hanazono yuri : ini udah update, maaf gak bisa kilat, lagi sibuk soalnya, tapi aku janji akan tetap lanjutin fict ini :-)

resa kaito chan : ok, mohon dukungannya :-D

akbar123 : Siip d.b

febri feven : haha, mohon dukungannya ya febri :-)

sofi as sam p.b : iya ini udah lanjut, makasih udah mampir :-D

Iqma96 : hahaha, maaf baru bisa update :-P tetep ikuti ceritanya ya ;-)

Uchiha Cherry Rania17 : oke, mohon dukungannya #bungkuk-bungkuk

kihara : iya, janji deh gak bakalan discontinue :-D

kasih hazumi : hehe, tetep ikuti ceritanya ya

.

.

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Happy reading


Mantan..

Mantan..

Mantan..

Satu kata itu selalu menggema ditelinga Sasuke disepanjang pelajaran pagi ini, menggelitik telinga serta hatinya hingga membuat ia gelisah, sesekali diliriknya pemuda berambut merah yang sedang duduk didepan meja guru, dan diliriknya lagi Sakura yang duduk disampingnya, bergantian Sasori-Sakura-Sasori-Sakura-Sasori-Sakura hingga akhirnya ia tak tahan untuk bertanya.

"Kapan kau berpacaran dengannya?" Sasuke bertanya dengan begitu cepat seakan-akan hanya dia seoranglah yang mampu mendengar pertanyaannya sendiri. Beruntunglah telinga Sakura cukup peka hingga ia mampu menangkap dengan baik pertanyaan sahabatnya tersebut. Sasuke sungguh penasaran dengan kisah percintaan Sakura, terlebih lagi apabila mereka bersama tidak pernah terselip nama Sasori dalam tiap ceritanya seakan-akan sosok yang bernama Sasori tidak pernah hadir dalam kehidupan Sakura.

"Sewaktu aku masih tinggal di Suna," jawabnya perlahan, dia tahu bahwa sahabatnya harus mengetahui tentang mantan kekasihnya tersebut, dia juga merasa bersalah karena tidak pernah menceritakan tentang Sasori kepada Sasuke, tetapi jangan salahkan dia tidak pernah menyebut nama Sasori dihadapan pemuda berambut raven tersebut karena dia sempat terlupa dengan sosok mantan kekasihnya itu. "Kami berpacaran sudah hampir dua tahun, hubungan kami kandas begitu saja karena aku pindah kesini, itupun aku yang memutuskan hubungan karena aku tak tahan pacaran jarak jauh."

Sasuke tertegun sejenak, 'Lantas apa maksud kedatangannya kesini, apakah karena Sakura yang tak mau pacaran jarak jauh makanya dia memutuskan untuk bersekolah ditempat yang sama dengan Sakura, apakah ini artinya dia ingin mengajak Sakura balikan?' sebuah pertanyaan yang tak akan dilontarkannya pada Sakura, namun ia akan mencari sendiri motif dari kedatangan mantan kekasih Sakura tersebut.

"Kenapa kau tidak pernah cerita padaku?" pertanyaan yang aneh, karena bukan ciri khas seorang Sasuke yang ingin tahu tentang kehidupan orang lain. Sasuke yang terkesan cuek dan dingin kepada setiap orang kini tengah bertanya tentang masa lalu seorang gadis, belum lagi masa lalu yang ditanyakannya adalah kisah percintaannya. Apakah ini pertanda kiamat sudah dekat ?

