Yukeh: langsung saja, saya update fic ini karena saya lagi iseng *?* XD Liburan satu hari, bukannya belajar, malah inetan. Jangan ditiru yah! Tapi contohlah! Lol. Oh ya, saya mohon do'anya supaya lulus dan diterima di Unair. Okay? Makasih ^^ met baca!
-oOo-
Naruto©Masashi Kishimoto
Dark Blood©Uchiha Yuki-chan
Rated: T is enough
Warning: AU, OOC. Don't like? Click 'back' button
-oOo-
Sebuah suara menyerupai bunyi burung terdengar dari arah kejauhan. Sejenak, Sasuke menghentikan putaran katrol itu dan membuat lift itu berhenti menggantung pada ketinggian sekitar dua puluh meter di atas permukaan tanah. Ia memegang riflenya dengan erat sembari menolehkan kepala ke sekeliling, mencari apakah ada yang akan membahayakan nyawanya. Namun ketika tak ada yang ia lihat kecuali bangunan-bangunan besi mati yang tegak di sekelilingnya, pemuda itu kembali hendak melanjutkan kegiatannya memutar katrol.
Crak!
Bunyi sesuatu yang terinjak terdengar saat Sasuke melangkahkan kakinya, menuju ke putaran katrol di lift itu.
Pemuda itu menunduk, dan saat ia mengangkat kakinya, ia mendapati seekor ulat berwarna putih sebesar tiga jari tengah orang dewasa dan sepanjang lima belas senti. Ulat itu mengeluarkan sebuah cairan warna hitam kala ia telah terinjak oleh sepatu Sasuke barusan.
Sasuke mengernyitkan kening.
Ulat? Sebesar ini?!?! Tapi…bagaimana bisa ulat ini terjatuh disini…?
"KHAAAKKK…KHAAKK...."
Suara burung itu sekarang terdengar sangat jelas, dari arah atas Sasuke. Dan saat pemuda itu mendongak, ia mendapati suatu makhluk yang kini tengah terbang beberapa meter dari atas lift yang tengah ia naiki.
Makhluk yang menyerupai burung, dengan warna bulu abu-abu yang di sekujur tubuhnya. Sayapnya menyerupai sayap kelelawar, namun kepala dan tubuhnya menyerupai kepala dan tubuh serigala, dengan mata kuning menyala yang mengintai Sasuke dari atas sana. Kedua tangan dan kakinya mirip dengan tangan dan kaki manusia, dengan kuku-kuku kuat berwarna kuning yang berada di tiap ujung jarinya. Gigi-giginya yang runcing, terlihat menyeramkan kala ia menggeram.
Dan Sasuke membelalakkan mata saat ia menyadari bahwa dari dada makhluk yang telah terobek lebar itulah, tempat dimana ulat besar tadi berasal.
PLUK!
Satu ulat jatuh di dekat kaki Sasuke, dan pemuda itu langsung menembakkan satu peluru riflenya dan seketika membuat ulat itu kontan tak menggeliat lagi.
"Oke, jika hanya satu burung, aku bisa," pikir Sasuke sembari membidik makhluk yang tengah terbang di atasnya itu.
"KHAAA…KHAAAA…." Bunyi makhluk itu terdengar nyaring, sebelum tubuhnya melayang jatuh karena peluru panas Sasuke telah menembus kepalanya.
BRAK! KRASAK!
Bunyi gemerasak itu terdengar saat tubuh makhluk itu menghantam tanah di bawah sana setelah melayang bebas dari udara.
Sasuke melihat ke bawah. Mendapati tubuh makhluk yang menyerupai kelelawar dan serigala itu kini sudah tak bergerak lagi, dengan memuntahkan cairan hitam pekat dari kepalanya yang berlubang oleh timah panas Sasuke.
Sasuke menghela nafas berat. Ia sudah tak kaget lagi jika nanti akan menemui berbagai macam spesies aneh lebih banyak lagi. Berada di tempat terkutuk ini selama tiga hari, sudah membuat mentalnya menjadi terbiasa oleh keadaan daerah ini yang penuh bahaya, sarat akan ancaman. Dan membuat dirinya, tentu saja, semakin terbiasa untuk membunuh zombie-zombie dan monster-monster yang tampak oleh matanya.
Pemuda itu berbalik, hendak menuju ke pemutar katrol dan melanjutkan perjalanannya.
Namun, baru sedetik ia menyentuhkan tangannya di katrol itu, ia harus dikagetkan kembali oleh suara kepakan sayap. Bukan. Tak hanya sepasang sayap. Tapi…
Ketika pemuda itu mendongak, ia membuka mulutnya sedikit, tanda bahwa ia terkejut mendapati belasan makhluk sejenis dengan yang barusan ia bunuh, kini tengah melayang terbang di atas Sasuke.
"KHHHAAAA…." Salah satu monster yang terbang tepat di atas Sasuke, mengembangkan dadanya, dan membuat dada berwarna abu-abu itu terbelah dan membuka lebar, mengeluarkan beberapa ekor ulat putih besar dari dalamnya.
