Fairy Tail © Hiro Mashima
You're Not Father by Minako-chan Namikaze
Pair: Natsu. D & Lucy. H
Warning: Cerita Masa SMA Lucy, di mana dia bisa jatuh cinta pada Natsu.
.
.
Chapter 8: Kenangan Masa Lalu bagian 2
.
Waktu berjalan sangat cepat bagaikan roda yang terus berputar. Lucy dan Natsu sekarang sudah menjadi murid kelas 2, dan mereka mendapatkan kelas yang sama, hanya saja sekarang mereka duduk berjauhan. Lucy duduk di barisan kedua nomor 4, sedangkan Natsu duduk di barisan kelima nomor 2. Jarak yang sangat jauh, namun bagi Lucy juga sedikit menguntungkan. Yah, dia jadi bisa terus-terusan memandang Natsu dari jauh sepuasnya. Hal yang tidak bisa dia lakukan di depan pemuda itu sejak pria itu mempublikasikan hubungannya di depan semua orang di kelasnya. Lucy merasa jaraknya dan Natsu agak merenggang semenjak Natsu berpacaran dengan Lisanna. Pemuda itu selalu menghabiskan jam makan siang bersama gadis pujaannya itu, dan hanya mempunyai waktu sedikit untuk mengobrol dengannya. Bahkan Natsu sudah jarang bertanya kepada Lucy soal pelajaran yang menyulitkannya, pemuda itu bilang Lisanna selalu mengajaknya belajar bersama di rumahnya.
Lucy menghela nafas, itu berarti mereka selalu bersama, baik di sekolah maupun di rumah. Lucy sudah menyerah akan perasaannya terhadap Natsu semenjak mereka naik ke kelas 2 dan duduk berjauhan seperti ini. Mereka sudah jarang mengobrol, dan hanya berbicara seperlunya ketika ada kesempatan. Seperti sebelum pelajaran di mulai, saat istirahat makan siang habis, dan saat jam pulang sekolah. Lucy merasa tidak akan bisa menggapai pria itu. Pria itu sudah berdiri sangat jauh darinya. Dia sudah tidak mempunyai kesempatan untuk berada di hati pria itu, walaupun hanya sedikit. Kemana perginya janji pria itu yang berseru di depan ayahnya kalau dia akan selalu bersama Lucy? Apakah dia sudah melupakannya? Semudah itukah dia melupakan janji yang menjadi salah satu alasan kenapa Lucy begitu menyukainya?
Lucy menghela nafas penuh sambil menopang pipinya dengan telapak tangan. Matanya terus terpaku pada sosok berambut pink yang duduk cukup jauh di depannya. Dia sama sekali tidak mempedulikan materi pelajaran dari Ultear-sensei. Dia sangat pintar di bahasa inggris, jadi tidak sulit baginya untuk mengerti pelajaran yang sangat di benci Natsu itu. Matanya terus memperharikan gerak-gerik pemuda pink itu. Dia menyerngit heran ketika menyadari kalau Natsu sejak tadi sangat gelisah. Sudah kesekian kalinya pemuda itu melirik jam dinding di depan kelas, dan juga sudah kesekian kalinya pemuda itu menempelkan kepalanya di permukaan meja kemudian mengangkatnya lagi. Lucy memicingkan matanya ketika melihat Natsu terus memegangi pelipisnya, dan juga pemuda itu berkeringat banyak sekali.
Aneh.
Lucy terus memperhatikan gerak-gerik Natsu yang mencurigakan.
"Baiklah, ini dia contoh soalnya. Natsu Dragneel, coba kerjakan soal ini!" suara Ultear-sensei segera mengejutkan Lucy dan Natsu.
Natsu tersentak dan segera berdiri. Pemuda itu berjalan dengan loyo ke arah Ultear-sensei. Lucy yang melihatnya pun mulai khawatir. Natsu mengambil kapur yang disodorkan Ultear-sensei lalu berjalan ke arah papan tulis. Namun, beberapa langkah lagi dia hampir sampai, tiba-tiba saja tubuhnya ambruk. Mendadak seisi kelas menjadi heboh, dan beberapa orang laki-laki langsung mengangkat tubuh Natsu dan menggotongnya ke UKS. Lucy juga ikut menggotong Natsu, bahkan dia nampak sangat jelas memapah tubuh Natsu yang penuh keringat. Dia benar-benar khawatir.
Sesampainya di UKS, dia segera membaringkan tubuh Natsu. Pria itu tampak terengah-engah, dan wajahnya memerah penuh keringat. Aries-sensei, sang dokter UKS segera memeriksa Natsu, dan menyimpulkan kalau Natsu demam tinggi. Dokter UKS itu tidak mengijinkan Natsu untuk mengikuti pelajaran hari ini, dan menyuruhnya untuk beristirahat di UKS sampai bel jam pulang sekolah berbunyi. Para murid laki-laki yang membantu menggotong tubuh Natsu tadi sudah kembali ke kelas untuk melaporkan keadaan Natsu. Sementara Lucy, tetap berada di UKS untuk menemani pria itu. Aries-sensei sedang keluar karena kepala sekolah tiba-tiba saja membutuhkan bantuannya, jadi Lucy menawarkan diri untuk menjaga Natsu.
Dan di sinilah dia, duduk di samping Natsu sambil terus mengelap keringat yang meluncur di sekitar wajah tampan pria yang dicintainya itu. Dia memasangkan sapu tangan yang sudah dia celupkan di air es ke kening Natsu. Dipandanginya wajah Natsu dengan pandangan penuh arti. Diusapnya kepala pria itu dengan lembut. Dia ingin menyentuh pria itu sebanyak dan selama mungkin. Dia ingin memonopoli pria itu sebentar saja. Hanya sampai jam pulang sekolah berakhir, dan dia akan kembali menjauh dari pria itu. Dia ingin bersama Natsu sebelum Lisanna datang dan memisahkan mereka.
Entah kenapa, Lucy sampai sekarang masih tidak bisa melupakan perasaannya terhadap Natsu. Nama pria itu seperti tidak mau lenyap dari hatinya, seperti sudah terukir dengan jelas dan tersimpan dengan sangat dalam di sanubarinya. Hingga dia sendiri tidak bisa menggapai ukiran nama pria itu karena tersimpan terlalu dalam di hatinya.
"Ngh..."
Natsu mengerang pelan sambil berusaha membuka matanya yang terasa berat. Dia bisa merasakan kehangatan tangan seseorang tengah membelai kepalanya dengan lembut. Dia merasa sangat nyaman. Dia mengedipkan matanya, berusaha memperjelas penglihatannya yang kabur. Dia menoleh ke samping, dan mendapati seorang gadis dengan warna rambut kuning. Cuma ada satu gadis berambut kuning dan berbau seperti vanila di kelasnya...
"Lu...cy?" gumam Natsu lemah. Dia menyipitkan matanya, berusaha memperjelas penglihatannya. Namun percuma. Dia terlalu pusing untuk mengatur matanya sendiri.
