Luhan sangat senang saat aku memberi tahunya.

"Tapi apa yang dia lakukan di disana?" Ia bertanya.

"Dia sedang berada di sekitar sini." Aku menjawab tenang.

"Itu terdengar seperti kebetulan yang sangat aneh. Baek, Kau tidak berpikir dia berada di sana untuk menemuimu?"

"Tidak Lu, dia sedang mengunjungi divisi pertanian di sekitar sini. Dia mendanai beberapa penelitian." Aku membenarkan.

"Oh ya, aku baru ingat, dia mendanai departemen penelitian itu 2,5 juta dollar."

Wow.

"Bagaimana kau tahu?"

"Baek, aku seorang wartawan di kampus, tugasku adalah membuat berita mengenai orang-orang yang berkaitan dengan universitas kita."

"Baiklah Luhannie. Jadi apakah kau ingin mengadakan pemotretannya?"

"Tentu saja aku mau. Pertanyaannya adalah, siapa fotografernya dan di mana tempat pemotretannya."

"Aku akan bertanya padanya. Dia bilang dia menginap disekitar sini."

"Kau akan menghubunginya, bagaimana caranya?"

"Aku punya nomor ponselnya."

Luhan terengah, kutebak ia sedang membelalakkan matanya sekarang.

"Baekhyun-ah, Pria kaya,tampan, dan paling misterius yang pernah kutemui memberimu nomor telfonnya?"

"Emm...ya."

"Baek! Dia menyukaimu. Tidak diragukan lagi." Luhan berteriak nyaring.

"Lu, dia hanya mencoba bersikap baik."

"Kau memang keras kepala Baek."

"Sudahlah. Jadi siapa yang akan menjadi fotografernya?" Ya, mengalihkan pembicaraan adalah keahlian ku.

"Aku juga tak tahu. Apa kau ada saran?"

"Hmm...Bagaimana dengan Jongdae?"

"Ide bagus! Kau hubungi dia, karena dia akan melakukan apapun untukmu. Kemudian telpon Richard dan tanya di mana dia ingin melakukan pemotretan."

"Kenapa bukan kau yang menelfon nya?"

"Siapa, Jongdae?" Tanya Luhan polos.

"Bukan, Richard."

"Baek, kau yang punya hubungan dengannya."

"Hubungan?" Aku menjerit padanya, suaraku naik beberapa oktaf. "Aku bahkan tidak mengenalnya."

"Setidaknya kau sudah bertemu dengannya," katanya getir. "Dan sepertinya dia ingin mengenalmu lebih jauh. Sudahlah Baek, telpon saja dia." kata Luhan sedikit membentak lalu menutup telfon.

Aku mengerutkan kening, menatap Handphone ku lalu mengirim pesan untuk Jongdae. Tak lama setelahnya, Seulgi masuk kedalam gudang, mencari barang.

"Kita agak sibuk luar sana, Baek." Katanya, ia terlihat kelelahan.

"Aku akan segera kesana" gumamku padanya.

"Kau berhutang penjelasan padaku. Bagaimana kau bisa kenal Richard Park?" Ia bertanya seraya menggodaku.

"Aku mewawancarainya untuk koran mahasiswa. Seharusnya Luhan yang melakukannya, tapi ia sedang sakit saat itu." Aku mengangkat bahu, berusaha terlihat tidak peduli dan tidak terpengaruh oleh godaannya.

"Richard Park berada di toko marbel yang dimana kau berada disana, kebetulan yang tidak masuk akal." Seulgi mendengus. "Omong-omong, ingin minum malam ini?"

"Mungkin lain kali, Seul. aku harus belajar malam ini. Ada ujian akhir minggu depan. Lagipula Bukankah kau ada acara makan malam dengan keluarga mu?"

"Oh ya, aku lupa. Baiklah lain kali." Katanya sambil berjalan keluar.

"Tapi aku memotret tempat Baek, bukan orang."

"Jongdaeyaa please~" Aku memohon, Mencengkeram Handphoneku. Mondar-mandir di ruang tamu apartemen.

"Berikan telfonnya." Luhan merebut handphone dari tanganku.

"Dengar Kim Jongdae. Jika kau tidak ingin aku memberi tahu Minseok kau menggoda pria manis di bar saat itu, kau harus melakukan pemotretan ini untuk kita besok, bagaimana?" Luhan mengancam.

