Spiral

Chapter 8

-Kediaman Uchiha, Kamar Itachi-

Itachi menatap undangan pertunangan dirinya dengan Deidara dengan perasaan kalut. Bagaimana kalau Deidara tahu hal ini? Mungkin Deidara sudah tahu. Keluarga Uzumaki kan keluarganya Naruto. Heh, nasibnya bakal seperti apa kalau Deidara tahu? Tunggu, ada yang lebih parah. Bagaimana nasibnya kalau Sasori tahu? Bisa jadi bubur dia. Perkataan Kakashi yang menawarkan bantuan memang merupakan oase di tengah padang pasir baginya yang sekarang tidak tahu harus berbuat apa. Namun entah mengapa, Itachi tidak ingin Kakashi membantunya. Kakashi sudah terlalu baik kepadanya sejak kecil dan selalu membantunya kalau ada masalah. Tidak enak kalau dia yang sudah dewasa ini selalu bergantung kepada Kakashi. Toh ini masalahnya. Masalah yang dia mulai dan dia jugalah yang harus menyelesaikannya. Dia tidak ingin melibatkan orang lain yang jelas-jelas tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini. Bahkan dia tidak ingin Deidara menjadi tersangka. Deidara hanya korban. Korban dari perilakunya yang seenak sendiri. Namun, Itachi tidak tahu harus berbuat apa. Seumur hidupnya, Itachi tidak pernah membayangkan kalau dia yang memiliki otak jenius bisa ling lung menghadapi persoalan seperti ini.

Itachi menatap rumah besar keluarga Uzumaki dari jendela kamarnya. Dari sana, dia bisa melihat jendela kamar Deidara yang terletak di lantai dua. Terlihat siluet seorang wanita dengan rambut pirang panjang. Tersenyum, Itachi mengaktifkan sharingannya. Mata merah khas Uchiha itu memberikan gambaran jelas siapa wanita pirang yang dilihatnya. Deidara sedang membaca sebuah kertas tebal yang kemungkinan besar berkaitan dengan tugas kuliah atau kompetisi melukis itu. Itachi tersenyum ketika mengingat ancaman Deidara yang memaksanya untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya sebagai imbalan menjadi kekasihnya. Ancaman kosong. Deidara lupa dengan apa yang telah dia katakan sendiri. Padahal kalau ingat, mereka kan bisa menghabiskan waktu berdua.

Itachi menghela napas. Tangannya meraba daun jendela di mana dia mengangkat dan mendudukkan Deidara ketika mereka berciuman. Itachi masih ingat wajah cantik Deidara yang memerah ketika dia melepas ciumannya. Perasaan kecewa merambati hatinya ketika Deidara langsung berlari meninggalkannya sendiri di kamar. Dia tahu kalau Deidara shock dengan apa yang terjadi. Apalagi dengan fakta kalau dia membalas ciuman Itachi. Itachi juga tidak bisa membantah kalau dirinya sangat ingin mencium Deidara lagi, memeluknya, menggodanya...

Apa dia mulai jatuh cinta dengan Deidara?

Dia memang belum pernah pacaran sekalipun... tetapi dia pernah menyukai seseorang, bukan... dia pernah mencintai seseorang.

Dan perasaan yang muncul saat ini... hampir sama dengan perasaan yang muncul beberapa tahun yang lalu...

Suka kah? Cintakah?

Mungkin salah satu dari keduanya... kehadiran Deidara telah memberikan warna baru dalam hidup Itachi, walaupun mereka hanya mengenal satu sama lain selama sekitar dua minggu lebih. Itupun karena ulah Itachi.

Itachi menghela napas. Diraihnya telepon genggam di atas meja dan menelpon perempuan yang kini dia lihat dari jendela kamarnya.

"Apa?" Suara ketus menyambut telinganya. Itachi tertawa pelan.

"Aduh yang sopan dikit dong. Masa jawab telpon begitu." Itachi menggoda. Dirinya tersenyum geli ketika mendengar lawan bicaranya itu mendengus kesal.

