Lavenderku
Chapters . 8
Pair . NaruHina . GaaHina
Genre . Romance . Action
Rate . M (kekerasan)
Disclaimer . Masashi Kishimoto
#
"Cepatlah." Seru Yuura.
Sai, Sasuke, dan Gaara segerah mengangkat tubuh Naruto dan membawanya masuk kedalam rumah, Setiap maid yang melihatnya hanya mampu menutup mulutnya dengan tangan melihat keadaan tuan mereka yang sangat kacau dan tidak sadarkan diri. Yuura masuk kedalam kamarnya yang tak jauh dari kamar Naruto.
Setelah masuk kedalam kamar, secarah hati-hati Naruto segerah dibaringkan dikasur dan Yuura baru saja masuk kedalam kamar sambil membawa tas yang cukup besar dan menaruhnya disamping tempat tidur.
"Kenapa tidak dibawa kerumah sakit." Ujar Sasuke.
"Naruto-sama, tidak menyukai rumah sakit." Sahut Yuura dan membuka tasnya lalu mengeluarkan isi tas, seorang maid masuk dengan membawa baskom kecil berisi air dan dua buah handuk bersih.
"Nona Yuura, ini air dan handuknya." Ujar Maid itu dan menaruh baskom berisi air dan handuk diatas meja disamping ranjang lalu keluar dari kamar. Yuura membuka jaket Naruto dan menaruhnya di lantai.
Sreekk..
Dan dalam sekali ia merobek kaos yang dikenakan Naruto dan melemparnya kelantai.
"Nona Hinata, kau bersihkan tubuhnya." Ujar Yuura. Hinata menganguk mengerti lalu mengambil handuk bersih dan mencelupkanya keair dan memerasnya dan selanjutnya mulai membersihkan tubuh Naruto yang berkeringat yang bersatu dengan pasir dan debu.
Yuura membuka perban ditangan Naruto lalu dengan beberapa alat operasi yang ia miliki Yuura berusaha mengeluarkan peluru yang ada didalam lengan Naruto.
Sakura terkejut dan takut melihat Yuura yang mengeluarkan peluru dari lengan Naruto dan darah pun mengalir begitu saja tanpa henti.
"Yuura, kau yakin bisa melakukannya?" Tanya Ino yang ngeri melihatnya.
"Aku mahasiswi tamattan ilmu kedokteran disalah satu universitas ternama di Eropa." Jawab Yuura dan berhasil mengeluarkan peluru lalu menaruhnya di atas meja yang berlumuran darah.
"Yuura, sebenarnya apa yang terjadi?" Tanya Hinata khawatir melihat kondisi Naruto saat ini, apapun yang terjadi Naruto adalah suami Hinata dan ia harus tau tentang suaminya.
"Terlalu panjang untuk dijelaskan dan ceritanya sangat panjang." Jawab Yuura lalu menjahit bekas luka tembak dilengan Naruto dan cukup membuat semua terdiam dan merinding dengan yang dilakukan Yuura.
"Apa cita-cita mu, nona?" Tanya Yuura.
"Menjadi dokter khusus spesialis anak." Jawab Hinata pelan dan membersihkan tangan kiri Naruto.
"Jadi kau tidak usah takut jika melihat ku, mengeluarkan peluru ini, lalu bagaimana dengan kalian?" Ujar Yuura dan telah selesai menjahit bekas luka lalu meminjam handuk yang dipegang Hinata dan megelap bekas darah dan debu yang menempel hingga bersih dan mengembalikan handuk itu kepada Hinata.
"Aku akan membantu kakak ku membangun Uchiha Group menjadi lebih berkembang dan maju." Jawab Sasuke.
"Aku akan menjadi seorang model bahkan sekarang aku sudah menjadi model untuk beberapa foto sampul majalah remaja." Jawab Ino.
"Aku akan menjadi penerus butik milik ibuku ya bisa dikatakan perancang busana." Jawab Sakura percaya diri. Yuura tersenyum mendengarnya lalu melanjutkankan tugasnya memperban lengan Naruto.
"Aku menjadi seorang pelukis." Jawab Sai singkat.
