Little : I WILL GET HER OR HIM?

Cast :

Kim Jong In

Oh Sehun

Other Cast :

Byun Baekhyun

Park Chanyeol

Lee Jinki as Oh Jinki (Sehun's Appa)

Kim Kibum as Oh Keybum (Sehun's Umma)

Choi Minho as Kim Minho (Jong In's Appa)

Lee Taemin as Kim Taemin (Jong In's Umma)

Author : Real_dubu

Genre : YAOI

Length : 8 of ?

WARNING! TYPO. CERITA ABAL, MEMBAHAYAKAN BANYAK PEMBACA DAN GAJE.

-oOo-

"yang begini… akkhh… oughhh, ahhnn… Hunhh-niiehh ppali baby. apa kau ingat itu?"

PLAK

"Ya!—"

"kau menjijikan!"

"Oh Jong In…"

"kau yakin tidak mengingat kejadian paling penting, semalam?"

"Ani"

"aaargghhhtt. Umma~ aku muaaaaalll…"

-HunKai-

"aaarrgggghhtt… hosh… hosh…"

"eungg… Hunnie? Ada apa?"

"HAH?"

Menoleh kesamping dan…

BINGO

Namja manis ini, istrinya, anaenya— Ya Tuhan. Ia… ia masih tanpa sehelai benang dan bertelanjang dada. Berarti dibawah sana…

"kau kenapa, eum?"

Mengusap keringat dingin yang menguar melalui pelipis sang nampyeon yang hanya termangu melihat istrinya bersikap manis. Berbeda sekali saat dimimpi— mimpi? Jadi ia hanya bermimpi? Syukurlah.

"aku… kau… emm, apa selangkanganmu sakit?"

Hah? Bodoh! Mengapa ia bertanya seperti itu? Pasti namja manis dihadapannya ini akan mendorong dan memukul kepalanya lagi seperti dimimpi itu.

"aku? Emm… sedikit…"

HAH? Untuk kedua kalinya namja tampan ini membelalakkan kedua mata elangnya sambil mulutnya menganga lebar. Dan menyadari kedua pipi anaenya itu memerah.

"t…tapi, g-gwencha. Tidak apa-apa, Hunnie. Aku… aku s-senang"

Senang? Kau gila Jong In.

Kau mengatakan itu seakan seorang gadis perawan yang rela memberikan keperawanannya pada sang kekasih. Memalukan.

"Ma…maaf"

Eh? mendongak perlahan menatap sang nampyeon yang kini hanya memasang wajah melas. Aneh sekali namja dihadapannya ini.

"maaf karena membuatmu sakit. Tapi itu karena hole-mu yang sempit, jadi— Ya Tuhan"

BODOH! Mengapa ia malah mengomentari wilayah sakral itu? Istrinya ini pasti akan menendang ia jauh-jauh dan menggesekkan wajahnya pada aspal. Benar-benar bodoh.

"eh, em… maksudku buk—"

"tidak apa-apa, Hunnie. Hole-ku sempit, memang karena belalai tempurmu yang melebihi ukuran normal"

Mengapa acara dua insan ini malah semakin membahas tentang milik masing-masing? Membosankan. Bukankah semalam mereka sudah melakukan itu? Mengapa jadi reunian kejadian semalam dipagi hari. Pasangan yang aneh.

"maafkan adik kecilku. Baiklah, apa kau ingin mandi?"

"Ne. seluruh tubuhku sudah terasa lengket sekali"

Membangunkan tubuhnya untuk menuju kamar mandi. Namun naas sebelum ia sempat sampai tujuan. Selimut yang ia kenakan terlilit pada ranjang dan alhasil…

BLUR

Selimut itu terlepas dan iapun jatuh dengan tubuh yang tanpa sehelai benang serta bokong yang mendarat mulus pada lantai. Ironis.

"akhhh…"

Meringis sakit bermaksud untuk meminta tolong pada sang nampyeon. Namun saat ia tunggu-tunggu, namja tampan itu tak kunjung membantunya berdiri. Ia coba melirik ada apa namun matanya terbelalak sempurna saat melihat sang suami yang tengah membulatkan matanya sambil menatap sang istri.

Ya Tuhan. Full naked, now?

"kyaaaaa~ ouch… appo"

"Hah? OMO, Jonginnie… ada apa denganmu?"

