"Kouta, Kouta! Lihat itu!"

Pandangan Kotone tidak lepas dari suatu cahaya yang membuatnya terbelalak lebar—terpana. Seperti pengalaman pertama melihat matahari terbit di ujung cakrawala, atau melihat kupu-kupu mengepakkan sayapnya di bawah sinar mentari fajar. Mulutnya terbuka bahagia, dengan senyuman menukik di ujung bibirnya. Kouta, yang berdiri di samping Kotone pun tidak bisa menyembunyikan apa yang ditahan-tahannya selama ini. Suatu keberhasilan, sekaligus kelegaan hati yang membuat sekujur tubuhnya menjadi lebih rileks.

"Kita berhasil," bisik Kouta, menggenggam tangan adiknya kuat-kuat.

Kotone mengangguk semangat, tidak marah karena tangannya diremas sekuat tenaga oleh saudara kembarnya. Sebuah pengecualian untuk kali ini.

Dan cahaya-cahaya di depan mereka terus menari-nari dalam suatu irama yang tidak terdengar oleh pendengaran manusia. Puluhan atau mungkin ratusan, cahaya kuning yang mengikuti alur tertentu, memanjakan mata si kembar. Mereka menari-nari kesana kemari, bersembunyi di balik bunga-bunga yang tertidur, ataupun mengitari daun-daun hijau yang jauh lebih lebar untuk ukuran tubuh mereka. Wisps ataukah peri hutan?

"Cepat, katakan permohonannya!" bisik Kotone tidak sabar, mengoyang-goyangkan tangan Kouta maju dan mundur.

Mata Kouta membulat dan mulai menguatkan tekadnya. Inilah saatnya. "Ahh…tentu."

Kouta mengendap perlahan ke depan, menuntun Kotone yang berjalan di sampingnya untuk tidak tersandung batu. Matanya mencari-cari wisps yang terdekat, yang bisa mendengar kata-kata magisnya untuk segera dikabulkan. Begitu melihat wisps yang terdiam di atas daun bunga daisy, Kouta langsung berjongkok dan melangkah kodok ke arahnya.

"Wisps," bisik Kouta, mengerjapkan matanya gugup. "Bolehkah aku bertanya dimana peri bunga berada?"

Tidak seperti yang diharapkannya, ataupun seperti yang dibayangkannya. Kemungkinan besar wisps di depannya untuk berpijar kebiruan ataupun semakin terang menjadi sesuatu yang sangat mustahil. Karena cahaya di tubuhnya tiba-tiba menghilang. Dan kegelapan di depan mata Kouta membuatnya tersentak kaget, sekaligus membiarkan matanya panas karena airmata.

"Oh…tidak…"

(..)~*

*~(..)

(..)~*

~***~Home Sweet Home—Encore!~***~

Finale part 2! Episode 6~

By: Morning Eagle

Disclaimer :: Bleach belong to Kubo Tite ::

Cover by Morning Eagle

Just to warn you all :: AU, OOC, Misstypos...for this story

(..)~*

*~(..)

(..)~*

"Tataicho!"

"Ada apa, Abarai?" Byakuya mengerutkan alisnya semakin dalam, sementara kakinya masih menapaki langkah menanjak di depannya—diterangi oleh sinar senter yang menyala kuning.

Renji menelan ludahnya gugup, entah harus mengambil sikap apa di depan ketuanya. Di tengah kegelapan hutan yang seakan menelannya perlahan. "Ahh—itu…sepertinya kudengar sesuatu."

"Aku tahu," jawab Byakuya singkat, menghiraukan Renji yang berubah kebingungan.

"Taicho tahu? Jadi, itu suara burung hantu?"

Enggan untuk membalas jawaban bodoh dari bawahannya, Byakuya mempercepat langkahnya, meninggalkan Renji yang memanggil-manggil namanya. Seandainya instingnya berkata benar, si kembar ada di depannya. Tidak jauh, hanya beberapa langkah. Mendengar suara mereka yang memanggil sayup-sayup.

