CLAIMED

By

Ellden-K

Prev : Astaga, jangan Taehyung. Jangan jatuh cinta kepada Jeon Jungkook!

Ia menjerit didalam hati, kemudian berbalik tertelungkup dan tidur.

Bab 07 - Daddy!

Taehyung menggeliat diatas ranjang ketika ia merasakan cahaya matahari menusuk-nusuk matanya, memaksa ia untuk terjaga dan bangkit dari kasur. Ketika ia melirik jam beker diatas nakas waktu menunjukan pukul delapan pagi, hell- berapa jam dia tertidur?

Bahkan semalam Taehyung tidak pulang larut, Jungkook sangat mengerti dengan keadaannya. Pria itu seperti sangat tahu apa yang Taehyung butuhkan, padahal baru satu hari ia mengenalnya, tapi mereka sudah hampir bercinta berkali-kali. Sialan, ingatan yang satu itu menyentak Taehyung.

Tapi kemarin Jungkook menolaknya, dan ada apa? Ia berubah pikiran setelah menyuruh Taehyung bertelanjang bulat dibalik selimut miliknya, lalu pergi begitu saja dan tidur dikamar lain. Seperti ada hal yang mengganjal, namun ia tidak tahu apa itu.

Setelah beberapa saat, Taehyung bangkit dari ranjang dengan kepala yang masih memikirkan kemelut itu dan berjalan menuju kamar mandi dengan tubuh bertelanjang bulat. Sedikit banyak berharap Jungkook akan tiba-tiba datang -lagi- saat ia tak berbusana seperti kemarin. Namun sampai ia berada dibawah guyuran shower, Jungkook sama sekali tidak datang, meskipun hanya sekedar untuk mengagetkannya.

Taehyung kembali terduduk dimeja makan sendirian, ditemani dengan panekuk hangat yang Yugyeom buat. Lelaki itu selalu tampak sibuk dipagi hari, sampai Taehyung kesulitan mencari waktu yang tepat untuk bertanya dimana Jungkook berada sekarang. Kemarin, ia selalu ada dirumah, tetapi kini orang itu tak menampakan diri dimanapun Taehyung mencari.

Seteguk susu cokelat mengalir mulus lewat tenggorokannya, Taehyung cukup was-was dan bersiap-siap agar Jungkook tidak datang lalu mengejutkannya, tetapi setelah cairan coklat itu habis aura Jungkook sungguh tak terasa sama sekali.

Kemana pria itu, sebenarnya apa yang salah?

"Anda mencari tuan Jeon, tuan?" Tanya Yugyeom setelah menaruh air putih disamping Taehyung, bocah itu nampak sumringah. Akhirnya setelah kesibukan tanpa celah, Yugyeom bertanya sendiri kepada Taehyung.

Bocah itu mengangguk, memandang sang pelayan dengan tatapan penuh harap. Melihat itu, Yugyeom hanya tersenyum.

"Tuan pergi ke kantor jam tujuh pagi tadi. Rutinitas kerja."

Taehyung merengut, "Aku kira dia bekerja dirumah?"

"Itu hanya untuk akhir pekan saja, tuan."

"Kapan dia pulang?"

"Tergantung." Ungkap Yugyeom, "Jika sedang tidak sibuk beliau akan kembali pukul lima sore nanti."

Pria jangkung itu menunduk sekilas, lalu bergegas membereskan piring kotor diatas meja dan membawanya ke dapur.

Jam lima sore, baiklah.

Taehyung meringkuk dikamar Jungkook, meresapi setiap hirupan udara yang membawa aroma dominan dari Jungkook. Bahkan tubuh lelaki itu mengklaim tempat tidurnya sendiri setelah Taehyung menyabotase kamar Jungkook untuknya bergelung semalaman.

Hingga tanpa sadar ia kembali terlelap seperti beruang pemalas diatas kasur empuk Jungkook, memeluk lipatan selimut yang ia gulung didepan wajahnya. Meringkuk seperti bayi dan mendengus ketika seseorang terasa mengelus belakang kepalanya.

Kemudian sebuah permukaan lembut nan kenyal mengecupi wajah mungil Taehyung, saat si kecil menggeliat dan meregangkan tubuhnya dengan kedua tangan menjulur keatas kepala, Jungkook menyambar bibir minimalis namun tebal itu sambil membungkukkan badan.

