Disclaimer © GUNDAM SEED / DESTINY by Sunrise

Warning: Typoo, OOC, kalimat ambigu, AU, AsuCaga x ShinnCaga, dont like dont read

SOUL

.

.

By. PandamwuChan

Chapter 8

Tuk...tuk...

"Kakak." Mayu mengepal tangannya dengan kuat saat ia mengetuk pintu kamar Shinn. Gadis ini sepertinya masih berusaha untuk mendapatkan perhatian dari kakak tercintanya, meskipun ia tahu segalanya tak akan berjalan sesuai harapannya. Ia lalu mundur selangkah ketika kenop pintu kamar Shinn berputar. Inilah saat-saat terberat bagi Mayu. Bertatap wajah dengan Shinn mungkin akan membuatnya kembali bersedih. Selalu ada ketegangan dan rasa kecewa dalam dirinya.

"Mayu."

Raut wajah Mayu agak menegang begitu mendengar suara Shinn. Semakin ia tundukkan kepalanya menatap lantai. Kedua tangannya dikepal erat. "Ka—"

Matanya melebar, dan segera diangkatnya wajahnya ke atas saat ia merasakan sentuhan lembut di puncak kepalanya. Air matanya kembali menetes. Entah apa yang terjadi, tapi melihat pemandangan di hadapannya saat ini membuat hati kecil Mayu yang rapuh kembali utuh secara perlahan. Jika biasanya ia menangis dengan isakan dan raungan yang mengiris hati, tapi tidak kali ini. Ada senyuman dibalik air matanya.

"Kenapa baru sekarang?" suara Mayu terdengar bergetar karena ia menahan dirinya untuk tidak menangis pada pagi ini. "Kakak tahu, bila aku merindukan hal seperti ini."

Athrun tersenyum dan menggerakkan tangannya, mengacak-acak rambut Mayu. "Maafkan aku, atas semua tingkahku padamu akhir-akhir ini."

Suara tawa bercampur tangis pun terdengar, "Syukurlah. Kau kembali, kakak."

Di ujung lorong, Nyonya Asuka tersenyum manis. Tangan kanannya tergerak untuk menyeka air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Ia yakin saat-saat bahagia akan menghampiri kedua anaknya. Melihat interaksi Shinn dan Mayu pagi ini membuat dadanya bergemuruh bahagia. "Syukurlah, kau sudah kembali seperti sedia kala, Shinn."

SOUL

Athrun menoleh ke samping begitu ia mendengar tawa Luna. Saat ini mereka berdua sedang dalam perjalanan menuju ke sekolah. Entah ada angin apa, secara mendadak gadis magenta ini muncul di depan rumahnya dan mengajaknya untuk pergi bersama menuju sekolah. Tapi, Athrun memang sedang membutuhkan Luna. Karena hanya Luna yang mempercayai kejadian aneh yang menimpanya, untuk saat ini.

"Aku tak menyangka kau akan bertindak seperti itu. Tapi aku suka. Setidaknya Mayu bisa merasakan kasih sayang Shinn."

Athrun menghela napas dan menggaruk belakang kepalanya, "Kau tahu, aku tak pernah punya adik. Aku anak tunggal. Awalnya aku rasa akan sulit. Mendengar Mayu mengetuk pintu kamar, dan aku harus berakting layaknya seorang kakak, itu... aneh."

Luna terkekeh. Ia tak menyangka Athrun tipikal orang yang tak percaya diri. Luna kemudian menyikut pelan lengan Shinn. "Kau harus bersikap baik pada keluargamu. Setelah itu kita pikirkan cara agar kau bisa kembali ke tubuhmu."

"Caranya?"

Luna terdiam, ditatapnya punggung Athrun yang berada beberapa langkah di depannya. Senyum simpul nampak menghiasi wajahnya, meski Athrun sadar itu bukanlah senyum kebahagiaan. "Satu-satunya cara untuk mengembalikanmu adalah Shinn. Aku tak menyangka bila ini merupakan permohonannya. Aku minta maaf padamu bila selama ini Shinn menyukai kekasihmu. Dan kini mereka bersatu."