Kepala kepolisian itu berhasil menapaki bukit dan menemukan sebuah ladang luas. Ladang bunga ataukah hanya rerumputan liar? Namun, yang menarik perhatiannya adalah cahaya kuning yang terbang kesana kemari dengan lambat, seperti jalannya rekaman flashback. Dan si kembar berada di tengah-tengah cahaya itu, meringkuk dan saling memeluk satu sama lain. Mereka terisak dan membuat Byakuya semakin bingung, sekaligus geram. Apa yang sudah dilakukan oleh adik iparnya—Kurosaki Ichigo—akan menjadi bahan perhitungan beberapa menit ke depan.

"Ah! Mereka di sana, taicho!" teriak Renji yang kembali menyulut ketidaksabaran Byakuya. Bawahan sekaligus wakilnya itu selalu berteriak dimanapun—dalam keadaan genting ataupun tidak.

Teriakan Renji menarik perhatian si kembar—mengerjapkan mata mereka perlahan—agar bisa melihat jelas siapa yang berdiri jauh di depan mereka. Cahaya senter sedikit menyilaukan, membiarkan pandangan kabur dan hanya bisa mengira-ngira—menebak.

"Pa…paman? Byakuya ji-chan?" tebak Kouta, mengulurkan tangannya untuk menggapai-gapai bayangan di depannya.

Byakuya langsung berlari ke arah keponakannya dan mendapat pelukan erat begitu berlutut duduk. Kouta memeluk tubuh pamannya kuat-kuat, sementara Kotone bergelantungan pada tangan kanan Byakuya. Melihat hal itu, Renji semakin kebingungan dan lebih memilih untuk memeriksa daerah sekitar, mencari sesuatu yang mencurigakan ataupun berbahaya.

"Kalian baik-baik saja?" tanya Byakuya tenang, walaupun sebenarnya merasakan kelegaan yang bercampur rasa takut.

Kouta masih terisak, namun berusaha untuk berbicara sejelas mungkin. Mereka…menghilang…"

"Wisps itu tidak mau mendengarkan kami!" teriak Kotone menambahkan, dan kembali terisak di pelukan pamannya.

"Wisps?"

"Mereka tidak mau mengabulkan permohonan kami," lanjut Kouta, menjawab pertanyaan Byakuya. "Aku takut…okaa-chan akan meninggalkanku dan Kotone."

"Okaa-chan? Otou-chan!" Kotone kembali lagi terisak, membiarkan air mata dan ingusnya mengotori wajah mungilnya.

Byakuya semakin kebingungan dan melirik ke belakangnya, menyadari Renji sudah menghilang entah kemana. Di saat yang paling dibutuhkannya, bawahannya yang satu itu benar-benar tidak berguna. Dan Byakuya memilih untuk menghela napas sebagai ganti dari luapan emosinya. "Apa yang membuat kalian berpikir demikian? Ayah dan ibu kalian tidak akan meninggalkan kalian."

"Tidak!" sanggah Kotone marah. Matanya berpijar menyala dan menatap pamannya tajam, sama persis seperti ayahnya. "Tidak setelah adik kecil menggantikan posisi kami!"

"Adik kecil lebih disayang oleh otou-chan dan okaa-chan, dibandingkan dengan kami," bisik Kouta, mengerucutkan bibirnya.

Byakuya terdiam sebentar, berusaha menggabungkan kata-kata si kembar. Adik kecil, bayi kecil, kehamilan Rukia. Ya, sedikit membuatnya terkejut, namun juga membingungkan."Tentu saja tidak."

Kotone dan Kouta mendongak kaget, mendengar jawaban pamannya yang membingungkan mereka, sekaligus bertolak belakang dengan pemikiran singkat mereka. "Apa maksud Byakuya ji-chan?"

"Apa maksudnya?" tanya Kouta mengikuti adik kembarnya. Matanya terbelalak lebar seperti ibunya, membuat Byakuya sedikit tersentak kaget.

"Ayah dan ibu akan selalu menyayangi anak-anaknya, apapun yang terjadi," jelas Byakuya, mencoba secara logis dan mudah dimengerti. "Baik kalian berbuat nakal ataupun terpuji. Karena kalian adalah buah hati mereka."

