DISCLAIMER : It's none of my character, it's all belongs to Mrs. J.K Rowling. Stories are mine. I take no profit in this fic. Kalau Harry Potter buatanku sudah dari dulu kupasangkan Hermione dengan Draco.
WARNING : Banyak typo, eyd berantakan – walau sudah berusaha biar gak ada tapi tetep aja membandel - . Character OOC. Kuharap chapter ini tidak membosankan kalian. Enjoy The Fiction guys, xo.
A/N: Sudah lama sepertinya aku enggak meng-update fict ini. Maaf atas kelambatannya. Well, terimakasih banyak kepada semua yang mengikuti fict ini dari pertama sampai di postnya fic ini. Terimakasih juga kepada yang telah Follow/Fave dan me-review fict ku ini juga. Baiklah, tidak banyak bicara lagi, langsung ke-fictionnya saja. *smile*
"HERMIONE!"
"DRAKE!"
.
.
Mendengar teriakan yang memekik kedua ketua murid itu menghentikan aktivitas mereka. Napasnya masih terengah-engah dan penampilannya sudah berantakan. Rambut Hermione dan Draco sudah acak-acakan, kedua kancing kemeja Draco sudah terbuka. Wajah Ron seketika memerah semerah rambut Weasley-nya. Draco hanya melemparkan seringaian kemenangan.
"He-hey Ron! A-apa yang kau lakukan disini?" Tanya Hermione kikuk.
"Seharusnya aku yang bertanya itu padamu, Granger! Seharusnya kan kau berada di asrama mu tapi apa? Aku melihat mu berciuman panas dengan si ferret busuk ini hah?" Bentak Ron.
"Jangan-membentaknya-seperti-itu, Weasel!" Sanggah Draco berang.
"Apa hak mu ferret?! Aku ini kekasihnya! Aku berhak melarangnya dari segala kejahatan termasuk kau!" Bentak Ron tepat di muka Draco. "Aku tak menyangka Hermione, kau akan melakukan hal itu dengannya! Kau berselingkuh di depan mataku hah? Kekasih macam apa kau ini?!"
"Aku tak menyangka kau benar-benar bermuka tebal Ronald! Kau masih menganggap ku kekasih mu hah? Oh ya, Draco jauh lebih baik darimu! Kau ingin apa sekarang, Ron?" Ucap Hermione tak kalah berteriak saking kesal nya.
"Dia?! Si ferret pirang ini? Lebih baik dariku? Hah, kau sama saja ternyata dengan wanita lain yang ingin di dekat nya hanya karena ke tampanan, kekayaan dan ke populerannya! Kau sama saja dengan para gadis yang akan dibuang sia-sia oleh si ferret ini! Kau lupa Hermione dia musuh terbesar kita! Dia adalah mantan pelahap maut! Ku pikir kau cukup pintar untuk tidak terperangkap ke dalam neraka, ternyata kau sama bodohnya!"
"Bukan urusanmu Weasel! Kau tak mengenal ku dan Hermione mengenal ku! Tutup mulut mu jika kau tak tahu apa pun tentang ku atau Hermione! Apa aku menginginkan hah menjadi pelahap maut? Apa aku punya pilihan lain? Kau tidak lebih pintar dariku atau pun Hermione! Jangan belaga tahu segala, Weasel!" Ujar Draco dengan nada dingin nya yang khas.
Ron yang sudah naik pitam tak segan-segan langsung memukul tepat di wajah Draco sampai lelaki ber surai pirang itu tersungkur jatuh tanpa perlawanan apa pun.
"Tak kusangka. Malfoy yang seperempat hidupnya memanggil dia mudblood sekarang ingin mengotori darahnya yang agung?!"
Hermione menampar wajah sebelah kanan Ron. Ia sangat sakit hati dan sedih. Tak disangka-sangka Ron akan sekasar itu padanya. Secara tidak langsung Ron menyatakan dia adalah lumpur yang akan mengotori Draco, benarkan? Hermione menangis seketika, ia tak kuasa menahan tangisan nya lagi.
"Aku ingin kita putus Ron! Dan ya aku berselingkuh dengan Draco. Aku sangat senang kau tahu akhirnya. Jaga Lavender tersayang mu, Weasley! Kita berakhir sampai di sini! Selamat malam."
Hermione melengos pergi dari tempat itu. Draco melemparkan death glare-nya pada Ron. Pansy dan Astoria yang dari tadi diam sekarang ter sadar dengan apa yang terjadi.
"Drakie? Kau sudah gila? Kau benar-benar ingin mengotori keturunan pureblood-mu? Oh atau kau sedang bermain-main dengan little mudblood itu?" Tanya Pansy.
Draco hanya mendengus jijik memandang ke empat orang di koridor tersebut, lalu ia meninggalkan mereka. Langkahnya di buat cepat untuk menyusul Hermione yang sudah pergi duluan. Kemudian setelah Draco sampai di ketua murid dormitory ia melempar tubuhnya dengan kasar ke sofa panjang yang berwarna hijau zamrud. Hermione yang sedang terduduk lemas langsung menghampiri Draco dan melihat luka memar di sekitar ujung bibirnya.
Hermione menyentuh luka memar itu dan Draco hanya mengernyit kesakitan.
