Sebelum membaca mari kita berterima kasih pada AMAZON (namasamaran) yang telah membelikan kuota internet untuk Nisaa yang lagi krismon, kalau ngak dibeliin sama ni AMAZON pasti updatenya baru bisa Jum'at deh... Heheheeh

Terima kasih ya Abang!

Wajah Naruto merah padam, dia berlari menelusuri lorong kelas yang sepi, semua murid telah kembali ke kelas mereka masing-masing. Namun sekarang Naruto tidaklah berlari menuju kelasnya, dia tidak bisa masuk ke kelas dengan keadaannya sekarang. Naruto melihat pintu toilet dan langsung masuk, memiih kubikel paling ujung dan menguncinya. Wajah Naruto panas, dan bagian tubuh lainnya pun demikian.

Naruto menundukkan wajahnya, disana celana sekolahnya telah mengembung. Rasanya Naruto ingin menghantamkan kepalanya sekarang. Bagaimana ia bisa menegang? Tapi Naruto tahu penyebabnya, walau dia mengelak untuk percaya, Naruto tahu tubuhnya bereaksi menakutkan saat Sasuke mendekatinya. Ya, saat Sasuke menariknya ke ruang perlengkapan dan Naruto dapat merasakan suhu serta aroma Sasuke, tubuhnya bereaksi secara menggila.

Sebenarnya ini bukan pertama kali, beberapa hari ini, saat Naruto duduk di belakang sang Uchiha dia merasa tidak nyaman, setiap kali aroma mint dari tubuh Sasuke menerpa penciumannya dia akan meremang. Karena itu jugalah Naruto berusaha meminimalkan kontak dengan Sasuke.

Reaksi tubuhnya kini menakutkan sekaligus mengajutkan bagi Naruto, takut jika ia benar-benar akan berubah gay dan terkejut dia bisa tegang di luar mimpi dan dalam keadaan sadar. Naruto sadar dirinya mesum, blue film yang ditontonya lebih banyak dari film action yang disukainya. Namun saat Naruto melihat film mesum itu, tidak sekalipun Naruto menegang. Dan hingga saat ini, Naruto tidak pernah memanjakan dirinya sendiri. Dia selalu berfikir hal ini terjadi karena dia sering mendapat mimpi-mimpi bersama Uchiha yang selalu berakhir dengan celananya yang basah dipagi hari. Jadi, entah bagaimana kebutuhan seksualnya telah terpenuhi lewat mimpi, dan itu ia anggap normal jika ia tidak pernah terangsang saat nonton BF. Dan kini, Naruto melihat dirinya menegang dan ia tidak tahu harus bagaimana.

Naruto menutup matanya, takut untuk menyentuh benda yang mengeras dibawah sana. Naruto ingat pernah mendengar temannya berkata, untuk mengatasi hal ini tanpa menyentuhnya ada dua cara, pertama mandi air dingin yang tidak mungkin ia lakukan saat ini dan membayangkan hal paling menjijikkan atau menakutkan untuk meredam gairah yang terlanjur terbangun. Naruto memilik pilihan kedua.

Naruto memejamkan matanya, mencari hal-hal menjijikkan yang bisa ia temukan dalam ingatannya.

"Paman Kakashi ngupil, kakek Jiraiya telanjang, kotoran anjing, makanan basi, belatung,…" Naruto bergumam hal-hal menjijikkan yang diingatnya, sampai beberapa lama, hal ini tidak berhasil, hingga suatu ingatan langsung mengguyur semua rasa panas dalam tubuh Naruto.

"Ugghhh…" Naruto langsung membekap mulutnya, makan siangnya terancam termuntahkan. Ingatan itu begitu menakutkan hingga Naruto seakan lupa kenapa ia mencari ingatan mengerikan. Ia teringat masakan Kyuubi saat dulu Kyuubi bersemangat belajar memasak. Hingga kini, itu menjadi momok tersendiri bagi Naruto. Namun paling tidak, masalah selangkangannya terselesaikan.

.

.

Selama dua hari kemudian pun Naruto semakin menghindari Sasuke, dia takut akan reaksi dirinya saat dekat dengan sang Uchiha. Saat kini Naruto akan kembali ke tempat duduknya setelah jam istirahat, tatapan Naruto bertemu dengan mata kelam Sasuke. Naruto langsung memutus kontak mata, dan langsung menempati tempat duduknya, dimana ia harus menatap punggung Sasuke disisa jam pelajaran ini.