"Apa itu buah hati?" tanya Kotone polos, namun kerutan di dahinya belum kunjung menghilang.

"Mereka yang terlahir dari rasa cinta dan kasih sayang."

Kouta melongo dan berusaha mencerna kata-kata pamannya. "Rasa cinta?"

"Dan kasih sayang?" sambung Kotone. "Apa itu terdengar seperti peri bunga?"

"Bukan wisps?" Kouta menanggapi lagi, kali ini dengan wajah lebih serius.

Byakuya kembali tertegun, tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh si kembar. Namun yang pasti, keadaan sekarang sudah menjadi lebih baik. Tangisan si kembar sudah berhenti, dan mereka memulai topik baru untuk menyibukkan otak mereka yang masih terbilang sempit.

"Jadi, apa yang kalian lakukan disini?" tanya Byakuya lanjut, memastikan. "Apa ada orang yang mengajak kalian kemari?"

Si kembar menatap satu sama lain, lalu menggelengkan kepalanya perlahan. "Kami datang kemari untuk mencari peri bunga, itu semua ide Kouta."

Kouta melirik adik kecilnya dengan tatapan takut, mengharapkan kerja samanya yang kini berbalik mengkhianati. "Ta...tapi, aku hanya ingin mencari peri bunga. Dan yang muncul adalah para wisps." Kini wajahnya menunduk murung.

Byakuya hanya bisa terdiam dan menghela napas sesaat, entah harus bagaimana menanggapi kata-kata keponakan manisnya ini. Haruskah ikut masuk ke dalam dunia kecil mereka, ataukah menghiraukannya?

"Byakuya ji-chan tidak memercayai peri bunga?" tanya Kotone ingin tahu, membulatkan matanya. "Apa ji-chan tidak takut dengan kejahilan mereka?"

"Kotone!" Kouta menegur adiknya, karena sudah menakut-nakuti paman kesukaannya. Tangan mungilnya menepuk tangan Kotone dan langsung mendapat tatapan sinis darinya.

"Paman sudah pernah bertemu peri bunga sebelumnya," ucap Byakuya tanpa ekspresi dan mengagetkan si kembar yang sedang berseteru. Mulut mereka terbuka lebar, hampir seperti gua yang bisa dilewati para wisps kecil dengan mudah.

*~(..)~*

You count your steps, like they're regrets
You catch one breath then lose the rest
Wrong is right, right is left
And there's nowhere left to turn

*~(..)~*

"Kau yakin ini arah yang benar?" gerutu Rukia, yang lagi-lagi harus menyandung batang pohon di depannya—luput dari penglihatannya. "Ini semakin gelap!"

"Yang bisa diandalkan sekarang hanyalah insting Jiro," jawab Ichigo sabar, masih memperhatikan kemana arah Jiro melangkah. "Mungkin sebentar lagi."

"Ya, tentu saja," cibir Rukia, menengok ke kanan dan ke kiri, mencari-cari sesuatu yang bisa diharapkannya. Mungkin cahaya atau seseorang yang membawa senter. Penerangan apapun tidak masalah untuk saat ini, karena Rukia benar-benar butuh cahaya penuntun jalan, untuk menghindari batu dan batang pohon bodoh yang menghalangi jalannya.

"Ichigo! Jangan berjalan terlalu cepat!"

"Aku sudah memperlambat langkahku, mungil! Jiro yang menarik rantai kekangnya terlalu kuat!"

"Kalau begitu berhentilah sebentar bo—"

Brukk! Rukia menabrak sesuatu dan jatuh terduduk di tanah yang lembab. Ichigo langsung berbalik, begitu melihat istrinya mengaduh kesakitan—mendapati ada orang lain di sana. Cahaya senter yang terjatuh menerangi wajah Rukia yang mengerut kesal, menatap seseorang di depannya. "Renji! Apa yang kaulakukan, bodoh?!"