Taehyung yang sudah setengah sadar akhirnya mendesah kecil, lalu kedua tangannya mengalung dileher tegas Jungkook. Mulut amatirnya membalas setiap lumatan dan gigitan lembut Jungkook pada bibirnya, pria itu mengulum bibir merah berry alami Taehyung penuh keinginan yang mendamba.

Merasa Taehyung telah membalas perbuatannya, Jungkook segera melepas pagutan mereka sambil mengendusi leher Taehyung.

"Bangunlah pemalas, kau tidur terlalu lama. Itu tidak sehat."

Taehyung mengernyit dengan matanya yang masih tertutup lalu kembali meregangkan tubuh sambil mengerucutkan bibir. Ia mengusap kelopak matanya kemudian bergumam.

"Hai tuan... Aku Ngantuk.."

Jungkook mendengus geli, namun ia sama sekali tidak tersenyum.

Pria itu segera melepaskan sepatu, lalu berangsur sepenuhnya naik keatas ranjang, dengan jas yang sudah ia tinggalkan diatas sofa kini Jungkook hanya mengenakan setelan kemeja dan celana panjangnya saja. Ia terlihat santai dan nyaman.

Perlahan-lahan Jungkook mulai memisahkan kedua paha Taehyung agar terbuka untuknya, bocah itu hanya mengenakan celana pendek diatas lutut yang mudah dilepas. Ya, jangan ragukan tangan-tangan terampil milik Jungkook, ok.

Kini pria yang lebih besar menempatkan dirinya diantara paha Taehyung, menatap bocah kecil yang hendak kembali tertidur itu dengan seksama.

Jungkook menyingkap kaos tipis Taehyung hingga dada kecil yang rata terpampang bersama dengan puting mungil berwarna cokelat kemerahan. Bagian terkecil yang benar-benar menggoda ereksi Jungkook untuk segera mengeras, ia menunduk untuk mendapatkannya, dan setelah berhasil meraup puting itu dengan hisapan sensual, Taehyung pun mendesah lesu diantara ambang kesadaran.

"Ayo bangun..."

Jungkook sengaja membiarkan suaranya terdengar dalam, serak dan sarat akan gairah untuk Taehyung. Namun nampaknya bocah kecil itu mengantuk berat untuk alasan yang tidak jelas.

Baiklah, saatnya membangunkan bayi pemalas yang suka tidur.

Jungkook mulai bergumam ketika ia mengangkat tubuh Taehyung untuk meloloskan kaos yang bocah tersebut kenakan. Setelah setengah telanjang, Taehyung malah semakin menggeliat malas dan berniat meraih gulungan selimut tebal nan hangat disampingnya.

Jungkook membiarkan itu, kemudian ia sedikit membenahi posisi dan menarik celana serta celana dalam Taehyung. Hanya sebatas paha, dan Jungkook menempatkan kedua kaki Taehyung dimasing-masing bahunya.

"Kau tahu Taehyung sayang?" Kata Jungkook, terdengar suara ritsleting yang dibuka dan Taehyung masih tetap menutup matanya. "Mari kita gunakan nama panggilan lain."

Desahan pun kembali terdengar ketika Jungkook menggesekkan kejantanan tebalnya pada pantat Taehyung. Benda keras itu masih terhalang celana dalam berwarna hitam yang Jungkook kenakan, karena ia sengaja ingin menggoda bayi kecilnya dulu.

Taehyung mulai menggeliat dan mengedipkan matanya, sensasi dingin yang menjilati bagian tubuh telanjang akibat perbuatan Jungkook membuat Taehyung bergidik. Juga, gesekan benda keras yang berdenyut panas dipantatnya tiba-tiba menyeret Taehyung menuju alam nyata.

"Taehyung, baby... Kau masih tidak mau bangun?" Dorong. Gesek. Dorong. Dorong. Gesek.

"A-ahhh, tuan-hhh..." Taehyung terlonjak kaget, tiba-tiba tubuhnya menegang, sensasi kesemutan mulai menyapa perut dan tulang punggungnya. Gelenyar nikmat yang menggerayang dan terasa geli namun menyenangkan dapat ia rasakan sekaligus.

Astaga, ia benar-benar sadar sekarang.