"Sudahlah Sasuke, aku lupa jadi jangan dibahas, oke!" Nyeri... Nyeri hati Sasuke kala mendengar jawaban Sakura. Lupa_ Bukankah Sasuke adalah orang yang paling dekat dengannya di Konoha selain keluarganya? Kenapa dia sampai lupa menceritakan sesuatu yang penting baginya? Apakah Sasuke tidak cukup berarti untuk mengetahui kisah percintaan sahabatnya sendiri? Oke, mungkin ini sedikit berlebihan, namun entah kenapa mengetahui tentang hal ini sangat berarti baginya

Dengan suara parau dia mencoba bertanya lagi "kenapa kau bisa lupa?" ingin rasanya dia menulikan telinganya sementara, dia merasa terlalu takut untuk mengetahui alasan Sakura yang sebenarnya hingga membuatnya sampai-sampai terlupa untuk bercerita pada Sasuke. Seandainya Sakura bisa menangkap nada sedih dikalimat Sasuke barusan, namun sayangnya dia tertipu dengan gaya datar andalan Sasuke. Dia tidak mengetahui bahwa saat ini Sasuke tengah mati-matian mempertahankan wajah stoicnya.

"Entahlah Sasuke, aku juga bingung, entah kenapa tiba-tiba aku melupakannya selama aku tinggal di Konoha, hingga akhirnya aku tak sempat menceritakan tentang dia padamu, maafkan aku ya" jawaban mulus Sakura membuat Sasuke merasa sangat lapang, bagaikan diangkat beban berat Sasuke diam-diam menghembuskan nafas lega, rupanya dia telah salah paham dalam menafsirkan pernyataan Sakura tadi. Diliriknya sosok pemuda yang tengah menjadi topik pembicaraan mereka, ditariknya bibirnya membentuk seringai tipis, 'akan 'ku buat dia tetap melupakanmu walaupun kau ada disini.'

Kriiiing

Suara lonceng panjang menandakan bahwa pelajaran kali ini telah selesai, berbagai ekspresi bahagia terpancar dari wajah setiap murid, masing-masing dari mereka bergegas keluar kelas dan melarikan diri ke kantin, tempat favorit untuk menghilangkan rasa lapar.

Namun rupanya itu tidak berlaku bagi Sasuke, Sakura dan Sasori, mereka lebih memilih untuk tetap tinggal di kelas. Sesekali Sasori curi-curi pandang kearah Sakura, dia nampak kikuk, dia hendak mendatangi Sakura, menyapanya atau apapun yang bisa membuatnya berbicara dengan gadis berambut soft pink tersebut. Demi apapun di dunia ini, Sasori sangat bahagia dapat berjumpa lagi dengan Sakura, ingin rasanya dia bisa memiliki gadis itu lagi walaupun kemungkinannya sangatlah kecil.

Sadar bahwa kondisi disini sangat berbahaya, Sasuke lebih memilih tinggal di kelas dan menemani Sakura yang sekarang lagi sibuk menulis. Dia tak akan memberi kesempatan untuk Sasori bisa mendekati Sakura, jangankan sekedar mendekati, bertegur sapapun dia sungguh tak rela. Hatinya semakin panas kala mengetahui bahwa mantan kekasih sahabatnya itu tengah asik curi-curi pandang kearah Sakura. Matanya melotot tajam menatap Sasori, lewat pandangan matanya dia berusaha mengatakan bahwa Sakura adalah miliknya dan tak ada seorangpun yang boleh mendekatinya.

Sasori yang mendapat tatapan tajam dari Sasuke malah melotot balik, dia tak suka dengan keberadaan Sasuke disisi gadis pink tersebut. Dia memang tak mengenal siapa Sasuke dan siapa Sasuke bagi Sakura, namun ia berharap bahwa Sasuke bukanlah kekasih Sakura, kalau misalnya benar Sasuke adalah kekasih Sakura saat ini, maka sia-sialah kedatangan Sasori ke Konoha, karena sebenarnya dia datang kesini karena Sakura, hanya untuk Sakura.

Disisi lain, satu-satunya gadis yang berada di kelas dan tengah asik menulis tak menyadari hawa panas disekitarnya, dia terlalu sibuk dengan dunianya hingga tak menyadari bahwa saat ini perutnya tengah keroncongan dan minta diisi. Ini semua karena ulahnya sendiri yang malah lebih memilih melamun ketimbang mendengarkan penjelasan Guy sensei, sepanjang pelajaran hanya diisi dengan lamunan tentang Sasori hingga akhirnya dia tersadar bahwa ia sama sekali tak mencatat apapun, dan disinilah dia sekarang, terjebak di kelas bersama sahabat dan mantan kekasihnya.

