COMPLICATED
WARNING: Abal-abal, boring & crack pairing
SasuHina – HinaSaso – SasuSaku
Story line – Alila Clairene
Naruto - Masashi Kishimoto
~ Happy Reading ~
.
.
Chapter 8: Love Me Again
Aku tahu
Tidak akan sama lagi apa yang tak utuh
Tapi biarkan ku berikan padamu
Sedikit demi sedikit pecahan dari yang lalu
Hingga setidaknya kau mengerti
Dan bisa mencintai aku lagi
- Alila Clairene -
.
.
Hinata membuka pintu taksi yang baru datang sekitar enam menit setelah dia keluar dari gedung. Tangannya yang lain masih menempelkan ponselnya di telinga, masih berbincang dengan Sasori. Tepat sebelum dia melangkahkan kakinya untuk memasuki taksi tersebut, tangannya ditarik oleh seseorang hingga ponselnya jatuh ke jalan dan hal pertama yang dia rasakan adalah kehangatan. Tubuh mungilnya sedang berada dipelukan seorang pria yang beberapa menit yang lalu juga melakukan hal yang sama terhadapnya.
"T-tunggu! A-apa yang kau lakukan? Lepaskan!"
Pria itu, Sasuke, bergeming dan malah mengeratkan pelukannya pada Hinata.
"Aku bodoh kan, Hinata?"
"S-Sasuke.. Lepaskan."
Hinata bergetar. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Hinata bingung kenapa Sasuke berada di sini sedangkan beberapa waktu yang lalu dia sedang berada di gedung itu, digandeng seorang wanita cantik, bertunangan.
"Aku butuh waktu lebih dari lima menit hanya untuk memutuskan apa aku harus mengejarmu atau tidak. Sama seperti malam itu."
"Kau.. melarikan diri?"
"Jika aku tidak mengejarmu maka itu yang aku sebut dengan melarikan diri."
Sasuke mengendurkan pelukannya untuk menatap wajah cantik Hinata sejenak lalu matanya beralih ke supir taksi, memberikan isyarat agar meninggalkan tempat itu. Tak lama berselang, sebuah mobil hitam datang dari arah belakang mereka—mobil Sasuke.
"Silahkan, Sasuke-sama."
Tanpa meminta persetujuan Hinata, Sasuke menuntun wanita itu untuk memasuki mobilnya, membawanya ke suatu tempat. Sepanjang perjalanan, tangan Sasuke menggenggam jemari Hinata dan tangan yang satunya memegang kemudi. Hinata yang masih terkejut atas apa yang dilakukan Sasuke hanya diam sambil sesekali matanya melirik ke pria itu.
"B-bagaimana kau bisa.. melakukan ini?"
"Melakukan apa?"
"Kau tahu maksudku." Hinata mencoba untuk melepaskan genggaman nyaman tangan Sasuke tapi genggaman itu terasa semakin erat.
"Aku melepas cincinku dan mengejarmu."
"A-aku tidak bisa membayangkan itu."
"Aku pun... begitu. Tapi aku tidak ingin membuat kita semakin menjauh."
"..."
"Aku ingin menunjukkan bahwa aku bisa melakukan dan melepaskan apa saja, demi dirimu."
Mobil Sasuke berhenti di parkiran apartemen lamanya. Apartemen yang hanya diketahui oleh Sasuke dan Itachi—dan Hinata adalah orang luar pertama yang pernah mengunjunginya, beberapa tahun yang lalu.
"Sasori.." gumam Hinata pelan saat dia teringat bahwa Sasori tengah menunggunya.
"Aku harus pulang, Sasuke."
Sasuke menatap tajam Hinata dan langsung menggandeng tangan wanita itu memasuki apartemennya tanpa peduli wanita itu tengah meronta.
"Apa yang memberatkanmu?" Sasuke menyudutkan Hinata di dinding, mengapit tubuh mungil itu dengan lengannya yang kokoh. Hinata menatap mata Sasuke, memberanikan diri untuk tidak terlihat lemah dibawah tekanan pria itu.
"Aku pernah bilang padamu, aku punya kekasih."
"Lalu?"
"Kita sudah tidak bis-"
"Omong kosong."
"Apa?"
"Aku punya seorang tunangan. Dan kau tahu apa?"
