Mr. Detektif

Kibum, Kyuhyun

Happy reading!

Garis Keturunan Cho

Kibum keluar dari rumah Ren dengan muka lesu. Dia dan Ren tidak bertemu dan juga tidak saling kontak lebih dari seminggu. Niatan Kibum hari ini datang untuk mengajaknya kencan, sekaligus memberikan uang berbentuk cek yang diberikan Kyuhyun untuk ongkos sewa Kibum. Bertamu seperti biasanya, Kibum duduk di sofa bersama orang tua Ren. Sebari menunggu Ren yang entah sedang apa di kamarnya, mereka ngobrol. Awalnya obrolan ringan seperti bisa-biasanya tapi ujungnya ada kalimat tidak mengenakan keluar dari mulut appa-nya Ren.

"Bukan Appa tidak setuju hubungan kalian, tapi umur antara kau dan Ren itu terpaut jarak cukup jauh. Dia masih kuliah, itupun baru semester berapa? Dia masih sangat hijau untuk urusan pacar-pacaran" Kibum jelas tahu kemana arah pembicaraan itu. Bukan kali ini saja appa Ren membicarakan hal yang sama. "Bagaimana kalau kalian mengambil jarak dulu, setidaknya sampai dia lulus dan bisa mandiri"

Alasan lainnya, Kibum seorang detektif, kalau dia terus berurusan dengan penjahat lalu penjahatnya suatu hari balas dendam pada Kibum lewat Ren, putranya itu bisa berbuat apa? Ren cuma anak kecil yang bahkan berkelahi melawan yeojapun kalah, lalu dia harus berurusan dengan bahaya yang lebih besar? Sebagai orang tua, appa dan eomma-nya khawatir. Lebih baik dibenci anaknya sekarang karena memisahkan hubungan mereka dari pada suatu hari nanti menyesal.

Ren mendengarnya tadi, dibagian ketika appa-nya meminta Kibum tak datang lagi ke rumah mereka. Istilah orang tua, memisahkan hubungan mereka secara halus, tapi dampaknya buruk untuk Ren. Anak kuliahan itu langsung berlari kembali ke kamarnya, mengunci pintu dan tak mau bicara pada siapapun. Alhasil sekarang Kibum bingung sendiri. 250.000 itu mau diberikan pada siapa? Tidak mungkin juga harus dikembalikan pada Kyuhyun.

Yang membuat Kibum lesu dan tak bersemangat adalah statusnya sekarang. Dia sudah bukan kekasih Ren. Sebentar lagi masalah Kyuhyun terpecahkan, tentunya hubungan mereka juga segera berakhir. Kibum galau kalau harus menjomblo. Memang untuk mencari pasangan itu bukan perkara sulit, tapi juga tidak mudah. Membayangkan Ren yang tak banyak menuntut, cinta padanya dan mau diajak apa saja tanpa protes. Lalu Kyuhyun, meski kekasihnya yang satu itu bukan tipe namja manis seperti Ren, setidaknya Kyuhyun kaya. Dia untung 2 juta dolar karena memacarinya. Kalau Kibum mau yang seperti mereka, harus cari dimana?

Sedang enak-enaknya melamun, bahu Kibum ditepuk dari belakang. "Kibum" Ada Eunhyuk disitu. "Sedang apa kau disini?"

Kibum tertawa canggung. "Patroli!"

"Kau bukan polisi patroli, untuk apa melakukannya?"

"Terkadang ada anak-anak muda yang melakukan jual beli narkoba di daerah sini. Kami perlu waspada itu" Untungnya Eunhyuk tak tahu kalau perumahan ini terkenal dengan kawasan paling aman dari segala tindak kejahatan. "Kau sendiri sedang apa di daerah ini?"

"Aku baru menjenguk Kyuhyun. Mobilku mogok di ujung jalan sana", tunjuknya ke arah dia datang tadi. "Tidak ada taxi lewat sini, jadi aku harus jalan ke ujung satunya" Keterangan Eunhyuk diangguki Kibum. Selain aman, hampir setiap rumah disini punya kendaraan sendiri, jadi tak ada taxi lewat kalau tak dibooking dulu.

"Aku sudah selesai patroli, kalau kau mau, aku bisa memberimu tumpangan"

"Kedengarannya bagus. Aku sudah capek jalan dari sana tadi"

Sambil mengajak Eunhyuk berjalan ke arah mobilnya diparkir, Kibum mulai mendekati Eunhyuk. "Kau sudah makan siang atau belum?"

