukia-chan !" teriak Retsu panik saat melihat putrinya tertidur di dipunggung seorang pemuda.
"Maaf kan saya Oba-san, mengantar Rukia malam-malam dalam keadaan seperti ini" jelas pemuda itu.
Mendengar teriakkan istrinya, Joushiro pun segera melesat menuju pintu depan rumahnya. "Apa yang terjadi sebenarnya ?" tanya Joushiro pada pemuda itu.
"Saya tidak sengaja bertemu dengan Rukia di bukit belakang sekolah dalam keadaan menangis. Ia terus menangis beberapa saat hingga akhirnya ia tertidur seperti ini. Sepertinya ia kelelahan, karna kurang tidur. Wajahnya pun pucat" jawab pemuda itu.
"Terima kasih telah menolong Rukia. Siapa kau ?. Apa kau teman Rukia ?" tanya Joushiro lagi sambil mengambil alih tubuh Rukia yang digendong oleh pemuda bertato 69 itu.
"Saya Shuhei Hisanagi. Kakak kelas Rukia di SMU karakura." kata pemuda itu memperkenalkan dirinya.
"Kakak kelas ?" tanya Retsu yang tak yakin dengan perkataan pemuda itu. Melihat tato yang ada dipipi kirinya membuat nya sedikit was-was takut pemuda itu bukan orang baik-baik.
"Ohh jadi kau cucu Genryusai -sama. Pendiri sekaligus pemimpin dari Genryusai Crop ya" ucap Joushiro.
"Iya" jawab Shuhei singkat sambil menundukkan kepalanya sedikit.
"Kau kenal dia" tanya Retsu pada suaminya.
"Aku hanya mengenal kakeknya saja, karna kakeknya adalah salah satu mitra penting diperusahaan tempat ku berkerja. Ayo silahkan masuk Hisanagi-kun. Tidak enak berbicara sambil berdiri begini" kata Joushiro sambil tersenyum.
"Ahh, terima kasih" kata Shuhei sambil berjalan mengikuti Joushiro kedalam rumah.
"Anggaplah rumah sendiri Hisanagi-kun. Kau mau minum apa ?" kata Retsu ramah.
"Tidak perlu repot-repot Oba-san. Saya harus pulang sebentar lagi" tolak Shuhei secara halus.
"Tidak apa-apa Hisanagi-kun. Oh ya aku tinggal sebentar dulu, aku mau mengantar Rukia ketempat tidurnya" sahut Joushiro.
"Silahkan Ukitake-sama" balas Shuhei.
Tak lama berselang beberapa manit, Joushiro pun turun dari lantai 2 dan berkumpul bersama Retsu dan Shuhei yang telah berbincang-bincang di ruang tamu dikediamannya.
"Jadi kau tahu namaku dari mana Hisanagi-kun ?" kata Joushiro sambil duduk disebelah Retsu.
"Kakekku sering menceritakan anda Ukitake-sama. Dia sangat terkesan sekali dengan anda sejak pertama kali bertemu" jawab Shuhei.
"Benarkah. Aku jadi tersanjung mendengarnya" kata Joushiro tertawa renyah.
"Terima kasih sekali lagi Hisanagi-kun karna telah menolong Rukia tadi. Untung saja Rukia bertemu kau tadi. Kalau dia bertemu dengan orang lain, aku tidak bisa memikirkan apa nanti yang akan terjadi dengannya" sahut Retsu dengan raut wajah sedih.
"Tidak apa-apa Oba-san. Aku juga senang bisa membantu dia. Cukup panggil aku Shuhei saja Oba-san, Ukitake-sama" saran Shuhei. Retsu dan Joushiro hanya mengangguk pelan, tanda setuju.
"Bolehkah saya bertanya sesuatu" tanya Shuhei.
"Hnnn, tentu saja boleh Shuhei-kun. Apa yang ingin kau tanyakan ?" kata Joushiro.
"Apakah anda tahu siapa itu Byakuya Kuchiki ?" tanya Shuhei. Retsu dan Joushiro terdiam sejenak. Kemudian saling menatap satu sama lain.
