Nakamura meniup-niup lingkaran yang telah dilumuri dengan sabun- sehingga balon sabun berterbangan menghiasi horizon dan meletup karena rapuh.
Gadis itu tidak memperdulikan rambutnya yang berantakan karena angin sore akhir musim panas- bahkan roknya yang tersibak pun tak dipedulikan. Harusnya ia sudah pulang dari tadi, mengingat jika hari sudah benar- benar malam, ia akan mudah terperosok kedalam lubang di lereng- karena penerangan yang minim.
Masa bodolah, pikirnya. Tujuannya saat ini hanya satu, menenangkan diri. Ia ingin berteriak kencang- kencang seperti orang gila tapi-
Buat apa? Karena ia melihat Karma yang sedang dekaaat sekali dengan Okuda?
Loh, ia 'kan, bukan siapa- siapanya Karma?
Sebenarnya…
Dia itu kenapa?
.
.
. Futari! by nyaneenia
Romance, drama. Teen. Akabane Karma x Nakamura Rio. OOC.
.
No profit gained, all characters belongs to Yusei Matsui- sensei.
.
Page 8: late
.
CIEEE NYANEE NGUPDATE JUGA. AKHIRNYAA
.
Waktu itu, Nakamura hendak kembali ke kelas, mengingat buku pe-er nya tertinggal. Koro-sensei menghimbau kepada seluruh murid jika ada yang berhasil mendapatkan nilai sempurna pada duapuluh soal matematika nya, berhak menebas satu tentakel kuningnya. Kontan Nakamura semangat mendengarnya. Tapi, ia malah lupa membawa pulang bukunya. Padahal ia sudah setengah jalan menuju rumahnya.
Pintu kelas tinggal beberapa langkah dari tempatnya. Saat hendak memutar kenop pintunya, sayup- sayup ia dapat mendengar suara orang yang sedang bercakap- cakap. Sepertinya itu suara perempuan dan laki- laki. Nakamura mendorong pintunya sedikit dan mengintip dari celahnya. Ia melihat ada Karma disana dengan Okuda. Berduan.
'apa yang sedang mereka lakukan? Terlihat seru sekali,'
"…ya, jadi terima kasih, Okuda-san. Senang bisa berdikusi bersamamu,"
"A-ah! Iie, tidak apa- apa. Harusnya aku yang berterimakasih-"
"Tidak apa- apa lah. Sebagai ucapan terima kasih, mau kuantar pulang?"
DEG
Apa yang mereka lakukan?
"Ti- tidak perlu, Karma-kun. Aku ada janji dengan teman untuk bertemu di stasiun. Aku pulang sekarang ya? Summimasen." Tolak Okuda. Ia melihat Karma berjalan mendekati Okuda dan tersenyum hangat.
"Terima kasih atas bantuannya Okuda-san,"
Okuda hanya menunduk dan segera mengambil tasnya lalu berjalan menuju pintu kelas. Okuda sudah berada tepat di depan pintu kelas namun Nakamura belum pergi.
"Itterasai, hati-hati Okuda-san,"
"Ma- matta ne, Karma-ku-"
Ucapan Okuda terputus karena melihat Nakamura yang mematung didepan pintu. Tatapannya datar dan dingin. Okuda malah panik melihat Nakamura.
"Na-nakamura-san! Se- sejak kapan kau ada disini? Bukannya kau sudah pulang?" Tanya Okuda. Nakamura masih memasang tatapan datar, lalu tersenyum tipis.
"Ah tidak apa-apa, aku baru saja ada disini. Maaf aku mengganggu. Shitsure." Ucapnya sinis dan langsung menjauhi kelas.
"Chotto mate kudasai! Nakamura-san"
.
.
.
Persetanan dengan pe-er.
.
.
.
Nakamura menekuk lututnya dan membenamkan wajahnya. Surai pirangnya terlihat sedikit kusut dan ikut menutupi wajahnya. Botol kecil yang berisi air sabun ia letakan didekatnya dan sudah habis setengahnya.
