Narutomilik Masashi Kishimoto, sayahanyasekedarmeminjamkarakternya.

Sasuke U x Sakura H x Sabaku No Gaara

Warning: Abal, Gaje, Pasaran, EYD berantakan.

Ini fic saya yang pertama n pertama kalinya saya bikin fic, sekedar menyalurkan hobby, mohon dimaklumi dan masukannya buat pemula seperti saya.

Sudut pandang berubah-ubah

Summary: Kami terjebak dalam sebuah lingkaran, kami tak mampu keluar dari lingkaran ini, kami menyadari ini semua salah, tapi kali ini saja, biarkan seperti ini, sebentar saja dan setelah ini kami akan kembali ke posisi kami masing-masing tapi untuk kali ini saja biarkan kami sedikit egois/Sudut Pandang Berubah-ubah

Kali Ini Saja

Ku buka pintu kamarku, setelah menghadiri acara pernikahan anak dari salah satu kolega bisnisku, aku langsung pulang ke Konoha dengan penerbangan pertama berharap sampai dirumah aku bisa memperbaiki hubunganku dengan Sakura.

Tapi begitu ku buka pintu apa yang kulihat bukan sesuatu yang menyenangkan, aku melihat Sakura sedang mengepak kopernya, perasaanku tidak tenang, ada ketakutan yang tiba-tiba melanda hatiku.

Ku hampiri dia

"Kau mau kemana Sakura?" Tanyaku dengan was-was

"Aku mau pulang ke Suna" Jawabnya tanpa menolehkan kepalanya ke arahku

"Bukankah kamu baru kemarin datang?" Kataku lagi

"Aku bukan datang kemarin Sasuke, apa kau lupa kalau aku sudah 3 hari 2 malam di sini?" jawabnya agak sinis.

Dia pun mulai beranjak dari kamar menuju pintu sambil membawa kopernya, tapi sebelum dia sempat mencapai pintu ku tarik tangannya.

"Tak bisakah kau tinggal beberapa hari lagi disini? Tanyaku berharap dia berubah pikiran

"Tidak bisa, bukankah ada atau tidaknya aku disini tidak merubah keadaan?"

"Jangan mulai lagi Sakura …"

"Aku tidak memulai, bukankah itu kenyataan!Sudahlah ... Aku pergi"

"Aku antar, tunggu sebentar aku ijin dulu dengan Kaasan, hari ini aku ti…"

"Tidak perlu Sasuke" Potongnya

"Aku bisa pergi sendiri, bukankah kau sibuk? Aku tidak mau membuang waktumu yang berharga hanya untuk mengantarku, lagi pula aku sudah terbiasa" Jelasnya dan pergi meninggalkanku di dalam kamar.

Sungguh aku merasa frustasi, aku tidak tahu mesti bagaimana lagi aku menghadapi hubungan kami yang seperti ini, aku takut kehilangan Sakura.

Lama ku berbaring, kilasan-kilasan kebersamaanku dengan Sakura terus terngiang, masa-masa indah yang ku lalui dengan wanita musim semiku, hingga aku tersentak.

Aku tidak boleh seperti ini, aku harus melakukan sesuatu, kalau perlu aku akan bersujud di kakinya memohon untuk kembali.

Aku pun bangun dari tempat tidur, berharap masih sempat mengejar Sakura. Ku sambar kunci mobilku, dan bersiap menyalakan mesin mobil hingga suara panggilan ponselku menghentikanku.

Kaasan Calling ...

Aku mengerang frustasi saat melihat siapa yang menelpon, sempat terpikirkan untuk mengabaikan panggilan dari kaasan tapi akhirnya ku angkat telepon dari Kaasan.

"Hm …" Kataku

"Sasuke, hari ini juga kamu harus berangkat kembali ke Jepang, pihak investor menginginkan pertemuan hari ini juga di Jepang" Jelas Kaasan

Aku menghela napasku dengan lelah, apa lagi ini

"Aku tidak bisa kaasan, aku ingin mengantar Sakura hari ini ke Suna, tidak bisakah kaasan saja yang pergi? Atau Itachi-nii?"

"Tentu saja tidak bisa, pihak investor meminta kamu yang harus datang, dan bagaimana bisa Itachi yang menggantikanmu kalau dia sendiri sedang mengurus anak perusahaan kita di Ame lagi pula Sakura kan bisa pulang sendiri, biasanya juga begitu kan"

Sungguh aku membenci keadaan seperti ini di saat aku harus memilih dan maaf Sakura untuk kesekian kalinya aku mengecewakanmu, tapi ku mohon tunggu aku sebentar lagi, aku akan datang.