"Harusnya aku sudah menikmati makan siangku sekarang, tapi kau tahu sendiri mobilku mogok"

"Kalau begitu kutraktir kau makan siang sekalian"

"Boleh juga"

Eunhyuk namja yang manis, walau kata Kyuhyun dia itu punya jiwa penggoda dan Kibum percaya, tetap tak bisa dipungkiri kalau dia suka. Seumpama setelah ini dia berpisah dengan Kyuhyun, maukah Eunhyuk jadi kekasihnya? Bukankah Eunhyuk juga sama kaya dengan sepupunya? Soal partner Eunhyuk yang kata Kyuhyun suka ganti-ganti itu, belum terbukti kebenarannya. Lagipula kalau Eunhyuk sudah punya kekasih tetap, tak mungkin dia mencari orang lain. Kibum masih percaya diri kalau dia itu namja yang gentleman, namja yang bisa memuaskan siapapun pasangannya, jadi Eunhyuk tentu bisa dihandlenya kalau namja itu mau dengannya.

Kibum membawa Eunhyuk ke sebuah restoran. Karena Eunhyuk baru saja cerita soal makanan kesukaannya, Kibum membawanya ke restoran yang spesial menyajikan menu kesukaan Eunhyuk. Kibum memarkir mobilnya di pelataran resto, dekat dengan jalan raya. Dia sendiri masih belum membuka kunci pintu mobil meski mobilnya sudah terparkir sempurna.

"Hyuk" Eunhyuk menoleh padanya. "Kau manis sekali", pujinya, kelepasan.

Eunhyuk tersenyum. "Semua orang juga bilang begitu padaku"

"Aku mau tanya, tapi kau jangan marah" Eunhyuk kembali tersenyum. Kibum terdengar kekanakan, hampir sama dengan semua namja yang pernah ditemuinya. "Kata Kyuhyun kau punya jurus-jurus penggoda. Apa itu benar?"

"Kenapa? Kau merasa tergoda?", tanya balik Eunhyuk.

"Jujur saja aku tergoda padamu, tapi bukan tergoda karena jurus-jurusmu itu" Eunhyuk menaikkan sebelah alisnya tanda tak paham. "Aku tergoda, karena itu kau"

"Aku tidak mengerti maksudmu"

"Maksudku, punya jurus godaan atau tidak, aku tetap akan tergoda padamu"

Eunhyuk tertawa ringan. "Bilang saja kau suka padaku"

"Begitulah"

"Semua orang juga suka padaku, Kibum. Kalau kau suka padaku, lalu mau kau kemanakan sepupuku?" Eunhyuk menggeleng. "Kecuali kau tak suka dengan Kyuhyun dan segera meninggalkannya, mungkin aku akan pertimbangkan untuk menerimamu"

Bagaimana ya? Sejujurnya Kibum suka dengan Kyuhyun. Ini baru rencana, kalau dia sudah putus dengan Kyuhyun nanti, dia berniat memacari Eunhyuk. Bukan bermaksud memanfaatkan sepupu Kyuhyun ini, tapi kalau tidak dikatakan sekarang nanti diambil orang.

"Aku menyukai Kyuhyun, tapi sepertinya dia tak menyukaiku", terang Kibum. "Menurutku cepat atau lambat hubungan kita akan segera berakhir"

"Dan kalau kalian berakhir kau akan memintaku jadi kekasihmu?" Kibum mengangguk. "Yang benar saja kau ini, itu namanya kau jadikan aku sebagai pelampiasan". Eunhyuk berdecak pura-pura kesal.

"Tidak, Hyuk. Aku juga menyukaimu, sama seperti aku menyukai Kyuhyun"

Eunhyuk memandang Kibum tak percaya, namun dia tersenyum maklum. Selama ini Eunhyuk tak pernah punya hal-hal khusus untuk menarik atau menggoda orang lain, tapi seperti yang dikatakan orang, mereka tergoda. Berarti memang dia punya bakat alami dalam hal itu.

"Dibanding dengan Kyuhyun, seberapa besar sukamu padaku?" Kibum masih memeilih kata-kata untuk menjawabnya. "Kalau persepsimu salah, ternyata Kyuhyun juga suka padamu. Kalian tak jadi berpisah, lalu aku bagaimana?" Belum dapat jawaban pertanyaan pertama, dia dapat pertanyaan kedua. Kibum tak bisa menjawab yang itu. "Kau mau menduakan kami? Kau mau kami berbagi kekasih, begitu?" Dan pertanyaan yang ini juga tak bisa dijawabnya. "Aku tak mau dijadikan selingkuhan"

"Hyuk…"

"Dan aku tak mau menunggumu berpisah dengan Kyuhyun"

"Sebenarnya…"

"Pikirkan saja dulu. Kalau dalam waktu dekat kau berniat berpisah dengan sepupuku, kau bisa segera memberitahuku"

"Kau akan menerimaku?"

"Mungkin", jawab Eunhyuk sambil tersenyum janggal. "Kibum, bisa kau buka pintunya. Aku lapar dan ingin segera makan!", pinta Eunhyuk yang segera dipenuhi Kibum.

Eunhyuk keluar lebih dulu. Dia harus memutari mobil Kibum untuk menuju ke pintu resto. Saat berada di belakang, sebuah mobil berhenti di dekat Eunhyuk. Seseorang dari kursi kemudi berpindah tempat lalu membuka pintu sebelah dan menarik Eunhyuk masuk mobilnya. Eunhyuk sempat berteriak karena kaget. Namun setelah itu, mobil segera dilajukan bersama Eunhyuk dibawa serta.