"..."
"Aku baru saja meninggalkannya. Membuatnya terpuruk. Demi dirimu."
.
.
.
Para tamu undangan mulai meninggalkan hall room tempat diadakannya pesta tadi. Beberapa tamu masih bisik-bisik membicarakan sebuah adegan yang tak terduga yang terjadi dalam pesta bernilai milyaran rupiah itu. Bukan pertunangan yang tiba-tiba, tapi adegan dimana putra dari Fugaku yang tiba-tiba melepas cincin yang baru saja terpasang beberapa menit sebelum akhirnya dia berlari meninggalkan gedung, meninggalkan seorang wanita yang mematung. Atmosfer yang tadinya penuh suka cita menjadi sedikit hening tetapi penuh dengan suara samar para tamu undangan yang mempertanyakan apa yang tengah terjadi. Di lain ruangan, seseorang tengah mengunci diri, menegak beberapa bir yang tersedia di dalam kamarnya. Haruno Sakura, wanita itu tengah tertunduk di samping ranjangnya, tanpa ekspresi yang berarti. Secara berulang, tangannya mengambil botol-botol bir di sampingnya, meneguk isinya hingga tenggorokannya sakit.
"Maaf Sakura, aku benar-benar tidak bisa melakukan ini. Aku mencintainya."
Kata-kata terakhir milik seseorang yang membanting harga dirinya itu terus terngiang di kepalanya. Dia teringat bagaimana matanya mengikuti arah kaki pria itu saat meninggalkannya, mengejar apa yang pria itu mau. Saat itu matanya sama sekali tidak meneteskan air mata, saat ini pun begitu.
"Setelah ini apa lagi.."
DRRT DRRT
Ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk menarik sudut matanya hanya untuk melihat siapa pengirim pesan itu.
Itachi-kun.
Tangannya tergerak untuk meraih ponselnya yang tergeletak di ranjang.
'Aku ada di depan kamarmu.'
Tanpa berniat menggerakkan kakinya untuk membuka pintunya, dia membalas pesan itu singkat.
'U know how.'
Itachi yang berada di depan kamar Sakura segera menekan sederet angka di pintu kamar itu—tanggal ulang tahun Sasuke. Sebenarnya dia sudah tahu kode kamar Sakura, tapi dia mengirimkan pesan itu terlebih dahulu agar Sakura tahu dia akan masuk dan tidak akan menganggapnya lancang. Dia juga sedikit terkejut karena Sakura memberi isyarat bahwa dia boleh menemui Sakura, padahal beberapa orang termasuk Naruto dan Mikoto telah mencoba mengirimi pesan atau menghubungi ponsel Sakura tapi tidak pernah digubris olehnya.
"Mau aku temani minum?"
"Hn. Silahkan."
Itachi mendudukkan dirinya di samping Sakura, meraih sebotol bir dan meminumnya. Itachi menyandarkan punggungnya di sisi ranjang dan menekuk salah satu kakinya.
"Feel better?"
"Never this better."
Itachi meringis menyadari pertanyaan bodohnya dan langsung meminta maaf pada Sakura.
"Itachi-kun, kau ingat saat Sasuke menyelamatkanku dari kebakaran di mall waktu itu?
Pria berambut panjang itu mengangguk menanggapinya dan memposisikan dirinya agar bisa menghadap Sakura, melihat ekspresi apa yang dibuat wanita itu.
"Saat itu aku berfikir 'God, I've found my white horse prince' dan aku sangat bahagia saat itu, meskipun gara-gara itu aku mendapatkan phobiaku akan toilet umum. Itu salah satu hal paling manis dalam hidupku. Tapi semua sudah berubah kan? Ah tidak.. Sasuke tidak pernah berubah."
Sakura menyenderkan kepalanya di bahu Itachi dan pria itu mengusap kepala Sakura dengan lembut.
"Apa semua akan berubah apabila saat itu aku tidak pergi ke New York ya? Aku jadi sedikit menyesal."
"Kau di sini pun pasti akan berpisah dengan Sasuke. Tidak mungkin kan kau mengambil Ekonomi?"
"Ya. Aku terlalu bodoh untuk itu. Tapi setidaknya.."
"Sakura.."