"Bukankah Byakuya Kuchiki itu anak dari Sojun Kuchiki dan Hisana kan" kata Retsu pada Joushiro.
"Iya. Byakuya Kuchiki itu anak tetangga kami. Dulu dia tinggal sebelah rumah kami, namun pindah beberapa tahun yang lalu. Menurut kabar yang kudengar, katanya mereka pindah keparis karna ada urusan bisnis disana. Memangnya kenapa Shuhei-kun ?" tanya Joushiro.
Shuhei Flashback
Rukia sedang terduduk sebuah ruangan. Menatap sendu kotak yang ada dipangkuannya.
"Apa kau baik-baik saja ?" tanya Shuhei sambil membawa kotak P3K di tangan kanannya. Rukia tetep diam. Shuhei menatapnya tajam, kemudian ia menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Rukia.
"Sakit tidak ?" tanya nya sambil menyeka luka di lutut Rukia dengan kapas yang telah dibasahi alkohol. Rukia tetap membisu. "Kalau kau sudah baikkan sebaiknya kau pulang. Orang tuamu pasti khawatir padamu" lanjutnya lagi.
"Boleh aku pinjam Tv mu sebentar" Rukia mulai membuka suara. Kali ini Shuhei lah yang kembali diam. Ia malah sibuk membersihkan luka dilutut Rukia. Setelah selesai, ia pun beranjak dari kursinya dan berjalan. Memasuki kamarnya.
"Kenapa kau diam. Tv nya ada dikamarku" katanya singkat. Rukia pun segera mengekor Shuhei dengan membawa kotak yang ada dipangkuannya tadi. Shuhei mengangkat dagunya untuk memberi petunjuk pada Rukia dimana Tv nya berada. Ia pun berjalan keluar kamarnya, meninggalkan Rukia seorang diri.
Dengan tangan gemetar diraihnya kaset video didalam kotak yang ia bawakan. Memasukkan nya ,dan menekan tombol play.
"Hallo Rukia-chan" sapa seorang laki-laki tampan dengan berambut hitam sebahu sedang terduduk diatas tempat tidur dirumah sakit. "Kau masih ingat aku ?" tanyanya lagi sambil tersenyum tipis.
"Hehehe, pasti kau lupa padaku. Aku Byakuya,tetangga mu dulu. Dulu kau sering memanggilku Nii-sama, dan mengajakku bermain petak umpet. Eh, apa kau ingat kau sering sekali sembunyi di patung berbentuk kelinci jika kita bermain petak umpet di taman bermain ?. Kau selalu marah tiap kali aku berhasil menemukanmu. Wajah mu sangat lucu sekali waktu itu"
"Yahh itu peristiwa yang sudah lama sekali. Kau pun pasti tidak ingat lagi. Habis kau masih kecil sich saat itu, hehehe"
"Dasar !. Seenaknya saja orang ini mengatai ku kecil" gerutu Rukia pelan.
"Kau pasti saat ini sedang marah kalau ku bilang kecil, wajahmu kalau sedang marah sangat mengemaskan. Aku... jadi ingin melihatnya" lirih pria itu. Rukia terdiam kata-kata pria itu. Suara yang berisyaratkan bahwa ia sedang kecewa karna keinginannya tidak terpenuhi.
"Aku mau menyanyikan sebuah lagu untuk Rukia-chan, judulnya Dear Friend dari Triplane. Suaraku memang tidak sebagus penyanyi aslinya, tapi jika aku mendengar lagu ini, aku jadi teringat Rukia-chan. Maka dari itu aku ingin menyanyikan lagu ini untuk Rukia-chan. G-Gin, bisakah kau mulai sekarang" tanya nya pada seseorang sambil mendongkakkan wajahnya kearah depan. Sepertinya pria yang dimaksudkan Byakuya sedang memegang kendali kamera yang merekam aksinya.
"Tunggu sebentar" sahutnya pada Byakuya. Tak lama berselang beberapa menit, petikkan gitar pun terdengar. Byakuya pun mulai menyenandungkan lagu yang akan ia bawakan.
