SOMETHING YOU MAY CALLED LOVE, OR ANYTHING

.

Chapter 8

.

Enjoy!

.

.


Sebuah buku terbuka rapi di pangkuanku, meskipun aku sama sekali tak membaca apapun yang menjadi isinya. Mataku terlalu terpaku pada keindahan taman yang menjadi tempat jalan-jalanku setiap aku pulang ke London pada saat awal liburan semester, ketika dulu aku meninggalkan Yukimura dan lainnya di Jepang untuk sementara waktu. Kau tahu, saat terpanas di London pun tetap saja indah dan sejuk, terutama dikarenakan tamannya yang selalu luas dan dipenuhi tanaman musiman. Keindahan yang kemudian menjadi pelampiasan orang-orang yang kepanasan di waktu luangnya untuk menyegerakan diri pergi ke taman ini. Dengan kolam dan banyak bangku disana, aku yakin bahkan orang sibuk pun ingin segera kemari, meski hanya untuk menumpang menyejukkan diri atau memakan fish and chip. Tapi aku sama sekali tak menyempatkan diriku untuk pergi ke taman ini, tidak untuk tahun ini.

Aku menghela napas mengingat kejadian yang tak terasa sudah sebulan berlalu. Ketika Masamune-sensei melamarku di kediamannya.

.


.

FLASHBACK—

"Dua tahun mengenalmu, dan Date Masamune kini disini, berlutut di hadapan gadis yang dikagumi, disukai, dan dicintainya—diam-diam—selama dua tahun. Date Masamune ini, memintamu untuk menjadi pendamping hidupnya sampai kapanpun, dengan imbalan seluruh hidupnya, jiwa dan raganya, dan seluruh harga diri beserta materiil dan morilnya… bersediakah kau menjadi istriku?"

Aku terpaku, sama sekali tidak tahu apa yang ingin kukatakan sebagai jawaban. Meski Masamune-sensei mulai melihatku dengan wajah kesal bercampur penuh harap, aku tak berkutik. Yah, aku sama sekali belum pernah dilamar orang, dan lagi kami baru saja bentrok akibat masa lalu Sensei, bagaimana bisa aku menjawab lamaran dadakan itu?

Jika kujawab, kupastikan akan ada banyak kalangan yang menganggapku wanita murahan yang bisa dilamar hanya dengan menjadikannya pacar selama seminggu. Dan jika kutolak, aku bahkan tak menemukan alasan untuk menolaknya… laki-laki normal akan mundur ketika lamarannya gagal sekali, kau tahu?

Kutahu Masamune-sensei mengerti kebingunganku ini, dan menepuk bahuku pelan. Ia melewatiku dalam diam sebelum sampai di pintu kamarnya. "Sebaiknya kau memikirkannya masak-masak, karena aku tak akan melakukan ini untuk kedua kalinya, kau harus tahu. Aku memang mencintaimu. Tapi aku tak hanya hidup untukmu, tetapi juga untuk klanku. Pikirkanlah matang-matang, I will wait."

Dengan kalimat panjang tadi, Masamune-sensei menutup pintu dan meninggalkanku hingga kemudian Yukimura menjemputku masih dengan hidung yang ditempel plester dan wajahnya begitu panik. Mungkin ia mengira Sensei melakukan sesuatu untukku, dan aku menerangkan semua kejadiannya sebelum ia dan Sensei duel di tempat.

"Ah…syukurlah jika tidak ada satu hal pun yang dilakukan Sensei padamu…jika iya…jika iyaaa….Yukimura ini harus menebas perut di hadapan Ayah, Ibu, Paman dan Bibi yang kuhormatiiii~~!"

"Yukimura, hentikan tangisan bombaymu, kau membuatku diperhatikan orang-orang," dengusku kesal. Memang benar, kok. Gara-gara Yukimura yang bersuara keras dengan air mata bombaynya sekarang kami dikira pasangan kekasih yang baru saja selesai bertengkar. Yukimura mengangguk mengerti sembari mengelap ingusnya sebelum wajahnya berubah serius. "Ngomong-ngomong, Ayah dan Ibumu menelepon, katanya kau disuruh pulang sesuai jadwal pulang tahunanmu."

"Aaa~baiklah, tapi bisakah mereka memberiku waktu seminggu?"

"Tidak bisa," Yukimura menggeleng pelan. "Katanya kau harus…pindah kesana sesegera mungkin."

"Eh?"

Sekejap aku merasa pikiranku menggelap. Bagaimana bisa aku harus pindah ke tempat yang luar biasa jauh dari Jepang, dari tempat tinggalku selama ini?

Yah, baiklah. Ayah dan Ibuku memang tidak tinggal di Jepang, melainkan di London selama empat tahun belakangan ini. Saat itu aku masih kelas dua SMA, dan aku tidak ikut kesana mengingat kemampuan adaptasiku yang memang lamban, dan mereka membiarkanku tinggal di Jepang dengan Paman dan Bibi Sanada yang mengawasiku disini. Tapi itu hanya untuk mempersiapkanku agar tidak terlalu shock culture ketika aku lulus SMA nanti. Kemudian dengan sedikit rayuan Yukimura yang memang dianggap sebagai anak sendiri, mereka pun mengabulkan keinginanku untuk meneruskan kuliah dengan syarat pulang ke London selama liburan.