PLUK! PLUK!
Ulat-ulat besar yang menjijikkan itu berjatuhan di dekat Sasuke.
Sasuke menelan ludah sembari masih melihat ke atas. Mengamati makhluk-makhluk terbang yang kini juga tengah mengintainya tajam dengan sepasang mata kuning mereka.
Sasuke mengatupkan rahang. Ia harus memusnahkan monster-monster ini jika ia ingin sampai ke atas sana. Tak ada cara lain!
Di pegangnya rifle-nya kuat-kuat, lalu dibidiknya salah satu monster terbang itu.
Namun sayang, bukannya menjauh atau apa, saat salah satu monster berhasil Sasuke bunuh dan membuatnya terjatuh ke tanah, belasan monster yang lain terbang, menukik turun, menuju ke Sasuke.
"KHAAAA….KHAAAA!!"
Sasuke hanya bisa terdiam. Burung-burung itu sekaligus bersama-sama menukik turun, hendak menyerangnya. Apa yang bisa ia perbuat? Tak mungkin ia bisa menembak mereka dalam satu bidikan sekaligus!
Sementara Sasuke berdiam diri, beberapa ekor ulat besar menggeliat ke arahnya. Siap membunuh Sasuke hanya dengan satu gigitan dari taring kecil yang ada di mulut kecil mereka.
"Sial!" Sasuke hanya bisa menggeram sembari menatap pergerakan monster-monster burung itu di udara.
Sasuke mengatupkan rahang. Dengan cepat, ia menoleh ke bawah, menendang kecil senjata Fire Arm yang ada di bawahnya, dengan gerakan keatas, seperti mencungkit. Ketika senjata itu berada di udara, dengan sigap tangan Sasuke menyahutnya dan sebagai gantinya, rifle-nya ia biarkan jatuh ke bawah.
"KHHHAAA…KHAAAKK!!"
BWOOSSSHH!!
Semburan api keluar dari moncong senjata itu. Sasuke mengarahkannya ke sekelilingnya, ke segala arah darinya. Beberapa monster burung itu terbakar dan terjatuh ke tanah saat kulitnya menyentuh api yang disemburkan oleh Fire Arm, dan beberapa lagi terbang menghindar.
Sasuke menoleh ke bawah dan segera membakar ulat-ulat yang sedang menggeliat ke arahnya. Tak ada satu detik, ulat-ulat itu telah mencair oleh api dari senjata Sasuke.
"KHHAAAKK…!"
Sasuke menoleh ke atas, monster burung yang tadi bisa menghindar, kini kembali menyerangnya. Malah semakin ganas. Sepasang matanya menatap Sasuke tajam, dengan cakar-cakar di kedua tangannya yang sudah melayang ke depan, siap mencabik tubuh Sasuke menjadi dua bagian dalam satu tarikan.
"Sial!" Sasuke kembali menyemburkan api dari senjatanya, membuat monster-monster itu kembali menghindar dan terbang beberapa meter di atas Sasuke, pada jarak di luar jangkauan semburan api Fire Arm.
PLUK! PLUK!
Belasan ekor ulat kembali berjatuhan. Beberapa terjatuh ke tanah, beberapa mendarat di alas lift yang sedang dinaiki Sasuke.
Namun Sasuke memutuskan untuk mengacuhkan ulat-ulat itu. Monster-monster di atas sana itulah yang pertama-tama harus dimusnahkan. Untuk itu, pemuda itu memanfaatkan kesempatan. Monster-monster itu tengah terbang pada jarak yang agak jauh darinya, di atas sana. Dan Fire Arm ini bukanlah senjata yang bisa digunakan terus menerus. Lagipula, percuma jika ia menghabiskan bahan bakar Fire Arm jika monster-monster itu terus saja menghindar.
Sasuke menunduk, dengan cepat ia mengambil riflenya, dan kembali menembaki monster-monster yang tengah melayang di atasnya sana itu.
BRAK! CTAS!
Beberapa monster telah berhasil ia lumpuhkan. Mereka terjatuh, melayang ke bawah, dan beberapa membentur pagar bermuatan listrik yang ada di dekat Sasuke. Tentu saja, dalam sekejap, tubuh monster yang menghantam pagar itu telah tersengat dengan kejutan yang sangat mematikan. Beberapa terpental ke luar pagar karena tembakan peluru Sasuke.
"KHAAA…KHAAA…!!"
Sasuke mengernyitkan dahi sembari memandang ke atas, menatap pada monster-monster yang kini terbang rendah di atasnya.
"Masih ada lima ekor," gumamnya. "Aku harus…"
"KHAAA!!"
WUSH! BRAK!
Satu monster dengan cepat menukik turun sembari melayangkan cakarnya, namun Sasuke segera terngkurap dan sebagai gantinya, pilar besi lift di dekat Sasuke patah seketika saat tangan kuat monster itu menabrak dan merobeknya.