"Mau apa telpon segala? Kencan?"

"Wuih... tumben kamu minta kencan sama aku. Biasanya karena perintah Bunda dan Kushina."

"Kalau kamu nggak ngomong, ku tutup telponnya."

"Ihh... ngambek. Dei, ku ajak yuk?"

"Ke mana?"

"Ke rumah Kakashi-san. Aku malas ke sana sendirian..."

"Kakashi? Kok kayaknya pernah dengar... oh pria aneh yang pakai masker itu ya?"

"Iya, yang kamu lihat di Konoha University."

"Memang kenapa ngajak-ngajak?"

"Ya buat teman aja." 'Buat pengalih perhatian Anko-san. Jadi kalau Dei dan Anko-san sibuk sama Kisai, aku bisa bicara bebas sengan Kakashi-sensei.' Itachi berpikir. Mata merahnya masih menatap jendela kamar Deidara yang terbuka.

"Ya deh... toh aku lagi nggak ada kerjaan."

"Good..."

Itachi tersenyum ketika Deidara melangkah keluar dari rumah modern Uzumaki. Itachi bisa melihat kalau Deidara masih canggung tapi yah Itachi tidak bisa menyalahkannya.

"Kita jalan kaki saja. Dekat kok." Kata Itachi. Deidara hanya menganggukkan kepalanya. Tangannya memainkan rambut pirang panjangnya yang hari ini bebas dari kuncir kuda. Rambut pirangnya yang panjang itu menjutai sampai ke pinggang Deidara dan angin yang memainkannya membuat Itachi ingin membelai rambut itu di sela-sela jarinya.

Deidara menatap rumah tradisional Jepang di depannya dengan alis terangkat. Apa semua orang berpengaruh di Konoha itu rumahnya selalu gaya tradisional ya?

"Ah, Itachi-kun." Seorang wanita cantik berambut ungu gelap membuka pintu. Senyuman ramah di bibir wanita itu membuat Deidara sedikit tenang. Ya siapa tahu kalau wanita ini orangnya galak atau sadis... (Kau tidak tahu sih Dei -_-)

"Anko-san."

"Ini siapa?"

"Ini Deidara..." Deidara tersenyum sopan ketika dirinya dikenalkan oleh wanita yang bernama Anko. Wajah Anko berbinar ketika mendengara namanya di sebut.

"Oh, jadi ini yang namanya Deidara. Kenalkan saya Anko, istri Kakashi." Deidara membungkuk.

"Saya Deidara, uuummmm pacar Itachi." Deidara memaksakan sebuah senyuman kepada wanita yang lebih tua itu.

"Ayo masuk. Kamu pasti mau ketemu Kakashi, kan?" Anko membuka lebar pintu geser khas Jepang itu. Deidara melepas alas kakinya dan mengekor di belakang Itachi dan Anko.

"Kok tahu?"

"Yah, mau apa lagi kamu ke sini? Mau membantuku mengurus si kecil? Nggak mungkin kan?" Itachi tersenyum mendengarnya.

"Itachi-kun?" Kakashi terlihat menghampiri mereka dengan putranya digendongan. Deidara menahan untuk tidak memekik gemas ketika wajah imut Kisai menatap mereka dengan mata abu-abu besar miliknya. Pipinya yang tembem seakan mengajak Deidara untuk mencubit atau menciumnya.

"Ke gazebo yuk!" Ajak Kakashi tersenyum sambil menyerahkan Kisai kepada istrinya. Itachi menggangguk dan segera melangkah menjauhi dua perempuan yang kini sibuk menggoda Kisai.

"Wah, kawaii... siapa namanya, Anko-san?"Deidara bertaya seraya bermain-main dengan tangan mungil bayi tujuh bulan itu.

"Namanya Kisai. Hatake Kisai. Ya, harapannya sih tumbuh sesuai namanya dan mewarisi otak ayahnya."