"Huaaaaaaah, akhirnya selesai..!"

Seruan Sakura langsung membuyarkan acara tatap-menatap Sasuke dan Sasori, tubuh Sasuke yang awalnya tegang menjadi melemah demi mendengar suara Sakura yang begitu merdu ditelinganya. Begitupun Sasori, dia yang awalnya menatap tajam Sasuke langsung berganti menatap Sakura dengan tatapan lembut dan sunggingan senyum menawan andalannya.

Tanpa pikir panjang Sasori langsung beringsut dari tempat duduknya, dengan berdebar-debar didatanginya tempat duduk Sakura.

"A-A Sakura, ka-kau mau ke kantin bersamaku?" 'sial, kenapa aku bisa segugup ini? Dan apalagi ini ?! aku gagu? Sejak kapan Sasori bisa segagu ini demi berbicara dengan seorang gadis?'. Bukan main gugupnya Sasori, bukan karena tatapan mematikan Sasuke yang tidak senang dengan kedatangannya, melainkan karena ini adalah momen yang sangat dinantikannya seminggu belakangan ini.

Sakura tercenung beberapa saat, "eh? Maaf Sasori, aku ke kantin dengan Sasuke saja," tanpa permisi ditariknya Sasuke ke luar kelas, ditundukkannya kepalanya berharap tidak akan bertemu pandang dengan Sasori. Sementara Sasori memasang wajah kecewa, lain halnya dengan Sasuke yang mengeluarkan seringai mengejek kearah Sasori, ditariknya tipis sudut bibirnya menandakan bahwa dialah pemenangnya.

Sebenarnya Sakura tak berniat menolak permintaan Sasori, hanya saja dia merasa bingung dengan hatinya sekarang, tidak ada lagi perasaan senang kala Sasori menyapanya, perasaan berbunga-bunga kala melihat senyumnya, bahkan dia tak lagi merasakan jutaan kupu-kupu beterbangan disekitarnya saat bertemu pandang dengan Sasori. Kenapa semuanya begitu berbeda? Apakah hanya dengan kurun waktu seminggu sudah cukup menghilangkan rasa cintanya? Entahlah, yang jelas bukan hanya nama Sasori yang hilang, tetapi juga perasannya turut menguar entah kemana.

Kantin sekarang penuh sesak oleh berbagai kalangan murid. Murid-murid 'tak kasat mata' duduk ditiap sudut kantin plus berbagai buku tebal bertebaran di meja, penampilan mereka sungguh tak menarik ditambah lagi dengan hiasan kaca mata tebal yang bertengger dihidung mereka. Para gadis-gadis centil berpakaian seragam kentat dan memakai rok sekolah kekurangan bahan yang rata-rata Sasuke fansgirl duduk bergerombol ditengah-tengah kantin, tempat strategis untuk para siswa cuci mata atau sekedar iseng berharap bisa melihat 'sesuatu' untuk mengefreshkan fikiran mereka dari pelajaran yang membosankan.

Terdengar cekikikan tak jelas kala Sasuke memasuki wilayah kantin, namun suara cekikikan cewek-cewek disana langsung berubah menjadi sorotan tajam dan rasa tidak suka kala Sakura datang menyusul Sasuke dan tanpa beban langsung merangkulnya mengabaikan tatapan sinis seisi kantin.

"Hmmm Sasuke, kantinnya sudah penuh, kita duduk dimana ya?" tanya Sakura seraya melihat seisi kantin. Kepalanya celingak-celinguk berharap ada dua bangku kosong yang bisa didudukinya, dia tak bisa menunggu sampai ada beberapa anak murid yang selesai dan meninggalkan kantin, dia sungguh sangat lapar sekarang.

"Disamping dobe saja, sepertinya masih ada yang kosong"

Sakura mengikuti arah pandang Sasuke, kebetulan disana ada Naruto yang sedang melambaikan tangan kearah mereka disertai cengiran khasnya.

"Ya sudah, kau duluan saja kesana biar makananmu aku yang pesankan."

