Cast : Kim Ryeowook, Cho Kyuhyun and other member SJ
Pairing : KyuWook
Genre : Drama/ Romance/Angst
Rate : T
Disclaimer : Ryeowook milik ku *digebuk* cerita ini real punya aku
Warning: Genderswitch, OOC miss Typo(s), bahasa tak sesuai EYD
Don't Like Don't Read
.
.
.
-/-
"Emmmhh."
Lenguhan kecil dari bibir Ryeowook cukup membawa otak Kyuhyun yang tadinya bergeser jadi lurus kembali. Dengan kikuk Kyuhyun melepas ciumannya, berjalan mundur lalu menggaruk poni rambut ikalnya.
Untuk sepersekian waktu mata Ryeowook masih membulat, satu tangannya perlahan meraba area bibir. Basah.
'Apa ini mimpi?'
Kyuhyun mengalihkan pandangan ke luar jendela kelas saat Ryeowook berganti menatapnya tajam. Di luar sana hujan masih turun, di satu sisi ikut membantu meredam debaran jantung 2 manusia di dalam ruangan itu.
Ryeowook bangkit duduk, kini tangannya mengusap pipi bagian kanan berulang kali. Panas. Wajahnya pasti memerah.
"Apa yang kau lakukan tadi? Kau..!"
"Jangan salah paham! Aku cuma berusaha menolongmu tadi, kufikir kau tak bisa bernafas lagi."
Ryeowook beranjak berdiri dan menggembungkan pipinya, berjalan mendekati Kyuhyun yang masih diam mematung. "Kau pasti menciumku sangat lama kan?"
"Sudah kubilang kau salah paham. Bukannya berterima kasih huh."
Ryeowook mendengus tak kalah panjang, giliran menepuk-nepuk pipi Kyuhyun tanpa perasaan. "Apa ini? Kau menangis?"
Kyuhyun menampik tangan Ryeowook lalu mengusap pipinya di lain arah. "Oh, ini air hujan," jawabnya datar.
Suatu hal yang mustahil, jika Kyuhyun mau mengakui bahwa ia menangis. Tak mungkin kan? Dia itu seorang namja. Apalagi dengan alasan yang lumayan konyol Ryeowook pasti akan tertawa. Namja itu benar-benar khawatir tadi.
Ryeowook memutar kepala, melihat lagi meja tempatnya tidur. Di samping meja tersebut, terdapat sekotak P3K dengan isi yang sudah dikeluarkan serampangan bahkan ada beberapa obat merah yang jatuh di lantai.
Gadis itu tersenyum, seragamnya yang basah membuatnya mengginggil ketika angin masuk melalui jendela.
"Lalu kenapa kau menciumku?"
"Aku tak mungkin menciummu."
"Lalu tadi apa?"
"Bukan apa-apa."
"Bohong! Kau menciumku, apa kau menyukaiku?"
Ryeowook menutup mulutnya dengan satu telapak tangan. Oke yang tadi refleks.
Kyuhyun menoleh, demi apa Ryeowook harus menanyakannya lagi. Apa sikapnya selama ini kurang jelas?
"Tidak!"
Mimik wajah Ryeowook berubah, sepertinya ia tak suka dengan jawaban tadi. Tapi bukankah itu jawaban yang benar? Seperti yang ia dengar sebelumnya di aula teater.
Kyuhyun melirik Ryeowook yang kini diam menggigit bibir bawahnya. Gadis di sampingnya itu dari kepala sampah kaki masih basah kuyup sama dengan keadaanya, tapi mungkin lebih parah melihat tubuh kecil Ryeowook menahan rasa dingin.
Ryeowook mendongak kala tangan Kyuhyun tiba-tiba menggandeng tangannya, menggenggamnya erat seolah memberi perlindungan. Jarak 10 centi wajah mereka memaksa Ryeowook menahan nafas.
"Aku tidak peduli!" ucap Kyuhyun.
Ryeowook mengerutkan kening tak mengerti sementara genggaman yang Kyuhyun berikan makin erat.
"Aku tidak peduli sekalipun kau mencintai orang lain."
Gadis berkuncir itu masih keheranan. "Maksudmu?"
"Kau fikirkan saja sendiri. Aku mau pulang!"
