"Aku menyukai Kise! Dia belum menjawabnya karena dia masih memikirkannya." Ujar Aominecchi membuatku menghentikan langkahku dan memutuskan untuk mendengarkan dari balik tembok.

"Terserah kalian saja."

"Teme, kau benar-benar tidak menyukai Kise?"

"Kise… sejak awal hanya alat untuk menghabiskan waktuku saja."

Jadi begitu. Sejak awal aku hanya mainannya saja sampai sekarang. Tidak ada yang berubah. Kalung ini juga tidak berarti apapun. Sial aku mau menangis rasanya.

"Kise." Panggil Aominecchi. "Kau tidak… kau mendengarnya ya?"

"Aominecchi, aku sudah memutuskannya."

~Mine-chin~

"Seicchi." Panggilku saat Seicchi keluar kelas.

"Kenapa? Kau mau minta maaf ya?"

"Aku datang untuk memberitahumu." Ujarku sambil tersenyum palsu. "Aku akan berhenti berpura-pura jadi pacarmu. Terima kasih atas semua yang kau lakukan selama ini." Tambahku lagi. Aku dapat melihat Seicchi sedikit terkejut.

"Huh?"

"Dan… aku juga tidak akan mengejar Seicchi lagi. Rasanya melelahkan. Maaf karena aku sudah keras kepala."

"Begitu? Baiklah." Jawab Seicchi enteng.

"Iya. Aku sudah cukup senang bersamamu selama ini." Ujarku sambil membungkuk.

"Aku juga."

"Kalau begitu, samapai jumpa lagi~" ujarku berusaha terdengar riang dan pergi dari hadapannya.

~Mine-chin~

"Oy Kise, minta bekalmu dong! Satsuki membuatkan bekal yang tidak dapat dimakan manusia." Ujar Aominecchi mencomot bekalku tanpa persetujuanku.

"Dai-chan!" rengek Momoicchi.

"Hahaha. Aominecchi, kau kejam sekali pada Momoicchi." Ujarku disela-sela tawa.

"Kalau kau tertawa berarti kau setuju."

"Mou~ Ki-chan sama saja." Protes Momoicchi membuang wajahnya kesal yang tanpa sengaja menjatuhkan sumpit Aominecchi.

"Maaf, maaf Momoicchi. Aku tidak bermaksud—hey! Aominecchi itu makananku!" protesku saat Aominecchi memakan udang yang sudah kusumpit dan hampir kumakan.

"Habis kamu ngomong terus, udangnya kumakan deh." Bela Aominecchi seenak jidat. Aku hanya menghela nafas kemudian tertawa geli tanpa menyadari Seicchi yang melihatku dari jendela kelasnya.

"Dai-chan tidak boleh begitu!" nasehat Momoicchi.

"Biar sa—uhuk!" Aominecchi tersedak.

"Tuh 'kan kamu kualat sama Ki-chan! Sebentar akan kubelikan minuman." Ujar Momoicchi meninggalkan kami berdua.

"Uhuk! Oy Kise kamu tidak punya minuman?" tanya Aominecchi padaku yang sedang melamun karena melihat Seicchi yang sedang berdiri lalu keluar dari kelasnya.

"Ini." Jawabku masih sambil melamun. Aominecchi meminum minumanku kemudian berterima kasih padaku dan memberikan botol minumku.

"Oy, ini minummu." Ucap Aominecchi lebih keras sehingga aku tersadar dari lamunanku.

"A-ah maaf." Jawabku sekenanya.

"Tidak apa-apa." Jawab Aominecchi. "Oy Kise, sepulang sekolah main yuk."

"Ke mana?"

"Stasiun Nekonomiya. Di sana kamu bisa bermain apa aja selama 15 menit hanya dengan 100 yen." Terang Aominecchi.

"Hahaha kau seperti sales saja. Kedengarannya menarik, boleh kuajak Kurokocchi dan Momoicchi? Lebih banyak orang sepertinya lebih seru."

