Anyonghaseyo
Chapter 8 update, mian jika tulisan yang author hasilkan sama sekali jauh dari apa yang diharapkan, ooc bahkan gaje.
Gomawo yang sudah mau review chapter sebelumya.
Langsung saja, Harakiri production mempersembahkan.
FnC Academy
Chapter 8
Ketika engkau melihat dirimu terkungkung dalam sebuah cermin, apa yang akan engkau lakukan? Memecahkannya atau membiarkan dirimu terus berada dalam kekuasaannya?
Cermin itu semakin membelenggunya, mengikat untuk tetap mengikuti alur yang telah ditentukan. Tidak peduli egkau merasa lelah bahkan sekarat sekalipun. Cermin itu nyata, bukan sekedar cermin hiasan yang dipajang. Cermin itu adalah refleksi dirimu, refleksi bagaimana seharusnya engkau bertindak, refleksi takdir yang memang telah mengikatmu erat untuk meneruskan estafet kekuasaan yang lebih besar. Cermin itu berdiri angkuh seakan-akan meremehkan jika engkau tidak sanggup melampauinya, bahkan jika engkau tidak mampu menyamai sosok itu, engkau akan merasa terhina akibat seringainya.
Siapa cermin itu bagi seorang Choi Jonghun?
Pertanyaan yang cukup mudah untuk dijawab. Dia adalah sosok yang membesarkannya, sosok yang mengajari semua hal dan sosok yang mendoktrin dirinya mengenai arogansi, kekuasaan dan kelicikan. Ayahnya, Tuan Choi. Dia masih ingat bagaimana darah senantiasa menetes menemani hari-harinya, warna biru lebam menghiasi sekujur tubuhnya serta desahan nafas lelah tidak bisa lagi dikompromi. Semuanya telah menjadi makanannya, pria itu sama sekali tidak peduli. Membiarkan dirinya hampir mati demi mengolah api di tangannya. Sejak berumur lima tahun dia sudah merasakan semuanya, tereksploitasi akibat kekuatannya dan keangkuhan pria itu.
Semuanya telah terjadi, membuka catatan lama yang tidak ingin Jonghun buka. Namun, dia harus melakukannya. Dia tidak ingin hal yang sama terulang, melihat sepupunya sendiri dimanfaatkan oleh ayahnya. Dia harus melindungi Jaejin, merengkuhnya dari sentuhan ayahnya dan Jonghun berharap ayahnya tidak tahu dan tidak akan pernah tahu kekuatan adik kecilnya itu. Adik kecil yang sangat ingin dia lindungi.
Kini, pemuda bernama Choi Jonghun itu duduk di depan ruang perawatan. Balutan perban menghiasi tubuhnya yang masih mengeluarkan cairan anyir berwarna merah. Dia benamkan wajahnya pada kedua tangannya. Hongki yang melihat pemuda di sampingnya nampak khawatir menyentuh pundaknya, memberi dukungan untuk sekedar menguatkannya. Jonghun menoleh hingga mata keduanya bertemu, setidaknya melihat mata pemuda itu akan memberi ketenangan bagi dirinya. Wonbin yang berdiri mematung di depan mereka hanya menghela nafas khawatir.
"Kenapa mereka bertiga belum juga sadar," Wonbin mengacak-ngacak rambutnya frustasi.
"Tenang saja Oh Wonbin, mereka tidak apa-apa. Hanya kehilangan cakra dan aku sangat yakin sebentar lagi mereka akan sadar." Hongki mencoba menenangkan keduanya. Sekitar lima menit, pintu ruangan terbuka pelan. Kang Minhyuk berdiri bersandar pada pintu ruang kesehatan, tersenyum ke arah tiga pemuda yang nampak frustasi. Ketiga pemuda itu langsung mendekati Minhyuk.
"Bagaiman mereka?" tanya Hongki.
"Tenang saja, aku sudah memulihkan cakra mereka. Mereka bahkan sudah sadar sekarang, Minan sudah melahap ayam goreng kesukaannya, sedangkan Seunghyun sudah mulai berisik." Minhyuk menggulung kemejanya, "Tapi Jaejin masih diam, sepertinya dia masih syok dengan apa yang terjadi, korban penyerangan memang seperti itu, jadi jangan khawatir."
"Terimakasih, kalian telah menemukan kami dan membawa kami." Jonghun tersenyum.
"Ya, mungkin jika tanpa kekuatan pemindahan dimensi milik Jungshin kalian akan tetap dalam ilusi itu. Dan untung saja, Jonghyun menemukan lokasi kalian. Berterimakasihlah pada mereka?" Minhyuk menepuk pundak Jonghun, kemudian perlahan pergi meninggalkan ke tiga pemuda itu.
