Disclaimer: Yoshihiro Togashi
...
Precious Lie
Chapter 7: His Personal Library
...
Warning: OOC, AU, femKura, maybe typo(s), kisah ini hanyalah FIKTIF BELAKA.
OoO
Siang itu matahari tidak menampakkan wujudnya. Hawa dingin menyelimuti kota London di bulan Desember, angin musim dingin berhembus menembus mantel-mantel tebal. Namun semua itu tidak menyurutkan niat warga kota London untuk menyempatkan diri datang ke Paddington Library. Termasuk gadis berambut pirang yang tengah duduk menekuni buku-buku di mejanya di salah satu pojok ruangan. Sudah dua jam gadis itu menghabiskan waktu di Paddington Library. Sejak pagi-pagi sekali gadis itu sudah pergi keluar rumah, tentu saja bersama supirnya Tom. Kakak laki-lakinya takkan pernah mengizinkan gadis itu keluar rumah tanpa ada yang mengawasi. Ia sudah menjejakkan kakinya di Notting Hill Gate Library pukul setengah 10 pagi. Setelah menelusuri rak demi rak, lembar demi lembar, dan yakin ia tidak menemukan apa yang dicarinya, gadis itu segera keluar. Paddington Library adalah perpustakaan kedua yang dikunjunginya di hari Sabtu itu.
Sudah beberapa minggu belakangan ini Kurapika mengelilingi kota London untuk berkelana dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain. Ia hanya bisa melakukannya di hari Sabtu, karena ia sibuk dengan aktivitas sekolahnya dari hari Senin hingga Jumat. Sementara rata-rata perpustakaan tutup di hari Minggu. Semua ini bermula 2 minggu setelah Kurapika 'diculik sebentar' oleh pria-nyentrik-aneh-entah-siapa-apapun-itulah yang menceritakan sebuah legenda tidak masuk akal pada gadis manis itu. Tentu saja, kalau dipikir jernih lebih baik diabaikan saja cerita aneh seperti itu. Namun gadis itu berfirasat lain, ia tidak mengatakan cerita itu benar atau tidak, ia hanya merasakan ada sesuatu dibalik legenda itu. Apakah berhubungan dengan dirinya atau tidak, ia belum pasti. Hanya saja dia ingin mencari tahu, petunjuk sekecil apapun, tentang keabsahan legenda tersebut. Jadilah Kurapika meminta izin pada kakaknya untuk ke perpustakaan setiap akhir pekan, dengan alasan untuk kepentingan bahan tugas sekolahnya. Untungnya, kakak laki-lakinya percaya namun dengan syarat ia hanya boleh pergi dengan ditemani Tom, supir keluarga mereka. Kurapika tidak masalah selama dia bisa leluasa memeriksa buku-buku di perpustakaan.
Namun sayangnya, sepertinya hasil pencarian Kurapika siang hari ini berbuah hasil yang sama: nihil. Gadis itu menutup buku terakhir di meja bacanya sambil menghela napas. Ia memandang keluar jendela, memperhatikan jalan yang terpampang di hadapannya.
Rasanya seperti ingin menyerah dan menelan kenyataan bahwa legenda yang diceritakan pria itu memang hanya omong kosong. Kurapika sudah memeriksa berbagai judul buku tentang sejarah, kebudayaan, legenda-legenda kuno, dan semua yang paling mungkin dapat ia temukan namun hasilnya tidak sesuai harapan. The British Library, St. Bride Library, City Business Library, Redbridge Central Library, London Metropolitan Archives, The National Archives, Holborn Library, Kensington & Chelsea Central Library, Westminster Reference Library… oh, ayolah, dimana lagi dia harus mencari? Semua perpustakaan dengan koleksi buku dan arsip sekian banyaknya namun tidak ada satupun buku yang memberikan informasi yang dia perlukan. Apalagi kalau bukan legenda itu hanya bualan?
Tidak, tidak… belum. Masih banyak perpustakaan di kota London. Masih banyak buku yang belum kuperiksa. Pasti ada. Kalaupun tidak ada, aku akan menyerah, namun itu setelah aku mencari hingga pelosok London. Aku belum boleh menyerah sekarang.