Mainichi hi ga shizumu made
Nazuma mire ni nari nagara
Mujaki ni sugoshita hibi mo sute gatai keredo
Yumemiru boku ga ite mo sore wa sore de boku dakara
JIGUSOO PAZURU mitai ni
Wa matte nakute ii
Dareka no "Yes" ga kimi ni totte
"No" dearu no to onaji you ni
Itsudatte jiyuu na hazu dakara
Ashita kaze ga toori nuketa toki ni
PAZURU ga kakete ita toshitemo
Daremo sore wo semetari shinai yo
Ano hi yumemita bokura wa
Machigai ja nai to shinjite
Araku uneru unabara wo watatte ikeru
Kimi no mune no itami datte
Bokura wa shitte iru kara
Moshimo kimi ga kono fune wo kudarite
Chigau sekai ni ita toshite mo
Saigo ni wa kitto waraeru yo
Ima demo bokura wa yume wo mite iru yo
Takusareta sono omoi mo
nosete areta kono unabara wo itami to tatakatte kyou mo yuku
Yakusoku ga uso ni nara nai you ni
Soshite itsuka
Bokura no fune wo kudarita chigau sekai ni iru kimi ni
Kanseishita PAZURU wo todoke you...
"Bagaimana Rukia-chan ?. Suka tidak ?. Jangan tutup telinga mu ya walaupun sedikit false suaraku" ucapnya sambil tersenyum.
"Hahahaha,bukan sedikit false suaramu. Tapi sangat-sangat false" kata Rukia sambil tertawa terbahak-bahak.
"Jangan tertawa ya. Aku akan sangat marah jika Rukia-chan tertawa"
Rukia kembali terdiam, orang yang berada divideo itu seolah –olah sedang berbicara langsung padanya. Ia bisa mengerti Rukia kapan saat ia tertawa, kapan saat ia marah. Mata Byakuya pun mulai berkaca-kaca.
"Rukia-chan sudah SMA ya sekarang ?. Rukia-chan sangat cantik sekarang, pasti banyak orang yang suka padamu"
"Apanya banyak orang yang menyukaiku. Buktinya aku pernah ditolak oleh kakak kelasku. Menghina pikir-pikir dulu dong" gerutu Rukia dengan gigi yang runcing, ingin rasanya Rukia membalik Tv dihadapannya ini.
"Rukia-chan jangan pacaran sama orang lain selain aku ya" ucap pria itu sambil tersenyum lembut. "Masih ingat kan janji yang ku buat padamu dulu Rukia-chan ?" tanya nya lagi.
Rukia terdiam.
"Maaf..." ucapnya lirih.
"Maafkan aku yang tidak bisa menepati janjiku, Rukia-chan..."
"Maafkan aku yang tidak bisa menikahimu nanti. Aku yang berjani tapi aku lah yang melanggarnya. Jika kau mau benci, benci lah padaku laki-laki pengecut ini Rukia. Laki-laki pengecut yang selama 12 tahun ini tidak pernah memberimu kabar, baik itu lewat telfon ataupun email. Walaupun aku punya emailmu, walaupun aku punya nomor telfonmu, aku tidak punya keberanian sama sekali untuk menyapamu. Laki-laki pengecut sepertiku tidak pantas membuat janji seperti itu kepadamu"
"..." Rukia tetap terdiam dengan kepala tertunduk.
"Tapi ada satu hal yang harus kau tahu Rukia-chan. Alasan ku membuat janji seperti itu padamu"
Rukia mendongakan wajahnya menatap layar Tv itu. Melihat wajah laki-laki yang terus memanggilnya.
"Kau ingat bintang kejora yang ku tunjuk di malam perjanjian kita untuk menikah jika kau sudah besar nantinya" tanya Byakuya lagi. "Aku akan menuju bintang itu Rukia..."
"..."
"Maka dari itu, Rukia-chan tenanglah. Di bintang itu aku akan menjadi kalung yang tak terlihat yang kamu pakai didalam hatimu... Jika Rukia sedang sedih, gembira, kesal, marah. Lihatlah kearah bintang itu, maka aku akan menemuimu Rukia..."
Mendengar kata-kata itu Rukia pun perlahan mendekat ke arah televisi, mengusap pipi laki-laki itu walaupun yang ia sentuh adalah layar televisi.
