Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

Rate : M

Genre : Romance, Drama, Friendship, Hurt/Comfort, Humor, School life

Pairing : Ichigo x Hitsugaya

Spoiler Warning : Alternate Universe (AU), OOC-minimalisir, Shounen-ai, Yaoi, maleXmale, Semi-grapefruit, Don't like Don't read!

Summary : Kurosaki Ichigo, nama paling TOP di SMA Karakura. Paling terkenal membuat biang onar di sekolahnya. Hitsugaya Toushiro, siswa baru yang masuk di SMA Karakura tersebut. Ichigo merasa tertarik dengan perlawanan Hitsugaya padanya. Ternyata Ichigo pernah bertemu dengan Hitsugaya dua tahun yang lalu. Kedekatan Ichigo dan Hitsugaya membuat Inoue, penggemar Ichigo di sekolah akhirnya turun tangan. Inoue menyuruh kedua temannya, Gin dan Hisagi untuk me-rape Hitsugaya. Bagaimana nasib Hitsugaya?

.

Sebagian besar ide cerita diambil dari novel Jingga dan Senja karya Esti Kinasih. ^^

.

Request Ami de Aeterna, enjoy!

.


New School

.

Chapter 8


.

.

"Kalian ini benar-benar membuat saya malu," kata Unohana sensei dengan muka yang memerah marah. "Kalian ini bukan anak SD lagi yang harus diingatkan. Harusnya kalian belajar karena sudah kelas akhir di sekolah ini."

Unohana sensei nggak bisa menahan emosinya lagi. Dia berdiri di depan kelas sambil menceramahi murid-murid yang membuat kekacauan saat Nemu sensei mengajar tadi.

Nemu sensei baru kemarin masuk di sekolah ini sebagai guru magang. Karena Ottosannya juga salah satu guru yang mengajar di sekolah ini. Sensei muda ini lulusan dari Universitas negeri di Australia yang mengambil jurusan bahasa inggris. Dan kayaknya sekarang dia sudah trauma untuk jadi salah satu guru di sekolah ini.

Pandangan tajam Unohana sensei mampir di seraut wajah yang cuek. Ichigo yang merasa dipandangin menolehkan wajahnya dengan senyuman mengembang. Hal itu tambah membuat urat marah di kepala Unohana sensei muncul semua.

"KUROSAKI, SEKALI LAGI KAMU MENGACAU DI KELAS BERIKUTNYA AKAN KU HUKUM KAMU!" bentaknya dengan aura mencekam. Batas kesabarannya sudah habis untuk menangani siswa satu ini.

.

.

.

Inoue turun dari atas meja yang didudukinya. Dimasukkannya ponselnya ke saku roknya. Niatnya untuk merekam hilang. Dihampirinya cowok mungil itu. Gin dan Hisagi yang melihat kedatangan Inoue otomatis menghentikan aktivitasnya.

Hitsugaya memandang Senpainya itu dengan mata memelas. Meminta hal yang direncanakannya ini dihentikan. Sudut bibir Inoue terangkat. Dipegangnya dagu Hitsugaya. Dan di donggakannya ke atas.

"Selamat menikmatinya, cebol!" ujarnya getas. Inoue melangkahkan kakinya kearah pintu keluar. Dibelakangnya mengekor Tatsuki dan Chizuru. Hitsugaya tertegun. Begitu ketiga cewek itu hilang dari pandangan. Gin dan Hisagi memulai aktivitasnya lagi.

.

.

.

"Mau kemana, Ichigo?" tanya Keigo heran. Ichigo melirik teman sebangkunya itu.

"Ke kantin." Dilangkahkan kakinya kearah pintu kelas. Dia sedang nggak mood ikut mata pelajaran selanjutnya. Daripada dibuatnya jadi pasar lagi. Lebih baik dia keluar dari kelasnya.

Dilangkahkan kakinya ke dalam kantin. Menuju salah satu bangku panjang yang paling ujung. Dikeluarkan rokok dari saku celana. Tangan kanannya menjentikkan kearah salah satu penjual di dalam kantin itu.

"Orange jus satu," ucapnya sedikit berteriak. Penjual itu mengangguk.