Gadis itu bertekad. Begitulah, tidak mudah mematahkan hasrat ingin tahu Kurapika yang besar. Gadis itu bisa menjadi sangat keras kepala jika berkaitan dengan keinginannya yang harus dipuaskan.
Kurapika beranjak dari kursinya, membiarkan buku-buku yang dipinjamnya tersusun rapi di meja. Sudah peraturan buku-buku yang dipinjam cukup diletakkan di atas meja, maka karyawan di perpustakaan akan mengembalikan buku-buku itu ke tempatnya. Gadis itu mengenakan kembali mantel krem dan fedora hat-nya yang berwarna senada. Ia mengambil ponsel dan menghubungi Tom, meminta pada laki-laki itu untuk menjemputnya. Masih pukul dua siang. Kurapika berniat mengunjungi The London Library sebelum pulang, ia masih ada waktu hingga perpustakaan tutup pukul 5 sore.
Mandi air hangat adalah hal yang menyenangkan setelah seharian berkeliaran di kota London yang dingin. Meskipun menaiki mobil dan sebagian besar waktunya dihabiskan di dalam perpustakaan yang hangat, tetap saja air hangat terasa sangat menyegarkan setelah hari yang melelahkan.
Kurapika duduk di tepi kasur empuknya, mengeringkan rambut lembabnya dengan handuk. Sejenak kemudian ponselnya berdering. Gadis itu meraih smartphone-nya yang bergetar di tengah kasur. Setelah melihat nama peneleponnya, Kurapika tersenyum dan mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, Senritsu?" sapa Kurapika.
"Kurapika! Besok ada pertandingan basket tim cowok sekolah kita melawan sekolah lain! Ini final, loh! Apakah kau mau datang?" tanya Senritsu dengan heboh.
Kurapika tersenyum lemah sebelum menjawab, "Sepertinya tidak, Senritsu. Maaf. Sepertinya besok aku tidak diizinkan menonton pertandingan itu oleh kakakku," tolak Kurapika dengan halus.
"Yaaahh…" terdengar nada kecewa dari suara Senritsu di seberang telepon. "Jangan bilang hari ini kau pergi seharian ke perpustakaan lagi?" selidik sahabatnya itu.
"Hmm… iya, hehe."
"Aaaahh… kau ini, sudah berapa bulan kau seperti ini? Akhir pekan dihabiskan untuk ke perpustakaan! Setiap kali aku mengajakmu pergi di hari Sabtu kau pasti menolak karena mau ke perpustakaan. Aku tahu kau gila membaca, tapi dulu kau tidak begini amat. Kalau alasanmu karena mencari bahan tugas karya ilmiah dari Mr. Smith, apa kau tidak terlalu bersemangat? Ayolah, Kurapika. Kau hampir tidak ada waktu untukku lagi di akhir pekan," protes Senritsu panjang lebar.
Kurapika menahan tawa mendengar komentar panjang lebar sahabat terbaiknya itu. "Bukan berapa bulan, baru beberapa minggu saja kok. Apa boleh buat, aku sedang semangat ke perpustakaan dan kurasa itu satu-satunya tempat yang diizinkan kakakku untuk aku kunjungi. Kau tahu sendiri semenjak kejadian itu sulit mendapatkan izin keluar rumah dari kakak," jelas Kurapika.
Tentu saja Senritsu tahu tentang kejadian Kurapika di stasiun kereta tersebut, bahkan gadis berambut merah itu tahu hingga ke semua yang dikatakan oleh pria aneh itu, sesuatu yang Kurapika belum ceritakan kepada kakaknya. Setelah menceramahi Kurapika panjang-lebar untuk lebih berhati-hati, Senritsu juga harus menerima Mr. Lucifer akan lebih protektif terhadap Kurapika setelah kejadian tersebut.
"Baiklah, baiklah, aku mengerti." Senritsu menghempaskan tubuhnya di kasur kamarnya yang besar. Menyerah dengan pembelaan sahabatnya itu. "Tapi, di libur musim dingin nanti pokoknya kau harus pergi denganku!" tegasnya.