Itachi menghentikan Sakura untuk melanjutkan kalimatnya dan Sakura mengerti alasannya. Sakura memeluk lengan Itachi dengan erat hingga akhirnya dia tertidur dengan pulas. Itachi dengan hati-hati memindahkan tubuh Sakura ke ranjang, menyelimutinya lalu mencium kening adik perempuannya itu dengan lembut.
"Maaf aku tidak berada di pihakmu, Sakura."
Onyx Itachi menatap Sakura yang telah terlelap dalam mimpinya, sendu. Dia merasa bersalah tetapi dia meyakinkan dirinya bahwa memang ini yang terbaik bagi keduanya. Bersama dengan Sasuke pun tidak akan membuat Sakura bahagia karena Sasuke tidak akan bisa menjadi seseorang yang Sakura mau. Dan Sasuke.. kebahagiannya bukan ada pada diri Sakura. Itachi menghembuskan napasnya berat saat mengingat bahwa masalah Sasuke belum selesai. Masih ada, setidaknya seseorang yang harus dia hadapi setelah ini—ayahnya.
Sambil memegangi dadanya yang terasa sedikit sesak, Itachi keluar dari kamar Sakura dan berencana untuk menemui ibunya yang sepertinya masih terjaga di kamarnya untuk membicarakan tentang sikap Sasuke.
"Ah, aku lupa minum obat-obat itu."
.
.
.
Bibir mungil itu mengatup seketika mendengar kalimat yang dilontarkan pria di hadapannya. Dia tidak bisa melawan karena apa yang dikatakan pria itu memang benar-benar tak bisa dibantah.
"Demi dirimu, Hinata." Ulang pria itu, melihat kebimbangan di mata wanita yang ingin dimilikinya sekali lagi.
Tangan kecil Hinata tergerak, menimbulkan sebuah rasa ingin tahu Sasuke akan apa yang akan Hinata lakukan.
BUK
Suara itu terdengar beberapa kali sejalan dengan tangan kecil Hinata yang memukuli dada Sasuke. Tidak terlalu keras karena tangan itupun nyatanya sedang gemetaran dan Sasuke berani bertaruh bahwa wanita itu sedang ingin meluapkan sesuatu pada dirinya.
"Tidakkah kau berpikir kau sudah terlalu terlambat? Kenapa masih berani kau dekati aku?"
Sasuke bergeming, tetap diam bahkan ketika tangan Hinata masih memukulinya. Onyxnya mengikuti setiap pergerakan bibir mungil itu saat berucap.
"Aku bilang kita sudah putus."
"Atas persetujuan siapa? Kita menjadi sepasang kekasih atas keputusan kita berdua, dan saat kau mengatakan kita berakhir itu hanya keputusanmu semata. Karena aku tidak pernah menyetujuinya."
"Kau egois."
Sasuke dengan tiba-tiba mengangkat tubuh Hinata, menggendongnya memasuki kamar Sasuke yang di dalamnya terpasang banyak bingkai foto—yang tidak lain adalah foto Hinata dan Sasuke dulu. Sasuke menurunkan tubuh Hinata di tepi ranjangnya sedangkan dia sendiri duduk bersimpuh di bawah Hinata. Wanita itu bahkan tidak punya waktu untuk protes tentang apa yang telah dilakukan Sasuke terhadapnya.
"Maki aku sekarang."
"Aku punya banyak makian."
"Aku harap kau tidak kehabisan makianmu, Hime."
"..."
"Karena saat kau berhenti bicara, aku akan mulai menciummu."
"Kau gila."
"Aku bercanda."
Sasuke mendongakkan kepalanya, menatap Hinata yang juga sedang menatapnya. Sasuke tahu Hinata sedang mengumpulkan keberaniannya untuk memulai mengatakan apa yang ada di pikirannya. Dengan tetap mengarahkan pandangannya ke Hinata, tangan Sasuke menggenggam erat tangan Hinata, entah untuk yang keberapa kali hari ini. Dia hanya ingin meyakinkan bahwa apapun yang Hinata akan katakan tidak akan merubah perasaannya. Hinata sendiri sedang berdebat dengan dirinya sendiri. Kata-kata yang akan dia ucapkan nanti pasti akan menyakiti seseorang yang lain, dan dia tidak bisa menyangkal bahwa dia sudah tidak bisa mundur lagi. Dia paham bahwa ini adalah kesempatan terakhirnya untuk maju.