"Pssttt.. Naruto" Kiba berbisik memanggil Naruto, yang akhir-akhir ini sering didapati melamun. Naruto melirik Kiba dan mengangkat sebelah alisnya tertanda ia mendengarkan.

"Kau mau ikut ke Nakama? Aku, Shika, Choji dan Shino akan pergi ke game center yang ada disana"

Naruto awalnya akan menolak, namun dia berfikir, mungkin ini yang dia butuhkan. Dia perlu menyegarkan pikirannya, dan telah lama juga dia tidak bermain dengan kawan-kawannya.

"Aku ikut"

Mereka berlima pergi bersama ke Nakama dengan menaiki kereta. Nakama adalah pusat hiburan di Konoha. Terdapat bermacam-macam hal di tempat ini, mulai dari pusat belanja, bermain, rumah makan, club, bahkan love hotel jika kau berkunjung ke kawasan Nakama bagian timur yang kebanyakan berisi hiburan bagi orang dewasa disepanjang jalan. Di kawasan itu juga terdapat D-Club yang tidak ingin Naruto kunjungi lagi.

Mereka memasuki Seiyu game center yang berada di kawasan Nakama bagian Selatan, game center ini terbagi menjadi lima lantai dimana setiap lantai menyuguhkan macam-macam permainan, mulai dari lantai satu yang dipenuhi game Crain, lantai dua dengan Arcade, lantai tiga dengan photo box dan lain sebagainya.

"Ayo kelantai dua" Shino, pemuda pecinta serangga dan kacamata hitam ini mengajak mereka ke lantai 2, yang diangguki kawan-kawannya kecuali Naruto.

"Aku di lantai satu saja, ada figure anime seksi yang ingin aku dapatkan."

"Dasar mesum" Choji masih sibuk dengan keripiknya saat beranjak menyusul Shino kelantai 2.

"Kau tidak ikut?" Shikamaru bertanya melihat Kiba beranjak dari samping Naruto.

"Aku disini saja dengan Naruto"

"Ok, kalian susul kami jika kalian bosan disini" Naruto dan Kiba menjawab dengan mengacungkan kedua jempol tanda setuju.

Hingga dua jam mereka bermain tanpa ingat waktu, saat matahari di luar telah mulai tenggelam dan membawa selimut malam untuk menutupi langit, akhirnya kelima kawan itu mengahiri permainan mereka. Mereka berjalan untuk kembali kerumah.

"Bukankah itu Uchiha?" Shino menghentikan langkahnya saat melihat sosok yang dirasa dikenalnya di seberang jalan.

"Mana? Ah.. Iya itu Uchiha Sasuke, siapa itu yang bersamanya?" Choji ikut melihat kearah pandangan Shino.

Seketika Narutopun melihatnya, Sasuke yang tengah keluar dari mobil sport kuning bersama seorang wanita yang Naruto tahu siapa.

"Bukankah itu Karin? Dia itu seorang model kan? Wah beruntung sekali Sasuke bisa mengenalnya." Kiba menimpali meliahat Sasuke dan Karin yang terlihat akrab. Naruto tahu Karin dari majalah, bahkan dia memiliki beberapa fotonya. Wanita itu memang luarbiasa cantik.

"Uwoooooo…. Lihat mereka!" Shino berseru saat Sasuke mencium wanita itu dengan panas, beberapa orang bahkan melirik terang-terangan saat melewati mereka.

"Wah..wah..wah.. beruntung sekali Uchiha, sekarang aku faham kenapa dia sama sekali tidak melirik para wanita yang mendekatinya di sekolah. Laki-laki idiot mana yang akan melirik wanita lain saat ada sosok seperti Karin disampingnya?" Choji bahkan tidak berkedip melihat adegan mesra yang terpisah jalan penuh lalu lintas kendaraan di depan mereka.

Hanya Naruto dan Shikamaru yang tidak bersuara atas pemandangan yang mereka lihat. Naruto terkejut dan entah mengapa merasa terhianati, tapi bukankah ini bagus baginya, ternyata Sasuke bukan gay, dan mustahil Sasuke akan menyukainya saat ada gadis seperti itu disampingnya kan?. Jadi mimpinya selama ini pasti salah, mungkin semua mimpinya mengacu pada satu kejadian beberapa hari yang lalu, dan tidak akan terulang kembali. Jadi harusnya Naruto lega, iya kan?.

Hanya Shikamaru yang memperhatikan perubahan ekspresi Naruto, dan juga pandangan Sasuke yang mengarah pada mereka atau lebih tepatnya pada Naruto saat dia mencium gadis itu.