"Hosh…hosh…" Sasuke menghela nafas. Belum sempat dia berdiri saat ia merasa ada sesuatu yang membuat celana jeansnya tertarik kecil. Dan saat ia menoleh, ia mendapati seekor ulat tengah menggerogoti ujung dari celana Sasuke dengan mulut kecilnya.
"Brengsek!" umpat Sasuke sembari mengarahkan rifle-nya ke ulat itu. Satu peluru cukup untuk membuat ulat itu terobek seluruh bagian tubuhnya.
"KHHAAA!!"
WUSH!
Sasuke segera berguling ke samping saat satu monster menukik turun dan melayangkan cakarnya ke arah Sasuke.
Sasuke segera berdiri, meletakkan kembali riflenya dan segera memungut lagi Fire Arm. Untuk kesekian kalinya, pemuda itu mengarahkan semburan api Fire Arm ke monster-monster yang terbang rendah di atasnya itu. Namun seperti sebelumnya, mereka bisa menghindar dan hanya membuat Sasuke menghabiskan sia-sia bahan bakar Fire Arm itu.
Sasuke kembali mengambil rilfenya. Dibidiknya kembali monster-monster yang berada di atasnya itu.
Rentetan peluru pun terdengar, disusul dengan suara erangan keras dari monster-monster itu saat beberapa peluru panas menembus dada dan otaknya, membuat tubuh mereka terjatuh berdebum ke tanah.
"Hosh…hosh…" Sasuke memicingkan mata, mencoba berkonsentrasi mengarahkan bidikkannya pada satu monster lagi yang masih belum ia tembak, yang kini tengah terbang di atasnya. Sesekali mata Sasuke melirik ke bawah, mewaspadai pergerakan ulat-ulat putih yang menggeliat pelan, menuju ke arahnya.
Mata Sasuke menatap tajam pada satu ekor monster yang terbang ke atas. Ditariknya pelatuk rifle miliknya. Namun matanya terbelalak saat ia menyadari, tak ada satupun peluru yang dimuntahkan oleh senjata itu.
Sasuke mencoba berkali-kali, namun tampaknya sama saja. Tak ada peluru yang keluar, dan akhirnya pemuda itu menyadari bahwa kali ini peluru rifle yang ia punya benar-benar telah kosong!
WUSH!
Sasuke kembali merunduk saat monster itu menukik turun dan mengarahkan cakarnya ke arah Sasuke, dan kemudian terbang ke atas lagi.
Sasuke memutuskan untuk menghadapi monster itu dengan tangan kosong saja. Percuma jika dia menggunakan Fire Arm, toh pasti akan dihindari terus. Fire Arm tidak cocok digunakan pada objek sasaran yang bisa terbang, seperti yang kini tengah Sasuke hadapi.
Pemuda itu bangkit. Ia menunggu kesempatan saat monster itu kembali menukik turun.
Dan saat itu tiba, saat monster itu menukik turun dan melayangkan cakar kaki kanan depannya, Sasuke segera memegang kaki kanan depan monster itu sebelum kuku-kuku monster itu menyentuh kulitnya. Dan tangan Sasuke yang bebas segera menangkis serangan dari kaki kiri depan monster itu yang terayun beberapa saat setelah Sasuke mencekal kaki kanan depannya.
Sekuat tenaga, Sasuke melempar monster itu hingga tubuh monster itu menubruk keras pilar lift, dan dalam seketika pilar itu roboh dan jatuh berdebum keras ke atas tanah.
"KHHAAAA! KHAAA!!" Makhluk itu kembali terbang, meski kini ia hanya terbang rendah, sekitar 10 senti dari atas alas lift, di depan Sasuke.
WUSH!
Dia kembali menyerang Sasuke, namun Sasuke memiringkan kepalanya saat tangan monster itu hendak mencabiknya. Dan segera mungkin, Sasuke memegang leher monster itu dari samping dan sekuat tenaga, ia mematahkan tulang leher monster itu dengan kedua tangannya.
Ketika menyadari bahwa tulang leher monster itu telah benar-benar patah, pemuda itu segera mencekal kuat sebelah sayap monster itu dengan kedua tangannya. Dan tanpa menunggu apa-apa lagi, Sasuke segera melempar keras monster itu ke arah pagar listrik yang ada di depannya sana.
Ctas!
Bunyi itu terdengar saat tubuh monster itu tersengat oleh ribuan volt tegangan yang dimuat oleh pagar kawat itu.
BRUK!
Terakhir, monster yang telah hangus itu terjatuh ke tanah, bersama dengan belasan monster sejenis yang telah berhasil Sasuke lumpuhkan sebelumnya.
Sasuke menoleh ke bawah, menyahut Fire Arm nya dan segera membereskan ulat-ulat putih yang masih ada di dekatnya itu. Dalam sekejap, ulat-ulat itu telah sempurna terbakar, bahkan meleleh.
"Hosh…hosh…" Hembusan nafas Sasuke terdengar jelas, menyatakan betapa payah dan lelahnya keadaannya sekarang. Keringat hasil pertarungannya dengan monster-monster tadi bercucuran di sekujur wajah dan membasahi kemeja yang kini ia pakai.