Tanpa memberi penjelasan lebih lanjut Kyuhyun melepas genggamannya. Berlalu saja meninggalkan kelas, meninggalkan Ryeowook yang masih melongo
"Yak! Kyu tunggu aku!"
Ryeowook berlari mengejar langkah Kyuhyun, menyusuri lantai koridor yang basah terkena cipratan air hujan. Bahkan dari mereka tak ada yang peduli pada kotak P3K yang masih harus dibereskan karena ulah Kyuhyun.
"Kau mau kemana Kyu?" tanya Ryeowook mengambil tempat di samping kanan dan Kyuhyun dengan sengaja membuang muka ke kiri. Tetap diam saat Ryeowook mengganti langkah disamping kiri, Kyuhyun melengos lagi. Ryeowook menggembungkan pipinya. Menyebalkan.
"Yak. Kau kenapa sih?"
Pekikkan Ryeowook membuat Kyuhyun mengorek kuping dengan jari tangan, menatap gadis bar-bar di sampingnya sekilas. "Berisik. Tentu saja aku mau pulang!"
"Tapi hujan masih deras. Dan kenapa kau berjalan secepat ini, sengaja mau meninggalkanku?" cecar Ryeowook.
Kyuhyun tersenyum remeh. "Heh. Jadi kau lebih ingin aku menggandengmu sampai parkiran, tidak kan?"
Mendengar perkataan Kyuhyun, Ryeowook memelankan langkah. Memandang punggung Kyuhyun dengan mata memicing dan mulut komat kamit. "Huh! Siapa juga yang mau digandeng olehnya. Dasar!"
Jika seperti ini tingkah mereka sama tak ubahnya dengan anak kecil.
"Hei nona, kenapa masih disitu. Cepat-cepat! Atau kau mau kutinggal?!"
Ryeowook terhenyak dari lamunannya bersamaan dengan Kyuhyun yang berteriak, melambaikan tangan padanya layaknya memanggi waitress. Sepenuhnya gadis itu masih tak mengerti, sikap Kyuhyun yang berubah-ubah seperti bunglon. Kadang bisa dingin, kadang manis dan detik berikutnya bisa menjadi orang paling menyebalkan.
Ryeowook menggosokkan kedua tangannya, tak berguna apapun karena hujan mulai membasahi tubuhnya lagi. Kyuhyun tetap stay cool di atas motor dengan mesin yang sudah dihidupkan.
Kyuhyun mengekor mata pada penumpang belakang yang baru saja naik. "Kalau kau kedinginan peluk saja aku."
Kata-kata yang masih butuh loading untuk otak Ryeowook, namun tanpa perlu diulangi gadis itu melingkarkan tangannya pada perut Kyuhyun erat. Menyandarkan kepala pada punggung lebar si namja.
Nyaman, seperti biasanya. Rasa hangat seperti ini apa akan ada akhirnya? Semoga tidak.
"Kyuhyun!" panggil Ryeowwok.
"Kyuhyunn!" ulang Ryeowook lebih kencang, tak ingin suaranya dikalahkan oleh hujan dan derum motor.
"Waeyo?!" balas Kyuhyun mengulas senyum. Ah, bukan! Dari tadi dia memang senyum-senyum terus.
Ryeowook menggigit bibir. "Emm..anu, apa kau marah padaku?"
"Kalau tahu kenapa masih bertanya," jawab Kyuhyun dengan nada ketus tanpa mengurangi lebar senyumnya. Sesekali matanya melihat tangan Ryeowook yang bertengger manis di perutnnya.
"Kenapa? Em.. memang ada masalah apa?"
Bodoh Wookie! Kau menanyakan hal yang sudah kau ketahui jawabannya.
"Bodo ah."
"Yak, jangan ngebut-ngebut."
.
-()()()()()-
.
Cklek.
Kyuhyun mulai masuk rumah setelah melepas sepatunya, beqjalan dengan enteng memberi jejak kaki basah pada lantai marmer putih rumahnya.
"Kyuhyun!"
Teguran di ruang tengah membuat Kyuhyun menoleh. Pria gagah yang berpredikat sebagai appa Kyuhyun sedang mengamati anak tunggalnya sambil geleng-geleng. Apalagi melihat tetesan dari baju seragam Kyuhyun.
"Ckc setelah kau selesai ganti baju, cepat kemari dengan lap dan bersihkan lantai yang kau kotori itu."