Kali Ini Saja

Ku edarkan pandangan mataku kepenjuru sudut rumah sampai mataku terpaku melihat seorang wanita yang sedang duduk di depan tv, terlihat sekali dari wajahnya bahwa Ia sedang bosan, Sakura Haruno atau sekarang berganti nama menjadi Sakura Uchiha, dialah tujuanku tidak masuk kerja hari ini, wanita ini wanita yang akan selalu menempati posisi terpenting di hidupku walaupun untuk memilikinya itu hal yang mustahil karena Ia sudah dimiliki orang lain.

Ku pikir setelah Ia bersatu dengan orang yang dicintainya, aku bisa tenang tapi kenyataannya aku masih saja khawatir.

Aku masih diam terpaku memperhatikannya duduk di depan tv, menganti-ganti chanel, beberapa kali berganti-ganti posisi duduk, geli sendiri melihatnya, hiburan kecil hingga …

"Argggghhhht …. " teriaknya.

Aku tersentak mendengar teriaknya,

"Hei … apa kau ingin membuat tetangga mati dengan teriakanmu yang cempreng itu" Kataku

Dia menolehkan kepala kearahku, mendengus setelah tahu suara yang telah mengganggu kesenangannya.

"Gaara, kau sungguh mengganggu dan sejak kapan kau ada disini?" Tanyanya.

Ku langkahkan kakiku untuk menghampirinya sebelum menjawab pertanyaannya.

"Dari setengah jam yang lalu, apa kamu tidak bosan dirumah terus?"

"Tentu saja aku sangat-sangat bosan, aku bahkan merasa bakal mati kebosanan, untuk apa kau kemari?"

Aku tersenyum mendengar pernyataannya, walaupun sudah berstatus menikah tetap saja tingkahnya seperti anak kuliahan.

"Aku kesini karena aku mendapat bisikan bahwa ada seseorang yang sedang membutuhkan pertolonganku"

Dia mengeryitkan matanya.

"Oh ya?" Jawabnya sarkastik

Akupun mengeluarkan 2 lembar kertas, kulihat dia menaikkan alisnya tanda tak mengerti.

"Suna Land" kataku.

Matanya langsung melebar dan histeris.

"Taman hiburan? Huaaa sudah lama sekali aku tidak pernah kesana? Kira-kira sudah berapa lama ya?"

Aku hanya tersenyum melihat tingkahnya yang seperti anak kecil, Suna Land, salah satu tempat yang menyimpan banyak kenangan buatku, Sakura dan Sasuke, kenangan manis dan kenangan pahit buat kami, entah sejak kapan aku berada diantara mereka.

Kali Ini Saja

Taman hiburan atau biasa disebut Suna Land, disinilah aku dan Sakura berada, di dalam bianglala arena bermain yang terakhir karena hampir seluruh wahana sudah kami naiki.

Hari sudah semakin senja, ku rasa inilah waktunya …

"Sakura? Kau ingat dengan bukit yang disana?" Tunjukku kesuatu perbukitan di belakang Suna Land.

"Iya, aku ingat" Jawabnya.

"Apa kau mau kesana? Setelah turun dari bianglala ini?" Tawarku.

"Hn" jawabku

Bukit belakang Suna Land atau bukit dandelion aku menyebutnya, bukit yang ditumbuhi rumput dandelion (sebenarnya dandelion itu termasuk bunga atau rumput sich?), di bukit inilah awal dan akhir hubunganku dengan Sakura.

Awal, disinilah Sakura menerima cintaku dan kami resmi menjadi sepasang kekasih tapi disini pulalah akhir hubunganku dengannya, karena Sakura memutuskan untuk kembali kepada Sasuke, pria yang memang sampai saat ini masih dicintainya, walaupun ku tahu posisiku pun tak kalah penting dari Sasuke di hatinya.

Disinilah aku dan Sakura berada, di bukit dandelion duduk sambil memandangi hamparan rumput dandelion di senja hari, tak ada yang berbicara sampai aku mulai memecah keheningan.

"Sakura …"Panggilku.

"Hn" Jawabnya

"Minggu depan dia datang" ini bukan pertanyaan tapi pernyataan dariku.

Diapun menolehkan kepalanya ke arahku.

"Benarkah? Ternyata waktu begitu cepat berlalu, hah …" helanya dan kembali mengalihkan pandangannya ke hamparan dandelion.

"Ya, rasanya baru kemarin kita masih bersama"

"Hn" jawabnya lagi

"Sakura …" panggilku lagi sambil menyerahkan kartu berbentuk persegi kepadanya.

Dia terima kartu tersebut kemudian membukanya, aku terus memperhatikannya.

Setelah sekian menit diapun mengangkat kepalanya untuk menatap mataku, dia tersenyum dan akupun membalas senyumnya.

Tanpa terduga Ia menyandarkan kepalanya ke bahuku.