"Iya, iya," jawab Kurapika. Gadis itu ingat setiap liburan musim dingin mereka suka menghabiskan waktu bersama. Biasanya orang tua Senritsu yang bekerja sebagai musisi dan patissier profesional sibuk di libur natal dan tahun baru, sehingga tidak ada acara liburan keluarga. Dengan kesibukan Kuroro, Kurapika juga tidak kemana-mana di liburan musim dingin. Jadilah mereka berdua suka pergi ke pusat berbelanja, sekadar minum teh enak dan kue lezat di kafe, atau mengobrol sepuasnya di kamar Kurapika.
Tok Tok Tok
"Ya, masuk!" sahut Kurapika yang mendengar suara pintu kamarnya diketuk.
Seorang pelayan berambut pendek masuk ke dalam kamarnya. "Nona, sudah waktunya makan malam."
"Ya, Mary," jawab Kurapika pendek. Gadis itu kembali berbicara di ponselnya. "Senritsu, aku makan malam dulu, ya. Sampai jumpa di sekolah."
"Oke! Sampai jumpa," balas Senritsu sambil menutup teleponnya.
Kurapika meletakkan ponselnya di kasur, lalu beranjak mendekati Mary. "Apa kakak sudah di bawah?" tanyanya.
"Belum, Nona Kurapika. Tuan Besar masih di ruang kerjanya, tadi saya kesana masih sibuk menelepon seseorang. Namun saya sudah mengabarkan makan malam sudah siap," jelas Mary.
"Oh, well. Baiklah."
Gadis berambut pirang itu turun ke ruang ke ruang makan dengan diikuti Mary. Di ruang makan para pelayan sudah menunggu, meja makan juga sudah dipenuhi dengan hidangan makan malam yang terlihat lezat. Kurapika duduk di salah satu kursi, menolak makan hingga kakaknya turun. Beberapa menit kemudian Tuan Besar datang dengan langkahnya yang tenang, duduk di kursi yang berhadapan dengan adiknya.
Beberapa saat kemudian terdengar denting garpu dan pisau.
"Kakak," sapa Kurapika.
"Ya?"
"Libur natal dan tahun baru ini… apakah kakak bekerja?"
"Ya, Kurapika," jawab Kuroro. "Maaf, aku tidak bisa menemanimu berlibur."
"Tidak, tidak apa-apa! Sungguh. Aku hanya bertanya, dan aku bisa menghabiskan liburku untuk bermain bersama Senritsu. Seperti tahun lalu," jelas Kurapika.
"Mungkin aku akan pergi keluar kota selama beberapa hari, tapi selebihnya aku akan berada di London. Kau boleh pergi dengan temanmu, tapi tetap ditemani oleh Tom. Aku lebih setuju kalau temanmu saja yang datang ke rumah ini untuk bermain denganmu," kata Kuroro.
"Iya, aku mengerti," jawab Kurapika pendek. Dia sudah menduga dia tidak mungkin bisa seperti tahun lalu, menikmati berjalan-jalan di kota London naik kereta bawah tanah atau bus, atau berjalan kaki hingga pegal. Setidaknya masih lebih baik daripada dia dikurung di rumah tidak diizinkan keluar sama sekali.
"Bagaimana dengan tugas karya ilmiahmu?"
Deg.
Jantungnya serasa berdetak lebih kencang. Kurapika mencoba menenangkan dirinya. "Ya… baik."
"Baik?"
"Maksudku, ya, baik. Aku menemukan banyak bahan bagus di perpustakaan. Tapi sedikit susah mencari yang kuinginkan, jadi aku berpindah-pindah perpustakaan," jelas Kurapika sambil menyuapi makanan ke mulutnya. Berusaha sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan kakaknya.
"Begitu."
Untunglah Kuroro hanya berespon pendek. Kalau gadis itu membiarkan Kuroro menatap matanya, kakak laki-lakinya itu seratus persen bisa mendeteksi kebohongan Kurapika. Semua alasan tentang mencari bahan tugas karya ilmiah jelas hanya dibuat-buat, Kurapika sudah mendapatkan semua bahan yang dia butuhkan untuk tugas sekolahnya itu. Sebentar lagi juga tugas itu rampung, walaupun tugas itu dikumpulkan di akhir bulan Januari.
Gadis pirang itu berusaha mengalihkan pembicaraan selama sisa waktu makan malam mereka. Berdoa dalam hati semoga kakak laki-lakinya tidak menyadari keanehan yang barangkali dia timbulkan.