"Halo Kisai-chan..." Deidara menyapa dengan suara yang diubah-ubah. Kisai tertawa senang dan menepuk-nepuk tangannya. Deidara tertawa senang sebelum meringis kesakitan karena Kisai menjambak rambut blondenya.

"Aduh, Ki-chan, sakit. Tidak boleh ya..." katanya lembut. Kisai hanya terkikik geli dan itu membuat Deidara semakin gemas.

"Wah, Dei-chan calon ibu yang baik nih..."

"Ah Anko-san bisa saja." Deidara tersenyum malu. Dia bisa merasakan wajahnya berubah merah karena perkataan Anko itu. Calon ibu? Hah! Siapa juga yang akan memikirkan soal jadi ibu, memikirkan untuk mejadi istri saja belum.

Sementara itu Itachi duduk di depan Kakashi tanpa mengalihkan wajahnya dari Deidara yang sedang bercanda dengan Kisai. Sebuah ide muncul di kepalanya. Ide yang sederhana namun dia harap bisa menyelesaikan semua. Yah... ide yang terlalu sederhana untuk kualitas otaknya, namun perlu dicoba.

"Kakashi-sensei, aku sudah memutuskan sesuatu." Perkataan Itachi itu memancing perhatian Kakashi.

"Hmmm? Apa itu?"

"Aku tidak butuh bantuan Kakashi-sensei. Aku akan menyelesaikan hal ini sendiri. Aku tidak ingin Kakashi-sensei ikut terlibat dalam hal ini." Kakashi menatapnya serius. Itachi membalas tatapannya dengan tekad di matanya. Kakashi mengangguk mengerti. Apapun yang akan dilakukan Itachi, entah itu sederhana, merepotkan atau luar biasa hebat, dia akan mengawasi dari belakang.

"Kalau itu ingat, Itachi, kalau kau butuh bantuan tinggal bilang, ok?" Kata Kakashi tersenyum.

"Terima kasih, Kakashi-sensei."

"Sudah, Kakashi saja. Tidak perlu embel-embel sensei segala." Kakashi mengibaskan tangannya.

"Hai, Kakashi-san." Itachi mengangguk. Mata hitam Itachi beralih ke Deidara dan Anko yang masih berkutat dengan Kisai. Kisai kini berada dalam gendongan Deidara dan sedang memainkan rambut panjang Deidara. Rambut Deidara yang mencolok jelas menarik perhatian anak kecil, apalagi bayi. Itachi tersenyum ketika Deidara mencoba untuk melepas rambut berharganya dari genggaman kuat bayi mungil itu.

"Deidara is good with kid." Suara Kakashi membuyarkan konsentrasinya. Ditatapnya Kakashi yang tersenyum penuh arti dari belakang maskernya.

"Kakashi-san jangan mulai deh..." Itachi menghela napas. Kakashi tertawa kecil mendengar warning dari Itachi.

"Eh? Mulai apa? Aku kan hanya bilang..."

"Jangan di teruskan. Aku tahu arah pembicaraan Kakashi-san." Itachi mendengus kesal. Keheningan menyapa kedua laki-laki yang kini menikmati pemandangan dua orang perempuan yang mereka sayangi, setidaknya itu yang berada di pikiran Kakashi. Kakashi menatap lembut istrinya sebelum mengalihkan pandangannya ke Itachi. Di perhatikannya baik-baik bagaimana tatapan Itachi ke perempuan yang diseretnya di pinggir jalan itu. Sebuah tatapan yang Kakashi kenal betul menghiasi wajah Itachi.

"Hei Itachi..."

"Hmm?"

"Kamu suka ya sama Deidara?" Pertanyaan Kakashi itu kontan membuat wajah Itachi memerah. Dialihkan pandangannya ke Kakashi yang tersenyum melihat tingkahnya itu.

"AP—T-Tidak kok."

"Halah, tidak usah bohong. Dari tatapanmu itu aku sudah tahu. Aku ini jauh lebih berpengalaman masalah cinta loh dari pada kamu yang belum pernah punya pacar." Kakashi kini menatap Itachi dengan tatapan serius.