Kibum kaget mendengar teriakan Eunhyuk. Dari kaca depan, dia melihat sepupu Kyuhyun itu dibawa pergi. Eunhyuk di culik. Kibum segera keluar mobil, menengok jalanan ke arah mobil tadi membawa Eunhyuk. Bodohnya dia tak segera masuk mobilnya sendiri lalu mengejar penculik itu. Kibum terlambat hampir beberapa menit, dan ketika Kibum menyusul dengan mobilnya, dia kehilangan jejak mobil penculik.

Wine

"Luo, catat laporanku barusan!", bentak Kibum pada partner detektifnya. "Catat! Cepat catat!", perintahnya lagi.

"Aku bukan polisi bagian pelaporan, kalau kau mau melapor, sana pada tempatnya!" Luo malah asyik membaca komik detektif setelah mengusir Kibum.

"Eunhyuk benar-benar diculik. Aku melihatnya sendiri"

"Bukankah kau juga seorang detektif, kenapa tak mengejar penculiknya?", kata Luo. "Kau malah kemari"

Kibum mendengus seketika. Dia kemari bukan berarti tak mengejarnya, Kibum kehilangan jejak. Melapor ke kantor adalah tindakan tepat untuk minta bantuan. Luo salah satu detektif yang pas untuk dimintai bantuan, tapi begini tanggapan yang Kibum dapat dari temannya itu.

Max lewat, dia menyapa Kibum dan Luo sejenak namun langsung pergi ketika Kibum hendak laporan soal penculikan. Chang juga lewat, dia malah sama sekali tak melirik teman-teman detektifnya itu. Kibum menghentikan langkahnya, namun Chang menolak. Katanya dia punya tugas yang sangat penting, tidak dapat ditunda. Alhasil Kibum kembali pada Luo.

"Ayolah, bantu aku menemukan penculik itu!", pinta Kibum. Dia merasa bersalah karena hilangnya Eunhyuk saat namja itu bersamanya. Kalau keluarga Kyuhyun tahu, dia pasti disalahkan. "Heh, kau yang disana!", tuding Kibum pada seorang polisi yang sedang menyeruput kopinya. "Carikan nama pemilik mobil Audi warna putih dengan nomor DO 464 AE!", perintahnya.

"Untuk apa?", tanyanya setelah meletakkan cangkir kopi dan beralih mengigit roti.

"Dia menculik Eunhyuk!"

"Siapa Eunhyuk?", tanyanya lagi setelah menelan rotinya.

"Jangan banyak tanya, cari saja!", bentak Kibum.

Petugas itu mendesis. Dia segera mengalihkan pandang langsung menuju komputer. Petugas itu menunduk dan berkutat dengan keyboardnya.

"Siapa Eunhyuk?", tanya Luo meneruskan pertanyaan polisi tadi.

"Dia sepupunya Kyuhyun"

Luo meninggalkan komiknya, lalu fokus pada Kibum. "Sepupunya Kyuhyun diculik?" Apa mungkin ini masih masalah yang sama dengan yang dihadapi Kyuhyun? Gagal membunuh Kyuhyun lalu beralih pada sepupunya? Luo jadi penasaran. "Kenapa kau tak bilang dari tadi kalau Eunhyuk itu sepupunya Kyuhyun!"

"Kukira kau sudah tahu. Bukannya dia sudah kesini sebelumnya?"

"Hah, kau kira aku bisa mengingat seluruh nama orang Korea yang datang kemari?", tegur Luo. "Kalau dia benar-benar diculik, ini pasti ada hubungan dengan gagalnya pembunuhan terhadap Kyuhyun"

Mendengar pembicaraan barusan, semua petugas yang ada di kantor segera bersiap. Siapa tahu jasanya digunakan.

Kibum menceritakan lagi kronologi kejadian penculikan itu. Semua mendengarkan dengan seksama. Satu sama lain segera menimpali dengan kemungkinan kemungkinan yang terjadi, hingga yeoja yang kemarin ikut Kibum ke Busan mengeluarkan sebuah pertanyaan padanya.

"Kau bilang kalian sedang berada di depan restoran saat penculikan itu terjadi?" Kibum mengangguk cepat. "Kau berselingkuh denganya?"

Kibum langsung gelagapan. Semua orang menghentikan pekerjaannya demi mengalihkan mata pada Kibum. Dia jadi terintimidasi. Kibum tidak berselingkuh dengan Eunhyuk, kejadian tadi baru dalam tahap pendekatan.

"Tidak!", jawab Kibum yakin. Amat yakin. "Dia baru menjenguk Kyuhyun dan mobilnya mogok. Sekalian menawarinya tumpangan, aku mengajaknya makan siang", terangnya.

"Kyuhyun tahu kau mengajaknya makan siang?"