Tersadar dari lamunan kotor akan tubuh seksi sang anae, buru-buru menghampiri tubuh namja manis yang tergolek indah masih dengan tubuh polos itu.

"selimutnya. Selimutnya, Hunnie. Berikan padaku"

Berhenti sesaat sambil menatap selimut yang agak jauh dari sang istri. Otak kotornya berjalan dengan lancar bak jalan tol. Berseringai tipis sebelum kembali menatap lapar pada tubuh itu.

"untuk apa? bukankah lebih indah jika tubuhmu tanpa sehelai benang, eum?"

Mendekat dengan perlahan sambil memasang wajah menakutkannya. He's so damn!

Kai yang takut akan senyuman menyeramkan itu hanya menyeret bokongnya yang terasa ngilu kebelakang sambil menutupi daerah rawannya dengan kedua tangan.

"a-apa maksudmu? Tolong Hunnie. Berikan selimut itu, a…aku malu"

"malu? Bukankah semalam aku sudah melakukannya denganmu? Mencicipi tubuh itu, bahkan kau sangat menyukainya. Untuk apa malu,eum?"

Terdengar seperti seorang namja yang akan memperkosa seorang gadis. Mengerikan.

Kai terus mundur dan mundur, hingga tak ada lagi jarak yang dapat ia jangkau. Buntu, eoh?

"Hunnie, aku ingin mandi. Tolong selimutnya"

"tidak sebelum ini, baby…"

"kyaaaaaa~"

Ok. Berakhir dengan sesuatu yang panas dipagi ini. Sepertinya namja tampan itu akan menerkam istrinya lagi dengan habis-habisan.

-HunKai-

"morning, honey"

"ah morning umma"

"bagaimana?"

"eoh? Bagaimana… maksudnya?"

Namja manis ini bingung akan pertanyaan ibu mertuanya yang sangat dan teramat cantik. Tetap berdiri disamping meja makan, masih memikirkan yang dimaksud yeoja cantik itu.

"semalam. apa kau lupa?"

"HAH?"

Mulutnya menganga lebar. Apa? mengapa bertanya soal semalam? jangan-jangan…

"aiishh baby, duduklah. Ayo duduk dulu"

Tergagap akan sikapnya. Pikirannya masih menerawang jauh.

"Aaawwww…"

"Jonginnie, gwenchana?"

"Sakit, umma"

Berkata sedemikan melasnya sambil mengelus-elus bokongnya yang kembali terasa ngilu saat ia mendudukkan tulang ekornya pada bangku meja makan itu.

"Astaga. Apa bocah tampan itu menyakitimu, eum?"

"Sepertinya ia berbuat terlalu over pada istrinya". Timpal Jinki.

"Siapa yang over?"

Dan semua pasang mata itu menoleh keasal suara yang tiba-tiba masuk dalam percakapan itu.

"Kau"

"Mwo? Aku? Mengap—"

"Karena kau terlalu kasar bermainnya, Hunnie"

"HAH?". Smuanya terkecuali Jong In, menatap tak percaya akan perkataan yang tiba-tiba meluncur dengan indahnya dari mulut seorang Oh Jong In secara LIVE.

"emm… m-maksudku, jadi begini…"

"HAHAHAHA…"

Dan pasangan JinKey hanya bisa terbahak saat melihat wajah polos Jong In ingin melontarkan sebuah pembelaan.

"Kau memang seorang laki-laki sejati Oh Sehun". Celetuk Jinki bangga.

Sehun dan Kai hanya bisa membuang wajahnya saat mereka masih membahas ucapan yang menurut mereka itu… aneh?

"Jadi… kapan kalian akan memberikan kami baby?". Tanya Jinki

"ahh benar. Aku sudah ingin sekali dirumah ini terdengar suara tangisan seorang baby. benarkan yeobo?". Tambah Keybum.

"Tentu"

"Akhh yeoboooo~"

Dan pasangan ini berpelukan layaknya mahluk yang menyerupai boneka dengan warna-warni dan dikepala mereka terdapat sesuatu seperti antenna namun berbentuk sangat aneh.

"Kalian menggelikan"

"Dan kalian sangat manis". Balas Key dengan senyum sumringahnya. Yeoja aneh.

"Kalian aneh"

"Dan kalian sangat HOT"

"aaaargghh~ umma, aku muaaall"

Menggigit dengan ganas roti yang ia rebut dari tangan sang istri.