"Hn"

Sasuke berjalan dengan santai kearah Naruto, disana sudah duduk Hinata dan Kiba.

"Yo, Teme. Tumben kau baru datang, kemana saja?" suara cempreng Naruto memasuki indra pendengaran Sasuke

Sasuke mendengus mendengar pertanyaan Naruto karena mau tak mau dia jadi teringat lagi dengan kejadian di kelas tadi dan itu sungguh membuatnya kesal. "Ada beberapa hal yang harus dikerjakan," jawabnya asal

Beberapa menit kemudian datanglah Sakura dengan dua mangkuk mie ramen dengan asap yang masih mengepul

"Ini buatmu Sasuke," diletakkannya semangkuk mie ramen dihadapan Sasuke.

Sasuke yang menerima mie ramen tidak langsung menyantap makanannya, dia memandang aneh kepada Sakura dengan menaikkan sebelah alisnya.

"Eh, ada apa Sasuke, kenapa memandangku seperti itu ?"

"Kau tidak membawa minuman? Kalau aku tersedak dan mati bagaimana? Kau mau tanggung jawab?" pertanyaan Sasuke membuat Naruto, Hinata dan Kiba jadi cengo, pasalnya tumben-tumbenan Sasuke jadi ehem agak ehem alay.

"Heh Teme, kalau kau beneran mati gara-gara tersedak mie ramen aku jadi orang pertama yang menertawakannya."

"Belum lagi nanti di media akan dimuat berita tentang seorang Uchiha mati gara-gara tersedak mie ramen, sungguh tidak elit dan bukan keuchihaan," sambung Kiba sambil cekikikan.

"Maaf Sasuke, aku lupa, biar aku ambilkan minumnya."

Sebelum Sakura beringsut dari tempat duduknya ekor mata Sasuke sempat melihat bayangan Sasori memasuki kantin, dan sekarang dia tepat berdiri disamping kulkas dimana air mineral disimpan. Kalau Sakura mengambil minuman berarti dia secara tidak langsung mendatangi Sasori, dan Sasori sudah pasti tidak akan menyianyiakan kesempatan itu, dia pasti akan menyapa Sakura, mengobrol dengannya, dan lain lagi yang tak sanggup dibayangkan Sasuke.

"Biar aku saja," sela Sasuke cepat, ditahannya tangan Sakura dan dia segera langsung berdiri untuk mengambilkan minuman

Disisi lain Sasori yang baru saja memasuki kantin langsung risih dibuatnya, berbagai pandangan kagum dan memuja dari gadis-gadis disana membuatnya begidik ngeri, belum lagi ada gadis kelebihan berat badan berkawat gigi yang dengan berani mengedipkan matanya dan tersenyum genit kearahnya.

Dengan terpaksa Sasori hanya berdiri disana karena tempat duduk semuanya sudah penuh, sebenarnya dia sangat lapar tapi mau bagaimana lagi, dia hanya berharap ada seseorang yang dengan senang hati memberikan tempat duduk untuknya, atau paling tidak ada anak yang sudah selesai makan dan segera meninggalkan kantin.

Disaat dia sudah bosan berdiri tiba-tiba dia melihat Sasuke berjalan kearahnya, dia sempat tercekat, belum lagi tatapan tajam Sasuke yang seakan-akan mau membunuhnya. Dia sempat berpikir bahwa Sasuke hanya mau berjalan kesuatu sempat dan secara tidak sengaja memandangnya, tetapi arah jalan Sasuke benar-benar kearahnya, semakin dekat... semakin dekat... hingga akhirnya Sasuke berdiri dihadapan Sasori.

"Sampai kapan mau berdiri disitu? Minggir!"

Sasori yang terkejut langsung menggeser tubuhnya kesamping. Dengan wajah datar Sasuke membuka kulkas dan mengambil minuman untuknya dan Sakura, wajah datar itu tetap bertahan diwajah Sasuke sampai dia kembali lagi kekursinya. Tanpa sadar Sasori menahan nafasnya hingga Sasuke benar-benar pergi dari sampingnya. 'Gila! Kupikir dia mau memukulku, pandangan matanya benar-benar menakutkan!' dengan bergidik ngeri ditinggalkannya kantin, rasa laparnya menguar entah kemana.