"Kau," Athrun membalikkan tubuhnya dan berjalan ke arah Luna, "mencintai Shinn, kan?" bersamaan dengan itu ia tepuk pelan kepala Luna.

Ada genangan air mata saat Luna menatap wajah Athrun. Ia tinju dengan pelan bahu Athrun. Sambil tertawa pelan, "Jangan tersenyum seperti itu saat berada di tubuhnya, bodoh." Gadis itu kemudian melanjutkan perjalanannya, meninggalkan Athrun di belakang.

Aku tak mengerti mengapa kau begitu mencintai cinta yang lain, sedangkan ada cinta tulus yang berada di dekatmu selama ini... Shinn.

.

.

.

Cagalli spontan meng-aduh ketika ia menabrak punggung Shinn yang berhenti berjalan secara tiba-tiba di depannya.

"Luna."

Alisnya berkedut mendengar kekasihnya menyebut nama gadis lain. "Luna?"

Athrun tersentak. Ia menoleh ke arah Cagalli yang sudah menatapnya dengan tatapan bingung. Hh, tak tahu mengapa seketika ia teringat pada sahabat kecilnya, Lunamaria. Dan ingatan itu membuatnya tak sengaja menggumamkan nama gadis itu.

"Kau menyebut nama Luna. Lunamaria Hawke?"

Shinn tertawa dipaksakan. Ada aura yang tak enak dari Cagalli. Apakah seperti ini rasanya dicemburui oleh kekasih? "Ahaha, apa? Aku tidak berkata seperti itu. Dan apa maksudmu dengan Lunamaria? Kau mengenalnya?"

Cagalli memalingkan wajahnya dengan raut sebal. Ia lalu kembali berjalan, dan saat melewati Athrun ia ayunkan punggung tangannya ke kepala Athrun. "Jangan berlagak bodoh."

Shinn tertawa pelan dan mengejar Cagalli yang berada beberapa langkah di depannya. "Hei, jangan marah seperti itu. Ini masih pagi, dan kau terlihat jelek saat cemburu." Ditarik-tariknya lengan baju Cagalli, memohon gadis pujaannya tak marah hanya karena ia menyebut nama gadis lain.

"Jangan dekati aku. Hari ini kau harus menjaga jarak dua meter dariku!"

"Oh ayolah, Cagalli. Kau marah hanya karena hal sepele ini?"

"Aku tidak terima perselingkuhan."

"Aku tidak selingkuh."

"Lalu mengapa kau menyebut nama gadis lain? Tidak biasanya kau seperti ini."

"Aku hanya... hanya..."

"Hanya apa?"

Perdebatan dua sejoli ini terhenti saat mereka tiba di depan gerbang sekolah. Di sana terdapat Shinn dan Luna yang juga baru sampai. Keduanya sama-sama terdiam melihat Cagalli dan Athrun.

Cagalli menghembuskan napasnya dengan cepat. "Itu gadismu. Kau boleh menemuinya."

.

.

Raut wajah Athrun mengeras begitu ia melihat Cagalli dan Shinn. Tak bisa dipungkiri bila hatinya terasa panas dan ngilu, terlebih saat ia melihat Shinn yang berusaha mengejar dan menggapai Cagalli yang meninggalkannya masuk ke dalam sekolah.

"Apa kau melihatnya?"

"Apa?" jawab Athrun sekenanya saat Luna bertanya. Tatapan matanya masih tertuju pada dua sosok yang berada jauh di sana. Apakah sebahagia itu berada di sisi Cagalli?

"Mereka sepertinya bertengkar."

Untuk beberapa detik Athrun jatuh dalam lamunan. Matanya melirik ke bawah sejenak. Kemudian ia berjalan memasuki gerbang dengan diikuti oleh Luna di sampingnya. "Itu hal biasa. Aku dan Cagalli sudah biasa terlibat dalam pertengkaran kecil seperti itu."

"Jangan dilanjutkan. Kata-katamu seakan mengakui bahwa Shinn adalah dirimu. Dan hubungan mereka saat ini adalah hubunganmu. Jangan menyiksa diri sendiri."