Kantin itu masih belum ada orang. Wajar dong. Soalnya ini belum istirahat. Beda kalau istirahat. Pengunjungnya bisa kayak ada konser nidji. Dihembuskan rokok di bibirnya. Diterawangkan pikirannya. Kembali ke dua tahun lalu.

.

.

.


Flashback 2 tahun lalu…

Ichigo POV

Hari ini aku dinyatakan lulus dari sekolah. Tiga tahun menjadi salah satu siswa di SMP Karakura tidak sia-sia. Banyak yang bersedih karena tidak lulus di ujian akhir.

"Ichigo…," sapa Renji sambil menepuk satu bahuku. Aku menoleh dan menatap teman SMP ku ini. Kami sudah berteman sejak kelas satu. "Kita lulus, Bro! Tadi gue dapat telpon dari paman gue. Katanya surat pemberitahuan dari SMA Karakura sudah sampai. Dan gue diterima." Ujarnya dengan semangat.

Aku tersenyum tipis. Dengan begini bakal satu sekolah lagi di SMA sama sobatku yang satu ini.

"Hei, bagaimana kalau kita panggil anak-anak sekelas untuk ngerayain kelulusan ini?" Aku mengangguk. Renji meringis senang. "Tunggu disini. Biar gue panggil mereka."

Renji berlari masuk ke dalam sekolahnya. Tidak lama kemudian dia membawa teman-teman sekelas ku sambil cengengesan senang.

.

.

.

Ruang karaoke yang kami tempati ramai sekali. Tawa canda, ejekkan, teriakan, histeris, bercampur jadi satu.

"Ichigo nyanyi dong!" seru salah satu temanku. Aku meringis senang. Hari ini benar-benar menyenangkan. Kuterima mike yang diberikan temanku itu. Kemudian menyanyi duet dengan Renji. Asli. Suara kami berdua cempreng banget. Mereka yang berada di situ cengo sambil melempar kacang yang berada di atas meja.

Tawa lepas keluar dari mulut ku dan Renji. Bukannya malah berhenti karena diejek. Kami malah menyanyi terus. Akhirnya keluar suara mengejek dari semua yang ada disitu.

"GILA CEMPRENG BANGET, BRO!"

"Woy! Bisa pecah nih gendang telinga gue,"

"Suara lo berdua buat gue muntah,"

"Buset deh! Pantesan nilai kesenian lo berdua parah banget!"

Suara-suara mengejek itu disambut tawa geli. Aku dan Renji malah tambah cengengesan. Acara itu akhirnya usai jam sembilan malam. Terlalu lama bersenang-senang sampai membuat kami lupa waktu. Semuanya saling berpelukan untuk terakhir kalinya karena hampir semua teman-teman sekelasku yang berbeda sekolah.

Renji melambaikan tangannya kearahku. Setelah dari sini kami pulang ke rumah masing-masing. Lusa aku akan menjadi murid SMA. Yah…semoga sekolah baru itu menyenangkan.

.

.

.

Aku melangkahkan kakiku ke dalam pekarangan rumah. Kututup pintu pagar rumahku dan berjalan kearah pintu dengan muka ceria dan bahagia mengingat acara kelulusan tadi. Kubuka pintu rumahku. Kulihat Okasaan berdiri di dekat pintu sambil memakai jaket cream muda. Disampingnya kakinya terletak koper berukuran besar. Aku bingung. Mau kemana Okasaan malam-malam begini.

"Okasaan, mau kemana?" Tanya ku. Kedua keningku mengerut. Okasaan membalikkan tubuhnya dan menatapku. Terlihat bekas air mata di kedua pipinya. Matanya juga sembab.

"Ichigo…jaga dirimu baik-baik. Okasaan hari ini sudah bercerai dengan Otuosanmu…," Ujarnya dengan suara lirih. Aku terperangah. Apa? Bercerai? Ada masalah apa ini sampai bercerai? Kenapa? Padahal selama ini tidak ada perkelahian atau apapun yang terjadi di rumah ini.

Otousan muncul dari ruangan keluarga sambil menghisap rokoknya. Aku dan Okasaan menoleh kearahnya.

"Pergilah Masaki. Aku yang akan urus Ichigo," Ujarnya datar. Aku tertegun. Jadi ini bukan bohongan. "Rumah ini akan kujual dan akan kumasukkan ke tabunganmu Ichigo. Setiap bulan akan ku transfer uang untuk keperluanmu, Ichigo. Mulai besok kau akan tinggal di apartemen yang sudah ku sewa untukmu, Ichigo." Jelasnya padaku kemudian berjalan kearah kamar.