"Biarkan seperti ini saja" katanya.

"Sebentar saja, biarkan seperti ini, ku mohon, setelah ini aku akan kembali kedia dan kau kembali kedia, kita kembali kekehidupan kita masing-masing tapi untuk kali ini saja biarkan seperti ini" Katanya lagi.

Ya … Sakura benar, biarlah seperti ini, kali ini saja batinku.

Kali Ini Saja

Ku urungkan langkahku memasuki rumah saat melihat wanita yang menjadi tujuanku datang ke Suna, setelah pertemuanku dengan rekan bisnis di Jepang, memasuki mobil dengan pria yang sudah sangat kukenal.

Seketika hatiku teriris, sakit dan kecewa tapi aku sungguh tak mampu melakukan apa-apa karena semua memang berawal dariku.

Ku ikuti mobil tersebut yang ternyata berhenti di Suna Land, taman hiburan yang memang berada di Suna, semenjak aku mengenal Sakura aku tak pernah tahu kalau Sakura sangat menyukai tempat ini, aku baru tahu setelah aku pernah kehilangan dia, kenyataan menohokku karena ternyata justru pria lain yang bisa membuat Sakura tertawa lepas seperti sekarang ini.

Aku terus mengikuti mereka dari satu arena permainan ke arena permainan yang lain, hingga mereka berdua turun dari bianglala dan berjalan menuju belakang Suna Land tepatnya sebuah bukit yang terhampar bunga dandelion.

Tempat ini, tempat yang menjadi saksi bisu diawalinya hubungan Sakura dan Gaara tapi tempat ini juga dimulainya kembali hubunganku dengan Sakura.

Entah apa yang mereka bicarakan, aku yang berada tak jauh dari mereka tetap tak mampu mendengar dan jauh dari lubuk hatiku yang paling dalam aku tak ingin mendengarkan apa yang mereka bicarakan.

Aku hanya mampu menerka-nerka, ku lihat Sakura menyandarkan kepalanya kebahu Gaara, cukup … sudah cukup, aku tak mampu melihat lebih jauh lagi, bukan tak mampu tapi aku tak ingin.

Ku langkahkan kakiku meninggalkan mereka di bukit dandelion.

"Aku akan menunggumu Sakura, menunggu sampai kau melepaskan dia dan kembali kepadaku seutuhnya seperti dulu, saat hanya ada aku di hatimu, tapi bukan berarti aku akan diam saja" Bathinku dan melajukan mobilku kembali ke Konoha.

Semua berawal dariku, maka akan kembali kepadaku.

Kali Ini Saja

"Kami terjebak dalam sebuah lingkaran, kami tak mampu keluar dari lingkaran ini, kami menyadari ini semua salah, tapi kali ini saja, biarkan seperti ini, sebentar saja dan setelah ini kami akan kembali ke posisi kami masing-masing tapi untuk kali ini saja biarkan kami sedikit egois" Bathin kami bertiga (Sasuke, Sakura dan Gaara).

FIN

Pikiranmu menentukan apa yang kamu rasakan, dan itu mempengaruhi keputusanmu yang juga akan menentukan hidupmu.

Satu dari saat yang menyakitkan dalam hidup datang ketika kita harus mengakui bahwa kita tidak melakukan pekerjaan rumah, yaitu kita tidak mempersiapkan diri.

Huaaa … Berakhir dengan gajenya, gomen kalau endingnya tidak memuaskan para reader, akhir-akhir ini saya terserang virus WB, selain itu saya sedang fokus dengan fic ku yang lain "Shadow", fic yang lain mungkin akan saya tunda dulu :D.

Trims buat para reader yang mau menyempatkan diri membaca dan meninggalkan jejak di kotak review fic gaje ini, sekali lagi maaf endingnya kurang memuaskan tapi jujur saja saya merasa lega sudah menyelesaikan fic ini.

Epilog

Akupun bangkit dari dudukku setelah sekian lama menyandarkan kepalaku di bahu Gaara.

"Gaara … " Panggilku tanpa menolehkan kepalaku ke arahnya, walaupun aku sedang membelakanginya aku tahu dia mendengarku.

"Ku rasa sekaranglah saatnya" Kataku dan menolehkan kepalaku ke arahnya sebelum melanjutkan ucapanku.

Kulihat dia mendongakkan kepalanya untuk memandangku.

"Kita akhiri sampai di sini" Lanjutku.

"Hm … " Jawabnya sambil menganggukkan kepalanya.

Akupun pergi meninggalkan Gaara yang masih memandangi hamparan dandelion, kembali kubuka kartu yang Gaara berikan.

Weeding Party

Sabaku No Gaara

And

Matsuri

Jika berkenan mohon tinggalkan jejak di kotak review ^^