Dari tadi ia mendengar suara Okuda dan Karma yang memanggil-manggil namanya –sementara sang pemilik nama bersebunyi di hutan belakang sekolah, dengan sebotol air sabun untuk membuat balon.
'mereka.. tampak akrab sekali… sudah sampai mana ya mereka?' Batin Nakamura dan langsung mengangkat kepalanya.
"Haaaa? Apa- apaan sih aku ini!?" Ia menepuk- nepuk pipinya kencang- kencang sampai terlihat bekas merah disana. "Aku 'kan hanya temannya Karma! Kenapa melihat ia berdua dengan Okuda saja a-aku-"
a-aku.. apa?
Nakamura menurunkan tangannya perlahan dari pipinya dan merenung.
'Apa aku.. suka dengan Karma?'
Ia membenamkan wajahnya kembali di lutut.
.
.
.
"Maa, Okuda-san, kau bisa pulang duluan. Kita juga tidak tahu Nakamura-san masih disini atau sudah pulang –yaa walaupun aku yakin kalau ia masih disini, jadi-"
"Dame! A-aku akan membantu mu mencari Nakamura-san. I- ia pasti salah paham dengan ku. Aku harus bisa menjelaskan-"
"Lebih baik kau pulang saja Okuda-san. Biar aku saja yang mencarinya. Akan kujelaskan sampai detil- detilnya. Bahwa kita tidak ada apa- apanya. Itu 'kan yang kau mau?" Sela Karma dingin.
Okuda menundukan kepalanya. "Ha- hai, summimasen," Ucapnya dan langsung berbalik meninggalkan Karma.
Setelah Karma merasa Okuda pergi, ia berjalan menuju hutan belakang sekolah. Sebenarnya, ia sudah tau dimana Nakamura bersembunyi. Namun karena ada Okuda, ia menundanya –dari tadi ia meminta agar si kepang dua segera pulang, namun ia menolaknya.
"Ketemu," Bisik Karma kecil melihat sosok yang sedang meringkuk di bawah pohon eucalyptus, tempat paling nyaman sedunia menurut mereka berdua. Rupanya gadis itu tertidur.
Pemuda itu berjalan perlahan mendekatinya dan memperhatikan detil sang gadis. Sampai sepasang irisnya menangkap sebotol air sabun, ia mengambilnya.
.
.
.
"..huh?" Nakamura terbangun dari tidur siangnya dan meraba sekitarnya. "Loh? Sepertinya aku meletakan botol gelembungku disini, kenapa menghilang?" dan, "Ini… jaket Karma? Loh –loh kok?"
Belum selesai dengan kebingungannya, Nakamura kembali dibuat bingung dengan gelembung-gelembung tiup yang mengelilinginya. Sepertinya seluruh gelembung ini berasal dari… atasnya!
Kepala bermahkotakan helai emas itu mendongak ke atas. Rupanya ada Karma yang nyengir.
Tangannya membuat gesture menyapa. "Ossu, tukang tidur."
Kelopak mata yang menyembunyikan iris biru dikucek. "Oh, ossu pencuri. Yang kau pegang itu gelembungku."
"Aku hanya meminjamnya kok. Ini mau kukembalikan. Tapi sebelumnya –kau naik ke sini dulu." Karma mengulurkan tangannya, bertujuan menggapai Rio yang masih bengong.
"Ayo, sini naik. Duduk di sini."
Tanpa ba-bi-bu lagi dan tanpa menyambut uluran tangan Karma, Nakamura menaiki pohon eucalyptus tanpa kesusahan. Padahal, pohon berbatang tinggi ini tidak memiliki dahan rendah. Lalu dengan cepatnya, ia langsung duduk di dahan yang sedikit lebih pendek dibanding Karma.
"Hee, kau hebat juga." Karma memuji. "Kau rajin latihan, sih,"
"Hm."