Kibum menggeleng. "Mereka sepupuan, kalau aku beramah tamah dengan sepupu Kyuhyun itu sudah wajar"

"Wajar darimananya?", marah yeoja pendukung hubungan Kibum dengan Kyuhyun itu. "Kau sedang ada di perumahan itu, lalu mobil Eunhyuk mogok di daerah yang sama. Tidak mungkin kalau hal itu tidak kalian rencanakan. Apalagi hari ini kau bilang belum menemui Kyuhyun, tapi sudah mengajak namja lain makan siang"

"Itu cuma ajakan makan biasa. Aku tidak ada hubungan apapun dengannya", bantah Kibum.

"Aku tahu isi otakmu, Kibum"

"Iya, iya terserah kau. Yang penting aku tidak selingkuh"

"Kau tidak selingkuh, tapi akan selingkuh", tambah si yeoja tak mau kalah.

"Sudah jangan bahas ini lagi. Sekarang ini menemukan Eunhyuk lebih penting. Terlambat sedikit dia bisa dibunuh", kata Kibum khawatir.

Luo gusar tadinya, ingin sekali meninju Kibum yang jelas-jelas menyelingkuhi Kyuhyun. Kemudian keinginannya tertunda ketika dia sadar kalau temannya selingkuh, jalan menggantikan posisi Kibum akan lebih mudah. Luo menarik sebelah sudut bibirnya kemudian.

"Aku bisa membantumu, tapi dengan satu syarat"

"Aku tahu apa syaratnya. Aku tidak akan melakukannya!"

"Ya sudah, cari saja selingkuhanmu itu sendiri" Kibum menggebrak meja Luo, namun si empunya masih anteng menanggapinya. "Aku tak tega melihat Kyuhyun kau selingkuhi, lebih baik kau serahkan dia padaku. Akan kurawat dia dengan baik"

"Aku tidak selingkuh!", bantah Kibum keras. "Kau tak mau membantu, aku cari sendiri. Semoga Letnan Kim dengar kelakuanmu ini!" Bukannya merasa terancam, Luo malah menggendikka bahunya. "Kalian juga tak mau membantuku?", tanya Kibum beralih ke petugas-petugas lain.

"Kami bantu, tapi soal selingkuh…"

Kibum memotong perkataan itu dengan mengumpat pada semua orang yang ada di ruang kantor. Dia sudah tegaskan kalau tidak ada perselingkuhan antaranya dengan Eunhyuk, masih saja teman-temannya tak percaya. Kibum benar-benar tak bisa melihat penculikan Eunhyuk diabaikan. Eunhyuk bisa kehilangan nyawa nantinya.

"Kibum, Kibum!", panggil seorang petugas sebelum Kibum beranjak. "Nama pemilik mobil itu, Lee Donghae. Dia manager pemasaran di perusahaan penjual barang elektronik. Di pusat dagang elektronik Naam" Perusaahan penjualan merangkap distributor terbesar di bidang elektronik. Nampaknya masalah Kyuhyun berhubungan dengan orang-orang berkelas. Perusahaan-perusahaan besar dan tentu orang-orang pintar. "Aku dapat nomor teleponnya"

Kibum segera berlari ke mejanya sendiri. Dia mengambil telepon, lalu mendial nomor-nomor yang dibacakan si petugas. Menunggu beberapa detik, lalu telepon itu diangkat.

"Apa benar ini Lee Donghae, menager pemasaran Naam Elektronik?" Kibum tampaknya mendapat pembenaran dari sebarang. "Saya Joshua Luo, Detektif kepolisian, ingin menanyakan beberapa hal kepada Anda. Apa Anda sedang sibuk sekarang?" Luo memelotot, karena dengan kurang ajar Kibum telah menggunakan namanya tanpa ijin.

"Kalau ingin bertemu denganku sekarang, tidak bisa. Aku sedang makan siang dengan kekasihku. Kalau nanti sore, aku akan sediakan waktu", jawab Donghae. "Maaf Detektif Luo, apa ada masalah serius berkaitan denganku?", tanyanya khawatir.

"Iya, sedikit serius, tapi belum tentu berkaitan dengan Anda" Kibum hampir yakin, dari nada bicaranya, manager pemasaran itu tak tahu menahu soal kejadian penculikan. Mungkin saja, mobil Donghae dicuri seperti milik Changmin waktu itu lalu digunakan untuk kejahatan. "Saya bisa menemui Anda nanti, tapi boleh saya bertanya sesuatu sekarang?"

"Bila benar-benar mendesak, tentu saja boleh"

"Apa Anda kehilangan mobil?", tanya Kibum to the point.

"Mobil?", Donghae terdengar bingung. "Tidak aku sedang menggukan mobilku barusan"

"Ada kasus penculikan yang kemungkinan pelakunya menggunakan mobil Anda saat melakukan aksinya"

"Benarkah?" Donghae sedikit khawatir. Dia meminta ijin untuk menengok mobilnya di luar restoran, namun masih menemukan mobil itu di tempat yang sama. "Mobilku masih di tempat sama, Detektif"

"Mobil Anda merek Audi warna putih dengan nomor polisi DO 464 AE?"