Aku terbelalak lebar. Benarkah ini nyata? Apakah aku sedang bermimpi?

Kulihat Okasaan berjalan ke pintu keluar sambil menenteng kopernya. Tubuhku kaku. Kenapa suaraku tidak bisa keluar? Kenapa tidak bisa kuhentikan kepergian Okasaanku.

.

.

.

Aku terbangun dari tidurku. Ku ambil jam beker kecil yang terletak di meja kecil samping tempat tidurku. Jam delapan. Kulangkahkan kakiku kearah kamar mandi di kamarku. Tapi secarik kertas putih diatas meja belajarku membuat langkahku berhenti. Kubuka secarik kertas itu. didalam lipatan itu terdapat sebuah kunci.

'Ini kunci kamar apartemen mu. Jam sembilan nanti truk yang akan mengangkut barang-barangmu datang. Ottosan sudah sampaikan kepada mereka untuk mengantar di apartemenmu.'

Tulisan ini benar punya Otousan. Jadi kemarin itu bukan mimpi. Kertas itu kuremas sampai tidak berbentuk lagi. Kulangkahkan kakiku pelan kearah kamar mandi. Pandanganku kosong. Aku tersandar di dinding dingin kamar mandi. Kuputar keran shower. Dan terduduk lemas di lantai. Air mengguyuri seluruh badanku. Tanpa terasa air mataku meluncur di kedua pipiku bersama air yang membasahi wajahku.

.

.

.

Aku terbaring di sofa apartemen baruku. Salah satu apartemen yang lumayan terkenal di Karakura.

Aku bangun dari sofa itu. kuambil topi dan jaket hitamku yang tergantung di samping pintu. Kemudian melangkah keluar dari apartemenku dengan sebuah kunci motor di tanganku.

.

.

.

Deru motorku kupacu. Motor ini baru saja ku terima tadi dari salah satu asisten Otousan yang mampir ke apartemenku. Kudengar darinya katanya hadiah kelulusan.

Aku semakin melajukan motorku di tengah kemacetan. Masa bodoh dengan umpatan dan makian orang-orang yang melihatku. Memangnya jalan ini nenek moyangmu. Ku bawa motorku ke tempat yang biasa kami sekeluarga pergi berwisata dulu.

Setelah sampai ditempat tujuan. Ku parkir motorku. Dan berjalan ke salah satu saung yang mengarah kearah danau. Tempat wisata ini sering dikunjungi oleh kami dulu. Tawa Yuzu dan Karin, Okasaan yang tersenyum bahagia, serta Otousan yang sering berlawak persis para komedian di TV membuatku tersenyum tipis mengingatnya. Tapi hanya sesaat. Karena sekarang tidak akan ada lagi kebersamaan itu. Ku sandarkan punggungku. Dan menatap danau di depanku tanpa ekspresi.

Sia-sia. Apa artinya hidup di dunia ini kalau tidak ada lagi keluarga yang berada di sampingmu. Kau seperti anak kucing yang dibuang. Kuturunkan topiku sedikit. Dan kupakai tudung jaketku. Sesuatu di dalam dadaku berdenyut sakit. Kupejamkan kedua mataku. Kenapa segala hal yang manis dari hidup ini harus berakhir secepat ini?

Normal POV

Tanpa disadarinya. Hal ini menjadi luka dihatinya. Ditinggalkan oleh keluarga yang seharusnya berada di sampingnya. Secara tiba-tiba dan tidak bisa di hentikannya. Luka yang akan membuatnya menjadi pribadi yang berbeda selama ini. Apakah para orang tua itu sadar? Sebenarnya yang paling bersedih atas perpisahan kedua suami-istri adalah sang anak. Apakah mereka sadar? Yang terluka karena perceraian itu adalah sang anak. Apakah para orangtua itu menyadarinya?

End normal POV

.

.

.

"Toushiro, jangan jauh-jauh nanti berbahaya." Ujar salah seorang pengunjung di tempat wisata itu.