Gadis di depannya mengangguk pelan dan berkata dengan lembut, "Tidurlah. Kau butuh istirahat."
Natsu tersenyum lemah, dan mengangguk. Dia menutup matanya sambil terus menikmati sentuhan lembut di kepalanya. Diapun terlelap tanpa merasakan gelisah sedikitpun. Sentuhan Lucy telah memberikannya kenyamanan.
Lucy tersenyum melihat Natsu kini sudah bernafas dengan teratur, tidak terengah-engah seperti tadi. Dia senang Natsu sadar kalau dialah yang berada di sampingnya sekarang, bukan Lisanna. Dan dia akan terus berada di samping pemuda ini sampai pemuda ini membuka matanya kembali. Lucy terus mengelus kepala Natsu tanpa bosan, karena dia pikir Natsu menyukai sentuhannya. Dia juga tidak henti-hentinya mengelap keringat yang bermunculan di wajah Natsu beserta mengganti kompresnya. Dia bahagia bisa berduaan dengan pria itu lagi, tanpa ada seorangpun yang menengahi mereka.
"Natsu!"
Tapi, takdir rupanya berkehendak lain. Lucy segera menoleh ke belakang, dan benar saja dugaannya. Lisanna sedang berdiri di ambang pintu UKS sambil menatap Natsu yang tengah terbaring dengan khawatir. Lucy buru-buru menjauhkan tangannya dari puncak kepala Natsu, dan tersenyum-kecut-kearah Lisanna.
"Oh, Lisanna. Kau sudah datang rupanya." ucap Lucy menatap Lisanna dengan tatapan yang sulit diartikan. Tentu saja, seharusnya dia tidak terlalu berharap lebih untuk berduaan dengan Natsu sampai pulang sekolah. Natsu mempunyai pacar, dan sudah pasti pacarnyalah yang akan menemaninya sampai pulang sekolah, atau mungkin seharian?
"Tadi aku datang ke kelas 2B untuk mengajak Natsu makan siang. Tapi, teman-temannya bilang kalau Natsu tiba-tiba pingsan dan sekarang sedang istirahat di UKS. Aku benar-benar cemas. In i pasti gara-gara dia latihan bermain bola kemarin sambil hujan-hujanan, dan tidak mandi air hangat sesudahnya. Dasar ceroboh!" Lisanna berjalan menghampiri Natsu dan memegang tangan pemuda itu.
Menyadari posisinya di sini hanya sebagai pengganggu, Lucy segera bangkit dari duduknya dan mempersilahkan Lisanna duduk di situ.
"Kalau begitu, biar aku saja yang menggantikan menjaga Natsu. Lucy kembali saja ke kelas, jangan sampai ketinggalan pelajaran hanya gara-gara mencemaskan pria bodoh ini." ucap Lisanna setengah bercanda.
Lucy tersenyum sedikit lalu mengangguk pelan. Dia membalikkan badannya dan keluar dari UKS dengan perasaan tidak rela. Dan, gagallah rencanaya untuk memonopoli Natsu sampai jam pulang sekolah.
XXX
"Ng..."
Natsu membuka matanya yang masih terasa berat. Dia menatap ke sekelilingnya. Syukurlah pandangannya sudah tidak kabur seperti tadi. Dia segera menoleh ke samping untuk menatap wajah Lucy, namun dia segera mengerutkan dahi karena bukan gadis berambut pirang yang duduk di sisinya, melainkan gadis berambut silver pendek yang tengah menatapnya dengan berbinar-binar.
"Natsu?! Kau sudah bangun! Bagaimana perasaanmu? Kau sudah baikan?" tanya Lisanna senang.
"Iya, terasa lebih baik. Lis, apa tadi Lucy yang menungguiku di sini?" tanya Natsu.
Lisanna mengerutkan dahinya, merasa sedikit tidak suka karena hal yang pertama kali di tanyakan Natsu adalah Lucy.
"Memangnya kenapa?" tanya Lisanna balik.
"Cuma ingin tahu. Tadi aku merasakan sentuhan yang sangat lembut di kepalaku, dan samar-samar aku melihat Lucy duduk di sisiku." jawab Natsu.
Lisanna mengerucutkan bibirnya tanda tidak suka. "Tidak. Dia sama sekali tidak di sini." jawab Lisanna.
"So ka." entah kenapa Natsu merasa sedikit kecewa mendengar jawaban Lisanna. Dia tadi benar-benar berharap kalau Lucylah yang mengelus kepalanya, sudah lama dia tidak merasakan sentuhan dari gadis itu. Tapi, ternyata dia salah lihat. Mungkin gara-gara sering kepikiran Lucy, matanya tiba-tiba melukiskan fatamorgana di saat dia sedang sekarat tadi.
Natsu menghela nafas gusar, sehingga Lisanna memandangnya heran. Gadis itu segera mengulurkan tangannya untuk mengusap kepala Natsu.
"Tidurlah, kau butuh istirahat." ucapnya.
Natsu mendongak menatap Lisanna dengan terbelalak. Itu kata-kata yang pernah diucapkan Lucy dalam ilusinya. Tapi, kenapa ilusi itu begitu nyata? Apa Lisanna yang mengusap kepalanya sebelumnya dan mengucapkan kata-kata itu sebelumnya kepadanya? Tapi, kenapa sentuhannya terasa begitu berbeda?
XXX
Drrrttt... Drrrtt... Natsu meraih ponselnya yang bergetar di samping tempat tidurnya. Dia segera sempat menggerutu pelan karena beraninya orang yang meng-SMS-nya mengirimkan pesan di saat dia hampir saja terlelap. Dia membaca nama pengirim pesan, dan dia langsung membuka matanya lebar-lebar mendapati nama Lucy tertera di sana.
Lucy? Ini pertama kalinya dia mengirimiku pesan semenjak kenaikan kelas kemarin, batinnya heran. Dia segera membuka SMS dari sahabat sebangkunya dulu.
From: Luce
Natsu, bagaimana keadaanmu? Sudah baikan?
Natsu tidak bisa menahan bibirnya untuk tidak tertarik ke atas. Rupanya gadis itu mengkhawatirkan keadaannya. Natsu tidak tahu, kenapa dia bisa sesenang ini.
To: Luce
Tidak apa-apa. Aku sudah merasa baikan sekarang. Tadi, ada orang aneh berjubah putih yang memaksaku meminum racun yang super pahit. Jadi badanku terasa lebih baik, walaupun masih suka mual-mual sendiri ketika mengingat orang berjubah itu memasukan racun ke dalam mulutku.
Send.
Tidak menunggu beberapa lama, Natsu segera mendapatkan balasan.
From: Luce
Natsu, kau tidak bisa menyebut dokter dengan sebutan orang aneh berjubah putih. Dan kau juga tidak bisa menyebut obat sebagai racun
Natsu langsung tertawa membaca balasan SMS Lucy. Tangannya dengan lincah mengetik balasan untuk gadis itu.
To: Luce
Haha! Iya, iya! Ngomong-ngomong terima kasih sudah mengkhawatirkanku! Aku merasa tersanjung.