Dengan bosan Sasori menghempaskan pantatnya ke kursi, diputarnya pandangannya keseisi kelas, kelas yang bagus, tidak kalah bagus dengan kelasnya dulu waktu masih di Suna, kelas itu sangatlah bersih, pot besar dengan beraneka ragam bunga-bungaan plastik menghiasi sudut kelas, gambar presiden Konoha dan wakilnya bertempel didinding kelas, dan tak lupa berbagai lukisan karya anak-anak kelas ditempel ditiap dinding.

Sasori beranjak dari tempat duduknya, dia mengitari kelasnya dengan mengamati tiap-tiap lukisan yang bertempel, namun seketika badannya membeku kala dia melihat lukisan atas nama Uchiha Sasuke, sepintas gambar itu terlihat seperti pantai biasa dengan hiasan pohon palm dan kerang-kerang kecil, namun apabila diteliti lebih lanjut maka terlihatlah dua sosok manusia sedang duduk santai diantara pohon palm yang rindang, satu berambut pink panjang dan yang satunya berambut raven, terlihat si rambut pink sedang menyandarkan kepalanya dibahu si rambut raven. Gambar dua sosok manusia itu sangatlah kecil hingga banyak mata yang tak menyadarinya, namun tidak bagi mata jelinya Sasori. Tak salah lagi itu adalah Sasuke dan Sakura, kenapa Sasuke menggambar mereka berdua, seberapa berartikah Sakura bagi Sasuke ?, entahlah, hanya Sasuke yang tahu.

Dengan perasaan hati yang membludak dia melanjutkan langkahnya lagi, namun lagi-lagi dia menghentikan langkahnya di lukisan Sasuke, kali ini gambarnya tetap pantai, namun dengan setting yang berbeda. Tidak ada pohon palm, hanya bebatuan kecil dan besar yang tersusun dengan sangat indah dan deburan ombak yang menghempas sang karang. Harus Sasori akui bahwa lukisan Sasuke sangatlah indah, namun lagi-lagi dia melihat dua sosok manusia yang nampak sedang asik berkejaran, dari postur tubuhnya Sasori mengira bahwa umur objek yang dilukisan itu kira-kira 5 tahun, namun dengan lihainya Sasuke membuat sosok manusia itu tidak terlihat dengan kasat mata, kalau dilihat sekilas lukisan Sasuke dan Sakura nampak seperti bebatuan ataupun kerang. Tidak akan ada yang menyangka bahwa itu adalah dua sosok manusia.

Sedih, marah dan cemburu menjadi satu di hatinya. Dia tidak tahu seberapa dekat dia dengan Sakura, dia tidak tahu seberapa berharga Sakura bagi Sasuke, namun dengan melihat lukisan Sasuke barusan, dia menjadi sangat yakin bahwa dulu mereka pernah sangat dekat, dan dia juga sangat yakin bahwa Sasuke sangat menyayangi Sakura. Dia sempat putus asa dengan keyakinannya sendiri, dia sempat menyerah untuk mendapatkan Sakura kembali, namun satu hal yang harus dia pastikan, apakah Sakura juga mencintai Sasuke? Apakah Sakura sudah melupakannya? Jika Sakura benar sudah melupakannya dan mencintai Sasuke, maka dengan berat hati dia akan melepaskan Sakura dan kembali lagi ke Suna. Karena baginya kebahagiaan Sakura adalah segalanya, tidak penting dia akan sakit hati dan terluka, karena baginya melihat senyum kebahagiaan Sakura sudah cukup baginya. Maka dari itu dia akan bertahan di Konoha, dia harus memastikan sendiri apakah kedatangannya akan berakhir dengan sia-sia atau tidak.

