Bittersweet Love
Jaehyun x Taeyong
NCT © SM Entertainment
Warning! Alternate Universe, OOC, Typo(s), YAOI, NC, Affair, Eksplisit Lemon, etc
Ketika Taeyong terbangun keesokan harinya, ia sendirian di atas tempat tidur Jaehyun. Dia melihat ke arah jam di meja samping tempat tidur dan melihat jika sekarang sudah hampir pukul sepuluh lewat. Taeyong mengerang. Kenapa dia bisa tidur terlalu pulas begini hingga lupa waktu? Saat duduk, kepalanya sedikit pening karena gerakan tiba-tiba. Taeyong meregangkan tubuhnya sedikit dan kemudian baru menyadari jika Jaehyun ada di sana, sudah mandi dan rapi duduk di sofa ruangan itu, menatapnya.
"Selamat pagi," sapanya.
Taeyong langsung menurunkan tangannya, malu. "Selamat pagi." Cepat-cepat dia turun dari tempat tidur, merapikannya sedikit sambil mencari pengalih perhatian. "Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanyanya tanpa menoleh.
"Lebih baik, berkatmu. Terima kasih," balas Jaehyun dengan suara tenang. "Apa tidurmu nyenyak?"
"Ya." Sejak kapan obrolan di antara mereka menjadi secanggung ini? "Sudah sarapan? Aku bisa buatkan―"
"Sudah," potong Jaehyun cepat. "Wendy memaksaku makan tadi. Padahal aku hanya menyuruhnya menyiapkan kopi. Menyebalkan."
Taeyong terdiam sebentar, kemudian tertawa, sudah lama ia tidak mendengar nada merajuk Jaehyun yang seperti itu. Meski tawa itu tidak lama. "Wendy-nuna hanya peduli padamu. Dan um, bicara tentangnya, lebih baik aku pergi sekarang sebelum dia menemukanku di sini," gumam Taeyong tiba-tiba sadar. Kini ia telah selesai membereskan tempat tidur dan hendak pergi.
"Sayang sekali sudah terlambat." Jaehyun tertawa melihat sepasang mata itu membola. "Dia sudah melihatmu tidur di kasurku saat membawakan sarapan tadi. Kau tidur seperti orang mati, Taeyong."
"Oh, sial," umpat Taeyong. "Aku minta maaf―"
"Jangan khawatirkan itu. Tidak apa-apa." Jaehyun tersenyum. "Perlu aku memintanya membawakan makanan ke sini untukmu sarapan?"
"Tidak perlu," jawabnya dingin. Taeyong butuh waktu untuk menjawabnya. Fuck. Senyuman Jaehyun membuatnya membeku sesaat tadi. "Aku akan turun sendiri setelah mandi. Terima kasih," kata Taeyong dan kemudian pergi meninggalkan ruangan itu melalui pintu yang langsung menuju kamarnya. Tanpa menunggu Jaehyun bicara lagi.
Taeyong langsung menghela napas begitu pintu ditutup. Rasanya aneh berbicara dengan Jaehyun dengan suasana canggung seperti tadi. Taeyong ingin mencairkan suasana, tapi mungkin karena masih tersisa kemarahan dan sakit hati jauh dalam dirinya pada Jaehyun, ia tidak bisa melakukannya. Aku harus benar-benar melupakan semua itu jika ingin hubungan kami bisa kembali seperti dulu, pikir Taeyong sambil beranjak ke kamar mandi.
Setelah sarapan, Taeyong pergi berjalan-jalan dengan Jaehyun di taman. Mereka tidak banyak bicara, lebih banyak diam dan larut dalam pikiran masing-masing. Tempat itu jelas mengingatkan mereka akan Irene.
Saat makan siang, Taeyong memastikan Jaehyun makan dengan baik. Dia bahkan ada di sana mendengarkan Jaehyun selama ia berbicara dengan anak-anaknya lewat telepon. Taeyong, meskipun ingin dan sudah sangat rindu mendengar suara Minhyung dan Lami, tidak berani meminta kesempatan untuk berbicara dengan mereka pada Jaehyun, yang juga tak menawarinya. Jaehyun tidur setelah itu, terpaksa bangun saat Taeyong menyuruhnya mandi.