Send.
You get a new message!
Open!
From: Luce
Siapa yang mengkhawatirkanmu?! Dibanding aku, pacarmu itu yang lebih mengkhawatirkan keadaanmu! Dia bahkan mengutuki kebodohanmu selama di UKS gara-gara kau main bola sambil hujan-hujanan dan tidak mandi air panas setelahnya. Dia benar-benar kesal padamu siang tadi.
Natsu menyerngitkan alisnya? Kenapa Lucy bilang Lisanna terus mengatainya bodoh di UKS? Itu berarti gadis itu juga berada di UKS kan bersama Lisanna? Lalu kenapa Lisanna berbohong padanya?
To: Luce
Luce, apa kau tadi juga berada di UKS bersama Lisanna?
Send!
You get a new message!
Open!
From: Luce
Ya. Aku terus berada di sana menungguimu sampai jam istirahat. Memang Lisanna tidak cerita padamu?
Natsu menyerngitkan alisnya tanda tidak suka. Ternyata benar Lisanna berbohong kepadanya, tapi kenapa gadis itu melakukannya?
To: Luce
Tidak. Tapi, itu mungkin gara-gara aku tidak bertanya kepadanya. Haha
Send!
Natsu tersenyum-senyum sendiri mengetahui kalau memang Lucy yang berada di sisinya dan mengelus kepalanya waktu itu. Entah kenapa dia merasa lega. Dia menunggu balasan SMS Lucy dengan tidak sabaran. Sesaat, dia merasakan pusingnya sudah tidak terasa lagi, bahkan dia merasa sudah sembuh total. Kini dia melentangkan tangan dan kakinya dengan seenaknya di tempat tidur. Masih tetap menunggu SMS Lucy yang entah kenapa lama sekali sampainya. Biasanya gadis itu sangat cepat bagaikan kilat saat membalas SMS-nya.
You get a new message.
Ini dia!
Natsu segera menekan tombol tengah untuk membuka pesan itu.
From: Luce
Anu... Natsu. Mau tidak, saat istirahat makan siang besok kita makan sama-sama di halaman belakang sekolah?
Natsu sempat menyerngitkan alisnya, namun dengan cepat dia membalas,
To: Luce Tentu saja, kena...
Belum sempat Natsu menyelesaikan ketikkannya, layar ponselnya tiba-tiba berganti menjadi gambar seorang gadis berambut silver pendek yang tengah tersenyum manis. Natsu segera mengangkat telpon dari Lisanna itu.
"Halo? Ada apa, Lis?" tanya Natsu to the point.
"Natsu! Bagaimana keadaanmu? Kau sudah meminum obatmu untuk malam ini 'kan?" tanya Lisanna dari seberang sana.
"Sudah. Tenang saja, aku pasti akan meminumnya meski dengan terpaksa sih." jawab Natsu.
"Dasar. Awas kalau sampai lupa minum obat!" ancam Lisanna.
Natsu sedikit meringis mendengarnya. "Iya, iya! Kalau begitu, sudah ya—"
"Tunggu dulu! Aku mau curhat sesuatu padamu. Kau sudah janji 'kan untuk selalu mendengarkan curhatku?"
"Tentu saja. Nah, curhatlah sekarang." jawab Natsu. Dia menghela nafas pelan sambil menatap jam dinging. Pukul 9 malam. Lisanna biasanya akan curhat selama 1 jam, dan itu akan memakan waktu yang sangat lama. Dan dia sama sekali belum membalas SMS Lucy!
"Tunggulah sebentar, Luce!"
Sementara itu, Lucy tengah berbaring telungkup di atas tempat tidurnya. Tangan kanannya terus menggenggam erat ponsel pinknya. Sesekali dia menekan sembarang tombol untuk memastikan apakah pesan masuk atau tidak. Tapi, tidak ada satupun pesan yang masuk. Lucy mulai resah. Apa Natsu berniat menolak ajakannya karena sudah berjanji duluan dengan Lisanna? Jadi pemuda itu tidak tega menolaknya mentah-mentah dan membiarkan saja ajakannya tadi tanpa menjawabnya?
Tidak mungkin. Natsu tidak akan begitu. Lucy terus meyakinkan dirinya dan terus menjauhi pikiran-pikiran negatif yang terus bermunculan di otaknya itu. Lama dia menunggu, tapi Natsu belum juga membalas SMS-nya. Lucy berusaha untuk tetap terjaga dengan terus mengucek matanya. Dia tidak akan tidur dulu sebelum mendapat balasan dari Natsu.
XXX
"Hah..." Natsu menghela nafas setelah akhirnya pembicaraannya dengan Lisanna di telpon bisa terputus juga. Dia kembali melihat jam dinding, dan terbelalak dengan seketika mendapati sudah pukul 11 malam.
Ya ampun! Padahal tadi dia mengira baru setengah jam! Lisanna benar memecahkan rekor dalam curhat selama 2 jam non stop. Natsu segera melanjutkan isi ketikannya untuk SMS Lucy, dan baru saja dia ingin mengklik Send, tiba-tiba layar ponselnya menampilkan kotak pemberitahuan kalau baterainya habis dan dengan itu, ponsel Natsu mati dengan seketika di detik itu juga. Dia mengerang kesal, hendak membanting benda kecil itu ke lantai. Namun, langsung diurungkannya. Dia bangkit dan hendak men-charge ponselnya. Tapi, baru saja dia ingin mencolokkan kabel USB di ponselnya, tiba-tiba saja kamarnya menjadi gelap gulita. Natsu segera berjalan menuju saklar lampu, dan menghidupkannya. Namun, lampunya tidak mau hidup berapa kalipun dia menekan-nekan tombol saklar. Dan, dia baru menyadari kalau rumahnya mengalami mati lampu! Dan di detik itu juga dia berteriak frustasi.
"ARGH! BRENGSEK! TERKUTUKLAH SIAPAPUN YANG MEMATIKAN LISTRIK DI RUMAH INI!"
Sementara itu, Lucy sudah terlelap sambil tangannya masih terus menggenggam ponselnya dengan erat. Dia bahkan tidak menyadari kalau AC di kamarnya mati karena mati lampu.
Dan besoknya, Natsu minta maaf dan menjelaskan semuanya pada Lucy. Lucy hanya tertawa maklum dan memaafkan Natsu. Dan Natsu kembali berakhir diseret Lisanna ke atap untuk makan bersama. Padahal hari itu, Natsu sangat ingin makan siang bersama Lucy. Tapi mau bagaimana lagi? Lisanna 'kan pacarnya, sementara Lucy cuma sahabatnya. Dia harus mementingkan orang yang disukainya dulu, begitulah menurut prinsip Natsu.
XXX
Waktu terus berputar, sehingga tidak terasa Lucy dan Natsu sudah menduduki bangku kelas 3 SMA. Dan tahun ini mereka mendapat tempat duduk bersebelahan lagi, suatu keberuntungan bagi Lucy, dan suatu kesenangan bagi Natsu. Hubungan mereka kini sudah mulai membaik. Mereka menjadi akrab seperti dulu. Bahkan tidak jarang Natsu sering menjahili Lucy seperti apa yang sering dia lakukan waktu kelas 1 SMA.
