Chapter 7

Sweet lies

BoyxBoy

Main pair: kaisoo

Rated: M

Typos

.

.

.

Flashback

The accident day

Kyungsoo berlari memasuki gerbang rumahnya. Ia mengukir senyum seketika saat mendapati kekasihnya, park chanyeol menunggunya sambil duduk diatas kap mobil. Lelaki bermata owl itu mulai melangkah menuju kekasihnya, sambil mengatur kondisi pernafasannya yang masih sedikit ngos-ngosan.

"darimana saja kamu? " chanyeol bertanya tak sabar.

"hanya sarapan! " jawab kyungsoo singkat, berdiri dihadapan park chanyeol.

"dengan siapa? " selidik chanyeol lagi.

Kyungsoo diam sejenak, menatap chanyeol. "jongin! "

"jongin lagi?! Sebenarnya siapa sih dia?– bosan aku mendengar kamu terus menemuinya! " chanyeol berubah sedikit kesal.

"dia hanya teman, chan! – aku kan sudah sering menceritakannya padamu! "

"tidak ada rahasia, sedikitpun?! " selidik chanyeol tak percaya.

"tidak ada chan– untuk apa aku menyembunyikan sesuatu dari kekasihku sendiri... Lagipula aku juga sering mengajakmu untuk pergi bertemu dengan jongin, tapi ka–

"oke, stop! – aku tidak suka nama itu sering keluar dari mulutmu!" potong chanyeol sedikit kesal.

"mianhae~"

Chanyeol bergerak melompat turun dari kap mobil. Ia menatap kyungsoo lekat sambil memegang kedua bahu sempit kekasihnya.

"dengar! – jangan pergi kemanapun hari ini! – juga... Tunggu sehun dan luhan menjemputmu, kita bertemu nanti malam, jika bukan mereka– jangan pergi, tetaplah dirumah sampai mereka datang! " chanyeol berucap serius.

"waeyo? – apa yang sebenarnya terjadi chan? "

"turuti saja semua perkataanku! "

Kyungsoo diam sejenak. Menghela nafas.

"ini tidak adil! " protes kyungsoo.

Chanyeol mengerutkan keningnya. Bingung.

"kamu selalu memintaku mendengarkanmu, menuruti semua perkataanmu– tapi tidak pernah ada alasan yang jelas– kamu bahkan tidak memperlakukanku sama dengan baekhyun!"

"kyung... "

"apa aku salah?– tidak kan?!, apa aku masih... "

"kyungsoo! –" chanyeol menghentikan kalimat kekasihnya. Menatap lekat.

"aku janji!– aku akan menjelaskan semuanya nanti malam saat kita ketemu–"

" bagaimana jika kamu mengingkarinya?! "

"aku akan memutuskan baekhyun! "

.

.

.

20.51 pm

Kyungsoo berdiri didepan gerbang rumahnya. Sudah setengah jam ia disana, menunggu sehun atau luhan yang kata kekasihnya akan menjemputnya. Tapi nihil. Tak ada tanda-tanda mereka, bahkan nomor ponsel mereka tidak aktif.

Kyungsoo membuang nafas kasar, berjalan kesana kemari sambil memutar-mutar ponsel tak jelas ditangannya. Detik berikutnya, ia baru teringat jika pagi tadi dirinya bertukar nomor telpon dengan jongin.

"ah– apa aku harus menelponnya! " ucapnya sendiri sambil mulai mencari kontak jongin di ponselnya. Tetapi, sebuah pesan masuk dari sehun menginterupsinya.

From: sehun

"kyung... Pergilah ke klub sekarang! – aku tidak bisa menjemputmu!, ada sedikit masalah"

Kyungsoo menggenggam ponselnya erat. Berfikir sejenak, sebelum memutuskan untuk segera pergi ke klub. Bagaimanapun tidak ada gunanya bertanya apa yang sedang terjadi, toh mereka pasti tidak akan menjawabnya.

Ia mulai melangkah menyusuri jalan menuju klub. Gelap, sedikit takut, tapi kyungsoo mengalihkan perhatiannya dengan mendengarkan musik melalui headset.