"Benar, itu mobilku" Disebelahnya seseorang menanyakan ada apa pada Donghae. Walau cuma lewat telepon dan terdengar lamat-lamat, Kibum seperti kenal dengan suara itu, tapi dia tak yakin. "Tidak tahu, Hyuk. Polisi mengatakan mobilku digunakan untuk menculik orang", jawab Donghae pada seseorang itu.

"Anda dengan siapa sekarang?"

"Kekasihku. Sedang makan siang", jawab Donghae ragu-ragu. "Kalau memang ini sangat mendesak, aku bisa ke kantor polisi sekarang!"

"Tidak perlu Tuan Lee. Kemungkinan ada yang membuat duplikan plat mobil Anda. Kami akan mencari tahu lebih lanjut. Kalau perlu keterangan dari Anda, kami akan menghubungi lagi"

"Tentu, Detektif. Aku akan sangat senang kalau bisa membantu"

"Terima kasih!"

Kibum menutup teleponnya. Hampir membanting gagangan itu dengan kasar, namun urung saat hampir semua orang memandang padanya. Perasaannya langsung tidak enak. Dia barusan dengar Lee Donghae menyebutkan panggilan Hyuk pada kekasihnya. Apa Hyuk itu berarti Eunhyuk, atau Hyuk-Hyuk yang lain? Kalau benar Eunhyuk adalah kekasih Donghae, berarti penculikan tadi hanya salah paham biasa?

"Bagaimana?"

"Belum jelas", jawab Kibum ambigu. "Aku akan mengurusi ini sendiri. Ini tidak begitu pelik seperti kasus Kyuhyun"

"Kau tidak mau perselingkuhanmu terbongkar kan?", tebak si yeoja.

"Aku tidak selingkuh", bantah Kibum lagi sambil mengambil langkah cepat meninggalkan kantor.

Champagne

"Ada apa denganmu?", tanya Kyuhyun sambil menerima kupasan jeruk dari Leeteuk. Dia bukan bertanya pada temannya, tapi bertanya pada Kibum yang duduk lemas di sofa. Dari tadi dia datang sampai saat ini, kekasihnya itu belum berkata apapun selain salam sapa saat datang. "Kibum, aku bertanya padamu?"

"Tidak apa-apa", jawabnya malas.

"Kau ada masalah di kantor?", tanya Leeteuk ikut-ikutan.

"Tidak. Aku hanya sedikit lelah"

Doble lelah menurut Kibum. Lelah karena orang tua Ren tiba-tiba memutuskan hubungannya dengan putra mereka. Lelah juga karena Eunhyuk ternyata sudah punya kekasih. Padahal belum sampai sebulan semenjak kejadian Eunhyuk datang pertama kali langsung nangkring di atas tubuhnya malam itu, sekarang dia sudah punya kekasih. Pantas saja siang tadi tak begitu tertarik dengan tawaran pacaran darinya. Ternyata Kibum kalah cepat dengan namja sialan bernama Donghae itu.

Setelah menyadari telepon Eunhyuk yang masih aktif, Kibum mendapat kabar dari sepupu Kyuhyun itu. Eunhyuk mengatakan kalau sedang makan siang dengan temannya. Dia minta maaf karena pergi tanpa pamit. Ketika Kibum sok ingin tahu teman Eunhyuk, namja berjuluk penggoda itu menyebutkan nama Donghae. Lalu menjelaskan kalau Donghae adalah pemilik apartemen yang waktu itu ditinggali Eunhyuk. Dia bahkan menjanjikan akan mengenalkan Donghae pada Kibum nantinya.

Eunhyuk memang penggoda sialan bagi Kibum, setelah Donghae menyebutnya kekasih, Eunhyuk bilang teman. Kibum menggalau lagi, ketika namja di ujung teleponnya bilang akan menginap di apartemen Donghae.

Dalam sehari sial berkali-kali lipat diterima Kibum. Diputuskan paksa dengan Ren, di tinggal kencan oleh Eunhyuk dan sebentar lagi pasti Kyuhyun mendepaknya dengan 2 juta dolar.

"Lebih baik kau pulang dan istirahat", saran Leeteuk. "Aku bisa menjaga Kyuhyun disini"

"Tidak, Hyung. Dia detektif, lelah itu sudah jadi makanannya sehari-hari. Jadi tidak ada alasan untuknya istirahat. Tugasnya masih sama, menjagaiku 24 jam", kata Kyuhyun sadis hampir terdengar seperti diktator. "Dia baru datang, kemana saja sepanjang pagi sampai siang ini?"

Leeteuk meringis kasihan pada Kibum, namun membenarkan ucapan Kyuhyun.