Disaat Sasori tengah melamun, rupanya ada beberapa anak murid yang sudah kembali ke kelas, diantaranya ada beberapa anak gadis yang rupanya sudah menjadi Sasori fansgirl, mereka langsung tebar pesona kala melihat Sasori, berbagai senyum genit menyerang Sasori dengan membabi buta, bahkan ada pula yang berani duduk di meja Sasori dengan menyingkap sedikit ehem roknya ehem. Sasori yang berasa tidak enak bercampur eneg langsung membuang muka, beruntung suara bel masuk menyelamatkan Sasori dari serangan gadis-gadis yang agak beringas tersebut.

"Huft, sampai kapan aku bisa bertahan dengan situasi seperti ini!" keluhnya sambil menarik rambut merahnya dengan frustasi.

Berbarengan dengan itu masuklah Sasuke dan Sakura, mereka terlihat sangat mesra dengan tangan Sakura yang bergelayut manja di lengan Sasuke, Sasuke yang nampaknya tidak keberatan dengan perlakuan Sakura hanya tersenyum tipis sambil sesekali mengelus rambut panjang Sakura.

Beberapa gadis yang masih bertahan jadi Sasuke fansgirl berdecak sebal melihat mereka berdua. Yap, diam-diam beberapa anak Sasuke fansgirl berubah jadi Sasori fansgirl, namun ada pula yang mengidolakan keduanya, memang pesona Sasuke dan Sasori sungguh luar biasa di Konoha High School tersebut.

Pemandangan tersebut tidak luput dari mata Sasori, mata Sasori mendadak panas dan hatinya mendadak ngilu, dia menahan nafasnya dan mengepalkan tangannya keras-keras. Dia sungguh marah dan cemburu, ingin rasanya dia menerjang kesana dan memisahkan mereka berdua, kemudian ditariknya Sakura menjauh dari Sasuke, atau perlu diculiknya Sakura barang sehari atau dua dengannya. Sadar bahwa khayalannya hanya akan menyakiti Sakura dia langsung memalingkan wajahnya sambil berusaha menyabarkan hatinya.

"Sial! Kalau begini terus bisa-bisa aku tidak tahan!"

-ooo0ooo—

"Sasuke, mumpung hari minggu kita jalan-jalan yuk!"

Pagi ini Sakura sudah merengek dikediaman Sasuke, ditariknya tangan Sasuke yang masih asik main playstation, namun yang ditarik tidak bergeming, dia masih asik dengan permainannya. Lama-lama Sakura yang diacuhkan menjadi bosan.

"Cih! Dasar baka! Aku pagi-pagi ini datang kesini agar bisa main dengan Sasuke-kun! Tapi nyatanya aku malah dicuekin!"

Dengan wajah sebal dia langsung berjalan menjauhi Sasuke, dihentak-hentakkannya kakinya sampai Sasuke tidak mendengar suara langkah Sakura lagi. Sasuke yang awalnya mencueki Sakura sekarang malah mematung, dia sungguh tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Demi Kami-Sama, selama 17 tahun hidupnya baru kali ini dia mendengar Sakura memanggilnya dengan embel-embel 'kun' dibelakang namanya. Entah kenapa dia merasa sangat bahagia mendengarnya, dia ingin mendengar Sakura memanggil namanya seperti itu lagi dan lagi, kalau perlu setiap hari dia memanggil namanya seperti itu, tanpa pikir panjang dilemparnya stik playstationnya dan berlari mencari Sakura.

Sementara itu Sakura yang masih sebal sedang menggerutu tidak jelas, diacuhkannya sapaan Itachi, bahkan dia hanya menyapa sebentar ibunya Sasuke dan langsung melangkahkan kakinya lagi entah kemana sambil tetap menggerutu sebal. Tetapi langkahnya seketika berhenti kala melihat sebuah gitar teronggok begitu saja disudut sofa. Entah itu gitar siapa dia tak tahu. Hanya saja seingatnya Sasuke ataupun Itachi tidak memiliki gitar, diambilnya gitar tersebut dan dicobanya senarnya, suaranya sangat bagus pertanda bahwa gitar tersebut dipelihara pemiliknya. Dengan iseng dia duduk di sofa dan memainkan gitar tersebut.