"Ah tentu saja."

~Kurokocchi~

"Kenapa Kise-kun mengajakku?" tanya Kurokocchi.

"Nggak masalah 'kan? Aku ingin bermain dengan Kurokocchi. Itu saja."

"Begitu. Lalu Aominecchi?"

"Sedang menunggu Momoicchi." Jawabku.

Aku mendengar langkah kaki lalu dengan segera aku membalik badanku dan tersenyum.

"Aominecchi kau lama seka—ah maaf aku salah orang." Kataku begitu melihat yang muncul adalah Seicchi.

Seicchi tidak menanggapiku dan hanya melewatiku begitu saja. Aku dan Kurokocchi pun hanya dapat memperhatikannya melewati kami.

"Kise-kun baik-baik saja?"

"Iya, tentu saja aku baik!" jawabku dengan (akting) ceria.

"Maaf kami lama." Ujar Momoichi yang tiba-tiba muncul.

"Salahkan Satsuki yang pakai acara dandan segala. Padahal cuma ke tempat bermain."

"Mou~ Dai-chan~" protes Momoicchi.

"Hahaha tidak apa-apa, ayo."

~Aominecchi~

"Siap-siaplah untuk kalah, Aominecchi!" seruku sambil bersiap-siap memegang bola basket.

"Jangan bermimpi. Yang bisa mengalahkanku—"

"Hanya aku sendiri. Ya, ya, aku sudah sangat hafal dengan motto hidupmu itu." Sambungku yang disambut decihan oleh Aominecchi.

"'ttaku, sudah sampai sini tetap saja permainan yang diambil basket." Komentar Momoicchi sambil berkacak pinggang dan geleng-geleng kepala.

Kurokocchi hanya tersenyum maklum sambil memakan es krim popsicle dan memberikan separuhnya lagi pada Momoicchi. "Momoi-san mau?"

"Eh? Untukku? Tentu saja Tetsu-kun!" jawab Momoicchi dengan gembira memakan es krim pemberian Kurokocchi.

"Sudah kubilang 'kan Kise? Aku tetap pemenangnya." Bangga Aominecchi.

"Huh, Aominecchi hanya beruntung. Ayo coba permainan lainnya!"

"Ayo main itu!" seru Momoicchi menunjuk sebuah vending machine.

"Ayo! Kita berlomba siapa yang dapat boneka paling banyak dengan 300 yen!" seruku menantang Aominecchi, Kurokocchi, dan Momoicchi.

"Kau menantangku? Tidak takut kalah?" ejek Aominecchi.

"Ini bukan basket ssu! Jadi Aominecchi bisa saja kalah."

"Benarkah? Kalau begitu kita buktikan."

Dan ternyata pemenangnya adalah Kurokocchi. Kurokocchi mendapatkan enam boneka, Momoicchi dapat satu boneka lobak dan Aominecchi serta aku tidak dapat apapun.

"Bagaimana aku bisa kalah dengan Tetsu?!" protes Aominecchi.

"Kalau dengan emosi tidak akan dapat." Jawab Kurokocchi kalem.

"Kurokocchi tidak diam-diam menghilang dan masuk ke vending machine mengambil bonekanya 'kan?" tanyaku konyol.

"Kise-kun, hawa keberadaanku memang tipis tapi aku bukan antm*n, aku tidak bisa masuk ke tempat sekecil itu." Jawab Kurokocchi datar.

"Kau itu bodoh ya?" komentar Aominecchi.

"Mou~ Aominecchi hidoi ssu yo!" seruku.

"Sudah, sudah. Ayo kita bermain permainan lainnya." Lerai Momoicchi.