"Maaf kan aku sekali lagi Rukia, karna tak bisa memenuhi janjiku. Terserah kau mau memaafkanku atau tidak. Tapi yang jelas, aku mencintaimu Rukia..." lirih Byakuya dengan suara bergetar.
"Pembohong..." rintih Rukia menahan tangisnya. Namun apa daya air mata nya telah jatuh membasahi pipinya.
"Aku sangat mencintaimu. Benar-benar menc-...ukkkhh..." kata-kata Byakuya terhenti saat isak tangis yang ia tahan pecah.
"Bohong ! Dasar pembohong. Kalau kau benar mencintaiku, kenapa kau membuatku seperti ini... Uhhkkhh, pembo-...huhuhuhuhu " tangis Rukia pun ikut pecah saat mendengar tangis Byakuya. Hatinya hancur, saat tahu orang yang mencintainya sejak ia kecil pergi meninggalkannya dengan cara seperti ini.
Dari balik pintu kamar, Shuhei diam terpaku mendengar Rukia menangis histeris. Samar-samar ia mendengar suara laki-laki yang panik akan keadaan temannya di video itu. Suara pria yang tidak asing ditelinga.
"Ichimaru-sama" gumam Shuhei pelan.
End Shuhei Flashback
"Shuhei-kun. Kau kenapa diam saja dari tadi. Apa kau mengenal Byakuya ?" tanya Joushiro membuyarkan lamunannya.
"Tidak. Ahh, sebaiknya saya pamit dulu Ukitake-sama. Hari sudah malam, tidak enak saya berada disini terus. Kakek saya pasti khawatir jika saya pulang larut malam" ucap Shuhei sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Ohh, baiklah. Sekali lagi terima kasih Shuhei-kun atas bantuanmu" kata Joushiro sambil mengantar Shuhei kedepan rumah.
"Tidak apa-apa Ukitake-sama. Saya pamit dulu, terima kasih atas teh nya Oba-san. Konbanwa Ukitake-sama, Oba-san" sambil menundukkan kepalanya.
"Konbawa. Mampir lah kesini lagi Shuhei-kun kalau ada waktu luang" kata Retsu ramah.
"Iya Oba-san."
.
.
.
"Dimana ini ? Kenapa gelap yah" kata Rukia bingung. Ia pun terus berjalan di tengah kegelapan, rasa takut pun mulai menjalar dihati nya. "Adakah orang disini ?" tanya nya berusaha menghilangkan rasa takutnya. Melihat ada setitik cahaya, Rukia pun mempercepat langkah kakinya menuju cahaya itu.
"Dimana lagi ini" kata Rukia binggung. Ia mengedarakan seluruh pandangan nya ketempat ia berada sekarang. "Ini kan taman bermain" gumamnya pelan.
"8, 9, 10... Sudah belum" ucap seorang lelaki.
Rukia pun menoleh, mencari sosok suara yang ia dengar tadi.
"Rukia-chan..." panggil lelaki itu lagi dengan mata yang ditutup lengan kirinya yang bersandar di sebuah pohon. Rukia terlonjak kaget karna nama nya dipanggil, ia pun berlari mencari lelaki itu. Rukia terhenti saat melihat sosok laki-laki tampan dengan rambut panjang tergerai. Wajah pria itu tampak dingin. Tak pernah menampakan ekspresi diwajahnya.
"Aku cari Rukia-chan ya" kata pria itu sambil melihat kesekelilingnya dan berjalan perlahan.
"T-Tunggu !. K-Kau Byakuya kan ?" kata Rukia berlari kecil menyusul pria itu. Pria itu tidak mengubris pertanyaan Rukia. Malah ia lebih intens melihat kesekelilingnya. Diputarnya kepala nya kekiri dan kekanan, seperti sedang mencari seseorang.
"Heii !. Kenapa kau tidak jawab pertanyaan ku !" teriak Rukia kesal karna diacuh kan oleh pria itu.
Laki-laki itu pun menghentikan langkah kakinya, dan tersenyum tipis. Langkah kaki yang semula ia pelankan, kini terlihat mengebu-gebu menuju sebuah patung kelinci ditaman bermain itu.