"Panggil aku daddy, sayang..."

"A-ahhh?" Taehyung mengernyit sambil mendesah, ia meremas sprei kelam disamping tubuhnya.

Melihat itu, Jungkook menyeringai lalu melepaskan celana dan celana dalam yang masih tersendat dipaha Taehyung. Menyisakannya tanpa sehelai benang pun.

Kedua kakinya diturunkan dari bahu Jungkook, dan terbuka lebih lebar ketika pinggul sang dominan semakin menekan selangkangan Taehyung.

"Call me daddy," dengus Jungkook dalam kegiatannya membaui leher Taehyung, ia memilin puting bocah itu dengan kedua tangan, hingga erangan erotis benar-benar mewarnai persenggamaan ini. "Katakan sayang..."

Taehyung tidak dapat berkata-kata ditengah kegiatan Jungkook menggesek tubuh mereka sambil memilin puting dan melumat lehernya. Namun ditengah tarikan nafas panjang, Taehyung pun memanggilnya.

"D-daddy-hhh ahhh..."

"Yah, good boy..."

Jungkook menegakkan tubuhnya, ia menatap pipi merona Taehyung sambil menyeringai. Bocah ini benar-benar penuh dosa, perutnya bahkan mulai licin oleh precum yang menetes dan Jungkook tiba-tiba merasa haus setelah melihat pemandangan benda kecil yang menegang itu.

"Memohonlah dengan apa yang kau inginkan, daddy akan memberikannya setelah itu dipertimbangkan." Tangan lebar itu meraih kejantanan Taehyung dan mulai mengocoknya dengan gerakan lamban. Pria kecil pun mengerang, ia menggeliat dan mendesah.

"D-daddyhhh anghhh.." Taehyung menatap Jungkook dengan wajah merona, ia menggigit bibir. Sialan kau, cepatlah lakukan permintaan!

"Aku... Aku ingin daddy.. Berikan aku semuanya- Ahh!" Punggungnya melengkung saat Jungkook membungkuk dan meraup habis seluruh batang kemaluan Taehyung. Bocah itu terpaksa meremas surai lembut Jungkook, kepala tampan itu naik turun mengoral selangkangannya -dan Taehyung semakin kehabisan nafas akibat hal tersebut.

Jungkook tersenyum dalam kulumannya, ia menelusupkan dua jari sekaligus kedalam lubang sempit Taehyung perlahan-lahan, memberikan sensasi sentakan kecil pada tulang punggung nya.

Ia melepaskan hisapan pada selangkangan sempit itu lalu menyeringai sambil bersitatap dengan bocah mungil dibawahnya.

"Permintaan dikabulkan." Kata Jungkook, "dan teruslah mendesah."

"Akhh! Daddy!"

Jungkook memiliki seorang sekretaris cantik bernama Jeonghan, ia melakukan pekerjaan dengan sangat baik. Selalu bersikap profesional dan tertarik kepada atasannya. Jungkook tidak mengetahuinya karena Jeonghan tidak pernah melakukan pendekatan secara terang-terangan.

Kini, Jeonghan tengah melakukan pekerjaannya dirumah, memeriksa beberapa jadwal milik Jungkook dan berniat tidur lebih awal. Namun suara ponselnya berdering dengan begitu mengganggu.

"Halo?"

"Hey dimana atasanmu?!"

Belum sempat Jeonghan menyebutkan namanya, ia sudah diserang dengan teriakan penuh emosi dari salah satu 'mantan' mitra bisnis perusahaannya. Ia mengenal suara ini, Kim Mingyu adalah seorang pribadi yang kasar, ya seperti biasa.

Mengapa Mingyu malah menelpon ke ponselnya? Hal itu terjadi karena panggilan yang tak terjawab dari ponsel Jungkook akan selalu langsung dialihkan kepada ponsel Jeonghan. Well, menghindari kehilangan klien ketika ponsel Jungkook mati, sebenarnya. Namun yang satu ini terasa seperti neraka ketika Kim Mingyu yang menelpon.

"Tuan Jeon mungkin sedang dalam urusan yang penting. Ada yang ingin kau sampaikan kepadanya?"