Mata birunya menatap kecewa. Gadis itu baru saja sampai di sebuah perpustakaan di 181 King Street, namun Hammersmith Library sedang dalam perbaikan yang diperkirakan sampai musim panas tahun depan.
Sabtu itu seperti biasa, Kurapika berencana mengelilingi perpustakaan lagi. Tapi pagi tadi dia keasyikan menyelesaikan tugas karya ilmiahnya. Baru siang itu dia pergi keluar, namun perpustakaan yang diincarnya hari itu ternyata tutup. Ia menatap perpustakaan dibalik jendela kaca mobilnya itu sekali lagi, salju sedang turun di luar. Lalu dia menyuruh Tom untuk menjalankan mobil. Barangkali dia akan ke perpustakaan lain.
Ponsel Kurapika berdering. Gadis itu meraih saku mantelnya dan mengeluarkan benda yang bergetar itu. Melihat nama peneleponnya ia segera mengangkat.
"Halo, kakak?"
Selama beberapa menit Kurapika terlibat pembicaraan dengan kakaknya. Kemudian gadis itu menutup telepon sambil menghela napas.
"Tom," panggilnya.
"Ya, nona?"
"Kita pulang."
"Tidak ke perpustakaan lagi, nona? Sepertinya ada perpustakaan yang belum nona kunjungi di dekat sini…"
"Tidak, Tom. Kita pulang saja. Kakak menyuruhku pulang," balas Kurapika.
Setelah mendengar Tuan Besar disebut, Tom tidak berkata apa-apa lagi dan menjalankan mobil ke arah jalan pulang. Sementara itu Kurapika mengalihkan pandangannya ke jendela mobil. Menatap orang-orang yang berlalu-lalang dan toko-toko di sepanjang jalan. Kota ini semakin memutih karena salju yang turun. Diperkirakan sore ini salju akan turun dengan deras, musim dingin sedang melangkah ke puncaknya. Karena alasan itu Kuroro menyuruhnya pulang saja. Kurapika menurut walaupun sedikit enggan.
Yah, setidaknya libur musim dingin sudah dimulai. Aku punya banyak waktu luang untuk ke perpustakaan.
Hiburnya dalam hati.
Pukul satu siang Kurapika sudah duduk manis di ruang tamu. Tidak ada tamu yang akan datang berkunjung, gadis itu hanya sedang bosan di kamarnya. Jadilah dia menikmati teh hangatnya di ruang tamu sambil membaca buku. Dari ruang tamu dia bisa melihat ke jendela kaca besar yang menampilkan sepertiga bagian taman rumahnya. Salju semakin menumpuk.
Kalau sedang duduk sendirian seperti ini, pikiran gadis itu akan kembali melayang ke pria aneh dengan kisah legenda itu. Sudah berulang kali ia mencoba untuk tidak terlalu memikirkannya, namun sulit sekali rasanya. Dia terlalu penasaran.
Rasanya gadis itu tidak mau duduk tenang. Dia ingin melangkahkan kakinya dari satu rak buku ke rak lainnya, dia ingin menggerakkan jari-jemarinya menelusuri lembar demi lembar buku. Dia tidak mau buku lain, dia hanya mau buku-buku seputar sejarah, legenda, atau kisah fiksi sekalipun yang berhubungan dengan legenda itu! Oh, tapi apa boleh buat. Tidak mungkin dia keluar rumah diam-diam, dia tidak ingin pelayan di rumah mendapat masalah gara-gara dirinya.
Mata birunya yang indah menatap hampa pada cangkir teh yang telah kosong. Beberapa saat kemudian serasa ada lampu yang bersinar terang menerangi pikirannya yang gelap, gadis itu tiba-tiba berdiri dari sofa empuknya.
"Perpustakaan pribadi kakak! Oh, kenapa aku tidak mencari disana? Walaupun kemungkinannya kecil, tidak ada salahnya aku mencoba!"
Gadis berambut pirang itu segera beranjak dari ruang tamu. Dia baru saja teringat tentang perpustakaan pribadi kakaknya. Tentu saja dia sudah memeriksa perpustakaan di rumahnya, itu tempat pertama yang didatanginya. Namun hasilnya nihil. Ia sempat terpikir untuk ke perpustakaan pribadi kakaknya yang berada di dalam ruang kerjanya. Tapi gadis itu mengurungkan niat karena waktu itu kakaknya sedang sibuk di ruang kerja tersebut dan ia kira isi perpustakaan itu hanya buku-buku bisnis.