Tapi, pagi ini pria itu tidak bisa melakukan hobinya tersebut, dikarenakan pagi ini dia harus berjuang menghadapi serentetan pertanyaan dengan kalimat panjang nan lebar yang sama tidak dia mengerti.
"Psst! Luce, jawaban nomor 3 itu gimana cara penulisannya? Jenis teksnya itu ditulis 'Repot' atau 'Raport'?" bisik Natsu kepada Lucy yang tengah serius mengerjakan soal bahasa inggris di sampingnya.
Lucy menoleh ke arah Natsu. "Tidak keduanya. Yang benar itu 'Report'. R-E-P-O-R-T." eja Lucy pelan.
Natsu dengan cepat mencatat jawaban Lucy. "Terima kasih, Luce!" bisiknya.
Lucy mengangguk lalu kembali fokus pada soalnya. Namun tiba-tiba dari belakang, ada sesuatu yang mencolek bahunya. Lucy segera menoleh ke belakang, dan mendapati Gray Fullbuster tengah menatapnya dengan raut wajah frustasi.
"Lucy, jawaban nomor 2 itu bagaimana cara jawabnya?" bisik Gray.
"Kau hanya perlu merubahnya menjadi kalimat active dan passive." jawab Lucy pelan.
"Cara merubahnya bagaimana?" tanya Gray lagi.
Lucy menghela nafas, akan lama kalau dia menjelaskan caranya kepada orang seperti Gray. Jadi dia mengangkat sedikit lembar jawabannya menghadap Gray.
"Nih." bisiknya.
Gray dengan cekatan segera menyalin jawaban dari Lucy.
"Terima kasih, Lucy. Lalu bagaimana dengan soal nomor 3?" tanya Gray lagi.
"Jawabannya report."
"Nomor 4?"
"Arguing-To Take."
"Nomor 5?"
"Oi, Stripper! Kau mau nanya atau memborong jawaban, sih?!" desis Natsu, menatap Gray dengan sinis.
"Mau bagaimana lagi?! Aku kan sangat tidak bisa bahasa inggris!" protes Gray.
"Su-sudah... Kau tenanglah Natsu." bisik Lucy menenangkan. Sesekali mata karamelnya melirik ke arah guru bahasa inggris yang tengah duduk di meja guru sambil membaca buku dengan cukup serius. Dia menghela nafas. Masih berusaha melerai perdebatan di antara Natsu dan Gray.
"A-ano... Gray-sama. J-Juvia sudah selesai mengerjakan semua soal. Kalau Gray-sama mau, Juvia akan dengan s-senang hati memperlihatkan semua jawabannya pada Gray-sama." seorang gadis cantik berambut biru panjang di samping Gray bersuara dengan pelan, namun masih dapat membuat 2 pemuda dengan warna rambut berbeda itu dengan sukses menoleh ke arahnya.
"Wah! Benarkah itu, Juvia?" tanya Gray girang luar biasa.
Juvia mengangguk pelan dan segera menyodorkan lembar jawabannya kepada Gray. Gray menerimanya dengan perasaan yang berbunga-bunga dan dengan gesit menyalin pekerjaan Juvia.
Sementara Natsu hanya berdecih pelan lalu kembali fokus pada lembar ujiannya. Dia menyerngit frustasi karena pengetahuan bahasa inggrisnya yang sangat minim.
"Natsu, kalau kau mau, aku tidak keberatan memperlihatkan jawabanku padamu." bisik Lucy sambil menyodorkan lembar jawabannya.
"Ti-tidak usah, Luce. Aku bisa mengerjakan semuanya sendiri kok!" Natsu melemparkan cengiran ragu-ragunya.
"Kau yakin?" Lucy menatap Natsu ragu.
Natsu mengangguk dan kembali fokus pada soal-soal rumit di hadapannya. Sementara Lucy, hanya memperhatikan wajah Natsu sambil menopang pipinya. Dia tersenyum geli ketika melihat wajah Natsu yang berkeringat dingin dan sesekali pemuda itu mencambak rambutnya karena frustasi.
"Lima menit lagi." semua murid mendongak menatap guru bahasa inggris mereka memberikan pemberitahuan kalau sisa waktu mereka tinggal 5 menit lagi. Dan dalam sekejab, kelas menjadi gaduh karena sebagian dari lembar jawaban mereka masih belum terisi penuh. Tak terkecuali dengan Natsu.
"Argh! Sial!" desisnya, hampir meremas kertas jawabannya.
"Natsu, kau yakin benar-benar tidak mau menyalin jawabanku? Waktunya sudah mepet, lho!" Lucy kembali menawarkan kertas jawabannya.
Natsu menoleh ke arah Lucy dengan frustasi. "Argh! Baiklah! Tidak ada pilihan lain." dan dia pun langsung menyambar kertas jawaban yang disodorkan Lucy dan menyalinnya dengan kecepatan super tinggi.
"Haha, makanya Flame-head. Kalau kau mau nyontek, harusnya dari tadi. Padahal Lucy tadi sudah menawarkanmu. Tapi kau dari dasarnya memang bodoh, ya jadinya seperti ini." ejek Gray. Dia sekarang sudah tentram. Sejahtera dan damai karena dia sudah selesai menyalin jawaban dari Juvia. Dia merasa menang dari Natsu, entah menang dalam rangka apa. Mungkin dalam rangka menyalin jawaban dengan cepat tanpa pikir panjang? Mungkin saja.
"Waktu habis. Dalam hitungan ketiga, semua lembar jawaban harus sudah berpindah ke meja ini!" suara guru bahasa inggris menggelegar.
Para murid makin kelabakan, ditambah lagi guru itu sudah mulai menghitung.
"Selesai!" Natsu segera berdiri dari duduknya dan berlari kecil ke arah meja guru dan mengumpulkan ujiannya beserta punya Lucy di sana. Lalu dia berjalan ke arah Lucy dengan cengiran super lebar.
"Terima kasih, Luce! Kau sudah menyelamatkan hidupku!" seru Natsu.
Lucy hanya mengangguk, dia bahagia karena Natsu mengucapkan terima kasih dan tersenyum selebar itu padanya. Dan mereka pun ber-tos sambil bersorak bersamaan.
XXX
Pagi ini, tidak seperti biasanya murid-murid laki-laki terlihat begitu bersemangat menjalani hari di sekolah. Mereka tampak begitu berseri-seri ketika membuka loker mereka ataupun saat melihat sekotak kecil coklat di atas meja mereka. Yup, hari ini adalah hari Valentine. Hari yang menyenangkan bagi para murid laki-laki karena mereka bisa mendapatkan coklat dari seorang gadis, baik pacar maupun 'penggemar' mereka. Dan juga, merupakan hari yang cukup mendebarkan bagi para murid perempuan, karena perasaan gugup saat ingin memberikan coklat yang sudah mereka buat kepada laki-laki yang mereka sukai atau kagumi.