Kyuhyun ikut menelusuri lantai yang becek dengan matanya, ia mengangguk kemudian. "Baik appa."
Choi Siwon tertegun, mengusap telinganya beberapa saat sebelum menggeleng heran. Biasanya si Kyuhyun akan membantah dulu jika mendapat perintah bersih-bersih, ngotot dulu sebelum akhirnya mengalah. Appa satu anak itu menggaruk kepala.
Keheranan Siwon makin berlanjut selang waktu Kyuhyun kembali dengan serbet tersampir di pundaknya, yang lebih aneh dia tersenyum biasanya kan menggerutu.
Kyuhyun mulai berjongkok, mengusap lantai dengan gerakan memutar sambil bersenandung. Iya sih bersih, tapi lantai yang baru di pel ia injak lagi.
"Kenapa senyum-senyum terus?" Kyuhyun mendongak menatap appa nya.
"Ada yang salah? Bukankah appa ingin aku murah senyum."
"Tapi ada yang aneh denganmu nak."
Kyuhyun mengangkat satu jari. "Jangan memanggil dengan sebutan itu, aku bukan anak kecil lagi. Appa tidak lihat aku menjadi namja yang tampan sekarang."
Siwon tergelak melihat tingkah anaknya yang mengelus dagu. "Haha. Appa percaya Kyu."
"Percaya apa sih yeobo?" sambung Kibum dari pintu depan, membawa belanjaan seplastik besar.
"Chagi, kenapa tak menelfon. Kan bisa kujemput tadi," ucap Siwon tersenyum pada sang istri. Kibum mengambil tempat sofa disamping suaminya.
"Kyu sedang apa, lantainya kenapa jadi kotor semua?" Kyuhyun nyengir mendapat pertanyaan si umma.
"Dia bilang dia sudah dewasa. Lihat saja cara mengepelnya," bisik Siwon pada Kibum.
Kibum terkikik. "Bukankah dia mirip denganmu?"
Siwon melayangkan tatapan protes saat ibu dan anak itu menertawakannya kompak.
"Oh. iya, hari ini umma tidak akan masak. Teukki eonni mengundang kita makan malam disana, sekalian merayakan kepulangan Heechullie," jelas Kibum yang mendapat anggukan para namja disitu.
"Jadi Chullie nona sudah pulang?" tanya Kyuhyun ulang.
"Ne. Makannya kalian cepat mandi sana."
Kyuhyun mengepalkan tangan dan memukul kepala, membuat kedua orangtuanya menoleh.
"Ah, kepalaku pusing! Nanti minta saja Ryeowook mengantarkan makanan ke sini. Ya umma ya?"
Siwon dan Kibum bertatapan. Hemm.
.
-()()()()()-
.
"Hahaha, geli Hannie jangan menggelitik begitu. Hentikan."
"Aniyo. Ini hukuman kau sudah mengataiku jelek."
"Haha. Iya mianhe. Mianhe Tan Hankyung yang paling tampan."
Ryeowook menggigit buku jari tangannya dan menggeleng. Perasaan sakit yang ia buat sendiri kini menghantuinya. Bukankah ia yang sudah mempertemukan kedua orang itu, tapi perasaan picik ini masih melingkup di otaknya.
Ryeowook terhenyak saat mantan namjachingunya itu mencium pipi kakaknya, membuat wajah cantik itu memerah.
Ryeowook menarik nafas dalam-dalam, menghiraukan beban berat yang ia rasakan. Kau tak perlu merasa iri kan Kim Ryeowook?
"Ehem, eonni dan Hangeng oppa serasi sekali eoh!"
Sepasang anak adam bersamaan menoleh pada sumber suara. Kim Ryowook mendekati sang kakak, mulai melepas penyangga kursi roda dan mengambil alih kendalinya.
"Wookie," panggil Heechul lirih.
"Ne. Aku juga mau jalan-jalan bersama kakakku tau," rajuk Ryeowook pura-pura cemberut, ekspresi yng tak mungkin terlihat oleh Heechul.
"Ah, mianhe. Eonni jadi melupakanmu tadi," sesal Heechul.
Ada yang salahkah disini. Ryeowook sendiri yang mengatur pertemuan Hangeng dan Heechul setelah mengetahui kakaknya pulang lagi kerumah sore tadi. Lalu jika perasaannya kembali sakit siapa yang harus disalahkan?