Pemuda itu kembali melangkah ke pemutar katrol. Dikayuhnya pemutar itu sekuat tenaga, sehingga lift yang telah menggantung di udara selama beberapa menit itu kini kembali bergerak ke atas.
GRAK!
Bunyi itu terdengar saat lift itu telah sampai pada tempat dimana benda itu memang akan berhenti.
Sasuke melangkah keluar, tentu saja sesudah ia menyandang ransel dan rifle nya. Sedangkan Fire Arm itu ia biarkan saja di lift. Sasuke pikir percuma, karena dipakai sedikit lagi saja, senjata itu pasti sudah tak dapat menyemburkan api dari dalamnya.
Sasuke melihat apa yang kini ada di depannya. Sebuah jembatan gantung yang terbuat dari besi. Rapuh. Bahkan beberapa bagian disana sudah berlubang. Dan beberapa meter di depan Sasuke, tepatnya di sisi kiri jembatan, terdapat sebuah menara dengan sebuah lubang jendela yang tepat menghadap ke arah jembatan. Entahlah. Mungkin bangunan itu salah satu bagian dari pabrik ini.
Pemuda itu memutuskan untuk melangkah. Susah payah dia naik ke atas sini, dan apakah ia harus kembali lagi ke bawah? Hah! Yang benar saja!
KREK!
Bunyi itu terdengar begitu kaki Sasuke menapaki jembatan itu. Apalagi angin yang berhembus lirih pun, nampaknya bisa membuat jembatan ini terayun pelan.
Saat Sasuke menoleh ke bawah, pemuda itu menghela nafas kecil saat melihat hamparan hijau lebat dan gelap yang menghiasi daerah di bawah sana. Mungkin itu hutan.
Pemuda itu kembali melangkah. Sebelah tangannya mencengkeram erat tepi jembatan itu, dan tangan yang lain ia gunakan untuk menggendong rifle-nya. Sesekali Sasuke berhenti saat ada angin yang berhembus dan membuat jembatan rapuh itu oleng pelan.
Setelah dirasanya bahwa jembatan itu mulai tenang, pemuda itu kembali melangkah perlahan. Hati-hati. Seolah-olah setiap saat besi jembatan yang ia injak bisa roboh dan seketika akan menjatuhkannya ke jurang hutan di bawah sana.
TLEK!
Sasuke menghentikan langkahnya saat ia mendengar sesuatu yang terjatuh di depannya. Dan ia terlambat untuk berbuat sesuatu untuk melindungi dirinya saat bom kecil di depannya itu meledak dan membuat jembatan yang ia naiki itu, tentu saja, seketika patah dan terpisah menjadi dua bagian.
Sasuke terlempar karena ledakan itu dan nyaris terjatuh ke jurang jika ia tidak mencengkeram erat tepi jembatan, dan membiarkan seluruh tubuhnya menggantung di udara. Pemuda itu sedikit mengangkat kepalanya, dengan menekan keras kedua tangannya di tepi jembatan itu. Dilihatnya, di lubang menara di seberang sana, seseorang berdiri, dengan sebuah benda yang memercikkan api di ujungnya.
"Sial!" ucap Sasuke. Saat ia berusaha untuk mengangkat tubuhnya yang tergantung di udara itu untuk naik ke atas jembatan, pemuda itu menghentikan aksinya saat satu bom kecil mendarat tepat di atas jembatan, tepat di depan hidung Sasuke.
Bom itu telah tersulut api di ujungnya. Dalam beberapa detik, akan benar-benar meledak.
Sasuke menoleh ke bawah. Hamparan pepohon besar nan gelap menyapa matanya. Lalu pemuda itu menghadap lagi ke depan, ke arah bom itu.
"Sial!"
Umpat Sasuke sebelum dengan sengaja, ia melepaskan cengkeraman kedua tangannya di tepi jembatan, dan membiarkan tubuhnya melayang ke bawah.
BLAR!
Dan jembatan itu kini benar-benar telah hancur sepenuhnya.
-oOo-
"Me-re-pot-kan!" ujar pemuda berambut pirang itu dengan memberi penekanan kuat di tiap suku kata yang baru saja ia ucapkan.
Terlihat sekali wajah lelah dan letihnya. Bukan karena ia sehabis bertarung dengan zombie atau monster kuat atau apa, namun lebih buruk! Ia tadi baru saja memikul tubuh dari seorang lelaki yang juga sekaligus menjadi rivalnya. Dan kini, setelah menungguinya untuk sadar dari pingsannya, Naruto hanya duduk bersandar pada batang pohon di belakangnya sembari memejamkan mata.
"Ugh…" sosok yang tadi tergeletak payah di tanah itu itu mulai sedikit mengernyitkan dahinya. Merasakan rasa sakitnya pusing yang menghujam kepalanya, juga rasa ngilu yang entah kenapa, terasa di sekujur tubuhnya.
"Heh…kau sudah bangun, ya?" ujar Naruto sembari menyeringai.