"Aku ke kantor menanyakan penyelidikan kasusmu" Kyuhyun mendecih tapi diam-diam tertarik pembicaraan itu. Leeteuk juga. "Orang-orang yang menabrakmu dan menganiaya Changmin sudah mengaku. Yang kemarin mendatangi kalian di apartemen itu juga dipenjarakan, tapi mereka masih tutup mulut kalau ditanya nama bos-nya"

"Apa ini akan memakan waktu yang lama? Maksudku untuk mengorek keterangan dari mereka itu"

"Tergantung", jawab Kibum mulai menegakkan badan. Dia bersemangat kalau membahas tindak kejahatan. "Polisi punya banyak cara untuk membuat mereka bicara. Kalau mereka tetap tak mau membagi informasi, kita yang akan mencarinya sendiri"

"Aku tahu polisi sehebat itu", puji Leeteuk. "Ini belum ada sebulan dan kalian sudah menangkap penjahatnya"

"Belum. Belum semuanya"

"Iya, bosnya saja. Setelah mereka semua tertangkap, kau akan sebebas dulu, Kyu", kata Leeteuk senang. Dia, Kyuhyun dan Siwon bisa leluasa berbisnis lagi. "Aku jadi tidak sabar. Siapa orang yang ingin sekali membunuhmu itu?"

Kyuhyun merampas paksa jeruk di tangan Leeteuk. Harusnya dia dapat asupan buah itu, tapi Leeteuk lebih fokus dengan kasus yang dibawa Kibum. Kyuhyun memang tertarik, tapi tidak harus sebahagia temannya. Dia yang jadi korban disini, haruskah dia bahagia? Walau sudah dua kali beruntung tidak mati di tangan penjahat, bukan berarti dia bisa beruntung lagi untuk berikutnya.

"Kibum, aku perlu berterima kasih padamu juga pada semua temanmu. Karena ada kalian, aku jadi lega dengan keselamatan Kyuhyun"

"Buat apa kau berterima kasih padanya, Hyung? Kasusnya belum selesai. Lagipula itu memang tugas mereka" Leeteuk menoel lengan Kyuhyun. Menegurnya, karena tak baik bicara begitu pada Detektif yang telah menyelamatkannya. "Kan sudah kuberitahu, karena Kibum lengah aku diculik dan hampir dibunuh" Pintarnya Kyuhyun, dia tak bercerita soal penculikannya dilakukan oleh Changmin, sahabatnya sendiri. Dan untuk penjahat-penjahat yang datang, itu salahnya Kibum. Kibum kurang sigap, harusnya sebagai kekasih dia datang lebih cepat.

Kibum jadi malas untuk kembali bercerita. Dia punya kekasih rasanya seperti musuh.

"Kibum, jangan ambil hati omongannya", kata Leeteuk sambil tertawa canggung.

"Terima kasih telah diingatkan"

"Oh, karena kau sudah ada disini, aku harus kembali ke kantor. Ada yang perlu kuurus" Leeteuk memindahkan keranjang jeruk dari pangkuannya ke meja. Dia segera berdiri, menepuk-nepuk celananya agar sisa kulit jeruk yang menempel jatuh ke lantai. "Nanti malam aku akan datang lagi. Kau tak usah beli makanan diluar. Nanti kubawakan!"

Leeteuk menunduk pada Kyuhyun, hampir seperti mencium pipi temannya, namun ternyata dia mendekatkan bibir ke telinga Kyuhyun. Leeteuk membisikkan sesuatu yang membuat Kyuhyun mengangguk-angguk. Belum selesai berbisik, Kyuhyun mengernyit lalu mendorong Leeteuk menjauh. Nampaknya dia tidak suka dengan apa yang dibisikkan Leeteuk padanya.

"Cepat pulang sana!" usir Kyuhyun. "Jangan macam-macam denganku, Hyung!", ancamnya entah karena masalah apa.

"Perlu kuberitahu Siwon kalau kau ada disini? Dia cemas sekali tak mmendengar kabarmu hampir seminggu" Bagaimanapun Leeteuk tetap menganggap bahwa berpacaran dengan Kibum adalah caranya Kyuhyun mencari perlindungan. Tentang benar-tidaknya mereka pacaran, Leeteuk tak mau Siwon tahu. Karena dia lebih setuju kalau Kyuhyun dengan Siwon, bukan dengan orang lain.

"Tak perlu. Aku temui dia kalau sudah keluar dari sini"

"Baiklah, Aku pergi sekarang"

Leeteuk segera mengambil kunci mobil yang dia tinggalkan di meja. Dia berpamitan pada Kibum dan bergegas pergi keluar ruangan.

"Aku akan minta ijin dokter untuk pulang lebih cepat!", ujar Kyuhyun bersamaan Kibum beralih ke bekas tempat duduk Leeteuk. "Setelah kakiku patah sekarang bahuku. Kalau rawat jalan di rumah aku bisa sembuh lebih cepat"

Sebelum duduk, Kibum menundukkan wajahnya pada Kyuhyun. Bukan mau berbisik seperti yang dilakukan Leeteuk, tapi untuk berbagi ciuman. Ciuman basah yang harus mereka lakukan sehari sekali. Tiba-tiba saja hal seperti itu tertulis di perjanjian tak kasat mata mereka. Ciuman sehari sekali. Ciuman biasa kalau ada orang lain dan ciuman basah kalau mereka sedang berdua. Sementara itu, kalau waktu pacaran mereka masih panjang, daftar perjanjian akan bertambah. Pelukan mungkin, atau seks sebulan sekali. Seminggu sekali lebih bagus.