"Dengar, katakan kepadanya, dia tidak bisa memutuskan kontrak begitu saja. Perusahaanku akan hancur! Jangan karena satu kesalahan kecil kalian membiarkan aku jatuh sendirian huh?"

Mendengar ocehan itu Jeonghan menghela nafas, ia mengerti kenapa Jungkook memutuskan kontrak dengan perusahaan MG Ent. Itu adalah hal yang wajar ketika Jungkook memutuskan perjanjian kerja mereka, karena perusahaan kecil yang suka berhutang tidak akan pernah bertahan lama. Kim Mingyu hanya menjadi benalu yang menyedot dana perusahaan dan hilang entah kemana. Jungkook tidak bisa memberinya uang terus menerus.

"Maaf tuan, keputusan sudah dibuat dan tidak bisa diurungkan begitu saja. Jika anda memiliki keluhan, anda bisa datang langsung ataupun membuat janji temu dengan Tuan Jeon."

"Sialan.."

Ia hanya mengumpat, dan begitu saja mematikan sambungan telpon.

Jeonghan menatap layar ponselnya, jelas sekali Kim Mingyu tidak memiliki nyali yang cukup besar untuk bertemu langsung dengan Jungkook, ia sudah terlalu malu dengan terbongkarnya penggelapan dana yang ia lakukan. Jungkook masih baik hati dengan hanya memutus kontrak, pria itu mengancam Mingyu akan melaporkannya jika ia memaksa melakukan negosiasi tak berguna itu lagi.

Jeonghan meletakan ponselnya yang sudah dalam mode diam, kemudian bersiap-siap menuju alam mimpi.

Jungkook tidak mengerti, bagaimana mungkin ia begitu menikmati melakukan hubungan seks dengan seorang bocah dibawah umur. Seorang anak lelaki cantik bernama Kim Taehyung yang kini tengah merengek memanggilnya 'Daddy'. Ia menungging, dengan masing-masing tangan meremat sprei dibawahnya dan Jungkook yang menyodok dari belakang, hanya mampu menggeram sekaligus mendesah.

"Ahhh! Daddy!" Taehyung mendongakkan kepalanya kebelakang dengan punggung sempit yang melengkung, memberikan Jungkook akses lebih mudah untuk menyentak-nyentak kejantanannya dari belakang. Menumbuk prostat Taehyung yang kini tengah bergetar hebat akibat hentakan kuat nan cepat dari Jungkook.

Pria itu mencengram pinggul Taehyung, menghasilkan bekas kemerahan dipermukaan kulit, menarik dan mendorongnya untuk bersenggama lebih keras dengan Jungkook. Sesekali ia menampar pantat bulat didepannya, membuat Taehyung semakin merengek penuh keinginan.

Bocah kecil itu terengah dengan tubuh dipenuhi keringat, ia menunduk dan ujung rambutnya meneteskan air asin tersebut. Terlonjak-lonjak keras membuat Taehyung merasakan pening, apalagi ketika selangkangannya mulai berkedut hendak memuntahkan sesuatu.

"Daddy-hhh! Aku tidak- kuat-"

"Hmh?" Jungkook mendengus kasar dari belakang, nafasnya memburu, kemudian ia membalikan posisi Taehyung menjadi kembali terlentang dibawahnya tanpa melepaskan kontak mereka. Meregangkan kedua paha Taehyung dengan tangannya, Jungkook semakin mendorong kejantanannya kedalam.

"A-ahh!"

"Kau mau apa sayang?" Jungkook menghentak amat kuat hingga Taehyung terlonjak-lonjak dibawah kungkungannya. Bocah itu setengah terpejam, mendesah dan menggapai-gapai gelisah disekitar lengan berotot Jungkook.

"Lebih keras daddy! Aku- Akh! Akh! Ya-ahh!"

Belum selesai Taehyung mendesahkan permintaannya, Jungkook sudah terlebih dahulu mempercepat gerakannya. Mencecar lubang Taehyung habis-habisan, kemudian terdengar desahan dan dengusan nafas kencang yang saling bersahutan.

"Yah? Seperti ini? Kau menyukainya Taehyung sayang-hh?" Jungkook bertanya disela-sela tarikan nafas kencangnya sekaligus menikmati ekspresi bergairah dari Taehyung, tubuh kecil yang menggeliat dan melengkung dibawah kungkungannya membawa Jungkook menuju tepi tebing birahi.