Mereka kembali berjalan dengan Kiba, Choji dan Shino yang masih membahas tentang Sasuke dan Karin, meninggalkan Shikamaru dan Naruto tertinggal beberapa langkah. Tiba-tiba naruto menghentikan langkah kakinya saat hampir mencapai stasiun kereta bawah tanah.

"Ada apa?" Mendengar pertanyaan Shikamaru, ketiga teman mereka yang lain ikut berhenti melangkah.

"Kalian pergilah terlebih dahulu, ada yang harus aku beli sebelum pulang." Naruto menatap teman-temannya, menyatakan maksudnya.

"Kenapa tidak bilang dari tadi, kau ingin ku antar?" Kiba menawarkan untuk mengantar Naruto.

"Tidak usah, kalian pulanglah terlebih dahulu. Sebentar lagi jam makan malam, kalian pasti ditunggu. Aku hanya sebentar, lalu aku akan langsung pulang." Sekarang Naruto ingin sendiri.

"Tapi.."

"Sudahlah Kiba, tinggalkan Naruto, toh dia sudah besar." Shikamaru menarik Kiba untuk meninggalkan Naruto.

"Hubungi aku jika kau butuh sesuatu" Shikamaru menatap naruto dengan penuh maksud, yang diiyakan naruto dengan anggukan.

Naruto berjalan tidak tentu arah, dia hanya melangkahkan kakinya tanpa memperhatikan arah yang dituju. Dia sedang ingin mengosongakan pikrannya yang tiba-tiba terasa penuh. Naruto berjalan dengan menunduk, dan tidak terasa hingar bingar suara disekitarnya telah berganti sepi. Naruto berhenti melangkah saat dia menabrak seseorang.

"Ah.. maaf" Naruto mendongakkan kepalanya saat dia melihat lima orang berpakaian preman yang salah satunya telah dia tabrak. Naruto menoleh kesekeliling saat dia menyadari ternyata dia telah berjalan jauh kearah Nakama Timur dan dia sedang berada didepan sebuah bar.

"Heee bocah.. kau kira kau hanya perlu meminta maaf? Kau tahu siapa yang kau tabrak, hah? Kau harus ganti rugi!" Pria paling ujung kiri yang berpakaian norak bermotif bunga bewarna biru mengancam Naruto.

Naruto merasa sial sekali, dia tidak menyangka dia akan berjumpa preman-preman ini hari ini. Naruto sedang berfikir, apakah sekarang adalah hari Naruto akan menggunakan kemampuan beladirinya pada pertarungan jalanan, karena naruto tidak memiliki niat untuk menuruti ppermintaan para preman ini.

"Minggir."

"Berani juga bocah ini." Preman berbaju biru itu tiba-tiba melayangkan tinju kearah Naruto. Naruto menangkisnya dengan reflek yang didapat selama latihan dengan sang kakak.

Seorang lagi ikut melayangkan tinju dan tendangan kearah Naruto, sampai Naruto dikeroyok tiga orangpun, Naruto hanya menghindar. Dia masih tidak yakin untuk memukul orang lain, walaupun orang-orang itu berniat mencelakainya.

Lama-kelamaan ketiga orang itu menyerang Naruto dengan membabibuta. Naruto semakin kesulitan untuk hanya menghindar, namun ia masih juga ragu untuk menyerang. Kemudian keraguan Naruto, membuat sebuah bogem mendarat wajah kirinya membuat ujung bibirnya robek. Rasanya sakit sekali, Naruto menduga ia akan mendapat sebuah pukulan lagi saat ia melihat tinju lain terarah padanya. Namun tiba-tiba orang yang hendak memukul naruto terdorong jatuh ke belakang.

"Jika kau berniat berkelahi, jangan cuma menghindar Dobe" Sasuke Uchihalah yang telah datang dan menendang orang itu menjauhi Naruto.

"Apa yang kau lakukan disini Teme?" Naruto bertanya dengan masih berusaha menghindari serangan yang datang padanya.

"Mengajari seorang Dobe berkelahi." Sasuke melayangkan sebuah tinju yang langsung telak mengenai dagu salah seorang pria. Kedua orang teman mereka yang tadi hanya menonton, langsung ambil bagian saat melihat temannya kewalahan menghadapi bocah-bocah. Sasuke kehilangan focus karena berbicara pada Naruto dan mendapat bogem sebagai hadiahnya.

"Kau tidak perlu mengajariku Teme!"Akhirnya Naruto melayangkan pukulan pertamanya pada pria yang memiliki tindik dihidungnya yang memukul Sasuke.