Aku mengangguk dan kami mulai bermain permainan lainnya, Aominecchi ternyata payah dalam olahraga lain seperti baseball, yang mengejutkan Kurokocchi dan Momoicchi justru bisa memukul beberapa bola baseball. Aku? Tidak perlu ditanya, olah raga apapun aku bisa asal sudah melihatnya. Siapa dulu Perfect Copy, Kise Ryouta gitu loh. Setelah bermain baseball kami bermain billiard. Saat bermain billiard, bola putih Kurokocchi bahkan tidak menyentuh satu bola pun. Kebalikannya, Aominecchi tidak hanya menyentuh tapi membuat bola-bola itu berterbangan keluar. Momoicchi dan aku pun hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Aominecchi, terima kasih sudah mengajakku hari ini." Ujarku saat kami keluar dari tempat bermain. "Aku senang sekali~"

"Hm."

"Kenapa? Ada yang salah?" tanyaku pada Aominecchi.

"Sebenarnya aku hanya ingin kita berdua saja tadi." Jawab Aominecchi sambil menggaruk belakang kepalanya yang (sepertinya) tidak gatal dengan wajah sedikit memerah.

"Eh begitu kah? Kenapa? Kalau begitu maaf. Sebagai gantinya, bagaimana kalau kita pergi saat White Day? Kali ini hanya berdua saja, aku janji."

"Eh? Kau tidak harus—"

"Tidak apa-apa, Aominecchi sudah membuatku senang, jadi aku juga ingin membuat Aominecchi senang. Bagaimana?"

"Ya-ya sudah kalau begitu." Jawab Aominecchi sekadarnya.

"Yosh! Sudah diputuskan. Besok saat White Day kita jalan-jalan bareng. Aominecchi yang tentukan tempatnya ya!"

"E-eum."

"Maaf lama, ini minumannya Dai-chan, Ki-chan~!" seru Momoicchi memberi minuman padaku dan Aominecchi. "Aku tadi kehilangan Tetsu-kun jadi aku mencarinya kemana-mana ternyata dia sudah di depan mesin minuman dari tadi hehe…"

"Hahaha tidak apa, terima kasih Momoicchi." Ujarku sambil menerima minuman dari Momoicchi kemudian meminumnya.

"Ah, Dai-chan! Sudah jam segini ayo pulang!"

"Memangnya kenapa?"

"Ck. Ini sudah mau malam, bodoh. Ki-chan dan Tetsu-kun mungkin saja ingin pulang juga dan istirahat." Jawab Momoicchi.

"Hihihi Momoicchi seperti ibu Aominecchi saja ya." Komentarku.

"Apa?! Aku tidak mau punya ibu/anak sepertinya!" seru Momoicchi dan Aominecchi bersamaan. Aku hanya tertawa kecil.

"Ya-ya sudah, aku pulang dulu, Kise, Tetsu." Pamit Aominecchi sambil lalu.

"Ne, sampai jumpa Aominecchi, Momoicchi~"

"Jaa nee~!" seru Momoicchi sambil melambaikan tangannya.

"Jaa~" Aku pun ikut melambaikan tanganku.

"Kise-kun tidak apa-apa?" tanya Kurokocchi setelah Momoicchi dan Aominecchi tidak kelihatan lagi.

"Eh? Apa maksudmu Kurokocchi? Tentu saja aku baik-baik saja."

"Hari ini Kise-kun terlalu ceria."

"Aku tidak apa-apa kok. Kurokocchi menghawatirkanku ya? Senangnya~"

"Sebenarnya Kise-kun menyesalinya 'kan?"

"Kurokocchi, aku ini bagaikan burung yang baru keluar dari sangkarnya. Aku menikmati kebebasanku! Karena akhirnya aku terbebas darinya. Saat ini aku benar-benar senang! Aku tidak menyesalinya sama sekali~"

"Begitu. Ya sudah kalau begitu. Tapi sebaiknya jangan mengumpamakan Kise-kun dengan burung dalam sangkar karena seekor burung yang terlalu lama dalam sangkar akan mati dalam beberapa hari karena tidak terbiasa dengan kehidupan alam." Komentar Kurokocchi.