Namun bukannya menjawab, pemuda berambut hitam itu malah bangkit dari posisi telentangnya, untuk duduk di atas tanah, tanpa sedikitpun menjawab pertanyaan Naruto. Pemuda dengan mata onyx hitam itu sedikit menggeser tubuhnya ke belakang, mendekat ke arah batang sebuah pohon. Setelah sampai, disandarkannya punggungnya ke batang itu dan kembali memejamkan mata.
"Sasuke! Kau tahu aku disini, tidak?" ujar Naruto menahan kesal.
Sedangkan Sasuke kembali membuka matanya. Diliriknya sekilas pemuda berjaket orange yang terduduk di sampingnya itu.
Sasuke sedikit terkaget menyadari bahwa kini ia tidak sendirian. Bahwa kini ia berhasil menemukan salah satu temannya, dan temannya itu masih hidup! Tak pernah ia selegah ini sebelumnya!
"K…kau…yang menolongku?" tanya Sasuke lirih, sembari menahan rasa sakit di tubuhnya karena ia baru saja melempar dirinya sendiri ke jurang dari jembatan itu.
"Siapa lagi?" Naruto memutar bola matanya dengan kesal. "Ku temukan kau pingsan dan nyangkut di batu di sungai. Kau baru saja hanyut, ya?" tanya Naruto.
Sasuke hanya mengendikkan bahu acuh. Ia memang tak tahu. Yang ia tahu, saat tubuhnya meluncur ke bawah, ia memejamkan mata. Dan sesaat kemudian, ia merasakan hantaman dan gesekan keras di sekujur tubuhnya, mungkin gesekan antara dirinya dengan cabang-cabang pepohonan. Entahlah. Dan terakhir kali, Sasuke merasakan hawa dingin dan basah yang diserap oleh tubuhnya. Sesudah itu, ia tak ingat apa-apa lagi.
"Sasuke…" ujar Naruto dengan nada serius dan memelan. Pemuda itu menundukkan kepalanya. "Kau tahu, kita ada di daerah yang…."
"Aku tahu," potong Sasuke segera. Ia meluruskan kedua kakinya, dan sedikit menahan sakit saat kedua kaki itu telah terbujur.
Naruto menghela nafas. "Aku tak menyangka, ada daerah seperti ini di atas bumi ini."
Sasuke hanya terdiam. Ia malah mulai mencoba berdiri, meski begitu tubuhnya digerakkan, ia sudah merasa amat kepayahan.
"Eh, kau mau kemana?" tanya Naruto mencoba mencegah Sasuke untuk berdiri. "Istirahatlah dulu."
"Aku bukan bayi, jadi berhentilah sok jadi ibuku!" ujar Sasuke ketus, membuat Naruto menyesal tak membiarkan pemuda itu hanyut saja di sungai. Biar dimakan ama zombie ikan dan semacamnya.
Sasuke perlahan melangkahkan kakinya, menuju ke arah sungai yang ada di depannya sana.
Setelah sampai, pemuda itu duduk di tepi sungai, dan membiarkan kedua kakinya terendam di bawah air sungai yang jernih itu. Dengan kedua tangannya, Sasuke menampung air sungai, lalu dibawanya air yang ada di tangannya itu ke mukanya. Membasuh muka yang selama beberapa hari tak tersentuh oleh air. Sekaligus diminumnya air sungai itu untuk membasahi tenggorokannya yang rasanya sudah benar-benar mengering.
Sasuke mendengar suara cipratan air, dan menyadari bahwa cipratan itu berasal dari kedua kaki Naruto yang juga baru saja terendam di bawah permukaan air sungai, sama seperti Sasuke.
"Sampai kapan kita akan disini?" ujar Naruto sembari memandang ke atas, ke langit kelabu yang sedikit memberi jalan bagi sinar matahari untuk menerobos menyinari bumi.
Sasuke hanya terdiam. Ia masih sibuk membasuh mukanya untuk ke sekian kalinya.
"Eh, bagaimana keadaan Sakura, Ino, dan Shikamaru? Ku harap mereka selamat dan tidak terdampar disini," ujar Naruto sembari menghela nafas besar.
Sasuke menghentikan gerakan tangannya saat ingin meminum air yang sudah ditampungnya di kedua telapak tangannya.
"Shikamaru…aku sudah bertemu dengannya," gumam Sasuke lirih, kali ini kedua tangannya sibuk membasuh kedua lengannya.
"Eh? benarkah?" tanya Naruto dengan nada terkejut campur gembira. "Lalu? Dimana dia sekarang? Kalian terpisah lagi?"
"Dia sudah mati," sambung Sasuke dengan nada memelan, namun dengan ekspresi datar, seperti biasa, tanpa menunjukkan keibaan atau apa.
Senyum Naruto hilang, diganti dengan tatapan kedua matanya yang memandang Sasuke tak percaya.
"Aku yang membunuhnya," ujar Sasuke meneruskan. "Aku terpaksa. Dia sudah menjadi zombie karena sebelumnya dia telah mendapat luka dari serangan zombie. Darahnya menghitam, sama seperti darah makhluk-makhluk yang sejauh ini telah kita hadapi."
