My Husband

Rated T

Genre Romance/Drama/Family

Characters Wonwoo, Mingyu, rest of Seventeen members

Warning! Typos everywhere, ooc, oc-

Summary Ia tidak pernah mengeluh, selalu memuji masakan Wonwoo yang sebenarnya tidak begitu enak, ia juga tidak pernah mau menyusahkan Wonwoo walau ia sendiri lelah. Wonwoo terkadang selalu meruntuki dirinya yang selalu memiliki mood yang berubah-rubah dengan cepat bagaikan tangan yang dibalikkan dengan mudahnya pada suaminya itu. Meanie!

Enjoy~

000

.

.

.

Mingyu dan Wonwoo akhirnya kembali ke rumah mereka, setelah menghabiskan perjalanan hampir seharian. Wonwoo langsung menjatuhkan dirinya di kasur, Mingyu tahu jika belakangan ini Wonwoo semakin mudah lelah karena sudah berbadan dua. Mingyu menyalakan ponselnya dan ponselnya tersebut menerima hampir 20 pesan dari sepupunya, Lee Jihoon.


Jihoonie hyung

05.00 PM

Paboya, kau dimana, Seolhyun mencarimu


Mingyu

05.01 PM

Aku baru sampai rumah, tadi aku baru pulang dari Busan


Jihoonie hyung

05.03 PM

Mwo? Busan?! Kenapa kau jauh-jauh pergi ke sana?


Mingyu

05.04 PM

Aku mencari istriku, dia kabur ke rumah sepupunya


Jihoonie hyung

05.06 PM

Malam ini, aku tak mau tahu, kau harus pergi menemuiku dan si mantan pacarmu yang menyebalkan itu!


Mingyu

05.07 PM

Mau apa dia?


Jihoonie hyung

05.12 PM

Pokoknya datang saja! Jam 7 malam di kafe dekat stasiun, pabo


Mingyu

05.13 PM

Ne


"Mingyu?" Mingyu menoleh ketika sang istri memanggilnya dari kamar "Mingyu~!"panggilnya lagi dengan nada sedikit manja. Mingyu sedikit terperajat mendnegarnya, jantungnya hampir loncat, entah mengapa mendengar istrinya memanggilnya seperti itu membuat hatinya sedikit senang?

"Ya?" Mingyu mendapati Wonwoo yang tengah membuka lebar kedua tangannya, Mingyu memiringkan kepalanya bingung.

"Peluk aku"

"Untuk apa?" tanya Mingyu dengan nada dingin yang membuat Wonwoo sedikit kaget, Mingyu tak menyadari jika Wonwoo sedikit sedih dengan sikap Mingyu yang tiba-tiba menjadi dingin. Sayangnya Mingyu juga tidak menyadari jika kini ia terlihat sangat dingin bagi Wonwoo, bahkan Wonwoo tidak pernah melihat Mingyu sedingin ini sebelumnya. Mingyu tak menyadari jika sikap dinginnya ini karena memikirkan mantannya yang menyebalkan itu. "Peluk saja tembok" ucap Mingyu kemudian pergi keluar apartemen mereka.

Karena sudah terendam oleh amarah, Mingyu langsung pergi ke kafe tempat Jihoon dan mantannya akan berkumpul. Sebenarnya Mingyu menjadi tempramen semenjak putus dengan mantan pacarnya itu. Mingyu sangat mencintai sosok mantannya itu sampai mereka tidak sengaja bercinta dan bodohnya, Mingyu tak mengizinkan sang mantan yang ingin menggugurkan kandungannya. Mingyu hanya berpikir jika mahluk kecil itu tak berdosa jadi untuk apa dibunuh? Ditambah lagi Mingyu saat itu masih berumur 15 tahun, masih duduk di bangku kelas 3 SMP sedangkan sang mantan sudah duduk di bangku 2 SMA dan berumur 17 tahun.