"Aku, penerus dari Sabaku Entertaiment." Jawab Gaara.
"Kedua kakak mu lebih memilih menjadi aktris dan aktor ketimbang duduk dibelakang kursi yang membosankan." Timpal Yuura dan telah selesai memperban luka Naruto kemudian mengeluarkan beberapa alat infus.
"Cita-cita kalian bagus." Ujar Yuura dan memasang infus di tangan kanan Naruto.
"Nona, kau sudah selesai?" Tanya Yuura.
"Iyaa,," Hinata menaruh handuk basah didalam baskom berisi air dan membawanya keluar kamar.
"Terimakasih telah mau membawa Naruto masuk dan membaringkanya di kasur." Kata Yuura tulus.
"Iya sama-sama." Jawab mereka bersamaan.
"Yuuar, tolong jelaskan!" Ujar Hinata tegas.
"Aku belum bisa menjelaskannya lebih detail, tapi intinya ada sebuah organisasi yang ingin menghancurkan persahabatan antara Namikaze dan Uchiha." Jelas Yuura.
"Hanya itu?" Desis Sasuke.
"Uchiha, kau pasti sudah tau tentang permusuhan Namikaze dan Uchiha yang sudah berlangsung belasan tahun bahkan ratusan tahun, Namikaze dan Uchiha adalah klan tertua di Jepang tak mungkin kalau kau tidak tau." Sahut Yuura sambil mengobati luka gores dan lebam di tubuh Naruto.
"Aku tau tapi aku yang ku tau saat ini Namikaze dan Uchiha akan berdamai." Kata Sasuke.
"Ternyata Itachi-sama, belum memberitahu mu." Kata Yuura melirik Sasuke sebentar kemudian melanjutkan tugasnya.
"Beritahu apa?" Tanya Sasuke penuh selidik.
"Bertanyalah pada aniki mu itu dan minta penjelasan darinya." Jawab Yuura singkat, wajahnya yang tanpa ekspresi membuat siapapun sulit untuk menebak isi pikirannya dan bertampang dingin.
"Aku tidak mengerti." Desis Sakura bingung.
"Ini adalah rahasia klan kalau kalian mau tau maka kalian harus bersumpah untuk merahasiakan nya jika bocor didepan publik maka nyawa kalian akan melanyang." Ujar Yuura dan telah selesai mengobati Naruto lalu berdiri dan berbalik menghadap Hinata dkk.
"Kita keluar dan biarkan Naruto-sama beristrirahat." Lanjutnya.
~o0o~
Dengan memberanikan dirinya sendiri Hinata membaringkan tubuh mungilnya disamping Naruto, dilihatnya Naruto terbaring lemah tidak berdaya dan dengan ragu Hinata mendekatkan dirinya utuk tidur disamping Naruto dan menyandarkan kepalanya dipundak Naruto dan akhirnya tertidur. Dengkuran halus terdengar kecil dari keduanya menandakan mereka tidur cukup pulas.
2 jam kemudian Naruto siuman dan mengerejapkan matanya berapa kali untuk menyesuiakan intensitasi cahaya yang ada didalam kamar.
"Hmmm.." Gumamnya dan membuka kedua matanya memperlihatkan iris blue sapphire nya yang terlihat lelah kemudian menoleh kearah kiri setelah merasakan kehangatan yang yang begitu nyaman dan menemukan Hinata yang tertidur dipundaknya, ia tersenyum kecil lalu melirik jam yang ada didinding yang menunjukkan pukul 08.30 malam.
Dielusnya lembut rambut Hinata penuh kasih sayang hingga tanpa ia sadari Hinata terbangun dari tidurnya dan melihat Naruto telah siuman.
"Naruto-kun." Hinata bangun dari tidurnya dan memilih duduk disamping Naruto.
"Emm,,"
"Kau tidak apa-apakan?"
"Tidak apa-apa."
"Kau lapar?"
"Sangat."
"Kalau begitu aku turun dulu, akan ku buatkan kamu bubur."
"Ya sudah dan tolong panggilkan Yuura, ya."