"Luna," panggil Athrun yang tak mendapat respon. Namun ia yakin bila Luna menaruh perhatian pada panggilannya. "Aku tak menyangka kau sangat pintar."

"Apa-apaan itu? Kau itu sedang sedih atau apa? Jangan melawak di pagi hari."

Dan keduanya kembali berinteraksi seperti biasa.

.

.

.

Sorot mata Lacus meneduh begitu melihat Shinn dan Luna yang baru saja memasuki gedung sekolah. Sungguh hari yang tidak menyenangkan baginya. Masih pagi dan ia harus melihat sosok yang tak ingin ia lihat untuk beberapa hari ini. Ia tersenyum sedih saat mengingat kejadian yang ia lihat saat itu. Sebuah kejadian yang bahkan ia sendiri tak mampu untuk mempercayainya. Memikirkannya saja sudah membuat dadanya sesak.

"Aku tidak tahu bila kau berganti profesi menjadi patung sekolah."

Seluruh perhatiannya teralihkan pada Kira yang sudah berada di sampingnya. Sepertinya pemuda ini juga baru tiba di sekolah.

"A—"

"Jika itu tentang Luna. Aku rasa kau salah paham. Jangan menatapi Luna dengan wajah seperti itu. Hanya akan membuat hatimu sedih." Kira sadar bahwa apa yang ia ucapkan terdengar begitu bodoh, bahkan memancing sebuah perkelahian antara dirinya dan Lacus. Tapi ia tak peduli. Sesakit apapun perasaan Lacus terhadapnya dan Luna, itu adalah kesalah pahaman.

"Jangan berkata sesuatu dengan begitu mudahnya setelah apa yang kau lakukan padaku."

Kira hanya bisa tersenyum melihat Lacus yang bergerak menjauhinya. Selalu seperti ini. apa tidak ada cara agar mereka kembali utuh sedia kala? Kira bahkan tak yakin akan hubungan mereka berdua. Berakhir atau tidak, Lacus tidak pernah menegaskannya.

Sampai saat ini... cinta masih menolak untuk bahagia dalam artian yang sebenarnya.

SOUL

"Dengar, aku tak mau tahu. Tapi kau harus datang ke ruang OSIS hari ini!" Luna mengacak pinggang. Sudah berapa kali ia ingatkan Athrun untuk pergi ke ruang OSIS. Saat tiba di kelas, saat pelajaran berlangsung, dan saat waktu istirahat ini.

Athrun memalingkan wajahnya. Jujur saja, ia bosan mendengar ocehan Luna, terlebih tentang dirinya yang harus pergi ke ruang OSIS. Athrun sadar bila Shinn adalah seorang wakil ketua OSIS. Tapi bukan itu yng ia permasalahkan. Ia mempermasalahkan sosok yang akan ia temui bila pergi ke sana. "Aku ingin langsung pulang ke rumah. Jadi aku tak akan pergi ke sana."

Jidat Luna spontan mengkerut. "Aku tahu kau tak ingin bertemu dengan Kira. Semalam kau bertengkar dengannya kan? Aku mendengarnya."

"Ho, baguslah bila kau mendengarnya. Jadi kau tak perlu memaksaku untuk pergi ke sana."

Brak!

Athrun terkejut mendengar Luna menggebrak mejanya. Ia meneguk liurnya, sepertinya gadis ini tidak main-main. Sorot matanya seakan berkata bila ia akan membunuh dan membuang mayatnya ke rawa-rawa yang tak tahu dimana letaknya. Lima detik ia menghindari tatapan maut Luna sebelum akhirnya ia mengangguk. "Baiklah, aku pergi ke sana. Setidaknya kau juga harus ikut denganku."

"Tentu saja! Aku sekretaris OSIS. Jadi aku juga harus pergi ke sana."

"Oh, berbicara mengenai Kira. Apa lelaki itu tidak pernah masuk ke kelas? Aku jarang sekali melihatnya belajar di kelas. Dia berada di kelas ini kan?" tidak tahu mengapa, baru saja Athrun menyadari jikalau Kira jarang terlihat di kelas. Padahal mereka sekelas untuk saat ini.

