"Pasti akan menyenangkan. Jika aku dan Baekhyun bersembunyi, sementara Chanyeol-hyung bertugas mencari kami. Iya kan?"
Di saat semua siswa-siswi DHS berada di kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran. Tiga pemuda berbeda tinggi yang berstatus sebagai siswa dalam sekolah tersebut, masih berdiri di sana, di salah satu koridor sekolah di depan tangga.
Baekhyun berdiri di antara dinding yang ia sandar dengan Sehun yang berdiri di depannya. Tangan kanan Sehun menopang tubuhnya dengan dinding di belakang Baekhyun, tepat di samping telinga kiri Baekhyun, sementara tangan kiri Sehun sendiri masih berada di saku celananya.
Sedangkan Chanyeol, berdiri lima langkah dari sisi kanan Baekhyun yang terhimpit. Kedua tangan Chanyeol tersembunyi di balik saku celananya. Dan tatapan tajamnya masih tertuju pada Baekhyun.
Ada jeda yang diisi keheningan sejenak, sejak Sehun mengatakan pertanyaannya dengan nada main-main tadi. Sampai Chanyeol akhirnya bersuara.
"Kai sedang mencarimu, Sehun," nada suara bass Chanyeol terdengar biasa, tak ada nada sinis maupun marah, terlihat serius.
"Kai?" Kening dibalik poni coklat Sehun sedikit berkerut. Ia menoleh pada Chanyeol –memutuskan kontak mata dengan Baekhyun. "Dia mencariku?"
Lirikan mata Chanyeol juga berpindah, menatap balik Sehun. "Iya, aku tadi bertemu dengannya di koridor sana. Ia menunggumu di toilet siswa."
"Toilet?" keheranan Sehun makin bertambah. "Untuk apa?"
"Molla," Chanyeol mengangkat bahu. "Tapi katanya penting. Sudahlah, pergi saja temui Kai di sana."
"Baiklah." Sehun beralih pada Baekhyun. "Mungkin lain kali saja aku bisa ikut bermain dengan kalian." Sehun tersenyum kecil sekali lagi, lalu berbalik pergi, meninggalkan mereka berdua.
Suasana berubah canggung... atau ini hanya perasaan Baekhyun saja.
Pemuda mungil itu berdehem canggung selama dua kali. Mengambil satu lirikan ke arah Chanyeol yang kembali menatapnya tajam. Mata Baekhyun langsung beralih ke arah lain. Tapi ia lalu berpikir. Untuk apa ia merasa takut? Ia tak pernah takut pada Chanyeol sebelumnya.
"Wae?" akhirnya Baekhyun memilih untuk membalas tatapan Chanyeol. Menaikkan sedikit dagunya sambil berkacak pinggang. Posisi menantang yang biasa ia tunjukkan. "Mengapa kau menatapku seperti itu?"
Bukannya menjawab, Chanyeol malah melangkah mendekat. Tanpa sadar Baekhyun melangkah mundur. Punggung Baekhyun menubruk dinding sekali lagi, posisinya kembali terpojok. Chanyeol mencondongkan wajahnya. Baekhyun refleks memejamkan mata, berbeda sekali dengan reaksinya terhadap Sehun beberapa menit yang lalu –dimana saat itu ia hanya melirik ke arah lain selain mata Chanyeol.
Hening... dan hanya detak jantung gugup yang terdengar di telinga Baekhyun.
Sampai akhirnya ia merasakan sebuah tangan yang meraih pergelangan tangannya, menggenggamnya, dan menariknya. Tubuh Baekhyun ikut tertarik ke depan. Ia segera membuka matanya dan memaksakan kakinya bergerak mengikuti langkah Chanyeol yang menarik paksa tangannya.
"Yach, apa yang kau lakukan?" protes Baekhyun heran.
Chanyeol yang melangkah di depannya tidak menjawab. Tetap menarik tangan Baekhyun di belakangnya.
"Yach! Yach! Lepaskan tanganku!" Baekhyun memprotes lagi. Tapi Chanyeol terus memegang erat pergelangan tangan Baekhyun. Dengan wajah mengeras, ia menyeret Baekhyun di sepanjang koridor sekolah yang sepi.
.
.
.
.
.
L 3 Y
By Sayaka Dini
Main Cast: Baekhyun; Chanyeol; Sehun
Pairing: Chanbaek / Hunbaek and Other
Disclaimer: This story belong to me, but the character not be mine
Hope You Enjoy It~ ^_^
_o0o_
.
.
.
.
.
...
Sehun memasuki toilet siswa yang dimaksud Chanyeol tadi. "Kai?" ia memanggil, melihat tak ada satu pun orang di sana. Tapi ada satu bilik di ujung yang pintunya terlihat terkunci dari dalam.
"Yach, Kai-ah? Kau ada di dalam?"
"Hm." Kai bergumam dari dalam bilik. "Tunggu sebentar," suaranya tersendat.
Sehun menunggu. Satu menit berlalu. Sehun berdecak. "Apa masih lama?"
"Hm," hanya gumaman yang keluar dari suara Kai.
Tiga puluh detik menunggu, tapi Sehun sudah merasa bosan di dalam toilet sepi sendirian, menunggu seperti orang bodoh. "Yach! Kai, katakan saja kau butuh bantuan apa dariku? Membelikan obat pelancar buang air besar? Begitu?"
Ada suara umpatan dari dalam bilik. Lalu desahan kesal. "Diamlah kalau kau ingin membantuku, sialan," umpat Kai. "Suaramu itu mengganggu proses masturbasi-ku!"
Sehun melotot. "Dasar sialan. Jangan mencariku kalau kau sedang berbuat jorok!"
"Memang siapa yang mencarimu, bodoh!" balas Kai kesal.
"Tapi Chanyeol-hyung..." Sehun terhenti. "Tunggu, apa Chanyeol-hyung tadi bertemu denganmu?"
"Apa kau sedang mencoba mewawancaraiku saat aku sedang masturbasi?" sinis Kai dari balik pintu bilik.
Sehun berdecak. "Dasar jorok!" umpatnya sambil menendang pintu bilik. Lalu berjalan keluar dari toilet siswa.
Sehun berhenti di tengah koridor. Keningnya berkerut heran. "Kenapa Chanyeol-hyung berbohong padaku?" Ia bertanya-tanya seorang diri.
.
.
.
~ L 3 Y ~
.
.
.
"Chanyeol! Sialan! Berhenti!" Baekhyun yang terus di seret di belakang Chanyeol, mengumpat kesal. "Aku lelah bodoh!" Sejak tadi Chanyeol tak berhenti, tujuannya pun terlihat tidak jelas. Pemuda tinggi itu tetap diam dan terus memegang erat tangan Baekhyun menelusuri koridor sepi. Dan Baekhyun mulai curiga kalau pemuda bodoh kelebihan kalsium ini hanya membawanya berputar-putar di dalam gedung sekolah mereka.
"Akh!" Baekhyun tersandung, terlalu lelah mengikuti langkah lebar kaki panjang Chanyeol. Ia terjatuh ke lantai, dengan pergelangan tangan yang tertarik ke atas karena pegangan Chanyeol.
Akhirnya Chanyeol berhenti saat merasakan tarikannya di belakang makin berat. Ia tak sadar sempat menyeret Baekhyun yang terjatuh di lantai itu. Chanyeol menoleh, matanya melebar melihat Baekhyun terbaring tengkurap di lantai.
...
Jika kau bertanya pada Baekhyun tentang Chanyeol, maka Baekhyun tak yakin harus menjawabnya dengan apa. Dia memang sudah mengenal dan tinggal di bawah atap yang sama dengan pemuda tinggi itu selama 25 hari, hampir satu bulan. Tapi Baekhyun masih belum bisa menggambarkan dengan pasti 'apa' itu Chanyeol yang sebenarnya.
Chanyeol memang sering bertindak menyebalkan padanya, tapi terkadang Chanyeol bisa bertindak sok misterius padanya. Mulut Chanyeol yang biasa berkata pedas itu, bisa sewaktu-waktu tertutup rapat saat ia melakukan suatu hal yang membuat Baekhyun tak bisa menebak dengan pasti bagaimana jalan pikiran seorang Park Chanyeol tersebut.
Seperti saat ini...
Tiga menit yang lalu, Chanyeol menarik paksa tangan Baekhyun, menyeretnya di sepanjang koridor tanpa kata dan dengan raut wajah yang tampak mengeras. Tapi setelah Baekhyun terjatuh dan melihat luka lecet kecil di dagu Baekhyun (karena selain jatuh ia juga sempat terseret oleh Chanyeol di atas lantai), raut wajah mengeras Chanyeol berubah. Dan (sekali lagi) tanpa kata, Chanyeol menarik lengan Baekhyun dari belakang lehernya, lalu menggendong tubuh yang lebih kecil itu di punggungnya. Membawanya menuju klinik sekolah.
Diperlakukan begitu, membuat Baekhyun ikut menutup mulutnya tanpa berkomentar apapun. Ia ingin bertanya, tapi rasa takut akan mendapatkan jawaban yang tidak ia harapkan membuat Baekhyun mengurungkan niatnya. Dibalik bahu Chanyeol yang sedang menggendongnya, Baekhyun hanya bisa diam menikmati aroma parfum mahal Chanyeol yang memanjakan hidungnya.
Tak ada siapa pun di klinik sekolah saat mereka sampai di sana. Chanyeol menurunkan Baekhyun di salah satu ranjang putih dalam klinik tersebut. Pemuda tinggi itu pergi sebentar mengambil kotak obat di lemari kaca, lalu kembali berdiri di depan Baekhyun yang duduk di ranjang tanpa ingin menatap wajah Chanyeol.
"Ini, rawat sendiri luka mu itu. Jangan harap aku melakukannya untukmu."
Baekhyun sempat menganga kecil, ia lalu mencibir. "Siapa juga yang berharap," ketusnya sambil meraih kotak obat yang disodorkan Chanyeol.
Chanyeol memasukkan kedua tangannya di dalam saku celananya, memandang Baekhyun yang tengah cemberut sambil membuka kotak obat tersebut. "Aku bukan dokter. Kalau pun aku terluka, selalu ada Jaejoong hyung atau Leeteuk ahjusshi yang merawatku. Jadi aku tak tahu apa-apa tentang obat."
