Nah… gomen mulai sekarang akan saya taroh di fandom cross-over Naruto-Bleach eh… maap kalo malah pada bingung truz ada yang ngirim permintaan update lewat repiu dari fic saya yang lain. Katanya kok gak apdet-apdet sih… uwaaaaa maapin saya, bingung ya nyariin! *pede banget*
Yo wes daripada kebanyakan ngibul, langsung baca wae deh!
.
Disclaimer
Iyo-iyo… kula nganti bosen menawi karakter lan tokoh-ipun kagungane Tite Kubo lan Masashi Kishimoto. Tapi ingat! Cerita ini cuma milik gue seorang! *ngacungin pentungan*
.
Akatsuki Life After Death
by shiNomori naOmi
.
Warning
Cross. Garing gak ketulungan, gak jelas, amat sangat OOC ness dan super lebay. Cetak miring adalah kata hati. Kalo gak suka ya gak usah dibaca. Iya toh ? Iya toh ? *nyiapin pentungan*
.
Chappie 8
Magang Part 5 : The Troublemaker !!!
"Un… un… un…!"
"Deidaraaaaaa! Cepetan loe mandinya!" teriak Pein sewot. Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan pagi waktu setempat, tapi orang yang dipanggil oleh leader Akatsuki itu-pun belum menunjukkan tanda-tanda mau keluar dari kamar mandi.
"Un… un…! Ah… segernya mandi pagi!" kata Deidara riang seraya keluar dari kamar mandi. Harum semerbak berbagai macam parfum dan sabun murahan menguar saat Deidara membuka pintu kamar mandi yang terbuat dari seng bekas itu.
Pein yang sudah menunggu giliran sejak 3 jam yang lalu-pun kini memasang tampang angker. Keseel banget sama bawahannya yang satu ini.
"Leader-sama… muram banget sih wajahnya, un?" tanyanya tanpa dosa sambil menggosok-gosokkan handuk ke rambut pirangnya yang kini tergerai.
Pein menutup hidungnya saat Deidara menyibakkan rambut basahnya. "Loe pake sampo apaan sih? Bau bener dah," tanya Pein.
"Ah… hidung leader-sama aja kale yang eror, un," jawabnya santai. "Ya sudahlah un, mendingan sekarang situ cepetan mandi ntar keburu siang loh. Kalau telat kan bisa dihukum kita," lanjut Deidara sambil membuka almari dan mengambil hakama hitamnya.
"Apa loe bilang!?" teriak Pein sambil mencengkeram kerah kimono mandi Deidara. "Ini juga gara-gara loe yang mandi lama bener. Loe tidur ya di dalem, hah?"
"Pein-sama… i-iya deh. Ke-kecekek nih!" ronta Deidara yang berusaha melepaskan jeratan maut(?) Pein. "Huff…," Deidara menghela nafas lega saat Pein yang dengan sangat terpaksa melepas cengkeramannya.
Muka Pein udah masam banget plus aura hitam yang dengan sukarela menghiasi bagian belakang kepalanya sedangkan Deidara juga kesel. Mukanya cemberut abis karena dandanannya yang belum kelar sudah rusak. Mereka pun saling memberikan death-glare dan rinnegan dari Pein pun aktif seketika. Kilat putih menyambar-nyambar dari kedua pasang bola mata berbeda warna itu.
Sebuah kupu-kupu hitam tiba-tiba dengan santainya terbang diantara keduanya. Memutuskan kontak kedua kutub listrik itu dan berhenti sejenak. "Hei… kalian ikutin gue! SEKARANG!" perintah sebuah suara yang ternyata berasal dari kupu-kupu itu. Kupu-kupu itu kemudian meneruskan perjalanan panjangnya dan kemudian menclok di sebuah patung tangan tempat Pein dan Deidara meletakkan cincin Akatsukinya.
"Haaah… merusak suasana saja," keluh mereka berdua bersamaan sambil menghela napas dan kemudian mengikuti si kupu-kupu.
"Pengumuman-pengumuman! Kedua anggota Akatsuki, Pein dan Deidara dimohon menghadap Ukitake-taichou 5 menit lagi! Gak boleh telat!" kata kupu-kupu itu dan kemudian terbang keluar dari jendela kamar duo Akatsuki.
