Kedua orang tua Taekwoon bekerja sehingga yang menjamu kedatanganku hanya Taekwoon, dan kakak perempuannya.
"Pacarmu, Taek?" Pertanyaan kakak Taekwoon membuatku memerah malu dan setengah mati menahan senyum. Apalagi saat Taekwoon justru menjawab, "Gak tau. Menurutmu gimana, Yeon?"
Gila. Jantungku kapan bisa bekerja dengan normal lagi ya?
"Bukan kok.. hehe." Padahal niatnya mau kujawab iya.
Tapi mana bisa. Ngarep banget!
"Kamu cantik padahal. Ayo sini makan dulu. Aku tebak, kalian pasti mau pergi habis ini."
Kakak Taekwoon menarikku ke meja makan, sementara Taekwoon baru muncul setelah berganti baju dikamarnya. "Iya. Aku stress. Mau teriak-teriak."
"Katanya berciuman bisa mengurangi rasa stress lho."
Aku melongo dengan ucapan kakak Taekwoon. Maksudnya apa?!
Aku jadi membayangkan kalau aku berciuman dengan Taekwoon...
Kurasa bukan mengurangi stress, yang ada aku makin gila dan harus masuk RSJ secepatnya.
"Idih si kakak." Taekwoon mencibir lalu mulai melahap makanannya.
Aku berhehe-hehe ria dengan canggung sambil berusaha makan dengan cepat karena kakak Taekwoon sama ngawurnya dengan Taekwoon.
Sekarang aku tahu, darimana sifat jahil Taekwoon muncul.
Setelah makan, aku diajak berbincang oleh kakak Taekwoon sementara si cowok rambut silver itu mandi, bersiap-siap untuk membawaku pergi.
Kakak Taekwoon ini bernama Sooyeon. Wajahnya tidak persis dengan Taekwoon. Bahkan justru berbeda sekali. Yang mirip hanya warna kulitnya saja.
Uh. Untung aja hari ini aku pakai sweater panjang. Kalau tidak, aku pasti minder dengan warna kulitku.
Meskipun super jahil, rupanya kak Sooyeon sangat baik. Dia bercerita kehidupan kuliahnya serta merta cara-cara untuk mendapatkan kuliah yang baik. Aku mendengarkan semua petuahnya. Tentu saja, semua informasi itu akan terpakai nanti.
Tiba-tiba ponselku bergetar, bersamaan dengan ponsel Taekwoon yang berbunyi di nakas dekat TV.
Aku mengernyit tidak mengerti. Kenapa bisa berbarengan seperti ini.
"Halo?"
"Yeon, mau ikut minum?" Ah, itu Hani.
"Nggak. Kamu tahu sendiri, aku tidak bisa minum."
"Sekali-sekali lah!"
"Nanti aja pas prom ya?" Aku menawar.
Yah. Aku memang mau sesekali minum. Tapi tidak hari ini! Hari ini aku akan pergi dengan Taekwoon. Aku tidak mau membatalkannya.
"Serius? Janji ya kamu, pas prom minum?"
"Iyaa, Hani, iya. Aku janji."
Disebelah telingaku, aku mendengar Taekwoon yang juga mengangkat ponselnya. Menjawab dengan dingin, bahkan terkesan tak dapat dibantah. "Gue gak bisa, gila. Udah dibilangin. Kapan-kapan aja! Jangan malam ini!"
Sepertinya Taekwoon juga diajak pergi oleh temannya.
Aku jadi tak enak.
Kak Sooyeon pergi ke kamarnya, dan keberadaan Taekwoon menggantikannya. Wajahnya terlihat bete.
"Kenapa?"
"Dipaksa ikut minum." Jawab Taekwoon, dingin. Aku baru pertama kali ini melihat sisi dinginnya yang sedingin ini.
"Ya, jangan marah." Ucapku sambil menepuk bahunya.
Dia mengangguk, lalu tersenyum. "Yaudah, yuk kerumah kamu dulu. Kamu harus mandi dan siap-siap juga."
Seharusnya aku tidak mengiyakan ajakan Taekwoon untuk aku bersiap-siap. Apa-apaan dia ini?! Seenaknya masuk ke kamar anak gadis dan meneliti isi lemariku, cuma karena gak setuju dengan outfit pilihanku!