Sekali lagi, Taeyong memastikan dia makan dengan baik saat makan malam. Bersyukur dalam hati melihat pucat di wajahnya berangsur hilang.
"Kau tampak lebih baik," gumam Taeyong ketika Jaehyun turun dari tangga dan mendekat untuk duduk bersamanya di sofa ruang tamu malam itu.
"Aku memang merasa lebih baik. Terima kasih," gumam Jaehyun. Diperhatikan sosok di sampingnya yang kini sibuk dengan laptop di atas meja, yang ada di hadapannya. "Kerja?"
"Ya. Hanya beberapa hal yang harus kuselesaikan."
Jaehyun mengangguk, meraih remote dan mulai menyalakan TV tanpa bicara lagi.
Di depannya, pemberitaan mengenai kasus penculikan yang sedang ramai sedang ditayangkan oleh stasiun televisi. Tapi perhatian Jaehyun sama sekali tak terarah ke sana. Bagaimana mungkin dia bisa berkonsentrasi pada berita dengan adanya Taeyong di sampingnya? Tak butuh waktu lama baginya hingga benar-benar melupakan apa yang seharusnya sedang ia tonton dan hanya terfokus pada Taeyong.
Jaehyun selalu suka melihat Taeyong ketika perhatian pria itu sepenuhnya tertuju pada hal lain, terutama pekerjaannya, seperti itu. Taeyong seakan ada di dunianya sendiri dan takkan memberikan perhatian pada yang lain. Begitu fokus dan… seksi. Benar-benar bisa membuat Jaehyun gila. Mata hitam indahnya akan bergerak-gerak, ulasan bibir kissablenya akan digigit pelan, hidung dan dahinya akan berkerut lucu tiap kali dia mulai berfikir terlalu keras. Lalu aroma tubuhnya… Mari hentikan sampai di sini. Berada di dekat Taeyong memang selalu bisa memunculkan kerusakan pada otak Jaehyun yang biasanya diperuntukkan untuk berpikir cerdas, menjadi pikiran yang tidak-tidak. Fuck.
"Baiklah." Taeyong menutup laptopnya, berdiri lalu bicara tanpa sedikitpun menoleh. "Aku akan ke atas untuk melanjutkan pekerjaanku. Selamat malam, Jaehyun."
"Selamat malam." Jaehyun merespon saat Taeyong berbalik pergi dan melewatinya.
Sebenarnya Jaehyun ingin bicara dengan Taeyong, karena itulah alasan sebenarnya ia turun. Tapi Taeyong terlihat sibuk dengan pekerjaannya membuat Jaehyun tidak enak mengganggunya. Mungkin itu alasan tambahan lain selain Jaehyun sendiri yang memang belum siap bicara. Karena nyatanya, sudah terlalu banyak kesempatan yang dia lewatkan hari ini untuk membicarakan tentang kelanjutan hubungan mereka dengan Taeyong.
Jaehyun bersandar lemas, menghela napas. Besok, pikirnya. Dia harus mengatakan ini pada Taeyong besok. Apapun yang terjadi.
"Ini jauh lebih sulit yang kupikirkan."
Taeyong selesai dengan pekerjaannya sekitar pukul satu malam. Langsung mandi dan berganti pakaian dengan piyama. Sama seperti malam sebelumnya, sebelum pergi tidur dia akan mengecek keadaan Jaehyun terlebih dahulu.
Taeyong duduk di tepi tempat tidur Jaehyun yang rupanya masih membuka mata. "Tidak bisa tidur?" Tanyanya pelan.
Jaehyun sudah tidur, tapi saat mendengar derit dari pintu yang menghubungkan kamar mereka yang dibuka Taeyong, dia langsung terjaga. "Terbangun karena suara pintu."
"Maaf―"
"Tidak apa-apa, tidak perlu minta maaf," sela Jaehyun. Suaranya serak khas bangun tidur. "Pekerjaanmu sudah selesai?"