"Memang Kakashi-san pernah punya pacar sebelum menikah dengan Anko-san?" Itachi berusaha mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau kalau Kakashi tahu dia mulai menyukai Deidara... Heh, Kakashi kan sudah tahu?

"Nggak sih, tapi teman-temanku dulu punya pacar banyak lo... Asuma suka bicara tentang Kurenai, Gai yang terus mengejar Ayame, Raido yang punya problem karena menyukai sepupunya, trus Genma yang playboy itu sering memberikan tips-tips aneh gitu deh..."

"Wah nggak nyangka ya kalau Kakashi-san yang suka baca novel mesum itu hanya punya Anko-san. Aku kira pacaran juga dengan Yugao-san dan Shizune-san." Sindir Itachi.

"Enak saja...! Itu bukan novel mesum tahu, itu novel cinta." Kakashi berdalih, mencoba membela novel tercintanya itu. Bagaimanapun novel karya Jiraiya itu mempunyai peran penting dalam hubungannya dengan Anko. Dari pertama bertemu sampai mempunyai bayi lucu yang bernama Kisai.

"Iya deh percaya... percaya." Itachi memutar matanya.

"Ya... Say, have you two kissed yet?" Kakashi sukses membuat wajah Itachi merah untuk kedua kalinya. Itachi menatap tidak percaya mantan guru lesnya itu. Ngapain Kakashi tanya hal seperti ini segala?

"HAH?"

"Sudah jawab saja."

"Umm...Y-Ya." Itachi membuang mukanya karena malu. Wajahnya merah padam ketika Kakashi tertawa. Kakashi sepertinya belum puas dengan pertanyaannya.

"Kapan?"

"Beberapa hari sebelum undangan pertunangan beredar." Itachi bergumam sebal.

"Di mana?"

"Kakashi-san ini kenapa menanyakan hal seperti itu sih?"

"Sudah kubilang jawab saja."

"Kamar."

"Tepatnya?" Tanya Kakashi semakin penasaran. Ya siapa tahu bisa jadi referensi buku Icha-Icha Paradise yang baru kalau ketemu Jiraiya nanti... Novel terbaru gratis kan upahnya.

"...Jendela."

"Wah wah nggak nyangka deh..." Kakashi berdecak kagum. Wajah Itachi kini sama dengan buah kesukaan adiknya.

"Kakashi-san!"

"Apa Deidara membalas ciumanmu?"

"...Ya."

Kakashi tersenyum penuh arti. Itachi mendengus kesal karena mengetahui arti dari senyuman pria bermasker itu, walaupun dia hanya bisa melihat mata milik Kakashi melengkung.

"Kakashi-san."

"Ya?"

"Kalau aku memang mulai menyukai Deidara, apa Kakashi-san akan mencoba untuk mencegahku membatalkan pertunangan ini?" Tanya Itachi. Kakashi memandang laki-laki muda yang sedang galau itu sesaat sebelum menjawab.

"Tidak. Aku tidak akan mencegahmu melakukan apapun, Itachi. Kalau kalian memang bertunangan suatu saat nanti, aku akan lebih senang kalau pertunangan itu memang terjadi karena inisiatif kalian yang saling mencintai satu sama lain dan berjanji akan bersama seumur hidup, bukan karena kesalahpahaman di antara orang tua yang kemudian merencanakan semua ini tanpa sepengetahuan anak mereka."

"Kakashi-san benar... Walau aku mulai menyukai Deidara, aku tidak ingin memaksanya untuk bersamaku dengan pertunangan ini. Entah apa yang akan membawa kami di masa depan, namun untuk saat ini pertunangan ini tidak menghasilkan sesuatu yang baik kepada siapapun karena dimulai dari sebuah kebohongan." Itachi menghela napas.