"Mou~ Kurokocchi hidoi ssu yo!" rengekku.

"Aomine-kun."

"Eh?"

"Kise-kun berniat menggantikan posisi Akashi-kun dengan Aomine-kun?"

"Kalau itu… aku masih belum yakin." Jawabku dengan sedikit sedih.

"Masih ragu-ragu ya? Aku pikir itu bukan hal yang bagus. Kise-kun tahu betul 'kan menunggu lama-lama sesuatu yang tidak pasti itu sangat menyakitkan? Jangan membuat Aomine-kun menunggu terlalu lama. Kalau bisa, segera ambil keputusan." Nasehat Kurokocchi.

Benar juga, kalau begini aku melakukan hal yang sama dengannya.

~Seicchi~

"Kise. Bagaimana kalau untuk White Day itu kita pergi ke Torasaka?" tanya Aominecchi dengan gugup.

"Boleh juga. Hihihi Aominecchi gugup ya~? Lucu sekali~" godaku.

"Brisik! Ini karena tidak biasanya aku begini tahu!" bela Aominecchi sambil berjalan meninggalkanku.

"Kalau begitu kau harus membiasakannya biar Aominecchi disukai banyak perempuan~ Masa' mengajak kencan saja tidak berani~? Ah tapi aku tidak menyangka Aominecchi romantis juga. Di Torasaka 'kan kalau kau turun dari bukit ada taman yang ada air mancurnya. Katanya kalau melihatnya bersama pasanganmu, cintamu akan mulai bersemi."

"Uruse na, Kise! Itu kebetulan saja. Aku tidak tahu soal air mancur gak jelas itu." Elak Aominecchi dengan semburat merah tipis di wajahnya.

"Hihihi. Aominecchi ternyata tsundere seperti Midorimacchi. Aominecchi harus bisa lebih jujur, pasti nanti…" ucapanku terhenti melihat seorang perempuan menyatakan cinta pada Seicchi. Aominecchi mengikuti arah pandanganku dan aku segera berbicara sebelum dia sempat membuka mulutnya. "Tapi kurasa popular merepotkan juga sih. A-ayo lanjutkan jal—aw!" seruku saat Haizaki tidak sengaja menginjak kakiku membuatku jatuh terduduk.

"Lihat arah jalanmu." Ucap Haizaki.

"Kau yang—" ucap Aominecchi segera kupotong.

"Tidak, kali ini salahku. Ma-maaf aku tadi agak melamun." Ucapku sambil berusaha berdiri.

"Kise, kau tidak apa-apa? Teme, kau tidak tahu kaki Kise belum sepenuhnya sembuh?" sembur Aominecchi.

"Kau dengar sendiri dia minta maaf, ini bukan salahku."

"Tch. Kise, kau bisa bangun tidak?" tanya Aominecchi membantuku berdiri. "Ayo ke UKS." Kata Aominecchi sambil memapahku.

"Eh? Aku nggak papa kok."

"Nggak apa apanya? Kakimu 'kan cedera."

"Itu 'kan sudah lama Aominecchi."

"Tetap saja. Kau ini bawel ya, ikut saja ke UKS."

~Seicchi~

"Aku tidak tahu cara mengobati kakimu, aku cari guru dulu."

"Tidak usah."

"Brisik, kalau kau sakit kau tidak bisa bermain basket, kita juga yang susah. Sudah aku mau cari guru dulu. Kau diam di sini."

"Iya, iya."

Aominecchi… baik sekali.

Aku baru saja hendak larut dalam pikiranku ketika aku mendengar suara pintu UKS dibuka. Aku menolehkan kepalaku karena kupikir Aominecchi yang datang, ternyata Seicchi yang datang. Seicchi datang ke UKS? Seicchi sakit? Tidak mungkin. Kenapa? Apa ini hanya hayalanku?