"Rukia! Aku...aku tidak bermaksud menabrakmu!" sanggah Renji, teman semasa kecil Rukia, yang sedikit beringsut mundur untuk menghindari amarah Rukia.

"Rukia!" Ichigo langsung bergegas dan berjongkok di samping istrinya, sementara Jiro menyalak protektif ke arah Renji. Wajah dokter muda itu berubah pucat, melihat bergantian ke arah wajah dan perut istrinya, memastikan keadaannya. "Kau tidak apa-apa? Perutmu—"

"Kau terlalu berlebihan, Ichigo. Aku baik-baik saja," ucap Rukia sambil mengelus-elus perutnya. "Jatuhnya tidak terlalu keras, jadi tidak membebani bayi mungil di dalamnya."

"Bayi?!" teriak Renji keras dan langsung mendapat pukulan keras dari Ichigo, tepat di hidungnya. "Ahh—kalau begitu selamat untuk kehamilannya, Rukia. Maaf, aku benar-benar tidak—"

"Berisik bodoh! Kalau saja terjadi sesuatu pada cabang bayiku—"

"Kau juga berisik!" tegur Rukia, menyikut pinggang Ichigo keras. Membuat suaminya jatuh terduduk sambil meringis. "Bisakah kalian berdua bersikap lebih dewasa? Selalu saja seperti ini, seperti anak kecil memperebutkan permen. Dan, apa yang kaulakukan di sini Renji?"

"Aku? Ahh—" Renji kembali teringat tujuan utamanya, setelah denyutan di hidungnya sedikit mereda. "Si kembar! Aku menemukannya!"

"Dimana?" terjang Ichigo, memelototi Renji.

"Itu...di atas bukit—"

Rukia langsung bangkit dari duduknya dan berlari ke atas bukit, menghiraukan penjelasan lanjut dari Renji. Jiro mengikutinya, memanfaatkan kesempatan lengah dari Ichigo yang tidak memegang erat kekangnya. Teriakan dan panggilan di belakang Rukia sama sekali tidak digubrisnya, membuat ibu muda itu terus berlari menerjang angin dan sampai di atas bukit hanya dalam beberapa detik saja. Napasnya terengah-engah dan matanya langsung mencari-cari keberadaan kedua buah hatinya. Cahaya senter terlihat di tengah taman bunga, sedikit menyinari keberadaan si kembar yang sedang duduk bersama seseorang. Yang tentunya dikenal oleh Rukia hanya dalam sekejap mata. "Nii-sama?"

Byakuya dan si kembar langsung menoleh ke arah Rukia. Kouta yang pertama kali memanggil ibunya dan langsung berlari ke arahnya, disusul oleh Kotone kemudian. Rukia kembali berlari dan memeluk Kouta dan Kotone dengan erat, seakan-akan tidak mau lagi untuk melepaskan mereka—menjauh darinya. Dirinya kembali terisak, mendengar anak-anaknya yang menangis di pelukannya, terus menerus memanggil ibunya. Perpisahan beberapa jam ini membuat hati mereka kosong dan pilu, merindukan sesuatu yang terengut tanpa sepengetahuan diri sendiri. Sebuah rasa kasih sayang seorang ibu dan anak-anaknya.

Kouta terisak keras dan mengangkat wajahnya yang kembali kotor oleh air mata. "Okaa-chan! Maaf! Aku...aku—"

"Okaa-chan!" teriak Kotone, yang jarang sekali menangis keras seperti ini sebelumnya, semakin membuat Rukia mengeratkan pelukannya. "Aku takut!"

"Maaf, aku tidak mengawasi kalian dengan baik," bisik Rukia pilu, berusaha menahan air matanya jatuh lebih banyak lagi. "Sayangku, sudah tidak apa-apa."

Ichigo menepuk pundak Rukia lembut, tanpa sepengetahuan wanita itu—yang sudah meninggalkan suaminya di belakang bersama Renji. Wajahnya terlihat khawatir, dengan alis yang bertaut tajam dan menimbulkan kerutan permanen di dahinya.