Itachi menatap Deidara yang dengan penuh semangat menceritakan kejadian-kejadian lucu sewaktu dia bersama Kisai. Itachi hanya tersenyum dan menganggukkan kepala ketika Deidara dengan semangat meminta pendapatnya. Itachi melihat kafe tempat dirinya dan Akatsuki berkumpul. Merasa sedikit haus, Itachi menggandeng tangan Deidara dan membawanya masuk. Deidara sepertinya tidak keberatan dan menurut saja.

Deidara meneguk jus jambunya dengan semangat sampai jus itu hanya tinggal separuh. Sepertinya dia cukup kelelahan hari ini. Deidara menatap sekelilingnya dan merasa sebal. Hampir separuh pengunjung kafe ini adalah cewek-cewek berseragam SMA. Mata remaja-remaja yang masih ababil itu mengarah ke Itachi yang dengan tenang meminum jus melonnya. Sesekali Deidara mendengar cekikikan keras dari segerombol siswi SMA yang duduk tidak jauh dari tempat duduk mereka.

Deidara mencoba menghilangkan pikiran-pikiran aneh yang mulai muncul di otaknya. Dari kata 'Dasar cewek ababil...' 'Tidak tahu aku pacarnya?' sampai 'Cemburu...' melintas bak kereta api di pikirannya.

"Putranya Kakashi-san dan Anko-san lucu banget ya... Jadi pengen punya bayi." Deidara menyeletuk. Deidara tersenyum geli ketika Itachi hampir tersedak minumannya sendiri.

"Kamu ini ngomong apa sih?" Itachi menatap perempuan di depannya itu dengan terkejut dan shock. Deidara hanya tersenyum melihat ekpresinya. Memangnya salah ya kalau dia punya pikiran seperti itu?

"Apa? Aku kan hanya bilang pengen punya bayi. Kisai-chan itu kan imut banget, siapa sih yang nggak pengen punya bayi kalau sudah ketemu sama Kisai-chan?" Deidara mencoba membela diri.

"Wah wah kalau Itachi dan Deidara punya bayi pasti cakep." Suara familiar mengalihkan perhatian Itachi dan Deidara. Wajah Itachi berubah kusut ketika melihat Hidan, Kisame, Kakuzu dan Tobi di belakang Deidara.

"Hidan?" Laki-laki berambut perak itu tersenyum lebar ketika melihat wajah kusut Itachi.

"Kakuzu ayo taruhan, bayinya Itachi dan Deidara gimana bentuknya? Aku taruhan 5000 yen rambut hitam, mata biru." Kisame berkata kepada si mata duitan yang tentu saja dengan senang hati menerima tawaran itu.

"Oke Kisame, aku taruhan 5000 yen rambut hitam, mata hitam kaya Itachi, kulit putih susu kaya Deidara." Kakuzu tidak kalah.

"Tobi ikut! Taruhan rambut kuning, mata hitam, mirip Itachi-kun." Tobi menyambung sambil mengacung-acungkan telunjuknya. Mata Itachi berkedut ketika membayangkan dirinya versi kecil dengan rambut pirang. Aneh!

"Kalian ini apa-apaan sih? Dasar ganggu! Pergi sana!" Itachi sewot. Matanya menatap sebal teman-temannya yang kini asik menghitung uang. Bisa tidak sih dia berdua dengan Deidara sebentar saja? Kalau tidak Akatsuki, pasti Sasori yang tiba-tiba muncul.

"Wah, kita ganggu ya? Memangnya kalian sedang kencan, Itachi?" Kisame bertanya.

"Umm... nggak kok." Deidara menjawab pertanyaan itu dengan senyuman nervous. Kisame menyeringai lebar sebelum duduk di sebelah Itachi.

"Ya udah... Mbak pesan jus alpukat tiga dan jus jeruk satu." Kisame berteriak lantang. Itachi menggelengkan kepalanya. Sedikit malu dengan tingkah teman-temannya yang memang suka seenaknya sendiri.

"Aku duduk dekat Deidara-chan yang cantik..." Tobi berkata riang. Deidara yang memang sudah nggak begitu nyaman dengan Tobi, bergeser jauh-jauh dari makhluk tidak jelas itu.