"Untuk sekarang, ya."
Mereka hanya berpandangan seperti itu sampai Jaehyun berdehem, mengalihkan pandang ke sembarang arah. "Aku belum berterima kasih padamu tentang, kau tahu, membantuku bercukur, memotong rambut dan… segalanya. Terima kasih."
Taeyong tertawa. "Aku belum pernah memotong rambut orang lain sebelumnya. Kau suka?"
"Benarkah? Aku tidak percaya." Jaehyun menyeringai. "Kau melakukannya dengan baik. Aku suka."
Taeyong menghela napas lega, menyuarakan rasa khawatirnya. "Aku kira kau akan marah karena aku memotongnya lebih pendek dari potonganmu sebelumnya."
"Aku tidak mungkin melakukan itu." Jaehyun menatap Taeyong dengan lembut, matanya berbinar geli. Taeyong terlihat lucu tadi. "Apa potongan rambut ini terlihat bagus untukku?"
Taeyong mengulurkan tangan untuk menjalankan jari-jarinya melalui rambut halus Jaehyun. Dia selalu suka melakukan ini. "Kau selalu terlihat tampan di mataku, Jaehyunie." Suaranya nyaris berbisik.
Sebuah sentakan intens melewati tubuh Jaehyun. Kombinasi dari perasaan nyaman saat jari Taeyong mengelus rambut dan kulitnya, juga suaranya lirihnya saat memanggil namanya. Jangan lupakan tatapan mata sayu itu. Jaehyun yang memang sudah menahan keinginan ini sejak lama, tak bisa mengontrol fungsi tubuhnya. Miliknya sudah keras begitu saja.
"Taeyong..."
Taeyong membeku saat mendengar Jaehyun mengerangkan namanya seperti itu. Matanya jatuh pada wajah Jaehyun dan melihat mata itu tertutup. Bibirnya terbuka seksi dengan kepala mendongak dan wajahnya, sudah sepenuhnha memerah akan gairah. Semakin ke bawah, ia bisa melihat bagian bawah tubuh Jaehyun yang kebetulan memang tak mengenakan selimut. Itu menyembul membentuk tenda.
Bergulir ke tempat tidur, Taeyong menarik kaki Jaehyun terpisah, duduk di antara itu. Tangannya mulai melepas celana Jaehyun, menariknya turun hingga miliknya terlepas. Betapa Taeyong merindukan benda itu dalam mulutnya.
"Oh fuck, Yongie..."
Napas Jaehyun berantakan. Hampir gila dengan kesenangan yang dirasakannya. Dia begitu merindukan ini, sensasi mulut Taeyong pada miliknya.
Belum cukup. Lebih cepat, Jaehyun ingin lebih cepat.
"Yesss." Jaehyun mendesis, tangannya bergerak ke bawah untuk menahan kepala Taeyong. Dia benar-benar terfokus pada kesenangan sendiri pada keinginan yang begitu gila untuk cepat sampai. Dia mengerang, menutup matanya. "Yeah, terus seperti itu. Suck it, baby. Yess..."
Taeyong melakukannya dengan senang hati. Memenuhi permintaan Jaehyun. Bergerak tanpa henti membawanya orgasme. Ia mencekungkan pipinya, menggunakan tangannya sebisa mungkin. Suara-suara erotis dari Jaehyun membuatnya tak bisa berhenti, walau mungkin jika ada yang tiba-tiba datang memergoki mereka, Taeyong tidak peduli. Ia belum pernah mendengar Jaehyun hingga seperti ini.
"Oh, God. Feels so good." Jaehyun mengerang, mendorong pinggulnya naik tanpa peduli apa. Gerakannya begitu ceroboh. Jaehyun kehilangan dirinya. "Please don't stop."
Keringat mengalir dari tubuhnya saat ia berjuang keras untuk mengambil napas.
