LOVE SCENARIO


Main Cast :

Park Chanyeol & Byun Baekhyun

Support Cast :

Find By Yourself

Genre : Drama, Little bit of hurt, little bit of crime.

Author : Ranflame

Rated : T

Leght : Chaptered

Disclaimer : Fanfiction ini murni dari pikiran saya, jika ada kesamaan alur cerita bukanlah kesengajaan. Cerita milik saya (Seluruh Hak Cipta Dilindungi Undang – Undang), untuk kepentingan cerita karakter pemeran akan berubah sesuai alur.

Warning!

Typo bertebaran dimana – mana.

Boyslove! Do not like? Just leave!

ENJOY MY FANFICTION

Happy Reading ^o^


Mentari menyinsing disebelah timur bumi, agaknya kali ini sang mentari mengalah pada gumpalan awan yang menutup sebagian langit korea kala itu, sinarnya hanya mengintip malu diantara celah yang disengaja renggang disana. Langit kelabu, tampak murung dengan gelapnya yang mengundang gundah gulana bagi penghuni bumi.

Semilir anginpun turut serta, berhembus lembut, sesekali meniup dedaunan hingga terdengar gemerisik. Tidak hujan. Tidak juga cerah.

Layaknya sang pujangga yang memadu kasih dengan tumpukan karya sastranya yang belum usai. Disana, seorang byun, eits, park baekhyun tengah memijat pelipisnya yang berkedut nyeri, bergelut dengan alat – alat masak sedari 2 jam yang lalu tak lantas membuatnya mahir bak koki hebat yang acapkali ditontonnya siaran televisi swasta.

"Semangat" gumamnya, seraya mengangkat salah satu tangannya membentuk kepalan; menyemangati dirinya sendiri.

Niat hati membuat menu lengkap tradisional untuk sarapan sang suami, namun apa daya kemampuan memasaknya tak lebih baik dari luhan padahal dirinya telah berusaha setengah mati, berguru pada sahabatnya –kyungsoo- yang pandai dalam hal ini, menahankan kupingnya yang seringkali memanas karena omelan sang sahabat yang mengandung unsur kebenaran namun dengan gaya bicara pedas yang membuatnya tak berdaya.

Dipenghujung asanya, sepasang lengan melingkar dipinggang rampingnya, serta deru napas yang menerpa lehernya. Tanpa perlu menoleh ia mengetahui bahwa sang suami telah bangun dari tidur nyenyaknya.

"Apa aku membangunkanmu, hm?"

Ujarnya lembut, mengelus tangan yang masih bertengger nyaman dipinggangnya. Didapatinya gelengan pelan sang suami, nyatanya suaminya kini sibuk menenggelamkan kepalanya diceruk leher baekhyun.

"Hei? Dobipan~ kau bisa melanjutkan tidurmu jika ingin."

"Tidak. Aku sangat merindukanmu."

"Kalau begitu, biarkan aku memasak untukmu, tunggulah dimeja makan sayang."

Baekhyun terkekeh pelan, menemukan suaminya yang kini berjalan malas – malasan menuju ruang makan. Baekhyun tahu betapa beratnya chanyeol melepaskan rengkuhannya tadi namun pria dengan tinggi 186 cm itu tetap menurutinya.

Terpujilah pada hidungnya yang kini mencium bau hangus dari arah belakangnya. Sial, pikirnya. Terlalu sibuk memperhatikan chanyeol hingga membuatnya lupa akan masakannya sendiri, masakannya telah gosong, ia bahkan menatap jijik pada 'mahakarya'nya pagi itu.

Dengan helaan napas sepanjang yang ia mampu, kembali ia meraih penggorengan dan meletakkan panci beserta makanan yang tak berbentuk itu di wastafel, berniat membersihkannya setelah makan karena mungkin saja ia akan kehilangan selera makannya jika menatap hasil keringatnya tesebut lebih dari 5 menit sebelumnya.

"Apa aku membuatmu lama menunggu?"

Setelah berkutat dengan perlatan memasaknya, akhirnya baekhyun menyajikan omelet berisi sayuran bersama tahu berbumbu kecap, nasi putih yang dicampur kacang hitam dan merah, kaktugi(kimchi dari lobak yang dipotong kotak – kotak) serta salad korea –yang diberikan ibu mertuanya kemarin malam-.

"Sangat lama." sahut chanyeol, setengah merajuk.

Sepasang obsidiannya tampak berbinar kala disajikan menu sarapan yang sangat 'wah' baginya itu, bukannya sifat 'drama king'nya kembali, hanya saja tak biasanya ia mendapati istrinya memasak teruntuk dirinya.

"Sayang?"

"Jangan tanya yeollie apapun yeollie~ Percayalah aku telah berupaya yang terbaik, tetapi 'mereka' gosong karena kau memelukku tadi, hanya ini yang bisa kuberikan untuk sekarang."

Baekhyun menyahut panjang lebar tanpa menoleh kearahnya, kedua tangannya masih sibuk meletakkan alat – alat makan diatas meja agar tertata rapi sedang iris hazelnya tampak fokus pada pekerjaannya.

"Terima kasih."

Chanyeol kembali berucap, mengulum senyum tampan untuk sang istri, bentuk terima kasih yang sangat klasik. Baekhyun tampaknya merona dan chanyeol tahu itu, menemukan sang istri yang semakin menunduk dan sok sibuk dengan peralatan makan yang jelas – jelas sudah terletak ditempat yang seharusnya. Chanyeol dengan gemas bangkit dari duduknya, menangkup pipi gembil baekhyun dengan kedua tangannya, menatap lekat iris hazel yang menghisap seluruh dirinya setiap kali memandangnya. Selalu begitu. Baekhyun adalah poros dunianya, dan akan tetap begitu.

"Ey, istriku sangat manis jika merona seperti ini."

Godanya kemudian, memberikan kecupan kupu – kupu diseluruh wajah sang istri, tak meninggal satu inchi pun sedangkan baekhyun hanya tertawa pelan mendapatkan perlakuan hangat chanyeol, tak peduli seberapa seringnya pemuda itu mendapati chanyeol memperlakukannya bak tuan putri, ia tetap saja menyukainya bahkan candu akan sentuhan lembut tersebut, tidak ada kata 'muak' dalam kamus baekhyun untuk chanyeol.