Naruto terdiam. Ia memalingkan wajah, dan kini kedua mata dengan iris warna biru itu menatap aliran tenang air sungai di depan mereka.
"Hhh…jadi menular yah?" tanya Naruto dengan nada pelan, membuat Sasuke langsung menatap curiga padanya.
"Kau…apakah kau sudah mendapatkan luka dari mereka?" tanya Sasuke.
Naruto menggeleng. "Tidak. Atau tepatnya, belum."
Sasuke menghela nafas legah. Untunglah, ia tidak harus membunuh temannya sendiri untuk kedua kalinya.
"Sekarang, kita harus mencari jalan keluar dari sini," ujar Sasuke sembari kembali berdiri.
"Eh? kau kan baru bangun dari pingsanmu!" kata Naruto heran.
"Sudah kubilang kan, jangan sok jadi ibuku!" kata Sasuke acuh sembari mendekati ranselnya yang tergeletak di dekat pohon yang tadi ia sandari.
Sasuke menghentikan langkah saat ia menatap ranselnya.
Ransel…kenapa hanya ranselnya yang ia bawa? Dimana riflenya?
Sasuke mendecak lirih saat ia teringat bahwa rifle nya telah terjatuh saat ia menggunakan kedua tangannya untuk berpegang pada tepi jembatan, agar ia tidak terjatuh ke jurang.
Dan kini…dengan apa ia bisa bertarung?!
"Kenapa kau?" tanya Naruto yang sudah ada di samping Sasuke.
"Aku tak punya senjata," ujar Sasuke lirih.
"Lho…itu…" Naruto menatap moncong sebuah senjata yang menyembul keluar dari ransel Sasuke.
"Itu milik Shikamaru," jawab Sasuke. "Rifle-ku terjatuh. Dan senjata Shikamaru sudah kehabisan peluru."
Setelah berucap demikian, Sasuke kembali melangkah, menuju ranselnya disana, meninggalkan Naruto yang menatapnya heran.
"Apa dia gak takut karena kehilangan rifle-nya dan tak bisa melindungi diri?" pikir pemuda berambut jabrik pirang itu.
"Tunggu, Sasuke!" ujar Naruto sembari langsung berlari menuju Sasuke yang telah lebih dulu berjalan dengan menjinjing ranselnya di tangan kanannya. Ia tidak menyandang ransel itu, karena pasti akan membuat bahunya yang lumayan sakit, langsung mengalami patah tulang.
"Kita mau kemana?" tanya Naruto.
"Pulang."
"Memangnya kau tahu jalannya?"
"Tidak."
"Lalu bagaimana bisa?"
Belum sempat Sasuke menjawab, saat semak-semak di depan mereka, disamping kiri jalan, mengeluarkan bunyi gemerasak.
Naruto sudah siap mengarahkan moncongnya ke arah semak-semak itu, dan Sasuke hanya terdiam sembari memberi tatapan waspada dan siap menyerang dengan tangan kosong jika ada bahaya.
DOR!
"Kyaaa!!"
Suara jeritan seorang perempuan terdengar begitu Naruto melesatkan peluru shotgunnya ke arah semak-semak itu.
"Jeritan ini…" ujar Naruto. "Familiar…"
SRAK!
Dua orang keluar dari semak-semak itu. Bukan, tiga orang. Satu orang diantaranya pingsan dan berada dalam gendongan seorang lelaki, dan seorang gadis lagi berdiri di sampingnya.
"Sakura! Ino!" teriak Naruto melihat dua temannya itu.
Sasuke hanya terdiam, namun tak dapat ia sembunyikan raut legah yang terpancar dari wajahnya saat ia mendapati dua temannya itu dalam keadaan selamat.
Naruto berlari menghampiri mereka, dan Sasuke berjalan pelan menyusulnya.
"Kau tak apa-apa, Sakura?" tanya Naruto menatap teman gadisnya itu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Memang, bukanlah Sakura yang selalu tampak modis seperti biasanya. Tapi melihat kedua temannya itu selamat saja, rasanya sudah cukup bagi Naruto.
"Naruto!" Sakura memeluk pemuda itu, temannya. Air matanya meleleh, membasahi pipi putihnya yang kusam. "Naruto…"
Sedangkan Sasuke menatap pada pemuda yang kini tengah membawa Ino dalam gendongannya. Dan Ino terpejam dengan kepalanya yang tersandar di punggung pemuda berambut merah bata itu.
"Sasuke…" Sakura kini menatap pada pemuda berambut hitam legam itu. Gadis itu tersenyum, meski hanya wajah dingin dan angkuh yang masih ditunjukkan Sasuke padanya. Namun Sakura tahu, bahwa sesungguhnya Sasuke senang, gembira mendapati dirinya dan Ino selamat.
"Ugh," pemuda yang menggendong Ino mengeluh dan mengernyit sakit. Membuat Sakura, Naruto dan Sasuke, seketika langsung menatap padanya.