Kyungsoo memilih untuk melewati jalan pintas, agar lebih cepat sampai tujuan. Tetapi... Sesuatu mulai terasa janggal. Ada beberapa orang dibelakangnya. Agak jauh, tapi kyungsoo yakin mereka telah mengikutinya sejak beberapa saat yang lalu.

Si lelaki mungil mulai merasa sedikit gelisah, fikirannya mulai berprasangka buruk. Perlahan, Ia melepas headseatnya, memasukkannya dalam saku coat yang dipakainya. Kemudian kedua kaki mungilnya mulai melangkah lebih cepat. Sesekali ia menengok kebelakang, dan orang-orang itu masih disana, bahkan ikut melangkah lebih cepat seperti dirinya.

Kyungsoo mendial panggilan cepat 1, tertuju pada kekasihnya park chanyeol. Tapi setelah 3 kali, tetap tidak tersambung. Jantung lelaki mungil itu semakin tidak karuan saat, mereka yang mengekorinya mulai berlari kecil. Dan mau tidak mau, kyungsoo juga mulai berlari.

Gang yang gelap, basah, dan sedikit kotor bercampur suara kikikan tikus. Kyungsoo terus berlari, berharap segera menemukan cahaya yang menunjukkan jalan raya. Ia berlari cepat dan semakin cepat, memacu adrenalin yang memaksa peluh-peluh keluar diseluruh tubuhnya. Nafas sudah jauh dari kata teratur. Kyungsoo berusaha mencari seseorang yang bisa dihubungi. Dan entah mengapa, jongin adalah orang pertama yang terlintas dalam fikirannya.

Segera ia mendial kontak jongin, sambil berharap besar teman barunya itu segera mengangkatnya.

Tepat saat kyungsoo mencapai jalan raya, jongin menjawab panggilannya.

"yeobseo! " suaranya lemah

"j-jongin-ah! Eodigayo? " kyungsoo bertanya sambil mengatur nafasnya. Melihat kekanan kekiri menunggu lampu penyebrangan menyala.

Diseberang sana, berdiri gedung klub tujuannya. ia sedikit lega, tapi juga was-was karena orang-orang dibelakangnya masih terus mengikutinya.

"wae?"

"b-bisakah kita bertemu?"

Jongin diam. Dan kyungsoo mulai melangkah pada zebra cross saat lampu hijau penyebrangan menyala. Lelaki mungil itu sesekali melihat kearah gedung tempat tujuannya.

"aku sedang sibuk sekarang kyungsoo... Maaf! " jongin beralasan.

Ketika ia sampai diseberang, ia menghentikan langkahnya. Tepat saat jongin menyelesaikan kalimat yang merasuk pendengarannya. Ia menemukan sosok yang tidak asing. Postur tubuh yang ia kenal, berada balkon kamar lantai dua klub yang ia tuju.

Pria itu memakai kemeja navy dengan kancing yang seluruhnya terbuka. Tangan kirinya menempelkan handphone ditelinganya, sementara tangan kanannya melepas sebuah topeng yang ia kenakan. Menampilkan kontruksi wajah yang membuat kyungsoo terperanjat. Membulatkan matanya yang sudah bulat. Mata itu, hidung, bibir, semuanya. Kyungsoo tidak mungkin salah. Itu dia.

"j–jongin-ah!" nada bicara kyungsoo ragu

"waeyo? " sementara jongin masih menjawa santai.

Sebelum kyungsoo melanjutkan kalimatnya, ia mendengar raungan motor begitu keras mendekat. Kyungsoo menoleh seketika dan melihat sebuah motor mendekat dari sisi kirinya.

Silau.

Lelaki mungil itu bahkan tidak bisa melihat apapun kecuali bias cahaya yang terlalu terang. Kendaraan itu semakin mendekat kearahnya. Kakinya melemah, ia pasrah.

"kyungsoo! " sebuah suara lantang berteriak.

'BRUAKK! '

Dan tubuh mungil itu terdorong keras ke semak-semak sisi jalan. Kepalanya sempat terbentur kerasnya trotoar, yang menimbulkan aliran darah seketika.

Sementara tubuh pria tinggi yang menyelamatkan kekasihnya juga terpental akibat bertubrukan keras dengan kuda besi. Chanyeol seketika tak sadarkan diri, disisi lain yang berlawanan dengan kyungsoo.