"Iya Naruto-kun." Hinata beranjak turun dari ranjang dan keluar dari kamar dan tak lama kemudian Yuura masuk kedalam kamar.
Tok! Tok! Tok!
"Masuk." Ujar Naruto.
Cklek!
Yuura membuka pintu lalu menutupnya kembali dan menghampiri Naruto yang terduduk dikasur dan bersandar dibantal.
"Bagaimana keadaan anda tuan?" Tanya Yuura seraya duduk dipinggir kasur disebelah Naruto.
"Lumayan."
"Nona Hinata terus bertanya."
"Biarkan saja."
"Dia mengkhawairkan keadaan tuan saat ini dan bertanya terus, kapan anda akan menjawabnya."
"Mungkin nanti setelah Akatsuki kita binasahkan karena untuk saat ini ia tidak boleh tau."
"Besok ia akan bersekolah, Apa harus kita jaga?"
"Tentu saja, aku akan meminta Kakashi."
"Kakashi? Bukannya dia juga guru di KHS?"
"Benar."
"Saoka,,"
"Tidak terlalu mencurigakan, bukan."
"Tentu saja."
"Besok, anda akan pergi berkeja?"
"Aku tidak boleh terlalu merepotkan Iruka."
"Baguslah."
"Besok, kau awasi pabrik."
"Baiklah, besok akan aku awasi."
Cklek!
"Aku keluar dulu, nona akan masuk."
"Hn."
Hinata masuk dengan membawa nampan di tangannya yang terdapat mangkuk berisi bubur dan secangkir teh hangat. Yuura membungkuk kan badannya didepan Hinata kemudian keluar kamar dan menutup pintu.
"Kunci pintu kamar." Ujar Naruto.
"Iya." Hinata mengangguk mengerti dan menaruh nampan diatas meja lalu mengunci pintu kamar.
"Tangan kanan ku masih terasa sakit, kau suapi aku yaa,," Pinta Naruto jelas-jelas ia berbohong. Hinata mengangguk dan menghampiri Naruto dan meraih mangkuk lalu duduk dipinggir ranjang dan mulai menyuapi Naruto makan.
"Enak." Gumam Naruto disela menguyah makanannya.
"Syukurlah, kalau kamu suka." Hinata tersenyum mendengarnya.
Sesekali Hinata tertawa kecil melihat tingkah Naruto saat makan bubur buatannya dan bahkan ia sempat lupa meniup bubur yang masih panas menyebabkan mulut Naruto sedikit kepanasan.
"Hihihi.. kau lucu."
"Cukup aku kenyang." Ujar Naruto. Hinata menaruh mangkuk diaatas meja setelah Naruto menghabiskan bubur dan memberikan sagelas teh hangat, Naruto menerimanya dengan senang hati dan meminum teh tersebut hingga habis dan menaruh gelas yang sudah kosong diatas meja disamping tempat tidurnya.
"Aneh, kau terluka tapi Yuura tidak memberikan mu obat."
"Aku tidak suka minum obat."
"Kenapa?"
"Rasanya pahit."
"Makan obat bukan berarti di kunyah seperti nasi tapi langsung ditelan."
"Tetep saja rasanya pahit."
"Yasudah sekarang, Naruto-kun tidur dan istirahat."
"Iya,,"
Hinata segerah naik ketempat tidur dan berbaring disamping tempat Naruto sambil menarik selimut agar menutupi tubuhnya dan sang suami sedangkan Naruto melepas infisnya lalu membaringkan tubuhnya dan memeluk Hinata.
"Kenapa infusnya dilepas?" Tanya Hinata yang melihat Naruto yang melepaskan infus.
"Benda itu menghalangi ku untuk memeluk mu." Jawabnya enteng.
"Ta-ta-tapi ummm,,," Dengan cepat Naruto mencium bibir Hinata dan melumatnya sebelum bibir kecil itu berbicara banyak hal aka cerewet.
"Ummphh,," Hinata hanya dapat mendesah pelan dan tak dapat bergerak karena Naruto memegang kedua tangannya. Naruto tersenyum kecil mendengarnya dan terus menciummi bibir Hinata.