Luna menggelengkan kepala dan terkekeh pelan. "Ketua selalu belajar di kelas. Mana mungkin siswa teladan dan berprestasi sepertinya bolos. Kira tidak ikut belajar di kelas bila ada hal penting yang ia urus berkaitan dengan sekolah."

Alis Athrun terangkat sebelah. "Benarkah? Kenapa aku tak pernah melihatnya. Dan pagi ini pun dia tak ada."

"Hh, Kira memang tidak ikut belajar pagi ini. Ia harus menghadap Kepala Sekolah. Dan mengenai kau yang tidak pernah melihatnya." Luna menunjuk bangku yang berada di pojok paling depan, dekat pintu masuk kelas. "Kira duduk di sana. Dan kau duduk di bangku paling belakang, berlawanan dengan arah bangku Kira. Mungkin itu penyebabnya."

"Oh, begitu. Pantas saja aku tak pernah melihatnya."

.

.

.

"Hachii..."

"Kau sakit?" tanya Sai pada Kira yang bersin dan kembali terlihat sibuk membaca proposal yang dibuat oleh Luna.

Kira mengalihkan pandangannya sejenak, dan terkekeh. "Aku merasa ada yang membicarakan aku."

Sai pun angkat bahu. "Ngomong-ngomong, Kira. Apa hasil yang kau dapat dari Kepala Sekolah?"

Kira menyilangkan kedua tangannya di atas perut, kemudian disentuhnya dagunya, berlagak seperti orang yang sedang berpikir. "Kau benar. Sepertinya kita harus rapat saat jam pelajaran terakhir. Ini penting! Perjalanan wisata kita dipercepat menjadi minggu depan. Sebaiknya kita bersiap."

"Ya Tuhan, mengapa harus dipercepat? Aku tidak siap, haha. Oh ya," Sai melirik jam tangannya. "Aku ada janji dengan Flay sebelum waktu istirahat usai. Aku pergi dulu."

Kira menghembuskan napasnya dengan wajah yang cemberut. Ia punya bendahara yang gila pacaran! "Kau tahu, apa kau tak bosan bertemu Flay setiap hari? Aku kadang bingung, kau bahkan rela membolos demi kencan dengannya. Apa kau tak pernah meluangkan waktu lain untuknya?"

Sai yang membereskan barangnya menatap Kira dengan pandangan yang sulit diartikan. Ia lalu berjalan menuju pintu, sebelum ia benar-benar keluar dari ruangan itu, "Kira, selera humormu jelek saat kau galau." Sosok Sai pun hilang dari hadapan Kira.

Kira mendecak dan memijit pelipisnya. Ia lalu menatap ke arah jendela. Awan putih itu terlihat begitu tenang di langit. Tanpa ia sadari, dirinya menjadi uring-uringan sendiri. "Bodoh..."

"Aku tidak sedang galau ataupun melucu."

SOUL

"Aku menyayangimu, Athrun~"

Shinn merasa begitu konyol dan geli sendiri, saat Dearka memeluknya erat. Teman yang bodoh. Hanya karena ia meminta maaf atas perilaku dan kata-katanya kemarin, sudah membuat Dearka menjadi kegirangan. Berbeda dari Dearka, Yzak terlihat lebih cool meski Shinn tahu kalau Yzak juga sama girangnya dengan Dearka.

"Kau berlebihan, Dearka."

Cagalli tertawa pelan melihat keakraban Athrun, Dearka, dan Yzak. Senang melihat canda tawa mereka. Tidak seperti kemarin, penuh ketegangan. "Ath—" ucapan Cagalli terpotong saat ia merasakan ponselnya bergetar.

"Halo." Sapanya.

"Temui aku di atap sekolah seusai waktu istirahat."

Piip

"..." Cagalli mendadak bisu dengan telpon dari seseorang yang tidak ia ketahui. Sorot matanya menyipit. Ini bukan nomor kontak yang ia kenal. Dari mana orang itu mendapatkan nomor ponselnya?