Semua murid tampak sangat bersemangat menyambut pagi ini, tak terkecuali Natsu Dragneel yang tengah bersenandung riang sambil memunguti beberapa coklat yang berjatuhan di lantai saat dia membuka loker tadi. Dia tertawa pelan saat membaca tulisan yang tertera di setiap coklat itu, kebayakan adalah coklat penggemar. Yah, sebenarnya Natsu ikut klub sepak bola di sekolahnya, dan sudah banyak memenangkan pertandingan antar sekolah. Tapi, semenjak naik kelas 3, Natsu memutuskan untuk keluar dari klub itu karena dia harus lebih memfokuskan perhatiannya pada pelajaran. Namun, tetap saja meskipun dia sudah lama berhenti dari klub itu, saat hari Valentine, lokernya selalu penuh akan coklat-coklat penggemar.
Masih tetap bersenandung bahagia, Natsu memasukkan beberapa coklat yang menarik perhatiannya ke dalam tas untuk dia konsumsi nanti di kelas, dan sisanya dia masukkan kembali ke loker. Dan dia pun berjalan menuju kelasnya sambil tersenyum sombong. Di perjalanan menuju kelasnya, Natsu bertemu dengan Lisanna yang ingin memberikan coklatnya pada Natsu. Dan Natsu menerimanya dengan senang hati. Setelah mengusap kepala Lisanna beberapa kali, Natsu pun melanjutkan perjalanan menuju kelasnya.
SREK!
"Ah, Natsu! Ohayou!" sapa Lucy, tersenyum ramah ke arah Natsu.
Natsu balas tersenyum. "Yo! Ohayou, Luce!"
"Bagaimana keadaan lokermu hari ini? Penuh seperti biasanya?" tanya Lucy sambil menopang pipinya.
Natsu hanya meringis mendengarnya. "Ya, seperti biasa. Bahkan lebih parah. Kau tahu, saat aku membuka lokerku, coklat-coklat itu langsung jatuh menghujani wajahku. Untung wajah tampanku ini tidak lecet." jawab Natsu tersenyum lebar sambil mendudukkan dirinya di samping Lucy.
Lucy hanya tertawa pelan mendengar candaan Natsu. Natsu membuka bungkus kertas berwarna silver yang membungkusi coklat Lisanna, dan memakannya dengan lahap.
"Itu dari Lisanna, ya?" tanya Lucy menunjuk coklat Natsu.
Natsu menoleh dan mengangguk.
"Oh." respon Lucy.
Keduanya langsung diam. Natsu yang tengah sibuk mengunyah coklatnya sama sekali tidak berniat untuk berbicara. Sementara Lucy, tengah sibuk bergumul dengan pikirannya. Entah kenapa dia terlihat gelisah.
Bunyi bel menandakan jam pelajaran pertama sudah dimulai. Dan beberapa lama setelah itu, Zeref datang memasuki kelas. Natsu buru-buru menghabiskan coklat buatan Lisanna. Dan pelajaran yang membosankan pun dimulai. Istirahatnya, Natsu kembali dihujani dengan pemberian coklat dari teman-teman sekelasnya. Kali ini coklat yang didapatkannya adalah coklat pertemanan. Natsu tentunya senang dengan hal ini. Tapi, entah kenapa ada sebuah perasaan yang mengganjil dalam dirinya. Entah apa itu.
Natsu menoleh ke samping tempat duduknya, demi memperhatikan seorang gadis berambut pirang tengah serius dengan soal tengah semester yang sedang dijawabnya. Natsu merengut kesal tanpa alasan yang jelas, dan kembali menekuni soal di hadapannya. Namun, 5 menit setelah itu dia kembali menoleh ke arah Lucy. Dan kembali mengalihkan perhatiannya pada soalnya. Dan begitu pun seterusnya. Entah kenapa, selama pelajaran terakhir ini dia terlihat tidak tenang dan gelisah, seperti ada sesuatu yang mengganggunya... Atau mungkin ditunggunya?
Dia kembali menoleh ke arah Lucy, mengharapkan sesuatu dari gadis itu. Namun, yang dia lihat, gadis itu hanya duduk tenang seperti biasanya sambil tetap serius mengerjakan soal. Natsu kembali menghela nafas. Apa yang dia harapkan?
Teng! Teng! Teng!
Akhirnya, suara dentingan bel yang membawa kebahagiaan bagi sebagian besar murid itu berbunyi juga. Semua murid dengan sigap segera membereskan buku dan alat-alat tulis mereka, dan segera keluar kelas. Begitu pun dengan Natsu, pria itu sudah siap melangkah ke arah pintu, namun tiba-tiba sebuah tangan menarik ujung bajunya.
Dia menoleh ke belakang, dan mendapati Lucy tengah menundukkan kepalanya, namun Natsu dapat melihat dengan jelas sedikit rona merah di pipi Lucy. Natsu langsung terdiam, memikirkan apa yang baru saja terjadi. Mereka tetap dalam posisi seperti itu, dengan Lucy yang masih memegangi lengan baju Natsu dengan erat. Kelas pun menjadi sepi karena semua murid sudah keluar, menyisakan Natsu dan Lucy berdua saja di dalam. Lucy melepaskan pegangannya pada lengan baju Natsu dan mulai membuka suara.
"Natsu. Aku... Sebenarnya aku..." Lucy memalingkan wajahnya yang terasa memanas, dan mengeluarkan sebuah kotak persegi panjang berwarna biru yang sedari tadi dia sembunyikan di belakang punggungnya.
"Ini. Coklat untukmu." Lucy menyodorkan coklat itu kepada Natsu.
Natsu sempat terkejut mendengarnya, namun dengan perlahan dia menerima coklat itu dari tangan Lucy.
"Apa jenis coklat ini? Coklat penggemar? Atau coklat pertemanan?" tanya Natsu setengah bercanda.
Lucy tertawa kecil mendengarnya. "Coklat pertemanan. Tapi... Kurasa itu lebih dari sekedar coklat pertemanan." bisik Lucy, namun karena keadaan kelas yang sunyi, Natsu jadi bisa mendengar bisikan itu dengan jelas.
"Eh?" respon Natsu. Tidak menyangka Lucy akan menjawab seperti itu, ditambah lagi dengan ekspresi gadis itu yang terlihat canggung dan pipinya yang memerah benar-benar membuat Natsu tersadar kalau gadis di depannya ini sangatlah imut!
"Ah! Lupakan! Yang tadi itu cuma bercanda kok! Tentu saja itu cuma coklat pertemanan biasa. Mana mungkin lebih dari itu." seru Lucy, mencoba menjelaskan kepada Natsu. Namun, tampaknya pria di depannya sama sekali tidak mendengar ucapannya. Terlihat jelas dari raut wajahnya yang tidak berubah saat Lucy mengatakan kalau coklatnya lebih sekedar dari coklat pertemanan.