~o0o~
Hinata telah bersiap untuk berangkat sekolah dan yang mengantarnya adalah Naruto. Hinata berdiri didepan mobil Naruto sambil terus menggosokkan kedua telapak tangannya agar tetap hangat meski kini tengah musim dingin. Naruto keluar dari rumah dan menghampiri Hinata yang menunggunya.
"Menunggu lama?" Tanya Naruto. Hinata menoleh dan mendapati Naruto telah berpakaian rapi.
"Tidak juga." Jawabnya.
"Ayo berangkat." Ajak Naruto dan membukakan pintu mobil untuk Hinata, Hinata terseyum dan berjalan mendekati Naruto.
"Terimakasih." Ujarnya tulus dan masuk kedalam mobil sebelum dirinya kedinginan berada diluar. Naruto tersenyum kecil dan menutup pintu mobil kemudian berjalan menuju pintu sebelahnya dan masuk kedalam mobil.
Hinata memperhatikan raut wajah Naruto sebentar lalu mengalihkan pandanganya kedepan melihat butiran-butiran salju yang turun dari langit. Dalam suasana yang hening Naruto mengendarai mobilnya menuju sekolah Hinata dan tidak ada yang membuka mulut untuk bicara dan memilih untuk berdiam diri tanpa bersuara, 10 menit perjalanan mereka akhirnya sampai di depan pintu gerbang sekolah yang cukup elit di Jepang. Naruto menghentikan laju mobilnya.
"Terimakasih sudah mau mengantar ku." Ucap Hinata tulus kemudian membuka pintu mobil setelah ia keluar, Hinata menutup pintu. Naruto hanya tersenyum kecil menanggapinya kemudian mengendarai mobilnya meninggalkan kawasan Konoha High School.
Hinata melangkahkan kakinya memasuki sekolah, amethyst nya melihat keadaan sekolahnya telah dipenuhi tumpukkan salju, pohon-pohon kini telah tidak berdaun. Hinata terus melangkahkan kakinya dan bejalan di koridor dan bertemu dengan beberapa temannya dan guru dan saling menyapa.
"Ohayou Hinata-chan!"
"Ohayou mo Lisa-chan!"
"Ohayou Hyuuga-san!"
"Ohayou sensei!"
"Hinata-chan!" Dari arah belakang Lee belari menghampiri Hinata, Hinata berhenti berjalan dan menoleh kebelakang.
"Ada apa?" Tanya Hinata.
"Bisa ajarkan aku Kimia halaman tiga puluh soal nomor tiga aku tidak mengerti hehehe,," Jawab Lee dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Baiklah, kita masuk kelas dulu." Ujar Hinata halus dan melanjutkan langkah kakinya memasuki kelas dan duduk di kursinya, Lee duduk di hadapanya dengan membalikkan kursi yang berada didepan meja Hinata dan duduk dengan nyaman dan mengeluarkan bukunya dari tas miliknya.
"Oke mana soalnya." Tanya Hinata dan duduk dengan manis dikursinya, Lee membuka buku nya dan menunjukkan soal yang tidak ia mengerti.
"Yang ini ni." Seru Lee dan ada dua anak perempuan berjalan mendekati meja Hinata dengan angkuh tertera jelas dari raut wajah cantik mereka.
"Hei!" Sapa salah satu dari mereka.
"Ada apa?" Sahut Hinata dan melihat mereka dengan acuh karena malas untuk meladeni mereka.
"Dimana bodyguard mu?" Ujarnya menyindir.
"Mereka teman-teman ku bukan bodyguard ku." Jawab Hinata dan memperhatikan buku dihadapanya dan memikirkan rumus untuk menyelesaikan soal tersebut.
"Matsuri, sebaiknya kau menyingkir dari sini aku mau belajar sebentar!" Ketus Lee.
"Bodoh tetap bodoh!" Sindir Matsuri.
"Apa kau bilang?!" Ujar Lee tidak terima.
"Asal kau tau ya dikelas ini yang pintar itu Hinata, Sasuke, dan Gaara, kau hanya peringkat empat saja sombong dan mengejek ku bodoh, memangnya sehebat apa dirimu itu, walaupun aku bodoh setidaknya aku berusaha untuk belajar lebih giat, kita lihat saja nanti siapa yang akan mendapat peringkat empat!" Kata Lee cukup tajam dan melihat Matsuri dengan tatapan benci.