"Mulai sekarang aku akan memasak untukmu, memberikanmu asupan yang bergizi setiap sarapan, memastikan kau memakan bekalmu saat makan siang dan memasak lagi untuk makan malam yang romantis."

Baekhyun kini tengah menyandarkan kepalanya pada dada bidang chanyeol, sedang tangannya sibuk memainkan ujung baju sang suami, ia dalam dekapan chanyeol, omong – omong.

"Kau tidak perlu merepotkan dirimu sunshine. Jangan membuatku merasa bersalah saat menemukanmu kelelahan." Ucapnya, mengecup pucuk kepala baekhyun seraya menikmati aroma strawberry yang menguar dari surai berwarna ash grey sang istri.

"Tidak chanyeollie~. Tertkutuklah aku jika membiarkanmu terus menerus makan dengan tidak teratur, aku adalah dokter dan kaupun begitu, bagaimana mungkin aku terus memeriksa kesehatan orang lain sedang suamiku tidak mendapatkan pelayanan yang seharusnya."

Inilah yang chanyeol sukai dari pemuda mungilnya, ia murni dan tulus. Walau itu adalah salah satunya karena chanyeol mencintai ribuan -bahkan sebanyak sel dalam tubuhnya- hal – hal yang berkaitan dengan baekhyun.

"Baiklah, nyonya park. Kau menang kali ini, ayo makan."

Chanyeol kembali mengulas senyum kelewat lebar saat baekhyun mengangguk kecil, seraya menduduki kursinya yang berhadapan dengan chanyeol, melakukan hal yang sama, ia duduk dengan tenang. Menikmati sarapan buatan istrinya membuat chanyeol ingin mengabadikan momen tersebut, memamerkannya dihari kemudian. Mungkin tidak perlu menunggu hari tua untuk mengenang hari ini karena ia telah berniat menjadi 'mulut besar' pada sehun dan juga jongin nantinya.

"Yeollie~"

Tersadarkan dari lamunannya membuat chanyeol menunduk sesaat, menutupi semburat memerah tipis dipipinya yang mengundang tawa kecil dari baekhyun kala itu.

"Jika suatu hari kita terpisah apa yang akan kau lakukan?"

Bersyukur chanyeol sedang tidak mengunyah makanannya ataupun meneguk minuman karena bisa dipastikan setelah baekhyun mengucapkan 10 kata tersebut maka chanyeol akan tersedak. Chanyeol membulatkan matanya, tak terima baekhyun berucap seperti itu seolah ia memiliki niatan untuk meninggal pemuda bersurai ash grey tersebut.

"Kenapa kau bertanya seperti itu sayang?"

"Hanya khawatir, masa depan siapa yang tahu."

"Tidak. Kita tidak akan berpisah, apapun yang terjadi. Kau adalah milikku, dan aku adalah milikmu. Selamanya akan begitu."

Tangannya berupaya meraih jemari lentik sang istri untuk menggenggamnya, meyakinkan pemuda yang telah bertahta dihatinya sejak pertemuan pertama mereka.

"Baiklah kalau begitu. Aku juga akan berjanji tidak akan pernah pergi dari sisimu bahkan sampai kau merasa muak sekalipun. Aku akan bersamamu sampai kau mengusirku dari kehidupanmu."

"Dan percayalah baekhyunie~ aku tidak akan pernah merasa muak apalagi sampai mengusirmu dari kehidupanku."

Tangan baekhyun yang telah ia genggam kini diarahkannya menyentuh dadanya, tepat dimana jantungnya berdetak seirama dengan aliran waktu.

"Karena disini telah terukir namamu. Jantungku hanya akan berdetak untukmu begitu juga napasku yang hanya akan berhembus karena mu."

Sekali lagi. Baekhyun merona hebat, menarik tangannya untuk menutupi wajahnya yang semerah tomat seraya menunduk dalam.

"Dasar." Cibirnya,

Chanyeol tidak terkekeh selayaknya saat ia menggoda sang istri, kini pemuda park itu beringsut mendekati baekhyun kemudian merengkuhnya erat, seolah jika tak ia lakukan maka dunia dengan seisinya akan roboh saat itu juga.

"Aku mencintaimu. Ingatlah itu selalu." Bisiknya.

Baekhyun mengadah, menemukan wajah sang suami yang hanya berjarak beberapa centi dari wajahnya, ia merona, jantungnya berdegup kencang membuat napasnya sesekali tercekat. Setiap kali chanyeol menatapnya seserius ini, maka baekhyun akan merasakan cerebelumnya melumpuh serta seluruh saraf motoriknya tidak berfungsi dengan benar, ia membeku lalu meleleh kemudian.

"Baik aku akan mengingatnya dengan baik dobipan-ku."

Sahutnya seraya memejamkan kedua matanya, menanti benda kenyal yang telah menjadi candunya menempel pada miliknya, melumatnya lembut tanpa nafsu, penuh kasih tanpa menuntut. Setelahnya, mereka terengah, dan ibu jari chanyeol yang mengusap kedua sudut bibirnya bergantian untuk menghapus jejak siliva –entah milik siapa- dari sana.

"Aku mencintaimu."

Final chanyeol, setelah mengakhiri ciuman mereka, menatap lekat – lekat sosok yang sangat ia cintai tersebut. Ada cinta yang meluap melalui tatapannya, memancar dengan indah dan sarat akan cinta.

Jika kau bertanya apakah defini budak cinta? Chanyeol adalah definisi yang sesungguhnya.

...

...

...

Bukanlah salah waktu yang terus berputar dengan porosnya yang pasti, juga bukanlah salah takdir yang memiliki selera humor yang berbeda, mereka hanya melakukan yang semestinya menjadi tugas mereka. Namun tak seorangpun yang akan menyangkal betapa kejamnya permainan yang mereka ciptakan. Termasuk seorang park chanyeol.