"A-Apa Seicchi, ah maksudku, Akashicchi tidak enak badan?" tanyaku saat melihat Seicchi mendekati kotak obat.

"Kau masih saja bodoh." Ujar Seicchi sambil membuka kotak obat dan mengambil sesuatu.

"Huh?"

"Kakimu itu. Kalau seorang pemain basket cedera kaki, akan mengurangi produktivitasnya." Tambah Seicchi lagi sambil meletakkan obat itu, tidak jadi mengambilnya. "Jadi, bagaimana hubunganmu dengan Aomine?"

"Jangan khawatir. Kami baik-baik saja."

"Oh? Kalau begitu bagus. Apa kau pacaran dengannya?"

"Akashicchi sendiri bagaimana? Sepertinya ada yang menyatakan cinta padamu."

"Jangan menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan. Lagipula itu hal yang merepotkan. Aku tidak tertarik dengan mereka. Hanya mengincar hartaku saja."

"Sayang sekali, padahal tidak semuanya seperti itu lho. Yah karena kurasa pak guru tidak akan datang jadi aku—" ucapku terhenti karena kedua tangan Seicchi yang berada di sebelah kepalaku dan tatapannya yang membuatku tidak bisa berdiri.

"Kau mencintainya?"

"I-itu bukan urusan Seicchi 'kan?"

"Kau tidak bisa menjawabnya dengan jelas, itu berarti kau tak mencintainya." Simpul Seicchi sambil menatapku tajam membuatku mengalihkan padanganku darinya.

"Itu hanya untuk sekarang."

"Kalau begitu ke depannya bagaimana? Apa kau yakin bisa jatuh cinta padanya?"

"Aku tidak tahu. Tapi aku ingin jatuh cinta pada Aominecchi." Jawabku dengan mantap membuat Seicchi mengernyitkan alisnya. "Lagipula itu bukan urusan Seicchi. Kalau mau menghabiskan waktu, ada banyak cara lain 'kan? Lagipula Seicchi pasti punya urusan perusahaan. Kenapa tidak menyibukkan diri dengan itu saja?" ucapku dengan penuh keberanian membuat Seicchi melepaskan tangannya dan menjauh dariku.

"Kise, guru-guru sedang rapat jadi—" ucap Aominecchi terpotong karena melihat Seicchi yang ada di depanku.

"Ya sudah kalau begitu, sepertinya tidak terlalu parah kok. Seperti sudah kubilang tadi. Ayo pergi." Ucapku sambil berdiri, mengabaikan rasa sakit di kakiku dan berjalan seolah-olah kakiku tidak sakit sama sekali.

"Baiklah kalau kau memaksa." Jawab Aominecchi mengekoriku, meninggalkan Seicchi di UKS.


~Seicchi's POV~


'Aku ingin jatuh cinta padanya.'

Ck. Apa-apaan sih. Seperti perempuan yang baru jatuh cinta saja. Menyedihkan. Aku pun menutup lembar-lembar kertas yang berisi proposal bisnis dan berjalan ke dapur untuk mengambil minum. Saat aku melewati ruang tamu ponselku berdering.

"Halo."

"Hei! Apa yang kau lakukan sih Sei-chan? Aku melihat Kise-chan dengan Aomine Daiki itu. Di dekat Torasaka, mereka terlihat sedang bersenang-senang." Kata Reo dari telpon. Entah mengapa ini sangat mengusikku. Aku tidak tahu tepatnya apa yang mengusikku, Reo yang menelponku atau fakta bahwa Ryouta sedang bersama Aomine.

"Apa yang sedang kau—" Reo hendak berbicara lagi ketika aku menutup telpon dengan sepihak.


~Ryou-chan's POV~


Aominecchi mengajakmu melihat akuarium besar yang baru saja dibuka. Di sana banyak terdapat ikan laut yang cantik dan lucu.