"What!? Lima menit katanya? Gue belum mandi, nih!" teriak Pein panik. "Ini semua gara-gara loe, Dei!" tudingnya sambil mengambil semua perlengkapan mandi dan baju ganti dengan kalang kabut. Ia pun berlari menuju ke kamar mandi dengan tergesa-gesa. Bruuk! "Aduuh… kenapa sih nih pintu ada di sini! Rese' banget!" ujar Pein sewot gara-gara hidungnya tanpa sengaja nemplok di pintu kamar mandi yang setengah tertutup itu.
"Yare-yare, un," kata Deidara sweatdrop sambil geleng-geleng kepala.
.
***
.
"Uhuk… uhuk. Loe dan loe telat!" kata Ukitake yang sedang duduk di atas futonnya sambil memakai selimut super tebal dan masker.
'Hadoh… kenapa gue dapet atasan kayak gini ya?' batin Pein sweatdrop liat keadaan Ukitake yang mengenaskan itu(?)
"Maaf, Ukitake-sama un. Pein-sama tadi mandinya lama banget un," ujar Deidara seraya membungkukkan badan. Benar-benar tidak mau mengakui kesalahan yang sebenarnya.
Saat Deidara membungkukkan badannya, Pein ngejitak kepala pirang Deidara yang menyebabkannya nyungsep ke lantai. "Berani-beraninya loe ngefitnah gue, hah!" teriaknya marah sambil nginjek-injek punggung Deidara.
"Ampuni ambo, Pein sama! Ampun!" tangis Deidara.
Ukitake sweatdrop. "Sudah-sudah… lupakan saja ya," lerai Ukitake penuh kesabaran, padahal ia paling males melihat pertengkaran gak penting di matanya yang bisa-bisa membuat penyakitnya kambuh lagi.
"Ngomong-ngomong, un. Kenapa taichou memanggil kita? Mendadak pula, un," tanya Deidara setelah berdiri kembali dan kemudian menyisir rambutnya yang berantakan karena peristiwa yang diluar kendalinya tadi. Alhasil kutu-kutu rambut Deidara terdeportasi ke kepala Pein.
"Aduuuh… kok gatel-gatel ya rambut gue? Perasaan tadi dah keramas deh," keluh Pein sambil garuk-garuk kepalanya. Satu buah kutu meloncat dan jatuh ke sebuah cangkir teh yang ada di meja kecil di hadapan mereka.
Srupuuutt… Ukitake meminum teh itu, yang mungkin bisa sedikit meredakan sesak di dada dan pusing di kepalanya sejak kedua orang tadi menghadap. 'Kok berasa nelen apaa gitu?'batin Ukitake heran.
"Yah… sebentar lagi akan ada festival musim panas. Setiap divisi diwajibkan untuk unjuk kebolehan. Aku tugaskan kalian untuk mempersiapkan materi perlombaan itu,"jawab Ukitake.
"Emang temanya apa, un?" tanya Deidara yang dengan nistanya masih menyisir rambutnya. Kutu dan ketombe berhamburan tidak jelas ke udara.
"Temanya bebas. Terserah kalian. Berhubung anggota divisi 13 sibuk semua, aku terpaksa memilih kalian untuk persiapannya. Yang jelas harus UNIK," jawab Ukitake dengan menekankan pada kata unik itu.
"Enak saja, gue ini leader-nya. Seenaknya aja loe nyuruh-nyuruh gue, hah?" bentak Pein gak terima disuruh-suruh layaknya pembokat. Terang saja, dia kan pimpinan tertinggi kriminal tingkat S. Ukitake ngasih deathglare, menatap tajam pada Pein. "Death-glare loe gak mempan ke gue!" kata Pein ketus. Bola mata Pein sudah membentuk motif spiral, rinnegan maksudnya.
"Haaah…," Ukitake menghela napas panjang dan kemudian menarik sebuah tali yang menjuntai dari langit-langit ruangan itu. Syuuut… syuuut… syuuut! Jleb… jleb… jleb… Lima buah kunai terbang dengan kecepatan tinggi dan menancapkan pada pakaian Pein, membuatnya terfiksasi di tembok dengan tidak elit. "Masih berani, hm?" tanyanya datar.