"Kau tak punya rumah lagi, masih ingat?" Selesai ciuman lalu duduk di kuris Leetuk.

"Numpang di rumahmu. Memang apa gunanya kekasih kalau tak boleh di tumpangi tinggal?" Kibum mendecih mendapati kelicikan kekasihnya. "Aku keluar uang 2 juta dolar, kau pikir cuma untuk menyewa tubuhmu? Berlaku juga untuk semua aset yang kau punya, kecuali kekasihmu"

"Kau sudah membayar dengan uang lain", terang Kibum tak lupa 250.000 ribu untuk Ren. Masalahnya uang itu masih dikantonginya. Tidak mungkin dia mengambilnya sendiri, itu maruk namanya. "Aku perlu menemui kekasihku lalu menyerahkan uang itu padanya"

"Kapan?"

"Besok kalau bisa" Berbohong sedikit. "Kebetulan aku juga merindukannya. Biasanya aku tak tega meninggalkannya kalau dia pasang muka memelas. Dia itu manis sekali" Kibum berlagak masih memiliki Ren. Biar saja, menyenangkan diri sendiri walau kenyataannya lain.

Bibir Kyuhyun berkedut, sebelah bawah mata kanannya juga. Hal seperti itu terjadi kalau dia merasakan tidak enak hati. Seperti gagal transaksi atau kehilangan klien. Mendengar Kibum membicarakan kekasihnya, hatinya tidak enak ternyata.

"Temui dia secepatnya lalu kembali kemari", perintah Kyuhyun. "Jangan coba-coba menginap di rumahnya selagi kau punya tanggungan melindungiku!"

"Khusus besok malam aku ijin pulang telat. Aku akan berangkat sore dan pulang agak malam", ucap Kibum sambil mengambil jeruk yang tadi ditinggalkan Leeteuk. "Kau tak tahu rasanya merindukan orang. Setelah beberapa minggu tak ketemu, tidak mungkin aku cuma menemuinya, menyerahkan cek darimu lalu pergi begitu saja. Aku merindukan hal lain juga" Kibum mengupas jeruknya, asal bersih lalu membelahnya dan memasukkan potongan besar dalam mulutnya.

"Kau bilang merindukanku saat kemarin aku diculik", kata Kyuhyun gusar, marah. Dia juga pernah merasakan rindu. Disaat yang sama ketiks dia diculik Cahngmin.

"Kau sudah ketemu, jadi tidak rindu lagi"

"Oh, jadi kau berharap aku diculik dulu sampai berhari-hari baru kau akan merindukanku"

Kibum memuntahkan isi jeruk ke telapak tangannya lalu melemparkannya dalam keranjang. Mulutnya disumpal dengan potongan jeruk yang baru. "Bukan begitu. Aku rindu hal lain yang kau tak bisa mengobati rinduku untuk saat ini" Kibum mengisyaratkan kalau dia rindu tidur dengan Kyuhyun. Eh, maksudnya rindu tidur dengan kekasihnya, dan Kibum dengan kata-katanya memberikan makna kalau kekasih satunya yang bisa melakukan itu. "Kau sakit, bergerakpun susah, bagaimana kau memuaskanku"

Kyuhyun mengernyit jijik, tapi tak memungkiri kalau dia memang tak sanggup melakukan itu sekarang. Dia benar-benar sakit, untuk ditambahkan sakit dari Kibum, Kyuhyun tak siap.

"Lagipula, kalaupun kau bisa palingan cuma sekali", ejek Kibum sambil memakan sisa jeruknya. "Tunggu kau sembuh dulu, biar bisa maksimal"

Mulut Kibum penuh, makan sambil bicara membuat sebagian air jerus merembes keluar mulut. Kibum menarik selimut Kyuhyun dan menyeka mulutnya. Kyuhyun tersentak menarik balik selimutnya dan kembali memasang muka jijik.

"Kau jorok sekali!"

Terkadang begitulah kelakuan detektif. Tidak hanya Kibum, detektif lainpun sama.

"Letnan Kim tadi kesini dan bilang akan menemuiku lagi besok. Kau mau ke rumah kekasihmu itu, ha?" Kibum mengernyit. Pantas ketika dia ke kantor tadi siang, atasannya itu tidak ada di ruangannya. "Letnan bilang Jenderal besar negara akan datang kesini juga", katanya sok menjadi orang penting.