Gerombolan geng motor itu seketika melenggang pergi. Meninggalkan dua sosok yang telah terkapar.

Kyungsoo masih membuka matanya, mempertahankan kesadarannya yang kian menipis. Tubuhnya terasa begitu sakit hingga hampir mari rasa. Ia melirik kearah dimana kekasihnya berada. Tangannya mencoba menggapai. Tapi hanya angin yang didapatnya. Terlalu jauh. Airmatanya sudah mengalir deras tak terasa. Semua terlalu cepat– ia bahkan tidak tau bagaimana ini terjadi.

"chan... Chan...! " suaranya bergumam lirih berharap mampu membangunkan kekasihnya meski mustahil.

Hingga perlahan matanya mulai menutup. Tapi ia masih melihat sosok pria tinggi menghampirinya, memeluknya erat seketika.

"chan...! " kyungsoo masih terus menggumamkan nama kekasihnya.

Hingga ahirnya matanya benar-benar tertutup. Tak sadarkan diri.

"kyungsoo! Kyungsoo!... Jebal... Buka matamu! " jongin memohon sambil menangis. Kemejanya telah penuh dengan darah, memeluk lelaki mungil yang begitu dikaguminya.

Ya– pria itu sedang bersama kyungsoo ditelpon sebelumnya. Dan suara keras membuatnya menoleh kejalanan. Saat ia tau itu kyungsoo. Ponsel ditangannya seketika jatuh. Ia berlari secepat mungkin menghampiri lelaki mungil yang hampir tak sadarkan diri.

"please... Bertahanlah! Kyungsoo! Please...! " jongin segera beranjak menggendong kyungsoo yang sudah tak sadarkan diri.

Pria tan itu sempat menoleh sejenak, pada sosok park chanyeol, lelaki yang dibencinya. Tapi ia tidak peduli. Hanya kyungsoo yang penting. Bahkan mungkin jika pria park itu mati, jongin tidak peduli.

.

.

.

Flashback off.

.

.

.

"chan...!" panggil kyungsoo dengan suara seraknya saat bangun tidur. Ia menoleh kesekeliling tapi kekasihnya tidak ada.

Kyungsoo memilin ujung selimutnya, diam. Otaknya seolah kembali memutar proyeksi film yang direkam semua ingatannya tadi malam. Semua terasa begitu nyata. Ya– mereka melakukan hal yang begitu intim sebagai sepasang kekasih semalam. Dan itu mebuat pipi kyungsoo memerah tiba-tiba.

Klek!

Suara pintu kamar mandi terbuka, menampilkan sosok lelaki berkulit tan yang berbalut jubah mandi. Rambutnya basah. Ia memandang kyungsoo yang juga tengah memandangnya. Senyum terukir, sementara kyungsoo hanya blushing.

Kai meraih handuk kecil dimeja, menggosokkannya pada rambutnya sambil berjalan kearah kekasihnya yang masih berbaring.

"bagaimana tidurmu?– masih bermimpi buruk? " kai bertanya, sembari meraih tangan kyungsoo menggengamnya.

Kyungsoo menggeleng. "aku tidur nyenyak, gomawo chan...! "

"untuk apa berterimakasih, – kamu ingin melakukannya lagi?! " kai menggoda

"hm? – a-aniya, bukan itu maksudku...! " kyungsoo memerah tomat seketika.

Kai tersenyum. " tidak perlu berterimakasih... Justru aku yang harusnya minta maaf selama ini tidak mengerti keadaanmu! "

"mulai sekarang... Apapun itu, ceritakan padaku! Oke! " lanjut kai lagi.

Kyungsoo mengangguk.

"baiklah! Aku akan membuatkan sarapan untukmu! " lanjut kai.

"a–andwe! aku saja! " kyungsoo berteriak, lalu bergegas bangkit.

Tapi seketika ia berhenti. Merasakan sakit pada bagian belakangnya. Kai lagi-lagi tersenyum sekilas, membelai pipi lembut kyungsoo.

"aku tau keadaanmu... Makanya... Biar aku saja yang membuat sarapan! "

"mian... "

"it's okay... Salahku juga... Maaf sedikit kasar tadi malam! "

.

.

.