"Kau tidak akan bisa menyingkirkan posisi ku!" Ketus Matsuri menatap tajam Lee.
"Sari, Matsuri, aku ingin mengajari Lee, apa bisa kalian pergi?" Ujar Hinata cuek.
"Sombong!" Ketus Sari tidak terima Hinata mengusinya dan Matsiuri walaupun nada bicara Hinata terdengar lembut dan halus.
"Tadi, aku lihat kau di antar oleh president direktur Namikaze Group, kau hebat yaa bisa menaklukkan semua pria. " Desis Matsuri..
"Maksud mu?" Ujar Hinata tidak mengerti dan mengalihkan pandangannya dari buku dan fokus menatap Matsuri.
"Satu tahun yang lalu aku akan dijodohkan dengan Naruto-sama namun ditolak dan sekarang aku tau penyebabbya, gadis miskin yang tidak tau malu!" Desis Matsuri mengejek.
"Cukup! Matsuri!" Tegas Gaara yang telah berdiri di belakang Matsuri bersama Sasuke, Sakura, Ino, dan Sai. Matsuri menoleh kebelakang dan melihat Gaara yang menatapnya penuh amarah dan benci
"Gaara-kun." Cicitnya pelan.
"Berhenti menganggu kami." Ujar Gaara dingin tanpa ekspresi diwajahnya.
"Kami tidak menganggu!" Tukas Sari.
"Kalian menganggu aku dan Hinata!" Timpal Lee.
Teng! Teng! Teng!
"Ujian akan segerah dimulai dan aku belum belajar ini semua karena kau MATSURI dan SARI!" Ketus Lee dan berdiri dari dudukya dan berjalan menuju tempat duduknya meniggalkan tempat itu dengan kesal.
"Sekarang kalian semua silahkan duduk ditempat masing-masing karena ujian semester akan dimulai lima menit lagi." Ujar Hinata.
Mereka semua mengerti ucapan Hinata kemudian duduk di kursi masing-masing selang beberapa menit pintu kelas terbuka dan seorang guru yang mengenakan masker warna hitam, masuk kedalam kelas dan membawa setumpuk kertas putih.
"Ujian pertama adalah Kimia silahkan simpan buku kalian dalam tas." Ujar Kakashi dan membagikan kertas yang ia bawa.
~o0o~
"Hei Hinata!" Seru Matsuri dari kejauhan.
Hinata menghela napas nya lelah, lelah menghadapi Matsuri yang akan menanyakan pertanyaan yang sama. "Ada apa lagi?" Ujar Hinata pasrah dan membalikkan badannya kebelakang.
"Kau! Aku ingin bicara dengan mu empat mata,, ikuti aku." Ketusnya dan berjalan menyusuri koridor menuju tempat yang sepi.
"Baiklah." Ucap Hinata pasrah dan mengikuti langkah kaki Matsuri yang entah mau kemana.
Taman belakang sekolah terlihat sepi tidak ada murid yang bersantai disini. Matsuri memilih duduk di kursi taman dan Hinata juga ikut duduk disamping Matsuri dan menjaga jarak dari Matsuri.
"Bicara apa?" Tanya Hinata membuka pembicaranya dengan Matsuri.
"Sejak kapan kau dekat dengan Naruto-sama?"
"Untuk apa kau tau?"
"Satu tahun yang lalu ayah ku ingin menjodohkan aku dengannya, awalnya berhasil dan ku pikir aku bisa melupakan Gaara-kun, kau tau sendirikan aku mencintai Gaara-kun sejak kami saat TK tapi ia lebih mencintai mu, namun perjodohan ku gagal satu bulan kemudian, dia menggagalkannya dengan alasan ia mencintai gadis lain, sungguh hati ku terasa sakit."
"Hinata, aku mencintai Gaara-kun tapi kau merebutnya dari ku, aku menyukai Naruto-sama tapi kau merebutnya dari ku, Hinata siapa laki-laki yang kau suka pilih salah satu?"