"Ikan-ikannya sangat lucu. Terima kasih Aominecchi karena sudah mengajakku ke sana." Ucapku sambil tersenyum manis.

"Ba-baguslah kalau kau senang." Jawab Aominecchi sambil memalingkan wajahnya yang memerah.

Tiba-tiba kalimat Kurokocchi terngiang di kepalaku.

'Kau tahu betul 'kan kalau menunggu lama-lama sesuatu yang tidak pasti itu menyakitkan?'

Kalau aku berpacaran dengan Aominecchi aku pasti tidak akan terluka. Aku tidak perlu menderita dan menangis saat sesuatu tidak berjalan sesuai harapanku. Tapi, wajah Seicchi, kata-katanya, semuanya, terus terngiang dalam kepalaku.

Aku terus memikirkannya dan tanpa sadar aku dan Aominecchi sudah sampai di taman tempat air mancur itu akan muncul.

"Aominecchi, ada yang mau kukatakan."

"Katakan saja."

"Maaf, sepertinya aku… masih menyukai Akashicchi."

"Kise…"

"Maaf, aku benar-benar ingin mencintaimu dan melupakannya tapi aku tidak bisa. Padahal Aominecchi sangat perhatian padaku tapi aku malah melakukan hal jahat seperti ini."

"Tidak apa. Aku sudah menduganya."

"Eh?"

"Tapi seharusnya jika kau memang benar-benar ingin melupakannya kau harus mengalihkan pandanganmu darinya."

Aku pun menggeleng. "Tidak bisa. Aku masih ingin bersamanya. Maaf." Ucapku sambil menunduk.

"Jangan memasang wajah sedih begitu, aku tidak suka melihatnya. Bukan 'kah aku sudah bilang berkali-kali tidak apa?"

"Hiks… Aominecchi baik sekali. A-Aku akan berjuang keras untuk membuat Akashicchi menyukaiku. Meskipun itu butuh bertahun-tahun. Hiks… hiks…" isakku.

"Sepertinya tidak akan selama itu." Komentar Aominecchi sambil menunjuk sesuatu di belakangku dengan dagunya.

"Eh?" aku pun membalikkan badanku dan menemukan Seicchi berdiri di sana tepat ketika air mancur itu menyembur dan memancarkan cahaya lampu, indah sekali.

"Aku akan mengambilnya kembali." Kata Seicchi sambil menarik tanganku. "Kau tidak keberatan 'kan?"

"Hn. Kali ini jaga baik-baik."

Seicchi hanya tersenyum dan menarikku pergi.

"Akashicchi, kenapa?" tanyaku masih ditarik Seicchi. Seicchi tetap berjalan tanpa menghiraukanku. "Kenapa tidak kau biarkan saja? Kalau aku tidak ada pun tidak ada yang kurang 'kan? Hei! Jawab aku Akashicchi!"

"Mulutmu brisik sekali." Seicchi pun mendorongku hingga aku terduduk di bangku taman kemudian membungkam bibirku dengan sebuah ciuman. "Kalau begini kau sudah mengerti 'kan? Kau tidak perlu bertanya lagi."

"Aku tidak tahu!" seruku diselingi isak tangis. "Selama ini Akashicchi selalu kejam padaku. Kau pikir kau sudah menang kalau kau melakukan ini padaku 'kan? Aku sudah cukup dengan semua itu! Jadi katakana padaku dengan jelas!"

"Aku sudah bilang kalau kau adalah milikku." Jawab Seicchi dengan wajah datar.

"Itu 'kan saat Akashicchi masih pura-pura jadi pacarku."

"Kau bukan hanya mainan untuk menghabiskan waktuku saja."

"Lalu?"

Seicchi mendekatkan wajahnya padaku dan berkata, "Aku mencintaimu."

Aku pun memerah mendengar ucapannya. Aku senang sekali. Seicchi memundurkan wajahnya dan tersenyum tulus. "Aku mengaku kalah padamu." Aku tertegun sesaat dan aku menyadari bahwa senyum Seicchi tadi adalah senyum Seicchi terindah yang pernah kulihat.