Kouta yang menyadari keberadaan ayahnya, kembali terisak keras. Sedikit takut namun rindu. "Otou-chan..."
Lain dengan Kotone yang langsung menarik-narik lengan baju ayahnya, meminta perhatian lebih darinya. "Otou-chan!"

Tangan Ichigo terulur untuk mengelus kepala Kouta dan Kotone. Dirinya berusaha tersenyum, walaupun perasaan takut masih menyelimuti hatinya. "Kalian tidak apa-apa?"

Kouta yang menyadari dirinya masih menangis, mulai mengusap air matanya dengan punggung tangan. Kembali teringat akan janjinya, juga harapannya di masa depan, untuk bisa menjadi lebih kuat. Ya, seperti ayahnya yang keras kepala. Kouta tidak mau terlihat lemah, apalagi di depan ibunya yang menangis karena dirinya.

"Maaf," ucap Kouta yang tidak lagi menangis, walaupun ingin. "Aku membuat okaa-chan menangis."

"Otou-chan tidak akan memarahi kami, bukan?" tanya Kotone, menatap ragu ayahnya. Melihat kerutan di dahinya, sedikit membuat gadis mungil satu itu takut.

Ichigo tersenyum pada putrinya dan mengecup dahinya lembut. "Tentu saja tidak."

Mata Kotone semakin berair, kembali menangis tersedu-sedu. Ichigo memeluk putrinya dan berusaha menenangkannya. Terkadang sifatnya mirip sekali dengan Rukia, sulit sekali untuk ditenangkan. Tidak seperti putranya, yang mirip seperti dirinya. Mudah menangis, tetapi dengan cepat pulih dan berusaha tegar. Dirinya yang dulu—semasa ibunya masih berada di sisinya untuk melindungi diri Ichigo yang rapuh.

"Kurosaki," panggil Byakuya, membuat Ichigo sedikit terlonjak kaget. Keberadaan Kuchiki Byakuya seperti sebuah bayang-bayang baginya, muncul dimanapun dan kapanpun tanpa sepengetahuannya.

"Byakuya? Apa yang kaulakukan disini?"

Byakuya sudah terbiasa dengan kebiasaan Ichigo, yang selalu mengatakan apa adanya. Menurutnya, ini kejelekan dari Ichigo sepenuhnya—yang takut akan menurun pada keponakan manisnya. "Kurosaki Ichigo, seperti biasanya. Sikapmu benar-benar menyebalkan."

"Nii-sama!" Rukia menegur Byakuya berbisik. Bukan hal tepat mengatakan hal seperti itu sekarang. Tidak di depan si kembar.

"Okaa-chan," panggil Kouta, memotong pertengkaran yang tidak dimengertinya.

Rukia yang awalnya menatap tajam suami dan kakaknya, kini berubah lembut di depan pria mungilnya. "Ya? Ada apa?"

"Aku boleh bertanya sesuatu?"

"Hm, tentu saja," jawab Rukia, mengangguk dan menunggu pertanyaan putranya.

"Apa okaa-chan dan otou-chan akan meninggalkanku dan Kotone?"

Pertanyaan itu membuat Rukia dan Ichigo terkejut, dengan mata terbelalak penuh. Kotone melihatnya takut, bersamaan dengan perasaan ragu dan terkhianati. "Kalian akan meninggalkan kami."

"Tidak akan!" jawab Ichigo dan Rukia bersamaan, tak terkontrol. Renji dan Byakuya hanya bisa terdiam. Ini adalah pertama kalinya mereka melihat orang tua yang berteriak menjawab, kepada anak-anak manisnya.

"Ahh—maksud ibu kami tidak akan meninggalkan kalian," koreksi Rukia. "Begitu pula dengan ayah kalian. Apa yang membuat kalian berpikiran seperti itu?"

Kali ini Kotone yang menjawab, "Karena bayi kecil di perut ibu yang akan menggantikan tempat kami. Itu yang dikatakan Haru."

"Karena itu, kami mencari peri bunga di hutan," lanjut Kouta. "Untuk mengatakan permohonan kami."