Sinar matahari sore yang menyilaukan membuatku harus mengerjapkan kedua mataku. Kutolehkan kepala ke sumber suara tadi. Kulihat seorang pria berumuran tiga puluhan lebih seperti Otousan ku. Rambut putihnya panjang. Tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ada seorang cowok mungil berambut juga putih jabrik. Sepertinya asyik sekali dengan air danau yang dimainkannya.

"Ayo kita ke pondok sana untuk makan, Toushiro," ajak pria berambut putih panjang itu. Sepertinya cowok mungil itu anaknya. Kulihat cowok mungil itu menggeleng.

"Aku masih mau main disini. Nanti kususul Ottosan." Jawabnya. Pria yang dipanggil Otousannya itu tersenyum lembut.

"Kalau begitu hati-hati. Otousan tunggu disana, ya." Cowok mungil itu mengangguk. Kemudian kembali bermain dengan air danau di depannya.

Aku memperhatikan cowok mungil itu. Jadi namanya Toushiro. Tidak ku lepaskan pandanganku darimu. Merasa diperhatikan. Kau membalikkan wajahmu ke belakang. Aku sedikit kaget. Kau langkahkan kakimu kearah saung tempatku duduk. Mata emeraldmu yang besar menatapku.

"Boleh aku istirahat sebentar disini?" tanyamu dengan muka polos.

Ku tatap dirimu dengan muka datar. Tapi di dalam hatiku ada rasa hangat. Begitu di sapa olehmu. "Ya…," ucapku lirih. Kau tersenyum. Dan itu membuatmu semakin manis. Dadaku berdetak cepat. Rasa kesepianku terobati karena kedatanganmu. Terima kasih. Berkat kau. Aku masih bisa merasakan perasaan yang bernama Cinta.

Wajahmu menatap matahari yang tenggelam di balik gunung itu. senyummu kembali merekah. Sepertinya kau menyukai matahari tenggelam ya.

"Jika kita bertemu lagi…Kau akan kubuat menjadi milikku, Toushiro," Gumamku pelan. Merasa aku mengatakan sesuatu. Kau membalikkan wajahmu. Dan menatapku dengan bingung.

"Kau bilang sesuatu?"

Aku menggeleng pelan. Senyum hangat muncul di wajahku. Aku bisa merasakannya. Aku berdiri dari tempat duduk itu. Kau menatapku dengan pandangan semakin heran. Kupandangi kedua mata emeraldmu untuk yang terakhir kalinya.

"Sampai jumpa lagi…Toushiro." Ujarku pelan dan sedikit berbisik. Tapi aku yakin kau pasti dapat mendengarnya. Wajahmu memandangku dengan bingung. Ku langkahkan kakiku menjauh dari tempat itu. Jika kita bertemu lagi nanti. Akan ku bawa kau ke tempat pertama kita bertemu.

.

.

.

"Ichigo…?" panggil Renji halus. Aku menatap sobatku. "Tenanglah…gue akan selalu berada di sampingmu terus, Bro!"

Aku tersenyum tipis. Terima kasih Renji. Kau memang sobatku. Aku membalas cengengesanmu itu. Pandangan kita tertumbuk di depan gerbang SMA Karakura. Ketika tatapan mata kita bertemu. Seringaian senang terukir di bibir kita. Ternyata pikiran kita sama.

Ayo kita buat sekolah ini menjadi rumah kedua kita.

End Ichigo POV

End flashback…

.

.

.

"Ini pesananmu." Penjual itu mengagetkan Ichigo yang sedang melamun. Ichigo mendelik sedikit kesal. Dirogohnya saku celana dan memberikan uang untuk membayar pesanan itu. Setelah meminum tiga tegukkan. Ichigo melangkah keluar dari kantin. Meninggalkan penjual kantin itu cengo.

.

.

.

"Inoue, nggak apa-apa tuh cowok cebol? Sepertinya ini sudah keterlaluan." Chizuru bertanya dengan muka cemas. Sebenarnya dia nggak terlalu suka dengan rencana Inoue.

Inoue yang sedang merapikan rambutnya di depan cermin toilet. Menoleh dan menatap temannya. "Kenapa? Kau nggak suka?" kedua alisnya terangkat tinggi menatap Chizuru. Chizuru menarik napas panjang diam-diam. Nggak mau cari masalah dengan teman di sampingnya itu.