"Apa itu sakit?" Tanyanya dengan nada khawatir.
"Tidak begitu sakit, tak apa-apa."
"Kau ini kenapa tidak melawan huh? Biasanya kau akan melawan siapa pun jika kau diperlakukan seperti ini. Kenapa kau diam saja?" Tanya Hermione sambil mengobati memar tersebut.
"Karena aku … aku…" Kata Draco sambil sesekali mengernyit.
"Ya? Kau kenapa?"
"Aku tidak ingin menyakiti mu, Hermione."
Hermione tercengang kaget. Ia melotot tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Jangan menatap ku seperti itu. Aku tau si Weasel bodoh itu masih kau anggap sahabatmu, bukan? dan jika aku melawannya kau malah akan berbalik membenciku, setidaknya aku tidak mau menyakiti sahabatmu."
"Draco, aku… aku tak tahu harus berkata apa tapi terima kasih. Aku tak menyangka kau melakukan ini untuk ku."
"Entah lah, memang aku juga merasa aku layak mendapat pukulan itu. I was a bastard."
Hermione hanya menatap pria itu dengan tatapan sendu. Selama ini Draco yang biasanya mengejek, menghina dan menindas kini berubah menjadi pria yang baik dan mungkin menyedihkan. Draco hanya tersenyum kecut pada Hermione. Draco menepuk sofa yang masih memiliki space untuk menyuruh Hermione ikut berbaring di sebelah nya. Hermione hanya memandangnya dengan ragu dan bingung tetapi saat ia menatap mata biru kelabu itu, hatinya menjadi luluh dan akhirnya ia menuruti kemauan Draco. Kemudian Hermione menaruh kepalanya di dada bidang Draco dan mendekap tubuh Draco. Ia bisa mencium aroma maskulin dan vanilla menyeruak dari tubuh Draco. Ia juga bisa mendengar detak jantung Draco yang menenangkan emosi nya. Draco memainkan rambut ikal Hermione dan membelai nya sesekali. Aroma strawberry dari rambut Hermione memanjakan indra penciumannya. Ia tidak tahu apakah hal ini benar-benar terlarang atau tidak tapi ia tidak mau ambil pusing. Ia bahagia di dekat Hermione, ia merasakan kehangatan yang sudah lama menghilang darinya selama ini, ia menemukan rumah baru untuknya dan kali ini ia tak akan melepaskannya begitu saja.
"Apa… kau merasa lebih baik sekarang Herm?" Tanya Draco.
"Entah lah Draco, aku tidak tahu. Aku ingin menanyakan sesuatu padamu, Draco."
"Apa itu?"
"Apa kau pernah merasakan seperti kupu-kupu beterbangan dalam perutmu? Atau mungkin kau merasa sesuatu tidak berjalan normal jika kau berdekatan dengan seseorang?" Tanya Hermione polos.
"Jujur saja, ya. Aku merasakan hal itu setiap aku berada di dekat mu. Aku tidak mengerti. Aku merasa ini hal yang paling benar yang pernah aku lakukan dalam hidupku. Aku tak pernah merasa sebahagia ini hanya berada di sini – di samping mu. Mengapa kau bertanya seperti itu?"
"Well, aku juga merasakan hal yang sama Draco. Entah lah, aku belum pernah merasakan hal ini sebelumnya bahkan ketika aku di dekat Ron atau pun Viktor aku hanya … ya aku tidak merasakan hal seperti ini." Papar Hermione. "Apa menurut mu tadi aku keterlaluan Draco? Aku tak tahu apakah aku melakukan kesalahan atau tidak. Rasanya begitu sakit ketika mendengar teman terbaiku memanggil ku mud – "
"Ssh… jangan lanjutkan pernyataanmu. Dia berhak mendapatkan tamparan itu, Hermione. Kau lelah?"
"Ya, sangat lelah, Draco. Aku ingin tidur tapi aku sepertinya tak punya cukup tenaga untuk ke kamarku." Ujar Hermione sambil menghela nafas berat.
"Kita tidur disini saja. Aku terlalu malas untuk memanjat tangga dan ganti baju."
Draco membuka kemeja beserta dasi nya. Ia terbiasa tidur bertelanjang dada. Hermione yang berada di dekatnya seketika terpaku melihat tubuh atletik Draco. Ia ingin sekali menyentuh dada bidangnya, menciumi setiap jengkal tubuh Draco dan merasakan sentuhan Draco.
"Menyukai apa yang kau lihat, sweetheart?" Tanya Draco sambil menyeringai.
"Uh-huh? Eh– Apa ? uh, tidak! Aku hanya tidak percaya kau berani sekali tidak memakai baju di hadapan wanita! Mana mungkin aku menyukai nya!" Cerocos Hermione membela diri.
"Kau tahu sungai Nil, Hermy? De Nile! Berhentilah berperilaku hipokrit Herm!"
"Terserah kau saja lah." Ucap Hermione sambil memutar bola matanya.