"Ketemu" katanya ceria sambil mendongkakkan kepalanya kearah lubang dipatung itu. Dari lubang pun keluar sosok yang cari tadi. Seorang anak kecil berusia kurang lebih 3 tahun telihat kesal karna ditemukan oleh lelaki itu.
"Nii-cama culang" gerutu gadis kecil itu sambil mengembungkan pipinya.
"Hehehe, kok Nii-sama sich yang disalahkan" ucap pria itu sambil mencubit lembut pipi gadis itu.
"Habis nya Nii-cama selalu caja menemukanku" katanya kesal. Melihat gadis kecil itu yang cemberut, pria itu hanya tertawa. Ia pun segera melingkarkan tangannya dan mengendong gadis kecil itu.
"Rukia-chan, dimana pun Rukia berada, apapun yang Rukia lakukan, Nii-sama akan selalu tau. Apapun yang berhubungan dengan Rukia-chan, Nii-sama akan tahu. Karna bagi Nii-sama, Rukia-chan adalah orang yang paling terpenting bagi Nii-sama. Rukia-chan jauh lebih berharga dari apa pun yang ada didunia ini" kata Byakuya sambil tersenyum lembut. "Rukia-chan sayang tidak sama Nii-sama ?" tanya nya.
"Sayang. Sayang cekali" jawab gadis itu girang sambil memeluk leher laki-laki yang mengendongnya itu. Pria itu tersenyum puas.
"I-itu a-aku" tanya Rukia kaget melihat gadis kecil yang digendong pria bernama Byakuya itu mirib dengannya. "T-tunggu dulu, biasakah kalian menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya ?" tanya Rukia dengan sedikit menaikkan nada suaranya.
"Nahh ayo Nii-sama antar Rukia-chan pulang. Hari sudah malam, sekarang sedang musim dingin. Tidak baik untuk Rukia-chan berlama-lama diluar dalam cuaca seperti ini. Nanti Rukia-chan bisa sakit. Kalau Rukia sakit, Nii-sama akan sedih. Rukia-chan pulang ya ?" tanya Byakuya sambil menurunkan gadis manis dengan mata violet itu dari gendongannya.
"Iya, wahh calju tulun Ni-cama" kata Rukia kecil sambil melihat butir-butir kecil berwarna putih turun dari langit.
Byakuya pun mendongkkan wajahnya keatas, menatap sendu langit malam itu yang mengeluarkan bulir-bulir berwarna putih itu. Langit malam itu yang dituruni oleh salju terlihat seperti sedang menangis bagi Byakuya.
"Rukia-chan tahu tidak apa nama bintang yang paling bersinar itu ?" kata Byakuya melirik gadis yang berada disampingnya dan mengenggam tangan mungil nya.
"Tidak" jawab gadis itu sambil menggeleng-geleng, matanya terus menatap bintang yang dibicarakan Byakuya.
"Itu nama nya bintang Kejora. Bintang yang paling bersinar di antara semua bintang, bintang yang tak pernah lelah menampakkan wujudnya walaupun bintang yang lain tak pernah menemani kehadirannya. Apa Rukia-chan suka bintang itu" tanya Byakuya.
"Suka !. Suka cekali" jawab Rukia kecil sambil tersenyum. Melihat syal yang dikenakan gadis mungil itu renggang. Byakuya pun segera berlutut, menjajarkan badannya agar sama rata dengan gadis yang ada dihadapannya itu. Dan membenarkan posisi syal dileher Rukia kecil agar tidak masuk angin di cuaca sedingin ini. Mata Byakuya yang semula tertuju pada syal yang ia lilitkan dileher Rukia kecil, kini beralih menatap mata Rukia.
"Mata mu indah" gumam Byakuya pelan. Rukia kecil hanya tersenyum mendengar ucapan Byakuya.
"Mau tidak menikah dengan Nii-sama kalau udah besar nanti ?" tanya Byakuya.
"Mau !" jawab gadis mungil itu dengan polosnya. Byakuya pun tersenyum.
"I-ini bukankah yang ada dimimpiku ?" kata Rukia kaget melihat Byakuya yang sedang berbicara dengan gadis kecil mirip dirinya itu persis dengan mimpi yang selalu menghantuinya setiap malam.