"Permohonan?" tanya Ichigo ingin tahu, walaupun ini di luar nalar pemikirannya.

"Agar kami tidak dilupakan oleh otou-chan dan okaa-chan," jawab Kotone.

Rukia tersenyum geli, begitu mendengar jawaban lugu anak-anaknya. Seperti kisah dongeng baginya—dongeng si kembar pencari peri bunga. Sungguh manis. "Ibu pikir, kalian tidak perlu mencari peri bunga lagi."

"Kenapa?" tanya si kembar bersamaan, sedikit murung mendengar ide ibunya.

"Karena ayah dan ibu tidak akan melupakan kalian. Tidak akan."

"Kami akan selalu menyayangi kalian," tambah Ichigo yang sempat tertegun sesaat, dan mengecup pipi putih putrinya. Kotone yang merasa geli langsung tertawa dan memeluk ayahnya sebagai balasan.

Kouta kembali memeluk ibunya dan menyadari ada sesuatu yang sedikit menghalanginya. Perut ibunya yang mulai membesar. Mulutnya membentuk huruf o kecil, karena sebuah ide yang mulai terbentuk di otak kreatif miliknya. "Okaa-chan, bagaimana dengan bayi kecilnya? Apa aku boleh mengabulkan permohonanku untuknya?"

"Hmm? Permohonanmu untuk adik kecilmu? Tentu saja."

"Tapi, bagaimana dengan wisps?" potong Kotone yang meronta untuk turun dari pelukan ayahnya. "Mereka sudah menghilang! Kita tidak tahu dimana peri bunga berada."

"Kau benar," gumam Kouta murung.

"Paman akan menyampaikannya secara langsung pada peri bunga." Tiba-tiba Byakuya berbicara, membuat setiap pasang mata di tempat itu tertuju padanya.

"Ta…taicho! Anda serius—"

"Benarkah ji-chan?"

"Byakuya ji-chan pahlawanku!" teriak Kouta dan berlari ke arah pamannya, memeluknya erat. Byakuya menggendong keponakan manisnya sambil tersenyum simpul—senyum terbaiknya. Kini mereka terlibat percakapan seru, yang menarik perhatian Kotone untuk ikut serta.

Ichigo berusaha menahan tawanya di depan Rukia, dan berhasil mendapat sikutan keras istrinya itu. "Jangan tertawa kalau kau masih ingin pulang dalam keadaan utuh, bodoh!"

"Tapi, Byakuya benar-benar—"

"Tidak bisa dipercaya!" lanjut Renji di sebelah Ichigo, yang juga berusaha menahan tawanya dengan suara tercekik. "Kuchiki-taicho benar-benar diluar dugaan!"

"Setelah ini selesai, aku ingin bicara dengan kalian berdua," ucap Byakuya ketus, kembali kepada wajah seriusnya—menatap dua orang bodoh di depannya. "Terutama kau, Kurosaki Ichigo."

"Auchh!"

*~(..)~*

When you let your heart be the compass
(It will always lead you home)
You won't get lost, not if you trust it
(It will always lead you home)
When you hear the sound of the trumpet
Louder than ever before

*~(..)~*

"Lihat!" seru Kouta, menunjuk pada cahaya-cahaya kecil yang mulai bermunculan di depan matanya. Para wisps—kunang-kunang—mulai menampakkan dirinya lagi. Kotone terkikik geli, menahan tawanya agar tidak terdengar terlalu keras, mencegah para wisps menghilang lagi.

"Wow!" bisik Renji, yang ikut terpana melihat cahaya-cahaya itu menari kesana kemari.

"Sesuatu yang tidak bisa kau lihat setiap hari," tambah Ichigo, tersenyum lebar melihat kedua anak manisnya mulai lagi tertawa.

"Cantik." Rukia berbisik kagum, ikut terkikik geli seperti putrinya. Seakan-akan seperti mimpi yang berubah menjadi nyata. Kenyataan yang terlalu manis.

Ichigo ikut tertawa bersama istrinya dan memeluknya dari samping. Tubuh mungilnya membentur ringan pada tubuh Ichigo, membuat wajah Rukia memerah karena keterkejutan yang mendadak. Juga sedikit malu. "I…Ichigo!"