Draco merebahkan diri di sebelah Hermione. Mereka telah memperbesar ukuran sofa itu untuk mereka tiduri malam ini. Mereka dalam posisi berhadapan. Sengaja atau tidak sengaja Draco mengelus pipi Hermione, kemudian ia menyentuh kelopak mata Hermione, Hidung nya dan terakhir hinggap di bibir menggoda Hermione. Mereka saling bertatapan seolah bicara dari hati ke hati lewat tatapan mata. Entah setan apa yang sedang merasuki keduanya, mereka berdua berciuman kembali. Draco kali ini mencium Hermione dengan lembut dan penuh perasaan. Ciuman lembut itu berubah menjadi ciuman yang penuh nafsu. Lidah mereka saling bergulat – saling mendominasi. Lengan Draco mengusap punggung Hermione. Hermione bangkit tanpa melepaskan ciuman panas mereka, Hermione sudah berada di atas tubuh Draco. Draco yang sudah merasa nafsu binatang nya tumbuh, ia melepas ciumannya dan menatap Hermione yang terengah-engah.
"What a mind-blowing kiss! But Hermione… jika kita melanjutkan nya, aku tak tahu apa yang akan terjadi. Aku tak mau mengambil apa yang bukan hak-ku. Setidaknya aku akan bersabar menunggu."
"umm… maafkan aku, Draco. Aku –"
"Sudah, tidak usah dibahas. Aku tidak akan menyalahkan mu. Seperti yang ku bilang, aku akan menunggu sampai kau sendiri yang memintanya."
Hermione turun dari tubuh Draco dan membaringkan dirinya di sebelah Draco. Mereka dalam posisi bertatapan–lagi. Ada kesungguhan di setiap sorot mata kelabu Draco dan … hal lain yang Hermione belum bisa ia artikan. Draco hanya mengelus pipi Hermione dan tersenyum tulus padanya.
"Mengapa kau mau menunggu ku Draco?"
"Kau pernah bilang kau ingin menikah dalam keadaan virgin bukan? Dan kau bilang kau akan memberikan yang terbaik untuk yang terakhir. Aku belum pernah mendengar pernyataan itu tapi aku sangat menghargainya. Kau berbeda Hermione dan aku menyukai nya. Jadi, aku akan menunggu untuk yang terbaik."
"Kau pikir aku mau menikahi mu?" Tanya Hermione dengan terselip nada humor.
"Yeah, mungkin. Perasaan seseorang berubah-ubah seperti cuaca maupun musim. Aku juga tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Mungkin saja kita akan menikah atau mungkin kita menjalani hidup masing-masing. Tidak ada yang tahu bagaimana masa depan nanti terkecuali si Nyentrik Trelawney."
Hermione mengangguk. Hermione memainkan jarinya di dada bidang Draco, sedangkan Draco kembali memainkan rambut Hermione. Beberapa menit tidak ada seorang pun yang berbicara sampai akhirnya Hermione memecah keheningan diantara mereka.
"A-apa… apa alasan mu melakukan semua ini? Apa alasan kita melakukan ini semua. Kita seperti sepasang kekasih."
"Aku tahu, aku juga tidak mengerti. Mungkin aku menyukai mu tapi aku … aku tidak tahu apakah aku mencintaimu atau tidak."
"Kalau begitu aku setuju denganmu."
"Jadi… kau menyukai-ku juga?"
Hermione mengangguk pelan. Draco tersenyum kembali, lalu ia menarik tubuh Hermione untuk ia dekap. Hermione menguburkan wajahnya di dada bidang Draco sedangkan Draco hanya memeluk tubuh mungil Hermione.
"Aku senang mengetahuinya dan aku pikir waktunya kita tidur. Tomorrow will be a big day."
"Goodnight, Draco."
"G'night Hermy."
Draco mengecup dahi Hermione, kemudian ia mematikan cahaya lilin-lilin yang menerangi ruangan dan memejamkan matanya.
Pukul 07:00 a.m
Great Hall.
Hermione dan Draco memasuki aula besar dengan saling memegang tangan. Semua mata tertuju pada kedua ketua murid itu. Ada yang menganga, ada yang berbisik – bergosip ria dan ada yang memandang dengan tatapan seolah keduanya pasangan yang cocok. Harry tersedak jus labunya sedangkan Ginny mengucek matanya. Ron medengus jijik dan wajahnya memerah seperti kulit apel.
"Ron apa aku salah melihat? Sepertinya aku harus ganti kaca mata." Papar Harry.
"Tidak, apa yang kau lihat itu benar, Harry! Hah, menjijikkan."
Hermione melirik ke arah dimana Ron dan teman-temannya duduk. Ia menyeringai melihat wajah merah Ron yang nyaris menyamai rambutnya. Draco ikut menyeringai melihat seisi aula tertuju padanya dan gadis yang sedang ia gandeng.
"Kau mau kita duduk dimana?" Bisik Draco.
"Aku pikir lebih baik saat ini kita duduk di meja khusus ketua murid saja. Aku tak mau menjawab pertanyaan yang akan ter lontar dari teman-temanku terlebih aku tak mau melihat wajah Ron saat ini."
"Okey."
Mereka berdua duduk di meja ketua murid – yang berada di dekat meja para guru. Pada awalnya mereka berdua merasa canggung tapi saat Draco melihat reaksi Harry dan Ron atas tindakan mereka berdua ia memutuskan untuk memainkan perannya – sebagai kekasih Hermione.