Kedua pemuda bertenaga monster ini berhasil mengalahkan keempat preman itu, saat ini mereka menghadapi preman terakhir yang masih berdiri.

"Kalian akan mendapat balasan, kalian tidak tahu aku ini anggota A..Buaghh" Naruto dan Sasuke bersama-sama meninju pria itu hingga terpelating dan menjebol jendela bar.

Naruto melihat sekelilingnya dengan puas berhasil menang pada perkelahian perdananya. Tanpa sadar Naruto melihat Sasuke dan tersenyum lebar yang menular dan menaikkan sedikit ujung bibir Sasuke.

"Siapa yang berani-berani mengacaukan Bar milikku." Suara iru begitu berat dan menggetarkan udara disekitarnya.

Sasuke dan Naruto menelan ludah saat melihat orang didepannya. Pria yang baru keluar dari bar itu tinggi, melebihi tinggi Naruto dan Sasuke yang bisa dikatakan jangkung, dan memiliki tubuh berotot yang besar sekali. Jambang pendek kasar. menghiasi dagu pria itu. Namun yang membuat Sasuke dan Naruto horror adalah apa yang digunakan pria itu, pria itu mengenakan pakaian maid berwarna pink dengan rok mengembang, lengkap dengan bando pita pink di rambut pasangan sepanjang punggung. Wajahnyapun lengkap dengan makeup dengan kelopak mata warna ungu dan bibir merah membara.

"Kemari kalian pemuda-pemuda pembuat onar!" bulu kuduk Sasuke dan naruto langsung berdiri semua.

Saat orang itu menerjang maju kearah Naruto dan Sasuke, mereka langsung balik kanan dan lari. Mereka lari dengan kecepatan menakjubkan, mereka berlari seperti nyawa mereka bergantung dari itu.

"TEME KENAPA KAU LARI" disela-sela larinyapun Naruto masih sempat-sempatnya bertanya.

"Alasan yang sama denganmu Dobe!" Naruto dan Sasuke menoleh ke belakang dan mendapati pemandangan mengerikan. Pria pink itu dapat mengimbangi lari mereka meskipun dia memakai hak setinggi 10 cm, Naruto dan Sasuke semakin horror saat melihat tatapan bersemangat dari pria pink itu.

"BERHENTI COWOK-COWOK GANTENG!" Sepertinya motif pria pink itu telah berubah melihat paras buruannya. Pria itu berhasil mencengkram kemeja Sasuke hingga bagian punggungnya robek, Sasuke dan Naruto langsung tancap gas lari sekencangnya.

"Uwaaaa…. Ngak mauuuuuu!" Naruto horror mengdengar itu.

Sasuke menarik Naruto berbelok kekanan dan menjaruhkan kotak kayu untuk menghambar sang pria pink. Saat dirasa jarak mereka lumayan, tiba-tiba Sasuke terjatuh hingga lututnya berdarah. Pria itu semakin mendekat, Naruto melihat Sasuke dan tidak tega untuk menggalkannya. Sasuke mancari akal dalam waktu singkat.

"Ikut aku" Sasuke menarik Naruto dan membawanya ke sebuah peti barang panjang di pinggir jalan. Diangkatnya peti itu dan ditariknya Naruto untuk bersembunyi di bawah peti panjang yang terbalik. Sekarang Sasuke menindih Naruto dan tertutupi peti barang. Waktu mereka tepat sekali karena sedetik kemudian mereka melihat rok pink dari celah di peti mereka.

Mereka tidak berani bernafas, mereka terus memperhatikan pria pink yang terus berjalan hilir mudik mencari mereka. Tiba-tiba pria pink itu menghentakkan kaki kanannya, mirip anak gadis yang sedang ngambek.

"Sialan.. ekeh ngak jadi dapet brondong manis" bulu kuduk Sasuke dan Naruto kembali berdiri.

Saat bunyi sepatu hils pria pink itu menjauh dan tidak terdengar lagi mereka bernafas lega. Sasuke melihat naruto yang berada dibawahnya, tiba-tiba mereka tertawa geli bersama. Beberapa orang yang lewat segera mempercepat larinya saat mendengar tawa namun tidak menemukan orang yang tertawa.

"Hahahaah… ya ampun apa-apan itu tadi" perut Naruto sampai sakit menertawakan nasib mereka.

"Baru kali ini aku lari dari pertarungan." Sasuke tertawa geli.

"Hahaha..ha..ha….." tiba-tiba tawa itu berhenti.