"Apa? Baiklah-baiklah, aku akan melakukannya!"

"Baguslah. Baekhyun akan menelfon lagi nanti untuk memberi tahu mu lokasi dan waktunya. Sampai ketemu besok." Luhan menyeringai, dan langsung memutuskan sambungannya. Well, Dia mengerikan.

"Fotografer selesai. sekarang tinggal memutuskan di mana dan kapan. Telfon dia." Luhan menjulurkan Handphoneku kembali.

"Baek,Telfon dia sekarang!" Ia membentak.

"Arasseo!" Aku cemberut padanya, lalu merogoh saku belakangku untuk mengambil kartu nama.

Aku mengambil napas dalam, dengan jari gemetar, aku memanggil nomornya.

"Mm.. Mr.Park?" Suaraku gugup saat ia menjawab telfonnya.

"Baekhyun. Senang mendengar suaramu." Hey, Suaranya terdengar begitu hangat dan.. menggoda?

Nafasku sesak, wajahku memerah. Dan Aku baru sadar bahwa Tuan Xi Luhan yang terhormat sedang menatapku. Ia menutup mulutnya dengan tangan, menahan tawanya. Jadi aku bergegas ke dapur untuk menghindari tatapan menjengkelkannya itu.

"Mm.. Luhan ingin melakukan sesi pemotretan untuk artikelnya."

Aku menarik nafas dengan tergesa-gesa. "Besok, jika bisa. Dimana tempat yang nyaman bagimu, Tuan?"

"Aku menginap di Heathman, Bagaimana jika di sini saja, jam sembilan tiga puluh besok pagi?"

"Baiklah." Wajahku memerah, tanpa sebab yang jelas.

"Sampai bertemu besok, Baekhyun." Dia menutup telfonnya setelah mengatakan itu.

Luhan berjalan mendekatiku, menatapku dengan wajah konyolnya.

"Byun Baekhyun, Kau menyukainya! Aku belum pernah melihat kau seperti ini sebelumnya. Wajahmu benar-benar memerah."

"Lu, kau tahu aku adalah seseorang yang pemalu. Jangan menjadi konyol." Kataku keras. "Aku akan membuat makan malam, Lalu belajar."

"Baiklah-baiklah. Aku akan menelpon manajernya dan menegosiasikan ruang untuk foto." Gumamnya.

•)(•

Aku gelisah, setiap aku menutup mataku, Aku selalu melihat Mata abu-abu, baju lengan panjang, kaki jenjang, jari-jari panjang, dan tempat gelap. Aku sudah terbangun dua kali. hatiku berdegup kencang. Oh, aku akan mengantuk besok jika tidak segera tidur. Aku meninju bantalku, mencoba untuk tidur kembali.

•)(•

Heathman terletak di pusat kota Ulsan, Bangunan yang didominasi batu dan memiliki nuansa berwarna cokelat.

Jongdae, Minseok dan aku pergi dengan mobilku, Minseok adalah kekasih Jongdae, ia sering membantu di bagian pencahayaan. sementara Luhan mengendarai mobilnya sendiri, karena kita semua tidak bisa masuk dalam mobilku.

Ketika kami sampai, Luhan mengatakan pada resepsionis bahwa kita di sini untuk melakukan pemotretan dengan Richard. Pelayan mengantarkan kami ke sebuah kamar suite, Hanya suite berukuran biasa. Karena aku yakin Richard sudah menempati kamar terbesar di dalam gedung ini. Tapi walaupun hanya kamar suite biasa, ruangannya sangat elegan dan berfurnitur mewah.

Ini jam sembilan. Kami masih memiliki waktu setengah jam untuk menyiapkan pemotretan.

"Kufikir mengambil posisi di dinding itu bagus. Minseok Hyung, tolong pindahkan kursi-kursi itu. Baek, bisakah kau meminta pelayan untuk membawa beberapa minuman?"

Lihat? Luhan begitu suka memerintah. Aku memutar mataku, tetapi tetap melakukan apa yang dikatakannya.

Setengah jam kemudian, Richard datang ke kamar yang sudah di rombak untuk pemotretan. Dia mengenakan kemeja putih dan celana flanel abu-abu yang cocok dipadukan dengan kemeja putihnya, dan jangan lupakan Rambut acak-acakan yang masih sedikit basah.

Aku menganga, mulutku menjadi kering saat melihatnya. Dia begitu.. Hot!

TBC