Mereka bertiga masuk ke dalam ruangan perawatan, nampak ketiga pemuda itu dengan kondisi yang berbeda. Seunghyun dan Minan sedang menikmati makanan sedangkan Jaejin menatap kosong ke arah tangannya. Jonghun yang melihat itu langsung berjalan ke arah Jaejin, menepuk pundaknya dan mengembalikan pemuda itu pada dunianya.
"Wonbin, untuk malam ini aku meminjam Jaejin. Biarkan dia menginap di kamarku, kau bisa tidur bersama Minan."ujar Jonghun.
"Iya…, silahkan."ada sedikit nada tidak rela dari ucapannya. Sejenak Wonbin menatap Jaejin, ada perasaan khawatir yang tertera dari tatapan matanya. Dia ingin sekali duduk di tepi ranjangnya, menyuapi bahkan sekedar menepuk pundaknya. Tetapi Wonbin tidak bisa melakukan itu dihadapan mereka semua. Dia melihat betapa rapuhnya sosok di hadapannya, dia merasakan gelisah menerpa hatinya.
Jonghun yang tidak mampu lagi menahan kegelisahannya, memberi isyarat pada Jaejin untuk pergi dari ruangan itu. Jaejin menyingkirkan selimut yang membalit tubuhnya, memandang Jonghun dan berdiri membuat seisi ruangan menatap heran ke arah pemuda itu.
"Kau mau kemana?"Wonbin menahan tangan Jaejin.
"Jaejin butuh istirahat, aku akan mengembalikannya jika kondisi-nya sudah membaik."Jonghun tersenyum, Jaejin menepis tangan Wonbin pelan mengikuti langkah kaki Hyung-nya. Mereka membuka pintu ruangan dan hilang ketika pintu tertutup kembali. Wonbin mendesah, menjatuhkan tubuhnya di kursi yang berjejer rapi. Nafasnya tertahan ketika dia tidak sanggup menanyakan kabar pemuda itu, seakan-akan tenggorokannya tercekat seperti terkurung dalam pusara air yang membuatnya tidak mampu mengucapkan satu patahkatapun. Padahal pemuda itu hanya ingin tahu kabarnya, menenangkan dan memberi sedikit sentuhan untuk pemuda itu.
"Dia akan baik-baik saja, Minan dan Seunghyun saja sudah seperti biasanya." Hongki duduk di samping Wonbin.
"Ya, aku tahu. Kenapa kau berbicara seolah-olah aku mengkhawatirkannya. Aku sama sekali tidak khawatir, kenapa mengkhawatirkan makhluk macam Lee Jaejin, kurang kerjaan saja." Wonbin tertawa, namun Hongki dapat melihat kebohongan dari suara dan pancaran matanya, perasaan khawatir tidak mungkin bisa ditutupi oleh seorang Wonbin, karena Hongki juga merasakan hal yang sama ketika Jonghun diam tanpa bicara.
"Terus saja berbohong, Oh Wonbin kita sudah berteman berapa lama?" Hongki meninju dada Wonbin.
"Sudahlah, tidak usah dibahas. Aku tidak ingin membahasnya."ujar Wonbin.
Hongki tersenyum, sejenak dia melihat semburat merah menjalar di pipi sahabatnya. Terkadang cinta memang sulit untuk dideteksi, tidak peduli seberapa besar penolakan yang engkau tekan tidak akan cukup untuk menghentikan virus yang sudah menjalar hampir melumpuhkan dirimu. Semuanya nyata, namun maya. Tidak bisa dicerna, tidak bisa direngkuh dan tidak pula bisa digenggam. Engkau hanya bisa merasakan, menikmati setiap sensasi yang menjalar merubah persepsi dan merubah segala bentuk hal yang tidak bisa lagi dikompromi.
Hongki tahu apa yang dirasakan Wonbin, karena dia sendiri juga merasakan hal yang sama. Ketika ucapan tidak lagi sesuai dengan hati, ketika hati tidak sanggup lagi dibohongi dan ketika akal sehat tidak mampu menolak, itulah yang mereka rasakan. Bisa jadi, dia berkata seperti itu, tetapi apakah hati mereka benar-benar menolak anugerah ini?
Mereka berempat terdiam, hanya suara gesekan garpu dan sendok milik kedua maknae yang terdengar. Wonbin menutup matanya, mengingat semua kejadian yang telah terjadi. banyak sekali hal yang tidak sanggup ia cerna, sebegitu trauma-kah Jaejin dengan penyerangan itu hingga dia tidak mau bicara sama sekali. Padahal dua maknae saja sudah nampak normal dan pulih seperti biasanya.