Deidara yang melihatnya langsung keringat dingin. 'Waduh ngeri juga, coy!' batinnya.
Satu buah tangan Pein yang bebas, berusaha melepaskan pisau yang menancap itu. "Loe mau nantangin gue hah?" bentaknya. Deidara mencengkeram kerah bagian belakang Pein sebelum Pein mendekati Ukitake. Deidara menatapnya tajam dengan pandangan –cukup atau kita akan mati!- dan Pein mendelik tajam ke Deidara dengan pandangan –apa loe bilang?-
Akhirnya Pein, sang leader Akatsuki pun menyerah juga saat dilihatnya Ukitake hendak menarik tali itu untuk yang kedua kalinya. "Ah… Ukitake-sama un, kalau begitu kami permisi dulu un," kata Deidara sambil menyeret Pein ke luar kantor itu.
.
***
.
"Apa-apan sih loe! Lepasin, ah!" teriak Pein saat merasa dirinya tercekik ketika diseret Deidara.
"Gomen, Pein-sama un. Kalau mau balas dendam bukan di sana tempatnya," kata Deidara sambil tersenyum bak iblis. Mereka kini sedang berada di lapangan tempat akan diadakannya festival. Suasana sudah terlihat sedikit hiruk pikuk karena persiapan lomba.
"Maksudmu?" tanya Pein heran.
"Pein-sama kesini bentar, un!" Deidara menarik pierching karatan di telinga Pein dan mendekatkannya ke mulutnya.
"Baka! Sakit, bego!" teriak Pein sewot sambil menjitak kepala Deidara.
"Aww… un. Sengaja!" Deidara mengelus-elus kepala benjolnya. "Sini bentar un!" Deidara memberi instruksi agar Pein mendekatkan telinganya. "Pssst… sstt… psstt…," bisiknya.
Pein yang mendengarnya ngangguk-angguk paham dan kemudian tawa setannya muncul. "Mwahahahahaha… tumben loe pinter, Dei!" tawanya keras banget sambil memukul-mukul bahu Deidara yang meringis kesakitan. "Mmmph…!"
Deidara membekap mulut Pein yang mangap gak karuan itu, membuat lalat-lalat terbang mengerubunginya. "Psst… leader sama, ketawanya ntar aja un kalo rencana kita dah berhasil un," katanya.
"Mmmph…," Pein mengangguk pasrah. Wajahnya sudah membiru kekurangan oksigen dan setelah tenang, Deidara melepaskan bekapannya. "Mpeh… haaah… haaah," Pein menarik napas lega.
"Ya udah nyok… kita siapin aja deh!" ajak Deidara dan Pein pun mengangguk.
.
***
.
Persiapan Festival
"Un… un….!" Deidara kini sedang bersenandung sedangkan tangannya sedang komat-kamit mengunyah tanah liat yang akan menjadi sebuah karya seni (menurutnya sih). Rencananya ia ingin membuat kembang api sebagai malam puncak festival, karena seni adalah ledakan. Itu menurutnya lagi.
Sedangkan Pein, ia cuma manyun saja sejak tadi. Entah kenapa otaknya sangat buntu, sebuntu otak author yang tidak bisa memikirkan rencana apa yang akan ia gunakan untuk membalas dendam. "Aha… gue bikin stand makanan aja deh. Tapi… menunya apa ya?" gumam Pein.
"Emang Pein-sama bisa masak, un?" tanya Deidara yang masih mengunyah tanah liatnya.
"Kagak," ujar Pein lirih sambil jongkok pundung di sudut tembok dengan aura hitam menggantung di kepalanya.
"Minta bantuan sama Konan aja, un," kata Deidara santai.
"Hah? Loe bener juga, tumben hari ini loe pinter banget, Dei," kata Pein yang kemudian melesat ke tempat di mana Konan berada.
"… dan tumben sekali Pein-sama bego bener hari ini,un," ujar Deidara setelah Pein menghilang.
.
***
.