Natsu masih terdiam, otaknya masih dalam proses mencerna kata-kata Lucy sebelumnya.
"Lebih dari sekedar coklat pertemanan" yang berarti "Coklat pernyataan cinta" Tanpa sadar, Natsu tiba-tiba mencengkram bahu Lucy, membuat gadis pirang itu tersentak kaget. Kekagetan Lucy bertambah ketika dia mendapati Natsu tengah mendekatkan wajahnya ke wajah Lucy. Lucy ingin berteriak untuk menyadarkan kalau-kalau pemuda di depannya ini tengah kesurupan sesuatu. Namun, tatapan tajam dari mata Onyx di depannya, seakan-akan menghipnotis Lucy sehingga dia tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun, ataupun menggerakkan anggota tubuhnya. Teriakkan yang sejak tadi sudah berada di ujung tenggorokkannya pun kembali tertelan.
Lucy Heartfilia hanya diam mematung di tempat. Memandang dengan tidak percaya wajah Natsu yang kini semakin dekat dengan wajahnya. Bibir laki-laki itu terbuka sedikit sebelum dia memiringkan wajahnya dan menempelkan bibirnya di bibir Lucy. Mata karamel Lucy terbelalak saat itu juga. Otaknya seakan berhenti bekerja, sehingga dia sama sekali tidak bereaksi saat itu. Dia bahkan sampai menahan nafasnya. Dia tidak tahu harus melakukan apa saat itu karena otaknya seakan tidak mau lagi beroprasi. Dia hanya memejamkan matanya mengikuti instingnya. Cengkraman Natsu di bahu Lucy mulai melembut. Waktu berhenti saat itu juga.
Namun... 3 detik setelah itu, Natsu tiba-tiba mendorong Lucy menjauh darinya dengan mata terbelalak. Wajahnya tampak syok dan tidak percaya.
"Aku... Apa yang sudah kulakukan?!" desisnya. Dia menatap Lucy yang masih terdiam dengan panik.
"Luce, aku... Ma-maafkan aku, Luce! Aku tidak bermaksud menciummu tadi, aku hanya... Aku hanya... Argh! Aku sendiri tidak tahu kenapa aku tiba-tiba melakukan itu! Tubuhku bergerak dengan sendirinya. A-apa aku sudah gila?!" Natsu mengacak-acak rambutnya dengan
frustasi.
Lucy yang dari tadi terdiam, segera sadar dari syoknya. Dia menatap Natsu dengan linglung. "A-aku mau pulang dulu! Yajima-san sudah menungguku!" dan dengan muka yang super merah, Lucy meninggalkan Natsu yang tengah berdiri mematung di kelas sendirian.
Wajah pemuda itu tidak kalah jauh berbeda dengan Lucy. Syok, tidak percaya... Dan kebingungan. Dia menyentuh bibirnya yang terasa hangat.
"Itu ciuman pertamaku." gumamnya.
Memang benar itu adalah ciuman pertamanya. Dia sama sekali belum pernah melakukan itu dengan Lisanna. Dia sengaja menunggu waktu yang tepat untuk mencium gadis itu, dan rencananya dia akan melakukan itu pulang sekolah ini. Tapi, entah kenapa tubuhnya tiba-tiba mengacaukan segalanya. Tubuhnya malah bereaksi ketika otaknya memikirkan maksud dari kata-kata Lucy. Dan tanpa sadar, tau-tau dia sudah menempelkan bibirnya pada gadis itu.
Tapi, yang Natsu bingungkan adalah kenapa dia merasa tidak keberatan? Dan yang lebih penting, perasaan apa ini? Begitu bergejolak dan menyenangkan. Apa yang sudah terjadi padanya?
Tiba-tiba pintu kelas terbuka. Dan terlihat Lisanna sedang berkacak pinggang di sana.
"Natsu! Dari tadi aku menunggumu di depan kelas tapi kau tidak datang-datang. Kupikir kau sudah pulang, tapi aku tidak yakin. Jadi, aku memutuskan untuk mengecek ke kelasmu. Uh? Kenapa wajahmu memerah begitu?
XXX
"Lucu Ojou-sama, kenapa dari tadi anda terus memegangi bibir anda? Dan kenapa wajah anda terlihat sangat merah? Apa anda sakit?" tanya Yajima menatap Lucy melalui kaca tengah mobil.
Lucy tersentak dari pikirannya, dan menggeleng tanda dia baik-baik saja tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Yajima yang tampaknya mengerti kalau nonanya sedang tidak ingin diganggu pun memilih diam dan kembali fokus pada jalanan di depannya.
Sementara itu, Lucy masih tidak bisa melepaskan telunjuk dan jari tengahnya dari bibirya. Sensasi hangat dari bibir pria yang dicintainya itu masih sangat terasa di bibirnya. Dia benar-benar tidak percaya ini. Dia dan Natsu baru saja berciuman! Saling menempelkan bibir mereka masing-masing dan terhanyut dalam kesunyian. Lucy tidak tahu apakah dia sedang di dalam mimpi atau realita. Yang pasti dia ingin seseorang mencubitnya atau mungkin menamparnya saat itu juga, agar dia tersadar kalau ini semua bukanlah mimpi.
Lucy memegangi dadanya yang sejak tadi bergerumuh. Begitu bergejolak dan jantungnya berdetak dengan sangat cepat sejak tadi. Dia mencoba menenangkan dirinya dan mencoba memahami apa baru saja terjadi tadi.
Pertama, dia memberi coklat pada Natsu.
Kedua, dia mengatakan kalau coklat itu lebih dari sekedar coklat pertemanan.
Ketiga, Natsu tiba-tiba menciumnya. Dan dia menikmatinya.
BLUUUSHH!
Terlihat ada kepulan uap yang mengepul dari puncak kepala Lucy ketika dia menyadari kalau dia memang menikmati ciuman Natsu tadi. Dia segera menggelengkan kepalanya. Dia ingat! Dia ingat kata-kata Natsu setelah pemuda itu memutuskan ciuman mereka. Natsu sama sekali tidak sadar kalau dia sudah mencium Lucy. Tubuh pria itu bergerak dengan sendirinya. Mungkin saja, saat itu Natsu sangat ingin bertemu dengan Lisanna, tapi Lucy tiba-tiba menghalanginya. Dan akibatnya, karena terlalu merindukan pacarnya di hari Valentine ini, Natsu jadi memandang Lucy sebagai Lisanna, dan tanpa sadar dia mencium Lucy! Ya, itu cukup masuk akal. Mana mungkin Natsu menciumnya lantaran perasaan suka. Itu hanya karena unsur ketidaksengajaan yang sangat tidak terduga. Ya, tidak lebih, dan tidak kurang. Dan akhirnya Lucy menghela nafas berat. Dia berusaha melupakan kejadian hari ini.
Dan besoknya, Natsu meminta maaf kepada Lucy, dan menjelaskan semuanya. Meskipun penjelasannya sama sekali tidak bisa dimengerti Lucy karena bahasanya yang berbelit-belit.