'Ternyata memang tidak bisa. Maafkan aku... Sasori-kun'
Sasuke melebarkan matanya tak percaya saat telapak tangan yang dingin itu tiba-tiba menyentuh pipinya. Sasuke mencoba menangkap arti sentuhan itu lewat sorot mata Hinata yang menatapnya tegas.
"Aku tidak berniat untuk memakimu, tapi... satu pertanyaan lagi, Sasuke."
"...katakan."
"Kalau aku menerimamu kembali, apa yang akan kau tawarkan padaku?"
"Diriku." Jawab Sasuke langsung tanpa ragu.
Sasuke sangat mengerti jika pertanyaan ini tidak lain adalah bentuk sisa-sisa keraguan yang ada di hati Hinata yang pernah dilukainya. Sasuke tidak akan memaafkan dirinya jika kali ini dia kehilangan Hinata sekali lagi. Telapaknya yang lebar menyentuh milik Hinata yang sedang berada di pipinya.
"Aku.. tidak bisa menjanjikan sebuah kebahagiaan karena nyatanya aku dulu bahkan tidak sadar apa yang aku lakukan telah menyakitimu."
Wanita itu dengan sabar menunggu Sasuke menyelesaikan kalimatnya, meskipun hatinya sedang bergemuruh mendengar jawaban Sasuke sesaat yang lalu.
"Sudah ku pahami bahwa ikatan yang pernah terputus ini tidak akan sama seperti dulu meski sudah aku sambungkan kembali. Tapi Hinata, dengan kesungguhanku aku meminta padamu, untuk yang terakhir kalinya.."
"...Sasuke.." Sasuke mendekatkan wajahnya ke arah Hinata.
"Kembalilah padaku, Hinata"
"..Sasuke.." Masing-masing dari mereka bisa merasakan hangatnya napas menderu dengan jarak sedekat ini. Hanya tinggal satu gerakan, satu jawaban, dan satu kepastian saja yang mereka butuhkan untuk saling merasakan satu sama lain lagi.
"Jawab aku, sekarang."
Detik kemudian anggukan kecil dari wanita dihadapannya langsung dibalas dengan sebuah ciuman yang bisa dikatakan begitu menggebu. Tapi apa yang dirasakan mereka berbeda. Mereka menikmatinya dan tanpa mereka sadari, mereka sedikit demi sedikit mengumpulkan keberanian untuk terus melakukannya semakin dalam. Sasuke mendorong pelan tubuh Hinata hingga tubuh langsing wanita itu terbaring di tempat tidur. Bibir mereka bertemu kembali, saling mengecap dan seakan membawa kembali pecahan-pecahan dari kenangan mereka dulu, mencoba untuk merangkainya.
Di saat yang tidak diharapkan, deringan ponsel Sasuke mengusik mereka berdua. Sasuke hendak mengabaikannya tapi Hinata memberikan isyarat kepadanya untuk segera mengangkat panggilan itu.
"Tch." Gumam Sasuke lalu meraih ponselnya.
'Sasuke dimana kau sekarang?' Suara di sebrang sana nampak tergesa.
"Okaa-san? Ada ap-"
'Itachi..'
Sasuke langsung berdiri dan merapikan bajunya. Dia tahu betul, jika ini menyangkut Itachi, maka tidak lain adalah masalah penyakit kakaknya itu. Tangannya meraih tangan Hinata dan dengan cepat menggandeng wanita itu untuk berjalan—berlarian mengikutinya. Hinata diam tanpa tanya saat mengetahui raut wajah Sasuke yang nampak sangat khawatir akan sesuatu dan Hinata yakin itu pasti tentang Itachi.
Mobil Sasuke dengan cepat melaju di jalanan Konoha yang sedang diguyur hujan. Hinata memainkan ujung jarinya dan sesekali melirik ke arah Sasuke yang masih menampilkan ekspresi yang sama. Tepat sebelum keluar dari mobil, Sasuke melepas jas nya dan langsung meletakkannya diatas kepala Hinata.
"Maaf, kau akan kehujanan. Atau mau di sini saja?"