Jari-jarinya menarik rambut Taeyong, membimbingnya. Itu adalah sesuatu yang tidak pernah Jaehyun lakukan. Tapi dia sedang ada di luar kendali. Mulai menggerakkan pinggulnya liar, cepat, memasuki mulut itu lebih dalam lagi.
Taeyong tidak keberatan sama sekali. Dia menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Jaehyun. Membiarkan dia yang menentukan seberapa cepat dan seberapa dalam ia ingin Taeyong melakukan ini untuknya.
"Uhk! Mmm!"
Rahangnya sakit, matanya melebar dan basah, bibir merahnya membengkak. Terlalu cepat. Ia tak keberatan.
Taeyong menyentuh dirinya sendiri, mulai merengek ketika ia merasa apa yang sudah tak pernah ia rasakan lagi selama berbulan-bulan.
Saat orgasme melandanya, ia berteriak masih dengan milik Jaehyun dalam mulutnya, menimbulkan getaran luar biasa bagi Jaehyun yang terasa hingga jari-jari kaki. Membuatnya menyusul dengan cepat.
"God!" Jaehyun mengerang, menyemburkan cairannya di tenggorokkan itu tanpa pemberitahuan sama sekali. Taeyong tersedak hebaf, tapi Jaehyun tidak berhenti sampai semburannya berhenti, dan tubuhnya, jatuh terkulai menekan bantal.
Taeyong menarik kepalanya, terbatuk kecil, rasa dari cairan itu terasa menyengat hingga hidungnya. Kepalanya tersimpan di perut Jaehyun, mencoba menormalkan napasnya yang memburu.
Ketika napas mereka kembali normal, Taeyong berguling ke sampung, dengan perlahan mengambil tisu, membereskan sedikit kekauan itu dan kembali memakaikan celana Jaehyun. Bangkit berdiri dari sana.
"Itu tadi luar biasa," Jaehyun menatap Taeyong. "Aku sudah lupa betapa berbakatnya mulutmu itu, Yongie." Dia menarik napas saat matanya yang mulai berat jatuh pada bibir Taeyong yang merah dan bengkak.
"Senang bisa memuaskanmu." Ada kepahitan dari nada bicara Taeyong yang membuat Jaehyun mengernyit. "Sampai jumpa besok."
"Yongie..."
"Tidur, Jaehyun." Taeyong berkata serak saat ia meninggalkan ruangan.
Jaehyun bertanya-tanya, apa yang salah yang ia lakukan hingga Taeyong menatapnya dengan tatapan terluka seperti itu?
Apa yang kulakukan?
"Sial!" Diusapnya kasar air matanya. Taeyong tidak tahu apa yang membuatnya menangis saat ini. Tapi dia tidak mengenyahkan pikiran ini dari kepalanya, membuatnya luar biasa takut.
Apa Jaehyun tidak merasakan apa-apa untuknya sama sekali? Selain nafsu?
Mungkin Taeyong memang hanyalah pelarian Jaehyun. Apa yang Jaehyun butuhkan untuk memuaskannya, seperti tadi. Tak lebih.
Irene mengatakan jika Jaehyun mencintainya, tapi Taeyong mulai merasa bukankah itu aneh bagi seseorang dengan begitu mudahnya meninggalkan orang yang benar-benar dia cintai dan membuatnya terluka? Memang benar apa yang dikatakan Irene mengenai Jaehyun yang akan mendorongnya pergi dari hidupnya. Tapi mungkin saja Jehyun melakukan itu, karena dia memang tak ingin bersama Taeyong sejak awal.
Taeyong melepas pakaiannya, berjalan ke kamar mandi sekali lagi malam itu.
Mungkin justru Taeyong yang harusnya bersyukur, karena Jaehyun ternyata masih menginginkannya seperti itu, mengingat dia yang begitu dingin dan tak banyak bicara padanya seharian.
Tidak.
Jaehyun memang tidak benar-benar pernah bicara padanya sejak Taeyong melangkahkan kaki masuk ke dalam mansion. Dia tidak mengatakan apa-apa. Tidak mengenai alasan dirinya yang menghilang dari kehidupan Taeyong selama hampir dua bulan. Tidak juga dengan permintaan maaf atas apa yang telah ia lakukan. Jaehyun tidak mengatakan apa-apa selain menatapnya dengan ekspresi datar dan tatapan aneh sepanjang hari.