"Kau harus mencoba ayam kodok-ku, Hermine."
"Hermine?" Tanya Hermione dengan nada bingung.
"Ya, panggilan sayangku untukmu, let's say it's a pet name."
"Begitukah? Memangnya kenapa harus seperti itu? Biasanya kau akan memanggilku berang-berang dan kau mengatakan pada teman-temanmu bahwa ferret and otter itu panggilan pet name kita, huh?"
"Itu berbeda. Ya aku bisa saja memanggil-mu otter ketika kau menyebalkan, miss-know-it-all."
"Kau lebih menyebalkan dan setahuku kau juga Mr know-it-all, Draco."
"Terserah kau saja." Ucap Draco sambil memutar kedua bola matanya.
Selama sarapan pagi di aula, Draco dan Hermione terlihat sangat dekat dan mesra sekali. Draco kadang menyuapkan makan untuk Hermione atau tangan Draco yang tidak terlepas dari genggaman Hermione dan sesekali keduanya tertawa bahagia. Pansy dan Astoria jengah melihat kedekatan mereka berdua. Pansy merapatkan rahangnya dan mengepalkan tangannya. Ia kesal bukan kepalang. Astoria membuat wajah yang cemberut dan terlihat kecut. Tiba-tiba saja otak licik Pansy mengeluarkan cahaya bohlam – ia mendapatkan ide untuk mengerjai Hermione, tepatnya menjauhkan Draco dengan Hermione – kemudian Pansy menyeringai dan aura gelap mengelilingi tubuhnya.
"Tori, aku punya ide. Kau temui aku di dungeon saat makan siang. Aku butuh bantuan mu dan kali ini si mudblood itu tidak akan dekat-dekat dengan Slytherin Prince kita!"
"Apa yang akan kau perbuat Pans?"
"Kau akan melihatnya nanti!"
Astoria hanya meneguk ludahnya. Ia tahu sesuatu yang buruk akan terjadi pada Hermione. Dalam lubuk hatinya ia menyukai Hermione karena kecerdasannya dan kebaik-hatian nya terlebih Hermione adalah pahlawan perang namun di sisi lain ia mencintai Draco dan Hermione dekat dengannya maka dari itu ia mendekati Pansy untuk mendapatkan Draco yang malah menjuruskannya ke jurang kehancuran. Ia salah, ia seharusnya tidak mengikuti Pansy dan mendapatkan Draco dengan cara ia sendiri tetapi nasi sudah menjadi bubur. Jadi ia harus tetap melanjutkan semua yang telah ia mulai, bukan begitu? Astoria hanya terdiam dan menatap bacon yang ia makan.
Bell telah berdering pertanda jam pertama pelajaran akan dimulai. Seluruh murid keluar dari aula besar secara teratur menuju kelas mereka melalui koridor-koridor panjang Hogwarts. Ketika Hermione dan Draco sedang berjalan, suara seorang laki-laki menginterupsi keduanya.
"Hermione! Malfoy! Tunggu!" Teriak suara itu.
Keduanya menoleh dan mendapatkan Harry, Ginny, Seamus dan Cormac – yang anehnya mengikuti ketiga teman Hermione – sedang berlari mendekati mereka.
"Ada apa Harry?"
"Umm, aku ingin kau menjelaskan semua ini. Aku… aku tidak mengerti mengapa kau bertingkah seperti -"
"Seperti sepasang kekasih?" Potong Draco.
"Err, ya maksudku itu," ujar Harry.
"Mereka berpacaran Harry. Hah, tak kusangka dia akhirnya mau berbagi dengan Death Eater atau mungkin ia jadi pengkhianat juga?" Sanggah Ron yang tiba-tiba ikut menjawab.
"Kau berpacaran dengannya Hermione?" Pekik Harry sambil melotot.
"Ya, memangnya kenapa? Dan kau Ron siapa yang pengkhianat huh? Seharusnya kau lah berhak disebut seperti itu! Aku muak padamu Ronald!"
"Apa? Kau sedang bermimpi Granger! Kau lah yang berkhianat! Kau berciuman panas di koridor malam itu, malam yang seharusnya kalian tidak berpatroli dan kau diam-diam selingkuh Granger!" bentak Ron.
Hermione hilang kesabarannya. Ron benar-benar minta di avada rupanya. "KAU! KAU TIDAK SADAR HAH? AKU TAHU SELAMA INI KAU MENJALIN HUBUNGAN DENGAN LAVENDER DIBELAKANG KU! AKU MELIHATMU DI DANAU, DIKORIDOR DAN AKU JUGA TAHU APA PERCAKAPANMU DENGANNYA! KAU MAU MEMUTUSKANKU UNTUK LAVENDER! BUKANKAH KAU YANG PENGKHIANAT HUH? KAU YANG SELINGKUH RONALD DAN KITA SUDAH TIDAK ADA APA-APA! DAN KAU TAHU YANG PALING MENYAKITKAN? SAAT KAU BILANG AKU MUDBLOOD! YES, I AM A MUDBLOOD SO WHAT RONALD?" Teriak Hermione menggelegar dengan satu tarikan nafas.