"Kenapa dia?" tanya Naruto heran, yang langsung membuat Sakura menjitak kepalanya keras. "Aduh! Kau kenapa sih?"
"Gara-gara kau, Gaara jadi kena peluru mu! Untung cuman kegores saja, gak nancap!" ujar Sakura sembari kembali menoleh ke Gaara. "Gaara, ayo kita istirahat disana. Aku akan mengobatimu," ujar Sakura sembari menuntun Gaara ke sebuah pohon.
Sasuke dan Naruto hanya menatap Gaara dan Sakura yang tengah menjauh, menuju ke sebuah pohon besar.
"Gaara?" Naruto mengangkat sedikit sebelah alisnya, tanda bahwa ia heran.
"Hn," jawab Sasuke sembari ikut melangkah, menuju ke arah Sakura dan Gaara.
"Hati-hati," kata Sakura saat Gaara menurunkan Ino yang pingsan, dari gendongannya untuk dibaringkan ke tanah. Setelah itu, Gaara segera duduk dan menyandarkan diri ke batang pohon itu. Sebelah tangannya, mencengkeram erat sebelah lengannya yang mengucurkan darah, akibat terkena gesekan dari peluru Naruto yang melesat ke arahnya dan berhasil ia hindari.
"Ino kenapa, Sakura?" tanya Naruto pada Sakura yang kini sibuk mengeluarkan obat-obatan dari dalam tasnya, juga secarik kain perban.
"Pingsan. Dia habis terperosok ke dalam lubang jebakan di atas tanah di dalam hutan," ujar Sakura. Kali ini gadis itu sibuk membersihkan darah di lengan Gaara, lalu meneteskan sebuah cairan dari botol kecil, di atas luka itu. Entahlah, Naruto tak mau menanyakan cairan apa itu. "Tadinya ku kira dia telah mati diculik zombie atau monster," Sakura kini melilit kain perban ke luka Gaara dan mengikatnya sedemikian rupa, untuk menghentikan pendarahannya. "Nah, sudah selesai!" katanya tersenyum.
Naruto menatap sesuatu yang berada di punggung Sakura.
"Eh, Sakura, bukannya itu ranselku?" tanyanya.
Sakura mengangguk. "Aku menemukannya di tangga sebuah jalan. Tenang saja, aku tak menggunakan apapun yang kau punya di dalam ranselmu."
"Siapa dia?" tanya Sasuke menunjuk Gaara dengan dagunya.
"Eh, Teme, sopan dikit napa sih?" sikut Naruto kesal.
"Setidaknya aku tidak melukainya," sindir Sasuke pada Naruto.
Sakura tersenyum.
"Dia Gaara, dia penduduk asli sini," ujar Sakura.
"HAH!?" Naruto memasang wajah cengok. "Kok bisa masih idup?!"
Sasuke menjitak kepala Naruto. "Eh, Dobe, sopan dikit napa sih?" ujarnya meniru perkataan Naruto.
"Ceritanya panjang," jawab Sakura sembari mengamati Gaara yang memejamkan mata, mencoba mengurangi rasa lelah.
"Tidak masuk akal," kata Naruto.
Sakura masih menatap Gaara.
"Selama kami disini, dialah satu-satunya pelindungku dan Ino. Jika kami gak bertemu dia…," Sakura menghela nafas sembari tertawa pelan dan singkat. "Entahlah."
"Apa dia tahu jalan keluar dari sini?" tanya Sasuke.
Sakura menoleh ke arah Sasuke dan mengangguk. "Tentu saja. Untuk itulah dia membawaku dan Ino sampai disini."
Naruto membelalakkan matanya saat ia teringat sesuatu. Segera, ia membuka ranselnya yang sedang digendong Sakura.
"Naruto, apaan, sih?" ujar Sakura terkaget.
Naruto hanya diam, lalu mengeluarkan sebuah buku yang ada di dalam ranselnya. Buku yang tersusun dari lembaran-lembaran kertas yang dijepret jadi satu.
"Kau bilang, Gaara adalah penduduk asli sini, kan?" tanya Naruto yang direspon Sakura dengan sebuah anggukan. "Kalau begitu, dia pasti tahu ini!" Naruto menyodorkan buku yang ia pegang. "Aku belum membacanya karena keseluruhan isinya memakai bahasa Inggris."
Sakura mengambil buku yang Naruto sodorkan, sedangkan Sasuke hanya mengamati heran sembari masih tetap berdiri.
"Itu buku yang Ayah tulis," ujar Gaara setelah melirik sekilas pada lembaran buku yang dipegang Sakura. "Ayahku adalah dokter daerah ini."
"HAH?!" Lagi-lagi Naruto berteriak. Sedangkan Sakura hanya ternganga kecil, dan Sasuke hanya membelalakkan mata sedikit, sekilas.
"Ayahku yang menemukan virus itu pada mayat pertama yang diduga zombie, di daerah ini," lanjut Gaara.
Semua terdiam, menunggu apa yang akan Gaara ucapkan selanjutnya.