"Hongki-ah, kau tahu kenapa Jaejin tidak sadarkan diri?"Wonbin bertanya sambil memijit pelipisnya.
"Mungkin seperti yang kita alami, bukankah dia kehilangan banyak cakra,"Hongki menyeringai, menemukan sedikit lubang yang ada pada diri pemuda itu, "Dan lagipula, aku tidak melihat Jaejin tidak sadarkan diri, aku sudah jatuh duluan."
"Apa kau tidak merasa aneh dengan sikapnya?"
"Kau sangat cerewet, ini yang namanya tidak khawatir. Dia hanya syok, tidak usah dibesar-besarkan begitu."Hongki menepuk bahu Wonbin, tersenyum kemudian bangkit menuju tepi ranjang dua maknae yang sedang menikmati makanan mereka.
"Aku hanya bertanya dan tidak membesar-besarkan masalah, lagipula aku sama sekali tidak khawatir."gerutunya.
"Ya, terus saja menyangkalnya Oh Wonbin."
"Kau sangat berisik Lee Hongki." Wonbin menutup telunganya.
"Kau jauh lebih berisik dariku Oh Wonbin."Hongki menjitak kepala Wonbin tidak mau kalah. Mereka saling menjitak hingga sebuah garpu melayang ke arah mereka berdua.
"Kalian jangan berisik, aku dan Minan butuh istirahat."
Dan detik itu pula dan untuk pertama kalinya, seorang Song Seunghyun sanggup membungkam mulut keduanya.
0000)(0000
Semuanya telah terjadi, membuka tabir yang tidak pernah tersentuh. Membuka kenyataan yang terlupakan dan mengubah persepsi mengenai dirinya sendiri. Ketika semua gambaran visual dalam mimpinya kembali terjadi, ingatan di masa lalu terekam menyadarkannya akan sosok yang tidak pernah ia temui seumur hidupnya.
Hanya bisa pasrah, meletakkan sayap-sayap yang hampir patah itu pada sebuah kenyataan yang harus ditelan. Apakah ini semua patut disyukuri atau menjadi ancaman terbesar bagi dirinya. Dirinya masih tidak percaya, terkungkung dalam dimensi berbentuk labirin yang tidak sanggup dia lewati. Apakah arti semua ini, mimpinya dan apa yang telah terjadi. Mimpi yang dari dulu memang sudah mengikuti dirinya, menuntut untuk menyelesaikan apa yang ada dalam gambaran maya itu. Dia cukup lelah dengan semua yang terjadi, namun dia juga harus mampu melihat segala hal yang sanggup dia genggam. Dia percaya, semua hal yang terjadi pasti ada sesuatu yang telah direncanakan, apakah rencana itu membuahkan hasil yang indah atau kebalikannya. Dan Jaejin harus bersiap untuk kemungkinan yang terjadi.
Pemuda berusia enambelas tahun itu bersandar pada tembok, Jonghun yang ada di sampingnya memberikan segelas teh hangat sebagai penenang. Dia menatap Jaejin lekat-lekat menanti setiap ucapan yang muncul dari pemuda itu. Lelah menunggu, Jonghun menyambar bahu sepupunya itu, menatapnya dan mencari jawaban pada pancaran matanya.
"Jaejin, jangan pernah mengatakan hal ini kepada siapapun, termasuk ayahku. Kumohon kali ini kau harus menurut padaku." Jonghun memberi penekanan terhadap apa yang diucapkannya.
"Jonghun-hyung, kenapa aku tidak boleh mengatakan pada paman?"
"Aku sudah berjanji pada bibi untuk melindungimu, janji yang harus dilaksanakan. Kau tidak usah tahu apa alasannya, tapi percayalah padaku, aku mohon padamu."Jonghun merebahkan tubuhnya, menutup kedua matanya dengan kedua tangan, "Dan satu hal yang aku ingin tanyakan padamu, bagaimana bisa kau mengeluarkan api sebesar itu?"
"Apa aku harus bercerita hyung?"
"Hn…."
Hanya desahan nafas yang keluar dari mulut Jaejin. Pemuda itu seperti sulit mengucapkan hal yang harus dia ucapkan, lidahnya kelu. Walaupun ragu, akhirnya pemuda itu mulai berbicara.