Entah untuk yang keberapa kali ia mendesah frustasi, sembari bersidekap dada setelah menemukan sosok pria yang menjadi sumber malapetaka baginya tersebut. Pria itu masih sama, memandangnya dengan tatapan dingin nan menghunus seolah cukup untuk membuat chanyeol beringsut takut. Hah! Jangan buat chanyeol tertawa.

"Jadi dialah special guest kita?" tanyanya, tanpa memutus pandang pada pria tersebut.

"Benar, Dialah SCoups. Orang yang bertanggung jawab atas apa yang menimpa kita. Orang yang membelot dari perjanjian dan mengkhianati saudaranya sendiri."

Chanyeol tahu betul, seberapa dalam hoseok menahan suaranya agar terdengar tenang, pria itu hampir meledak – ledak saat menatap SCoups yang bahkan enggan peduli atas kehadirannya.

"Dan aku ingin menjelaskan sesuatu yang kami temui dan alami hingga membuat pria bajingan ini bertekuk lutut seperti sekarang."

Chanyeol memilih diam, menyimak dengan pasti apa yang ingin disampaikan hoseok ketika pemuda itu beranjak dari tempat duduknya dan berdiri angkuh disamping SCoups yang kini bersimpuh tak berdaya.

"Namanya Choi Seungcheol, ah aku lupa dia adalah saudara kita dulunya . Bukankah begitu seungcheol?..

"..Sangat disayangkan aksi pengkhianatanmu yang brutal juga tak beradap itu harus menemui akhir yang tragis seperti ini..

"..Baiklah aku akan berhenti bermain – main..

"..Choi Seungcheol memiliki seorang istri bernama Yoon Jeonghan yang sedang mengandung, ia menyembunyikan dengan baik, sebuah desa diwilayah utara. Hei bung! Bukankah seharusnya kau tahu diri untuk tidak meletakkan 'aset'mu diwilayah kekuasaan bekas saudaramu yang kau khianati ?..

"..Nyatanya Seventeen Shadow memiliki tiga pimpinan untuk setiap unitnya. Oh kawan, kau bahkan hanya mampu meniru struktur Black Angel. Darimana kau dapatkan keberanian untuk menusuk saudaramu sendiri kalau begitu?..

"..Ah aku lupa. Janji – janji manis Dark Knight telah membuatmu terbuai dan memilih menjadi sampah seperti ini..

"..SCoups, bukankah kau sangat menyedihkan?..

"..Lalu informasi pribadi lainnya telah ku kirim pada kalian, silahkan cek E-Mail kalian wahai saudara – saudaraku."

Jangan salahkan hoseok yang mengubah intonasi suaranya yang semula tenang menjadi penuh penekanan juga menyertakan penghinaan bersamanya diakhir kalimat.

Seluruh anggota inti mengecek E-Mail mereka masing – masing, menelaah satu persatu fakta yang terungkap hingga membuat mereka terkaget - kaget, nyatanya selama ini SCoups menyimpan terlalu banyak rahasia dari mereka sedang mereka terbuka – terbuka saja dan bodohnya, mereka sangat mempercayai SCoups kala itu.

"Aku masih tidak mempercayai ini semua."

Jinhwan berkomentar, seiring kepalanya tengadah untuk menatap SCoups dengan bengisnya. Dalam heningnya ia menyusun rencana pembalasan dendam yang penuh akan siksaan teruntuk SCoups nantinya.

"Tenanglah Jay. Kita semua terkhianati." Sahut jinyoung malas.

"JHope. Lanjutkan."

Hoseok mengangguk, ia masih berdiri disamping SCoups, sesekali ia menatap pemuda tersebut dari ekor matanya, bahkan secuil dari hatinya tak merasa iba pada saudara seperjuangannya itu.

"Akan ku lanjutkan." Ucapnya, seraya tersenyum miring.

"Jin telah menyiapkan hukuman yang pantas untuknya. Aku hanya membutuhkan persetujuan kalian semua."

"Hukuman? Haruskah kita mengulitinya hidup – hidup di depan istrinya yang manis itu?" –Junhoe

Yuta bergidik ngeri, begitu juga dengan teman – temannya. Agaknya benar firasatnya yang mengatakan jika mereka telah terjebak di kandang serigala buas yang haus akan darah. Dan sialnya, mereka masuk dengan sukarela. Ah, kepalanya menjadi pusing setelah mengingat bagaimana sikap menantang dirinya tadi, pasti akan berdampak tak baik kedepannya.

'Pssst? Kalian tidak berenca kabur saja? Mereka semua psikopat dengan pendidikan tinggi serta perlatan super canggih, Taeil hyung baru saja mendapatkan datanya setelah meretas salah satu server mereka dan sekarang server itu bahkan menyerang balik dan membuat gadget satu – satunya yang kita miliki padam karena virus yang keterlaluan itu.'

Bahkan yuta masih mendengar bisikan Johnny 5 menit yang lalu, saat teman sejawatnya itu mengutarakan sebuah fakta yang membuat seluruh dari mereka hampir mati berdiri sangking terkejutnya.

"Menarik sekali. Ju-ne." –Ilhoon

"Kita harus melakukan sesuatu yang lebih baik. Seperti membunuh istrinya dihadapannya secara perlahan." –Donghyuck

"Ide gila macam apa itu? Sangat menantang dan aku ingin mencobanya." –Youngjae

"Teman – teman tenanglah. Biarkan Jin menyampaikan hukuman apa yang telah ia siapkan."

Eunkwang berusaha menenangkan situasi ramai yang disebabkan oleh rekan – rekannya yang kini tampaknya mulai disibukkan dengan ide – ide gila yang bersarang di otak sempit mereka, mengutarakannya dengan menggebu.

"Tidakkah kalian seharusnya bertindak selayaknya terhormat? Kita bukanlah preman pasar yang akan beradu argumen dengan anarkis."

Mereka yang sedari tadi mengabaikan permintaan eunkwang kini beralih mengatup bibir mereka rapat – rapat saat yifan yang baru saja tiba, berceletuk santai tanpa mengurangi wibawa yang membalut diri pemuda itu, hingga membuat yifan selalu terlihat sebagai bangsawan yang agung. Yifan mengambil posisinya, tepat disamping chanyeol yang hanya menyapanya dengan senyum kecil -terkesan kecut- dan yifan memaklumi hal tersebut kali ini. Catat! Kali ini.