"Byakuya apa kau sudah selesai ?. Jangan lama-lama nak nanti kita ketinggalan pesawat" kata seorang laki-laki berambut hitam mirip dengan Byakuya.
"Iya sebentar Otto-san" jawab Byakuya. "Tunggu Nii-sama yach. Nii-sama mau pergi sebentar, nanti Nii-sama akan kembali. Kalau Nii-sama sudah kembali, Rukia chan jangan pacaran sama siapapun yach ..." ucap Byakuya sambil mengacak rambut gadis itu dengan lembut, kemudian pergi melangkah meninggalkan gadis itu menuju mobil yang berhenti didepan taman bermain itu.
"Ayo Rukia-chan, kita pulang" ucap seorang wanita yang mirip dengan Retsu, ibu Rukia. Sambil memegang tangan Rukia kecil.
"Tunggu !, Nii-cama mau kemana ?" kata Rukia kecil mencoba berlari mengejar Byakuya.
"Nii-sama mau pergi kerumahnya sayang. Rumah yang sangat jauh, kita pulang yaa sayang. Hari sudah malam. Otto-san sudah menunggu loh" kata wanita itu lembut.
Rukia yang sendari tadi terdiam melihat hal yang tidak pernah ia duga pun mulai bereaksi.
"T-tunggu dulu, ini tidak boleh terjadi. Aku harus menghentikan ini. Byakuya-san tunggu dulu" teriak Rukia yang mencoba menghentikan Byakuya yang berjalan perlahan menuju mobil. Namun apa daya, sekeras apa pun Rukia berteriak, Byakuya tidak mendengar kata-katanya. Melihat Byakuya yang terus berjalan. Rukia pun berlari mengejar Byakuya.
"Berhenti !. Kau tidak boleh meninggalkan aku seperti itu. Kau bilang padaku kalau aku orang yang paling penting bagimu. Tapi kenapa kau meninggalkan aku" kata Rukia yang masih berlari menuju Byakuya. Entah kenapa, sekelilingnya tiba-tiba gelap. Taman bermain yang semula menjadi tempat ia berpijak kini menjadi gelap gulita. Tak ada lagi Rukia kecil, tak ada lagi wanita yang mirib ibunya , tak ada lagi pohon-pohon yang berjajar di taman itu, tak ada lagi patung-patung binatang, yang ada hanya sosok Byakuya yang mulai menghilang di tengah kegelapan itu.
"Berhenti..." lirih Rukia yang mulai kesulitan menyusul Byakuya yang mulai menjauh dari jangkauannya.
"Kumohon berhenti..." ucapnya lagi dengan air mata yang mulai merebak.
"Jangan tinggalkan aku... KU MOHON BERHENTI !" teriak Rukia sekuat tenaga.
Rukiapun melesat bangun dari tempat tidurnya. Nafasnya terengah-engah, peluhnya bercucuran dengan deras nya dari pelipis dan dahinya. Di pandanginya sekeliling tempat ia berada. Matanya pun terhenti saat melihat jam bekernya disisi tempat tidurnya yang menunjukan pukul 03.45.
"Cuma mimpi" gumamnya pelan dengan nafas yang masih tersengal-sengal. Iapun berbaring kembali ditempat tidurnya, memejamkan matanya. Tak berapa lama mata Rukia terpejam, terlintas di ingatannya akan mimpi yang baru ia alami tadi sehingga tak urung ia membuka matanya kembali. Rukia menghela nafasnya, dan beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Ia membasuh wajahnya berkali-kali, mencoba menghilangkankan kekalutan hati dan pikirannya yang terbayang oleh sosok laki-laki bernama Byakuya. Didongkakkan wajahnya pada cermin yang terpantul di atas wastafel kamar mandi. Pandangan mata Rukia tak sengaja melihat gunting yang terdapat disisi wastafel. Dengan tangan gemetar, diraihnya gunting itu. Dan menggenggam nya dengan erat.
Perlahan diarahkannya gunting itu menuju lehernya yang kecil dan panjang.
"M-Maafkan aku, Oka-san, Otto-san, teman-teman..."
To-be-Countinue