Setelah sampai di depan ruang kerja kakaknya, gadis itu menoleh ke kanan dan kiri. Memastikan tidak ada pelayan yang melihatnya masuk ke dalam ruang kerja kakaknya. Setelah menyelinap masuk ke ruangan yang tidak dikunci itu, gadis itu menutup pintu dengan sangat perlahan. Lalu ia melihat sekeliling ruangan kerja yang cukup luas tersebut. Sebuah ruangan yang rapi, walaupun kertas-kertas dan map menumpuk tinggi di meja kerja yang terbuat dari kayu mahal yang dilapisi kaca di permukaannya, dan dokumen-dokumen yang hampir menutupi komputer di tengah meja. Sebuah jas hitam tergantung di office chair yang terbuat dari kulit, meskipun ada coat hanger stand berdiri menganggur di sudut ruangan. Buku-buku tersusun rapi di rak-rak yang menutupi dinding ruangan. Aroma ruangan ini sangat khas wangi Kuroro.
Kurapika teringat waktu kecil dia sangat suka bermain di ruangan ini, tidak peduli dengan banyaknya mainan yang telah dibelikan oleh Kuroro di kamarnya. Karena Kuroro selalu menghabiskan banyak waktunya di ruang kerjanya jika sedang di rumah, kecuali sedang libur.
Namun bukan ruangan ini tujuan utama Kurapika. Meskipun banyak buku-buku di rak ruang kerja ini, buku-buku itu hanya berisi tentang bisnis dan ekonomi. Tujuan Kurapika adalah sebuah ruangan yang hanya bisa dimasuki melalui ruang kerja ini. Perpustakaan pribadi kakaknya. Pintu untuk mengakses ruangan itu terletak di salah satu sudut ruangan, tertutupi rak buku jika dilihat dari pintu masuk ruang kerja. Dengan penuh harap gadis itu meraih kenop pintu, berdoa semoga pintunya tidak dikunci.
Cklek.
Pintu terbuka. Gadis itu menghela napas lega.
Kurapika memasuki ruangan dan menutup pintu dengan perlahan. Gadis itu langsung disambut dengan harum buku-buku. Kurapika meraih saklar dan menghidupkan lampu. Perpustakaan pribadi itu ruangan yang berbentuk melingkar, tidak begitu besar, namun buku-buku yang berada di ruangan itu cukup banyak. Perpustakaan yang ada di mansion keluarga Lucifer ada dua, satu di lantai bawah dan satu lagi yang berada di dekat ruang kerja Kuroro. Perpustakaan di lantai bawah lebih besar dan lebih lengkap, terdapat buku-buku milik Kuroro dan buku-buku Kurapika (yang rata-rata dibelikan Kuroro). Sementara perpustakaan yang berada di balik ruang kerja Kuroro khusus berisi koleksi pribadi Kuroro. Biasanya buku-buku tua dengan bahasa kuno yang tidak dipahami Kurapika. Bukannya tidak tertarik, namun Kuroro selalu menyuguhkan buku-buku yang lebih menarik perhatian Kurapika daripada mengutak-atik buku-buku di perpustakaan itu, makanya dia jarang ke perpustakaan tersebut.
Kurapika masih ingat, diantara rak-rak buku yang menutupi seluruh dinding ruangan ada sebuah tangga untuk meraih buku-buku yang berada di rak yang tinggi, tangga itu juga bisa digunakan untuk naik ke sebuah loteng kecil. Karena di rumah keluarga Lucifer ada sebuah menara yang cukup tinggi yang dibangun menempel ke bagian rumah. Di menara itulah perpustakaan pribadi Kuroro berada, dan loteng kecil itu merupakan bagian dalam puncak menara. Di loteng itu kecil itu ada sebuah jendela yang memberikan pemandangan indah kota London. Sewaktu kecil, Kuroro pernah mengajak Kurapika naik ke tempat itu. Kurapika kecil terkagum-kagum melihat pemandangan dari jendela loteng. Kurapika tersenyum mengingatnya, ia jadi ingin naik ke loteng sebentar.