"Baiklah. Aku sendiri yang akan menjelaskan bagaimana hukuman ini akan terasa sangat berat bagi SCoups untuk menjalani hidupnya setelah ini."

"Dia tidak akan mati?" Jiwon bertanya, kedua alisnya terangkat keatas menandakan pemuda itu membutuhkan jawaban atas tanyanya.

"Tidak. Dia tidak." Sahut seokjin, menggulirkan matanya untuk mendapati SCoups yang menyorotnya dengan tatapan yang tak dapat diartikan.

"Tetapi sebelum itu, aku ingin SCoups keluar dari ruangan ini." Lanjutnya setelah membuang muka, enggan menantang tatap dari pria es tersebut.

Perintahnya dilaksanakan. Tidak ada lagi SCoups yang mengganggu fokusnya dengan tatapan membunuh.

"Aku telah menanamkan micro chip yang tak kasat mata di pembuluh darah arteri didekat telapak tangan sebelah kirinya jeonghan, berterima kasihlah pada pemuda itu karena mempercayaiku sebagai dokter kandungan. Micro chip itu mengirimkan ratusan data yang menarik padaku, termasuk lokasi terbaru jeonghan setiap perpindahan lelaki itu barang selangkahpun. Dan kalian tahu bagian apa yang menarik dari ini?..

"..Aku berniat membagi data sosok yang sangat dicintai SCoups tersebut pada seluruh dunia, pada siapapun yang menginginkannya..

"..SCoups adalah budak cinta dari jeonghan, percaya atau tidak ia mencintai teman masa kecilnya itu sejak belasan tahun yang lalu dan baru saja terbalas beberapa tahun yang silam..

"..Tak perlu melukainya secara fisik, atau menyakiti perasaannya secara verbal..

"..SCoups akan kalang kabut menemukan dunia menemukan keluarga kecil bahagianya dengan mata memincing..

"..Dia akan menggila setiap kali mencoba melindungi pemuda tersebut..

"..Dan itu adalah siksaan seumur hidup yang harus ia lalui sampai dipenghujung umurnya."

Seokjin menyudahi penjelesannya, melempar senyuman berarti pada seluruh rekan – rekannya yang disambut riuh oleh mereka. Berdiri kemudian bertepuk tangan heboh atas ide cemerlang yang baru saja seokjin cetuskan, seolah pemuda itu menemukan penakhluk nuklir yang akan menyelamatkan umat manusia dari kepunahan suatu hari nanti.

"Demi tuhan, Jin kau sangat cerdas." –Hyungsik

"Tidak heran jika Rap Monster bertekuk lutut padamu." –Hanbin, mengerlingkan matanya pada namjoon yang kemudian mendatangkan seruan tak terima dari sosok tersebut, sedang seokjin menunduk, menutupi semburat dipipinya –ia sedang merona-.

"Terpujilah otak cerdas Jin." –Jisung

"Baiklah. Kalian teruslah memuji Jin hingga Rap Monster menelan kalian hidup – hidup satu persatu, oh ayolah kawan kalian akan membuatnya terbunuh oleh rasa cemburu." –Jaebum menyahuti ucapan jisung, mengerjap lucu saat mendapati namjoon yang menatapnya sengit.

"Hei berhentilah kalian. JB! B.I! Jangan menggoda RM." –Eunkwang, walau tak menampik dirinya juga tertawa atas reaksi namjoon atas godaan yang dilontar oleh hanbin dan jaebum, tidak juga munafik bahwa ia menikmatinya, kapan lagi melihat namjoon yang terkenal akan keseriusannya itu mencebik bibirnya jengkel –kekanakan-. Tidak hanya dirinya, hampir separuh dari mereka ikut tertawa, walau tidak heboh.

"Bagaimana Richard?"

Suara bass khas yifan mengalun tenang, menenggelamkan keriuhan yang baru saja tercipta seolah itu tidak pernah terjadi. Menanyakan pendapat sang adik yang sedari tadi tidak ikut andil atas kehebohan tersebut.

"Aku sangat menyukai idemu Jin. Tetapi, bolehkah aku bertanya? Apakah micro chip itu dapat dihancurkan sewaktu – waktu?"

"Tidak semudah itu menghancurkannya Richard, jika kau mengkhawatirkan rapuhnya benda tersebut. Hanya aku, JHope dan Rap Monster yang mampu membumi hanguskannya." Sahut seokjin berbangga diri.

Chanyeol mengangguk pelan, tak pernah menemukan dirinya merasa kecewa atas kinerja orang – orang yang terlibat dalam 'inti' Black Angel.

Walau tak menemukan dirinya kecewa, pikirannya kembali menerawang jauh ke masa lalu, dimana ialah yang menjadi sumber kekecewaan sejati bagi Black Angel yang sesungguhnya.

"Aku telah bersumpah untuk berada disampingmu bahkan setelah kau merasa muak padaku, chanyeol-ah"

"Dan sekarang aku mengusirmu dari kehidupanku, artinya kau memang harus pergi."

"Chanyeol-ah. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi, tetapi aku berjanji akan membantumu semampuku."

"Kaulah masalahnya baekhyun! Aku muak padamu! Aku bahkan membencimu!"

Chanyeol mengingatnya dengan jelas, dimana saat baekhyun yang telah tersadar dari komanya setelah rangkaian operasi yang ia lalui –operasi yang dipimpin oleh chanyeol-. Pemuda dengan surai sewarna kayu eboni –baekhyun acap kali mengganti warna rambutnya- itu menghampirinya, menangis dihadapannya dengan jutaan permohonan yang menyulut emosi chanyeol. Bukan. Bukan karena chanyeol sudah membenci baekhyun, justru sebaliknya, ia membenci dirinya yang bahkan membuat baekhyun meneteskan air matanya yang berharga.

Saat itu, hanya chanyeol yang tahu bagaimana kemelut hatinya yang berjuang untuk bersikap tegas pada baekhyun, menolak kehadiran sosok yang sangat ia cintai tersebut agar keselamatannya tak lagi terancam. Mungkin cukup chanyeol sajalah yang menyimpan rahasia kecil ini, dimana kala itu hati kecilnya terus menggaungkan nama baekhyun yang katanya telah ia ukir dijantungnya, memberontak pada ego yang mendesaknya bertindak logis sesuai rencana.