"Ya… elah, bego bener sih. Gue kan kagak ngerti tempatnya si Konan," keluh Pein saat sedang mondar-mandir di halaman divisi 4. "Eh… divisi 4, kok kayak inget apa gitu? Tapi kok juga rada-rada lupa ya? Déjà vu….," lanjutnya.
"Pein?" sapa seseorang sehingga membuat Pein menolehkan pandangannya ke orang itu.
"Ko-Konan?" kata Pein tergagap.
"Peiiinnnnnn!"
"Konannnnnn!" seru mereka berdua bersamaan dan kemudian saling berlari dan berpelukan ala teletubies dengan background bunga matahari layu(?)
"Konan sayang, akang kangen ama kamu," kata Pein ngegombal.
"Ah… akang ini, Konan jadi malu," kata Konan malu-malu kayak adegan pilm siti nurbaya.
"Ehem-ehem… mas, mbak kalo mau mesra-mesraan cari tempat yang elit dikit napa? Ini malah deket tempat pembuangan sampah sih?" tegur seorang pemulung yang kebetulan ada di sini. Risih karena telah menginjak-injak barang dagangannya yang belum sempat ia pungut itu.
"Dasar Pein! Seleranya rendahan!" kata Konan sebal sambil narik-narik anting karatan di telinga Pein setelah menyadari posisi mereka berada. "Ugh… sebel… sebel. Pokoknya sebel," lanjutnya sambil cemberut tingkat tinggi.
"Aduuuuh, sakit! Ini kan juga cuman spontan! Salahin author tuh yang bikin setingnya gak elit gini!" sergah Pein membela diri.
"Hn… bener juga. Tapi gimana protesnya? Kita kan cuma korban kebiadaban para author-author nista," ujar Konan lirih. "Ah… ya sudahlah, jadi ngapain loe ke sini?" tanyanya.
"Gue mau minta bantuan loe buat persiapan festival ntar. Loe mau ya jadi koki gue, rencananya gue mau bikin stand makanan," pinta Pein dengan mata berkaca-kaca.
"Jurus mata anjingmu itu gak ngefek tau'. Gak… gue gak mau," tolak Konan.
"Kenapaaaa?" tanya Pein, air matanya hampir jatuh.
"Haah… gue juga udah banyak kerjaan nih. Ntar bisa-bisa gue di suruh jemur baju lagi di puncak Himalaya kalau gue melakukan pelanggaran atau kalau lagi apes-apesnya malah disuruh mencari air kehidupan yang hanya ada di sumber mata air di gurun sahara. Haaah…," kata Konan seakan meratapi nasibnya yang gak kalah jauh buruknya dari anggota Akatsuki yang lain.
"Jadi gituuu," kata Pein yang kemudian menundukkan kepalanya dengan putus asa lalu berjalan menjauhi Konan.
"Tunggu Pein! Gue bisa sedikit bantu kok," panggil Konan saat ia menyadari Pein sudah berada jauh dari pandangannya.
Walaupun suara Konan samar-samar, itu sudah cukup membangkitkan semangat Pein. Ia pun berbalik arah dan berlari ke arah Konan kemudian berjongkok di hadapannya dengan memasang muka puppy eyes. " Beneran? Apa? Apa?" tanyanya antusias.
Konan sweatdrop. "Loe malu-maluin organisasi kita aja, Pein," katanya.
Pein pun kemudian berdiri, memasang tampang sok gagah layaknya seorang pimpinan yang mau berpidato. "Ya udah… jadi apaan nih?" tanya Pein.
"Nih…," kata Konan sambil memberikan sebuah buku bersampul coklat lusuh kepada Pein.
"Hah? Apaan nih? Kayak buku primbon," tanya Pein sambil membolak-balikkan sampul buku itu. "Aww… apaan sih kok malah ngejitak gue!" keluhnya ketika ia merasakan kepalan tangan Konan mendarat dengan cukup keras di ubun-ubunnya.
"Dasar bodoh! Itu buku resep masakan asli warisan dari mbah buyut gue," kata Konan sambil menunjukkan jari telunjuknya ke buku itu. "Gue gak bisa bantu buat masak, tapi di buku itu loe bisa memasak segala jenis masakan yang sangat unik," lanjutnya.