Kini mereka menyadari posisi mereka, rasa canggung menerpa. Tidak ada yang mengeluarkan suara. Mereka saling memandang daram cahaya minim di dalam kotak. Dalam keremangan kotak, Naruto dapat melihat mata Sasuke yang lebih gelap dari apapun disekitarnya sekarang.

Tidak ada yang bergerak, hanya bunyi nafas satu sama lain yang saling menyahut. Rasa hangat tubuh masing-masing menimbulkan rasa yang familiar bagi mereka. Sasuke mendekatkan wajahnya, Naruto sadar saat hembusan nafas Sasuke menjadi begitu dekat. Dan saat Sasuke menautkan bibir mereka, seperti terhipnotis Naruto tidak menghindar, matanya terbuka saat bibir Sasuke memangut bibirnya lembut, Naruto seperti ingin tahu apa yang dilakukan Sasuke padanya.

Sasuke melepas ciuman mereka, dia menatap Naruto yang sepertinya telah terhanyut bersamanya. Sasuke kembali mencium Naruto, kali ini lebih intens, lebih menuntut. Dihisapnya bibir Naruto dengan ketergesaan, dibujuknya mulut Naruto agar lidahnya bisa masuk. Naruto menutup matanya, pikirannya seperti mengawang sekarang. Dibukanya bibirnya yang langsung disusupi libah sang Uchiha yang membimbing lidah Naruto untuk bermain. Rasanya sunguh menakjubkan, terasa darah berdesir setiap kali lidah mereka bertaut. Naruto merasa bagian bawahnya kembali menegang, sadar keadaan Naruto, Sasuke menghentikan ciumannya. Ditatapnya mata yang mulai berkabut, Sasuke kembali memangut bibir Naruto, digesekkannya selankangannya dengan milik Naruto, hal itu menimbulkan gelenyar nikmat bagi mereka berdua. Dia menggerakkanya dengan ritme tetap yang tidak tergesa-gesa, tahu tempat mereka sekarang tidak memungkinkan untuk bergerak bebas.

Naruto membuka mata, dia dapat melihat bagian samping wajah Sasuke yang sedang menciumnya. Ciuman Sasuke beralih kelehernya, dan dalam keremangan serta diantara rasa nikmat yang membutakan, Naruto melihatnnya, dia melihat bekas lipstick di kerah baju Sasuke. Seketika bayangan Sasuke yang mencium Karin melintas dalam benak Naruto. akal sehatnya kembali, dibukanya boks itu dan didorongnya Sasuke dari atas tubuhnya. Wajahnya merah menahan malu dan gairah yang terlanjur terbit. Naruto langsung bangkit tanpa memperdulikan tatapan kaget dari Sasuke.

Naruto langsung beranjak pergi, untuk sesaat Sasuke hampir saja mencegahnya jika saja ia tidak ingat bahwa dirinya juga telah hilang kendali untuk beberapa saat. Sasuke melihat kepergian Naruto hingga pemuda itu hilang dari pandangannya. Sasuke tertunduk dan memijat pangkal hidungnya, merasa sangat bodoh sekaligus konyol.

"Sial" Sasuke mulai mempertanyakan dirinya.

.

.

Masa kini

Itulah yang membuat Naruto kembali kerumah dengan wajah merah dan ujung bibir terlukan, serta menyebabkan penampilan Sasuke acak-acakan.

Sasuke merasa dirinya sudah gila, jelas-jelas dia secara fisik menginginkan Naruto. Dia merasa gila karena memikirnya. Tadi, saat Sasuke melihat Naruto dan kawan-kawannya, Sasuke teringat tuduhan Naruto jika dirinya gay. Dan seperti anak kecil dia mencium Karin untuk membuktikan dia bukan gay. Tapi reaksinya tadi saat mendekap Naruto membuat Sasuke ragu. Dan tanpa sadarpun Sasuke mengikuti Naruto, dia melihat Naruto berjalan sendiri tanpa kawannya dan dengan gila memutuskan untuk mengikutinya. Dia terus mengikuti Naruto dangan menjaga jarak, beralasan pada logikanya jika ia ingin memastikan naruto kembali pulang dengan baik-baik saja dan tidak berakhir seperti terakhir kali pemuda itu keluar malam. Saat naruto mendapat masalah, niatnya Sasuke akan membiarkannya, namun saat pria itu memukul Naruto secara insting Sasuke maju untuk menolongnya.

.

.