"Siapa juga yang bertanya?" balas Baekhyun.
Urat di pelipis Chanyeol berkedut. Dengan kesal, ia menjitak kepala Baekhyun.
"Auw! Yach!" Baekhyun mendongak, melotot. "Untuk apa itu?"
"Bukan untuk apa-apa." Chanyeol menyeringai. "Hanya ingin saja."
Baru saja Baekhyun berniat ingin menendang kaki Chanyeol sebagai balasan, suara perut keroncongan yang terdengar di antara mereka, menghentikan niatnya.
Seringai Chanyeol makin melebar. Baekhyun menggeleng dengan rona pink di pipinya. "Itu bukan suara perutku."
"Siapa juga yang bertanya?" Chanyeol menyeringai mengejek.
Bibir Baekhyun terkatup. Menjatuhkan kepalanya, menunduk malu.
Sial, ia mengumpat dalam hati. Menyesali roti pemberian Chen yang ia tinggal di dalam ransel di kelasnya.
Suara pintu klinik yang ditutup menyentakkan Baekhyun. Chanyeol sudah tidak ada di depannya.
"Bagus. Dia pergi setelah tahu aku kelaparan," Baekhyun menggerutu. "Aissh. Memang apa yang kau harapkan?" ia mengeluh sendiri sambil melanjutkan kegiatan mengoles krim obat pada luka lecet di dagunya.
Setelah selesai, Baekhyun menyimpan kembali kotak obat tersebut di lemari kaca. Ia berjalan menuju pintu klinik, membukanya, tepat di saat Chanyeol juga berdiri di sana, terlihat hendak membuka pintu tapi Baekhyun mendahuluinya.
Kening di balik poni hitam Baekhyun berkerut. "Kenapa kau kembali?"
Chanyeol terlihat meneguk air liurnya dengan cepat. "Ini," dengan kasar ia mendorong kantung plastik yang ia bawa ke dada Baekhyun, otomatis Baekhyun langsung memeluknya sebelum kantung itu terjatuh di lantai. "Jangan membuatku membuang itu ke tempat sampah lagi."
Baekhyun mengernyit tak mengerti. Ia tak sempat bertanya karena Chanyeol segera berbalik pergi meninggalkannya.
"Apa-apaan dia?" gerutu Baekhyun melihat punggung Chanyeol yang menjauh. Dengan bibir mengerucut, Baekhyun mengintip isi kantung yang Chanyeol berikan padanya. Ada enam buah roti isi di dalamnya. Pupil mata Baekhyun membesar, berbinar. Kepalanya langsung terangkat.
"Hei, Yoda!" Baekhyun berteriak. Chanyeol sempat menghentikan langkahnya di tengah koridor, tapi ia kembali berjalan. "Yach! Tuan telinga besar, aku memanggilmu!" Baekhyun kembali berteriak dengan hebohnya.
Chanyeol akhirnya berhenti total, berbalik dengan raut wajah kesal karena panggilan tersebut. Baru saja ia ingin membalas berteriak dengan kata kasar, Baekhyun yang masih berdiri di depan pintu klinik itu mendahului ucapannya.
"Terima kasih~" seru pemuda mungil itu, melambai dari jauh sambil tersenyum lebar, menunjukkan deretan gigi kecil dan lengkungan mata sabit yang begitu imut. Setelahnya, Baekhyun berbalik, berjalan berlawanan arah dari tempat Chanyeol dengan langkah riang, sambil membuka salah satu plastik roti yang tadi ia terima.
Chanyeol mendengus satu kali melihat punggung Baekhyun yang semakin menjauh. Pemuda tinggi itu pun berbalik untuk kembali melanjutkan langkahnya. Ia tersenyum, lebar sekali, seperti orang bodoh.
.
.
.
~ L 3 Y ~
.
.
.
Seperti dugaan Baekhyun, guru JYP menghukumnya membersihkan lapangan setelah jam pelajaran berakhir hari ini, karena tugas makalah yang tidak ia kumpulkan.
Baekhyun tidak sendirian dalam menjalani hukumannya, ada siswa dari kelas lain yang juga dihukum. Namja itu memiliki bahu kecil dan mata bulat seperti burung hantu. Awalnya Baekhyun merasa canggung, karena raut wajah namja itu terlihat datar, tatapan mata tak bersahabat, dan tak mengucapkan apapun sejak tiga menit mereka menyapu dedaunan kering di pinggir lapangan. Dan saat Baekhyun mencoba mengajak ngobrol untuk menghilangkan kecanggungan di antara mereka, dia hanya menjawab seadanya dengan nada yang begitu datar.
"Namaku Baekhyun, aku murid pindahan tahun ini. Kalau kau?"
"Kyungsoo."
"Oh, Aku kelas 2, apa kau sunbae-ku atau hoobae-ku?"
"Kita seangkatan," nadanya pun masih datar seperti sebelumnya.
"Ahh, jadi kenapa kau dihukum guru galak itu?"
"Tidak mengerjakan tugas rumah."
"Ah, kita hampir sama. Tapi sebenarnya aku mengerjakan tugas, cuma makalah-ku tiba-tiba hilang entah kemana, sial." Baekhyun menendang kecil kerikil di atas tanah.
"Aku tahu."
Baekhyun menoleh. "Kau tahu?"
Tanpa menghentikan kegiatan memungut sampah plastik di pinggir lapangan, dan tanpa menoleh, Kyungsoo bergumam. "Hm."
Dengan gerakan cepat, Baekhyun langsung menghadang Kyungsoo. "Kau tahu dari mana?"
Kyungsoo menatap Baekhyun dengan ekspresi datar. "Aku melihatnya, tiga siswi perempuan membakar sebuah makalah di halaman belakang sekolah sambil menyebutkan namamu."
Mata Baekhyun melebar. "Kenapa kau tidak memberitahuku?"
"Aku tidak tahu siapa yang bernama Baekhyun."
"Sekarang kau tahu!"
"Tapi sebelumnya tidak."
"Ah, benar," bahu Baekhyun merosot. "Seharusnya aku mengenalmu lebih awal," ia mengeluh sendiri. "Ah, tapi, kau kenal mereka?"
"Aku tahu wajah mereka."
"Tunjukkan padaku siapa saja mereka."
"Tidak."
"Kenapa tidak?" Baekhyun merengek. Tapi Kyungsoo tetap menampilkan ekspresi datarnya, seolah tak terpengaruh dengan aegyonya.
"Aku tidak ingin cari masalah."
Baekhyun mengernyit tak mengerti. "Apa?"
"Balas dendam itu tidak baik."
"A-aku tidak bilang aku ingin balas dendam."
"Terlihat jelas di wajahmu."
"Apa? Hey, Kyungsoo. Ini tidak adil. Beritahu aku siapa mereka?"
"Tidak."
"Kyungsoo-yah~"
"Ti-dak."
Sore itu, hukuman membersihkan lapangan itu diiringi dengan suara rengekan dan bujukan dari Baekhyun, yang tak satu pun ampuh bagi Kyungsoo –si namja mungil yang berekspresi datar seperti batu.
.
.
.
~ L 3 Y ~
.
.
.
Belum genap empat jam berlalu sejak kejadian langkah dimana Chanyeol menunjukkan 'sedikit' kebaikannya dengan memberikan enam roti isi (sebenarnya itu kebanyakan sampai-sampai Baekhyun masih menyimpan tiga di dalam tasnya) pada Baekhyun yang kelaparan siang tadi. Membuat Baekhyun mulai berpikir (tanpa sadar sambil tersenyum) kalau Chanyeol mungkin saja memiliki sisi yang baik.
Tapi, sekarang...
"Chanyeol sialan," sepertinya umpatan itu tak pernah absen dari mulut Baekhyun tiap hari. "Awas saja sampai aku bertemu dengannya nanti. Saat dia lengah, akan kupastikan aku akan memotret wajah idiotnya saat ia tidur dengan air liur di pipinya, lengkap dengan boxer spongebob memalukan yang selalu ia gunakan saat tidur. Lalu aku akan menyebarkan foto itu di akun SNS agar reputasinya makin buruk."
"Kau bercanda?" timpal Krystal yang berjalan angkuh di sampingnya. "Pria setampan Chanyeol mana mungkin tidur seperti itu? Palingan kau hanya akan mengedit foto kepala Chanyeol dengan foto orang lain yang tidur seperti itu?"
Baekhyun mendengus. "Memangnya kau tau apa? Aku yang sudah tinggal serumah dengannya hampir satu bulan. Mau tidak mau, tentu saja aku jauh lebih tau dia daripada kau." Tanpa sadar Baekhyun berbicara dengan nada bangga.
"Serius? Jadi Chanyeol oppa tidur hanya menggunakan boxer?" Krystal tampak antusias. "Tunggu, jadi kau juga melihat hal itu setiap hari?"
Baekhyun tak menjawab, ia hanya mempercepat langkahnya mendahului Krystal yang sejak tadi berjalan bersama di sisinya.
"Yach, bacon, tunggu!" Krystal ikut menyusulnya dengan cepat, lalu meraih tangan Baekhyun untuk menghentikannya. "Jangan berjalan terlalu cepat, ingat perjanjian kita kalau hari ini kau bersedia menjadi pembantuku."
Nah, itu dia, akar permasalahn yang membuat Baekhyun semakin menyimpan dendam pada Chanyeol.
Ini dimulai dari lima belas menit yang lalu. Saat itu Krystal sedang menunggunya pulang di depan gerbang sekolah Baekhyun, yang baru saja menyelesaikan hukumannya bersama Kyungsoo. Dengan gaya angkuh, gadis itu menyuruh Baekhyun menemaninya sore ini di mall untuk berbelanja sekaligus membawakan seluruh belanjaannya. Tentu saja Baekhyun yang sudah lelah dan tak ingin diperintah seenaknya itu menolak ajakan Krystal.
Tapi, Krystal mengancam akan menyebarkan foto Baekhyun yang berdandan perempuan pada website sekolah jika ia menolak. Baekhyun melihat foto yang ditunjukkan Krystal dalam ponselnya itu adalah foto saat Baekhyun menyamar sebagai perempuan dalam kencannya dengan Chanyeol. Seperti dugaan Baekhyun, foto –dimana Baekhyun sendiri tidak sadar sedang difoto– itu Krystal dapatkan dari Chanyeol.