Taeyong di sisi lain tidak tahu apa yang harus ia bicarakan dengan Jaehyun. Istrinya, anak-anaknya, atau pekerjaannya? Semuanya terasa tidak tepat.
"Lupakan saja, Taeyong," gumamnya sambil naik ke tempat tidur.
Tak peduli apa, Taeyong tetap akan melakukan yang terbaik untuk Jaehyun, seperti apa yang telah ia janjikan pada Irene. Tapi jauh di dalam hatinya, ia berharap jika Jaehyun bisa segara membuka hati untuknya karena Taeyong benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan lagi sekarang. Dia tidak tahu sampai kapan bisa bertahan seperti ini, dengan perasaan seperti ini.
Mengambil napas dalam-dalam, Taeyong menarik selimut ke atas kepala. Mencoba tidur.
Semuanya akan lebih baik esok.
Atau setidaknya, itulah yang Taeyong harapkan.
"Apa?" Taeyong mengangkat alis, ingin tahu. "Apa yang kau pikirkan?"
Mereka duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu mansion pada pagi hari, menonton perkiraan cuaca tepat setelah sarapan. Hansol pergi menemani Wendy berbelanja, yang bersikeras untuk membeli bahan makanan tertentu karena ingin membuat hidangan istimewa untuk makan siang mereka. Sooyoung tidak terlihat sejak kemarin, begitu pun pekerja yang lain. Jelas, hanya ada mereka di rumah besar ini untuk sekarang.
Taeyong telah ada di rumah itu selama empat hari, memastikan Jaehyun makan dengan baik dan tak menyentuh alkohol lagi. Dia bangga dengan apa yang telah ia capai. Jaehyun sudah mendapat kembali berat badannya. Tampak lebih baik dan secara mengejutkan, lebih seksi. Mereka belum melakukan hal intim lagi setelah blowjob di hari kedua itu, dan belum banyak bicara juga. Susana yang tercipta belum bisa seperti dulu, tapi Taeyong menyukai tiap detiknya bersama Jaehyun. Karena dia mencintainya.
Ini bukan hal baru. Jaehyun terus menatapinya tanpa bicara di tiap ada kesempatan. Taeyong yang penasaran akhirnya memutuskan untuk menanyakan langsung apa yang sedang dipikirkannya. Apa pun yang ada di pikirannya, yang mengganggunya, akan lebih baik jika dia mengungkapkannya. Taeyong siap mendengarkan.
"Aku bertanya padamu, Jaehyun." Taeyong berkata pelan saat ia membalik tubuhnya untuk menghadap Jaehyun di sofa.
"Apa? Tidak ada," gumam Jaehyun tidak meyakinkan.
"Katakan," kata Taeyong tegas.
Jaehyun yang mendapati sorot mata penuh kesungguhan, mengangguk. Dia menghela napasnya sebelum berkata, "Pertama, aku ingin mengucapkan terimakasih banyak atas apa yang telah kau lakukan untukku, Taeyong. Aku tahu aku tidak akan pernah bisa membalasnya."
Taeyong memandang lembut setelah mendengarnya. "Minhyung dan Lami membutuhkanmu, Jaehyun. Cobalah ingat itu saat kau mulai merasa… seperti itu lagi," kata Taeyong lembut.
Jaehyun mengangguk. "Aku akan ingat itu. Aku juga ingin meminta maaf untuk apa yang aku... pelakuanku padamu setelah..."
"Kau berduka. Aku mengerti," potong Taeyong cepat. Tersenyum kecil.