"Haha, aku kan hanya bercanda. Eonni jangan sedih begitu."
Heechul tersenyum kembali mendengar jawaban Ryeowook. Sekalipun fisiknya tak sempurna lagi sekarang, batinnya merasa lengkap. Lebih dari yang ia sadari, banyak orang yang menyayanginya.
Ryeowook ikut tersenyum, menyembunyikan perasaan sakitnya. Jika dulu Heechul selalu menderita denan menutupi semuanya, kali ini ia ingin kakaknya bahagia sekalipun dengan mantan namjachingunya.
"Emh iya. Umma tadi juga berpesan untuk membawa Hangeng oppa ke rumah. Makan malam bersama."
Hangeng menatap Ryeowook tak percaya. "Adjuhmma, mengundangku makan malam?"
Ryeowook mengangguk mantap. "Iya dong. Oppa kan calon suami Heechul eonni!"
"Wookieee!" Heechul merengek dengan wajah memerah, gadis itu berusaha menunduk.
Ryeowook menghentikan dorongannya pada kursi roda, kembali tertegun saat Hangeng berjongkok dihadapan Heechul. "Ucapan Wookie ada benarnya juga chagi, bagaimana kalau malam ini aku melamarmu?" tanya Hangeng sembari mengusap pipi Heechul, suatu pukulan hebat di hati Kim Ryeowook.
"Yak! Ini terlalu cepat," jawab Heechul menggeleng namun masih tersenyum malu-malu.
"Bukankah lebih cepat lebih baik." Hangeng muli menggenggam kedua tangan Heechul.
"Chagi dengarkan aku. Jika kita sudah menikah nanti aku berjanji untuk menjagamu, membuatmu bahagia, aku tak akan membiarkan seorangpun menyakitimu. Percaya padaku."
Dada Ryeowook berdegub. Kenapa? Ini kata-kata yang paling ia impi-impikan dulu. Tapi kali ini berbeda, kata-kata itu bukan untuknya.
Heechul masih menggeleng "Tapi aku merasa tak pantas untukmu. Aku hanya.."
Hangeng menempelkan telunjuknya dibibir Heechul sekaligus meredam isak yang keluar dari sana. "Shhhtt, jangan bicara yang aneh-aneh. Aku tak ingin ada penolakan, jadi jangan menolakku."
Hangeng mencium tangan Heechul lembut, cuplikan kesakitan lagi yang dialami Ryeowook. Tapi yang aneh kenapa ia tak bisa menangis?
"Sekarang kita tak perlu takut, tak perlu sembunyi-sembunyi lagi. Percayalah, aku akan menjagamu."
Heechul mengangguk senang, gadis itu terus menerus melirihkan kata gomawo.
Hangeng mendongak menatap Ryeowook. "Wookie-ah, bagaimana pendapatmu," tanya namja keturunan China tersebut.
Ryeowook menelan ludahnya, mencoba tersenyum lagi. " aku ikut senang, aku merestui kalian."
"Nah! Kau dengar sendiri kan chagi!"
Ryeowook menutup mulutnya rapat, demi apapun ia tak akan menyesali apa yang sudah dikatakannya tadi. Bukankah kedua orang itu saling mencintai.
Tak masalah, mungkin bukan Hangeng oppa pangeran yang selalu kudambakan. Batin Ryeowook.
"Gomawo Wookie-ah. Gomawo. Gomawo." Ryeowook memeluk Heechul erat dari belakang, ia merasakan pundak kakaknya bergetar menahan isak. "Aku sangat menyayangi eonni."
.
-()()()()()-
.
Choi Kyuhyun mondar mandir mengacak rambut, kembali lagi ia mengecek pantulan diri pada kaca lemari. Oke! Penampilannya sudah lumayan berantakan.
Tapi ini sudah jam berapa? Sudah setengah jam sejak appa dan ummanya pergi kerumah sebelah. Kim Ryeowook membuatnya menunggu lagi.
Kyuhyun mengelus perutnya, ia benar-benar menjadi orang kelaparan sekarang. Hemm tak mungkin juga kan ia berjalan ke rumah sebelah dan meminta makanan. Ia kan sedang sakit, hoh gengsi lebih utama.