-HunKai-

"jadi?"

"Apa?"

"semalam?"

"kenapa?"

"kenapa kenapa…"

"aku serius, bodoh"

"kau yang bodoh, bocah"

"iishh… mengapa semua orang aneh hari ini?"

Berteriak frustasi pada namja jangkung dihadapannya ini. Mengapa semua orang berlomba-lomba menjadi aneh dipagi hari ini? Apa otak mereka sudah tercemar akibat banjir kemarin?

"Kau-Jong In. apa tendanganmu GOL? Dan tak mendapatkan kartu kuning?"

"Eh?"

Tendangan? Gol? Apa maksudnya. Atau dia— tidak, maksudnya mereka…

"Ya! kau—"

"Hehehe. Aku dan yang lain hanya memastikan saja bahwa kau melakukannya dengan benar dan khidmat. Ck, Ternyata kau lebih dari itu, bocah"

"Konyol"

.

.

.

.

"Hihi…"

"Ada apa, Kai?"

"Eh? emm… aniyo"

"Semalam berjalan dengan mulus, eoh?"

"Mwo? Bagaimana kau—"

"Datang secara langsung"

"MWO?"

"Ya~ kau mengagetkanku, lihat pengunjung disini menatap kearah kita"

"t-tapi… bagaimana mereka juga…"

"aku mengajak mereka untuk menonton acara live dan sangat spektakuler"

"HAH?"

Dan yang kedua kalinya ia berteriak tidak karuan dalam sebuah pasar swalayan. Membuat semua pengunjung tempat itu menoleh pada dua orang namja cantik dan manis yang tengah bergosip heboh.

"Kajja. Kau membuatku malu, baby"

Menyeret dengan paksa namja manis itu sambil menggerutu tak jelas.

.

.

.

.

"Hyung… bukankah itu teddy bear merah muda?"

Berlari menuju sebuah toko boneka yang menjual berbagai jenis mainan kesukaan anak perempuan itu. Matanya berbinar antusias.

BRUK

"aww… appo"

"Ya! kau tak punya mata, eoh?"

"hah? Apa? berani-beraninya kau—"

"APA?"

"KAU!"

Keduanya saling menatap tak suka. Menguarkan sebuah aura yang… yeah, entahlah.

"Jonginnie, gwenchana?". Baekhyun dengan sigap memeriksa seluruh tubuh Jong In yang terjatuh tadi. Hampir saja ia memaki seseorang yang telah menabrak adik manisnya itu.

"kita bertemu lagi, Nona Kim"

"Nona?"

"Ya~ aku namja. Jadi kau… kau… emm, apa hyung?"

Baekhyun tewas seketika. Mengapa adik manisnya ini begitu bodoh, eoh?

"hyung… hyung. Ahh lupakan! Kau jangan memanggilku Nona, aku namja!"

"Namja? Aku ragu kau seorang namja"

"iisshh…"

Hampir saja Jong In menjambak rambut yeoja ini dan mencakar habis wajah menyebalkan itu.

"jika kau namja. Mengapa kau menikah dengan seorang namja, eum? bahkan sepertinya kaupun menyukai namja. Laki-laki tidak normal. Memalukan"

DEG

Memalukan? Benarkah ia namja memalukan? Ia memang tidak normal. Tapi bukankah Sehun juga…

"Kau bahkan hanya namja yang dimanfaatkan seorang Oh Sehun. Kau pikir ia menyukaimu? Ia namja yang normal, bodoh. Ia memilikiku, yeojachingu-nya. Kau lupa? Dia tidak menyukaimu, bahkan sampai mencintaimu. Dan kaupun tak bisa memberikannya seorang keturunan. Karena kau namja, bodoh. NAMJA"

DEG

Keturunan? Benar. Ia hanya namja. Bukankah suatu rumah tangga yang sempurna itu harus memiliki syarat dengan adanya sebuah keturunan? Dan ia… ia namja. Namja tak pernah mungkin bisa melahirkan keturunan. Bahkan kedua mertuanyapun telah membahas tentang keturunan.