"Kau benar," potong Ichigo, memperhatikan wajah Rukia dengan tatapan teduhnya. Ini semakin membuat istri mungilnya risih, dengan degup jantung yang terlalu cepat bertalu. "Benar-benar cantik."

Rukia tahu, yang diperhatikan Ichigo bukanlah wisps yang menari-nari di kegelapan malam, melainkan dirinya. Tepat di mata besar Rukia yang terbelalak lebar, berkaca-kaca akibat rasa haru yang terlalu besar dan menekan. Dia tahu, saat-saat seperti ini akan berlangsung sangat lama. Hingga mereka terpisahkan oleh maut yang menjemput. Sampai saat itu tiba, dia tidak akan pernah melepaskannya—begitu pula dengan pria keras kepala yang menatap dirinya seperti pada kaca yang terpantul.

*~(..)~*

Oh, when you're almost there
Almost home
Just open up your eyes and go, go
Cause you're almost there
Almost home
Know you're not alone
You're almost home, home, home, home
(*)

*~(..)~*

A few months later…

"Ichigo! Cepatlah sedikit!"

"Tunggu sebentar! Aku masih harus membawa beberapa barang! Bertahanlah sebentar lagi!"

"Urrggh!" Rukia menggerutu lagi, sambil mengelus lembut perut besarnya. Kontraksi terjadi lagi dan membuat keningnya berkerut untuk menahan rasa sakit yang muncul. Ini saatnya, dan dirinya harus menahannya sekuat tenaga. Serasa seluruh tubuhnya memprotes kuat, membuat keringat dingin membasahi keningnya. "Ichigo!"

"Okaa-chan, tidak apa-apa?" tanya Kouta khawatir, melihat raut wajah ibunya yang kesakitan.

"Apa adik kecil menendang lagi?" sambung Kotone, ingin mengelus perut ibunya, tapi dengan cepat diurungkannya.

"Ahh, dia ingin cepat keluar," jawab Rukia, berusaha setenang mungkin untuk tidak ikut memarahi si kembar. "Ichigo!"

"Ya, aku datang," balas Ichigo yang sudah berlari ke ruang tengah. Tangannya mengenggam surat rumah sakit, yang sempat menghilang dan membuatnya panik untuk mencarinya di setiap sudut kamar. "Kouta, tolong bawa kertas ini dan jangan sampai hilang. Dan segera bawa Kotone masuk ke mobil."

"Otou-chan lama," ucap Kotone ketus, sambil melangkah keluar bersama kakak kembarnya—saling bergandengan tangan.

Ichigo sediki tersentak pilu mendengar kata-kata putri manisnya, namun sekarang bukanlah saat yang tepat untuk merenung. "Ayo Rukia, bertahanlah sebentar."

Dengan cekatan, Ichigo langsung mengangkat tubuh istrinya dan menggendongnya ke mobil. Rukia tersentak kaget dan memukul kepala suaminya. "Aku bisa jalan sendiri, bodoh!"

"Aww! Tapi tidak perlu memukul kepalaku, mungil! Lagipula, begini lebih cepat!"

"Kau benar-benar menyebalkan! Lihat, gara-gara kau perutnya berkontraksi lagi!"

"Iya, iya," balas Ichigo tergesa-gesa, menapaki jalan depan rumahnya dan segera menuju mobil. "Emosimu benar-benar mengerikan."

"Hormon," ucap Rukia sambil mencengkram rambut Ichigo kuat-kuat begitu perutnya kembali berkontraksi, mencegah suaminya untuk mendudukan Rukia di kursi depan.

"Rukia!"

"Jangan salahkan aku!"

"Otou-chan, cepatlah!" ucap Kotone, tidak sabaran. "Adik kecil akan segera keluar!"

"Cepat-cepat!" Kouta mengikuti, mengoyangkan kakinya maju mundur.