Sialan, Baekhyun kembali mengumpat dalam hati yang ia tujukkan pada Chanyeol. Untuk apa pemuda tinggi itu menyimpan foto memalukan –bagi Baekhyun– tersebut? Dan mengapa ia membagikan foto tersebut pada Krystal? Baekhyun sangat kesal, tentu saja.
Tiga jam Krystal menghabiskan waktunya di mall untuk berbelanja berbagai mode pakaian. Gadis itu tidak sadar dengan waktu yang ia habiskan, sementara Baekhyun sendiri yang sudah nyaris limbung karena lelah sambil membawa sembilan kantung belanja di kedua tangannya merasa sudah menghabiskan waktunya selama berhari-hari dalam neraka.
"Krystal," panggil Baekhyun dengan suara lelah dari belakang. "Aku bersumpah tidak akan peduli dengan fotoku yang ingin kau sebar di website jika kau tidak berhenti sekarang. Demi Tuhan, Krystal. Aku seperti sudah tidak bisa merasakan dimana kakiku~"
Krystal diam, terlihat menimbang sambil memandang wajah kesal sekaligus melas milik Baekhyun. "Baiklah," Baekhyun menghela napas lega sejenak mendengar kalimat itu dari Krystal. "Aku ingin membeli sepasang sepatu dulu, baru kita akan pulang."
Oh, God.
Baekhyun berusaha menahan dirinya untuk tidak melempar seluruh belanjaan itu ke wajah Krystal.
Baekhyun meletakkan barang belanjaan Krystal di lantai, sementara Krystal duduk di bangku untuk mencoba sepatu yang menarik minatnya. Baekhyun bisa melihat rok seragam sekolah yang dikenakan Krystal terlihat makin pendek saat ia duduk, membuat sebagian pahanya yang putih dan mulus makin terekspos. Baekhyun memutar bola matanya bosan, ia melirik ke arah lain, tanpa sengaja malah menangkap seorang pria berumur tiga puluhan yang menatap intens ke arah mereka. Lebih tepatnya ke arah paha Krystal.
"Yach!" Baekhyun dengan gamblang berseru sambil menunjuk pria tersebut. Ia menggeser tubuhnya untuk menutupi arah pandang pria itu dari Krystal. "Apa yang sedang kau lihat, hah?" seru Baekhyun sambil melotot.
Pria itu dengan gelagapan langsung berjalan pergi di bawah tatapan menilai dari orang sekitar.
"Ada apa?" tanya Krystal heran.
Sementara Baekhyun melepaskan mantelnya dengan raut wajah kesal. "Aku benci dengan diriku sendiri," ia menggerutu. "Dan aku lebih membencimu."
Krystal memutar bola matanya. "Aku tahu itu, bodoh." Gadis itu lalu tersentak saat Baekhyun melemparkan mantelnya di atas pangkuan Krystal, menutupi paha gadis tersebut. Baru saja Krystal membuka mulutnya, Baekhyun mendahului ucapannya.
"Jangan bicara apapun. Aku tidak dalam mood untuk berdebat denganmu."
Krystal lalu mengangkat bahu tak peduli.
...
Lima belas menit kemudian, kedua saudara tiri itu berdiri di depan mall, menunggu jemputan. Baekhyun sebenarnya ingin langsung pulang menggunakan taxi, tapi memang dasarnya Krystal itu adalah anak yang kelewat manja, bersisih kukuh tak ingin menaiki taxi. Gadis itu bilang menumpang taxi itu merepotkan, dan baunya aneh.
"Yopseyo?" Krystal sedang menghubungi seseorang saat ini. Awalnya Baekhyun pikir itu Jonghyun, pacarnya Krystal yang tadi sore mengantar mereka ke mall. "Oppa, Aku dan Baekhyun masih ada di mall. Pacarku tidak bisa mengantarku pulang malam ini karena dia sedang sibuk. Bisakah kau yang mengantarkan aku pulang ke rumah?"
Ada yang aneh dari percakapan itu. Pertama, sesibuk apa pacar Krystal sampai tidak punya waktu untuk menjemput kekasihnya pulang di malam hari. Dan yang kedua, kalau bukan pacarnya, siapa yang Krystal hubungi dengan nada manja begitu?
Baekhyun mendengus. Lalu mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Ia tak ingin peduli dengan kehidupan asmara saudara tirinya yang terlihat masih labil itu. Biarkan saja gadis itu belajar sendiri.
"Terima kasih banyak Oppa. Aku tahu selain tampan kau juga sangat baik padaku~"
Hanya perasaan Baekhyun atau memang nada Krystal yang manja itu tampak sengaja dibesarkan agar Baekhyun mendengarnya?
Oke, sekali lagi Baekhyun mencoba untuk tidak peduli. Bahkan saat Krystal mengakhiri hubungan teleponnya dan melemparkan seringai kecil yang ia tujukan pada Baekhyun. Pemuda manis itu hanya menaikkan sebelah alis dengan bingung.
Sekitar sepuluh menit menunggu, akhirnya ada sebuah mobil yang menepi di depan mereka. Baekhyun nyaris tersedak ludahnya sendiri saat menyadari itu adalah mobil milik Chanyeol.
Apa-apaan ini?
Baekhyun yang selama hampir satu bulan tinggal bersamanya saja, tak pernah sekalipun Chanyeol bersedia mengantar jemputnya ke sekolah meskipun tujuan mereka sama. Tapi ini?
Chanyeol menurunkan kaca mobil dan memberi isarat Krystal untuk masuk. Gadis itu dengan senang langsung melompat girang, menempati jok depan di samping kemudi dimana Chanyeol sendiri yang mengendarainya.
"Ayo bacon, bawa semua belanjaanku ke dalam." Krystal memerintah dengan seenaknya dari jendela pintu mobil, jangan lupa dengan seriangai menyebalkannya.
"Iya, iya, cerewet." Baekhyun menggerutu sambil cemberut. Menuruti perintah Krystal demi sebuah foto yang tak ingin menjadi bahan olok-olok di sekolahnya. Dan sekali lagi itu mengingatkan Baekhyun betapa ia semakin membenci Chanyeol, penyebab dari semua penderitaan ini.
Baekhyun duduk di jok belakang dengan berbagai kantung belanjaan Krystal di sampingnya. Sementara sang gadis dengan riang duduk di depan, bercerita apa saja pada Chanyeol yang menanggapinya sesekali, setidaknya Chanyeol tidak terlihat membentak atau mengolok Krystal seperti yang biasa lakukan pada Baekhyun. Diam-diam Baekhyun menghela napas. Ia menoleh ke kaca jendela samping. Menatap pemandangan malam hari di luar dalam diam.
Semuanya sama saja... Ayah, Baekboom hyung, dan si idiot Chanyeol... gumam Baekhyun dalam hati sambil menggigit bibir bawahnya. Tak bisa menahan rasa iri itu kembali muncul saat Krystal selalu mendapatkan perhatian lebih dari dirinya.
Terlalu larut dalam pikirannya membuat Baekhyun sama sekali tidak sadar, kalau Chanyeol beberapa kali meliriknya dari kaca spion mobil.
.
.
.
~ L 3 Y ~
.
.
.
Baekhyun menegak habis air putih dari gelasnya. Lalu menghela nafas. Meletakkan gelas itu di atas meja. Ia masih berdiri di sana, rasanya ia ingin berlama-lama, seolah kakinya terasa berat meninggalkan ruang makan di rumahnya sendiri. Baekhyun merenung. Ia tak tahu apa ini masih pantas disebut sebagai rumahnya saat ia sendiri tidak tinggal lagi di sini. Rumah yang sudah memiliki banyak kenangan masa kecilnya ini, sekarang menjadi tempat tinggal Jessica dan Krystal. Sementara ia yang baru pulang dari China sebulan lalu, malah terlempar di mansion keluarga Park.
Mata Baekhyun melihat sekeliling. Tak banyak yang berubah di sini. Interior meja dan kursi-kursi makannya memang sudah berganti baru seiring waktu, tapi posisi dan letaknya tetap sama. Baekhyun seolah bisa melihat bayangan replika dirinya saat berusia 4 tahun sampai 14 tahun yang melakukan aktifitas di sini. Mulai dari bayangan saat ia berusia 4 tahun yang dipangku oleh ayahnya dan disuapi ibunya, lalu saat ia masih berusia 6 tahun yang terus membututi kemana Baekboom melangkah meski kakaknya tak mau peduli, kemudian saat ia berusia 8 tahun yang cemberut di meja makannya sambil melihat Krystal yang disuapi Baeboom di depannya, dan saat berusia 12 tahun Baekhyun sempat membuat kekacauan di sini dengan saling melempar makanan dengan Krystal, membuat Baekhyun mendapatkan jeweran mematikan dari Jessica sementara Krystal terus menangis karena rambut panjangnya berbau busuk.
Baekhyun mendengus, menahan senyuman gelinya untuk tidak berkembang menjadi lebih lebar hanya karena mengingat hal konyol yang sering ia lakukan dengan saudara tiri yang menyebalkannya itu.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
Tubuh Baekhyun menegang. Ia berbalik, melihat Jessica yang sedang mengenakan dress tidurnya dengan rambut tergerai, melangkah elegan memasuki ruang makan. Tatapan angkuh dan sombong itu tak pernah berubah sejak dulu.
Belum sempat Baekhyun menjawab kalau ia hanya Krystal pulang dari mall, dan singgah untuk menghilangkan dahaganya sejenak. Ibu tirinya itu sudah menduluinya.
"Apa kau ingin numpang makan malam di sini?"
"Apa?" Baekhyun menganga.
"Ku kira keluarga Park memperlakukanmu dengan baik di sana? Tapi sepertinya tidak? Kenapa?" Jessica melipat kedua tangannya di bawah dada. "Apa karena perilakumu yang buruk itu tidak juga berubah? Makanya mereka juga memperlakukanmu buruk, iya kan?"
Baekhyun ingin membalas, tapi ia bingung. Kalau dipikir itu ada benarnya. Perilakunya pada Chanyeol memang selalu buruk. Mulai dari berteriak, mengejek, menendang dan bahkan sudah dua kali ia membanting Chanyeol dengan keahlian hapkidonya. Tapi, bukankah itu semua karena Chanyeol dulu yang memulai dan suka cari masalah dengannya. Emm... iya kan? Entah kenapa Baekhyun mulai ragu dengan siapa duluan yang sering membuat masalah di antara mereka.