Bocah kecil dengan lenguhan penuh dosa itu mengangguk, kedua tangannya semakin merangkul punggung Jungkook agar dia lebih mendekat kearahnya.

Kemudian didetik berikutnya Jungkook kembali meraup bibir merah cherry Taehyung, melumatnya dan memberikan hisapan dalam sebelum melepaskan bibir mereka. Mulutnya beralih diperpotongan leher dan masing-masing tangan memilin puting serta mengocok kemaluan Taehyung.

Erangan semakin terdengar keras, dan Taehyung mulai berkedut dengan tak terkontrol.

"Daddy! Daddy! Akh!" Taehyung mengejang, mencakar bahu Jungkook dengan kuku-kuku tumpulnya dan terdiam untuk sesaat dengan kedua kaki terjulur kaku. Ia memuntahkan semua yang tertahan pada testisnya, mengotori perut dan tangan Jungkook. Namun pria itu tentu tidak memperdulikannya, ia malah menyeringai iblis ketika Taehyung menampakan mimik wajah penuh kepuasan seperti tadi, dan itu adalah ulah Jungkook.

Setelah beberapa detik pelepasan Taehyung, rektumnya terus berkedut dan mencengkram kejantanan Jungkook. Membuat pria itu menggeram tak sabaran.

Ia akan datang, ya sebentar lagi pada beberapa tusukan dalam terakhir.

"AKH! Baby!" Ini dia. Tubuhnya terdiam kaku untuk beberapa sekon, kemudian Jungkook menghembuskan nafas kencang tepat dipermukaan wajah Taehyung.

Keduanya terpejam dengan wajah penuh keringat, saling berbagi udara dan Taehyung menggeliat kecil setelah merasakan kehangatan yang mengisi rektumnya.

Jungkook termenung dibawah shower yang mengguyur tubuhnya, tetesan air hangat yang merembes disetiap helai rambut arangnya mengalir menuruni tubuh atletis Jungkook dengan begitu menggoda. Dimulai dari tengkuk, bahu, lalu punggung dan terakhir pantat kencang yang sangat panas dan seksi. Membuat Taehyung yang baru saja memasuki kamar mandi harus merona hebat terlebih dahulu sebelum akhirnya mendekati Jungkook dengan langkah gemetar dan memeluknya perlahan.

Pria itu segera berbalik untuk mendapati Taehyung yang telanjang tengah merona karena menatap tubuhnya. Jungkook tersenyum untuk itu. Ia menariknya mendekat agar terkena air shower juga.

"Suka dengan yang kau lihat?" Tanya Jungkook sambil mengelus pipi lembut Taehyung yang mulai terbasahi air. Bocah itu mengangguk dengan polosnya, lalu mengelus perut segi enam Jungkook sambil mendongkak menatapnya. Sialan, tatapan penuh keinginan itu!

"Daddy..." Gumam Taehyung sambil tangannya meluncur kebawah, mengelus kejantanan setengah ereksi milik Jungkook. Nampak terlihat lelehan sperma mengalir melewati paha Taehyung, berbarengan dengan terjatuhnya air dari shower.

Jungkook tersentak melihat itu.

"Taehyung..." Ia terdiam, memperhatikan cairan putih yang tentu saja adalah miliknya. "Astaga, oh sial- apa yang kulakukan?! Sial, kau bajingan gila yang bodoh.." Ia bergumam pada diri sendiri.

Jungkook menatap Taehyung dengan wajah gelisahnya, kemudian memeluk bocah yang nampaknya tak mengerti apa-apa itu. Kenapa dengan Jungkook? Untuk siapa dia menggumamkan serapah tadi?

"Daddy? Ada apa?" Taehyung merasakan pelukan Jungkook perlahan terlepas, kemudian manik sehitam langit malam itu pun menatapnya dengan penuh pertimbangan.

Apakah anak ini benar tidak mengerti juga? Jungkook melupakan pengaman dalam percintaan mereka tadi, dan ia sedang benar-benar kacau sekarang.

Oh tidak, kalian jangan menatap nya seperti itu.