Lelaki dengan mata biru muda itu memandang kosong ke tanah di depannya, kepalanya agak tertunduk.
"Sebelumnya, daerah kami adalah daerah yang makmur. Tenang," ujar Gaara lirih. "Meskipun daerah ini adalah daerah yang terasing dari dunia luar, bahkan di peta atau di globe, tak akan bisa kalian temui, tapi kami merasa apa yang kami butuhkan, semua ada disini. Kami mampu menyediakan semua keperluan warga dengan apa yang kami bisa, dengan apa yang kami punya, dengan alam yang kami miliki."
"Memangnya…Negara mu ini namanya apa?" tanya Naruto.
"Heischgrad bukanlah sebuah Negara. Seluruh kawasan ini bahkan tak lebih besar dari pulau Cyprus. Tak ada pemerintahan, tak ada undang-undang. Kami hidup dengan saling menghargai dan hanya menggunakan norma sebagai peraturan," jawab Gaara.
"Tunggu dulu, kau bilang kau adalah penduduk asli sini, lalu kenapa kau mengerti bahasa kami, bahasa Jepang?" tanya Sasuke.
"Mudah saja, karena sesungguhnya aku juga merupakan warga asli Jepang," ujar Gaara sembari tersenyum tipis. "Asal kalian tahu, kami semua yang berada disini adalah manusia yang terbuang. Manusia yang memilih untuk menyendiri dengan mereka yang juga merasa terasingkan, untuk memulai kehidupan baru."
"Terbuang bagaimana?"
Gaara menghela nafas berat. "Sesungguhnya, ini adalah pulau tempat dimana manusia yang dibenci dan dianggap membahayakan oleh para penguasa di luar sana, akan diasingkan."
"Ah…?" Sakura menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Seperti Ayahku," Gaara mengendikkan bahu. "Sebagai dokter, ia telah membuat suatu percobaan medis yang dianggap dunia luar berbahaya dan tak masuk akal. Akhirnya, Ayah dan kami sekeluarga, diungsikan kesini."
"Lalu, bagaimana tentang zombie-zombie dan monster disini?" tanya Sasuke.
Gaara mengendikkan bahu. "Aku tak tahu. Ayah adalah satu-satunya orang di sini yang meneliti kematian tak wajar salah seorang warga, setelah sebelumnya warga itu bersikap aneh dan berusaha memakan sesama manusia." Gaara menghela nafas sebelum melanjutkan. "Aku tak sempat dijelaskan oleh Ayah, karena… karena Ayah keburu terbunuh oleh salah satu warga yang sudah tertular."
"Maaf, Gaara," ujar Sakura merasa iba.
Keadaan menjadi hening. Baik Gaara ataupun yang lain, tak ada yang mau menyumbang suara. Hanya suara aliran air sungai yang tenang itulah yang terdengar di tengah suasana yang sepi ini. Sunyi.
"Aku tak tahu, bagaimana virus aneh itu bisa berjangkit di daerah ini," ujar Gaara lirih, mirip sebuah keluhan.
"Tentu saja, ada asap, pasti ada api kan, Gaara?" ujar sebuah suara.
Mereka berempat menoleh, dan mendapati seseorang berambut hitam panjang, tengah melayang di udara di depan mereka dengan kedua sayap hitam di punggungnya.
"Paman…," gumam Gaara membelalakkan matanya menatap sosok itu.
BRUK! Sebuah tubuh dari manusia terlempar dari tangan sosok itu, tubuh yang telah tanpa kepala, dengan masih memakai seragam kemiliteran yang masih melekat di badan mayat itu.
"Dia sudah tidak berguna! Bwuahahahahaha!!" sosok itu tergelak sembari membusungkan dadanya, tertawa angkuh, dan entah mengapa, terdengar sangat mengerikan.
Sasuke, Naruto dan Sakura, mengamati sosok mayat tanpa kepala yang tergeletak di depan mereka.
Di seragam kemiliteran itu, terdapat sebuah lencana yang terukir deretan huruf yang merangkai sebuah nama.
"Komandan Kabuto!"
-oOo-
Yukeh: Bentar deh…perasaan kok Sasuke dikeroyok mulu yah? –w- Gak manusia cewek, gak manusia cowok, bahkan para monster dan zombie pun kayaknya nepsong amat ama Sasuke! XD –disembur avtur-
Okeh, saya udah semaksimal mungkin ngedeskrip ciri fisik dari kelelawar-serigala-manusia itu. Bisa bayangin gimana bentuknya? :D
Kali ini tak ada talkshow karena saya lagi gak mood ngelawak :D Makasih ya udah baca. Sori kalo deskrip katrolnya agak ribet. Yah... I've done my best! ^^ sampai jumpa di chapter depan. Semoga siswa kelas 3 SMA/SMP/6 SD lulus semua tahun ini. Amin :D
Makasih banyak untuk semuanya ^^
Critism and comment are whole-heartedly appreciated.
April, 12 days before PMDK XD
~yukeh~