"Benarkah?" Jaehyun memiringkan kepalanya dan menatap Taeyong yang mengangguk pelan. "Lalu aku ingin mengatakan bahwa―"Jaehyun mengambil napas dalam-dalam. Ini dia. Hatinya sakit tapi, inilah dia. Ini saatnya. "Aku pikir akan lebih baik jika kita tidak melanjutkan apa yang telah kita lakukan selama ini, Taeyong. Aku menikmati setiap saat yang kita habiskan bersama. Benar-benar menghargainya. Tapi sekarang aku hanya ingin berkonsentrasi pada anak-anakku, berada di sisi mereka. Aku tahu ini mendadak bagimu, tapi aku sudah memikirkan ini sejak lama. Aku sudah memutuskannya. Inilah yang aku inginkan. Inilah hal benar yang harus kulakukan. Tidak ada ruang untuk…" Suara Jaehyun semakin melemah, seketika terhenti, tertegun melihat eskpresi menyakitkan yang kini ada di wajah manis Taeyong yang menatap kosong.
"Taeyong…" panggilnya lirih.
Tapi meskipun Jaehyun tidak menyelesaikan kalimat terakhirnya, Taeyong tidak perlu menjadi seorang jenius untuk mengetahui yang akan ia katakan. Tidak ada ruang dalam hidupnya untuk Taeyong.
Taeyong merasa begitu terpukul. Dadanya sesak. Ada segudang emosi di dalam sana, di saat yang sama. Kemarahan, kesedihan, tidak percaya, mau. Tapi dari semua itu, Taeyong tahu jika dia merasa terluka. Ya, Irene telah memperingatkannya ini akan terjadi, cepat atau lambat. Bahwa Jaehyun akan mendorongnya pergi dari hidupnya. Tapi itu masih belum cukup baginya untuk mengatasi rasa sakit yang kini mengisi dadanya. Taeyong tidak pernah membayangkan atau sedikitpun berpikir Jaehyun akan benar-benar tega, mengatakan langsung dengan mulutnya, di hadapannya, sesuatu yang begitu kejam dan menyakitkan seperti apa yang baru saja dia katakan. Rasanya seolah-olah hatinya ini sedang dirobek, diremas, dihancurkan hingga tak berbentuk. Taeyong tahu dia harus berjuang. Dia telah berjanji pada Irene. Bahkan jika ia tidak melakukan itu, dia harus tetap memperjuangkan apa yang dia inginkan... dan itu adalah Jaehyun. Tapi saat ini, Taeyong begitu hancur dan merasa harus pergi. Mungkin, nanti dia akan mendapatkan kekuatannya kembali untuk bertahan. Tapi jelas bukan saat ini. Taeyong merasa akan hancur saat itu jika tidak cepat pergi. Dia tak ingin memberi Jaehyun kepuasan dengan melihatnya ada di saat itu.
Taeyong berdiri.
"Kumohon, hanya beri aku waktu untuk memikirkan ini." Suaranya tetap stabil, tapi ia sama sekali tidak tenang. Benar-benar mengabaikan raut bingung di wajah Jaehyun, Taeyong menuju tangga.
Di kamarnya, di lantai atas, Taeyong menghela napas dan melihat melalu jendela jika di luar kini sedang hujan deras. Dia cepat-cepat memakai hoodie, melemparkan semua barang-barangnya ke dalam tas, kemudian turun kembali ke lantai bawah dengan tas tersimpan di punggungnya.
Jaehyun masih duduk di sofa, di tempat yang sama.
"Tolong sampaikan terimakasihku pada Wendy-nuna dan Hansol shi," ujar Taeyong pada Jaehyun sebelum menuju pintu depan. Dia tidak punya payung atau jas hujan yang bisa ia gunakan, tapi ia berharap dengan kepala tertutupi hoodie, dia tidak akan terlalu basah untuk menuju mobilnya yang terparkir di garasi.
Ketika ia mencoba membuka pintu, itu tidak terbuka. Taeyong mendongak, kaget melihat tangan Jaehyun menahan pintu.
"Jangan pergi," pinta Jaehyun.