Pein membuka halaman pertama buku itu dan melihat daftar isinya. "Resep jampi-jampi cina, perkedel iguana, sate kaki kutu loncat rasa madu. Hah? Gak salah nih?" tanyanya heran.
Konan mengangguk. "Sebenarnya itu resep moyang gue waktu lagi trend masakan ala manusia purba gituuu. Tapi gak tahu kalo trend masakan jaman sekarang apalagi di soul society ini," kata Konan setengah gak yakin.
"Hmm… begitu," Pein mengangguk. "Tapi ya sudahlah, sangkyu Konan!" lanjutnya dan kemudian berlari menuju tempat persiapan festival.
"Dasar… gak sopan banget sih!" gerutu Konan dan ia pun pergi meninggalkan tempat itu.
.
***
.
"Gimana un? Udah dapet bantuan dari Konan un?" tanya Deidara yang sejak tadi belum selesai juga membuat karya seni. Sudah berpuluh-puluh burung bangau kecil menumpuk di sampingnya dan sekarang ia sedang memberikan goresan terakhir pada patung yang sangat mirip taichou-nya itu.
Pein menyeringai dan Deidara pun bergidik. Gak biasanya leader Akatsuki itu tersenyum sadis gitu. "Un?" sapa Deidara sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Pein.
"Ugh…," Pein menyingkirkan tangan Deidara. "Dei… kali ini rencana kita musti berhasil! Kita harus bebas dari kerja rodi ini, Dei! Kita harus memperjuangkan hak-hak kita sebagai seorang kriminal, Dei! Harus! Hidup atau Mati!" katanya dengan semangat berkobar layaknya tentara yang siap maju perang dan menghadapi maut.
"Uwoooooh… Pein-sama keren, un!" seru Deidara terkagum-kagum.
Pein mengangguk puas dan kemudian berjalan memasuki salah satu ruangan dari stand yang disediakan untuk mereka yang berfungsi sebagai dapur itu, mengabaikan tatapan kagum dari Deidara. Ia memasang sebuah peringatan "Beware of Pein!" di pintunya dan kemudian menutup pintunya dengan keras sehingga menyebabkan bunyi gedebum dan beberapa lukisan jatuh.
Dhuaaarrr! Blaarrrr… krompyang-krompyang!
"Aww… panassssss!" seru Pein dari dalam ruangan itu.
"Pein-sama! Loe gak papa, un? Dei masuk ya, un!" seru Deidara khawatir sambil menggedor-gedor pintu itu.
"Gak boleh! Gue gak papa kok! Aww… tanganku kegigit!" balas Pein.
"Yakin, un?" tanya Deidara.
"Iya… udah sono, loe lanjutin aja kerjaan loe!" balas Pein yang masih saja setia dengan bunyi-bunyi entah apa itu yang membuat orang yang mendengarnya mengernyitkan dahi.
"Ya udah un, hati-hati saja deh un," kata Deidara seraya berbalik dan kemudian melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.
.
***
.
Festival Musim Panas : Malam Harinya
"Dijual murah! Seribu tiga seribu tiga!" Pein kini sedang berdiri menunggu stand sambil berteriak-teriak menawarkan dagangannya. Di depan standnya, ada stand milik Kakuzu yang sedang jual berbagai macam barang yang gak jelas dan aneh-aneh.
Kakuzu mendekati Pein dengan muka merah padam. "Eh… loe! Kalo mau jualan jauh-jauh dari stand gue ya! Bikin usaha gue bangkrut aja!" teriak Kakuzu saat dilihatnya stand Pein begitu ramai dengan para pelanggan.
"Kakuzuuuu… jelas aja stand gue laku. Gue kan jual dengan harga yang miring, gak kayak loe yang mahalnya selangit. Dasar rentenir… masa' kaos oblong hasil mulung gitu satu stel harganya 200 ribu?" kata Pein santai.
"Eloooo… berani ya ma gue?" geram Kakuzu sambil mencengkeram hakama milik Pein.
"… dan loe berani sama pemimpin Akatsuki loe ini, hah?" balas Pein yang gak mau kalah. Rinnegannya udah aktif, membuat mata Kakuzu berputar-putar saat melihatnya.
Brrukkkk! Kakuzu-pun jatuh tak sadarkan diri saking pusingnya.