"Ruang perpustakaan itu nggak bakalan ada yang datang. Jadi, tuh cowok cebol bakal nggak bisa apa-apa." Senyum licik tercetak di bibir Inoue. Dilangkahkan kakinya ke pintu keluar dengan Chizuru yang berada di belakangnya.

Di salah satu bilik toilet. Ada seseorang yang mendengar percakapan tadi dengan muka cemas.

.

.

.

"Kumohon tolong hentikan, Senpai…" kedua mata Hitsugaya berkaca-kaca. Dia nggak mau di lakukan seperti ini lagi. Gin dan Hisagi yang melihat tatapan melas Hitsugaya malah tambah menyeringai. Tampang polos yang mengundang.

"Ck! Posisi seperti ini sangat menyiksa," Hisagi berdecak kesal. "Gin, buka talinya. Kita bawa ke tempat duduk di samping sana." Hisagi menunjuk salah satu tempat duduk bersofa yang terletak di ujung belakang ruangan perpustakaan itu.

Gin melepaskan tali yang mengikat Hitsugaya. Kemudian dituntunnya cowok mungil itu ke tempat duduk yang dimaksud Hisagi tadi. Setelah sampai di tempat duduk itu. Dihempaskannya Hitsugaya ke tempat duduk.

Kedua cowok itu saling pandang. Dihampirinya Hitsugaya. Kemudian dengan gerakan tiba-tiba. Gin mencekal kedua tangan Hitsugaya di belakang punggung. Hisagi tidak membuang kesempatan itu. dilepaskannya dasi yang dipakai Hitsugaya. Kemudian satu persatu kancing kemeja Hitsugaya dibuka. Gin juga tidak tinggal diam. Dilepaskannya blazer yang dipakai Hitsugaya. Dan dienyahkan di lantai.

Hitsugaya panik. Yang lalu dia di rape oleh seorang. Sekarang di rape oleh dua orang yang kalau dipikir dengan akal sehat nggak bakal ada tenaga kalau dia melawan.

Hitsugaya bergidik. Lidah Gin menyapu tengkuk belakang lehernya. Dipejamkan kedua matanya rapat-rapat. Berharap seseorang menolongnya dari situasi ini.

.

.

.

"Rangiku chan…," Isane berlari terbirit-birit ke temannya itu. Kedua alis Matsumoto mengerut. Heran.

"Kenapa lo?"

Isane menarik napas panjang. Napasnya terengah-engah karena berlari.

"Tadi waktu gue ke toilet. Gue denger pembicaraan, Orihime senpai…," kepalanya celinggukkan ke kiri-kanan. Suaranya dipelankan agar hanya Matsumoto yang mendengarnya.

Matsumoto terenyak. "Gila lo! Kalau dia sampai tahu bagaimana? Sudah nggak sayang nyawa lo?" pertanyaan bertubi-tubi itu keluar dari mulut Matsumoto. Dia juga celinggukkan kiri-kanan.

Satu jari telunjuk berada di bibir Isane. "Sssh… ini penting. Kalau nggak penting ngapain juga gue nguping,"

"Memangnya ada apa?" suara Matsumoto memelan.

"Hitsugaya san sepertinya dalam bahaya. Dan itu karena perbuatan Orihime senpai," ujar Isane. Nada suaranya mulai panik.

Kedua mata Matsumoto terbelalak lebar.

"Kau tidak salah dengar kan… Isane?" suaranya tercekat.

"Yee… malah meragukan kemampuan ngupingku lagi!" disaat seperti ini masih sempat-sempatnya Isane bercanda.

"Lebih baik kita beritahu Yoruichi-sensei."

Isane tersentak kaget.

"Gila lo! Kalau Orihime senpai nanya sama Yoruichi sensei yang beritahu siapa? Bakal nggak selamat hidup kita di sekolah ini mulai besok seperti Hitsugaya-san."

Matsumoto menepuk jidatnya. Sumpah! Dia nggak mau berurusan dengan Senpai-nya yang itu. Terus bagaimana? Masa mau beritahu teman-teman sekelas kalau Hitsugaya dalam bahaya. Pasti mereka pada nggak mau. Pasti mereka bakal bilang, 'Gomen! Gue masih mau hidup tentram di sekolah ini.'

Terus bagaimana? apa yg harus mereka berdua lakukan...

.

.

.


To be continued…