"Tobi, jangan dekat-dekat!" Itachi memperingatkan. Tobi celingak celinguk tidak mengerti.

"Eh, kenapa? Tobi kan suka sama Deidara-chan..."

"Heh, kamu itu bikin Deidara takut tahu." Tobi hanya ber "HUH!" ria sambil melipat tangannya di depan dada mirip anak TK.

"Sasori mana? Kok nggak kelihatan?"

"Entah tuh anak... Katanya adiknya sedang sakit, jadi mungkin ke Suna." Kakuzu menjawab tanpa mengalihkan perhatiannya ke tumpukan uang di tangannya. Buset nih anak... pernikahan aja belum tentu jadi sudah main judi di depan calon pengantin.

"Adiknya yang mana?"

"Yang versi chibi Sasori, Kisame."

"Gaara-kun sakit? Wah sakit apa ya?" Deidara terkejut. Dia belum pernah sekalipun mendengar Gaara sakit. Memang Gaara menderita insomnia sejak kecil karena trauma, namun belum pernah sekalipun Deidara mendengan sepupunya yang super pendiam itu sakit.

"Katanya cuma flu biasa, tapi kamu tahulah Sasori itu orangnya gimana kalau sudah menyangkut keluarga. Super duper over protektif." Deidara mengangguk sambil memikirkan perkataan Kakuzu. Dia ingin sekali menjenguk Gaara, tapi bagaimana ya? Kalau benar Sasori sudah di Suna, dia ke sana naik apa biar cepat? Dia kan harus menunggu pengumuman kompetisi melukis juga.

"Ayo pulang..." Ajakan Itachi itu membuyarkan rantai pikirannya.

"Ini yang bayar siapa?" Tanya Kisame bingung. Itachi hanya mengangkat alisnya.

"Siapa bilang aku yang bayar? Kalian yang pesan, kalian yang bayar. Tuh, minta lagi uang kalian dari Kakuzu." Kata Itachi sambil menarik tangan Deidara meninggalkan Akatsuki yang kini saling berebut uang. Deidara tersenyum kecil seraya mengijinkan dirinya ditarik oleh Itachi.

"Wah ada danau...!" Deidara berseru senang. Mata biru langitnya melihat ke arah danau yang kini berwarna kuning keemasan akibat cahaya sore matahari. Itachi, yang memang sengaja mengambil arah lain pula karena takut di cegat oleh Akatsuki, hanya tersenyum melihat mata Deidara yang berbinar.

"Kamu nggak tahu kalau di sini ada danau?" Dihampirinya Deidara yang kini berada di pinggir jalan di bawah pohon Sakura. Deidara tidak menoleh ke arahnya. Matanya terpaku pada cahaya matahari yang berasal dari danau, terlihat seperti matahari terbenam dari seberang.

"Tahu sih, tapi belum pernah lihat langsung. Wah seperti ada matahari terbenam ya... cantik."

"Rumah siapa itu, Itachi? Beruntung banget mengarah ke danau langsung, bisa melihat matahari terbit dan terbenam setiap hari." Deidara menunjuk rumah besar bergaya Inggris yang berdiri tepat di belakang mereka. Ruma itu memang menghadap ke danau.

"Oh itu rumahnya Zetsu, teman ku yang kuliah di Inggris. Oh ya, katanya dia pulang, kok nggak sama Akatsuki tadi?" Itachi bertanya kepada dirinya sendiri.

Zetsu adalah teman Itachi yang sangat terobsesi dengan tanaman hingga kuliah di luar negeri untuk menjadi seorang ilmuan. Saking terobsesinya, Zetsu bahkan mengecat rambutnya menjadi hijau, membangun rumah kaca dan memiliki taman yang besar di pekarangan rumahnya. Dirinya juga sering uring-uringan kalau temannya memesan makanan yang penuh dengan sayuran atau salad. Alasannya sih makan itu harus teratur, daging dan sayur harus ada. Jangan hanya sayur terus, kasihan sayurnya. Alasan tidak masuk akal yang membuat Akatsuki sweatdrop mendengarnya.