XXX
Pada hari kelulusan, murid-murid kelas 3 yang sudah selesai menjalankan ujian dan pembagian rapor sudah berkumpul di aula ruangan teater. Murid-murid memfokuskan mata mereka pada kepala sekolah yang tengah memberikan selamat pada murid-murid yang berhasil lulus dan memberikan penghargaan berupa beasiswa kepada murid yang berhasil mendapatkan nilai paling tinggi sewaktu ujian kemarin.
"Luce!" teriak Natsu dari kejauhan.
Lucy segera menoleh ke arah Natsu yang tengah berlari menghampirinya. Dia pun tersenyum.
"Natsu!" Lucy melambaikan tangannya.
Natsu tersenyum lebar kepada Lucy begitu dia sampai di hadapan gadis itu.
"Luce! Aku lulus! Bagaimana denganmu?" tanya Natsu.
"Tentu saja aku juga lulus. Kau ini bagaimana." jawab Lucy cemberut.
"Haha, maaf! Aku tadi cuma bercanda!" ringis Natsu. Lucy hanya tersenyum kecil mendengarnya. "Naa, Luce. Bisa ikut aku sebentar?" tanya Natsu.
"Eh? Ke mana?" tanya Lucy balik.
"Ke halaman belakang. Ayolah!" Natsu menarik tangan Lucy, tapi Lucy segera menahan tubuhnya agar tidak tertarik Natsu. Dia menoleh ke arah ayahnya.
"Papa, aku pergi bersama Natsu dulu, ya!" ijin Lucy.
Jude menoleh dan mengangguk sambil tersenyum. Lalu kembali berbincang-bincang bersama pria berambut kemerahan yang diketahui Lucy sebagai ayahnya Natsu.
XXX
"Natsu, kenapa kau membawaku ke sini?" tanya Lucy menatap Natsu yang tengah duduk di sampingnya dengan bingung.
Natsu hanya diam dan hanya memejamkan matanya sambil mendongakkan kepalanya ke atas.
"Natsu!" seru Lucy karena merasa diabaikan.
Natsu menghela nafas berat, lalu menoleh ke arah Lucy. Lucy segera terpaku di tempat melihat Natsu menatapnya dengan tajam.
"Luce... Aku... Akan pindah ke luar negeri." ucap Natsu pelan, namun Lucy dapat mendengarnya dengan jelas.
"A-apa? Kau bilang apa tadi? Kau akan pindah?" bagaikan tersengat lebah, Lucy sama sekali tidak mempercayai pendengarannya.
Tatapan tajam Natsu langsung berubah menjadi sendu. Dan dia mengangguk pelan.
"Kenapa?" Lucy menemukan kalau suaranya terdengar serak.
"Ayahku memaksaku untuk melanjutkan pendidikan S1 sampai S3 di London. Tapi, aku menolak sampai S3, dan akhirnya aku akan dikirim belajar di London sampai aku mendapatkan gelar S2-ku. Tapi, tenang saja. Setelah aku mendapatkan gelar itu, aku akan langsung kembali ke Jepang!" Natsu tersenyum lebar ke arah Lucy. Namun, Lucy hanya diam saja. Berusaha mencerna ucapan Natsu.
"Luce?" panggil Natsu karena Lucy hanya diam saja. Namun, tiba-tiba saja gadis pirang di depannya ini meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Natsu tersentak saat itu juga, namun entah kenapa dia juga membalas genggaman tangan Lucy.
"Natsu, berjanjilah ketika kau kembali nanti, kau tidak akan lupa padaku." ucap Lucy dengan lembut.
Natsu menatap manik Karamel Lucy dengan terkejut. Lalu dia tersenyum dengan sangat lebar.
"Tentu saja! Nama Lucy Heartfilia tidak akan terhapuskan dari ingatanku! Aku pasti akan selalu menghubungimu agar aku tidak akan pernah bisa melupakanmu." ucap Natsu dengan mantap.
Lucy tertawa kecil mendengarnya. "Kata-kata itu lebih cocok kau katakan pada pacarmu, Natsu." ucap Lucy dengan wajah sedikit merona.
"Benarkah? Ngomong-ngomong soal pacar, Lisanna sama sekali belum tahu hal ini." ucap Natsu dengan santainya.
"Eh? Kenapa kau belum memberitahunya?" tanya Lucy, merasa sedikit senang karena Natsu lebih dulu memberitahunya dibandingkan pacarnya.
"Tadinya sih mau memberitahu, tapi setiap aku mendekati Lisanna, ada seseorang yang menatapku dengan tajam seolah-olah berharap tatapannya itu bisa melubangi kepalaku." jawab Natsu sambil bergidik.
"Hm? Maksudmu Mira-san? Ngomong-ngomong aku baru tahu kalau dia mengubah penampilannya. Rambutnya digerai, kan biasanya di kuncir satu. Dan lagi, kulihat dia sering sekali tersenyum, membuat para murid yang pernah berurusan dengannya menjadi merinding." ucap Lucy sambil menaruh jari telunjuknya di dagu.
"Benar kan? Dia bahkan bisa membuat orang langsung merinding dengan senyumannya itu. Luarnya saja terlihat anggun, tapi ketika kau melihat ada laki-laki yang mendekati adiknya, dia akan mengeluarkan aura yang super menyeramkan!" Natsu kembali bergidik.
"Hmmm... Menurutmu, apa yang menyebabkan Mira-san bisa merubah penampilannya sampai seperti itu? Setahuku dia itu sangat keras kepala soal penampilannya." tanya Lucy.
"Ah, itu. Dia berubah menjadi seperti itu setelah 2 bulan menjadi Sekretaris direktur perusahaan yang kalau tidak salah nama direkturnya itu Laxus Dreyar. Lisanna bilang itu adalah pacar kakaknya yang sekarang." jawab Natsu dengan cuek.
"Heee.. Hebat juga pacarnya mampu membuat Mira-san berubah sampai seperti itu." ucap Lucy dengan kagum.
"Yah, begitulah."
"Oh iya Natsu, kapan kau akan berangkat ke London." tanya Lucy.
"Hm? Besok." jawab Natsu.
"Hah?! Jam berapa?"
"Jam... Sebentar, aku tidak ingat." Natsu mengeluarkan ponselnya dan membuka agendanya. "Oh! Jam 9 pagi sudah harus berangkat." jawab Natsu kembali memasukkan ponselnya ke saku.
"Baiklah! Besok aku juga akan mengantarmu ke bandara." Lucy tersenyum ke arah Natsu.
Natsu ikut tersenyum, tanpa mereka sadari, mereka masih menautkan tangan mereka satu sama lain.
XXX
Besoknya, di bandara Narita jam 9 pagi... Setelah Natsu pamit kepada Lisanna dan mencium gadis itu, Natsu langsung berjalan menghampiri Lucy.
"Luce, aku berangkat dulu, ya." ucap Natsu sambil tersenyum kepada Lucy.