"Haaah… dasar mantan bendahara merepotkan saja," dengus Pein sambil merapikan kerah hakamanya dan kemudian tersenyum kembali kepada para pelanggan. "Yoooo menu murah, sangat murah ayooo beli!" tawar Pein.
"Uggh… perut gue sakit nih!" keluh salah seorang shinigami yang menjadi pelanggan Pein.
Bwoooossssh!
"Uwaaaaaah… gila baunya!" seru pelanggan lain dan orang-orang yang kebetulan lewat.
"Ma-maaap!" kata pelanggan yang ternyata orang yang telah mengeluarkan bau-bauan itu sambil berlari menuju kamar mandi diiringi dengan lemparan bakiak dari shinigami laen.
"Bang… emang ini masakan apaan sih?" tanya salah seorang pelanggan berkepala botak, Ikakku.
"Hm… ini adalah sate iguana dengan lumuran madu, lalu yang ini minuman cinta. Terbuat dari campuran kembang 7 rupa, minyak wijen, kemenyan, hio, bla… bla… bla…," kata Pein semangat sambil menawarkan dagangannya.
"Gue mau yang ramuan cinta aja deh," kata Ikakku.
"Oke… siap dalam 3 detik!" seru Pein riang sambil mengulurkan segelas minuman berwarna hijau lumut yang berbuih-buih.
Brussssshhh… mpeh! "Apaan nih!?" teriak Ikakku marah, gak terima banget dapat barang yang gak layak konsumsi seperti itu.
"I… Ikakku?" tanya rekan Ikakku terbata, Yumichika.
"Apa banci?" tanya Ikakku balik.
"Muka loe…," kata Yumichika terputus dan Ikkakku memandangnya dengan tatapan heran. "Uwaaaaa! Loe ganteng banget! Yumi sayang Ika-chan!" seru Yumichika sambil menghambur dan memeluk Ikakku.
"Lepasin, ah! Dasar gila!" tolak Ikakku. "Eh… loe kata, ini ramuan cinta kok jadi gini sih?" tanyanya marah.
"Ya emang, ini akan membuat orang yang melihat pertama kali akan jatuh cinta. SELAMANYA!" kata Pein sambil tersenyum, membuat wajah Ikakku pucat pasi dan kemudian berlari menjauhi Pein diikutin dengan Yumichika yang mengejarnya.
"Ika-chaaaan… jangan lari! Tungguuuu!" seru Yumichika.
"Ufufufu… tahap pertama beres. Sekarang tinggal tahap terakhir. Deidaraaa!" panggil Pein.
"Yosh,un! Persiapan udah matang, un! Tinggal diluncurkan!" seru Deidara tidak jauh dari Pein sambil memberi hormat bendera kepada Pein.
"Unnnn… pesta kembang api! Persembahan spesial dari divisi 13, un!" seru Deidara sekeras mungkin.
"Yaaayyy!" Para pengunjung meresponnya dengan bersuka cita.
"Hitung mundur, un!" perintah Deidara semangat banget.
Count down
3…
2…
1…
Syiutttttttt… blarrrrr! Satu buah kembang api melunjur ke angkasa, meledak dan memberikan warna-warni indah di malam itu.
"Uwooooh… indahnya!"
"… dan satu lagi un," bisik Deidara setelah mendapatkan tanda persetujuan dari Pein. Deidara membuat segel tangan dan beratus-ratus burung bangau kecil terbang berhamburan di udara, membuat banyak pengunjung festival itu berdecak kagum. Ini akan menjadi malam yang tidak akan terlupakan. Mungkin itu yang mereka pikirkan.
Deidara menaiki sebuah burung besar dan terbang ke udara, membentuk segel tangan dan…
"KATSU !!!"
DHUAAARRRRR !!!
"Uwaaaaaa… kebakaran. Lontong sate! Eh… tolooongin satenya dooongg!" Suasana festival seketika menjadi porak-poranda.
"Deidaraaaaaa! Kalau mau ngeledakin tempat ini bilang-bilang dongk! Setidaknya gue juga ikutan terbang naik ke burung beo loe!" teriak Pein frustasi, hakamanya robek-robek dan mukanya gosong.