"Indahnya..." Pikiran Itachi kembali ke saat mereka berciuman. Suasana romantis di sore hari di mana kamarnya diganti oleh rerimbunan pohon sakura yang bermekaran, membuat Itachi harus menahan diri agar tidak terbawa suasana lagi. Namun, apa daya. Itachi tidak bisa menyangkal kalau dirinya ingin sekali memeluk Deidara. Yah, terkadang setan memang menang...

"Dei?"

"Hmm..." Deidara menoleh dan terkejut ketika wajah Itachi hanya beberapa senti dari wajahnya. Deidara, seperti ketika mereka berciuman dulu, menahan napasnya namun tidak berbuat apa-apa. Mata hitam Itachi menatap mata biru Deidara dengan emosi yang tidak dapat Deidara ketahui.

"Boleh aku menciummu?" Deidara merasa jantungnya berdetak kencang ketika kata-kata itu meluncur dari bibir Itachi. Deidara tidak menjawab. Boleh kah? Pertanyaan itu menggema di pikirannya. Deidara menatap bibir Itachi sebelum matanya berpindah ke mata Itachi. Tulus, penuh harap dan entah apa lagi emosi di sepasang mata hitam itu. Bolehkah?

Deidara tidak mengucapkan satu patah kata pun. Dirinya hanya melingkarkan tangannya ke leher Itachi dan membiarkan Itachi menunduk lebih rendah lagi. Deidara bisa merasakan napas hangat Itachi menyentuh bibirnya.

"I-Itachi?" Gumam Deidara. Itachi yang mendengar namanya disebut tidak kuasa membendung keinginannya. Namun...

Byur!

"Rasakan tuh!" Sebuah suara penuh kemenangan terdengar oleh kedua sejoli itu. Itachi merasa sekujur tubuhnya dingin dan lengket. Dilepaskannya Deidara dan meneliti tubuhnya. Tubuhnya basah dengan air kotor yang menghasilkan bau tidak sedap. Matanya beralih ke arah suara dan matanya memicing ketika melihat Sasori berdiri di depan rumah Zetsu dengan ember lumayan besar di tangannya.

"S-Sasori-danna." Deidara menatap tidak percaya sepupunya yang tiba-tiba datang itu. Wajahnya merah ketika mengingat apa yang akan mereka lakukan sebelum Sasori mengguyur Itachi dengan air. Ya, yang diguyur Sasori hanya Itachi dan hebatnya hanya Itachi saja yang basah, Deidara tidak. Wow...

"Sasori, air bekas pel itu kok kamu buang ke luar? Lho Itachi?" Zatsu keluar dengan tampang tidak bersalah ketika melihat Itachi dan seseorang yang tidak dia kenal. Matanya membelalak ketika melihat Itachi basah kuyub dan kotor. Waduh, itu kan bekas ngepel gudang yang tidah terpakai selama beberapa tahun.

"KUBUNUH KAU SASORI!" Itachi mengaktifkan Sharingannya dan menatap Sasori dengan tatapan membunuh.

"Siapa suruh cari kesempatan, hah?" Sasori berkata. Bibirnya masih membentuk seringai menyebalkan.

"Hahahahah..." Itachi mengalihkan perhatiannya ketika suara tawa terdengar dari sampingnya. Deidara, yang semula terlihat takut akan Sasori, malah kini tertawa sambil menunjuk-nunjuk Itachi yang basah kuyup.

"Dei, berhenti tertawa!" Itachi berkata sebal. Namun Deidara hanya melanjutkan tawanya sambil memegangi perutnya.

"Tidak ada yang lucu." Kata Itachi semakin sebal walau hal itu hanya masuk telinga kanan dan keluar dari telinga kiri Deidara. Seketika amarah Itachi menguap. Ditatapnya Deidara yang tertawa senang akan penderitaan Itachi dengan tatapan yang membuat Sasori memicingkan matanya. Itachi tersenyum lembut. Belum pernah sekalipun dia melihat Deidara tertawa seperti ini. Begitu lepas, tanpa beban apapun.