Gadis itu mencari tangga dan setelah menemukannya, dengan hati-hati ia menaiki tangga tersebut. Setelah mencapai loteng, ia tersenyum senang melihat loteng kecil yang masih sesuai dengan ingatannya. Pemandangan dari jendela itu juga masih sama indahnya. Kedua bola mata biru Kurapika berbinar senang. Setelah mengagumi pemandangan dari jendela selama beberapa saat, gadis itu kembali teringat tujuan awalnya. Ia meraih ponsel di saku celana jeans-nya, masih ada waktu sebelum kakaknya pulang. Ia tidak ingin dipergoki sedang berada di ruangan ini, Kurapika tidak berminat mengarang alasan lagi. Gadis itu segera turun dari loteng, merapikan sweater tebalnya dan memulai pencarian. Sejenak kemudian gadis itu sudah sibuk dengan buku-buku di perpustakaan tersebut.
Satu jam berlalu.
Kurapika menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Alisnya saling bertaut. Jari-jarinya memilin rambut pirang panjangnya, kemudian dengan kesal ia menarik rambutnya sendiri.
"Aduh!"
Gadis itu melepaskan helaian rambut dari jari-jarinya, merasa bodoh telah menyiksa diri sendiri. Dengan wajah putus asa ia mengembalikan buku untuk kesekian kalinya kembali ke rak. Tidak ada satupun kalimat yang ia pahami. Tidak satupun bahasa yang ia kenal. Kalau bahasa Inggris, Inggris lama, Perancis atau Jerman dia masih bisa paham. Tapi bahasa kuno ini? Seharusnya dia sudah tahu buku-buku di dalam perpustakaan ini hanya kakaknya yang entah belajar dimana yang bisa memahaminya. Ya, kakaknya. Bukan dirinya. Mungkin seharusnya dulu dia minta diajari bahasa-bahasa kuno ini.
Kurapika menghela napas. Mungkin memang dia tidak akan mendapatkan informasi di perpustakaan ini.
Gadis itu beranjak dari posisinya, tanpa sengaja ia terpeleset dan kakinya menendang buku-buku di rak paling bawah. Malangnya Kurapika jatuh terduduk di lantai. Antara kaget bercampur sakit, gadis itu meringis.
DREEEEEKKKK…
Kurapika tersentak mendengar sebuah suara sesuatu yang bergeser. Gadis itu terpana. Buku-buku yang ditendangnya masuk ke dalam rak, dan rak-rak buku di hadapannya bergeser membuka sebuah celah kosong yang tampaknya hanya cukup dilewati satu orang. Tidak percaya dengan penglihatannya, gadis itu mengerjapkan matanya berkali-kali. Antara takut dan penasaran, gadis itu mencoba berdiri. Kakinya gemetar. Pelan-pelan ia menghampiri celah gelap itu. Ternyata celah itu membuka akses ke bawah, ia melihat ada tangga yang bisa membantunya turun. Namun di bawah gelap sekali, ia nyaris tidak bisa melihat apapun kecuali bagian atas tangga tersebut.
Kurapika menelan ludah. Mata birunya menyiratkan kengerian, kakinya masih gemetar. Tapi dia sangat ingin tahu dengan apa yang ada di bawah sana. Oh, betapa rasa ingin tahu rasanya mampu membunuhmu.
Tidak apa-apa, Kurapika. Kau gadis yang berani. Ini rumahmu. Tidak akan ada apapun yang aneh di bawah sana. Ayo, Kurapika.
Gadis itu memberanikan diri. Dengan berbekal tekad yang kuat, Kurapika mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Mengaktifkan fungsi senter ponsel itu. Gadis itu mengarahkan cahaya ke bawah, lalu pelan-pelan ia menuruni tangga dengan sangat hati-hati.
Setelah menjejakkan kakinya ke lantai, gadis itu mengarahkan cahaya dari ponselnya ke seluruh penjuru ruangan. Ukuran ruangan itu sama dengan perpustakaan pribadi kakaknya. Ia mencium bau yang sangat dikenalnya, bau buku. Mungkin buku-buku tua. Sepanjang penglihatannya dengan cahaya yang minim, ia hanya melihat rak-rak yang dipenuhi buku.