"Jangan tinggalkan aku chanyeol-ah."

"Aku bahkan telah menikah dengan seorang wanita yang kucintai. Pergilah dan berhenti membuatku terlihat seperti orang jahat."

"Tidak mau!"

"Kalau begitu aku yang akan pergi."

Chanyeol meringis, mengingat bagaimana kala itu ia bertindak sangat kejam pada malaikat kecintaannya tersebut, walau sebenarnya ia bahkan tak beranjak dari sana barang semili pun, memperhatikan dalam diam, sampai menghubungi sehun untuk menjemput baekhyunnya, tak ingin pemuda itu terpekur di lantai karenanya.

Tidak. Bukan dirinya yang pantas merasa terluka, baekhyun bahkan masih bersedia berjuang untuknya sekalipun ia menulikan telinga atas hembusan kabar tersebut, tak tahu harus bagaimana menertawakan dirinya yang begitu egois, juga otak dangkalnya yang mengambil keputusan ceroboh tanpa ragu.

"Aku ingin mengadili SCoups saat Flower Bee berada disini."

Suaranya mengurai udara, membuat seluruh dari anggota inti Black Angel tertegun, memandangnya dengan raut wajah pritahin yang membuatnya muak setengah mati.

"Aku tahu Flower Bee tidak akan pulih dalam waktu yang singkat. Aku juga ingin menghukum diriku atas masalah ini. Jadi..

"..bisakah kalian memberikanku lebih banyak waktu untuk itu?"

"Tetapi bagaimana dengan SCoups? Apa yang harus kita lakukan padanya selama menunggu Flower Bee kembali?" –Jiwon

"Kita tidak mungkin mengurungnya." –Jinhwan

Chanyeol mengerutkan dahinya, benar juga, pikirnya.

"Kita bisa melepaskannya, seolah membebaskannya lalu surprise! Kita menangkapnya kembali serta memberinya kejutan yang selanjutnya." –Jinyoung

"Bagaimana mungkin?" –Peniel

"Tentu saja mungkin, aku yakin Rap Monster memiliki lebih dari satu micro chip yang semacam itu, bukankah begitu Rap Monster?" –Jinyoung

Namjoon yang sedari tadi terbenam diantara pemikirannya kini mengulum senyum simpul, didahului oleh rekan berbeda wilayahnya tersebut membuatnya merasa sedikit malu.

"Benar. Junior Benar. Aku memiliki setidaknya dua cadangan, aku bisa meminta JHope memasangnya pada SCoups." Sahutnya seraya menatap hoseok yang kini mengangguk secara berulang dan teratur, seolah tahu bahwa namjoon akan mengucapkan hal tersebut.

"Bukankah itu kejutan yang manis?" –Jaebum

"Oho. Kata manis itu merujuk pada hal apa JB? Kejutannya atau orang yang mencetuskannya?" –Minhyuk

"Ku pikir anak panah cupid telah melesat diantara kita." –Eunkwang

"Tidak. Aku tidak." Sahutnya gugup, sedang jinyoung hanya menggulirkan kelereng beriris dark brown nya jengah, menutupi detak jantungnya tak beraturan –nyatanya ia juga tersipu malu-.

Setelah melalui proses saling tukaran pikiran yang sangat – sangat panjang dan melelahkan, mereka akhirnya menyetujui usulan Jinyoung tanpa ragu, menanam kembali kepercayaan mereka yang sempat hancur lebur dikunyah masa saat chanyeol menentukan keputusan yang sampai detik ini masih mereka sayangkan.

"Terima kasih."

Chanyeol kembali bersuara setelah menutup rapat bibirnya untuk beberapa saat. Ketika rekan – rekannya saling melemparkan argumen lalu memperdebatkannya dengan alasan – alasan lain untuk mendukung sang empu yang saling beradu mulut, chanyeol enggan turut serta bersama mereka, ia hanya menyimak satu persatu kalimat yang terlontar frontal dari mulut mereka, sesekali ia mendapati mereka saling menatap sengit, kemudian seolah tersadar, mereka menghela napas dan meminta maaf.

Tidak. Bukan. Bukan karena chanyeol yang takut terseret derasnya arus yang berbahaya tersebut, ia hanya ingin menjadi pihak yang mendengarkan kali ini, memahami apa yang sebenarnya keluarga tak sedarahnya ini ingin tunjukkan, yang selama ini cukup lama ia hiraukan.

Setelah perundingan itu telah usai, ia memilih untuk membicarakan sesuatu yang telah ia simpan dengan apik didalam benaknya, sembari menguasai diri yang hampir terpekur disana akibat beratnya beban rasa bersalah yang menggelayuti pundaknya selama ini.

"Terima kasih telah berada disisiku sampai saat ini. Aku tahu, baru menyadarinya kemarin, omong – omong..

"..Bagaimana aku sangat mengabaikan perihal kalian dan tenggelam dalam kubangan penuh sesal setelahnya, aku mengecewakan kalian tanpa pernah bertanya, bersikap seolah – olah aku adalah makhluk tuhan yang paling tangguh dimuka bumi ini, menutup mata setiap kali kalian mencoba untuk menyadarkanku..

"..Mungkin ini sedikit terlambat atau bahkan sangat terlambat, tetapi aku ingin meminta maaf kepada kalian semua..

"..Maaf telah menyakiti perasaan kalian selama ini..

"..Maaf telah mengabaikan kalian..

"..Dan maaf karena meninggalkan kalian dibarisan belakang sedangkan aku dengan sombongnya berjuang sendirian dibaris terdepan, selayaknya menganggap kalian tak pantas terluka, bukan maksudku mengatai kalian lemah..

"..Hanya saja aku berpikir untuk tidak melibatkan banyak pihak, dan nyatanya aku sangat – sangat salah. Sejak awal masalah ini bukan tercipta untukku seorang, ini adalah masalah Black Angel karena Flower Bee juga bagian dari kita."