"Oh iya, ini botol gelembungmu –lihat, aku tidak mencuri."
"Hm, thanks."
"Koro-sensei memberi tugas ya, tadi?" tanya Karma. Nakamura hanya mengangkat bahunya lesu. "Aku serius, Nakamura." Karma berucap tegas. "Apa-apaan kau menjawab pertanyaanku dengan sangat singkat?"
"Aku punya hak untuk menjawa atau tidak. Aku juga serius, Karma. Dan juga, setahuku kau hanya serius bila berbicara berdua dengan seorang gadis bersurai hitam, empat mata." Nakamura berseru dingin. Tak lama kemudian, gadis itu menyadari ucapannya dan langsung menutup mulutnya.
"Yang tadi bukan aku yang berbicara"
"…" Karma terdiam.
"… maaf aku tidak bermaksud –maaf, aku sedang emosional. Entah kenapa. Maaf telah membentakmu. Aku sedang tidak stabil. Maaf-maaf."
Atmosfer di sekeliling mereka menjadi canggung dan tidak ada satupun yang berbicara. Baik Karma atau Nakamura, merasa sifat mereka sudah keluar dari yang biasanya. Karma mulai menggerakan bibirnya –akhirnya ada juga pemecah dalam kecanggu –
"Kau menyukaiku, ya."
–ngan
Sepasang iris sewarna dengan langit musim panas terbelak. Dengan cepat ia melepas sepatunya, dan melemparkannya ke arah Karma.
"Jangan ngarang!" satu sepatu lagi dilemparkan. "Jangan ke-geeran!" sebuntalan jaket berwarna hitam terlempar. "Jangan sok keren!" dan sebagai 'penutup', Nakamura melemparkan jaket rajutnya sendiri.
Karma tertawa kecil. Semua barang yang Nakamura lempar berhasil ia tangkap. "Aku hanya bercanda, sumpah, hanya bercanda."
"Jangan kira hanya kau, loh, yang bisa melempar-lempar begitu." Karma merogoh kantung celanya, dan mengeluarkan gulungan kantung serut berwarna hitam. Ia melemparkannya ke arah Nakamura yang memperhatikannya dengan bingung.
"Otanjobi omedeto. Maaf aku telat memberikannya."
Nakamura membuka kantung serutnya, dan mendapati syal katun halus warna marun di dalamnya.
"Ngomong-ngomong, tadi aku memang berdua dengan Okuda di kelas. Koro-sensei menghukumku karena aku sering membolos. Jadi aku diperintahkan untuk mengerjakan soal-soal sains. Karena malas berpikir, aku meminta bantu Okuda saja."
"…"
"… hei… kau marah? Kenapa diam?"
Nakamura dengan cepat turun dari pohon, dan memberi gesture agar Karma menjatuhkan jaket dan sepatunya.
"Oi. Nakamura, ada apa? Apa aku berbuat sa –"
Senyuman lebar menghiasi paras ayunya. "Terima kasih banyak, Karma-kun!" ia melilitkan syal barunya di leher. "Aku sangat menyukai ini. akan kujaga baik-baik!"
"… kau tidak marah?"
"Tidak! Tentu saja tidak!" jawabnya. "Aku tidak berhak marah ketika mendapatkan hadiah ulang tahun dari seserorang. Walaupun ini telaaaat sih,"
Karma mengaruk tengkuknya. "Yaa… maaf untuk yang it –"
Nakamura dengan gesit mengambil tasnya yang teronggok di bawah pohon, dan berteriak.
"Yang terakhir sampai di kelas, dia adalah pecundang!"
.
.
.
Ch. 8 fin
Pheeww, akhirnya, futari! Keupdate juga. Maaf yaa minna, nyanee nunggak mulu *pura-pura ga liat last update*
Lagipula kali ini temanya rada ngga jelas –bhoo. Ada yang berminat untuk review?