"hey, Sehun itu seorang laki-laki yang ingin memiliki hidup sempurna. Dan ia ingin rumah tangganya pun sempurna dengan memiliki seorang anak. Kau? Jangankan ditanya, kau pasti tak sanggup memberikan itu padanya dan dia akan meninggalkanmu. Kau itu—"

"CUKUP! Dasar yeoja sinting. Baby, kita pergi saja". Baekhyun yang mulai muak akan cercaan demi cercaan yang keluar dari mulut busuk itu, dengan segera membawa Jong In pergi dari yeoja sinting itu. Dan Jong In masih tetap diam sepanjang jalan.

Ia namja. Benar, ia seorang namja. Mana mungkin namja bisa mengandung, mana mungkin namja bisa melahirkan, mana mungkin namj—

"Kai…"

"eoh?"

"jangan kau pikirkan. Dia hanya iri melihatmu bahagia bersama Sehun. Sepertinya ia masih terobsesi ingin mendapatkan Sehun kembali. Percaya padaku, Sehun hanya milikmu. Ia hanya mencintaimu. Dan ia takkan pernah meninggalkanmu, Apapun yang terjadi"

"Tapi aku tidak—"

"Ssstt… sudahlah. Suamimu datang"

-HunKai-

Sunyi. Namun hatinya gelisah, menatap sendu kearah langit yang memang sepertinya mendung, tak ada bintang disana. Pikirannya kalut, Hatinya benar-benar dilema. Rasa sesak itu datang lagi. Seakan menggoreskan sebuah pecahan beling pada lengannya. Sakit. Ingin menangis, namun merasa seperti orang bodoh. Apa? apa yang ia harus lakukan?

"Baby"

Sedikit terlonjak kaget saat dirasa sepasang lengan kokoh memeluknya dari belakang. Merasa nyaman dalam dekapan sang namja tampan. Merasakan degup jantung yang tak biasa.

Hatinya benar-benar tenang dan aman.

Namun tak lama, bagaikan sebuah film lama yang diputarkan kembali. Ia teringat ucapan itu, ucapan yeoja yang mengatakan bahwa ia tak pernah mungkin bisa membahagiakan Sehun— suaminya.

"ada apa, eum? apa bokongmu masih sakit?"

Mendelik tajam pada suami yang kini meletakkan kepalanya diantara lekukkan leher jenjang namja manis itu.

"apa? mengapa kau menatapku seolah meminta. Apa kau ingin kita melakukan kegiatan membuat baby lagi, eum?"

DEG

Baby? berarti ia memang menginginkan seorang baby? bukankah begitu?

Tak terasa buliran liquid itu keluar tanpa dikomando lagi. Hatinya sakit, ngilu sekali. Apakah namja tampan dihadapannya ini benar akan meninggalkannya jika ia tak bisa memberikan seorang baby?

"hey, baby… kau kenapa? Apa aku menyentuh bokongmu?"

Diam. Masih terisak membuat bahunya naik turun. Sepertinya ia ingin menangis kencang.

Dan bosan tak mendapatkan respon, namja tampan itu membalikkan tubuh sang istri dan terkejut melihat lelehan air mata pada kedua mata sendu itu.

"ada apa? apa aku salah bicara?"

Diam dan diam. Sambil menggigit bibir bawahnya agar tangisnya tak pecah.

"mengapa kau diam? Apa aku—"

"kau menginginkan seorang baby?"

"Hah?"

"jawab saja"

"seorang baby? tentu saja"

"hiks… hiks… hiks…"

EH. namja tampan ini bingung. Mengapa anae-nya malah semakin terisak? Apa ia salah jika ia ingin memiliki baby, dari istri tercintanya tentu saja.

"baby… ssst, uljima"

Merengkuh tubuh rapuh itu. Sepertinya namja manisnya tengah dalam keadaan mood yang buruk.

"kau… hiks… kau benar-benar menginginkan baby? hiks…"

"Ya, baby darimu— anae-ku"

"tapi aku seorang namja, dan pastinya aku tak bisa memberikanmu seorang baby… hiks"

"aku tidak perduli. Yang pasti aku mencintaimu"

"tapi aku seorang laki-laki, Hunnie"

"tapi aku mencintaimu. Sangat… teramat mencintaimu, baby"

"tapi… hiks… aku… namja dan kaupun namja… hiks… kita p-pasangan tidak… normal hiks…"

"aku tetap mencin—"

"lebih baik kita bercerai"

"MWO? Aargggghhhh~ umma… akkhh… ummaa aku… muaaall"

TBC