Cukup lama hening menyelimuti ruangan tersebut, yang mana membuat hembusan angin bahkan terdengar selayaknya sedang berbisik – bisik heboh. Mungkin saja angin kini tengah berceloteh riang pada dedaunan, menyampaikan kabar tentang betapa rapuhnya seseorang yang bernama Park Chanyeol.

"Berhenti menyalahkan dirimu sendiri Richard, ini bukan sepenuhnya salahmu. Mungkin saja aku juga akan melakukan hal sama jika berada di posisimu." –Minhyuk turut andil kali ini, mengusik kejayaan sang angin dan menggantikannya dengan lantunan kata penuh simpati disetiap sukunya.

"Benar. Kita tidak akan roboh hanya karena gerimis seperti ini, kita telah melalui badai hebat yang meluluh lantakkan segalanya tetapi lihat? Kita bahkan masih mampu berdiri tegap setelahnya. Richard, jika kau berpikir ini adalah salahmu, maka itu tidak sepenuhnya benar." Sahut yifan, menggulirkan sepasang onix indahnya untuk mengamati chanyeol dari sudut matanya, cukup seperti itu.

"Lagipula kau telah kembali 'pulang'." Lanjutnya, seiring atensinya teralihkan kedepan, menemukan rekan – rekannya yang memandang haru kearah sang adik.

"Biarlah ini tetap menjadi rahasia diantara kita, bagaimana hangatnya keluarga kecil ini dalam berperilaku, bagaimana pemimpin kita meminta maaf karena telah melukai perasaan kita walaupun ia tak perlu melakukannya, bagaimana cara kita saling menyayangi dengan khas kita yang agaknya tidak mudah dipahami oleh orang lain..

"..Richard? Kau adalah pemimpin terbaik sepanjang masa. Membangun 'rumah' untuk 'keluarga kecil'. Tidak semua orang beruntung memiliki 'rumah' sehangat Black Angel, karena kita bersaudara, yang saling melindungi..

"..Richard? Kami memaafkanmu. Kaulah sang tuan rumah, yang menciptakan rumah yang sangat nyaman ini untuk kami, kaulah alasan kami masih bertahan."

Disambut sorak bahagia, untaian kalimat yang hyungsik rangkai telah usai, seluruh dari mereka hampir menangis; sangat tersentuh, ucapan hyungsik yang seolah menyadarkan mereka jika selama ini mereka berbeda dari yang lain.

Hal yang membuat mereka tampak kokoh dan tak terkalahkan dari luar bukanlah karena kemampuan mereka yang mumpuni ataupun wawasan yang luas, mereka sampai dipuncak kejayaan karena mereka adalah keluarga, saudara tak sedarah yang saling mengasihi, merangkul satu sama lain dan berjuang bersama – sama .

"Teman – teman, sepertinya kita melupakan sesuatu." -Ilhoon bukannya ingin merusak euforia yang kini sedang berlangsung, salahkan fokusnya yang kini beralih pada sekelompok remaja yang sedari tadi duduk disudut ruangan seraya bermuka masam.

"Ah.."

Sekali dua kali mereka mengangguk ketika tersadar ada 'orang lain' diantara mereka, salah seorang diantara mereka bahkan beranjak dan mendekati sekelompok remaja tersebut tanpa ragu.

"Hei? Apa kalian takut?"

Seokjin yang memiliki sikap keibuan kini tengah mengulas senyum tulus kepada sekelompok remaja tersebut yang diikuti dengan geraman rendah namjoon yang tampaknya tak senang jika beberapa orang asing menikmati senyuman yang selalu membuatnya jatuh lagi dan lagi pada pesona seorang seokjin.

"Kalian bisa memperkenalkan diri kalian." Lanjutnya, kemudian mengambil kembali posisi awalnya –duduk disebelah kanan namjoon-.

Yuta menoleh untuk menemukan ekspresi berbeda dari teman – temannya, beberapa dari mereka menggeleng pelan, berusaha agar tak terlihat jelas, sedangkan beberapa lainnya menunduk dalam seraya memainkan kancing baju mereka, yuta tahu bahwa kini teman – temannya tengah dilanda perasaan gusar tak berkesudahan.

"Moon Taeil , usiaku 15 tahun dan aku adalah anggota yang tertua ."

Sebagai yang paling dewasa taeil mengambil alih, memperkenalkan namanya dengan lantang kemudian mempersilahkan adik – adiknya untuk melanjutkan sesi itu.

"John Seo-"

Taeyong mencubit pinggang Johnny dengan gemas, karena teman sejawatnya itu masih saja berlagak dengan nama kebaratannya.

"Maksudku Seo Youngho, dan usiaku 14 tahun."

"Lee Taeyong, 14 tahun, aku leader dari kelompokku ."

"Nakamoto Yuta, 14 tahun ."

"Qian Kun, Kim Doyoung, Chittaphon Leechaiyapornkul, 13 tahun ."

"Jung Jaehyun, Dong Sicheng, 12 tahun ."

"Masih terlalu muda."

Junhoe mengumbar seringaian tipis sembari menggumamkan 3 buah kata yang terdengar menyeramkan bagi yuta dan teman – temannya.

"Benar sekali, sangat muda dan berpotensi." Sahut namjon, seraya berdiri dengan tegap lalu melangkah pasti menuju ketengah ruangan untuk mendapatkan seluruh perhatian dari anggota inti Black Angel.

"Perkenalkanlah mereka yang akan menjadi anggota inti selanjutnya-"

"TUNGGU! Apa maksudmu? Diwilayah mana mereka akan ditempatkan? Tidakkah kau lihat bagaimana sembrononya mereka tadi?"

Jelas jinhwan berkomentar pedas setelah memotong kalimat namjoon tanpa ampun, mata sipitnya tampak melotot berserta kilatan marah yang terlihat jelas disana.

"Tenanglah Jay, izinkan aku menyelesaikan terlebih dahulu kalimatku."

Jinhwan mendengus keras, walau ia kembali merapatkan bibirnya kuat – kuat, berusaha menahan emosi yang mengkelakar dalam dadanya.

