I Don't Own the Characters. Copyright : Mangaka Eyeshield 21

Original artwork of cover book is not mine. Just Modified it.

Diyari De Present : If You Love Me, Let Me Get You Back ( Trilogi If You Love Me - Final )

Sangat disarankan untuk membaca kedua cerita yang sebelummnya :

1. If You Love Me, Let Me Know

2. If You Love Me, Let Me Stay

.

.

Epilog

.

.

Satu setengah bulan kemudian...

.

So impossible as they may seem. You've got to fight for every dream. 'Cause who's to know which one you let go. Would have made you complete.

Hiruma berdiri sendirian di depan altar. Entah apa yang membuatnya terus melihat ke jam tangan. Tapi saat ini dia merasa gelisah. Hiruma melirik ke sebelah kirinya. Tiga pria yang menjadi pendamping pernikahan. Ada Musashi, Sena, dan Kurita.

Kurita memamerkan cengirannya, sementara Sena tersenyum. Musashi sendiri hanya menganggukan kepala dan tersenyum kecil, seolah meyakinkan Hiruma kalau semuanya akan berjalan lancar. Karena hanya Musashi yang bisa melihat kegelisahan Hiruma saat ini.

Hiruma membalikkan badannya karena sang pendeta memintanya. Hiruma akan menikah hari ini. Dia tidak pernah merasa segugup ini. Dia mencoba mengingat apa yang harus dia katakan nanti di depan pendeta. Musashi bilang, Hiruma hanya harus berkata 'saya bersedia'. Ya. Cuma itu. Tapi rasanya otak Hiruma tidak berjalan bersamaan dengan mulutnya.

Hiruma berdeham untuk menghilangkan kekakuan suaranya.

Hiruma mengingat lagi kalau dia akan menikah hari ini. Tepat hari inilah Mamori akan resmi menjadi miliknya, istrinya. Satu-satunya wanita yang Hiruma cintai. Satu-satunya wanita yang Hiruma perjuangkan.

.

.

Well, for me it's waking up beside you. To watch the sunrise on your face. To know that I can say I love you. At any given time or place.

Hiruma mendongak saat pintu terbuka. Hiruma melihat Mamori berjalan ke arahnya. Mamori tersenyum. Cantik. Hiruma selalu mengatakannya dalam hati. Dia selalu mengagumi kecantikan Mamori setiap saat dia memandangi wajahnya.

Waktu seolah berjalan lambat. Setiap langkah Mamori seolah wujud dari mimpi Hiruma selama ini. Karena sebentar lagi impiannya akan terkabul. Dia bisa bersama Mamori. Dia bisa terbangun di pagi Hari bersamanya. Memandangi sinar matahari dari wajahnya. Dan dia akan mencium kening Mamori dan membisikkan cintanya. Hiruma bersyukur atas apa yang sudah dia dapatkan.

.

.

It's little things that only I know. Those are the things that make you mine. And it's like flying without wings. 'Cause you're my special thing.

Hiruma meraih tangan Mamori saat dia akan naik ke altar. Mereka berdiri berdampingan. Hiruma terus memandangi Mamori sampai Mamori menoleh dan tersenyum kepadanya.

"Youichi, dengarkan pendetanya mau bicara," ujar Mamori.

"Kau cantik."

Mamori menoleh lagi ke Hiruma yang sudah memalingkan wajahnya ke pendeta. Dua kata itu berhasil membuat wajah Mamori merona seketika. Mamori lalu berdeham dan kembali fokus mendengarkan.

"Saya bersedia," ujar Hiruma.

Kali ini pendeta bertanya kepada Mamori pertanyaan yang sama. Mamori lalu tersenyum dan menjawab. "Ya. Saya bersedia."

Hiruma menghela napas lega. Tidak sulit walaupun dia tetap merasa gugup.

"Sudah selesai?" ujar Hiruma pelan namun Mamori masih mendengarnya.

"Belum. Kita harus bertukar cincin. Dan kamu harus menciumku. Apa kamu tidak mendengarnya?" keluh Mamori. Menggelengkan kepala melihat kelakuan Hiruma.

Hiruma melihat Suzuna mengantarkan cincinnya. Mereka lalu saling memasangkan cincin. Mamori tersenyum manis memandangi Hiruma, sementara Hiruma menggenggam kedua tangan Mamori. Hiruma mendekatkan wajah mereka dan mencium kening Mamori. Kemudian berlanjut turun mencium bibirnya.

"Kurasa ciuman di kening itu tidak harus," bisik Mamori saat mereka melepaskan ciumannya.

"Aku mau," balasnya lalu mengecup bibir Mamori lagi.

Hiruma meraih tangan Mamori dan memasukannya ke lengan Hiruma. Mereka berjalan beriringan melewati tamu. Hiruma tidak pernah merasa sebahagia ini. Karena Mamori adalah kebahagiaannya.

"Sekarang kau sudah sah jadi istriku?" bisik Hiruma.

Mamori menoleh. "Ya. Tentu saja," jawabnya, lalu tersenyum. "Dan kamu suamiku."

.

.

And you're the place my life begins...