"Apa ini?" Jessica menarik salah satu kantung belanja Krystal di atas meja makan. Baekhyun tadi memang meletakkan semua kantung belanja itu di sana, terlalu malas untuk membawanya ke kamar Krystal di atas, biarkan gadis itu melakukannya sendiri. "Oh, jadi kau baru saja berbelanja dengan Krystal." Mata Jessica menjelajahi semua jumlah kantung belanja itu. "Kenapa banyak sekali? Apa kau juga meminta Krystal untuk membelikannya untukmu?"
Mata Baekhyun melebar mendengar tuduhan Jessica itu. "Apa? Aku tidak–"
"Aku tahu putri-ku itu polos. Tapi sebagai saudaranya, meski hanya tiri, kau tidak seharusnya meremas kantung putriku."
Mulut Baekhyun yang menganga, semakin melebar jatuh ke bawah. Baru saja ia ingin berteriak, yah berteriak, membantah itu semua, sebelum sebuah suara lain datang di antara mereka.
"Kenapa kau lama sekali?"
Itu Chanyeol, yang sedang berdiri di ambang pintu ruang makan. Bukan hanya Jessica, Baekhyun sendiri juga terkejut melihat kehadirannya.
"Jangan membuatku menunggumu terlalu lama, atau aku akan benar-benar meninggalkanmu di sini," lanjutnya lagi.
Baekhyun tidak mengerti. Ia pikir Chanyeol sudah pulang duluan setelah menurunkan Krystal dan dirinya di rumah ini. Ia pikir Chanyeol hanya berniat mengantar Krystal ke rumah, sementara Baekhyun sendiri akan naik taxi untuk kembali ke mansion Park setelahnya. Ia pikir, yeah, ia pikir... Well, Chanyeol memang tidak mengatakan apapun (seperti menyuruhnya untuk pulang sendiri) tadi dan Baekhyun hanya berspekulasi sendiri.
"Oh, Chanyeol-ah," sebuah senyuman –entah tulus atau tidak– muncul di wajah Jessica. "Kau juga datang ke sini."
Chanyeol melirik Jessica sekilas, lalu kembali menjatuhkan pandangannya pada Baekhyun yang berdiri di seberang meja sana. "Cepatlah, kalau urusanmu sudah selesai," katanya lagi tertuju pada Baekhyun. Mengabaikan wanita berumur yang baru saja menyapanya.
Baekhyun tidak terkejut sih melihat sikap Chanyeol yang tidak sopan dengan orang tua. Dengan ayahnya dan gurunya saja Chanyeol berani, apalagi hanya dengan Jessica.
"Chanyeol Oppa!" kini Krystal yang muncul dari belakang punggung Chanyeol. "Kenapa kau ke sini? Aku kan memintamu untuk menunggu di ruang tamu saja."
Seketika Baekhyun yang sejak tadi diam, mempoutkan bibirnya. Ternyata bukan untuk menunggunya, Chanyeol sedang menunggu Krystal yang sedang ganti baju. Apa mereka berencana keluar malam ini?
Chanyeol mengulurkan tangannya di depan Krystal. Baekhyun sempat mengira kalau dugaannya benar, tapi.
"Mana kartu kreditku? Aku ingin segera pulang?"
Eh? –raut wajah bingung Baekhyun terlihat bodoh saat ini.
Krystal cemberut. Mengambil dompet dari saku celananya dan mengeluarkan kartu kredit yang sejak tadi ia pakai di mall. "Kenapa buru-buru sekali ingin pulang?" nadanya terdengar merengek. "Tapi ngomong-ngomong, terima kasih hadiahnya Oppa. Meskipun hari ulang tahunku sudah lama lewat, tapi aku senang dapat hadiah ulang tahun darimu untuk tahun ini." Tanpa segan, Krystal mengapit lengan Chanyeol dan mengayunkannya dengan manja.
Bukannya memutar bola matanya seperti setiap kali Baekhyun melihat sifat maja Krystal pada orang lain, tatapan Baekhyun malah menajam ke arah lengan mereka.
"Hm," Chanyeol mengangguk santai, menyimpan kartu itu di kantungnya. "Tapi," ia menoleh, beradu pandang dengan Jessica, lalu menampilkan seringai yang seolah merendahkan orang yang berada di bawah tatapannya. "Aku tidak akan melakukannya kalau bukan Baekhyun yang memintaku. Jadi secara teknis, semua barang belanjaan itu Baekhyun yang membelikannya untuk mu."
Dia memang berbicara dengan Krystal yang berdiri di sampingnya, tapi tatapan yang tak lepas dari Jessica membuat semua kalimatnya seolah juga ditujukan untuk Jessica.
"Sebenarnya aku cukup prihatin dengan masalah keuangan dalam perusahaan keluargamu. Bukan kah itu juga salah satu alasan kenapa kalian menerima pertunangan ini? Jadi, menurutku, apa salahnya membantu keluarga dari calon tunanganku," tatapan Chanyeol lalu beralih ke arah Baekhyun, dan kilatan jahil terpantul di mata Chanyeol. "Iya kan, chagi?"
Baekhyun memutar bola matanya. Ia tahu, kalau tentang adu kesombongan, Chanyeol alihnya. Tapi untuk kali ini, ia malah ingin tersenyum bangga karena kesombongan Chanyeol yang menyindir Jessica. "Iya, kau benar, idiotku sayang," balasnya sarkastik –kebiasaan lama tidak bisa diubah.
Chanyeol mendelik. "Ayo cepat, kita harus pulang, kerdil!" Ia berbalik pergi.
Baekhyun ikut melotot. "Apa? Yach! Tunggu! Kau mengataiku apa tadi?" dengan tergesa ia berlari menyusul Chanyeol.
"Tunggu, Oppa! Kau serius langsung ingin pulang?" Krystal pun mengekor di belakang mereka.
Meninggalkan Jessica yang terdiam dengan wajah merah, menahan malu atas sindiran Chanyeol.
Saat Baekhyun duduk di jok depan samping kemudi, dan Chanyeol menjalankan mobilnya keluar dari halamar rumah, Baekhyun sempat melihat wajah sedih Krystal yang menatap kepergian mobil mereka dari depan pintu remah. Baekhyun jadi bertanya-tanya, apa mungkin Krystal benar-benar menyukai Chanyeol? Tapi bukan kah dia sudah punya pacar? Ah... tapi kekasihnya yang katanya mahasiswa itu terlihat sangat sibuk dengan tugasnya dan lebih sering mengabaikan Krystal.
Baekhyun menyandarkan punggungnya, menatap kaca jendela samping mobil sekaligus menatap refleski dirinya yang tidak begitu jelas di sana. Apa keputusannya kembali ke korea ini benar? Mengapa lagi-lagi dia membawa masalah di sini?
Baekhyun merenung. Entah kenapa hari ini dia banyak sekali merenung. Apa mungkin karena ia terlalu lelah seharian ini? Atau mungkin karena efek pemandangan kota malam yang terlintas di kaca jendela itu?
"Mungkin saja benar..." Baekhyun bergumam sendiri tanpa sadar.
"Apanya?"
Baekhyun sedikit tersentak. Tak menyangka ucapannya terdengar dan bahkan dibalas oleh Chanyeol yang duduk di sampingnya. Tanpa menoleh, Baekhyun bisa melihat dari kaca jendela mobil refleksi bayangan Chanyeol yang sedang fokus menyetir.
"Tidak," entah kenapa Baekhyun ingin tersenyum melihat refleksi bayangan Chanyeol. "Hanya saja..." Baekhyun menghela nafasnya. "Aku merasa jadi pengganggu di sini."
Chanyeol tersenyum mengejek mendengarnya. Tanpa melepaskan pandangannya dari jalanan di depannya, Chanyeol membalas. "Kau baru sadar? Sejak dulu kau itu memang pengganggu," kata Chanyeol dengan niat jahil.
Tapi apa yang tidak Chanyeol duga, Baekhyun menanggapinya dengan serius.
"Benar kan? Kau yang baru mengenalku selama sebulan saja berpikir begitu. Apalagi orang-orang terdekatku..."
Alis Chanyeol berkerut mendengarkan nada menyedihkan dari suara yang biasa membentaknya
Baekhyun menunduk, melihat jemari lentiknya yang memelintir ujung seragam sekolahnya, kebiasaannya saat merasa bersalah.
Ibunya yang meninggal muda. Kakak yang terus menyalahkannya. Ayah yang mengusirnya. Mungkin dia memang pantas menerimanya karena kelakuan buruknya selama ini.
"Aku memang buruk..." Baekhyun tersenyum kecut. "Seharusnya aku tidak memutuskan untuk kembali ke sini. Belum tentu ayah mau melihat wajahku setelah ia sadar nanti. Apalagi dengan kekacauan yang sudah kubuat. Kalau bukan karena aku, Krystal mungkin sudah menjadi calon tunanganmu saat ini. Dia tidak akan dicampakkan oleh pacarnya yang terlalu sibuk, dan kau, yang benci gay, tidak harus marah-marah tiap hari karena calon tunanganmu adalah perempuan. Aku benar kan?"
Baekhyun menghela nafas sedih. "Kalau dipikir-pikir lagi. Bukan aku yang menjadi cinderella-nya. Tapi Krystal. Dia manis, manja, dan mendapatkan semua perhatian orang-orang. Sementara aku hanya saudara tirinya, yang iri padanya, dan mengacaukan impiannya..."
...sekaligus merebut pangerannya, lanjut Baekhyun dalam hati. Itu lah mengapa aku mendapatkan perlakuan tidak adil di istana oleh pangerannya, karena bukan aku yang seharusnya ada di sana.
"Ayah selalu benar. Ini bukan negeri dongeng, iya kan?" lanjut Baekhyun, menggigit bibir bawahnya.
"Apa kau sudah selesai?" sinis Chanyeol. "Kau itu laki-laki, kan? Mengapa melankolis sekali."