Tap tap tap.
Kyuhyun diam dan menajamkan telinga, suara derap kaki makin terderngar jelas mengarah ke kamarnya. Sekali lagi ia mengacak rambut lalu naik ke tempat tidur, menarik selimut sebatas dagu.
Tok tok
"Kyuhyun! Aku masuk ya?"
Benar itu suara Ryeowook, Kyuhyun menutup matanya rapat-rapat saat pintu kamar terbuka. Dan decakan adalah hal pertama yang ia dengar setelah Ryeowook masuk.
"Ckc, Kyuhyun. Kau jorok sekali, kamarmu berantakan begini. Kasihan sekali bibi Kibum harus membereskanya setiap hari."
Ryeowook mendekati tempat tidur Kyuhyun, mendekatkan wajahnya pada wajah Kyuhyun menelisik wajah pucat itu. "Kau benar-benar sakit ya. Emm, tidak begitu panas," komentar Ryeowook setelah menempelkan punggung tangannya pada dahi Kyuhyun.
Kyuhyun menggeliat seperti anak kecil gumaman kecil yang tak dimengerti Ryeowook meluncur dari mulutnya.
"Kau demam ya Kyu?" tanya Ryeowook lagi.
Mata Kyuhyun setengah terbuka. "Wookiee!"
Oh, tak sia-sia Kyuhyun menjadi ketua klub teater, aktingnya cukup meyakinkan. Kini Ryeowook tengah menggenggam tangan Kyuhyun dan namja itu balas menggenggam erat. "Ne, ini aku."
"Dingin," gumam Kyuhyun.
Ryeowook memandang area kamar, tangannya kemudian meraih benda putih persegi panjang dengan 5 tombol. "Iya lah dingin, AC nya tidak dimatikan," ujar Ryeowook yang ditanggapi cengiran sekilas Kyuhyun. Pabboya. Soal ini ia lupa.
Kyuhyun tetap pura-pura gemetar. "Ssh masih dingin."
Mata Ryeowook membulat. "Mwo masih tetap dingin? Hmm, ini selimutnya kurang naik Kyu."
Tangan Ryeowook menarik selimut Kyuhyun, menaikkannya hingga menutupi kepala namja rambut ikal tersebut.
"Uhuk. Ya! Kau mau membunuhku eoh!" protes Kyuhyun dengan cara pertolongan Ryeowook yang membuatnya susah bernafas.
Ryeowook menurunkan selimut Kyuhyun kembali. "Katanya kau masih kedinginan."
"Aku memang kedinginan, tapi aku masih mau hidup."
"Lalu bagaimana? Apa aku harus menyalakan kompor disini."
Kyuhyun memandang Ryeowook takut, jika ia mengangguk gadis itu pasti akan benar-benar mengambil kompor dari dapur.
"Huh, tak perlu. Kau bisa gunakan cara yang alamiah."
Ryeowook menaikkan alis. "Kau bisa memelukku," lanjut Kyuhyun yang langsung mendapat tempelengan pipi dari Ryeowook. "Jangan harap ya!"
Kyuhyun mengusap pipinya sambil cemberut. "Kau itu masih saja bersikap kasar pada orang sakit."
"Ah, mianhe. Aku lupa kalau kau sakit. Mianhe ne." Ryeowook mengelus pipi Kyuhyun menyesal.
"Jadi mana makanan untukku?"
Ryeowook terdiam. "Ah iya, aku akan membuatkanmu bubur."
Kyuhyun mencekal tangan Ryeowook yang hendak berdiri. "Memang masakan Teukki umma habis ya?"
Ryeowook menggeleng. "Hari ini umma memang masak banyak sih. Tapi untuk orang sakit harus makan bubur."
"Ah, andwae! Aku tak mau bubur. Aku maunya masakan Teukki umma," rengek Kyuhyun.
"Ish, ka itu tak boleh pilih-pilih makanan Kyu. Kalau kau mau cepat sembuh kau harus makan bubur lalu minum obat." Ryeowook mulai keluar kamar Kyuhyun dengan celotehan panjangnya.
Oh! Neraka bentuk apa yang sedang menjemput Kyuhyun saat ini.
Kyuhyun nyengir saat Ryeowook masuk kembali ke kamar dengan sebuah mangkok beserta uap mengepul di atasnya.