Mata Cagalli lalu terbuka lebar, sepertinya ia tahu. Ia pernah mendengar suara orang itu sebelumnya. Tatapannya beralih pada Athrun yang masih bersenda gurau dengan Dearka dan Yzak. Ia ragu, apakah harus menuruti permintaan orang itu. Sedangkan ia tahu Athrun tidak menyukai orang itu. Tapi sungguh, Cagalli sangat penasaran. Semenjak ia dipeluk oleh orang itu. Cagalli tak pernah sedikitpun berhenti memikirkannya. Ada sesuatu yang ia rindukan dari pelukan hangat itu.

'Haumea, apa yang harus kulakukan? Apa aku harus menemuinya? Menemui Shinn Asuka.'

.

.

.

"Ssst, Cagalli."

Cagalli terkesiap begitu Athrun memanggil namanya. Ia lalu menoleh pada kekasihnya tersebut. "Ada apa?" tanyanya pelan, karena mereka berada di tengah pelajaran.

"Kau sakit? Sejak istirahat usai kau kebanyakan diam."

Cagalli tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Athrun. "Aku baik-baik saja."

Shinn tahu bahwa ada yang disembunyikan oleh Cagalli. Ia merasakannya dari sikap Cagalli yang agak berbeda. Ingin ia bertanya pada gadis itu lebih lanjut. Tetapi, Cagalli seketika mengangkat tangannya dan meminta izin pada guru Mu yang sedang mengajar di dalam kelas.

"Ada apa, Cagalli?"

Cagalli menggigit bibir bawahnya sejenak, "Saya ingin pergi ke toilet. Saya, permisi."

Mata merah darah itu menangkap sesuatu yang berbeda dari gelagat Cagalli. Terlebih ketika melihat gadisnya keluar kelas sembari menggenggam ponselnya yang berada di saku blazer sekolah.

"Apa yang sedang kau lakukan, Cagalli?" gumam Shinn seorang diri.

.

.

.

Kira hanya bisa menatap Luna dengan bingung, ketika Luna tiba-tiba muncul di pintu ruang OSIS. Gadis itu terlihat ngos-ngosan. Apa dia sedang maraton di lorong sekolah? "Luna, rapatnya belum dimulai. Kembalilah ke kel—"

"Dimana si bodoh itu?" napas Luna semakin ngos-ngosan. Dan Kira tak mengerti dengannya.

"Si bodoh? Shinn?" Kira menyambut Luna masuk ke dalam. Lihatlah gadis ini, jalannya saja sudah sempoyongan. "Ada apa?"

"Hh, hh... dia menipuku!" kesal Luna.

"Menipu?"

Spontan mata Luna terbelalak. Sekejap ia tutup mulutnya. Hal ini menimbulkan curiga pada diri Kira. "Luna."

Gadi itu menepuk keras jidatnya. Harusnya ia sadari, ia tak perlu mencari Athrun di ruang OSIS. Athrun sudah pasti tak akan kemari.

"Apa yang kau sembunyikan dariku?"

SOUL

Lacus berjalan dengan langkah yang gontai. Seusai keluar dari toilet membuatnya terjebak dalam masalah. Saat ini ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia serasa sudah gila. Ia bisa saja sedang berimajinasi atau apapun itu. Mendengar sebuah percakapan membuat tenggorokkannya tercekat, dan ia seakan sulit bernapas. Cukup baginya. Ia tak ingin mendengar hal mustahil apa pun lagi.

"Aku harus menemui Kira."

Langkahnya mendadak berhenti. Mata indahnya membulat. Sungguh ia tak ingin terjebak dalam masalah ini. Ini tidak ada kaitan dengan dirinya.

"Bisa kita bicara sebentar, Lacus."

Bola mata indah itu pun mengeluarkan cairan bening.

TBC

Maaf telat updet. Panda sedang sibuk mengerjakan laporan penelitian. Ini pun baru ada waktu untuk melanjutkan fic panda :')

Semoga kalian masih menantikannya. Apakah ada yang memahami konflik dan jalan ceritanya? Chapter ini dikurangi dulu tegang dan seriusnya haha. Sekali-sekali buat Athrun bahagia, meskipun ujung-ujungnya kembali menderita haha...

Sekian dulu. Silahkan keluarkan uneg-unegnya di kotak review...

Kritik dan saran panda terima