Lucy balas tersenyum. "Ya. Terus jaga kesehatanmu, ya. Jangan lupa makan dan jangan kebanyakan stress kalau kau tidak bisa melakukan seperti apa yang kau harapkan... Dan yang lebih penting, jangan lupakan aku, ya." pinta Lucy dengan mata yang berkaca-kaca.
Natsu tersenyum lembut, lalu mengusap puncak kepala Lucy. "Ya, aku janji tidak akan melupakanmu. Luce akan selalu ada di pikiranku." jawab Natsu.
Lucy tersenyum mendengarnya. Ingin sekali dia memeluk pemuda itu seperti apa yang dilakukan Lisanna tadi, namun dia tidak mungkin melakukannya. Natsu sendiri juga merasa ganjil. Entah kenapa dia ingin sekali mencium Lucy, sama seperti apa yang dia lakukan pada Lisanna tadi. Tapi, dia tidak punya alasan khusus untuk menempelkan bibirnya di bibir gadis berambut pirang di hadapanya.
"Natsu, semoga kau selamat sampai tujuan." suara tegas dan penuh wibawa menginterupsi momen Natsu dan Lucy. Mereka segera menoleh ke arah Erza dan Jellal yang sudah berdiri di samping mereka.
"Erza-kaicho! Jellal-senpai!" seru Lucy tidak percaya kalau kakak kelasnya juga datang untuk mengantar keberangkatan Natsu.
Erza segera meringis mendengarnya. "Jangan panggil kami dengan sebutan itu lagi, aku juga sudah bukan ketua OSIS lagi. Dan juga, bukankah kita ini teman? Sudah wajar kami sangat ingin mengantar kepergian Natsu." ucap Erza seolah-olah membaca pikiran Lucy.
Natsu tersenyum mendengarnya. "Kalau begitu, aku pergi dulu ya semua! Aku janji akan segera kembali! Kalian tunggu saja!"
Natsu melambaikan tangannya ke arah rombongan orang yang sudah menyempatkan waktunya untuk mengantar keberangkatannya. Mata onyx-nya terpaku pada gadis berambut silver pendek yang tengah dipeluk oleh kakaknya, Mirajane, dengan lembut. Lalu matanya beralih pada gadis berambut pirang yang tengah menatapnya dengan berat hati. Melihatnya, Natsu bertekad dalam hati kalau dia akan segera menyelesaikan pendidikannya secepatnya, agar dia bisa segera menemui dua orang gadis yang amat disayanginya itu.
Bersambung...
AN: Horeee! Akhirnya ujian semesternya selesai juga! Oh, betapa bahagianya saya *lebay* Oke, saya tidak mau berbasa-basi lagi, saya akan membalas review dari para pembaca
Guest 1: Maunya sih gitu, tapi cerita masa lalu itu kan berkaitan erat dengan apa yang sudah terjadi sekarang. Takutnya, kalau langsung aja pembaca pada gak ngerti sama alur ceritanya. Haha, makasih udah nyemangatin
Guest 2: Haha, aku juga miris liat masa lalu Lucy *padahal aku sendiri yang bikin*
chirs: Yup! Dia emang orang kaya, di chap depan bakal dijelasin kenapa dia bisa miskin kayak sekarang dan tentang kemana ayahnya. Oh iya, chap depan merupakan part terakhir dari cerita masa lalu Lucy XD
Hanara VgRyuu: Haha, soal peran yang terlalu jujur itu emang dari dasarnya aku gak terlalu suka nulis adegan yang bertele-tele. Dan lagi, Lucy datang ke sekolah 'kan karena ingin mengucapkan salam perpisahan, tentunya dia tidak menjelaskan yang sebenarnya pada teman-temannya. Dia hanya bercerita jujur pada Natsu. Karena dia pikir Natsu akan terus mendesaknya kalau dia tetap mengelak, ya lebih baik jujur kan? Lagi pula, Lucy sama Natsu itu udah keliatan dekat banget Soal Flare, dia udah diancam plus dibentak habis-habisan sama Natsu, jadi dia langsung mengaku aja didepan Lucy. Haha, gapapa kok! Aku lebih suka review yang panjang-panjang.
ErinMizuMizuna-Chan: Haha, maksudku akhir ceritanya sudah pasti Happy Ending, dong! Iya, tapi cuma 3 chapter aja kok flashbaknya, walaupun gak bisa disebut flashback sih... Karena ini sampai 3 chapter.
Neutron21: Ya, aku juga kasian sama Lucy... Iya nih si Flare, sirik aja sama Lucy. Haha, makasih!
Guest 3: Next chapter dah update! Makasih dah review! XD
Azumi Nafis: Wah, kalo Loki sama Lucy, bakal didemo massal deh saya XD
R2A: Udah dilanjut! Gomen ya lama, sebenernya udah selesai sih sebelum ujian, cuma kutundua sampai ujiannya selesai XD Haha, makasih! Oke, kalau saya perlu saran kamu, kamu mesti siap ya buat saya samperin XD
SSAPHIRA: Makasih udah nyemangatin! Iya nih Natsu, polos itu ada batasnya... Ckckck, kepolosanmu itu sudah sukses memberantakan hati seorang gadis...
a first letter: Chapter selanjutnya dah diupdate! Makasih dah review!
Direlveladita0917: Next chap udah update! Makasih dah review fic ini!
santika widya: Iya ya. Emang pahit, entah kenapa aku berbakat bikin cerita yang pahit-pahit (?). Dah diupdate! Tenang aja, gak mungkin lupa kok! XD
shinta dragneel: Haha, makasih! Ni dah update, maaf lama...
s4kur4miyuz4ki: Udah diupdate lagi! Makasih dah review!
: Makasih! Ni dah lanjut!
SHIKIGAMI: Mungkin sampai 13 atau 14...
Oke, segitu dulu jawab reviewnya! Makasih ya udah nyempatin waktu kalian buat review chapter ini! Nanti review lagi ya kalau sempat! Oh iya, chapter masa lalu ini akan berakhir di chap selanjutnya, dengan kata lain cuma sampai 3 part. Part selanjutnya bagaimana kehidupan Lucy setelah melarikan diri dari Natsu dan bagaimana cara dia bertahan hidup. Mungkin cerita ini semakin membosankan, tapi mau bagaimana lagi. Saya sudah bertekad untuk membuat chapter masa lalu ini. Dan saya sendiri sedikit fan girling-an waktu nulis adegan NaLu kissing tadi. Kyaaa! Terbayang dengan jelas dibenak saya adegan mereka kissing! XD
Oh iya! Ngomong-ngomong saya mau promosi sedikit tentang fanfic collab saya dengan janeolivia750 aka Via-chan. Judulnya Living Under One Roof! Saya gak bakal kasih spoilernya biar para pembaca penasaran.. Hehe, kalau tertarik dengan fanfic collab kami, silahkan read lalu review kalau sempat! Nama akun collab kami StrawberryVanila.
Oke, saya akhiri dulu chap 8 ini.. Saya undur diri dulu, sampai jumpa di chapter depan!
Salam manis,
Minako-chan Namikaze