Seluruh murid terdiam – menghentikan segala macam aktivitas mereka. Entah yang sedang berjalan atau berlari-lari – dan semuanya menatap Ron dengan padangan tidak percaya. Mendengar apa yang dikatakan Hermione, Ron terasa tersiram air es dari kutub utara. Ia ikut terdiam dan membeku.
"Bloody Hell, Hermine. Bagaimana kau bisa berteriak dalam satu tarikan nafas dengan rentetan kata yang panjang seperti itu?" Celetuk Draco terselip nada kaget – walaupun ia mencoba untuk menjaga ke Malfoy-an nya.
Hermione hanya menyeringai yang membuat Draco begidik dan senang bukan main. Tanpa tedeng aling-aling Hermione mencium kilat Draco.
"kita bertemu lagi jam 11.00 siang Dray, sebaiknya kau cepat pergi ke kelasmu sekarang atau Snape akan melempar buku keatas kepalamu."
"Hah, aku bisa mengatasi Snape, Hermine. See you, love."
Draco pergi dari kerumunan orang di tempat itu dan menuju kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam. Ia melangkah sambil menyeringai dan bersiul riang. Sedangkan di tempat lain Hermione yang masih berada di koridor, ia di bombardir pertanyaan oleh Harry dan Ginny – Well, sebenarnya Ginny yang lebih banyak bertanya.
"Mengapa kau tidak memberi tahu kami Hermione?"
"Aku tahu ini gila tapi aku benar-benar menyukainya, Gin. Aku ingin memberikan kalian kejutan besar dan ya aku tahu kau dan Harry akan membenciku karena pria yang aku pilih adalah Draco."
"Sejujurnya aku tidak marah ataupun membencimu Mione. Aku tahu, ada sesuatu diantara kalian jadi ya aku tidak begitu kaget dengan semua ini," papar Ginny. "Lagi pula kau berhak mendapatkan yang lebih baik Hermione. Aku benci mengetahui Ron mengatakan hal itu padamu. Atas nama keluargaku aku meminta maaf, Mione. Aku menyesal dengan apa yang telah dia perbuat padamu."
Hermione tersenyum pada sahabat perempuannya – Ginny. Ia tidak mau mengatakan apa-apa. Ia takut ia akan salah berbicara terlebih hatinya masih sakit mendengar kata itu keluar dari mulut Ron.
"Mione, aku tahu ini sulit untukmu. Aku akan berbicara dengan Ron nanti, " ujar Harry menenangkan Hermione. Ia tahu Hermione merasa sedih atas segala yang Ron perbuat.
"Thanks Harry."
Harry tersenyum pada temannya. Sedangkan Ron dan Lavender berjalan jauh dari jarak Harry, Hermione dan Ginny. Ron merasa bersalah karena dia kelepasan mengatakan kata kasar itu, ia juga merasa bersalah karena Hermione mengetahui segala yang ia sembunyikan dengan rapi. Sekarang ia malah marah-marah ketika mengetahui Hermione menjalin hubungan dengan pria lain. Bukan kah itu seharusnya bagus? Tapi, mengapa separuh dari dirinya tidak rela jika Hermione bahagia dengan lelaki pilihannya. Ron menghela napas dan Lavender hanya mengusap-ngusap punggung Ron.
"Sudah ku katakan untuk memberitahunya sebelum ia menemukannya sendiri, Won-won."
"Aku tahu ini salahku, Lav. Aku … menyesali ini semua."
"Maksudmu kau menyesal karena kau menjalin hubungan denganku?"
"Bu-bukan itu. Maksudku aku menyesal karena tidak memberitahu Hermione dan memutuskannya, aku menyesal memberikan ia harapan palsu untuknya dan aku menyesal atas sikapku tadi malam."
"Tapi – tapi itu bukan seluruhnya salahmu, Won-won. Kau sedang marah dan melihat teman dekatmu make out dengan musuh bebuyutanmu. Aku pun akan begitu jika mengetahui hal itu."
Ron hanya memandang Lavender dan tersenyum kecut. Seluruh murid tahun ketujuh dan keenam mulai memandang Ron dan Lavender dengan tatapan jijik atau meremehkan. Mereka tak habis pikir jika kedua manusia itu memperlakukan Hermione – sang pahlawan perang – yang selalu ada dan berjuang bersama di perlakukan tidak baik seperti itu. Ron semakin merasa bersalah dan bodoh. Apa sebaiknya ia harus meminta maaf padanya? Tapi ia tak bisa begitu, keegoisannya karena Draco menjadi penggantinya mengurungkan niatnya. Ia tetap bersikukuh tidak akan meminta maaf.
Hermione memasuki kelas ramalan beserta Harry, Ginny, dan yang lainnya. Harry mengamati Ron dan Lavender. Sebenarnya Harry tidak terkejut dengan surprise besar Hermione. Ia tahu kalau Malfoy sudah menaruh hati untuk Hermione. Ia juga melihat Malfoy sudah berubah dan ia harus belajar dewasa untuk menerima dan meninggalkan masa lalu yang begitu kelam.
Professor Trelawney sedang meramal Hermione. Ketika ia memegang tangan Hermione, ia bergetar dan menatap Hermione.
"Professor, apa yang anda lihat di ramalannya?" Tanya Hermione.