Kai memasukkan sepotong daging ke microwave. Menyetelnya beberapa menit. Ia menatap keluar jendela, seolah berfikir keras untuk memutuskan sesuatu. Hingga menit berikutnya, ia meraih ponselnya. Mendial sebuah nomor.

"yeobseo...! "

"hyung!... Aku butuh uang! "

.

.

.

Sweet lies

.

.

.

Takdir seperti sebuah benang merah yang tak pernah terlihat ujungnya. Tak ada yang tau apa, kemana dan dimana ujung benang itu. Setiap manusia hanya bisa berusaha. Menentukan sebuah pilihan dari banyaknya perihal kehidupan dunia. Sebuah Misteri. Akan selalu ada dua sisi berlawanan layaknya siang dan malam. Terkadang sebuah kebenaran adalah palsu atau sebuah kesalahan yang justru membawa kebaikan. Tetapi kehidupan harus terus berjalan seiring waktu yang tak pernah berhenti. Sebuah konsekuensi adalah hal yang pasti, tak pernah lepas dari setiap keputusan yang terambil. Tidak ada cara kembali kebelakang. Menengokpun percuma. Yang ada hanyalah mencoba memperbaiki segala sesuatu, berubah menjadi lebih baik. Karena sebuah sesal selalu ada diahir.

Bagi seorang kim jongin, semua hal dal hidupnya selama ini layaknya hamparan salju putih. Tidak ada yang menarik disana. Hanya dingin. Kemudian... Suatu hari ia seolah menemukan sebuah rumah Yang begitu hangat. Sayang rumah itu milik orang lain. Tetapi sebuah kesempatan datang saat dirinya dihadapkan pada dua pilihan, menikmati keindahan rumah itu dari jauh, atau berpura-pura datang sebagai pemilik rumah itu. Dan ia telah memilih untuk datang. Saat itulah dirinya sadar, rumah indah itu berdiri diatas sebuah es tipis, yang siap retak kapan saja. Sebuah konsekuensi, sudah tentu ada. Tapi hatinya telah memilih, dan ia mungkin tak berfikir jauh tentang apa yang akan terjadi di masa depan.

Sweet lies

Rangkaian kalimat apapun tidak dapat mendeskripsikan betapa bahagianya kehidupan seorang kim jongin ahir-ahir ini. Ia rela membuang jati dirinya sebagai kim jongin ataupun kai, dan justru Berkedok sebagai park chanyeol. Ya– seorang pria yang menjadi kekasih dari do kyungsoo. lelaki dengan mata owl. Hari-harinya tidak ada yang buruk asal bersama lelaki yang lebih pendek darinya. Jika saja bukan karena dollar, ia tidak akan rela berpisah dengan kyungsoo sedetik pun setiap harinya.

Sejak kejadian malam yang cukup panas tempo hari, hubungan keduanya semakin romantis. Mereka banyak menghabiskan saat bersama dengan candaan-candaan cinta yang menyanjung hati. Kai juga lebih sering mengajak kyungsoo keluar, sekedar pergi makan atau berjalan-jalan. Bahkan si lelaki mungil sudah sangat jarang atau hampir tidak pernah mengungkit masalalunya lagi.

Pagi itu, kai terbangun menatap sosok yang meringkuk dalam dadanya. Masih tertidur pulas. Ia benar-benar tampak indah saat tidur, dan itu adalah bagian favorit seorang kai. Kai tersenyum sekilas, membelai rambut kekasihnya. Sebelum ia memutuskan untuk mencuri morning kiss pada kekasihnya yang masih lelap. Tentu saja jika kai yang melakukannya, maka ciuman itu bukan ciuman ringan. Kai akan terus mengekplorasi bibir kekasihnya yang seolah jadi heroin baginya.

Kyungsoo mulai mengeliat, saat merasakan benda basah dibibirnya, bahkan seolah benda itu memakan bibirnya. Benar saja, saat ia mebuka mata ia menemukan kekasihnya tengah mencium dirinya. Reflek kyungsoo mendorong pelan tubuh kai, membuat kekasihnya berhenti menciumnya.

"wae~?" tanya kai sedikit Kecewa, tetapi ia tetap menyunggingkan senyum manisnya.