"Mereka akan diletakkan diwilayah pusat, mereka akan dilatih dan diawasi oleh Richard sendiri. Neo Culture Technology adalah grup besutan pemerintah dalam menemukan solusi 'dampak perang' yang dikhawatirkan suatu hari akan terjadi. Taeyong, selaku leader dari mereka, ku pikir kau berhak menjelaskan lebih lanjut tentang diri kalian."

Taeyong mungkin harus berlapang dada saat pria yang ia ketahui namanya adalah Rap Monster tersebut memberikan waktu sebanyak mungkin padanya untuk menjelaskan identitas juga informasi pribadi mereka, walau dengan perasaan berat hati ia tetap melaksanakan penawaran dengan kesan mengancam tersebut karena oh! Ayolah! Mereka bahkan tak punya pilihan lain.

"Kami adalah Neo Culture Technology , kami akan berhenti tumbuh setelah 10 tahun mendatang, mereka ingin menciptakan generasi X , generasi dimana umat manusia berhenti tumbuh di usia yang menurut mereka Ideal , karena itu kami memiliki rentang umur yang berbeda – beda..

"..Mereka sangat kejam, memasukkan kami kedalam lab untuk percobaan secara berulang – ulang, sangat menyakitkan, sungguh..

"..Tetapi kami bertahan sampai sejauh ini dan berhasil kabur..

"..Ini mungkin salahku, tetapi Kim Jungwoo dan Wong Yukhei tidak berhasil lolos dan ikut bersama kami, bersama 3 orang anak lagi yang aku tidak tahu namanya, mereka mungkin akan menghukum mereka setelah upaya kabur tersebut..

"..Demi membayarkan rasa bersalah, aku dan teman – temanku mencari pekerjaan kesana kemari hingga bertemu dengan seseorang yang menawari pekerjaan mudah, sangat mudah katanya, tanpa mengetahui apapun kami menerimanya dengan senang hati, berharap dapat mengumpul pundi – pundi uang untuk kembali ke pusat penelitian tersebut dan menyelamatkan mereka dari tempat mengerikan itu..

"..Kami bekerja pada organisasi The Phantom yang dipimpin Mr . Anonim , kami tidak pernah bertemu langsung dengannya, mereka bilang bahwa beliau adalah orang baik sehingga berbesar hati menampung kami yang hanyalah gelandangan kala itu..

"..Nyatanya mereka adalah kelompok kriminal yang berhasil mengedalikan pasar gelap juga narkoba, dikenal sebagai kartel narkoba terbesar ketiga dinegeri ini membuat setiap anggotanya harus cekatan dalam segala hal..

"..Karena kami masih terlalu muda dan dianggap tak mampu memahami pemasaran, mereka seringkali memerintahkan kami untuk bekerja sebagai pesuruh bagi orang – orang yang rela membayar mahal untuk melakukan tindak kejahatan tanpa mengotori tangan mereka sendiri..

"..Dunia ini kejam, aku juga tidak bisa roboh begitu saja, aku harus menjalaninya, begitupula dengan teman - temanku."

Singkat, padat dan jelas. Taeyong memaparkan rangkaian kisah hidupnya bersama teman – teman seperjuangnya.

"Kalau begitu, bergabunglah dengan kami."

"Dan meninggalkan organisasi sebesar The Phantom? Kalian bisa memberi kami apa?"

Brak!

Prang!

Klontang!

Dari segala sudut ruangan tersebut terdengar bunyi bantingan yang jelas disengaja oleh beberapa pihak, sumpah serapah hampir bersahut – sahutan sebelum yang tertua menengahi.

"Tenanglah, mereka hanya bocah yang tak lebih dari 15 tahun."

Kris merotasi matanya malas, emosinya juga hampir tersulut karena ucapan lantang tersebut, namun bersyukurlah karena otaknya masih berteman baik dengan logika sehingga ia langsung menyudahi amarahnya yang menggebu – gebu dan juga mencoba melerai rekan – rekannya.

"Kami hanyalah organisasi keluarga yang siap memberikanmu kehangatan. Organisasi kami sangat kecil, tetapi kami bergerak dalam segala aspek." Lanjutnya, mencoba melembutkan nada bicaranya, walau suaranya yang bergetar sangat jelas terdengar sebab amarahnya yang ia redam.

Taeil kini berdiri dibarisan terdepan bersama taeyong, johnny, serta yuta karena adik – adik mereka beringsut takut ketika menemukan seluruh penghuni ruangan ini memicing tajam kearah mereka seolah ingin menguliti mereka hidup – hidup saat itu juga. Ia menggigit bibirnya sekuat tenaga, nyalinya menciut seiring menyadari bahwa sudah sangat terlambat untuk kembali.

"Kalian hanyalah organisasi kecil lantas mengapa memaksa kami untuk ikut bersama kalian?" Teil menyahut, walau suaranya sedikit teredam karena ia memang mengucapkannya dengan takut – takut.

"Oh tampaknya ada yang salah paham disini." –Junhoe

"Kris, ini salahmu karena kau terlalu merendah sehingga bocah – bocah ini memandang tinggi diri mereka sendiri." –Donghuck

"Merendah untuk meroket." –Jiwon

"Baik. Kris benar, kami hanyalah organisasi kecil yang tidak memiliki pengaruh, tetapi hei! Bocah yang bernama Lee Taeyong, katakanlah pada siapapun yang berada di The Phantom bahwa kalian baru saja kembali dari markas utama Black Angel yang dihadiri oleh seluruh dewan dan petingginya atau sekalian saja sampaikan salam kami pada Mr. Anonim kebanggangmu itu." –Jinyoung

"Dan aku yakin mereka akan lari terbirit – birit setelah mendengarnya." –Hoseok

Chanyeol sudah pusing bukan kepalang, nyatanya sekelompok pemuda itu memiliki keahlian memancing amarah orang lain dengan mudah. Dan sebagai catatan bahwa setiap anggota Black Angel memiliki harga diri terlampau tinggi, sehingga penghinaan seperti ini hanyalah percobaan bunuh diri bagi mereka sendiri.