"Seicchi." Aku pun menarik tubuh Seicchi agar mendekat padaku dan menciumnya lalu memeluk Seicchi. "Kalau begitu kali ini pacaran sungguhan ya? Aku mengijinkanmu menjadi pacarku."

Seicchi mendorongku kemudian menarik pipiku.

"Ittai ssu!"

"Bukan kau yang mengizinkan tapi aku." Seicchi pun melepaskan tangannya dariku dan meninggalkanku yang masih terduduk di bangku taman. "Jangan terlalu senang dulu ya, anjing."

"Uh Seicchi jangan tinggalkan aku ssu! Lagipula apa-apaan itu? Bukan 'kah seharusnya kau bersikap lebih baik pada orang yang kau cintai?" Aku pun berdiri dan mengejarnya. Aku dapat melihat bahwa sudut bibir Seicchi terangkat, membuat senyuman. Seicchi. Hontou ni suki ssu yo!

~Owari~


A/N: Selesai juga~ nah Kazu mau kasih beberapa penjelasan. Pertama, mengapa Kazu sering sekali menyebut orang-orang tsundere? Karena menurut Kazu, Dai-chan dan Kagami (meski di sini dia numpang nama aja) itu tsundere. Mereka baik tapi kata-katanya suka kasar meski sebenarnya maksudnya bukan mau kasar. Kalau Sei, dia 'kan egonya tinggi jadi kesannya tsundere padahal bukan. Nah kedua, kenapa di cerita Ryou-chan memanggil Sei 'Akashicchi' tapi saat menarasikan tetap memanggil 'Seicchi' adalah karena Ryou-chan ingin terlihat sudah melupakan Sei jadi memanggilnya 'Akashicchi' padahal di dalamnya masih suka jadi saat menarasikan dia menyebutnya 'Seicchi'. Kurasa segitu aja penjelasannya. Kalau Kazu niat mungkin Kazu akan buatkan sequel one shot tentang kencan pertama mereka. Tapi sih kalau ada niat dan waktu, nggak janji hehe…

humusemeuke: Iya nih Sei ckckck. Sebenernya agak tergoda sih bikin Ryou-chan sama Dai-chan, abisnya katanya di extra game Ryou-chan sama Dai-chan duo bareng. Hitsnya kerasa bgt wkwkwk.

Akaverd20: iya. Bener bgt, justru itu daya tarik Sei /loh.

Miharu348: Ok, ini dah update.

chuu-san: tuh'kan seneng juga lihat Ryou-chan begini wkwkwk. Btw, reviewmu baru masuk setelah aku update, maaf ya jadinya kemarin nggak bales.

yukiya92: Iya nih. Kazu juga jadi tergoda masangin mereka wkwkwk.

kise cin: peluk balik! /siapalo hehe iya sama-sama. Oke.

undeuxtroisWaltz: iya, ke-maso-an Ryou-chan emang sangat awesome wkwkwk.

Hyena lee: sayang kok, egonya aja yang ketinggian. Rebut nggak ya? /dibalanggunting. Nggak kok, akhirnya Sei kembali /ea.

yuu: silakan, silakan. Sudah nih, saking cemburunya akhirnya egonya pun kalah /ciee.

Guest: Eh? Maaf kalau itu mengganggu. Btw itu di chap berapa ya? Rasanya kok di chap 7 nggak ada kata-kata itu? Iya gpp kok.

himeka chuu: iya, ini sudah end. Bener bgt. Nanti kalau Kazu niat da nada waktu Kazu buatin oneshot sequel. Tapi nggak janji loh /php wkwkwk.


Last, makasih support kalian (yang telah berkenan membaca, mereview, menfavortkan cerita ini) selama ini. Terima kasih banyak~

Salam, Kazu.