" kamu tidak jijik menciumku?! Aku bahkan belum gosok gigi! " kyungsoo berbicara dengan nada imutnya.

"it's okay... Your lips still taste sweet! " . Dan kai kembali meraup bibir yang diklaim jadi miliknya.

Kyungsoo sedikit menolak, tapi ahirnya ia pasrah juga. Hingga kai berhenti dengan sendirinya setelah puas memainkan bibir kekasihnya. Begitu tautan itu terlepas, kyungsoo segera bangkit, seolah tidak mau jika kekasih tannya berulah lagi.

"hei... Ada apa? " kai bertanya bingung, menatap kyungsoo yang sudah duduk.

"jangan sering-sering menciumku seperti itu saat pagi! " protes kyungsoo membuat kening kai sedikit berkerut bingung.

"why? "

"mereka akan terus menginterogasiku jika bibirku sedikit bengkak! "

Kai sedikit terkikik. "siapa? "

"teman-teman kerjaku! "

Kai menghela nafas, mengalihkan tangannya untuk membuat pola-pola tak jelas dengan jarinya di paha kyungsoo yang terekpos, karena lelaki itu hanya memakai boxer pendek.

"jangan pedulikan mereka! " kai menjawab ringan

"ah iya, Chan!... Hmm... " kyungsoo sedikit ragu memulai kalimatnya.

"ada apa? " tanya kai dengan nada yang hangat, menatap kyungsoo.

"ada pertunjukan di disneyland malam ini, maukah kau pergi kesana?– ta-pi jika kamu sibuk... Tidak pergi juga tidak apa-apa, aku..."

"kamu ingin menontonnya?! " potong kai.

Kyungsoo mengangguk pelan menatap kai.

"give me kiss! Dan kita akan pergi menontonnya malam ini! "

Senyuman terbangun begitu lebar di bibir seketika mendangar keputusan kekasihnya.

"really? "

"up tou you!"

Kyungsoo menatap kekasihnya, menghela nafas sejenak. Sebelum mulai mengikis jaraknya untuk menyatukan bibir nya dengan bibir kekasihnya. Dan jika kyungsoo yang memulai, maka ciuman itu tidak lebih dari sebuah kecupan singkat.

"itu ciuman? " kai bertanya menggoda.

"ottokhe? Aku tidak sehebat dirimu!"

"mau kuajari? "

"chan... " pipi kyungsoo merona.

"here, i wanna hug you! " kai membuka lebar lengannya.

Kali ini kyungsoo tanpa ragu masuk dalam dekapan kai, meletakkan kepalanya pada dada bidang kekasihnya. Dan kai mendekapnya erat.

"i love you! " kai berucap, kemudian mencium kepala kyungsoo.

Ada getaran aneh di hati kyungsoo. Kala ia mendengar detak jantung kekasihnya. Jantungnya berdebar lebih cepat. Hatinya menghangat, penuh rasa nyaman, bahagia. Seharusnya, beginilah hubungan mereka. Jika dulu keduanya sempat mengalami rasa canggung saat awal kyungsoo amnesia, maka saat ini lelaki bermata owl merasa semakin memahami kekasihnya. Ia menikmati bahagia dalam hidupnya saat ini, tidak ada lagi yang menjadi tanda tanya besar baginya.

"chan...! "

"hm?! "

"i love you! " kyungsoo berucap hangat.

Ini pertama kalinya bagi kai, mendengar langsung lelaki yang dicintainya berucap kalimat yang dinantinya. Sebuah kalimat yang mampu membuat perutnya seolah dikerubungi kupu-kupu, darahnya yang tiba-tiba berdesir deras, juga jantungnya yang memompa lebih cepat. Bahagia.

Lelaki tan itu semakin erat memeluk kekasihnya. Menempelkan wajahnya pada kepala kyungsoo, mencium aroma khas rambut hitam kekasihnya.

"i love you more! " kai berbisik.

.

.

.

"jangan lupa memakai jaket! – diluar sedang dingin! " ucap kai sambil memakai sepatunya. Bersiap berangkat kerja.

Sementara kyungsoo hanya mengangguk, berdiri disamping kai sambil menggendong leon yang sesekali bersuara manja.

"pakai saja jaketku dikamar!– nanti kubelikan yang baru untukmu! " lanjut kai lagi.