"Ah, tiba-tiba aku merasa kenyang." ucap Kyuhyun yang melihat Ryeowook mulai mengambil sesendok nasi lembek dan meniupnya. "Tak boleh menolak. Ayo buka mulutmu!" Ryeowook mengangkat sendok tadi di depan mulut Kyuhyun, menginteruksi namja itu untuk membuka mulut.
"Aku baru mau makan kalau kau juga makan!"
Kyuhyun melongo saat Ryeowook mengangguk dan memakan setengah sendok dari bubur tersebut, sisanya disodorkan lagi pada Kyuhyun. "Sudah! Sekarang giliran kau yang makan."
Mulut Kyuhyun terbuka, tnpa protes lagi ia mulai menelan bubur hambar buatan Ryeowook. Kyuhyun tersenyum kala Ryeowook memakan setengah sendok seperti sebelumnya dan memberikan sisa untuknya lagi. Mungkin yang seperti ini berasa nikmat untuk lidah Choi Kyuhyun. Ryeowook menunjukkan eksistensinya sebagai Kyusitter setelah memasukkan beberapa pil aneh yang sengaja ia tutupi melalui selimutan bubur, bahkan Kyuhyun tak menyadarinya.
"Wookie-ah."
Ryeowook menoleh setelah meletakkan mangkuk tanpa isi di atas meja samping tempat tidur.
"Wae?"
Kyuhyun memutar bola matanya. "Kau cocok menjadi istri yang baik."
"Heh?"
Kyuhyun menggeleng cepat. "Ah, lupakan."
"Kyuhyun?" Kini giliran Ryeowook yang memanggil.
"Wae?" balas Kyuhyun.
"Apa aku boleh menangis disini?" ijin Ryeowook, gadis itu menunduk mengepalkan tangan.
Kyuhyun masih diam sebelum akhirnya mengangguk. "Menangislah. Akan kutemani!"
"Hiks.. huhuhu..hiks."
Telinga Kyuhyun masih setia mendengar isakan Ryeowook, tak sedikitpun ia menghalangi Ryeowook untuk berteriak kecil. Setelah cukup tenang Kyuhyun mengulurkan tissue untuk Ryeowook. "Sudah puas?" tanyanya.
Ryeowook mengangguk. "Ne. Gomawo."
Ryeowook diam saja ketika Kyuhyun memeluknya erat, mengusap punggungnya. "Jika kau ingin menangis lakukan seperti ini. Cukup aku yang mendengar tangisanmu, yang melihat wajah jelekmu!"
Ryeowook cemberut dan memukul dada Kyuhyun hingga pemuda itu terkekeh.
Saat Kyuhyun melepas pelukannya, bisa ia tangkap rona merah pipi Ryeowook. Kuyuhyun mengelus bagian yang memerah tadi, sekaligus menghapus jejak air disana. "Aku suka warna ini."
Wajah Ryeowook seakan memanas, lupakah ia baru menangis sesenggukan?
Ryeowook menghentikan gerakan tangan Kyuhyun. "Terimakasih."
"Untuk."
"Semuanya, ternyata kau baik juga," puji Ryeowook, pujian yang terdengar setengah-setengah.
Kyuhyun mendengus. "Ah, apa itu? Cuma ucapan terimakasih?"
"Mwo? Kau minta imbalan, tidak ikhlas sekali!" desis Ryeowook.
"Aku punya 2 tiket konser musik."
"Oh, ya? Lalu?" tanya Ryeowok yang sebenarnya mengerti maksud Kyuhyun.
"Sebenarnya aku ingin mengajak Zhoumi, tapi sepertinya ia sedang sibuk dengan Henly. Jadi daripada 1 tiket terbuang.."
"Ya aku tahu, kau mau mengajakku kan. Kenapa bertele-tele?" potong Ryeowook. Kyuhyun mengangguk membenarkan.
"Aku mau kok! Tapi, bukankah lebih baik kau mengajak gadis yang kau sukai?" balas Ryeowook ragu. Kyuhyun mengingat lagi kejadian tadi siang, jadi benar kan dugaannya? Pengintip itu Ryeowook.
Kyuhyun mencondongkan badan ke depan berbisik di telinga Ryeowook. "Makanya, kalo nguping jangan setengah-setengah."