"Apa?" tanya Taeyong, berbalik untuk memandang Jaehyun dengan ekspresi tak percaya. "Kau baru saja berkata jika tidak ada ruang dalam hidupmu untukku, Jaehy―"
"Aku tidak pernah mengatakan it―"
"Jangan menghinaku. Aku tidak sebodoh itu untuk tak mengerti apa yang sedang coba kau katakan. Jadi kumohon biarkan aku―"
"Di luar sedang hujan." Jaehyun tahu dirinya hanya menyatakan sesuatu yang sudah jelas, tapi dia tidak bisa berpikir. Meski ini yang dia inginkan, sesuatu yang sudah ia tahu akan terjadi, tetap saja, melihat Taeyong pergi, membuat dadanya sesak luar biasa. "Setidaknya tunggu sampai besok. Atau tidak, sampai hujan reda."
Taeyong tertawa, tawa yang tidak terdengar seperti tawa. "Jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja," katanya sambil mencoba membuka pintu lagi. Jaehyun kembali menahannya. "Biarkan aku lewat."
"Kumohon, Taeyongie." Jaehyun berbisik lirih. "Aku tidak ingin kau pergi."
Demi hidupnya, Taeyong tidak mengerti kenapa air mata terkutuk itu jatuh begitu saja dari matanya hanya karena kata-kata itu. Taeyong tahu jika ia berusaha bicara sekrang maka dia akan akan mulai kehilangan dirinya dan hancur. Jadi, ia hanya berdiri di sana memandang Jaehyun, berusaha menenangkan diri hingga merasa bisa bicara lagi.
"Dengar Jaehyun, aku menghargai apa yang coba kau lakukan. Menahanku pergi karena di luar sedang hujan. Tapi terkena hujan tidak akan membunuhku. Aku akan tetap pergi."
"Aku tidak bermaksud menyuruhmu pergi saat aku berkata aku―"
"Lalu apa maksudmu?!" Taeyong tiba-tiba berbalik menghadap Jaehyun dengan kemarahan di matanya. "Katakan Jaehyun." Suaranya bergetar. "Kau mengatakan apa yang sebenarnya kau rasanya. Aku sakit saat mendengarnya tapi aku harus menghormati itu." Taeyong mengusap marah pipinya yang basah dengan lengan hoodie. "Setidaknya aku tidak ingin terlihat hancur di depanmu, aku masih punya harga diri yang harus aku jaga. Jadi, kumohon biarkankan aku pergi sekarang."
Jaehyun kehilangan kata-katanya. Penyesalan memukulnya keras. "Taeyongie..." Jaehyun bisa merasakan dirinya gemetar. Didorongnya tubuh Taeyong menekan pintu, memerangkapnya dengan tubuhnya sendiri. Jaehyun menyatukan dahi mereka. Dia tahu bahwa satu-satunya alasan Taeyong tidak bisa memberontak adalah karena ia sedang berusaha untuk menenangkan dirinya yng masih menangis. Astaga apa yang telah aku lakukan? Pikir Jaehyun, mengerang marah pada diri sendiri. Ia mulai memberikan ciuman di seluruh wajah Taeyong. "Jangan menangis." Bisiknya menyesal di antara ciuman-ciuman itu, rasa penyesalan membuat matanya kabur. "Ini membunuhku, melihatmu menangis seperti ini." Jaehyun menangkup pipi Taeyong, mencium air matanya pergi, sudut bibirnya…
"Apa yang kau pikir sedang kau lakukan?!" Taeyong menggeram marah, mendorong Jaehyun dengan seluruh kekuatan, membuat tubuh itu mundur beberapa langkah. "Kau tidak bisa melakukan ini lagi padaku! Kau tidak bisa memperlakukan seseorang seolah mereka tidak memiliki perasaan. Menyakiti mereka, dan kemudian menginginkan mereka kembali dan tetap disisimu dengan menciumnya! Apa kau selalu seperti ini? Mempermainkan seseorag seperti ini? Aku buta karena tak menyadarinya. Aku begitu bodoh karena mengharapkanmu. Menjauh dariku! Aku tidak ingin bertemu denganmu lagi!"
"Kumohon jangan katakan itu," Jaehyun terdengar begitu putus asa.