"Kau akan mendapatkan berbagai masalah. Ada beberapa orang yang akan mengganggumu. Aku belum bisa menembus masa depanmu."
"Umm.. kau tahu siapa orang itu atau dari mana mereka berasal?"
"Slytherin." Ucap Trelawney singkat tanpa penjelasan lain.
Hermione membelalakan matanya. Slytherin? Siapakah mereka? Apa karena mereka tidak menyukai hubungannya dengan Draco? Hermione tidak mau memikirkan hal itu. Apapun masalahnya akan ia hadapi walaupun mungkin akan berat. Ia pernah dalam masa-masa yang paling sulit saat perang jadi ia bisa menghadapi apapun masalah yang akan menimpanya nanti.
Meanwhile in Slytherin dungeon…
"Pans, aku melewatkan kelas Transfigurasi sebenarnya apa yang sedang kau perbuat?" Tanya Astoria.
"Melewatkan kelas sesekali tidak masalahkan? Kau bukan si mudblood kutu buku itu!"
"Tap – Tapi Pansy nanti teman-teman akan menanyakan kemana kita pergi."
"Sudah! Ikuti saja perintahku!" Bentak Pansy.
Pansy menarik Astoria pergi kesebuah toko muggle di pinggiran London. Toko itu menjual bahan-bahan kimia. Pansy dan Astoria memasuki toko itu dan langsung menghampiri penjaga yang berdiri di belakang etalase yang ada di toko tersebut.
"Selamat pagi, ada yang bisa di bantu?"
"Mmm… kau menjual bahan ataupun ramuan untuk membuat kulit mengerut dan berjerawat berlebihan?"
"Well, Aku tahu beberapa bahan kimia yang mampu membuat kulitmu mengerut keriput dan terasa panas tapi untuk berjerawat aku tidak tahu. Aku tidak mau menjualnya walaupun kau membayar berapapun itu berbahaya."
"Ini … tugas sekolah jadi beritahu saja nama bahannya dan aku akan mencatatnya."
Si penjual menyipitkan matanya mengamati Pansy beberapa saat namun setelah itu ia memberitahu nama zat kimia tersebut.
"Mercuri, Natrium Benzoat dalam jumlah berlebihan bisa menyebabkan beberapa penyakit serta alergi pada kulit dan ya Baking soda seperti Natrium Bikarbonat bisa menyebabkan bengkak pada kaki, sakit kepala, kelelahan dan ingin buang air kecil terus, itupun jika kau tidak mengikuti sesuai aturan yang ditetapkan."
"Okay kalau begitu … Stupefy!" Serang Pansy tiba-tiba.
Si penjual bahan kimia itu langsung tergeletak pingsan. Pansy langsung menarik Astoria untuk masuk kedalam penyimpanan bahan-bahan tersebut.
"Kau cari bahan-bahan tadi dan aku jaga-jaga! Cepat!"
"Kau mau bahan yang mana?"
"Ambil saja yang bernama depan Natrium atau apalah itu aku tak tahu nama aneh itu."
Astoria menggangguk. Ia masuk kedalam dan mencari bahan tersebut. Matanya menangkap tulisan Natrium Benzoat dan Natrium Bikarbonat. Ia bingung, jadinya ia ambil keduanya. Bungkusan itu terbungkus plastik dan di ikat oleh karet. Setelah dapat, Astoria menyelipkan kedalam ke jubahnya dan langsung keluar dari tempat itu.
"Aku sudah dapat Pans, sekarang kita pergi."
Pansy mengangguk dan memegang tangan Astoria yang langsung ber-apparate. Pansy dan Astoria sudah berada di Hogwarts dan menyelinap ke asrama Slytherin. Pansy memaksa Astoria untuk berdiam di kamar Pansy.
"Oh Lord! Serbuk ini bisa membuat wajah si mudblood kepanasan dan menjadi tambah jelek! Aku tak sabar melihat reaksi si mudblood itu!"
"Mau kau apakan serbuk ini Pans?" Tanya Astoria penasaran.
"Kau pegang yang ini – Bikarbonat – dan aku pegang yang ini – benzoat – nanti buka pengikatnya lalu taburkan ke wajah si mudblood atau kalau bisa campurkan ke makanan dan minumannya ketika makan siang."
"Kau yakin ingin melakukan ini Pans? Bagaimana jika ketahuan?"
"Aku mulai meragukanmu Tori. Sebenarnya kau Slytherin atau Hufflepuff hah? Ck, kau ini tolol sekali."
Astoria geram dengan perkataan Pansy. Ia tidak terima disebut tolol oleh Pansy. Menurutnya Pansy lah yang lebih ceroboh dan ber-IQ rendah jadi ia merebut bahan itu dari tangan Pansy dengan kasar.
"Baiklah aku akan melakukannya tapi jika gagal maka kau lah yang tolol dan aku tak mau tahu kau yang harus menanggung akibatnya."
"Kau ikut bersama ku juga Greengrass jadi kau juga ikut serta nanti jika kita gagal."
"Parkinson si dog-pug betina jelek," gumam Astoria.
"Apa kau bilang? Kau berkata sesuatu tadi."