Tapi waktu semakin sedikit; mereka tahu aku sudah siap untuk pindah, dan saat itu tiba di waktu yang tidak tepat. Jika Yukimura sampai menampakkan raut wajah serius itu, aku tahu bahwa mereka menghendakiku untuk angkat kaki dari Jepang sesegera mungkin. Memang mereka bukan tipe orangtua otoriter, mungkin itu hanya ungkapanku atas ketegasan mereka saja, dan lagi, aku memang tidak berniat membantah mereka, apapun keputusannya.

"Aku tahu…" aku kembali mendengus, kesal dengan ketidaktepatan momentum ini. "Tapi bagaimana dengan kuliahku? Dengan barang-barang di apartemenku?"

"Mereka sudah mengurusnya selama kau berada di rumahku, tapi itupun tidak kita ketahui. Mereka tahu dari Ayah dan Ibu bahwa kau berada di rumahku, dan memanfaatkannya kesempatan itu untuk menyuruh orang dan mengemasi barang-barangmu. Kau bisa langsung ke bandara kapanpun kau mau, kata mereka. Nanti akan ada orang yang menjemputmu, begitulah…"

Kepalaku tertoleh, mendapati Yukimura yang terlihat sekali ingin menahanku. Tapi ia pun tahu bahwa sia-sia saja merayu kedua orangtuaku, dia sendirilah yang menjanjikan pada Beliau berdua waktu kuliahku di Jepang yang tidak terlalu lama. Dan lagi, Yukimura tahu bahwa orangtuaku merindukan anak semata wayangnya. Mereka hanya ingin yang terbaik untukku, dan kami mengerti sekali hal itu.

"Aku…mengerti."

Akhirnya, aku menghentikan langkahku, disusul Yukimura yang terbeliak kaget. Aku mungkin memang tidak ditakdirkan untuk berada disini lebih lama. Terbukti dari banyak sekali hal, dan terutama ketika aku mendengar kalimat Sensei yang seolah mengatakan 'aku boleh pergi jika memang tidak ingin menjadi pengantinnya'. Dan mungkin untuk terakhir kalinya, aku membungkuk dalam-dalam pada Yukimura.

"Sanada Yukimura…terima kasih atas pertolonganmu selama ini, dan aku ingin menitipkan padamu ucapan yang sama pada semua teman-teman kita, dan juga Masamune-sensei. Maafkan aku, tidak bisa mengucapkan hal ini dengan baik dan menemui semuanya… Selamat tinggal, dan semoga kita bisa bertemu di lain kesempatan."

"Jadi…kau menolak lamaran Masamune-sensei…?"

"Ng…" aku menatap Yukimura yang terperanjat. Tak ada penyesalan sama sekali di mataku…atau mungkin begitulah menurutku. "Tolong sampaikan permohonan maafku padanya… melalui ponsel yang kutinggalkan di kamarmu itu, karena setelah ini aku akan langsung pergi ke bandara, bisakah aku minta tolong padamu untuk yang terakhir kalinya, Sepupuku?"

"Tapi…boleh aku tau, sebenarnya bagaimana kau akan menjawab jika dia mengatakan bahwa dia mencintaimu?"

Aku terdiam sesaat sebelum tersenyum lebar. "Aku juga mencintainya, jauh melebihi apapun di dunia ini. Itulah perasaan yang timbul sejak pertama kali aku bertemu dengannya hingga saat ini yang terkumpul menjadi satu…"

END FLASHBACK—

.


.

"Aah…aku memang bodoh bisa terperangkap dalam jebakan orang seplayboy Masamune itu sampai-sampai jatuh cinta setengah mati dengannya," gumaman yang tersalur dari pikiranku itu akhirnya keluar tanpa kuhentikan lagi. Tapi tawa kecil mengiringi pemikiranku sendiri.

Yah, bagaimana juga aku bahagia ketika mencintai Masamune, kan? Mantan Sensei-ku satu itu, yang keras kepala, tinggi hati, cuek, dan tidak terduga. Ah, jangan lupakan emosinya yang meledak-ledak. Memang meninggalkan kesan tersendiri, huh?

Merasa hari sudah cukup sore, aku memutuskan untuk pulang ke rumah. Kuliahku di London akan dimulai beberapa hari lagi karena surat perijinan yang terlambat diberikan, tapi itu tak berarti apa-apa padaku. Kenangan dan persiapanku selama di Jepang sudah cukup untuk memotivasiku agar berusaha sekuat tenaga dalam meraih impianku dalam dunia politik. Dan aku tersenyum lebar kembali saat menyadari matahari terbenam yang begitu indah terpampang di depanku dikarenakan letak taman itu yang berada di atas bukit.

"Aku mencintaimu, Date Masamune…dan selamat tinggal."

.

.


Author's Note :

BAD atau HAPPY ending?

itu tergantung review anda sekaliaaan saya akan meng-upload FINAL CHAPTER bila review meminta untuk happy end, kemudian saya akan membuat alternatifnya jika ada yang meminta dua alternatif ending...fufufu selamat berpenasaran ria karena saya akan menunggu review sebelum meng-upload chapter terakhir... *kemudian author ditabok*


.Ashikaga Shu.