Perpustakaan rahasia.
Gadis itu terhenyak dengan pikiran yang terlintas di benaknya. Ia tidak melihat pintu maupun jendela di ruangan ini. Maka satu-satunya akses ke ruangan ini adalah celah dari perpustakaan pribadi kakaknya. Bahkan celah itu dibuka dengan mendorong beberapa buku yang terletak di rak paling bawah, walaupun Kurapika melakukannya tanpa sengaja. Kakaknya tidak pernah menunjukkan ruangan ini padanya. Apakah kakaknya juga tidak mengetahui tentang ruangan ini? Tidak mungkin.
Apapun alasan kakaknya menyembunyikan ruangan ini, yang jelas ini adalah sebuah perpustakaan rahasia. Ada sesuatu yang tidak boleh dilihat di ruangan ini. Sesuatu yang disembunyikan, sesuatu yang dirahasiakan. Entah apapun itu.
Jantung Kurapika berdetak kencang. Ia ingin sekali memeriksa buku-buku di perpustakaan ini. Untungnya gadis itu ingat untuk mengecek jam. Kurapika berseru panik. Kurang dari setengah jam lagi adalah waktu kakaknya kembali dari kantor. Kakaknya tidak boleh tahu dia menemukan ruangan ini. Entahlah, tapi rasanya tidak boleh. Dia takut kakaknya akan melarangnya memasuki ruangan ini. Tidak, dia takut kakaknya akan memarahinya. Tidak, tidak. Oh, pikiran Kurapika meracau. Yang jelas dia tidak boleh ketahuan ada di ruangan ini, ya, firasatnya mengatakan begitu. Dia harus segera keluar dan bertingkah seakan tidak terjadi apa-apa.
Kurapika segera menaiki tangga. Kemudian ia semakin panik, gadis itu tidak tahu cara menutupi celah itu. Ia mencoba tenang dan melihat ke arah buku-buku yang masuk ke dalam rak. Ia mencoba menarik buku-buku itu. Tidak bisa. Lalu ia mencoba mendorongnya.
DUG!
DREEEEEEKKK…
"Oh, syukurlah," seru Kurapika. Ternyata jika buku-buku itu didorong, buku-buku itu akan masuk sedikit lalu kembali ke posisinya yang menyamai buku-buku lain di sampingnya. Lalu rak-rak kembali bergeser dan menutup celah gelap tersebut.
Setelah memastikan ia tidak meninggalkan bukti apapun mengenai keberadaannya di ruangan itu, Kurapika bergegas keluar dari perpustakaan pribadi kakaknya. Ia kembali ke ruang kerja kakaknya dan dengan hati-hati ia keluar dari ruang kerja tersebut. Ia memperhatikan sekelilingnya, ia bersyukur tampaknya tidak ada pelayan yang sedang mondar-mandir di sekitar situ. Gadis itu segera kembali ke kamarnya.
Di dalam kamar, Kurapika duduk di tepi kasurnya. Ia meraih boneka beruangnya yang besar dan memeluk boneka itu dengan erat. Jantungnya masih berdebar keras.
"Ya Tuhan… apa yang baru saja kutemukan?"
OoO
"…..pika."
"…..Ku….pika."
Matanya terasa berat sekali. Bulu matanya yang lentik bergerak-gerak. Kedua kelopak matanya serasa enggan membuka.
"Kurapika?"
Sebuah suara bariton yang sangat dikenalnya.
"Ka…kak?" sahut Kurapika dengan suara serak.
"Kurapika? Bangun."
Gadis itu merasakan lengannya digoyang pelan. Setengah sadar ia mengucek matanya, berusaha menyadarkan diri.
"Hei, jangan mengucek mata," kata Kuroro sambil meraih tangan adiknya untuk mencegah gadis itu mengucek matanya lagi.
Pelan-pelan kedua mata gadis itu terbuka. Bola mata birunya menatap lurus pada kedua bola mata hitam kakaknya.
"Kakak?" kata Kurapika lagi masih dengan suara serak baru bangunnya.
"Selamat pagi, sleeping beauty," balas Kuroro sambil tersenyum dengan senyuman khusus untuk adiknya. "Well, ini sudah sore sebenarnya."