"Hah? Amm, aku tadi bilang si mudblood itik jelek."
Pansy mengangkat sebelah alisnya lalu ia mengangkat bahunya dan berjalan meninggalkan Astoria sambil serbuk Benzoat di tangannya.
"Astoria, kau mau ikut tidak hah? Sebentar lagi makan siang dan saatnya kita beraksi."
Astoria hanya mengikuti Pansy sambil memutar bola matanya. Mereka berdua keluar dari asrama Slytherin. Selama di perjalanan mereka berdua begulat membuka ikatan karet yang melilit pada plastik tersebut.
"Muggle bodoh, mengapa mereka repot-repot melilitkannya sesulit ini," gerutu Pansy.
Ketika mereka selesai membuka lilitan karetnya, bell pun berbunyi dan murid-murid berhamburan keluar kelas. Tiba-tiba murid tahun ke tiga dari asrama Hufflepuff dan Ravenclaw menubruk Pansy dan Astoria dengan keras sampai jatuh kelantai secara tidak elit. Plastik tersebut yang jelas-jelas masih terbuka bebas di tangan mereka langsung isinya berhamburan dan mengenai wajah Pansy dan Astoria. Bubuk-bubuk putih itu menghiasi wajah keduanya. Pansy menggosok-kan telapak tangan kewajahnya bermaksud membersihkan kotoran dari wajahnya.
"Ew! Menjijikkan! Heh kau! Jangan lari bodoh! Kau lihat wajahku jadi seperti ini! Dasar toloooool!" Pekik Pansy.
Murid-murid semakin datang lebih banyak dan tersentak kaget melihat wajah Pansy dan Astoria. Semuanya jadi membuat kerumunan di koridor tersebut. Hermione yang baru saja keluar dari kelas melihat kerumunan tersebut langsung menghampirinya dan melihat kejadian yang jarang ditemukan.
"Parkinson, Greengrass? Mengapa wajah kalian … um … terlihat aneh? Kalian memakai bedak terlalu banyak," ucap Hermione yang mati-matian menahan tawa.
"Diam mudblood! Ini semua salahmu bodoh!" Bentak Pansy.
"Hey! Hey! Ada apa ini? Mengapa semua berkerumun seperti ini? Apa yang – Pansy? Tori? Apa yang kalian lakukan?" Ucap Draco yang baru saja keluar kelas.
"Kau tak lihat aku sedang apa hah? Aku terjatuh! Hufflepuff bodoh menabrakku sampai terjatuh!"
"Dan Ravenclaw yang katanya pintar juga mendorongku sampai ikutan jatuh seperti Pansy."
"Tapi … mengapa wajah kalian dipenuhi serbuk putih tersebut? Well, sekarang kulit kalian mulai memerah," papar Draco sambil cengar-cengir.
Pansy dan Astoria berdiri lalu mereka berdua melihat satu sama lain dan saling menertawakan masing-masing lalu terdiam.
"Kau terlihat bodoh Pansy! Wajah mu! Jika Creevey disini aku berani membayar 100 galleon untuk menyebar luaskan wajahmu!"
"Diam Greengrass! Kemana wajah sok cantik mu itu hah? Kau juga sama saja terlihat bodoh! Menyebalkan!"
Draco dan Hermione mengangkat sebelah alisnya dan mengamati kedua orang yang membuat onar tersebut. Pansy dan Astoria tak lama mulai menggaruk wajahnya dan mengipas-ngipasnya.
"Sial, wajahku terasa panas dan gatal sekali," gerutu Astoria sambil garuk-garuk.
"Tunggu, kalian terasa panas dan gatal? Ini … ini bukan bedak," ucap Hermione.
Kemudian ia mendekat dan menyentuh serbuk yang bertaburan di lantai. Ia mencium bau aneh dan tekstur yang berbeda dari serbuk tersebut. Ia kemudian mencoba mengingat zat apa yang sedang ia pegang.
"Dari mana kalian mendapatkan serbuk ini?" Tanya Hermione.
"Bukan urusanmu Mudblood!"
"Potong 30 poin dari Slytherin! Sudah kubilang jangan panggil dia seperti itu! jawab saja dari mana kalian mendapatkannya!" Sergah Draco.
"Aku dan … Pansy membelinya di.. ahem.. di Chemical and Herbal store."
Hermione dan Draco membelalak. Mereka berdua tahu serbuk apa yang menghiasi wajah kedua Slytherin ini.
"Bagaimana kalian bisa bodoh hah? Ini Natrium Benzoat dan Bikarbonat. Seharusnya ini untuk zat makanan sesuai dosis yang ditentukan oleh dinas kesehatan Britania. Mengapa kalian membeli zat ini hah?" Tanya Draco.
"Aku… aku tak bisa mengatakannya padamu Drake. Aku menyesal," ucap Astoria lihir.
"Sudahlah Dray. Kalian berdua sekarang cepat ke Hospital Wing dan temui Madam Pomfrey. Aku yakin ia bisa mengobati mu," potong Hermione sebelum Draco emosinya terpancing.
Pansy dan Astoria pergi dari tempat itu. Hermione membersihkan sisa-sisa kekacauan yang dibuat duo Slyhterin itu. Murid-murid yang tadi mengeremuni akhirnya bubar sendiri dan memasuki aula besar untuk makan siang sedangkan Draco menunggu Hermione.