Berterimakasihlah pada dewi fortuna yang tampaknya berada dipihak Taeyong dan teman – temannya, karena chanyeol masih menginginkan sekelompok remaja itu hidup – hidup untuk ia bentuk menjadi Alpha Werewolf yang mematikan kedepannya, sehingga ia tidak mengeluarkan senjata api kesayangannya –yang berjenis Smith & Wesson 500 Magnum yang dikenal sangat mematikan itu dari tempatnya bersarang; dibalik pakaian yang ia kenakan– untuk melubangi kepala besar (re:besar kepala,sombong) mereka satu - persatu.

"Hei bocah!"

Chanyeol yang agaknya malas kini bangkit seutuhnya dari singgahsananya, tidak berniat mendekati selayaknya sang kakak, ia hanya berdiri dengan membebaskan aura mematikannya yang pekat, dapat ia saksikan bagaimana yang muda semakin beringsut dibalik tubuh kakak – kakak mereka.

"Aku adalah pemimpin Black Angel. Jika The Phantom kebangganmu merupakan kartel narkoba terbesar ketiga dinegara ini, apalah daya Black Angel yang merupakan penguasa pasar internasional yang ditakuti diseluruh ASIA dan bahkan bergerilya di eropa dan amerika dalam segala bidang dan ketahuilah nak, kami bahkan mengendalikan negeri ini dengan cara yang tak terlihat. Mungkin Mr. Anonim-mu itu memang sangat baik hati sehingga mau menampung kalian dikelompoknya, apalah aku ini, yang ingin merangkul kalian dikeluargaku..

"..renungkanlah apa yang baru saja aku katakan..

"..Kuharap tidak ada sesal diantara kita."

Chanyeol tersenyum miring kala menyudahi kalimatnya, menyaksikan sendiri bagaimana pergulatan batin terjadi diantara anak – anak tersebut, yang memiliki garis usia lebih tua merengkuh adik – adik mereka, mencoba menenangkan mereka walau percuma saja karena chanyeol bahkan mendengar beberapa pekikan tertahan yang lolos dari mulut yang termuda.

"Izinkan kami memikirkannya tuan. Beri kami waktu." Johnny berucap singkat, pupilnya bergetar takut seiring matanya yang bersibobrok dengan netra arang chanyeol.

"Baiklah. Aku akan memberikan waktu untuk kalian memikirkannya. Jangan terlalu lama, oke? Aku tidak suka menunggu."

"Baik tuan."

Kembali hening menyeruak diantara mereka, menginvasi setiap ruang kosong disana namun chanyeol dengan gagahnya kembali mengusir keberadaanya dan menyuarakan sebuah perintah bagi yang lain.

"Baiklah, JB, B.I, dan Eunkwang, kalian bertugas untuk menjelaskan apa maksud diundangnya bocah – bocah ini pada rekan – rekan kalian yang tampaknya masih sangat bingung."

"Baik."

"Dan Rap Monster, Jin, dan juga JHope tolong bereskan SCoups untukku, kita akan menemuinya di lain waktu."

"Baik."

"Kris? Evilkyu memerintahkanmu untuk menghadiri rapat internasional PBB guna memperkuat kedudukan kita."

"Tck, baiklah, aku pergi."

Setelahnya chanyeol memilih bungkam dengan mata elangnya yang meliar, menyiasati segala kemungkinan buruk yang akan terjadi.

"Tuan, kami ingin bergabung dengan satu syarat.."

"Baiklah, kami pasti akan memenuhinya."

"Kami ingin kalian untuk ..."

"APA?!" –Koor seluruh penghuni ruangan tersebut, terkejut bukan main.

...

...

...

To Be Continued(?)

...

...

...


[byunniekun] :: yeay aku juga seneng bisa update hehe~/ seneng dapat respon yang sebegini baikknyaaa ^^/ marii berteman kaka^^

[PSCH] :: Terima kasih banyak hehe :") / makasih sekali lagi untuk apresiasi nya, aku kaya senang bukan main untuk nerima itu semua./


Hi, it's me^^

Penulis yang sangat menyayangi pembacanya , Ranflame.

Aku kembali dengan fast update. Kenapa? Tanya dong kenapa *maksa*

Yap! Betul sekali! *sok tau*, aku fast update karena aku 'terlalu semangat' hehe, ya itu juga setelah ngeliat reviews nya kalian, ugh, jadi aku langsung kebanjiran inspirasi *muka serius* . aku persembahkan *sok oke* love scenario untuk kalian. Muah :*

Curhat Mode ON (Informal) :

Aku sebenarnya udah nge'stuck' di chapter 03 karena kehabisan ide atau lupa jalan cerita yang udah ku rangkai sejak lama, kaya putus semangat juga kan, ngerasa karya ku jelek dan ga punya daya tarik, tapi lama kelamaan aku sadar, mungkin satu atau dua orang yang menikmati FF ku dan aku sangat – sangat berterima kasih sampai rasanya kepingin meluk satu persatu pembaca FF ku termasuk sahabatku sendiri, aku tahu di termasuk sahabatku sendiri, aku tahu dia tetap support aku untuk ngelanjutin cerita ini dan buat aku semangat bukan main.

Setiap kali update aku tetap deg – degan *lebay*, dalam hati "apa ffku kebosenin ya" atau yang lain – lain, aku ga marah untuk yang memilih jadi silent reader karena itu wajar tapi aku tetap sayang para pembacaku hehe *orangnya penyayang nih* dan aku sangat – sangat berterima kasih untuk yang setia membaca FF ini sampai sekarang, ngeluangin waktu dan uwah. Pokoknya makasih baaaaaanyaaaaaaaakkkkkkkkkk. Aku sayang kalian semua. ({})

Big love

Ranflame


Tinggalkan jejak 'membaca' jika berkenan.

Salam hangat penuh cinta dari saya untuk para pembaca yang telah menyempatkan waktu untuk membaca Fanfiction Love Scenario.

Terimakasih terkhusus untuk kalian masih setia untuk membaca love scenario dari awal sampai sekarang, love you :*


Maaf jikalau ceritanya bersinggungan dengan beberapa hal.

Maaf jika agak mengecewakan.

Maaf kalau slow update.


[MENERIMA KRITIK DAN SARAN]

[MARI BERTEMAN^^]

Garis "00"