Dengan suara indah Sakura mulai bernyanyi, sebuah lagu yang mengisahkan tentangnya dan Sasuke

All I knew this morning when I woke
Is I know something now, know something now I didn't before.
And all I've seen since eighteen hours ago
Is green eyes and freckles in your smile
In the back of my mind making me feel right

Yah, dia memang merasakan sesuatu yang baru kala bersama Sasuke, sesuatu yang belum dirasakannya sebelumnya, sesuatu yang membuatnya nyaman dam bahagia.

I just wanna know you better, know you better, know you better now
I just wanna know you better, know you better, know you better now
I just wanna know you better, know you better, know you better now
I just wanna know you, know you, know you

Dia baru mengenal Sasuke, baru mengenal kepribadian Sasuke seutuhnya, walaupun dulu mereka pernah dekat, tapi itu sewaktu mereka masih kecil dan bahkan dia sendiri lupa bagaimana rasanya

'Cause all I know is we said, "Hello."
And your eyes look like coming home
All I know is a simple name
Everything has changed
All I know is you held the door
You'll be mine and I'll be yours
All I know since yesterday is everything has changed

Ada sesuatu yang berbeda dengan perasaannya kala bersama Sasuke, perasaan yang belum pernah dirasakannya dulu, bahkan belum pernah dirasakannya kala dia bersama Sasori

And all my walls stood tall painted blue
And I'll take them down, take them down and open up the door for you
And all I feel in my stomach is butterflies
The beautiful kind, making up for lost time,
Taking flight, making me feel right

Dia merasakan jutaan kupu-kupu beterbangan disekitarnya kala melihat senyum Sasuke untuknya, bahkan dia merasa meleleh ketika mendapat perhatian dari Sasuke

I just wanna know you better, know you better, know you better now
I just wanna know you better, know you better, know you better now
I just wanna know you better, know you better, know you better now
I just wanna know you, know you, know you

'Cause all I know is we said, "Hello."
And your eyes look like coming home
All I know is a simple name
Everything has changed
All I know is you held the door
You'll be mine and I'll be yours
All I know since yesterday is everything has changed

Come back and tell me why
I'm feeling like I've missed you all this time, oh, oh, oh.
And meet me there tonight
And let me know that it's not all in my mind.

Bahkan diam-diam ditiap malam sebelum tidur dia selalu memeluk bola kristal pemberian Sasuke, diciumnya dan dielusnya, dia sangat merindukan Sasuke, ingin selalu bersamanya dan berdua dengannya

I just wanna know you better, know you better, know you better now
I just wanna know you, know you, know you

'Cause all I know is we said, "Hello."
And your eyes look like coming home
All I know is a simple name
Everything has changed
All I know is you held the door
You'll be mine and I'll be yours
All I know since yesterday is everything has changed

All I know is we said, "Hello."
So dust off your highest hopes
All I know is pouring rain and everything has changed
All I know is a new found grace
All my days I'll know your face
All I know since yesterday is everything has changed

(Taylor Swift feat Ed Sheeran - Everything Has Changed)

Hingga akhirnya dia menyadari bahwa dia tengah jatuh cinta kepada sahabat ravennya tersebut.

Tanpa Sakura sadari ternyata Sasuke melihat permainan indah Sakura, dia mendengar suara emas Sakura yang diam-diam disembunyikannya, dia sungguh terkesima dan terpana. Belum pernah dia melihat suara indah seperti ini sebelumnya, walaupun dia sering menonton penyanyi yang bernyanyi di TV, namun suara Sakura sungguh berbeda, sungguh indah, mempesona dan lainnya yang tak sanggup dilukiskan dengan kata-kata. Bahkan dia tak menyangka bahwa Sakura ternyata bisa memainkan gitar dengan sangat lihai.