"Jangan khawatirkan aku Sasuke. Ayo."
Mereka berdua berlarian di bawah hujan. Beberapa bagian tubuh Hinata basah dan Sasuke malah hampir basah di seluruh bagian tubuhnya. Seperti sudah menjadi suatu kebiasaan, tanpa bertanya rumah sakit apa atau di ruang apa, Sasuke menerobos kerumunan orang di koridor rumah sakit Konoha diikuti Hinata di sampingnya.
ICU.
Mata Sasuke dapat menangkap sosok Sakura yang masih memakai gaun yang sama di pesta tadi namun dengan tambahan sweater hitam yang menutupi bahunya sedang duduk dengan lemas di salah satu kursi depan ICU. Ada juga Mikoto yang sedang berjalan mondar-mandir di depan pintu dengan menggigit kukunya cemas.
"Okaa-san.." Perhatian Mikoto langsung mengarah pada arah sumber suara itu dan mendekatinya dengan langkah lebar.
PLAK
Sebuah tamparan mendarat di pipi Sasuke. Hinata dan Sakura yang melihat itu membelalakkan mata mereka terkejut, tak terkecuali Sasuke sendiri.
"Kenapa kau merahasiakan hal sepenting ini dari Okaa-san! Apa ayahmu tahu? Kenapa tidak ada yang memberitahuku? Kalian anggap Okaa-san apa!"
Sasuke mencoba meraih tangan ibunya, namun segera ditepis oleh wanita paruh baya yang sedang menangis itu.
"O-okaa-san... dengarkan aku." Mikoto tak bereaksi.
Hinata melangkah ragu mendekati Mikoto, memelukknya erat dan mengelus punggung wanita itu, menenangkannya.
"Miko- Okaa-san.. maafkan aku. Itachi-kun juga baru memberitahu aku, tadi pagi. Maafkan aku."
"Oh Hinata-chan, apa yang harus Okaa-san lakukan?"
Belum sempat merespon apa yang diucapkan Mikoto, seorang pria berkimono hitam dengan lambang Uchiha dibelakangnya menginterupsi Hinata. Langkahnya tegas dengan kedua tangan yang disilangkan di dada.
"Bagaimana keadaan Itachi?"
Uchiha Fugaku.
"Fugaku-san.." desis Hinata sangat pelan.
Mikoto langsung menghampiri Fugaku dan melemparkan pertanyaan-pertanyaan yang sama dengan apa yang ditanyakannya ke Sasuke—kali ini dengan pukulan-pukulan kecil pada dada Fugaku.
"Otou-san, biar aku saja yang menje-" Kalimat Sasuke terputus saat pria itu memotongnya tiba-tiba.
"Siapa kau?"
Mendengar pertanyaan itu, Sasuke langsung melancarkan tatapan tajam yang meminta penjelasan lebih atas pertanyaan konyol itu—meskipun dia sendiri tahu maksud di baliknya. Sedangkan Sakura yang tubuhnya masih terasa sangat lemas memilih untuk mengalihkan pandangannya dari orang-orang itu dan memasang wajah tak pedulinya meskipun jauh di dalam dirinya ada sebuah kekhawatiran yang besar akan sesuatu. Dia hanya bisa berharap bahwa Itachi akan baik-baik saja, meskipun dia sebenarnya sudah tahu bahwa dari dulu kakaknya itu mengalami lemah jantung dan dia tahu penyakit itu adalah sebuah rahasia besar di antara Fugaku, Itachi dan Sasuke.
.
.
.
Suasana hening menyerang keduanya- Sasuke dan Hinata. Mereka sedang sibuk dengan pikiran masing-masing. Dengan bersandar di bahu Hinata, Sasuke memejamkan matanya sejenak menenangkan pikirannya. Hinata tidak memprotesnya meskipun tubuh Sasuke masih basah akibat hujan tadi. Manik Hinata menelusuri setiap lekukan wajah Sasuke, mengingat kembali betapa dia terpesona olehnya.
'Kenapa mudah sekali kami berdampingan seperti ini setelah sekian lama?'
'Apa ini bukti bahwa pelariaku selama setahun ini sia-sia?'
'Pelarian ya.. jadi yang melarikan diri selama ini adalah aku?'