"Maafkan aku," lirihnya. Setelah menghela napas. Hanya ada luka dan pancaran sakit dari sorot matanya. "Tapi tak ada yang lebih menyakitkan dibanding berada di samping orang yang menjadi duniamu, tapi tahu bahwa kau sama sekali tak berarti untuknya."
"Taeyong, aku―"
"Jika kau benar-benar mencintai seseorang, maka satu-satunya hal yang kau inginkan adalah kebahagiaannya, bahkan jika itu bukan denganmu," kata Taeyong lembut, dengan senyum lemah. "Dan aku sangat mencintaimu, Jaehyun. Itu tidak akan pernah berubah." Dan dengan itu, Taeyong membuka pintu dan berlari menembus hujan.
Jaehyun begitu terpana mendengar kata-kata Taeyong, dia tidak bisa bergerak. Saat ia tersentak dari kebekuannya dan berlari keluar, Taeyong sudah menjalankan mobilnya melewati gerbang.
"Oh fuck!" Jaehyun mengerang, sepenuhnya menyesal. "Apa yang telah aku lakukan?" Dia menarik napas, berharap bisa memutar kembali waktu dan menarik kembali semua hal yang baru ia katakan pada Taeyong. Melihatnya pergi jauh lebih menyakitkan daripada yang ia bayangkannya.
"Daddy!"
Jaehyun terkaget mendapati dua sosok kecil yang baru saja turun dari mobil dan berlari ke arahnya. "M-minhyung? Lami? Apa yang kalian lakukan di sini?"
"Kami pulang karena uncle Hansol dan auntie Wendy bilang jika paman Taeyong ada di rumah." Mark tersenyum lebar.
Jaehyun memandang bingung pada penjaga yang juga turun dari mobil yang sama. "Saya ditugaskan Nyonya besar untuk membawa mereka kemari, Tuan," jelasnya.
Sosok perempuan kecil di sampingnya menarik-narik celananya meminta perhatian. Jaehyun langsung menggendong putri kecilnya itu.
"Dimana paman Taeyong, daddy?" tanya Mark lagi setelah sadar tak melihat tanda-tanda orang yang dimaksud ada di sekitar sana.
"Lami ingin beltemu paman Taeyong! Lami melindukannya!"
Lihat?
Bahkan anak-anaknya membutuhkan Taeyong.
"Apa yang telah kupikirkan?" bisiknya pada diri sendiri.
Jaehyun tidak bisa percaya dia benar-benar telah mengatakan semua omong kosong itu pada Taeyong. Rasanya seolah-olah apa yang selama ini menutup matanya tiba-tiba menghilang. Dan pikiran mengenai dirinya yang harus kehilangan Taeyong dalam hidupnya kembali membuatnya takut setengah mati. Bahkan dia yakin, Irene juga akan mengatai betapa bodohnya dirinya karena sempat berpikir jika dia tak pantas mendapat kebahagiaan apapun. Bagaimana bisa ia berpikir jika ia bisa hidup tanpa Taeyong padahal dia sangat mencintai pria itu? Bagaimana ia bisa berpikir jika ia bisa memisahkannya dari anak-anaknya jika anak-anaknya juga mencintainya?
"Daddy?" bingung Mark saat melihat ayahnya hanya melamun.
"Daddy baru saja melakukan hal yang sangat bodoh, Minhyung," jelasnya. Ia tak perlu menjelaskan pada anak-anaknya tentang kepergian Taeyong, karena Jaehyun berjanji akan membawa kembali Taeyong pada hidupnya. Pada kehidupan mereka. Diusaknya sayang rambut Minhyung, tersenyum."Tapi jangan khawatir. Daddy akan memperbaiki semuanya."
Minhyung membuat raut tidak mengerti. Begitupun Lami.
"Sekarang masuklah ke dalam karena Daddy harus pergi."
Lee Taeyong, aku mencintaimu.
Maafkan aku.
Tapi aku takkan membiarkanmu pergi dariku lagi.
Lanjut?
Terimakasih setiap bentuk dukungannya. Ini hampir selesai. Mungkin satu atau dua chapter lagi. So, review please?