"Eh?"
"Aku memang tak mungkin mengajak gadis yang tak kusukai."
Telunjuk Ryeowook menuding Kyuhyun. "Jadi, kau?"
Namja itu mengangguk, ia tak bisa mengatakannya secara eksplisit. "Tak perlu buru-buru, kita bisa memulainya sekarang secara bertahap. Kau mau kan?"
Ryeowook memasang ekspresi terkejut, jujur ia bahagia. Berpuluh pose senyum malu-malu ia sembunyikan dari Kyuhyun, sampai namja itu mengangkat dagunya. "Kau mau kan?" Tanya Kyuhyun ulang.
Ryeowook berusaha menyembunyikan senyumnya. "Aku mau."
"Huh, chagie sepertinya ada yang sudah sembuh dari sakitnya."
"Aw, kenapa kakiku di injak."
"Jangan ganggu mereka yeobo!"
Kyuhyun dan Ryeowook menangkap 2 sosok yang bersembunyi dibalik pintu yang kini terbuka lebar. "Appa, umma! Sejak kapan disitu?" tanya Kyuhyun gugup tak jauh beda dengan Ryeowook.
"Sejak begini." Siwon tersenyum lebar memamerkan dekik yang tak ia wariskan pada anaknya, ia memutar tubuh di depan Kibum lalu memeluknya. "Cukup aku yang dengar tangisan dan wajah jelekmu."
Ryeowook menutup muka dengan kedua telapak tangan. Malu adegan tadi di reka ulang oleh orang tua Kyuhyun.
"Huh, ternyata mereka sudah dewasa yeobo. Cinta-cintaan di belakang kita," goda Siwon lagi dibalas tawa renyah Kibum.
"Huh, sudahlah yeobo, kita tinggalkan mereka."
.
-()()()()()-
.
"Hem, Wookie-ah, Teukki eonni minta kau pulang sekarang. Ini sudah malam, kalian bisa melanjutkannya besok," ucap Kibum.
"Yah asalkan tak mengganggu sekolah kalian juga," sambung Siwon, Kyuhyun masih menunjukkan tampang sebal pada appanya.
Ryeowook melirik Kyuhyun sejenak yang sepertinya tak rela ia pergi. Hoh Kyuhyun kan belum selesai merayu Ryeowook. Seperti inikah penghalang cinta?
.
-()()()()()-
.
Bukankah berdua itu lebih menyenangkan daripada sendiri? Bukankah tertawa lebih mengasyikkan daripada menangis? Begitu yang ia rasakan saat ini. Kebahagiaan yang ia rasakan pelan-pelan, meski tak butuh perlindungan ia tetaplah gadis lemah. Begini eoh rasanya perasaan yang terbalas? Keragu-raguan itu membawa mereka pada keyakinan. Tanpa pernyataan cinta dari satu sama lain mereka tetap saling mengerti. Yang seperti itu bahkan sudah cukup. Benarkah?
"Wookie. Hayooo, melihat siapa? Ryeowook memutar kepala saat merasa pundaknya ditepuk. Amber, teman semejanya ikut menjejeri Ryeowook yang duduk di deretan bangku koridor depan kelas. Di lapangan sana bola mata Ryeowook tak berhenti bergerak, mengikuti satu sosok yang lari kesana kemari mengejar bola.
"Hmm Kyuhyun ya?" lanjut Amber yang tak mendapat respon dari Ryeowook.
Ryeowook mwngangguk. "Kenapa aku merasa dia semakin tampan ya? Atau aku yang memang tak waras?"
"Ckc, sepertinya opsi yang kedua lebih tepat. Ciri-ciri orang yang sedang jatuh cinta, apapun yang ada dalam diri si doi terlihat sempurna dimatamu."
Ryeowook menoleh. "Benarkah?"
"Jadi benar kan, kau dan Kyuhyun ada hubungan istimewa?" goda Amber yang menangkap Kyuhyun berkedip sekilas kearah Ryeowook.
"Ah! Kyu!" pekik Ryeowook ketika Kyuhyun jatuh terjembab di tanah setelah aksi mata nakalnya, Ryeowook ikut meringis saat Kyuhyun berdiri kesusahan, sementara para namja yang ada dilapangan menertawakannya.