Pertanyaan-pertanyaan itu muncul di kepala Hinata. Tanpa sadar tangannya tergerak menyentuh rambut Sasuke yang basah. Sasuke yang merasakan sentuhan itu langsung membuka matanya.
"Ada apa?"
"H-huh? Tidak ada. R-rambutmu basah jadi aku.. aku berpikir kalau sebaiknya Sasuke pulang saja berganti pakaian." Tanpa Hinata sadari Sasuke mengetahui kegugupan yang dia rasakan.
'Dia tidak gugup saat aku menciumnya tadi.' Pikir Sasuke.
"Tidak mau. Aku ingin menghabiskan malam denganmu. Kau pikir sudah berapa lama aku tidak merasakan kebahagiaan ini? Ya meskipun ada yang mengganjal, selain karena Itachi yang sedang kritis dan ayahku yang tidak mengakuiku lagi."
"...Salahku. Ini salahku. Maafkan aku Sasuke. Mungkin sebaiknya kau meminta maaf dan-"
"Sekarang siapa yang tidak tegas, Hinata? Jangan mengatakan hal bodoh. Aku sudah siap melepas semua dan aku juga ingin kau melakukan hal yang sama."
"..."
"Itupun kalau kau masih mencintaiku."
"Aku mencintaimu!" Balas Hinata cepat tanpa sadar. Sasuke sedikit menyeringai namun hatinya sangat bahagia. Hinata sendiri segera mengatupkan mulutnya menyadari ucapannya barusan.
Sasuke mengangkat kepalanya, meluruskan duduknya lagi. Tangannya bersiap untuk menjalankan mobilnya lagi yang sempat terhenti karena dia tidak ingin berkendara dengan keadaan seperti tadi dan membahayakan Hinata.
"Kita mau kemana?"
"Apartemenku tadi."
"Apa? Aku harus pulang. Ini sudah tengah malam dan Neji-nii pasti akan marah besar."
Sasuke merogoh ponselnya lalu menyerahkannya pada Hinata.
"Kirimi dia pesan. Bilang kau akan bersamaku malam ini."
Hinata hendak protes tapi dia mengurungkan niatnya dan memilih untuk menerima ponsel itu, sedang dipikirannya dia mencoba mengingat-ingat nomor ponsel Sasori.
'Neji-nii, ini aku Hinata. Aku tidak pulang malam ini. Aku bersama Sasuke. Tidak usah khawatir.'
Hinata mengirimkan pesan itu dan mencoba untuk mengetik pesan yang lain.
"Sudah?"
"S-sebentar."
Jemari Hinata mengetik pesan itu dengan cepat dan langsung mengirimnya agar Sasuke tidak mencurigainya. Tak lupa dia juga menghapus pesan itu sesaat pesan itu sudah terkirim.
'Sasori-kun maaf, aku tidak bisa datang. Bisa kita bertemu di kafe yang pernah kita datangi? Besok jam 3 sore. Jangan dibalas. Hinata.'
Hinata menyerahkan kembali ponsel itu ke Sasuke. Pria itu mengecek kembali pesan apa yang dikirimkan Hinata ke Neji. Sedangkan Hinata sendiri memilih untuk memalingkan kepalanya menghadap jalanan.
'Tidak usah khawatir? Dia pasti bercanda. Aku yakin jika tidak ada istrinya, Neji pasti sudah menjemput Hinata sekarang. Ya, yang pasti dia tidak akan menemukan adik kesayangannya ini. Setidaknya, tidak malam ini.' Sasuke menatap lurus ke jalanan sambil bergumul dengan pikirannya, tanpa menyadari Hinata yang mencoba untuk menghindari tatapan matanya.
.
.
.
Pria bersurai merah itu menggosok-gosokkan tangannya, mencoba membuatnya hangat. Dia memang sedang kedinginan, tapi terlepas dari itu, dia hanya ingin menenangkan perasaannya. Dia juga tidak mengerti kenapa dia sekarang berada di depan butik tempat Hinata banyak menghabiskan waktunya. Kakinya langsung menuju ke butik setelah menerima pesan singkat dari Hinata beberapa waktu yang lalu.
"Sasori?"