"Sakura, kau bisa bernyanyi?" Sasuke yang masih belum percaya keluar dari persembunyiannya dan duduk disamping Sakura yang masih memeluk gitar

"Huh, kau fikir piano di rumahku itu untuk apa? Ya untukku bermain sambil bernyanyi lah!" jawaban Sakura masih ketus, rupanya dia masih marah kepada Sasuke

"Hehe, jangan marah dong Sakura-Chan" goda Sasuke seraya mencubit ujung hidung mancung Sakura

Sakura yang mendapat perlakuan manis Sasuke mau tak mau jadi tidak marah lagi, Sasuke memang tahu bagaimana meluluhkan hati Sakura.

"Permainan gitarmu sangat bagus, kau belajar dari siapa?" diam-diam Sasuke menahan nafas takut jawabannya adalah Sasori

"Tentu saja Gaara niisan, permainan gitarnya sangat bagus loh, oh ya Sasuke, ini gitar punya siapa?"

"Oh dari Gaara, syukurlah" 'syukurlah bukan Sasori yang mengajarkanmu'

"Kenapa Sasuke?" Sakura agak bingung dengan jawaban Sasuke barusan, syukurlah_ syukurlah apa?

"Eh bukan apa-apa, ini gitar punya temannya Itachi, kemarin ketinggalan waktu ia main kesini."

"Oh, kau sendiri bisa main gitar?"

"Jangan remehkan aku!" jawabnya pongah walaupun dia keder juga takut Sakura menyuruhnya untuk memainkan gitar tersebut, karena jangankan main gitar, menyentuhnya saja dia belum pernah.

"Kalau begitu mainkan lagu untukku" pinta Sakura seraya menyodorkan gitar tersebut kepada Sasuke

'Mampus! Mati aku! Aku mana bisa memainkan gitar!'

Disaat Sasuke tengah kebingungan beruntung Itachi datang, dia langsung mengambil gitar tersebut karena temannya yang punya gitar telah datang dan ingin mengambil gitarnya.

"Maaf ya Sakura, temanku telah datang, dia ingin mengambil gitarnya"

"Hmmm ya sudah Itachi-nii tidak apa-apa, lain kali saja ya Sasuke"

"Hn" Sasuke menghembuskan nafas lega, dalam hati dia mengucapkan ribuan terima kasih kepada kakak sulungnya tersebut, karena kedatangannya sungguh tepat waktu. Karena sungguh memalukan seandainya Sakura tahu bahwa Sasuke yang kegantengannya terkenal seantero sekolah tidak bisa main gitar, kalah dengan Sakura yang walaupun seorang gadis bisa bermain gitar dengan lihainya.

"Oh ya Sasuke, kau belajar gitar dari siapa? Karena kulihat kau dan Itachi tidak memiliki gitar, berlajar sama Naruto ya?"

"Belajar sendiri," jawabnya asal, "tadi kau memanggilku dengan suffiks –kun, tumben sekali" ucapnya seraya berusaha mengalihkan perhatian Sakura dari gitar dan apapun itu.

"Masa? Aku kok lupa" bohong Sakura seraya berusaha menyembunyikan rona wajahnya, dia malu sekali karena bisa-bisanya Sasuke masih mengingat itu. Dia sengaja memanggil Sasuke dengan suffiks –kun dibelakang namanya, selain berusaha menggodanya dia juga merasa sangat ingin memanggilnya seperti itu, sangat ingin malah. Dia ingin menjadi satu-satunya gadis yang dekat dengannya.

"Lupa?" Sasuke berasa aneh dengan jawaban Sakura barusan, apa benar Sakura lupa dan dia hanya keceplosan memanggil namanya dengan suffiks –kun, atau jangan-jangan malah dia yang salah dengar.

"Ah sudahlah Sasuke tidak usah dibahas, aku lapar, kita ke dapur yuk, Kaa-san pasti sudah memasak untuk makan siang," ucapnya ceria sambil berusaha menutupi kegugupannya. Sasuke yang mengekorinya dibelakang nampak lesu 'huft, ternyata hanya imajinasiku saja'


naaaah, ini dia chap 8, bagaimana? bagaimana ?

baguskah? jelekkah?

mohon di review dan sarannya yang membangun cerita saya selajutnya ya minna

Arigatou :-D