"Jonghun-hyung aku bermimpi lagi, sama seperti kejadian yang kita alami. Kembali mimpi-mimpi itu semakin jelas membuatku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Bahkan aku bermimpi ditemui oleh ayahku dan ayah menjelaskan semua yang terjadi, bagaimana aku mampu meniru semua kekuatan yang ada. Aku sempat tidak percaya, tadinya aku hanya menganggap bahwa aku hanya mampu membaca pikiran dan melihat masa depan seperti apa yang ibuku lakukan. Namun, setelah kejadian ini aku benar-benar tidak tahu sebenarnya apa yang tersembunyi dalam diriku?" Jaejin menerawang,membiarkan matanya menelusuri setiap sudut ruangan.
"Tenangkan dirimu, jangan jadikan itu semua menjadi beban Jaejin."
"Tapi mimpiku hyung, berkali-kali aku mengalami mimpi yang pasti akan menjadi nyata."
Jonghun yang mendengar hal itu hanya menghela nafas khawatir, jika ayahnya tahu mengenai kekuatan adiknya, apa yang akan beliau lakukan? Mengeksploitasinya? Membuatnya menjadi alat untuk mencapai apa yang diimpikannya? Tidak akan, Jonghun tidak akan membiarkan ini semua.
"Mimpi lagi Jaejin, sebenarnya apa arti semua dari mimpimu?" Jonghun memijit pelipisnya.
"Entahlah, semuanya berkaitan hyung. Takdir yang membelenggu hidupku, kematian ibuku, bayangan kematian ayah yang tidak pernah aku lihatpun sudah muncul ketika aku berumur tujuh tahun, mimpi bagaimana aku dapat belajar di dalam FnC. Bahkan mimpi satu tahun lalu, menolong pemuda yang sama sekali tidak aku kenal." Jaejin mengingat semua kejadian yang pernah dia alami, semuanya terbongkar, sosok lain seorang Lee Jaejin benar-benar terbuka, "Dan beberapa hari ini, aku bermimpi mengenai api yang mengelilingiku dan kejadian yang kita alami. Semuanya berkaitan hyung, dan akan menuntun jalanku untuk melangkah. Namun, aku belum tahu apa yang tersembunyi dalam semua mimpiku."
"Mungkin sesuatu yang berhubungan dengan masa depanmu atau apa yang akan kau alami."
"Ya, hyung. Aku berharap seperti itu. Namun aku tidak mengerti kaitan itu semua." Jaejin menggeleng pelan.
"Tenang saja, semua akan baik-baik saja."
"Aku berharap seperti itu."
"Satu hal yang harus kau ingat, jangan pernah mengatakan ini semua pada orang lain selain aku, terutama ayahku."Jonghun mengingatkan pemuda itu lagi.
Jaejin hanya menganggukkan kepala, memandang ke arah pemuda yang satu tahun lebih tua darinya. Dia pejamkan matanya mencoba sekedar melepas lelah yang dia rasakan.
"Tidurlah dan beristirahatlah, aku akan menemui ayah."
Jonghun menepuk kepala Jaejin kemudian meninggalkan Jaejin yang mulai memejamkan matanya. Mencoba menutupi kegelisahan yang dia rasakan, menenggelamkan perasaan itu jauh-jauh dari pikirannya.
Jaejin berharap semua akan baik-baik saja sesuai dengan apa yang diharapkan.
000)(000
"Kau tidak apa-apa Minhwan."Tuan Choi masih memeluk pemuda imut itu. Minan mengangguk menyembunyikan wajahnya pada punggung ayahnya.
Mereka menyalurkan perasaan antara sosok ayah dengan anaknya. Tuan Choi mengusap lembut punggung Minan, merasa sangat khawatir ketika berita penyerangan sampai ke telinganya. Dia sangat mengkhawatirkan Minan, mengkhawatirkan buah cintanya dengan wanita yang paling dia cintai. Dia tidak akan pernah membiarkan seorangpun menyentuh bahkan melukai pemuda itu.
"Kau tidak terluka-kan, aku sangat khawatir." Tuan Choi melepas pelukannya, memperhatikan pemuda itu dari atas hingga bawah. Minan tersenyum, mengangguk pelan.
"Tidak apa-apa, lihatlah bahkan aku masih memiliki pipi yang tetap seperti bakpao."
Tuan Choi mengusap lembut rambut Minan, tangan yang biasa digunakan untuk mengatur dan memerintah kini bersarang dikepala anaknya, lembut dan benar-benar menggambarkan perasaan seorang ayah kepada anaknya.
"Kau sangat mirip dengan ibumu, aku sangat menyayangimu Minan."
"Aku tahu, ayah bisakah anda memelukku satu kali lagi."
"Tentu saja."