Tapi walaupun sang mantan hamil dan melahirkan, sang mantan adalah anak dari kepala sekolah, membuatnya masih bisa lulus dari sekolah walau sempat tidak masuk selama 5 bulan lamanya.

Setelah sang bayi lahir, sang mantan semakin menjauh dari Mingyu, bahkan sempat hampir membuang anak mereka. Hingga akhirnya mereka memutuskan hubungan mereka, yang malah membuat Mingyu hampir bunuh diri karena tak menerimanya. Tapi, pada akhirnya anak mereka pun dibawa oleh sang mantan.

Mingyu menggelengkan kepalanya, ia reflek membelokan motornya dari sebuah truk yang berjalan di hadapannya. Memikirkan sang mantan membuatnya hampir kecelakaan, untuk apa sebenarnya sang mantan ingin bertemu dengannya?

000

Wonwoo diam di kasurnya, ia mengusap air matanya yang tak berhenti mengalir. Sulit juga tinggal bersama orang yang tak mencintaimu, bahkan ia baru mulai menyukaimu. Wonwoo memukul kepalanya pelan, ia menggelengkan kepalanya cepat, ia tak boleh begini, ia tak ingin bayi yang dikandungnya sedih.

Walau bukan darah daging Mingyu..

Wonwoo benar-benar menunggu ini.. Ia menginginkan sang bayi.

Namun tiba-tiba Wonwoo mengingat sesuatu yang membuat pipinya bersemu merah, namun dengan cepat ia menggelengkan kepalanya lagi dan berjalan ke kulkas. Kosong, tidak ada apapun. Ia harus membeli bahan makanan untuk persediaan, bahkan apartemen itu terlihat kumuh.

Wonwoo menghela nafasnya dan mengambil dompetnya, ia pun melihat hanphone milik sang suami yang berada di lantai, bergetar. Sepertinya Mingyu lupa membawa handphonennya, Wonwoo kini hanya berjongkok depan hanpdhone milik Mingyu yang layarnya menunjukkan tulisan 'Jihoonie hyung'

"Lebih baik aku angkat saja, kan sepupunya" gumam Wonwoo, ia pun menggeser sebuah pilihan yang membuat handphone menerima panggilan telepon.

"Halo, Jihoon?" ucap Wonwoo.

"Dimana Mingyu?!" Wonwoo hampir terkejut mendengar tiba-tiba sang penelpon membentaknya.

"E-eh... Ini siap-"

"Dimana Mingyu! Cepat jawab! Kau siapa sih?! Kok kamu yang ngangkat teleponnya?" Wonwoo diam "Hei, kau tuli y-"

"Aku teman M-Mingyu" ucap Wonwoo, entah mengapa Wonwoo merasa sangat takut. Ia bahkan sangat takut jika ia mencampuri urusan suaminya. Mungkin karena Wonwoo takut jika Mingyu akan membencinya-

"Dimana Mingyu?! Bilang padanya untuk datang ke kafe My aunt's"

"T-Tapi dia sudah pergi"

"Oh-"

tuut.. tuuut

Telepon itu pun langsung saja diputus oleh sang penelpon. Wonwoo mendudukkan dirinya di lantai dan memandang layar handphone Mingyu. Wonwoo merasa jantungnya berdetak sangat cepat, ia bahkan tak bisa berhenti tersenyum, bahkan tubuhnya bergetar. Walau Wonwoo menilai Mingyu aneh karena melihat layar handphone itu, tapi Wonwoo harus menghargai usaha Mingyu selama ini.

Layar lockscreen handpone milik suaminya itu adalah foto Wonwoo ketika sedang tertidur, dengan foto close up. Foto itu juga sudah di edit dengan tambahan font 'Don't stop loving him' yang tertera di tengah foro itu dengan ukuran forn yang cukup keci, tapi Wonwoo masih bisa membacanya. Walau sebenarnya Mingyu belum mencintainya dan malah baru menyukainya, tapi Mingyu sudah berusaha sampai seperti ini.