"Aku tak habis pikir mengapa mereka membeli itu dan dengan ceroboh menaburkannya ke wajah mereka. Apa mereka tidak tahu efek yang di timbulkan zat itu? benar-benar bodoh."
"Entahlah Dray, aku tidak tahu. Aku baru sadar dari mana kau tahu bahan kimia tersebut? Itukan muggle things."
"Aku hanya tahu. Aku pernah membacanya dalam buku. Memangnya kau saja yang tahu bookworm?"
Hermione hanya menyeringai mendapati jawaban Draco. Draco menatap Hermione dengan tatapan seolah 'apa maksud seringaianmu'. Tapi tatapan itu tidak mempan bagi Hermione. Mengalah dengan Hermione, ia menghela nafas dan merangkul Hermione.
"Oke, kau benar. Aku juga know-it-all tapi setidaknya aku bukan maniak pembaca buku sepertimu."
"Lebih baik seperti itu dari pada maniak…"
"Maniak apa?"
"Tidak jadi."
Draco menyipitkan matanya dan menyeringai mengetahui pikiran Hermione.
"Well, bersyukurlah aku bukan seorang maniak yang kau pikirkan tapi … ketika kita menikah nanti kau harus menyiapkan tenagamu setiap malam dan bangun tidur sayang."
Hermione tersipu malu dan memukul Draco perlahan sambil memalingkan pandangannya.
"Sudah aku lapar! Cepat ke aula sekarang. Aku tak mau membahas itu."
Draco terkekeh dan menjawil hidung Hermione. Mereka berdua berjalan menuju aula. Setelah sampai keduanya langsung duduk di meja ketua murid seperti tadi pagi.
.
.
Murid-murid sedang berbincang sambil makan siang. Ron dan Lavender masih menjauh dari kawanan Gryffindor lainnya. Hermione tidak memperdulikan Ron sedangkan Harry masih memikirkan apa yang harus ia katakan pada Ron. Keributan terhenti ketika kepala sekolah menaiki podium mereka.
"Attention! Ahem… ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan. 2 minggu kedepan kita akan mengadakan pesta seperti saat Yule ball tahun lalu namun kali ini, pesta ini dalam rangka menyambut tahun ajaran baru dan atas kemenangan kita serta kedamaian dunia sihir ini. Saya menyerahkan seluruh tema dan kelangsungan acara kepada Ketua Murid dan Perfek yang ada di Hogwarts. Hal yang kedua, sekolah kita akan ada Reuni dengan Beauxbatons dan Durmstrang saat pesta berlangsung. Dan yang terakhir ada pelajaran tambahan bagi murid tahun ke-enam dan ke-tujuh, yaitu muggle living and child care yang akan diajarkan oleh professor baru kita, Professor Helena Frasinetti. Pelajaran ini wajib diikuti dan informasi selanjutnya akan disampaikan oleh professor Frasinetti pada jam pelajaran. Sekian, terimakasih. Silahkan lanjutkan makan siang kalian."
Draco mendengus mendengar pengumuman tersebut. Ia menjadi teringat viktor yang saat itu menjadi kekasih Hermione. Ia kesal karena ia takut Hermione akan kembali pada Viktor. Nafsu makamnya hilang, ia menaruh garpu dan sendoknya.
"Kau kenapa Dray? Kau tidak menghabiskan makananmu?"
"Aku sudah kenyang aku akan kembali ke asrama, kau bisa menemui Potter dan Ginevra."
"Kau kenapa sih? Kau sakit?"
Draco hanya mengangkat bahu dan pergi begitu saja. Hermione mencelos dan tertunduk. Apa yang salah dengannya? Apa dia membuat kesalahan? Mengapa Draco tiba-tiba meninggalkannya dan mood-nya berubah seketika? Atau karena pengumuman tadi?
Hermione bangkit dari duduknya dan berjalan mengejar Draco. Namun saat di lorong yang sepi ia melihat seorang wanita berambut hitam pekat dan panjang sedang memeluk Draco dari belakang. Hermione langsung membeku dan marah seketika, ia kesal bukan kepalang.
"Draco! Ini alasan kau pergi hah? Aku benci kau…Malfoy!"
To Be Continued
Well, bagaimana menurut kalian? Jujur sih kurang sreg dengan chapter ini, mau di ubah tapi mood aku keburu hilang maafkan aku yaa … semoga kalian tidak kecewa dengan chapter ini. See you in next chapter – maybe - :D
Mind to RnR again? Tell me what you think! *smirk*
Thanks a lot to :
Reinaaa, A Princess Slytherin, La la la Dramione, PileliaDramione, khoirunnisa740, Adisti Malfoy, Miftah Khalidya, Lita Malfoy, Guest, NINA, LeEdacHi aRdian Lau, Wike ajah, Ms. Loony Lovegood, Ochan Malfoy, putims, ziah, ann, DeeMacmillan, echiprwth, Klasy Malfoy, esposa malfoy, NuriApriliya04, Shizyldrew, Ryunkzhi, rena, carra, etc.
Have a nice day ! :)
gothicamylee, xo.