Kembali pria itu memeluk minan, merasakan perasaan ingin melindunginya. Tangannya mengelus pelan punggungnya, membiarkan kondisi ini hingga beberapa menit. Dan suara decitan pintu membuat mereka melepaskan pelukannya, Tuan Choi merapikan kemeja putih yang dia pakai. Memandang ke arah pintu yang terbuka pelan. Minan menggigit bibir bawahnya ketika dia tahu siapa yang masuk ke dalam ruangan ayahnya, Choi Jonghun.
Pemuda berkekuatan api itu memandang penuh tanda tanya ke arah sosok yang dipanggil ayah baginya dan sosok yang sudah dianggap dongsaeng baginya. Dahinya berkerut melihat Minan berada di ruangan pribadi ayahnya dalam keadaan selarut ini.
"Bisakah kau mengetuk pintu sebelum masuk, Choi Jonghun." Tuan Choi menegur pemuda yang baru saja masuk ke ruangannya. Pelan, pemuda itu mendekat memandang lekat-lekat Minan yang berdiri tepat di samping ayahnya.
"Tuan Choi, saya permisi dulu. Terimakasih atas waktu yang anda berikan."
Minan menundukan badannya, dia berlalu sambil tersenyum pada hyung-nya. Hanya suara decitan pintu yang menandakan bahwa pemuda yang bisa mengendalikan cuaca itu telah pergi. Mereka berdua terdiam, hanya kecanggungan yang nampak dari keduanya.
"Ada perlu apa kau kemari Jonghun?" Tuan Choi membuka pembicaraan.
Sangat kaku, Jonghun menghela nafas bimbang. Apakah tidak boleh jika dia datang ke ruangannya, apakah ayahnya sedikitpun tidak merasa khawatir mengenai keadaannya. Seberapa pentingkah dirinya di mata lelaki itu. jonghun tersenyum getir, melangkah mendekati ayahnya yang kini meneguk minuman berwarna kemerahan beraroma cerry.
"Aku hanya ingin mangatakan, bisakah kita mengundur malam penyambutan kedatangan Academy lain. Aku berfikir mungkin besok bukan waktu yang tepat, penyerangan yang kami alami menggambarkan jika mungkin saja akan terjadi sesuatu." Jonghun memandang lekat-lekat ayahnya.
"Tidak bisa, karena rencana telah ditentukan. Dan kau bersiap-siaplah menyambut mereka. FnC tidak akan mengubah keputusannya." Lelaki itu memandang pemuda di depannya angkuh.
"Bisakah Jung Yonghwa yang menyambut mereka, aku lelah ayah." Jonghun memandang lekat-lekat mata ayahnya, mencari sedikit saja sosok ayah dalam dirinya.
"Aku mendidikmu untuk tidak menjadi seorang yang egois, kau adalah calon pemimpin. Jadi bersiap-siaplah menjadi seorang pemimpin." Tuan Choi meneguk kembali minumannya, kemudian menggoyangkan gelas Kristal yang nampak berwarna merah akibat cairan merah di dalamnya.
Jonghun terdiam, merasa lelah namun tidak sanggup untuk sekedar memanjakan tubuhnya dalam ketenangan batin yang dia inginkan. Berlalu, dan siapapun akan tahu jika pemuda itu selalu berpura-pura dalam mempertahankan image seorang pemimpin yang sempurna, pemimpin yang mewarisi semua kecerdasan ayahnya, kekuatan ayahnya bahkan arogansi dan dominasi. Namun, apakah pemuda yang baru berusia tujuhbelas tahun itu sanggup selamanya memakai topeng bernama kesempurnaan, dia merasa lelah bahkan untuk sekedar tersenyum saja dia harus tetap menggunakan topeng itu.
"Tapi, aku juga seorang remaja yang butuh sedikit kebebasan untuk bernafas." Akhirnya selama bertahun-tahun kata-kata itu keluar. Kata-kata yang selama ini hanya sanggup dia pendam, namun semakin hari memberontak untuk dikeluarkan.
Tuan Choi yang mendengar ucapan Jonghun hanya mengerutkan dahi menatap pemuda di depannya dengan tatapan tajam menusuk.
"Kau berbeda Jonghun, kau berbeda dengan remaja pada umumnya. Karena takdir yang engkau akan jalani merupakan takdir yang menakjubkan."
"Ayah tapi…."
"Kau berbeda Choi Jonghun."
"Tapi…."
"Itulah takdirmu sebagai pemimpin, mencapai semua yang kita impikan."Tuan Choi memotong ucapan pemuda itu, lagi.
Lagi-lagi tidak bisa menolaknya, menolak sama saja jatuh dalam ikatan yang lebih erat. Mana mungkin seorang Choi Jonghun mampu menolak ucapan dan kekuasaan ayahnya. Ok ….., Jonghun mau-mau saja jika harus menuruti apa yang diinginan ayahnya. Tapi, dia juga butuh sesuatu yang sanggup menyeimbangan semuanya, membuat dirinya merasa nyaman, dan sesuatu yang sanggup digunakan sebagai tempat bersandar ketika dirinya merasa lelah, dia butuh figure seorang ayah.