Karena senang, Wonwoo berniat ingin mendatangi Mingyu saat ini, walau ia sudah dibentak sepeti itu tapi ia tak peduli. Ia merasa sangat senang, bahkan rasa lelah pulang dari Busan tak ia hiraukan. Tapi Wonwoo ingin duduk dahulu di kasur, ia pun mendudukan dirinya di kasur dan menatap langit-langit kamar mereka.

.

.

.

.

.

.

Wonwoo bangun dari tidurnya, ia merasakan suara orang yang bertengkar di ruang tengah dan ia memutuskan untuk berpura-pura tidur saat pintu kamarnya terbuka. Jantung Wonwoo berdetak sangat cepat, sebenarnya apa yang ia lakukan? Hanya cukup bangun dan melihat apa yang terjadi kan sudah cukup, tapi tubuhnya malah berkata lain.

"Kau cukup diam disini dan kata papah, jangan membuatnya terbangun-"

Papa?

Apa maksudnya?

Bahkan suara itu.. Suara yang membentaknya di telpon.

Wonwoo ingin sekali membuka matanya tapi ia tak bisa, ia sangat takut. Tak lama suara pintu tertutup dan ia merasakan seseorang duduk di kasurnya. Tapi sosok ini kecil, ya , seperti seorang anak kecil yang kini mendudukan dirinya di kasur.

"Tapi dia kan sama seperti Chani, kenapa papah aneh ya" Wonwoo membuka matanya dan berpandangan sengan sosok kecil yang duduk di sampingnya. "Annyeong"

"Annyeong.." Wonwoo bergetar.

"Maaf, tapi mamah menyuruhku diam disini" Wonwoo mengusap matanya "Mamah sedang berantem sama papah" Wonwoo malah diam, ia malah mendengar suara Mingyu dan seseorang yang membentaknya di telpon.

"E-Eh... Begitu ya"

"Hyung kenapa nangis?" tanya Chani, ia mengelus pipi Wonwoo lembut "Jangan nangis ya, padahal yang sedang bertengkar kan orang tua Chani" air mata Wonwoo terus mengalir, ia tidak mengerti, anak kecil ini tiba-tiba muncul, lalu suara Mingyu yang bertengkar dengan seseorang dan anak kecil ini yang berkata jika Mingyu dan seseorang yang membentaknya di telpon adalah orang tuanya.

J-Jadi Mingyu pernah menikah sebelumnya? Pikir Wonwoo, ia menatap sosok anak kecil di depannya.

Bahkan telah memiliki anak.

Wonwoo hanya diam termenung, bahkan ia mengabaikan rasa mual dan rasa sakit kepala yang menyerangnya.

"Wonwoo.." Wonwoo menoleh ke ambang pintu, ia mendapati Mingyu yang sedang menggendong seseorang perempuan berambut hitam panjang, dengan pakaian yang cukup seksi.

"Mamah!" anak itu berlari pada Mingyu "Papah! Mamah kenapa!" teriak anak itu yang diikuti dengan isakan. Namun Mingyu hanya terpaku pada Wonwoo yang memandangnya dengan tatapan kosong.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tak lama Wonwoo tersenyum manis pada Mingyu.

.

.

.

.

.

.

Namun air mata tumpah dari mata cantiknya.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kau mau aku masakan apa untuk makan malam, Gyu?" tanya Wonwoo sambil tersenyum dan mengusap air matanya. Seketika Mingyu merasakan dirinya hancur.

.

.

.

.

.

.
a/n: Buat chap ini, Meanie shipper yang kuat ya, author juga sebenernya ga kuat ngetiknya, malah sampe nangis/maaf author agak lebay/ tapi emang hidup kan ga selamanya indah. AKU JUGA CINTA MEANIE KOK , TP TOLONG JAN BUNUH AUTHOR GARA2 CHAP INI. Makasih buat yang udah baca, komen, follow dan favorit :****************** dadah