Mood Baekhyun yang tadi hampir menangis, langsung berubah menjadi jengkel. Diliriknya Chanyeol dengan sinis di sampingnya. "Yach! Kau itu bukan pendengar yang baik, kau tahu! Beda sekali dengan Sehun." Baekhyun mempoutkan bibirnya.
Chanyeol meliriknya tajam. "Jangan bandingkan aku dengannya!" Chanyeol tiba-tiba memutar kemudinya ke samping.
Baekhyun mengerutkan keningnya. Ia menoleh ke belakang, lalu melihat jalanan besar yang kosong di depan. "Kenapa kita ke jalan tol? Hey, ini bukan ke jalan mansionmu!"
Chanyeol menyeringai. "Daripada meratapi jalanan seperti gadis melankolis, biar ku tunjukkan padamu apa yang biasa dilakukan laki-laki untuk menghilangkan penatnya." Tangannya menarik pedal gas.
Mata Baekhyun melebar.
Mobil Chanyeol melaju dengan kecepatan bagaikan mobil balap menembus malamnya jalan tol.
.
.
.
~ L 3 Y ~
.
.
.
"Yuhuuuu~~" Baekhyun berteriak kegirangan di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Chanyeol tersenyum sangat lebar di sampingnya. Setelah beberapa kilo, Chanyeol mengurangi kecepatannya, jalur hendak menuju keluar jalan tol. Chanyeol sendiri juga tidak berpikir pergi terlalu jauh, dia akan putar balik nanti.
"Dae~bak~." Baekhyun tertawa. "Kukira kau hanya pandai main game komputernya saja."
"Cih. Jangan remehkan aku." Chanyeol tersenyum bangga, melirik tawa Baekhyun di sampingnya. "Aku yang malah mengira kau akan berteriak ketakutan seperti anak perempuan."
"Yach!" bentak Baekhyun, tapi ia tidak bisa menghentikan senyumannya. Sama dengan Chanyeol. Baekhyun melihat jalur yang Chanyeol tuju. "Hei, kita kembali ke mansion lewat jalan tol lagi?"
"Tentu saja." Chanyeol sudah bersiap untuk meningkatkan kecepatannya. "Bersiaplah menuju babak ke dua."
"Tunggu!"
"Apa?"
"Biarkan aku mencobanya?"
Mata Chanyeol melebar, "Apa?"
"Ayolah, biarkan aku mencobanya~" tangan Baekhyun terkatup di bawa dagunya, bibirnya mengerucut, mukanya melemas. Chanyeol berkedip.
Oke, Chanyeol pernah melihat ekspresi itu saat kencan buta mereka dengan Baekhyun yang menyamar jadi perempuan, bukan dengan rambut hitam pendek dan seragam sekolah laki-laki yang memperlihatkan dengan jelas kalau dadanya rata. Tapi meski begitu...
Aegyo Baekhyun tetap terlihat cute...
Chanyeol memalingkan wajahnya. Sekilas meneguk air ludahnya. "Baiklah..."
Padahal sebelumnya Chanyeol tak pernah sekalipun membiarkan orang lain mengendarai mobil kesayangannya ini, termasuk Sehun dan Kai.
Semoga saja keputusannya tidak salah. Tapi kenapa firasat Chanyeol terasa buruk.
"Kau yakin bisa melakukannya?"
"Tentu saja." Baekhyun mengangguk semangat. "Aku juga jagoan dalam hal ini."
Tiga menit kemudian...
Bamper mobil mahal milik Chanyeol sudah melengkung dan menempel di tiang lampu jalan yang sudah membengkok. Asap kecil terus keluar dari mesin dalam kap depan. Tak jauh dari tempat itu, dua pemuda berbeda tinggi berdiri saling berhadapan.
Baekhyun menunduk, memainkan ujung seragamnya. Kali ini ia mengaku salah. Jadi ia tidak berani mendongak dan memasang wajah menantang seperti biasa.
"Jagoan dalam hal ini, huh?"
Nyali Baekhyun makin menciut. Dalam bayangan imajinernya, tubuh mungilnya yang menunduk itu semakin mengecil, mengecil, dan mengecil di bawah tatapan tajam Chanyeol. Sementara pemuda tinggi itu makin menjulang, menjulang, dan menjulang sampai atas langit.
"Kapan terakhir kali kau menyetir mobil?"
"Emm... tiga bulan lalu."
Alis Chanyeol berkerut. "Beberapa kali kau sudah menyetir?"
"Dua kali!" Baekhyun mengacungkan dua jarinya dan mendongak semangat. Tapi dengan cepat kembali menunduk setelah melihat mata Chanyeol makin melotot padanya. "Kupikir ini akan sama dengan game PSP. Jadi aku berani mencobanya..."
"Kau..." Chanyeol mendesis. Jari-jemarinya sudah gatal ingin sekali menghabisi pemuda mungil di depannya ini. Jalanan malam sedang sepi, memberinya kesempatan bagus untuk melakukan apapun pada bocah yang sudah menghancurkan mobil kesayangannya.
"Maaf..."
Aura membunuh Chanyeol langsung berhenti.
"Kali ini aku mengaku salah, maaf..." lirih Baekhyun.
Chanyeol membuang nafas keras. Ia segera menghubungi Leeteuk lewat ponselnya. Meminta pelayan pribadinya itu segera mengirim mobil derek dan mobil jemputan mereka.
"Tidak usah diperbaiki, langsung dijual atau dibuang, terserah. Aku mau beli mobil baru saja. Beritahukan ayah juga, kalau ini gara-gara si pendek ini, bukan aku –akh! Yach! Aku sedang menelpon. Jangan menendang kakiku!"
"Siapa yang kau katai pendek!"
"Diam. Atau aku akan mengikat tubuhmu di tiang lampu itu dan meninggalkanmu sendiri di sini! Ah, ya, dan jangan lupa kalau ini semua gara-gara kau!" Chanyeol menunjuk tepat di depan hidung mungil Baekhyun, yang baru ingat kesalahannya di awal. "Hallo, Leeteuk ahjusshi, kau masih mendengarku?"
"Iya tuan, saya akan segera–"
"Tapi salahmu juga yang membiarkan aku mengendarainya," gumam Baekhyun sambil cemberut.
"Baekhyun!"
"Baiklah, aku diam!"
Chanyeol menghela napas. "Halo Leeteuk-ahjusshi? Sampai mana tadi?"
"Kami akan segera mengirim jemputan ke tempat anda, dan mobil dereknya."
"Benar. Baiklah, hanya itu saja–"
"Aku lapar~" Baekhyun mengeluh di sampingnya.
"Bawakan juga makanan," tambah Chanyeol cepat, reflek.
Baekhyun tersenyum lebar. Chanyeol menatapnya sambil mendelik. "Bukan untukmu, pendek! Hanya untukku!"
Bibir Baekhyun mengerucut imut. Tapi detik kemudian ia tersenyum, seolah mendapatkan penerangan.
Sambil menyimpan ponselnya kembali ke saku celana, Chanyeol melirik Baekhyun yang sedang membongkar tas ransel sekolahnya.
"Hey, jangan bilang kau mau mengerjakan pr di tengah jalan."
Baekhyun tidak menjawab. Ia mengeluarkan kantung plastik dari dalam tasnya. Dan Chanyeol baru sadar kalau itu plastik yang berisi roti-roti sandwich yang ia berikan pada Baekhyun tadi siang.
"Kau tidak memakannya tadi siang? Jangan bilang kau ingin membuangnya di depanku?" suara Chanyeol meninggi. Merasa tersinggung.
Baekhyun mencibir. "Mengapa kau suka sekali menuduhku yang aneh-aneh sih!" ia membenarkan sebentar letak ranselnya, melompat kecil satu kali seperti kelinci, entah apa maksudnya. "Kau memberikanku terlalu banyak. Jadi aku hanya memakan setengahnya saja tadi siang." Baekhyun mengulurkan salah satu sandwich itu di depan Chanyeol. "Ambil lah, jangan malu~" Baekhyun menggodanya dengan nada jahil.
Chanyeol mendelik. "Siapa juga yang malu?" Ia mengambilnya dengan cepat. "Lagipula aku yang beli, aku mau ambil semunya juga terserah aku."
Mereka bersandar di pagar pembatas jalanan tol, mengunyah roti sandwich masing-masing. Melihat langit malam yang kelam. Tak ada bintang yang terlihat. Tapi entah kenapa terasa nyaman.
"Kau tahu..." Baekhyun memulai setelah keheningan satu menit mereka. "Ternyata kau tidak buruk juga, kau masih punya sisi baik..." Baekhyun tersenyum di sela kunyahan rotinya.
Chanyeol meliriknya dari sudut matanya, lalu ikut memandang langit di atas mereka. "Jangan salah paham, aku masih membencimu..."
"Aku tahu." Balas Baekhyun cepat. Tiba-tiba gigitan di rotinya terdengar keras seperti bergemelutuk. "...dan aku juga membencimu."
Aura Baekhyun berubah, Chanyeol menyadarinya.
"Jangan pikir kau lupa dengan apa yang sudah kau lakukan padaku."
Alis Chanyeol berkerut, "Apanya?"
"KENAPA KAU MENYIMPAN FOTO MEMALUKANKU DAN MEMBERIKANNYA PADA KRYSTAL!"
"AAAGHH! YAH! JANGAN TARIK RAMBUTKU!"
...
Lima belas menit kemudian, mobil jemputan mereka baru tiba. Penampilan dua pemuda itu, Chanyeol dan Baekhyun, sudah tidak beraturan. Keduanya terengah-engah. Pakaian tak lagi rapi. Rambut acak-acakan.
Kangin –supir pribadi– dan Leeteuk saling melempar pandang bingung. Kangin tersenyum nakal, lalu berbisik di telinga Leeteuk. "Apa mereka baru saja melakukan'nya' di pinggir jalan? Kau tahu, semacam 'em-em' publik."
"Hush! Diamlah, cepat jalankan mobilnya."
Sementara Baekhyun dan Chanyeol, yang sama-sama duduk di bangku belakang, saling melempar pandang ke arah lain dan duduk saling memunggungi selama perjalanan pulang mereka.
.
.
.
~ L 3 Y ~
.
.
.