Seorang ayah yang memeluk lembut punggungnya dan menanyakan kabarnya. Seorang ayah yang mengatakan "Kau anak ayah, aku bangga padamu" bukan mengatakan "Kau harus membuat ayah bangga padamu", tidak ada penekanan kata harus dan harus.
Semuanya sulit, terus saja kau bermimpi Choi Jonghun.
Bahkan sekarang, ketika kau berdiri di depannya dalam keadaan lebam dan luka yang menghiasi tubuhmu kau tidak mendapatkan sedikit perhatian darinya, hanya sekedar menanyakan kabarpun tidak.
Jonghun mengangguk lemah, menghembuskan nafas lelah. Dia tidak mampu memandang mata ayahnya, memandang mata yang mengingatkan bahwa dirinya merupakan sosok yang berasal dari pria itu.
"Terimaksih tuan, saya undur diri."
Pemuda itu memberi penekanan pada kata tuan, dia membungkukan badan. Hanya suara langkah kaki yang membuktikan bahwa pemuda itu benar-benar telah pergi meninggalkannya. Tuan Choi menghela nafas, mencengkeram gelas putih hingga retak, cairan berwarna merah mengalir dikedua tangannya. Semakin kuat cengkeramannya membuat gelas rapuh itu pecah berkeping keping.
"Maafkan aku Choi Jonghun."
Dan setetes air mata turun membasahi pipi pria berumur empat puluh tahun itu.
0000)(000
Pemuda transparan, Song Seunghyun hanya berjalan mondar-mandir di aula tempat dimana Minan mengajaknya untuk bertemu. Berkali-kali dia melihat jam tangannya, pemuda itu telat. Merasa lelah dia duduk bersandar pada sisi lantai. Dia pejamkan matanya merasakan dinginnya ruangan akibat ac yang menyala. Dia tersenyum menampakkan gigi-giginya yang putih bersih.
Dia merebahkan tubuhnya pada lantai keramik berukiran bintang dengan beberapa corak abstrak. Merasa bosan, dia menghitung satu persatu bendera bergambar kelopak mawar yang tertera di pojokan aula. Mawar hitam, biru, hijau dan putih. Kenapa warna itu yang menjadi lambang asrama FnC, hitam obsesi dan arogansi, biru ketenangan, hijau konservasi dan putih suci.
Sudahlah terlalu rumit untuk dibahas.
Seunghyun menutup matanya, dia mendengar decitan dan suara langkah mendekat. Dan dia berani bertaruh jika pemuda itu itu merupakan pemuda yang ditunggu-tunggu.
"Choi Minan, aku sudah menunggumu. Langkah kakimu terlalu kecil hingga jam segini baru datang ya!" sindirnya.
"Mian, Seunghyun. Aku tadi mampir ke tempat ayahku."
Minan duduk di samping Seunghyun kemudian ikut merebahkan tubuhnya di samping pemuda itu.
"Kau tahu, Jonghun-hyung memergokiku ketika aku sedang bersama ayah."
"Mwo,"Seunghyun bangkit dari tidurnya, Minan ikut bangkit lagi.
"Iya, aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana ketika itu. Dia menatapku penuh tanda tanya, akhirnya aku pergi saja undur diri."
"Bagus Minan, memang seharusnya kau seperti itu."Seunghyun berbaring kembali, membuat Choi Minan kembali ikut merebahkan tubuhnya di lantai kerami, bercorak bintang abstrak.
"Tapi, bagaiman aku menjawab jika Jonghun-hyung bertanya padaku?"keringat dingin mulai turun dari pelipis Minan.
"Bagaimana ya?" Seunghyun kembali duduk.
"Seunghyun, aku capek. Bisakah kau tidak tidur dan bangun berkali-kali."Minan memukul kepala Seunghyun. Pemuda itu hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang sama sekali tidak gatal. Seunghyun, pemuda cerdik atau bisa dikatakan licik ini berfikir menyangga wajahnya dengan kedua tangannya. Beberapa menit berlalu hingga akhirnya pemuda cantik berlesung pipit ini mengembangkan senyumnya, sebuah ide cemerlang menyeruak masuk begitu saja dipikirannya. Tapi, bukankah dia memang pemuda cerdas dengan berbagai trik.
"Bilang saja, kalau Tuan Choi menyuruhmu untuk menjelaskan kejadian penyerangan yang kita alami."