Malam itu Naruto kembali bermimpi, dia bermimpi bertemu dengan Sasuke. Namun dalam mimpi Sasuke terlihat lebih dewasa daripada saat ini. Sasuke versi Dewasa menoleh padanya dan tersenyum, itu senyum paling menawan yang pernah Naruto lihat. Senyum itu membawa rasa hangat hingga ke dalam hati. Dan saat pagi, Naruto terbangun dengan air mata yang mengalir, dia ingin melihat senyum itu didunia nyata. Mungkin karena kemarin ia mendengar tawa Sasuke untuk pertama kali, hingga ia memimpikan hal ini.

Pagi ini Naruto merasa linglung, dia masih teringat senyum Sasuke dalam mimpi dan juga kejadian kemarin. Namun rasa tidak menyenangkan juga menyusup di hati Naruto, ingatan tentang ciuman Sasuke dan Karin juga menyebabkan Naruto merasa campur aduk.

Naruto berangkat lebih pagi dari pada biasanya, ini semua karena Kyuubi yang memiliki jam kuliah yang dimajukan. Sesampainya di sekolah, hanya beberapa murid yang telah datang. Naruto berjalan ke kelas dan mendapati Sasuke adalah salah satu yang telah tiba juga. Sasuke berdiri dan melewati naruto yang masih mematung dipintu.

"Ikut aku." Naruto berbalik dan mengikuti Sasuke. Sasuke membawanya ke atap. Seketika memori dirinya terkurung di atap ini bersama Sasuke teringat kembali.

"Kita harus bicara, Namikaze"

"Ya"

"Pertama aku mau mangatakan aku bukan gay" Sasuke menatap lekat Naruto.

"Aku tahu" Setelah kejadian dengan Karin tidak mungkin Sasuke gay.

"Aku juga tahu kau bukan gay"

"….."

"Tapi entah bagaimana aku menginginkanmu, paling tidak tubuhmu. Dan aku tidak punya penjelasan logis untuk itu, dan setelah kemarin aku tahu kaupun begitu." Perkataan Sasuke memang terdengar kejam, tapi Naruto bersyukur paling tidak Sasuke jujur padanya.

"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Naruto tidak dapat menghindar lagi, dia harus menghadapi ini secara langsung. Mungkin hal inilah yang dibutuhkannya dari awal.

"Aku tidak tahu, mungkin ini hanya bersifat sementara, dan akan berakhir nanti. Mungkin kita tunggu saja saat itu." Sasuke tidak tahu bagaimana nantinya, tapi kini mungkin ini akan menjadi hal yang terbaik.

"Kau benar."

"Aku juga tidak ingin kita menjaga jarak, semakin kita terbiasa satu sama lain, mungkin itu akan membantu. Jadi mari mulai lagi awal yang baru Namikaze." Sasuke mengulurkan jabatan tangannya. Dengan sedikit ragu Naruto mengenggam tangan itu..

"Mari memulai awal yang baru Uchiha." Naruto berfikir mungkin ini yang terbaik, mungkin kejadian malam itu saat Naruto mabuk adalah akhir dari mimpi-mimpinya bersama Sasuke. Mungkin dengan mengakhiri mimpi itu dan mengawali semua kembali, mimpinya semalam akan terwujud juga, mimpinya melihat senyum dan pandangan itu pada diri Sasuke.

"Dobe.. larimu sungguh cepat saat dikejar banci." Sasuke tersenyum sinis saat mengatakannya.

"Tidak lebih cepat darimu saat dia berhasil menarik kemejamu Teme."

"Sialan, dasar Dobe"

"Teme." Mereka berfikir mungkin ini yang terbaik.

Ada sepasang telinga lain yang mendengar seluruh percakapan mereka.

.

.

Siang hari setelah selesai kuliah Kyuubi bergegas ke apartemen Itachi, sahabat barunya. Di kedua tangan, terdapat bahan-bahan makanan yang sengaja Kyuubi beli agar nanti Itachi masakkan untuknya. Kyuubi tahu, apartemen Uchiha sulung disamping apartemen adiknya, dia tidak tahu mengapa mereka tinggal terpisah, tapi Kyuubi tidak perduli mungkin karena Itachi tidak tahan hidup dengan permuda brensek itu makanya Itachi memilih tinggal di apartemen sendiri.

Kyuubi memencet tombol bel dengan tidak sabar. Itachi muncul dengan ekspresi muka yang tidak terbaca.

"Tachiii…. Bagaimana kabarmu hari ini?" Kyuubi langsung main selonong masuk bergitu itachi membukakan pintu, berlagak seperti sahabat yang telah kenal bertahun-tahun. Itachi hampir memprotesnya tapi diurungkan. Ingat jika pemuda ini adalah kakak Naruto yang telah dilecehkan oleh adiknya.