"ne! Kamu hati-hati ya!"

"oke! Sampai jumpa nanti malam! " kai mengusak rambut kyungsoo pelan, sebelum ahirnya melangkah keluar rumah.

.

.

.

Sweet lies

.

.

.

08.30 pm.

Kyungsoo begitu bersemangat berjalan diantara gemerlap lampu malam kota hongkong menuju disneyland. Sesekali ia mengecek penampilannya pada kaca sebuah toko. Skiny jeans, kaos bermotif garis, dan sebuah jaket biru tua yang sedikit besar untuknya, karena itu milik kai. Dan kyungsoo dapat mencium aroma kekasihnya dari jaket itu. Sungguh menenangkan. Kaki kecil berbalut sneakers putih semakin cepat melangkah saat mata bulatnya mulai melihat istana tinggi disneyland.

Tak jauh, diseberang jalan sana. Kyungsoo berdiri dihadapan zebra cross bersama banyak orang yang juga menunggu lampu hijau penyebrangan. Dan ia segera bergegas saat lampu hijau menyala.

Kyungsoo berjalan santai sambil sesekali melihat keadaan sekitar saat menyebrang. Sesuatu seperti dejavu menyerang pikirannya. Membuat kakinya berhenti melangkah sebelum sampai ditepi jalan.

Suasana malam itu, seolah tak asing baginya. Zebra cross, orang-orang. Kepalanya mulai sedikit sakit. Tangannya mulai mencengkram erat rambutnya sendiri. Tetap saja, tidak ada yang diingatnya. Ia hanya kebingungan sendiri. Bahkan tak menyadari jika lampu penyebrangan sudah kembali merah. Kendaraan mulai berjalan, sesekali bunyi klakson mobil berbunyi menyadarkan kyungsoo untuk kembali berjalan. Dan perlahan Lelaki mungil itu mulai melangkah pelan, menuju seberang. Tetapi...

'TINNNN... '

CHIIIITTTT...

Kyungsoo terjatuh, pupil matanya melebar bertemu sebuah cahaya terang yang begitu menyilaukan.

Tidak. Lelaki mungil itu tidak tertabrak. Sebuah bmw berhenti tepat didepan kyungsoo yang jatuh karena begitu terkejut.

Tetapi... Cahaya lampu utama yang begitu menyilaukan seolah jadi kunci yang membuka kembali semua yang telah terlupakan. Memori malam itu, semua berlomba-lomba kembali memenuhi ingatan kyungsoo. Mengurutkan setiap kejadian dalam hidupnya hingga ia sampai disini. Kecelakaan itu, bagaimana ia terdorong, kekasihnya yang berlumuran darah dan ahirnya seorang pria yang datang menolongnya. Kim jongin.

Kyungsoo memegang kepalanya erat, merasakan sakit yang teramat seiring seluruh memorinya yang terputar secara otomatis diotaknya. Semua pertanyaan besarnya terjawab sudah. Tubuhnya gemetar. Airmatanya mengalir dengan sendirinya. Ia bahkan tak sadar jika beberapa orang membantunya menepi, termasuk pengemudi bmw itu.

"hey, are you okay? " tanya beberaoa orang berkali-kali hingga kyungsoo ahirnya menatap seorang dihadapannya yang mengulurkan sebuah air mineral.

Tangan gemetarnya meraih botol itu, meminumnya seteguk.

"you okay? " tanya seorang pria.

Kyungsoo mengangguk.

"gwenchana,...!" kyungsoo berucap lirih.

"ah, kamu orang korea, kebetulan saya juga– kamu tidak terluka? Mau kerumah sakit? " pria itu hawatir.

"aniya– gwenchana! " kyungsoo masih berucap lemah

"kamu yakin? "

Kyungsoo mengangguk lagi, masih dengan wajah bingungnya.

Pria itu mengeluarkan sebuah kartu nama, memberikannya ditangan kyungsoo.

"namaku ken, kamu bisa hubungi aku disitu, jika butuh sesuatu! – siapa nama kamu? "

"kyungsoo! "

"baiklah kyungsoo! Kamu mau kuantar kesuatu tempat? " tawar ken lagi.