Dan Ichigo segera menuju kursi pengemudi, untuk menancap gas secepat mungkin. Gerutuan istri dan anak-anaknya mulai memacu dirinya, bergegas dalam batas maksimumnya. Sesuatu akan segera terjadi—sebuah perubahan—pada keluarga kecil ini. Sebuah keajaiban yang terkadang tidak disadari pada diri setiap orang yang mengalaminya, setelah beberapa tahun melewatinya menjadi masa lalu. Kelahiran, jiwa baru, harapan, mimpi, dan cahaya. Bukanlah hal mudah untuk melewatinya bersama, membimbingnya menuju dunia di depan mata. Menemukan sebuah kehidupan baik dan jahat, hitam dan putih, bahkan abu-abu. Dan hari esok menjadi awalnya, menemani pria keras kepala dan wanita bersikukuh ke depannya. Dua menjadi tiga. Ya, bersama si kehidupan baru.

Kurosaki Suzume.

*…*…*Finale part 2! Episode 6*…*…*

*…*…*…*…*おわり *…*…*…*…*

Author's note:

Nama Suzume memiliki arti 'sparrow'.

(*) 'Almost Home' by Mariah Carey

It's the end! I know, this is hard to finish the story. Butuh waktu lama untuk menamatkan fic ini dan author sudah beberapa kali mencoba untuk mengetik, namun benar-benar sulit. Maaf karena sudah menunda cerita ini terlalu lama, untuk para readers yang sudah setia membaca fic ini. Tetapi, aku sudah menepati janjiku, untuk menamatkan cerita ini, walaupun butuh waktu yang sangat lama dan semoga kalian bisa mengerti. Dan, aku harap fic ini bisa menghibur dan menjadi sebuah refreshing manis di hari-hari berat kalian. Love u all, guys! Thank you for the lovely attention that you all give to me, it's mean a lot, really!

Balasan untuk anonymous reviewers:

zircon: Hai zircon! Maaf baru update dan dibalas sekarang! Makasih ya sudah mereview… Ah ya, aku juga pikiranya begitu kok, ngebayangin rumah Ichigo lebih mengarah ke rumah barat, bukan tradisional Jepang..hehe XD

darries: Terima kasih sudah mereview, darries-san. Hihihihi..udah pasti itu, Byakuya bakal ngelabrak Ichigo..XDb Ah, gomen, aku ga bisa buat flashback nya Ruki, soalnya udah tamat sampai di sini… mungkin lain kali (?) hehe… Iya, Kouta punya sifat berani orang tuanya, walaupun masih kecil dia tetap tegar. Oke, sudah kuupdate, semoga kamu suka.

Chelsea: Hihi..thanks a lot ^^ Terima kasih sudah mereview ya. Ah, ada kok, di covernya, walaupun cuman setengah..hehe XD Terima kasih juga untuk semangatnya. Semoga kamu suka dengan chapter terakhir ini.

Really a big thankful for all these guys:

nanda. teefa, MR. KRabs, KeyKeiko, zircon. mercon, Azura Kuchiki, darries, mey, Ichikawa soma, BCherryPurple, Arisa Narahashi – Aimee, raracchi, hendrik. widyawati, Peachy Berry, Riri Seu, Viselle, Reiji Mitsurugi, Izumi Kagawa, Account Options, UchiHaru Mey, Erli, tiwie okaza, Sana Uchiga, Awitway A. M, karikazuka, Kwon Eun Soo, Sitirahimah8, Kyoumo-chan, ichirukilover30, Guest, candy loly berry, Ichikia, Rini desu, Natsumi Kyoko, airin yukibara, SSRR Yuki, LastMelodya, Naruzhea Aichi, Bleachaholic Yuuka-chan, Chelsea, Rinta Dera, deni. Jafaris, ReshaRukiRuu, Rukiorra Schiffer, keyfa, Fitria Toushiro, Shai Kuninobu, ShiningLoveARA, Cherryphia, mamitsu27, Kim Yui Rie, KyouyaxCloud, kookynachita, Fumiko Ren, ayy1090, miskiyatuleviana,

and of course you…

Love,

Morning Eagle