Selama satu bulan Baekhyun bersekolah di DHS, hanya satu kali ia mengunjungi kantin sekolah. Itu pun di hari pertama, di mana ia langsung mendapatkan pembullyan pelemparan makanan. Sejak saat itu, ada rasa takut untuk memasuki kantin sekolahnya sendiri. Dan hanya Jongdae yang biasa membelikan atau bahkan membawakan sandwich secara gratis dari kantin sekolah.
Tapi untuk hari ini, Baekhyun mencoba untuk melawan rasa takutnya. Ia memasuki kantin dengan Jongdae yang tak bosan untuk terus merangkul bahu kecil Baekhyun. Jongdae terlihat bahagia melihat teman sekelasnya ini akhirnya mau menemaninya makan siang di kantin. Mereka mengambil nampan dengan pesanan makan siang yang mereka pilih. Baekhyun berjalan duluan di depan Jongdae untuk mencari meja yang masih kosong. Sejauh ini tidak ada yang terjadi hal memalukan pada Baekhyun. Sepertinya siswi-siswi tertentu dibalik pembullyan Baekhyun tidak berani membullynya di depan umum.
"Anyeong Kyungsoo-yah." Baekhyun tersenyum sambil meletakan nampannya di atas meja kantin yang hanya ditempati oleh Kyungsoo.
Kyungsoo mendongak sebentar, memberi tatapan datar pada Baekhyun dalam dua detik, lalu kembali melanjutkan makan siangnya. Jongdae yang mengikuti Baekhyun di belakang, berdiri dengan gelisah.
"Em, Baek, kurasa masih ada meja kosong lainnya."
"Kenapa? Di sini juga masih ada tempat kosong. Lagian Kyungsoo tidak keberatan kita duduk di sini menemaninya. Iya kan Kyungsoo-yah?" Baekhyun yang sudah duduk di samping Kyungsoo, menyenggol pelan lengan pemuda bermata bulat itu.
Kyungsoo hanya mengangguk singkat dengan mulut yang sedang menyedot mie hitamnya.
"Oh, Oke." Meski terlihat enggan, akhirnya Jongdae memilih duduk di sisi Baekhyun lainnya, membuat Baekhyun berada di tengah-tengah mereka. Rasanya aneh melihat Jongdae yang biasanya cerewet kini banyak diam di samping Baekhyun.
"Kau kenapa?" tanya Baekhyun pada Jongdae. "Apa kau tidak senang aku menemanimu makan di kantin?" bibir tipis Baekhyun mengerucut.
"Bukan-bukan begitu."
"Lalu?"
Jongdae mendekati telinga Baekhyun, ia berbisik hati-hati. "Sejak kapan kau mengenal anak itu?" dagunya sedikit bergoyang menunjuk pada pemuda yang duduk di sisi lain Baekhyun.
"Baru kemarin," ada yanga aneh dengan cara Jongdae berbisik maupun melirik hati-hati pada sosok Kyungsoo yang sejak tadi tak mengatakan apapun. "Memangnya kenapa dengan Kyungsoo?" balas Baekhyun berbisik, penasaran.
"Dia itu otaku yang aneh. Lebih suka menyendiri dan tak bersahabat dengan siapa pun. Banyak rumor menakutkan beredar tentangnya. Meski aku sendiri tak pernah membuktikkannya, tapi kusarankan kau berhati-hati dengannya." Jongdae terlihat bersungguh-sungguh.
Seperti yang ia bilang, Baekhyun baru mengenal Kyungsoo kemarin, jadi ia tidak bisa berkomentar apapun.
"Oh, di sini kau rupanya." Suara lain menarik perhatian mereka. Sehun datang dan mengambil tempat duduk di depan mereka, tepat diseberang meja Baekhyun. Mulut Jongdae terbuka, terlalu terkejut dengan kenyataan melihat salah satu X4 semeja dengannya.
Mata Baekhyun melirik sekitar dengan gelisah. Ia sadar dengan pusat perhatian yang langsung tertuju pada meja mereka. Beberapa siswi meliriknya sinis dan berbisik-bisik. Baekhyun mendesah. "Mengapa kau di sini?' suaranya pelan, tertuju pada Sehun yang duduk dengan santai di depannya.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu. Mengapa kau di sini? Aku sudah menunggumu seperti biasa di perpustakaan."
Dan berbagai bisikan semakin terdengar ribut di sekitar mereka. Baekhyun menepuk keningnya frustasi. "Kau tahu apa maksudku, Sehun."
Sehun tersenyum tipis nan geli, sesuatu yang tak pernah terlihat di mata orang lain setelah sekian lama. "Maaf, aku tau kau tidak mau menarik perhatian orang lain, tapi aku tidak bisa menahan diriku lagi." Sehun sedikit mencondongkan tubuhnya di atas meja, menatap Baekhyun lebih dekat. "Tentang kejadian kemarin. Aku jadi makin penasaran. Kau tahu. Dan kenyataan kau tak pernah mau menjawab pertanyaanku membuatku makin penasaran, penasaran, dan sangat penasaran. Tck." Sehun berdecak, memundurkan tubuhnya, kembali duduk seperti semula. "Ayolah, Baekhyun. Beritahu aku apa hubungan kalian sebenarnya? Berhenti membuatku semakin penasaran."
Baekhyun ikut berdecak. "Kenapa juga kau selalu bertanya padaku? Ku kira kalian bersahabat. Mengapa tidak langsung bertanya padanya saja?"
"Aku ingin mendengar jawaban darimu, bukan darinya," jawab Sehun. Alis Baekhyun berkerut tak mengerti. "Lagian, aku sedang tidak ingin bicara dengannya. Kemarin dia sudah membohongiku dan mengerjaiku." Sehun tak ingin menjelasakan lebih lanjut mengenai dirinya yang menemui Kai yang sedang masturbasi di toilet.
"Kau ngambek?" tuduh Baekhyun.
"Ngambek? Kau pikir aku anak kecil."
Mengabaikan ekspresi tak terima Sehun, Baekhyun tersenyum geli. "Kau maknae, dan kau sedang ngambek dengan hyungmu," sebisa mungkin Baekhyun menahan tawa agar tak meledak, tak ingin menarik perhatian lebih dari ini.
Sehun berjengit, sedikit terkejut dengan getaran ponsel di sakunya. Setelah melihat layar panggilan di ponselnya, Sehun berdiri, pamit sebentar pada Baekhyun, lalu pergi meninggalkan kantin sambil mengangkat teleponnya dengan raut wajah datar.
"Kau harus menjelaskan sesuatu padaku," tuntut Jongdae langsung.
Baekhyun tak bisa mengelak, ia mengangguk. "Nanti kujelaskan." Baekhyun menoleh ke sisi lain. " Oh ya, Kyung–" panggilannya terhenti saat melihat tak ada siapa pun di sisi kanannya. "Eoh?" Mata Baekhyun melihat sekitar, tapi ia tak melihat sosok Kyungsoo di manapun. "Eum, Jongdae, sejak kapan Kyungsoo pergi? Kenapa aku tidak menyadarinya?"
"Molla," Jongdae mengangkat bahu, tak peduli.
.
.
.
~ L 3 Y ~
.
.
.
Sekolah sudah mulai terlihat sepi sejak bel pulang berbunyi tiga puluh menit lalu. Lagi-lagi Baekhyun pulang paling akhir setelah mendapatkan tugas tambahan dari JYP akibat pr kemarin yang belum ia kumpulkan.
"Oi, Byun!" suara wanita memanggilnya.
Air kotor hitam –entah bekas apa saja– dan berbau aneh, langsung mengguyur tubuh Baekhyun yang baru saja berhenti melangkah, ia bahkan tak sempat mendongak untuk melihat sumber suara yang telah memanggilnya dari lantai dua. Kejadian itu terlalu cepat, membuat Baekhyun tidak bisa menghindar. Ia ingin mendongak lagi untuk melihat ke atas setelah guyuran air itu selesai. Tapi apa yang tidak ia sangka, itu belum berhenti. Seember pasir jatuh mengotori tubuh Baekhyun dari atas kepala sampai seluruh tubuhnya.
"Akh," Baekhyun jatuh berjongkok, matanya kelilipan pasir, dan itu terasa begitu perih. Samar-samar ia bisa mendengar tawa dari beberapa gadis, lalu teriakan seseorang.
"Yach! Berhenti! Atau aku akan memanggil dewan kesiswaan!"
Tawa kecicikan gadis itu berhenti, dan terdengar suara derap langkah mereka yang segera berlari menjauh dari balkon koridor lantai atas.
"Hei, kau tidak apa-apa?"
"Siapa?" Baekhyun bertanya, masih menutup matanya yang perih, merasakan seseorang menyentuh bahunya.
"Ini aku, Kyungsoo."
Senyuman Baekhyun melebar, tapi langsung mengerucut sedih. "Mataku kelilipan."
"Sini, biar kutiup."
Baekhyun baru bisa melihat dengan jelas –meski matanya masih berair karena perih– setelah Kyungsoo beberapa kali meniup pelan kedua matanya. "Terimakasih."
"Kau sangat kotor."
Baekhyun membersihkan wajahnya dari pasir-pasir yang melengket, dibantu oleh Kyungsoo.
"Aku tidak punya tissu."
Baekhyun tersenyum di antara penampilannya yang kacau. "Tak apa, terimakasih dengan niat baikmu. Aku tau kau orang baik."
Kyungsoo mengernyit, tak mengerti dengan Baekhyun yang sempat tersenyum di saat seperti ini.
"YACH!" Jongdae dari ujung koridor, berlari ke arah mereka. Dia langsung mendorong Kyungsoo dengan kasar. "Apa yang sudah kau lakukan pada Baekhyun?"
Baekhyun tersentak. "Tunggu, Jongdae, kau–"
Bruk!
Kyungsoo tersungkur di lantai. Kepalan tangan Jongdae sudah melayang di udara. Baekhyun melotot. "Kim Jongdae!"
.
.
.
~ L 3 Y ~
.
.
.
Do Kyungsoo itu pendiam dan ia seorang otaku, sebutan bagi orang yang maniak dengan anime jepang. Dia memang selalu sendiri dan tak punya teman dekat, bukan karena ia tak bersahabat, ia hanya tak pandai bersosialisasi dengan lain. Baekhyun pernah bertemu anak yang pribadinya hampir mirip dengan Kyungsoo di panti asuhan milik kakeknya dulu, karena itu ia tidak merasa tersinggung saat Kyungsoo menatapnya tak bersahabat di pertemuan pertama mereka.