Untung aja pakaian dalamku aku masukan kedalam laci! Bayangkan, kalau dalamanku ada bersama tumpukan bajuku... Astaga aku bisa-bisa mimisan lagi karena malu!
"Pakai ini aja." Taekwoon menunjuk chiffon shirt berwarna turqoise, dan celana selutut berwarna putih.
Astaga... Sumpah. Pakaianku sekarang justru lebih baik daripada yang dipilihnya! Taekwoon protes karena aku pakai baju tanpa lengan berwarna putih dan celana panjang berwarna hitam. Katanya aku terlalu memamerkan keseksianku.
Bodoh sekali. Seksi darimana?!
Dan sekarang, dia malah memilih kemeja chiffon YANG TENTU SAJA TRANSPARAN juga celana putih...
Bodo amat.
Aku segera menuruti permintaannya. Dia tersenyum sangat puas melihat outfitku sekarang.
"Rambutmu jangan dikuncir dong. Dijepit aja."
"Ah bawel banget. Aku gak nyaman, tau!"
"Biarin." Taekwoon justru memelet kearahku! "Sekali-sekali kamu mencoba outfit tipe idealku."
Tipe ideal. Bodo.
Sekarang aku dan dia menuju pantai. Bukan pantai yang indah, memang. Tapi tetap memiliki spot foto dan spot sepi yang bisa dipakai untuk berteriak lega.
Aku disini, berdiri sambil memandangi matahari yang sudah beralih warna menjadi jingga. Taekwoon disebelahku, merangkulku bak aku benar-benar pacarnya. Aku nyaman sekali, sumpah. Aku bahkan menyamankan posisi kepalaku yang bersandar pada bahunya.
"Hakyeon."
"Ya?"
"Kamu sedang suka dengan seseorang?"
...apa?
"Kenapa?"
"Aku hanya bertanya." Dia menoleh kearahku, sambil tersenyum tipis. Astaga, rambut putihnya bergerak bersama semilir angin yang membuatnya makin terlihat 100x lebih ganteng!
"Emangnya kamu suka dengan seseorang?" Tanyaku balik, daripada salah jawab.
Duh, aku boleh geer gak sih?
Dia punya gadis dari mipa 4!
Mana boleh aku geer.
"Iya. Aku baru sadar aku suka padanya akhir-akhir ini."
"Kenapa baru akhir-akhir ini?"
"Dia manis." Taekwoon terlihat tengah membayangan si cewek yang disukainya itu. Aku hanya tersenyum tipis, dan menegakkan kepalaku, tidak lagi bersandar padanya.
Sudah kuduga. Bukan aku. Wajahku super biasa aja. Mana ada manis-manisnya.
Sementara Hana, si cewek mipa 4 itu super manis. Jelas dia yang dimaksud oleh Taekwoon.
"Dia manis, tapi susah ditebak. Dia galak. Astaga, aku tidak lagi bisa mendeskripsikannya. Dia terlalu manis." Taekwoon sekarang terkekeh geli memikirkan si cewek itu.
Sebegitu sukanyakah Taekwoon pada gadis itu?
"Nggak ngaku aja ke orangnya? Kalau memang semanis itu, keburu di rebut orang, Taek." Usulku naif. Padahal hatiku senat-senut sedih.
Taekwoon tidak menjawab usulanku, dan justru mengusulkan hal lain. "Teriak, yuk?"
Aku menjauh dari rangkulannya dan memejamkan mataku rapat-rapat. Menghela nafas berat, berharap rasa berat hati dihatiku bisa sedikit berkurang.
"Aku tidak bisa teriak." Tukasku pelan.
Sementara Taekwoon sudah berteriak bebas didepanku, yang membuat beberapa penyapu pantai melihat kearahnya.
Aku sedikit tersenyum melihat senyum Taekwoon yang mengembang, seakan seluruh bebannya benar-benar terangkat. Baguslah kalah memang begitu.
"Kenapa kamu gak teriak, Yeon?"
"Gak bisa."
"Keluarin aja. Bisa kok." Taekwoon menarik tanganku untuk berdiri mendekati ombak air. Aku kembali menghela nafasku sebelum berteriak— meskipun tidak selantang Taekwoon.
"Aku benci sekolah!"