And you'll be where it ends...

.

.

Dua hari setelah resepsi pernikahan...

"Kyoto?"

Hiruma menutup laptopnya dan meletakkannya di meja. Dia lalu kembali ke tempat tidurnya. "Ya..."

"Kenapa?" tanya Mamori, duduk di kursi rias sambil menyemprotkan sprai ke wajahnya.

"Aku rasa itu tempat yang bagus untuk bulan madu."

Mamori melihat Hiruma dari cermin di depannya. "Semua tempat itu bagus. Tapi kenapa memilih kesana? Aku lebih suka Hokaido."

"Karena disanalah pusat kebudayaan Jepang yang sesungguhnya," jawab Hiruma. "Kau bawel."

Mamori membalikkan badan dan sekarang dia duduk menghadap Hiruma, mendapati jawaban yang begitu asal dari mulut Hiruma. Sesaat Mamori baru tersadar, dia terperanga tidak percaya mendapati Hiruma yang berbaring menyandar di tempat tidur "Kau mau tidur telanjang?"

"Aku pakai celana panjang," jawabnya asal lagi, karena sudah pasti Mamori bisa melihatnya.

"Apa kamu tidak kedinginan?" tanyanya lagi mengingat kamar Hiruma memakai ac.

Mamori lalu naik ke atas tempat tidur.

"Kukira kau suka melihatku seperti ini, heh," balasnya dengan penuh percaya diri.

Mamori memukulkan bantal ke wajah Hiruma dan dengan cepat dia sudah duduk di atas tubuh Hiruma. Dia menunduk mencium hidung Hiruma dan tersenyum manis kepadanya.

"Sekali lagi?" ajak Hiruma melingkarkan tangan di pinggul Mamori.

"Ya ampun Youichi... Aku baru saja selesai mandi."

Hiruma menarik turun leher Mamori dan mendapati bibirnya. Dia menciumi bibir, pipi, dan leher Mamori dengan puasnya. "Kalau begitu jangan menggodaku, bodoh," bisiknya di telinga Mamori lalu kembali mencium leher Mamori lagi. Menikmati aroma tubuhnya.

"Ya yaa...," pasrah Mamori tertawa dan menarik diri dari belenggu Hiruma.

Namun Hiruma menahannya dan memeluk Mamori kembali di atas tubuhnya.

"Apa aku pernah bilang kalau aku bersyukur kau ada dalam hidupku, hem?" tanya Hiruma, menatap lekat-lekat ke bola mata Mamori.

Mamori menggeleng dan tersenyum.

"Aku sangat bersyukur kau datang padaku, Saat kau nyatakan perasaanmu dan kau tetap mengejarku walaupun aku selalu ketus padamu."

Mamori memberengut. "Jangan ingatkan aku soal itu. Aku malu," protesnya.

Hiruma mengelus rambut Mamori yang jatuh di pipinya. "Walau begitu, kau harus tahu kalau akulah yang lebih dulu mencintaimu sebelum kau menyatakan perasaanmu."

"Aku tahu," balas Mamori percaya diri. Dia melihat tanda tanya di wajah Hiruma. "Dulu teman-temanku bilang siapapun yang melihat kita bersama bisa tahu kalau kau suka padaku. Jadi aku katakan saja perasaanku."

"Lalu apa kau juga bisa melihatnya?" tanya Hiruma.

Mamori tersenyum. "Ya. Sangat jelas. Aku bisa melihatnya dari matamu kalau kau sangat mencintaiku, Youichi."

Hiruma menangkap bibir Mamori dan mengecupnya lembut. Hiruma tidak perlu kata-kata lagi untuk mengungkapkan rasa cintanya. Dia tahu Mamori adalah wanita pilihannya. Wanita yang tidak akan menyerah terhadapnya.

"Kita tidur saja?" ajak Hiruma, menggulingkan tubuh Mamori sehingga berbaring di sebelahnya.

"Hm," angguk Mamori mengiyakan. "Dan sebagai permintaan maaf, aku akan tidur sambil memelukmu malam ini agar kamu tidak kedinginan."

"Dengan senang hati."

Hiruma menarik Mamori ke dalam pelukannya dan menaikkan selimut sampai ke pundak Mamori. Mamori tersenyum mencium aroma sabun dari tubuh Hiruma. Dia lalu merapatkan tubuhnya sambil mengecup pipi Hiruma.

"Selamat tidur, Youichi."

Hiruma membalas dengan mencium kening Mamori lembut.

.

.

END

.

.

Terima kasih semuanya yang telah mengikuti cerita ini sampai akhir.

Maaf tidak bisa membalas satu per satu review kalian, tapi percayalah.. Saya sangat senang kalian selalu menulis dan setia menunggu cerita ini sampai akhir. Karena kalian saya jadi tetap semangat untuk menulis.

Doakan semoga saya cepat-cepat punya ide untuk menulis cerita baru.

Sampai jumpa di lain cerita walau saya tidak tahu kapan akan comeback dengan cerita baru. Semoga secepatnya.

Terima kasih sekali lagi semuanyaaa...

.

.

Salam : De