Hinata terdiam mendengar penuturan Matsuri dan ia tau apa yang dirasakan Matsuri, sakit ya tentu saja sakit rasanya disaat orang yang kita sukai mencintai orang lain.
"Berbahagialah bersama Gaara." Ujar Hinata tulus dan meraih telapak tangan Matsuri dan senyuman kecil terpatri diwajah cantiknya.
"Hinata," Gumam Matsuri melihat senyuman tulus Hinata yang ditunjukkan untuknya.
"Tapi Gaara-kun membenci ku." Ucap Matsuri mengecilkan nada suaranya.
"Nanti aku akan bicara padanya,," Ujar Hinata meyakinkan Matsuri.
"Tidak Hinata tak usah."
"Matsuri, maafkan aku karena aku, kau tidak bisa bersama Gaara."
"Tak apa, aku akan melupakannya tapi bolehkah aku dan Sari berteman dengan kalian?"
"Tentu saja boleh." Hinata tersenyum senang mendengarnya dan berpelukkan menandakan perdamaian diantara mereka.
~o0o~
Hinata berjalan berdampingan dengan Matsuri dan Sari menyusuri koridor sekolah seraya bercanda tawa.
"Hinata-chan!" Seru Sakura dan menghampiri Hinata.
"Hei kalian menyingkirlah dari Hinata!" Seru Sakura sinis melihat Matsuri dan Sari.
"Sakura, Matsuri dan Sari sekarang jadi teman kita." Ujar Hinata.
"APA?! Kau bercanda?" Seru Sakura tak percaya dan mengedipkan matanya berapa kali dan dibalas anggukkan oleh Hinata.
"Ayo kita pulang!" Seru Ino bersemangat dari arah belakang bersama Sai, Sasuke, dan Gaara.
"Wah ada Matsuri dan Sari yaaa,,," Desis Ino dengan nada sinis.
"Semuanya mulai hari ini Matsuri dan Sari menjadi bagian dari kita, teman kita." Ujar Hinata.
"Hinata kau itu terlalu polos, bagaimana itu cuma alasannya saja biar bisa meruntuhkan persahabatan kita." Ujar Sakura.
"Benar itu!" Timpal Ino.
"Aku mengerti perasan kalian tapi kali ini aku tulus ingin berteman dengan kalian." Kata Matsuri tulus.
"Sepertinya dia memang benar ingin berteman dengan kita dengan tulus." Ujar Sai.
"Tapi aku kurang yakin." Timpal Ino.
"Aku minta maaf karena aku pernah berbuat salah." Ucap Sari menyesal.
"Mereka tulus." Ujar Gaara angkat bicara.
"Terimakasih." Ucap Sari.
"Sama-sama." Sahut Gaara.
"Jadi kita bertemankan?" Tanya Matsuri gugup.
"Tentu saja!" Seru Hinata bersemangat dan inilah awal perjalanan persahabatan mereka yang baru tanpa permusuhan walau masih banyak yang masih ragu akan Matsuri dan Sari namun perasan itu mereka hapus menjauh dari pikiran mereka.
~o0o~
KonohaGakure adalah sebuah kota kecil namun bernuansa pedesaan, dan adalah desa tertua yang ada di Jepang, banyak peninggalan-peninggalan jaman kerajaan dan dinasti kuno, dan banyak terdapat tempat wisata alam yang indah namun apakah mereka tau dibalik keindahan alam desa tersebut ada sebuah hutan yang cukup lebat dan belum terjamah oleh masyarakat luar disana didalam hutan itu terdapat sebuah pabrik besar dan dijaga sangat ketat bahkan setiap mobil yang akan masuk pabrik pun akan diperiksa dan tetunya hanya orang tertentu yang dapat masuk.
Namikaze Yuura berjalan dengan santai dan dikawal lima orang pria dibelakangnya, red eyes nya melihat-lihat alat-alat yang super canggih yang digunakan untuk membuat produk berkualitas yang tak lain adalah senjata api dan beberapa alat canggih lainya yaitu senjata laras panjang, alat penyadap, bom rakitan, dan masih banyak lagi alat yang biasanya digunakan untuk berperang.