"Jadi aku harus berbohong?"Minan memanyunkan bibirnya, membuat Song Seunghyun meneguk ludahnya berkali-kali.
"Ya, itu satu-satunya cara agar kau lepas dari pertanyaan Jonghun-hyung."
"Gomawo." Minan berinisiatif memeluk pemuda di disampingnya. Dan untuk pertama kalinya, semburat merah menjalar pada pemda transparan itu.
000)(000
Malam semakin larut, tidak ada lagi yang tersisa selain nyanyian alam. Hening, membiarkan ketentraman mengalahkan kebisingan. Membiarkan setiap sudut kegelisahan terkubur sementara dalam rengkuhan bawah sadar. Pijaran sang rembulan mengukuhkan setiap dominasi sang makhluk malam, meski dalam kepekatan dan meski dalam sedikit waktu yang tertulis semuanya cukup untuk melukiskan dan mengukir perasaan pemuda-pemuda itu.
Dalam setiap langkah yang dia pijakkan, dalam setiap nafas yang menyembulkan karbondioksida. Dia terus melangkah, mengeratkan jaket dan syal yang membungkus tubuh mungilnya. Dia tahu, jika tubuhnya menjerit untuk sekedar direbahkan dalam buaian selimut tebal. Namun, hatinya tidak bisa dikompromi, memaksanya untuk mengelilingi seisi FnC dan mencari ketenangan yang selama sore tadi belum bisa dia dapat. Dia merindukan pemuda itu, pemuda yang telah mengikatnya begitu dalam, membiarkan jatuh dalam tarikan sang cassanova.
Dia melewati sungai kecil yang nampak jernih meski diliputi kepekatan malam, menyusuri arus sungai hingga lelah. Dia tidak mampu melihat keindahan taman FnC yang tersamarkan oleh reremangan malam. Dalam setiap pijakan kaki mungilnya, tersimpan sedikit ketakutan yang melanda. Entahlah, setiap dia membuka mata. Ketakutan akan sebuah kenyataan akan semakin mendesaknya.
Dan dia hanya bisa berharap semoga hari esok akan tetap berjalan seperti biasanya.
Kini, ketika dia melangkah melewati pohon-pohon maple dan dan dibawah sapuan daun Ginko semuanya kembali tertulis. Dibawah Ginko yang menjulang tinggi, dia melihat seseorang menelungkupkan wajahnya ke kedua tangannya. Nafasnya tercekat, dia sangat tahu siapa dia? pemuda itulah yang meruntuhkan semua pertahanannya , meruntuhkan hidupnya begitu saja bagaikan seonggok boneka yang terikat pada sebuah benang. Tapi, kenapa pemuda itu disini. Di bawah langit malam dan buaian sang angin yang berkali-kali menusuknya, bahkan dia tidak memakai pakaian hangat untuk melindungi tubuhnya.
Pelan, Hongki mendekat. Dia berjongkok memandang pemuda yang sama sekali tidak menyadari kehadirannya.
"Choi Jonghun, apa yang kau lakukan?"
Suara Hongki membuat pemuda di depannya mendongakkan kepala. Hongki dapat melihat gurat kelelahan dari wajahnya. Bahkan matanya agak merah seperti menahan sesuatu yang sulit untuk dihadapi. Hongki merasa kekhawatiran yang sangat ketika dia melihatnya dalam keadaan seperti, jauh lebih khawatir ketika dia meracuni pemuda itu dengan pheromone-nya. Jonghun tersenyum lemah, membuat Hongki hanya bisa menggigit bibirnya.
"Kenapa kau ada disini?"Jonghun menggeser tubuhnya.
"Justru aku yang bertanya padamu, kenapa kau bisa ada di sini Choi Jonghun." Hongki merebahkan dirinya di samping Jonghun. Jonghun tersenyum, pelan dia menarik tangan Hongki agar lebih dekat dengannya.
"Aku hanya mencari udara, udara di dalam sangat pengap. Sesak sekali, bahkan untuk sekedar bernafas saja aku tidak mampu, terlalu lelah untuk menyesuaikan diri," Jonghun menerawang memandang ke atas menara tempat dimana ayahnya berada. Dalam setiap penekanan katanya, terdapat sesuatu yang tersembunyi, "Aku hanya mencari tempat untuk melepas lelah. Kau sendiri Hongki, Seharusnya kau merebahkan tubuhmu setelah kejadian tadi?"