Jungkook adalah seorang yang bersih, dan dia baru memeriksakan kesehatannya tepat dua minggu yang lalu setelah melakukan perjalanan bisnis di Paris. Tidak ada satu penyakit pun menempel ditubuh atletisnya. Dia sehat, manusia yang benar-benar fit dan sering berolah raga. Ia selalu memiliki benda yang mana semua bajingan didunia ini miliki, yaitu kondom! Dan dia melupakannya hanya karena pose seksi Kim Taehyung saat sedang terlelap!

Jangan harap kau bisa kemana-mana Kim kecil!

"Tidak, kita hanya harus segera membersihkan bokongmu dari cairan putih itu."

"Huh?" Ia masih tidak mengerti untuk apa Jungkook berkata demikian, hingga pria yang lebih besar mendesah lesu.

"Tidakkah kau tahu cairan itu bisa membuatmu hamil?" Jungkook mengangkat alisnya, "aku hanya berharap salah satu dari mereka tidak segera menyelinap didalam perutmu."

"H-hamil?" Taehyung mengusap perutnya terkejut. "Apa akan ada bayi disini?!"

"Kuharap tidak, maka dari itu mari kita bilas bersih semuanya."

Jungkook sangat berpengalaman dalam hubungan seks, dan sempat satu atau dua kali ia mengalami hal seperti ini. Satu diantaranya ia hampir dijebak oleh teman kencan satu malamnya. Jungkook adalah pria yang tak menginginkan ikatan apapun, mereka bercinta lalu anggaplah tidak saling kenal. Bertegur sapa boleh, asal jangan terlalu banyak berharap. Sedangkan yang lainnya, ternyata mengikuti program pencegah kehamilan.

Jungkook tumbuh dewasa di Eropa, tentu saja ia mengikuti perkembangan jaman disana. Pria itu mendapatkan wanita pertamanya saat berumur tiga belas tahun dan rasanya benar-benar nikmat ketika ia ternyata menjadi seorang yang pertama juga. Mereka menyebutnya cherry popper (mengambil keperawanan), dan kakaknya marah besar mengetahui hal tersebut.

Oh sialan, ingatan itu lagi.

Waktu menunjukkan hampir tengah malam dan Jungkook terbaring diatas kasurnya dengan sprei yang sudah diganti, ia meringkuk dan hampir terlelap disamping Taehyung yang masih dalam keadaan telanjang. Tertutupi selimut tebal.

Sebenarnya, tidak ada satupun dari keduanya yang mengenakan pakaian, itu karena Jungkook yang melarang Taehyung untuk kembali berpakaian ketika mereka selesai membersihkan diri.

Percayalah, tidur telanjang sangat menyenangkan. Apalagi dengan sesosok bocah kecil bernama Kim Taehyung disampingmu. Sama-sama tanpa busana dan berpelukan. Awalnya memang menyenangkan, tetapi tidak sampai kejantanan Jungkook kembali tegang. Sedangkan disampingnya Taehyung sudah terlelap, dan dengan tanpa sadar mengemut ibu jarinya sendiri. Oh dia memang bayi kecilnya Jeon Jungkook.

Tapi sayang, kamu mengemut sesuatu yang salah. Disebelah sini ada yang lebih berhak kau hisap. Pikir Jungkook sambil menjilat bibirnya.

Namun meskipun Jungkook sudah mengecup dan mengulum daun telinga Taehyung, bocah itu tetap terlelap. Sama sekali tidak mengubris godaan Jungkook pada wajah maupun tubuhnya.

Oh jelas dia kelelahan. Taehyung masih kecil, Jungkook melupakan hal itu.

Ia tidak seperti gadis-gadis maupun lelaki cantik Amerika yang sering menghabiskan malam dengan Jungkook, dimana mereka bahkan tidak tidur sampai pagi hanya untuk memuaskan hasrat masing-masing.

Taehyung bukan wanita bayaran yang selalu menggoda Jungkook di club malam. Dia hanya anak kecil polos yang sangat menggairahkan. Jungkook bahkan tidak pernah mengalami ketertarikan separah ini kepada siapapun. Tidak pernah sebelumnya!

Maka dari itu, pilihan selanjutnya adalah Jungkook meraih tangan mungil Taehyung yang terasa lemas, kemudian membungkuskannya disepanjang permukaan batang tebal itu lalu memulai kocokan dengan gerakan pelan. Ia mulai mendengus, bibirnya menggapai mulut Taehyung untuk ia kulum. Nampak si bocah kecil pun menggeliat samar karena hampir terbangun.