"Bagaimana keadaan apa aman?" Tanya Yuura.
"Aman, dan beberapa hari yang lalu kita mengirim senjata kebeberapa negara." Jawab salah satu pria yang ada dibelakangnya.
"Jelaskan!" Tegas Yuura.
"Kita mengirimkan beberapa alat penyadap kepada FBI dan beberapa senjata api kepada Korea Selatan lalu mengirim senjata api dan bom rakitan ke negara Rusia."
"Rusia, berhati-hatilah dengan Rusia,," Ujar Yuura.
"Baiklah nona kami akan berhati-hati." Ujarnya.
"Perketat keamanan jangan sampai Akatsuki menemukan tempat ini." Ucap Yuura tegas.
~o0o~
Angin malam berhembus cukup kuat menerpa, bintang bertaburan diatas langit menemani bulan yang bersinar terang malam ini. Hinata berdiri dibalkon kamarnya yang memandang langit malam memperhatikan bintang yang membentuk rasi di sekitar bulan. Walaupun musim dingin menyelimuti namun Hinata masih bertahan diluar dan mengeratkan jaket yang ia kenakan. Merasa angin malam semakin dingin menerpa dengan pasrah Hinata masuk kedalam kamar dan mengunci pintu kaca.
Drrrrtt..
Hinata melihat ponsel Naruto bergetear dan tergeletak diatas meja, Hinata duduk dipinggir kasur dan meraih ponsel suaminya dan melihat pesan yang masuk.
From : 08XXXXXX
Aku akan membunuh mu Namikaze! Ohya istri mu itu cukup cantik apa boleh jika aku mengajaknya bermain-main sebentar hm? Hahaha aku meminta izin padamu Namikaze setelah itu aku yang akan mengajak mu bermain.
Obito
.
Hinata tertegun membacanya dan tanpa sadar tubuhnya bergetar bahkan menjatuhkan ponsel milik suaminya.
Ckelek.
Naruto membuka pintu kamarnya dan kembali menutupnya, Naruto melihat istrinya heran lalu menghampirinya, blue sapphire nya melihat ponsel kesayangannya terjatuh kelantai, Naruto semakin heran dan berjongkok mengambil ponselnya dan melihat tubuh Hinata yang bergetar.
"Kau kenapa? Apakah udara telalu dingin seharusnya penghangat ruangan dinyalakan." Ujarnya dan duduk disamping Hinata.
"Ada pesan di ponsel mu dan maaf aku menjatuhkannya." Cicitnya pelan ketakutan. Naruto bingung tidak mengerti dan mengalihkan arah pandangannya yang kini tertuju pada layar ponselnya yang berwarna hitam lalu menekan sisi ponselnya hingga layar ponselnya menyala dan memperlihatkan pesan yang tadi Hinata baca.
Setelah membaca pesan yang ia dapat, Naruto cukup terkesan dengan isi pesan itu dan mengepal tangannya dengan kuat tapi bagaimana dengan Hinata yang membaca pesanya, tetu Hinata cukup drop membacanya. Naruto menaruh ponselnya diatas meja yang berada disisi ranjang.
"Lupakan isi pesan itu Hinata." Ujarnya dan memeluk tubuh mungil istrinya.
"Kenapa Naruto-kun? Ada apa?" Cicit Hinata dalam pelukkan sang suami.
"Lupakan pesan itu, aku berjanji akan melindungi mu dan menjaga mu.."
'Dan maaf telah menempatkan mu dalam posisi yang berbahaya' Lanjutnya dalam hati.
Bersambung~
Huuuaaaaaa akhinya selesai juga huumm maaf yaaa aku telat mempublikasikannya karena sibuk sekolah hehehe dan kurikulum 2013 masih berlaku disekolah ku makanya aku gak sempat hehehe tapi tenang saja saya selalu eksis di fb dan maaf ya gak bisa balas review kalian satu-satu tapi makasih banget atas reviewnya, oke sampai jumpa di chapter selanjutnya,,,,, bye bye
Salam hangat Mitsuki HimeChan