Gadis berambut pirang itu bangkit dari posisi berbaringnya. Matanya melirik ke jam dinding. Pukul enam sore. Lalu ia melihat sebelah tangannya masih memeluk Pillow, boneka beruangnya. Tampaknya tanpa sadar ia tertidur.
"Waktu aku pulang tadi, aku dengar dari Mary kau sedang membaca di ruang tamu lalu tiba-tiba saja kau menghilang. Dia bilang mungkin kau berada di kamarmu. Lalu aku ke kamarmu dan melihatmu tertidur pulas. Apa kau tidur sepanjang siang?" tanya Kuroro.
Kurapika terdiam. Lalu tiba-tiba ia teringat.
Perpustakaan itu!
Oh, tidak. Dia harus merahasiakan soal itu.
"Ehmm… mungkin," gadis itu berpura-pura membetulkan posisi Pillow. "Aku sedang bosan, jadi membaca di ruang tamu. Lalu aku naik ke kamar. Kakak tahu, aku bosan sekali. Aku memeluk Pillow lalu sepertinya aku tertidur. Aku tidak menyangka aku tidur selama itu."
Kurapika menatap kakaknya sambil tersenyum. "Yah, kapan lagi aku bisa tidur siang kalau bukan di hari libur seperti ini?"
Kuroro balas tersenyum lalu menepuk lembut puncak kepala Kurapika. "Maafkan aku menyuruhmu pulang tadi siang, kau lihat di luar salju sudah menumpuk dan turun semakin deras. Aku hanya mengkhawatirkanmu. Lebih aman kalau kau di rumah."
"Ya, kakak. Aku mengerti."
"Baiklah, bersiaplah untuk makan malam. Aku akan kembali ke kamar," kata Kuroro sambil beranjak dari kasur Kurapika dan berjalan keluar kamar.
Kurapika hanya mengangguk dan memperhatikan kepergian kakaknya.
Setelah ia mendengar suara pintu ditutup, pikirannya melayang kembali ke kejadian tadi siang. Perpustakaan rahasia itu. Apakah itu sungguh-sungguh nyata? Tiba-tiba pikirannya menjadi rancu. Apakah sungguh kenyataan atau hanya mimpi di siang bolong? Oh, kenapa bisa-bisanya ia tertidur! Yah, tapi setidaknya itu menyelamatkannya dari menjelaskan tentang kegiatannya sepanjang siang.
Gadis berambut pirang itu menyusun rencana di otaknya. Lusa kakaknya akan pergi keluar kota. Saat yang tepat baginya untuk memeriksa perpustakaan rahasia itu. Jantungnya berdetak lebih keras lagi. Firasatnya mengatakan benar ada sesuatu di perpustakaan itu. Barangkali sesuatu yang dicarinya selama ini.
OoO
A/N
haloooooo :D
akhirnyaaaaaah bisa updet lagi kyaaaaaaaaa huahuahahaha. maafkan author si ratu hiatus nista satu ini ;_; kesibukan kampus membuatku tak berani selingkuh darinya, hiks. jadilah di saat libur semester ini baru bisa updet :D trus mumpung ada ide juga, nulis, eh jadi deh chapter 7-nya :D fufufu. oh dan maaf juga kalau di chapter ini banyak kata serapan, ada yang bingung bahasa indonesianya apa jd yaudah bahasa inggris ajadeh hehe.
okeee balesan reviews!
Moku-Chan : arigato gozaimashita :D stay tune yah di ff iniii :D
shiba kei : hei! gimana pengalaman kuliahnya? asiiiik maba nih :D hihihi. gimana tawaranmu? apakah masih berlaku? :D
MehMalas log-in : yooo yoroshiku! :D arigatou gozaimasu!
lavender shappires chan : halo! terima kasih udah ngereview di chapter2 sebelumnya juga yah ^^ hehehe gomen kalo updetnya lama T.T untuk menjawab pertanyaanmu, ikutin aja ceritanya yaaah :D
yosh, hontou ni arigato yang udah baca dan ngereview, yg baca doang juga makasih, tapi kalo boleh reviewnya juga... /eh
huehehehe. readers, kalian ibarat suplemen semangatku buat nulis! i love you!
so, any review for this chapter? *puppy eyes*