Mungkin aku memang mulai menyukainya. Bukan, mungkin aku memang sudah menyukainya.

-Kediaman Uzumaki, keesokan harinya-

"APA INI?!" Deidara berteriak shock ketika Tobi dengan senangnya menyerahkan sebuah amplop berhiaskan bungan tulip ketika Deidara berdiri di depan rumah Naruto menungu Sasori.

"Ini? Undangan pertunanganmu dengan Kak Itachi, Dei-chan" Tobi berkata polos. Deidara membelalakkan matanya tidak percaya. Diremasnya undangan kecil cantik itu sebelum dilangkahkan kakinya dengan marah ke arah pintu gerbang besar tepat di depan kediaman Uzumaki.

"UCHIHA ITACHI, KELUAR KAU!" Teriakan Deidara itu sukses membuat Sasuke dan Neji berhamburan ke luar rumah. Neji menatap Deidara yang sudah berasap kepalanya dengan ngeri.

"Kak Deidara?"

"Mana Kakakmu itu, Sasuke? Akan ku bunuh dia!" Deidara menarik kerah baju Sasuke yang tidak tahu apa-apa. Mata Deidara telah mengkilat marah.

"Eh? Apa yang-"

"Jangan banyak tanya! Mana Itachi!"

"Deidara." Suara Itachi membuat Deidara melepaskan Sasuke yang langsung dipeluk oleh Neji. Khawatir kalau pacarnya itu terkena serangan mental shock akibat Deidara. Sasuke menarik Neji ke dalam rumah, jauh dari dua makhluk setengah dewasa setengah teenager itu.

"KAU!" Deidara dengan marah meninju wajah tampan Itachi tanpa ampun. Itachi meringis kesakitan ketika bogem mentah itu mendarat mulus di pipinya.

"Hei, tenang dulu!" Di gapainya kedua tangan Deidara dan mencoba membuat gadis pirang itu tenang. Deidara yang telah tebakar amarah, tentu saja tidak serta merta tenang seperti yang diinginkan. Yang ada, malah tambah marah.

"Tenang? Bagaimana aku bisa tenang kalau aku baru tahu pagi ini jika aku akan bertunangan denganmu? Mana undangan sudah disebar pula! Katanya kamu mau bicara dengan Ayahmu? Mana buktinya? Kok kita malah mau ditunangin?"

"Aku juga baru tahu dua hari yang lalu, Deidara."

"Aku nggak peduli kapan kamu tahu. Yang jelas kamu sudah berjanji akan bicara pada Ayahmu kalau aku tidak mau menikah denganmu. Bukankah kamu juga berjanji pada Sasori-danna kalau kamu tidak akan menyeretku ke masalah yang lebih runyam lagi?" Deidara menarik kerah baju Itachi. Itachi hanya bisa menghela napas ketika gadis dengan amarah seperti singa betina ini berteriak tepat di depan mukanya.

"Aku sedang berusaha membatalkan pertunangan kita, bodoh! Kaupikir aku tidak shock ketika menerima undangan pertunangan itu dari Kakashi-sensei? Kamu itu tenang dulu bisa tidak sih? Bantu aku berpikir kalau bisa!"

"Enak saja nyuruh bantu kamu berpikir! Yang bikin masalah ini itu kamu, Itachi!"

"Setidaknya bisa nggak kalau kamu diam? Aku ini sedang memikirkan sesuatu." Itachi memegang kedua sisi wajah Deidara dengan kedua tangannya. Matanya menatap dalam ke mata biru Deidara, memintanya untuk benar-benar mematuhinya. Deidara terdiam ketika melihat emosi becampur aduk di mata Itachi. Dari sorot matanya Deidara dapat melihat keputus-asaan dan kebingungan yang sedang di rasakan Itachi.

"Aku berjanji akan membatalkan pertunangan itu. Aku berjanji."

TBC