"Seharusnya kau yang istirahat, bukankah kau sudah mengeluarkan banyak tenaga untuk melawan mereka. Lihatlah dirimu, kau terlihat sangat lelah." Hongki memandang wajah Jonghun, mengulurkan tangannya dan menghapus pelan keringat yang keluar dari pelipisnya, "Aku tahu kau sangat lelah, bukan lelah secara fisik. Jika kau ingin bercerita, ceritakan semuanya. Aku akan membantumu walaupun hanya dengan mendengarkan keluh kesahmu."
Jonghun hanya mampu memandang pemuda di depannya takjub, dia menyingkirkan tangan pemuda itu dari wajahnya.
"Hongki, bolehkah aku meminta sesuatu?"
"Ya, selama aku bisa melakukannya." Jawabnya.
"Aku lelah, bisakah aku berbaring di pangkuanmu."
"Mwo…..," wajahnya melotot, dia sama sekali tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Ayolah, sebentar saja. Kau tidak lihat berapa lelahnya aku."
"Aish, baiklah."
Hongki menyelonjorkan kakinya dengan warna merah yang menjalar menghiasi wajahnya, pipinya terangkat ke atas, dia benar-benar tidak tahu apakah yang dia lakukan. Perlahan, Jonghun merebahkan kepalanya di pangkuan pemuda itu. Pada akhirnya, Jonghun merasakan perasaan nyaman dalam keadaan ini, untuk pertama kalinya dalam dekapan pemuda yang dicintainya. Hongki tersenyum, memandang wajah pemuda dalam rengkuhannya itu.
"Aku lelah Hongki, sangat lelah. Jika seandainya sekarang ini aku bisa bernafas bebas aku ingin melalui semuanya seperti ini." Jonghun menutup matanya.
"Ada apa?" Hongki merasa khawatir.
"Bahkan dari dulu dia selalu seperti itu, menganggapku sebagai alat bukan sebagai seorang anak yang baru berumur tujuhbelas tahun. Dia terlalu arogan, dia tidak pernah ingin tahu keadaanku. Apakah semuanya memang pantas untukku."Jonghun meringkuk di pangkuan pemuda itu, "Bahkan sekarang aku sangat takut jika hal yang aku alami terjadi lagi pada orang yang berbeda, apakah kekuatan yang kami dapat merupakan kutukan. Bahkan aku sama sekali tidak meminta untuk mendapatkan ini semua, aku ingin pergi dari keadaan ini. Tapi tidak bisa, aku harus tetap disini menghadapi itu semua. "
"Aku akan tetap mendukungmu, jika kau lelah bersandarlah padaku."Hongki mengusap lembut rambut pemuda itu,
"Tetaplah di sisiku, karena hanya denganmu aku merasa menjadi diriku sendiri."Jonghun menatap lembut mata Hongki.
Mereka hanya saling menatap, merasakan perasaan masing-masing yang benar-benar telah meluluhlantahkan hati mereka. Saling menatap tanpa uraian kata-kata yang sanggup menggambarkan semuanya, hanya meleburkan apa yang selama ini mereka rasakan.
"Tidurlah Choi Jonghun,"
Hongki menutup mata pemuda itu menggunakan tangannya. Dia merasakan perasaan yang benar-benar tidak ia ketahui. Bahagia, pedih dan ketakutan bercampur menjadi satu. Bahagia jika pemuda yang telah merenggut hatinya bersandar padanya, menceritakan apa yang menjadi bebannya dan menunjukkan sisi lemah hanya pada dia. Tapi, dia takut ketika dia membuka matanya semuanya akan berakhir meninggalkan kenangan yang tidak lagi terbentuk, hanya memori dan rasa benci yang hadir menyelimuti pemuda yang tertidur di pangkuannya. Ya..dua hari lagi semuanya berakhir tepat pada malam penyambutan kedatangan 3 Academy ke FnC. Dan pada itu pula, Hongki akan mengatakan itu semua.
Dia menghembuskan nafas tersenyum lemah
Biarlah, biarlah sang waktu yang akan menjawabnya. Kini, dia hanya membiarkan dirinya menikmati keadaan ini. Dia memjamkan matanya, merasakan belain angin yang seolah-olah memberikan sebuah janji bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Malam…, mungkin ini adalah malam terakhir yang mengukuhkan perasaannya
Waktu…, biarlah dia yang menjawab pelbagai pertanyaan yang terus berputar
Dan biarlah hati yang menentukan takdir yang tepat untuk keduanya.
****tbc****
Akhirnya dapat menyelesaikan chapter gaje dan abal ini
Mian jika fic kali ini jauh dari yang diharapkan, author merasa fic yang author tulis ini sedikit membosankan. Author tidak mengharap review dari para pembaca untuk fic abal ini, namun jika para pembaca meninggalkan jejak anda dengan review. Author benar-benar merasa senang.
gomawo