Jongdae meminta maaf pada Kyungsoo karena memukulnya tanpa mendengarkan penjelasan Baekhyun terlebih dahulu. Kyungsoo tidak marah, hanya mengangguk kecil tanpa kata sambil memegang pipinya yang bengkak. Baekhyun jadi punya keinginan besar ingin memeluk pemuda yang bahkan lebih mungil darinya itu, tapi ia langsung mengurungkan niatnya begitu ia sadar kalau seluruh tubuhnya kotor oleh pasir dan basah karena air.
Baekhyun merasa dirinya terlihat menjijikkan.
"Kau bisa membersihkan dirimu di tempatku, kalau kau mau. Rumahku tidak jauh dari sini."
Mata Baekhyun langsung berbinar menatap kebaikan hati Kyungsoo yang menawarkannya –meski Kyungsoo masih memasang wajah datar tanpa senyum ramah. Jongdae memilih ikut dengan mereka, ia masih mengkhawatirkan Baekhyun.
Jam sudah menunjukkan tujuh malam saat Baekhyun baru saja kembali ke mansion Park, dengan pakaian kasual pinjaman dari Kyungsoo. Seragam kotornya yang sudah dicuci terpaksa harus menginap di tempat jemuran di pekarangan rumah Kyungsoo. Untungnya besok hari minggu, jadi Baekhyun tidak terlalu mempermasalahkannya.
Seorang bulter bernama Yesung memasuki kamar Baekhyun, memberitahukannya dengan sopan kalau makan malam telah siap. Tapi Baekhyun menolak halus, mengatakan ia sudah makan malam di rumah temannya. Tak lama setelah Yesung pergi, Chanyeol memasuki kamar tersebut.
"Kau dari mana saja? Ehm. Bukannya aku penasaran. Kau mau tidak jawab juga tidak apa-apa."
Baekhyun memutar matanya malas. Satu bulan tinggal dengan Chanyeol sudah membuatnya mengenal dengan baik sebarapa tingginya harga diri yang Chanyeol pasang pada dirinya. Tck, dasar orang kaya sombong.
Chanyeol mengetuk kakinya di lantai. Tetap berdiri di belakang Baekhyun yang sedang mengeluarkan buku-buku basahnya dari tas. Kening Chanyeol sempat berkerut penasaran dengan pemandangan itu, ia ingin bertanya lagi, tapi Baekhyun mendahuluinya.
"Kau tidak akan pergi sebelum aku menjawab pertanyaanmu, iya kan?" Tak ada jawaban dari Chanyeol yang berada di belakangnya, Baekhyun kembali melanjutkan. "Aku dari rumah temanku."
"Teman yang mana yang kau maksud? Apa muka kotak jelek yang selalu berada di sampingmu itu?"
"Jangan menghina temanku!" Baekhyun berbalik. "Kau bahkan lebih jelek darinya."
Chanyeol melotot. "Yah!"
"Sudahlah Chanyeol, aku capek." Baekhyun kembali membelakangi Chanyeol, mendengus lelah. "Keluarlah, dan jangan mengangguku." Ia sibuk memila buku-buku basah yang ia jemur di bawah lampu belajar.
Chanyeol cemberut tanpa sepengetahuan Baekhyun. "Apa kau lupa, ini kamarku juga, dasar pendek." Chanyeol melempar dirinya sendiri di atas kasur king size. "Malam ini aku ingin tidur di sini."
Gerakan tangan Baekhyun terhenti. Meski sudah satu kamar, mereka tidak pernah tidur satu ranjang. Terakhir kali mereka berdebat mengenai ranjang, Baekhyun berakhir tidur di lantai lalu jatuh sakit keesokan harinya. Sejak saat itu Chanyeol membiarkan Baekhyun menempati ranjang king sizenya tiap malam sementara ia tidur di ranjang sofa di ruang santai.
Baekhyun menoleh, menatap pemuda tinggi yang berbaring terletang di ranjang. "Apa kau menyuruhku tidur di lantai lagi?"
Tatapan Chanyeol tetap tertuju pada langit-langit kamarnya. "Terserah kau saja," jawabnya tak acuh.
Alis Baekhyun berkerut. "Kau tidak keberatan kalau kita tidur seranjang?"
"Kau takut?"
"Untuk apa takut?"
Chanyeol mengangkat bahu. "Badanmu kecil, aku besar, bisa saja kau tiba-tiba mati karena tertimpa badanku." Ia lalu tersenyum mengejek.
Baekhyun memutar bola matanya. "Mana bisa seperti itu? Ranjangnya luas, aku tinggal menjaga jarak tidurku denganmu."
"Kalau aku berbuat macam-macam?"
"Berbuat macam-macam seperti apa maksudmu?"
"Yeah..." Chanyeol menggantung ucapannya.
"Jangan mencoba menakutiku, idiot. Aku tahu kau benci gay, jadi untuk apa aku khawatir."
Chanyeol mendengus sendiri, entah apa yang mengganggu dirinya. "Benar," balasnya kemudian sambil memejamkan matanya.
Tak ada lagi yang mengeluarkan suara, kecuali dari suara gerakan Baekhyun yang merapikan buku-bukunya. Semenit kemudian Baekhyun melangkah mendekatinya.
"Hei, kau sudah tidur?"
Chanyeol membuka matanya, melihat Baekhyun duduk di sampingnya, menyodorkan sebuah kotak makanan.
"Ini. Aku bawakan beberapa dumplin buatan temanku. Rasanya sangat enak, karena itu aku memintanya untuk dibawa pulang. Aku jadi ingin belajar membuat ini darinya. Ayo, makanlah." Tak ada gerakan apapun dari Chanyeol yang masih berbaring di ranjang. Baekhyun memalingkan wajahnya, sekilas pipinya merona. "Jangan menatapku aneh seperti itu. Anggap saja sebagai permintaan maaf karena aku sudah merusak mobilmu kemarin."
Chanyeol bangkit, duduk di tepi ranjang seperti Baekhyun. "Kau yakin tidak ingin meracuniku? Akh!" Chanyeol mengaduh, kepalanya teratuk ke depan karena Baekhyun menampar belakang kepalanya. "Apa yang–"
"Aku sudah berniat baik, bodoh. Jangan menuduhku macam-macam." Baekhyun memakan salah satu dumplin tersebut, mengunyah dengan gerakan cepat yang anehnya malah terlihat lucu karena pipinya mengembung dan bibirnya yang mengerucut imut. "Lihat," Baekhyun menunjuk dirinya sendiri setelah menelan makanannya. "Tidak ada yang terjadi padaku, iya kan?" tanpa menunggu tanggapan dari Chanyeol, Baekhyun meletakkan kotak makanan tersebut di atas paha Chanyeol. "Kau mau makan atau membuangnya, terserah. Yang jelas aku sudah memberikan ini sebagai permintaan maafku."
Baekhyun berdiri, menuju lemari untuk mengambil baju tidurnya. Ia sempat melirik Chanyeol di atas ranjang, yang mulai memakan satu dumplin itu meski dengan gerakan ragu. Baekhyun kembali fokus pada lemarinya. Setelah mengambil satu set piyamanya, ia berjalan menuju kamar mandi.
Suara benda terjatuh di belakangnya, menghentikan langkah Baekhyun. Ia menoleh, melihat kotak makan berisi beberapa dumplin buatan Kyungsoo terjatuh si lantai. Tubuh Chanyeol melengkung, membungkuk ke bawah sambil memegang erat kaos di depan dadanya. Mata Baekhyun melebar.
"Kau kenapa?" Baekhyun dengan cepat menghampirinya. Ia sedikit membungkuk untuk melihat tubuh Chanyeol yang melengkung. "Yach?" Baekhyun menyentuh bahu Chanyeol yang menegang. Ia mulai khawatir melihat wajah Chanyeol yang terlihat menahan kesakitan, memejamkan mata erat, dan mulai mengeluarkan keringat di sekitar pelipis. "Yach, yach, jangan bercanda, ini tidak lucu."
Chanyeol tidak menjawab, atau memang ia tidak mampu menjawab. Tangannya meremas kaos di dadanya dengan keras, mulutnya terbuka lebar, seolah ingin memuntahkan sesuatu tapi ia tak mampu. Baekhyun makin panik setelah menyadari Chanyeol tak mengeluarkan nafas sama sekali.
"Bernafas, bodoh, bernafaslah!" Baekhyun menangkup wajah kesakitan Chanyeol, mengangkatnya ke atas agar ia bisa melihatnya. Tapi Chanyeol tetap menutup matanya erat, mulutnya mengap-mengap kesusahan seperti ikan yang berusaha mengambil nafas di udara. Baekhyun tak punya waktu berpikir kenapa Chanyeol tiba-tiba seperti ini. Yang berada di pikirannya hanya membantu Chanyeol agar bisa bernafas. Ia melompat di atas pangkuan Chanyeol dan semakin menangkup wajah berkeringat Chanyeol ke atas, mendekatinya.
"Bernafaslah atau kau akan mati konyol, idiot," suara Baekhyun sendiri bergetar, panik, berbisik tepat di depan wajah kesakitan Chanyeol. Dan pikiran Baekhyun langsung kosong saat perlahan raut wajah Chanyeol melemah, tangan yang sejak tadi meremas kaosnya terkulai di atas kasur. Jantung Baekhyun berdegup kencang, ketakutan, panik, dan ia langsung melakukan satu hal yang berada dalam pikirannya.
Tangan lentik Baekhyun membuka rahang Chanyeol dan tangan lain menjepit hidung mancung Chanyeol. Wajah Baekhyun mendekat, memiringkan kepalanya sendiri, lalu menangkup bibir terbuka Chanyeol dengan bibirnya sendiri. Memberikan pertolongan pertama yang sudah ia pelajari saat di panti asuhan milik kakeknya di China, memberikan Chanyeol nafas buatan. "Bernafaslah, kumohon," bisik Baekhyun, hampir putus asa, saat ia kembali mengambil nafas di mulutnya dan menyalurkannya lewat bibir Chanyeol yang ia buka.