"Aku membawakanmu bahan makanan, kau bisa memasakkannya? Kita bisa makan siang bareng." Ada rasa takut untuk kembali makan bersama Kyuubi, takut kejadian kemarin terulang.

"….." Kyuubi meletakkan bungkusan bahan makanan dalam gendongannya. Dia tersenyum lebar sekali hingga Itachi tidak tega menolaknya.

Ini pertama kali Itachi memasak dengan orang yang menemani. Kyuubi duduk manis menunggunya masak dan berceloteh tentang segala macam, mulai teman-temannya dikampus, adiknya, kucing dijalan bahkan tentang sepatu baru Kyuubi yang terasa tidak nyaman dipakai. Itachi mendengarkan dengan sesekali tertawa mendengar cerita Kyuubi, hal ini dirasanya secara mengejutkan menenangkan.

"Pie ku sudah matang?" Kyuubi bertanya saat Itachi mulai menghidangkan makan siang mereka.

"Sudah, aku juga membuat ukuran jumbo" Itachi meulai menata makanan di atas meja.

"Chii kau baik sekali" Kyuubi memandang Itachi dengan berkaca-kaca. Bagi Kyuubi orang yang memberinya makanan enak pastilah orang baik. Itachi yang dipandang seperti itu jadi sedikit malu dan bangga juga.

"Mari makan!" Kyuubi langsung mengambil sepotong Udang yang dimasak Itachi dengan sempurna.

"Nghhhhhh… ini.. enak sekali Chiii.." dan siksaan Itachi dimulai.

Itachi mencoba menenangkan dirinya, untuk sesaat dia kira hal ini tidak akan terjadi. Itachi memejamkan mata dan menarik nafas panjang. Diambilnya karage dan dimakannya. Mencoba tidak menghiraukan suara-suara yang ditimbulkan Kyuubi.

"Ya ampun Chi.. ini enak sekali.. uhhhhhggg… engghhhh….. gede lagi" Kyuubi mengambil Karage yang berukuran paling besar dari yang lainnya.

Itachi mulai berkeringat dingin, sang dedek telah mulai bagun saat mendengar kata gede tadi, sepertinya sang dedek mengira dirinya yang dipanggil gede. Itachi mengambil segelas air dan meminumnya, berusaha menenangkan detak jantung dan aliran daranya yang mulai berdesir kencang.

"Yaa ampun ini lagi, halus banget jadi pengen diemut." Mendengar kata emut, sang dedek mulai blingsatan.

"Nghhhhh Chiiii… gimana ini,…. Ahhh…." Sang dedek mulai meleleh dibawah sana. Tidak tahan lagi Itachi langsung berdiri.

"Aku mau kekamar dulu." Itachi melesat kekamarnya, nafasnya telah tersenggal-senggal. Setelah hari ini dia tidak ingin makan bersama lagi dengan permuda bersurai merah itu. Itachi memandang sang dedek dengan kesal.

"Ya ampun dek, kamu kok bisa keblinger gini sih? Itu bukan suara cewek dek. Kamu jangan tiba-tiba bangun gini dong." Itachi mulai memberi nasehat pada dedeknya.

Tidak punya pilihan lain, akhirnya Itachi mengeluarkan sang dedek dari sangkarnya. Dedek yang terbangun dengan semangat 46, berdiri menantang. Melihat itu, Itachi hanya dapat mendesah pasrah. Itachi mulai mengelus sang dedek, memberinya pijatan ringan sebelum memompanya naik turun. Itachi memejamkan matanya, dia mencari ingatan tentang wanita-wanita berbody aduhai untuk membantunya, namun bayangan pemuda bersurai merah menelusup masuk, erangan-erangan suaranya dan ekspresinya saat makan ternya lebih mampu untuk menyemangati sang dedek. Akhirnya setelah waktu yang agak lama, sang dedek siap menuntahkan laharnya…sedikit lagi…sedikit….tingal diujung…..sedikit…sedikit…yah sidedek cu.."Ceklek".

"Chi aku sudah selesai makan, Pienya aku bawa ya, maaf Kyuu mesti balik ke kampus" Kyuubi masuk kekamar Itachi tanpa permisi, Itachi langsung membatu lupa bernafas dengan tangan masih memegang dedeknya.

"Ah.. ganggu ya Chii, maaf, terusin aja, aku juga mau pulang kok" Kyuubi menutup pintu, sementara Itachi masih membatu menahan nafas.