Sasori menoleh ke arah sumber suara. Matanya menangkap sosok seorang wanita dengan gaun berwarna hitam di bawah lutut dengan rambut panjangnya yang tergerai, berjalan ke arahnya.
"Kau Sasori kan?" Sasori mengerutkan dahinya, mencoba mengingat wanita yang sudah ada di hadapannya itu.
"Apa aku mengenalmu?" dia menyerah.
"Mungkin iya jika Hinata bercerita. Aku Shion, teman Hinata yang bekerja di butik ini. Dan aku pernah melihatmu."
"Ah begitu.."
"Bukannya Hinata menceritakanmu tapi.. ya kau tahu. Wanita akan tahu siapa-siapa yang dekat dengan temannya. Kau tahu maksudku?"
Sasori tersenyum kecil lalu menganggukkan kepalanya.
"Sedang apa kau berdiri di sini?"
"Eee kebetulan lewat. Shion-san sendiri? Kenapa berjalan sendiri tengah malam?"
"Ada yang tertinggal di butik jadi aku ke sini untuk mengambilnya. Rumahku tidak jauh dari sini. Masuklah, wajahmu tambak membeku." Shion membuka butik itu. Sasori nampak ragu tapi akhirnya dia masuk juga ke dalam.
"Jadi... apa hubunganmu dengan Hinata?"
Shion datang membawa dua cangkir kopi dan langsung memberikan pertanyaan yang menohok bagi Sasori. Pria itu hanya berpikir bahwa wanita di depannya ini sungguh berani dan blak blakan tentang apa yang ada di pikiranya.
"Kami sempat dekat." jawaban yang cukup ambigu.
"Sampai sekarang?"
"Tidak tahu. Aku tidak ingin mengambil presepsi sepihak tentang hal ini."
Shion diam sejenak sambil menyeruput kopinya. Dia ingin tahu bagaimana Hinata dekat dengan Sasori saat Shion sendiri yakin wanita itu masih mencintai Sasuke. 'Pelampiasan kah?' Sempat terlintas namun pikiran itu langsung dibuang jauh-jauh oleh Shion karena dia tahu Hinata bukan orang yang seperti itu.
"...Yang aku tahu, hati Hinata masih milik Uchiha Sasuke."
"Kau tahu Sasori.. tadi Uchiha mengadakan sebuah pesta dan di pesta itu.."
"Aku tahu."
"Apa?"
"Aku tahu, karena aku sedang berada di sana saat itu, melihat bagaimana Sasuke membawa pergi Hinata."
Sasori menyeruput kopinya namun susah sekali baginya untuk menelan rasa pahit yang dihadirkan cairan pekat itu. Pikirannya kembali memutar kejadian yang menghempaskan harapannya seketika. Saat dia bilang dia berada di kamar Hinata, sebenarnya dia hanya ingin mengetahui ekspresi wanita itu. Dan tiba-tiba seseorang keluar berlari dari dalam gedung. Seseorang itu, Sasuke, datang mengubah segalanya. Tanpa mencoba untuk mengejar Hinata dan Sasuke, saat itu Sasori memilih untuk melepas keduanya. Hanya melihat dari kejauhan saat Sasuke berani maju dan membuktikan perkataannya yang dulu Sasori anggap hanya bualan semata. Ya, Sasori akan tahu apa yang akan dipikiran Hinata besok saat mereka bertemu. Meskipun dia sudah sangat tahu apa yang wanita kesayangannya itu akan katakan. Namun setidaknya dia ingin melihat wajah cantik itu—sekali lagi.
.
.
.
Keinginanku tak terbatas
Namun tidak dengan yang dapat aku raih
Termasuk dirimu dan segala pesonamu
Karena kau sendiri tengah berdiri di batas itu
Batas di mana aku tak bisa meraihmu
- Alila Clairene -
.
.
TO BE CONTINUED
.
.
UPDATE! Seperti yang dijanjikan -cepet- *mumpungadawaktu* lol
Semoga chapter ini menjawab pertanyaan dari berbagai keraguan atas kesungguhan Sasuke.
Apa sudah ada yang bisa menebak akhirnya bagaimana?
Well, keep following this fanfic :) It's already so close with the ending- Cz I don't wanna make it too long wkss
Give me some reviews if u wanna share ur minds about it. See you~ ^^