"Kyuhyun, kalau ngantuk kau bisa datang ke UKS, bukan tiduran disitu, ckc."
Kyuhyun mendelik mendengar celetukkan Minho, mau cari gara-gara ya si rambut jamur itu?
Setelah berdiri sempurna, Kyuhyun mendorong bahu Minho kasar dengan tatapan garang. "Kau sengaja ya menjegal kakiku?"'
Tak mau dibilang kalah Minho balik mendorong bahu Kyuhyun. "Kalau kau tak bisa main bola, tak usah marah-marah dong." Oh! Suasana ditengah lapangan sepertinya makin memanas, ditambah lagi matahari yang bertengger tepat di atas ubun-ubun.
Kyuhyun mendorong lagi bahu Minho, kali ini lebih keras hingga namja tersebut terjatuh.
"Kenapa? Kau marah? Emosimu mudah sekali terpancing, kau itu benar-benar kekenakkan."
Cibiran Minho semakin mendidihkan isi kepala Kyuhyun hingga namja itu mencengkeram kerah seragam Minho erat. Tak sadarkah mereka menjadi tontonan saat ini, beberapa jeritan yeoja mulai bersahutan.
"Sebenarnya aku malas bertengkar denganmu, apa yang kau permasalahkan?" desis Kyuhyun.
Minho tersenyum remeh, matanya melirik kearah pinggir lapangan. Ia kembali menatap Kyuhyun seolah menantang. "Kenapa? Karena aku tak menyukaimu."
"Cih, malas meladenimu." Kyuhyun melepas kerah Minho, dan berJalan keluar lapangan. Beberapa yang menonton mendesah kecewa, antara 2 namja tampan itu tak terjadi pertengkaran lebih lanjut.
"Kyuhyun. Apa yang kau lakukan pada Minho!" cecar Ryeowook pada si namjachingu yang hendak masuk kelas, ikut sebal kenapa yeoja itu malah mengkhawatirkan orang lain yang mencelakainya.
Kyuhyun baru membalikkan badan di pintu kelasnya. "Jangan pernah dekat-dekat dengnnya." Tudingnya pada Minho yang masih ditengah lapangan.
"Aneh." Gumam Ryeowook.
.
-()()()()()-
.
"Aku mencintaimu."
Semua tercengang. Ryeowook mengatakannya dengan sangat lancar. Kyuhyun berusaha menahan rasa senangnya, setelah ini ia masih harus marah-marah.
Kyuhyun beranjak berdiri, menghempaskan tubuh Ryeowook. "Bohong!" bentaknya.
"Cukup!"
"Good Job. Langsung saja percobaan scene ciuman."
Semua yang ada dalam aula makin membulatkan mata ketika Kyuhyun menarik tangan Ryeowook untuk berdiri. Nah, ini yang ia tunggu-tunggu dari tadi.
.
.
.
.
.
TBC
.
A/N
Annyeong, lamakah? *ketawa tanpa dosa*
Tau ngga sebenernya tadi malem jam 12 ini epep baru dapet separoh #prustasi. Alhamdulillah ini udah selesai *berasa punya utang*
Jujur aku seneng banget baca kotak review, satu hal yang menyemangatiku padahal lagi males. Terimakasih untuk semangat kalian semua chingudeul.
.
For park min mi, Redpurplewine, SimbaRella, rizkyeonhae, MyWookie, Melodyatlantick, Cho Kyuwook, Kim Ryeosha, audrey musaena, Kim Jung Min, yoon HyunWoon, kyuwooksbaby, Jo KyuZha, dwiihae, harumisujatmiko, ryeosomNia14, choi rae rim, Cloud77, RyeoRim411, Widyaflys24, Hana Kim, ryeofha2125, devi. , Kim Ryuna, SparKSomniA0321, ddhanifa, himmari5, kim hae rim, ryeohaeme, kim heera, and another guest
Terimakasih atas review chapter sebelumnya ^^
Hemm.. untuk ingatan KyuWook tentang masa kecil, belakangan aja ya hehe, biar mereka akur dulu.
Mian kalo aku buat Heechul disini menderita *dia jadi orang kalem kebalikan ama wook*
Nah ini udah lumayan banyak kan KyuWook momentnya? Behhh aku ngiri
Oke. Ketemu di chapter selanjutnya.
Akhir kata
RIVEW PLEASE