Beberapa tiupan nafas lagi, sampai akhirnya Chanyeol memberikan respon, tersedak, terbatuk kecil setelah Baekhyun melepaskan jepitan di hidungnya. Baekhyun bahkan tak sadar matanya sendiri berkaca-kaca saat melihat dada Chanyeol akhirnya bergerak naik turun, kembali bernafas normal. "Syukurlah," Baekhyun menghela nafas lega, menarik kepala Chanyeol ke bahunya, memeluknya.
Sementara mata Chanyeol terus terpejam sejak tadi, tak sadarkan diri. Sama sekali tidak tahu kalau Baekhyun sedang duduk di pangkuannya dan memeluknya.
.
.
.
~ L 3 Y ~
.
.
.
Chanyeol itu alergi dengan ikan laut, dan juga udang. Baekhyun baru tahu itu dari Leeteuk setelah Baekhyun menjelaskan apa yang baru saja terjadi. Pantas saja Chanyeol terlihat kesakitan dan sulit bernafas saat memakan dumplin buatan Kyungsoo yang berisi udang. Tubuh Chanyeol menimbulkan reaksi melawan karena ia tanpa sadar memaksa memakan makanan tersebut masuk ke dalam tubuhnya.
Baekhyun tak beranjak dari tepi ranjang. Ia masih duduk di sana sejak Chanyeol dibaringkan di atas ranjang dan belum sadarkan diri. Baekhyun menatapnya sedih. Lagi-lagi ia membuat masalah, padahal baru kemarin ia merusak mobil mahal Chanyeol, kini dia membuat Chanyeol celaka. Baekhyun masih ingat janjinya saat pertama kali memasuki mansion ini, untuk membuat hidup Chanyeol juga menderita seperti neraka. Namun kenapa sekarang ia malah merasa bersalah.
Chanyeol sedikit mengerang. Baekhyun tersentak kaget, tubuhnya kaku di tempat saat melihat pergerakan tangan Chanyeol yang memijat kepalanya. Mata Chanyeol yang berkerut itu, perlahan terbuka, maniknya lalu bergulir ke samping, beradu tatap dengan Baekhyun yang juga menatapnya dengan kaku.
Lima detik saling tatap. Chanyeol seperti berusaha mengingat dan menganalisis kembali apa yang baru saja terjadi padanya, dan Baekhyun tidak tahu harus berbuat apa selain membalas tatapan Chanyeol tanpa berkedip.
Tiba-tiba Chanyeol meringis sambil menutup matanya erat, memegang dadanya. Baekhyun kembali panik.
"Yach, kau tak ap–"
Tapi Chanyeol segera menepis tangan Baekhyun yang menyentuhnya. Baekhyun tersentak, terdiam kaku, membiarkan Chanyeol bangkit sendiri untuk duduk.
Baekhyun menggigit bibir bawahnya. "A-aku–"
"Wae?" nada suara Chanyeol menajam. "Apa kau belum puas?" ia memicingkan mata sambil memegang dadanya yang sakit. "Apa kau memang berniat membunuhku? Mengapa tidak sekalian kau menikam punggungku dari belakang!" Chanyeol tiba-tiba berteriak.
Mata Baekhyun berkaca-kaca.
"Jangan memasang wajah seperti itu!" bentak Chanyeol lagi. "Jangan bersikap seolah aku yang menyakitimu, pendek. Kubilang berhenti memasang wajah seperti kau ingin menangi–"
Plak!
Mata Chanyeol melebar. Baekhyun menampar pipinya, meski itu tidak keras, hanya tamparan ringan, tapi itu cukup membuat Chanyeol berhenti mengoceh. Belum sempat Chanyeol kembali berteriak atau mengucapkan kata protes, Baekhyun langsung menghambur ke arahnya, memeluk leher Chanyeol, dan membisikkan kalimat yang mampu membuat emosi Chanyeol menghilang dalam sekejap.
"Maaf," pelukan Baekhyun mengerat. "Maaf," ulangnya lagi dengan suara bergetar, jelas ia sedang menangis. "Maafkan aku, aku benar-benar tidak tahu kau alergi dengan makanan tertentu."
Chanyeol terdiam. Tak lagi bersuara, maupun bergerak, membiarkan Baekhyun yang menangis pelan di bahunya sambil memeluknya.
.
.
.
~ L 3 Y ~
.
.
.
Leeteuk memandang bingung ke arah dua pemuda tampan yang datang pagi-pagi ke rumah majikannya. Leeteuk kembali mengecek waktu di arlojinya. Masih jam tujuh pagi, di hari minggu, Ryeowook dan koki lain dalam mansion bahkan belum selesai menyiapkan sarapan pagi di ruang makan.
"Ku dengar dari Jae-hyung, kalau Chanyeol semalam sempat keracunan dan sekarang sedang sakit," ungkap Sehun menjawab raut bingung yang ditunjukkan Leeteuk. "Karena itu pagi ini kami langsung ke mari. Ingin memastikan apa dia sudah baik-baik saja atau tidak."
"Ah," Leeteuk mengangguk sopan. "Sebenarnya tuan muda tidak keracunan, dia hanya, secara tidak sengaja memakan udang."
Kini Kai yang memasang wajah bingung. "Wow, dia ingin bunuh diri?"
Leeteuk menggeleng. "Jangan khawatir, kondisi tuan muda sudah membaik. Saya akan memberitahukan tuan muda tentang kedatangan temannya."
"Tidak usah," cegat Kai, ia tersenyum lebar. "Biarkan kami yang memberikan kejutan padanya." Senyumannya berubah menjadi seringai jahil. "Kajja, Sehun-ah."
"Hm."
Kai sudah berjalan duluan menaiki tangga. Sehun mengikuti di belakang. Leeteuk hanya menatap punggung kedua pemuda itu tanpa bisa mencegat mereka.
"Eoh, tumben Chanyeol hyung mengunci pitunya?" Kai bertanya sendiri saat ia tak mampu membuka pintu kamar Chanyeol. Ia lalu mengetuk pintu tanpa suara, seperti niatnya di awal yang ingin memberikan kejutan.
Sehun berdiri di samping Kai, menunggu dengan diam.
Beberapa ketukan pintu, Kai hampir ingin menendang pintu karena tak sabar kalau saja kunci dari dalam tidak terdengar.
Pintu akhirnya terbuka dari dalam. Kai tersenyum lebar, siap memberikan kejutan. "Pagi, Chanyeol-hyu–" sapaan Kai memelan, matanya melebar, begitu pun Sehun yang berdiri di sampingnya.
Terlihat Baekhyun yang sedang berdiri di balik pintu kamar, memegang kenop pintu, rambut hitamnya berantakan, piyama gajah yang ia kenakan sedikit melorot di bagian bahu kirinya. Pandangan Baekhyun yang semula sayu seolah habis bangun dari tidurnya, mengerjap lucu.
"Baekhyun?" dan suara Sehun seolah membangunkan pemuda mungil itu dengan telak.
Mata sipit Baekhyun melebar, dan pintu langsung kembali dibanting tertutup oleh Baekhyun.
Kai tersentak. "Apa yang–" tubuhnya didorong ke samping oleh Sehun. Pemuda albino itu berusaha membuka pintu kamar Chanyeol, tapi itu lagi-lagi terkunci dari dalam.
"Baekhyun!" Sehun berseru sambil mengetuk pintu.
Sementara di dalam kamar, Baekhyun berbalik membelakangi pintu yang buru-buru ia kunci. Wajahnya berubah panik. Matanya lalu bergulir ke arah pintu kamar mandi yang baru saja dibuka. Chanyeol melangkah keluar dari kamar mandi, menggunakan jubah mandi dengan rambut yang masih terlihat basah.
"Ada apa?" tanya Chanyeol bingung saat melihat ekspresi horror Baekhyun di depan pintu.
"Baekhyun!"
Dan teriakan dari suara Sehun di balik pintu itu menjawab pertanyaan Chanyeol.
Mata Chanyeol melebar. Baekhyun terus menatapnya panik. "Ottoke?" bisik Baekhyun.
.
.
.
.
Jika ini sebuah drama tv, maka ada empat potongan frame yang akan muncul berjejer sekaligus dalam satu layar tv.
Potongan frame paling kiri ada wajah bingung Kai yang menganga kecil.
Lalu di sampingnya ada potongan frame yang menampilkan ekspresi Sehun mengerutkan alis tajam.
Berikutnya wajah Baekhyun yang mengigit bibir bawahnya panik.
Dan terakhir, potongan frme paling kanan adalah wajah Chanyeol dengan mata melebar terkejut.
Music reff dari lagu "Machine – Exo k" pun menjadi backsound sekaligus penutup chapter kali ini.
...
To Be Continue
...
.
.
.
.
.
~ L 3 Y ~
Lie to You
Love for You
Life with You
_o0o_
Review?
~Sayaka Dini~
[28 Desember 2014]
.
.
.
.
_o0o_
A/N :: Maafkan saya, yang hampir menelentarakan fanfic ini *membungkuk dalam*
Jujur saja, salah satu alasan mengapa saya tak mampu (dan sempat tak mood) melanjutkan fanfic ini, karena saya sendiri merasa bosan dengan alurnya. Agghh! Saya hampir stress karena bingung dengan fanfic ini yang hampir resmi saya hiatuskan *nangis mengeong-ngeong*
Dan salah satu alasan mengapa saya akhirnya memilih bertahan karena saya membaca ulang review-review dari reader baik hati di kotak review fanfic ini *nangis terharu*, dan juga karena teror dari teman-teman di BBM saya, *melirik seseorang*. Mohon jangan teror saya lagi kalau fanfic ini mengecewakan anda, Saya bahakan sudah berapa kali mengetik-hapus-mengetik lagi, tapi tetap saja, rasanya kenapa ada yang kurang? *mengacak rambut frustasi*
Well, terlepas dari kegaluan saya gara-gara fanfic ini... Saya ingin ucapkan selamat buat Chanyeol dan Baekhyun Oppa yang terlihat kembali berani untuk mesra di depan umum. Oow... makasih udah mau memanjakan mata chanbaek shipper~ *lovey dovey*
.
.
.
.
.
_o0o_
Spesial Thanks to Unnie Dee Stacia (beta reader)
And Reviewers
(maaf, tidak bisa membalas satu-satu *muka sedih*)
_o0o_
P.S:: Luhan akan muncul di dua atau tiga chap selanjutnya.