"Oh iya lupa, makasih makanannya ya Chii, baik banget deh. Satu lagi, yang semangat Chii" Kyuubi kembali masuk kamar dan tak lupa memberi semangat kegiatan Itachi bersama dedeknya. Kyuubi pergi dengan puas setelah makan. Dan Itachi hampir pingsan nahan nafas. Akhirnya suara pintu depan yang terbuka dan tertutup terdengar, Itachi yang mukanya membiru langsung mengambil nafas.

Seluruh tubuh Itachi bergetar, tidak mengerti apa yang barusan terjadi. Itachi mengalihkan pandangannya pada sang dedek, sang dedek yang tadi sendang semangat 46, terlihat langsung lemas tidak bertenaga.

"Dek.. kamu kenapa… dek..dedek!" Panggilan pilu Itachi terdengar kepenjuru kamar. Ternyata sang dedek telah pingsan karena kaget.

.

.

Setelah berbicara dengan Sasuke, pikiran Naruto kosong, matanya menerawang. Bahkan dia yang biasanya memakan makanannya dengan lahap pun terlihat tidak bersemangat. Dia sedang duduk sendirian dikantin, Kiba dan Shikamaru telah kembali terlebih dulu karena di panggil guru. Saat, focus Naruto sedang bergentayangan entah kemana, ada seseorang yang duduk didepannya. Naruto mendongakkan kepalanya, dia menatap Hinata Hyuga disana, tersenyum dengan manis pada Naruto.

Hianta adalah adik Neji yang masih kelas satu, dia adalah primadona penyandang gelar wanita yang paling ingin dinikahi kelak. Naruto telah lama mengenal Hinata, dia mengenalnya sejak Naruto masih kelas 3 SMP dan main ke rumah Neji. Hinata adalah salah satu gadis yang tidak berani Naruto dekati karena tahu betapa protektifnya Neji padanya.

"Siang Senpai, kenapa Senpai terlihat lesu" Hinata menyanggah dagunya dengan telapak tangan, dia benar-benar terlihat manis sekali.

"Tidak apa-apa Hinata, kau sudah selesai makan?"

"Heem" Hinata selalu manis dimata Naruto dan semua lelaki yang pernah mengenalnya.

Andai Naaruto memiliki pacar seperti Hinata dia pasti tidak akan seperti sekarang, bingung dengan perasaan dan kejadian yang menimpanya. Naruto mendesah, dia teringat Karin kekasih Sasuke, Sasuke sangat beruntung karena ada seseorang yang akan membantunya untuk lepas dari perasaan-perasaan aneh yang menimpanya, sedangkan Naruto, dia hanya sendiri. Dengan pikiran yang masih berkabut dan menerawang tiba-tiba Naruto berkata,

"Hinata, mau jadi pacarku?" Semua orang langsung terdiam.

"Mulai lagi pernyataan cinta Naruto"Semua tahu, Naruto adalah orang yang mudah meminta para gadis untuk menjadi pacarnya, namun selalu ditolak karena hobi mesum Naruto, tapi melihat ekspresi ditolak, sungguh lucu bagi mereka. Jadi sekarang semua orang sedang menunggu tolakan dari Hinata dan mereka akan bersama-sama menggoda Naruto nantinya.

"Iya Senpai, Hinata mau"

"EEHHHHHH?" semua orang langsung syok

"Tidak apa-apa Hinata, Senpai mengerti kenapa Hinata tidak mau" Naruto masih belum konek.

"Hinata tidak menolak Senpai, Hinata mau jadi pacar Senpai" Hinata menggengam tanagan Naruto.

"EHHHHHH?" Naruto kaget sendiri. Akhirnya Naruto memiliki pacar untuk pertama kali.

Bersambung….

Omake

Seorang gadis berinisial NL menghampiri Itachi yang telah terduduk

"Chii.. kamu ngak apa-apa chii? Dedek gimana?" sang gadis bingung melihat Itachi yang masih terdukuk tidak bergerak.

"dedek ngak mau bangun, kita bawa kerumah sakit ya Chi ya?" bingung kalau dedek tachi ngak bangun-bangun. Tachi menatap NL.

"Gue berhenti main di cerita lo" Itachi pergi dengan harga diri hancur

"BANGGG TACHIIIII… CERITA SAYA GIMANA BANGGGGG!"

The End

Chap ini lebih serius ya? emang sengaja, soalnya sudah mau bangun konflik hahahaha…. Untuk upadate selanjutnya habis lebaran plus liburan, soalnya ada proyek untuk SN Days yang masih harus dikerjakan, tapi sebelum lebaran Nisaa akan update 1 lagi yaitu My Only chap 4, sekalian buat THR kalian hehehe Nisaa baek kan #plak C U SOON