Tapi sebelum Taehyung benar-benar membuka matanya, Jungkook melepaskan tangan Taehyung lalu berinisiatif untuk melakukannya sendiri. Kendati ia tetap menempelkan bibirnya pada bibir Taehyung, lalu setelah beberapa sekon yang berat. Jungkook pun menegang dan kejantanannya berkedut-kedut memuntahkan sperma. Kembali mengotori perutnya sendiri dan ia terengah sendirian. Seratus persen berhasil, tanpa membangunkan Taehyung. Meskipun anak lelaki manis itu hampir membuka mata.

Taehyung kembali terbangun dipagi hari tanpa Jungkook disampingnya, bocah itu merengut lucu sambil meregangkan tubuh. Melirik sekeliling ruangan untuk mencari-cari eksistensi pria tampan itu, namun Taehyung tetap tidak menemukannya dimana pun.

Ia terduduk diatas kasur dalam keadaan telanjang, dan waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Astaga, beberapa hari terakhir ia selalu bangun kesiangan. Ini adalah kebiasaan yang tidak baik, gumam Taehyung dalam hati.

Bocah itu bangkit dan berjalan menuju kemeja putih Jungkook yang teronggok begitu saja diatas karpet beludru halus yang terasa amat lembut dipermukaan telapak kakinya. Ia mengambil kemeja tersebut lalu mengenakannya tanpa memakai baju dalam terlebih dahulu, memperlihatkan bahu sempitnya yang terekspose begitu saja.

Kemeja super large yang nyaman. Bahkan panjangnya sampai menjuntai hingga paha Taehyung. Ini pasti sangat mahal, pikirnya.

Setelah memandangi diri sambil memakai kemeja Jungkook, bocah kecil itu keluar dari kamar dan turun untuk mencari makanan. Ya, rutinitas setiap pagi yang mulai Taehyung sukai. Sesekali ia mengusap kelopak matanya yang terasa masih agak lengket, dan setelah hampir sampai diruang makan, tiba-tiba ia melihat Jungkook nampak melintasi ruang tengah dan menghilang dipersimpangan ruangan kerja miliknya.

Eh! Jungkook tidak kekantor hari ini?!

Taehyung segera memutar arahnya untuk mengikuti Jungkook dengan langkah-langkah lari kecilnya yang lucu. Berharap ia bisa memeluk dan bermanja kepada Jungkook dipagi hari, juga sekaligus menanyakan mengapa ia tidak menemaninya sampai bangun tidur.

Percintaan mereka sungguh membuat Taehyung sadar, bahwa ia telah benar-benar jatuh dalam pesona Jungkook. Oh, sungguh ini adalah cinta pertama yang menyenangkan, dan Taehyung akan memberitahu Jungkook akan hal itu.

Beberapa langkah terakhir, dan Taehyung pun sudah sampai didepan pintu ruang kerja Jungkook. Kemudian, ia memutar gagang pintu penuh semangat dan memekik dengan ceria.

"Daddy!"

Tiga pasang mata didalam ruangan pun menoleh bersamaan, dengan salah satunya yang membelalak kaget.

Taehyung menampakkan senyuman kotaknya beberapa sekon sebelum akhirnya lengkungan indah dibibir itu menghilang drastis.

Oh, tidak. Ia menatap wajah Jungkook yang nampak memucat.

"Siapa dia?"

"Apa barusan bocah cantik itu memanggilmu daddy, Jungkook?"

Jungkook mengumpat didalam hati.

SIAL

.

.

.

To Be Continue

Gimana sama chapter ini? XD

Ell mulai memasukkan konflik nih xD kira-kira gimana jalan ceritanya? Apa masih ada yang kurang atau perlu dikoreksi?

Disini Ell bikin beberapa laki-laki bisa hamil ya, kecuali yang tipe-tipe dominan macam Jungkook maupun Jimin xD tapi kerasanya aneh gak sih?

Suarakan perasaan maupun saran kalian ya xD

Komen-komen lucu dan membangun sangat membuat Ell senang juga bersemangat buat lanjutin ff nya xD

So, jangan lupa RNR dan terus ikutin ceritaku~

Tertanda : Ell