Kyungsoo menggeleng, lelaki mungil itu perlahan berdiri menunjukkan jika ia baik-baik saja. Kemudian ia membungkuk sekilas. Berucap "gomawo! " , sebelum ahirnya melangkah pergi.

.

.

.

Kyungsoo duduk lemah disebuah kursi dekat pintu masuk disneyland. Ia masih tidak percaya dengan semua yang terjadi dalam hidupnya. Kini tidak ada lagi pertanyaan tentang siapa dirinya. Karena kyungsoo mengingat jelas siapa dirinya, bagaimana hidupnya juga siapa kekasihnya. Satu hal yang justru jadi tanda tanya besar adalah tentang pria tan yang dulu adalah teman baiknya dan kini berubah menjadi seorang pembohong besar dalam hidupnya.

Berapapun kali kyungsoo berfikir, bertanya, menebak apa alasan seorang kim jongin melakukan itu– tetap saja jawabannya belum ketemu. Dan ia semakin ingin marah, membenci orang itu ketika ingatan dalam otaknya memutar memorinya selama hampir 6 bulan bersama pria tan itu. Perlakuannya, suaranya, kata-katanya, perhatiannya, senyumnya, janji yang mereka buat hingga malam panas yang pernah mereka lalui. Kyungsoo menangis, kebencian dan amarah bercampur menjadi satu. Namun... Dalam lubuk hatinya ia tidak bisa menyangkal jika masih ada satu tempat kecil dimana ia tidak bisa membenci lelaki tan itu. Entah karena apa.

.

.

.

Detik waktu terus berjalan– kyungsoo masih duduk lemah menunggu kekasih palsunya. Ia juga tidak tahu, mengapa ia masih menunggu pembohong itu.

Tak lama, pria tan itu tampak berjalan kearahnya dengan raut wajah berseri. Senyuman yang mengembang. Lelaki itu tampak begitu segar dengan setelan celana dan jaket jeans senada, rambutnya sedikit berantakan tapi itu justru bagian dari pesonanya.

Ia berdiri tepat didepan kyungsoo, menatap lelaki mungil yang juga menatap pria itu dengan raut yang tidak mudah untuk diartikan.

"hei... Ada apa dengan raut wajahmu? – kamu menyambut kekasihmu dengan wajah seperti itu? " canda kai, berusaha membuat kyungsoo lebih bersemangat.

Tetapi lelaki mungil itu hanya menatap kai diam.

"kyungsoo?! – ada apa? " kai bertanya lagi.

Dan kyungsoo masih tetap membisu. Membuat kai sedikit kesal.

"katakan padaku ada apa? – kalau kamu diam seperti ini, lebih baik kita pulang saja!" kai mulai sedikit menggertak.

Sementara dalam pikiran kyungsoo, ia berusaha keras menahan semua amarahnya yang siap meledak seperti bom waktu. Ia ingin marah, tapi bagaimanapun pria didepannya adalah orang yang telah menolongnya. Ia ingin meminta alasan, tapi entah kenapa ia justru takut kecewa. Dilema. Ia tidak bisa berbohong dan mulai menyadari, sepanjang pemikirannya kyungsoo tahu, jika waktu yang telah ia habiskan dengan pria itu telah menumbuhkan perasaan dihatinya. Namun– saat ini rasa marahnya begitu besar, ia merasa tertipu. Dan kyungsoo telah memutuskan sebelum ia berdiri.

"hei...!" jawabnya lemah pada kai.

Bahkan nada bicara kyungsoo berubah dan kai tau itu. Menyadarinya, kai mencoba satu langkah lebih maju, berniat memeluk kekasihnya. Karena pria tan itu berfikir, mungkin kyungsoo sedang ketakutan lagi. Tapi yang terjadi justru lain. Lelaki mungil itu justru mundur menjauhi kai.

"kamu kenapa sayang?! " tanya jongin yang begitu bingung dengan sikap kyungsoo.

"aku tidak apa-apa... " kyungsoo menjeda kalimatnya sejenak.

"kim jongin! " panggilnya tanpa ragu.

.

.

.

TBC

gimana guys? Kalo kalian jadi kyungsoo, kalian mau ngapain ke jongin?

Oke... See you next week!

Jangan lupa review...

Semoga kalian menikmati chap ini.

–cloudsclear