"Upss…!" Deidara kemudian menurunkan burungnya, dan menarik Pein agar naik ke atas. Pein ngejitak kepada Deidara pake wajan yang dari tadi ia gunakan untuk masak makanan aneh yang dipelajarinya dari resep moyang Konan.
"Dasar bodoh!" Pein marah.
"Pein-sama un. I'm sorry… because art is a bang, un!" kata Deidara sambil ngelus-elus kepalanya yang entah sudah berapa kali menjadi tempat pendaratan tangan Pein-sama nya itu.
"Seni… seni…arrrgh! Stress gue! Ya udah pergi nyok dari sini! Udah malem ngantuk gue!" perintah Pein.
"Un…!" Deidara mengangguk dan mengarahkan burung tanah liatnya terbang menjauhi tempat festival.
.
***
.
Divisi 13 : Kamar Ukitake Juushirou
Ukitake sedang menatap ke arah langit tempat terjadinya pesta kembang api. Menatapnya dengan tatapan bangga.
Sambil menyeruput teh hangatnya, ia bergumam,"Tidak salah aku memilih mereka mewakili divisi 13 untuk festival itu, haaah… aku bisa tidur dengan tenang." Ukitake-pun kemudian membaringkan tubuhnya ke atas futon dan menarik selimut hingga sebatas dagu. Ia pun tertidur lelap hingga… entah kapan ia akan bangun lagi *author di sambit pake cangkir teh ama Ukitake*
.
To Be Continue
.
Balesan repiu :
Uwweeee… makin gak jelas aja deh, maksa pula alurnya. Hiks3x… kemampuanku menurun drastis nih. Kayaknya judul chapternya gak cocok banget ama isinya deh… hiks3x (guling-guling) Saatnya bales repiu yaaaaa…
shinobi eko : Nya nya… begitulah para kelakuan orang-orang yang luarnya sok stoic tapi dalemnya OOC abis hehehe… makasih repiunya yo.
Nanakizawa l'Noche : Yeee… tapi kan Itachi kun diperebutkan sebagai budak, emang nana-chan mau? Makasih repiunya.
kucingperak : waduh repiumu langsung 4 chapter, saya jadi bingung deh ngebalesnya. Eh gak usah minta maap… sesama orang sinting wajar dong wkwkwkwk… *dilempar ke RSJ* Ntar sasori nii juga muncul kok, semuanya pasti muncul *mungkin – dilempar pisang ma kucing perak-* makasih repiunya ya. Eh… hero or heroine nya kapan update? Saya menunggunya loh *ngacungin golok*
Fitriani Utami : ini… nama asli? Ya tak apalah. Ohoho iya Itachi mewek2, kayaknya cocok aja dia peran kayak gitu hahaha… makasih repiunya.
Ruise Vein Cort : Eh… maap soalnya ini cross over jadi aku taruh di fandom cross over saja, maap kalo pada bingung nyariin *pede banget sih* makasih repiunya.
Hyori Sagi : Itacong (Itachi bencong?)… ada-ada saja julukanmu itu ya! Ini sudah apdet kok, maap lama hehehe saya lagi ketagihan maen-maen di fandom Bleach sih. Baca fic-ku yang laen ya! *dilempar kulit duren, promosi terselubung*
YukiLoveSasu : Eh… ini kurohana sakurai bukan ya? Ganti pename teruz? Jadi bingung saya hohoho. Eh Itachi lebay ya. Emang iya kok, Sasuke juga udah durhaka sejak si kakak masih idup. Makasih repiunya.
Yuusaki Kuchiki : mbak… kemana aja loe? Sekilas kulihat dirimu di Eyeshield ya? Uweeee saya kelupaan repiu nih, maap-maap (bungkuk2). Eh… byaku keren? Iya di fic ini, di fic saya yang lain dia gantian yang aku kerjain abis, wkwkwk… makasih repiunya.
.
Um… nah tolong abis baca tinggalin kesan dan pesan kalian dalam bentuk repiu ya, biar saya semangat ngelanjutin fic abal nan gak jelas ini. Klik tombol ijo dibawah ini dengan penuh semangat masa muda oke! Arigatouuu!!!