"Jendral Kang mau kesini?", tanya Kibum kaget. Sebegitu hebatkah pengaruh Kyuhyun dan keluarganya? Jendral Kang pasti diutus langsung oleh Presiden. "Ya, kan aku perginya sore hari. Jendral dan semuanya pasti sudah pulang"

"Mereka akan datang sore hari", jawab Kyuhyun. "Kalau kau mau dipecat, silakan menginap di rumah kekasihmu"

"Tidak jadi. Aku kesana lain kali saja", ralat Kibum. Toh dia memang tak mungkin ke rumah Ren lagi. Ini namanya kebohongan yang hampir jadi petaka. "Aku bisa menitipkan cek-nya pada tetangganya. Tetangganya itu temanku", terang Kibum pada pertanyaan yang tak pernah ditanyakan padanya. "Kau mau jeruk, kukupaskan!", tawar Kibum berubah baik setelah ancaman pemecatan tadi.

"Tidak!"

Whisky

Hampir semua petugas berkumpul di kantor hari ini, tak terkecuali Kibum. Mereka berdiri dan hormat ketika rombongnan Kapten Kim memasuki kantor. Katanya hari Jenderal Kang yang datang, utusan langsung dari Presiden, tapi nyatanya Kapten Kim beserta dua anak buahnya yang kesini.

"Mana Letnan kalian?", tanya Kapten pada salah seorang polisi.

"Siap Kapten, Letnan ada di dalam!", jawabnya keras, tegas dan tegak bagai tentara.

"Kau tak perlu bersikap kaku seperti ini", kata Kapten Kim sambil menepuk lengan si polisi. "Santai saja!", katanya sambil berlalu masuk ke ruang lebih dalam.

Kapten beserta dua anak buahnya melewati satu demi satu petugas kantor di devisi ini. Devisi yang dipimpin satu anak buahnya, Letnan Kim. Letnan Kim itu lebih tua beberapa tahun dari Kapten sendiri, tapi mereka berteman cukup akrab. Apalagi sebagai atasan yang lebih muda, Kapten tak membedakan dengan siapa dia harus berteman. Maka dari itu bekerja di bawah naungannya lebih nyaman dari pada di bawah Kapten-Kapten lainnya.

Letnan Kim hormat pada Kapten Kim, setelah dapat balasan mereka bersalaman lalu tertawa bersama sambil mempersilakan beliau duduk.

"Kupikir devisi ini benar-benar akan dibekukan. Aku sudah merasa jantungku mau meledak, untung kau yang datang"

"Memangnya ada apa dengan devisi yang kau pimpin ini?", tanya Kapten sambil menyamankan diri di kursi. "Ada masalah dengan anak buahmu?"

"Justru masalah datang dari pemberitahuan Jenderal Kang yang akan datang hari ini. Kau kan tahu sendiri siapa Jenderal Kang. Selain pimpinan perang nomor satu di Korea, beliau juga tangan kanan Presiden. Aku takut kesalahan kecil disini bisa membuat devisiku dibekukan"

Kapten tertawa. Makhlum kalau bawahan sekaligus temannya itu takut dengan sang Jenderal. Semua polisi juga tentara pasti tunduk pada Jenderal Kang mengingat posisinya yang sangat tinggi, mereka yang tak kenal baik dengan beliau pasti menganggap Jenderal adalah sosok menakutkan. Dulu Kapten Kim juga sama takutnya, namun setelah lebih dekat, mengenal baik sang Jenderal, persepsi itu luntur dengan sendirinya. Jenderal Kim itu orangnya memang tegas, tapi tidak terkesan kejam sama sekali.

"Kibum", panggilnya ketika melihat detektif asuhannya itu lewat. "Ambilkan minum untuk Kapten Kim"

Kibum menoleh kanan-kiri, lalu menunjuk mukannya sendiri.

"Iya, kau. Pergi ke pantry dan ambil minum untuk Kapten Kim!", perintahnya lagi.

"Tak perlu repot-repot"

"Tidak repot. Anak buahku orangnya rajin semua. Mereka baik dan loyal terhadap sesama. Jiwa persaudaraan mereka tinggi, makanya sering membantu satu sama lain", terang Letnan sambil tertawa tawa. "Sekalian kau ambilkan air untukku juga. Minumku sudah habis!", katanya beralih pada Kibum.

Kalau Letnan Kim tadi tidak bohong soal kebaikan anak buahnya, Kibum sudah pasti menolak. Anak buah Letnan Kim tidak ada yang benar-benar baik, kalau ada kasus saja mereka kompak selebihnya masa bodoh dengan satu sama lain. Setelah ini Kibum serta semua polisi akan ingat, jangan lewat depan ruangan Letnan kalau ada tamu penting datang, bisa-bisa jadi OB mendadak seperti Kibum sekarang ini.

Kibum mendecih samar, lalu melenggang malas ke arah dapur kantor.

"Mana Josh, aku tidak melihat dia di luar?"

"Mungkin sedang ada pekerjaan. Sebentar lagi dia juga akan datang"

"Bagaimana kerjanya, mengecewakan atau tidak?"

"Dia mulai berubah. Waktunya banyak didedikasikan untuk pekerjaan", tutur Letnan Kim. Iyalah, tidak mungkin Letnan menjelekkan kelakuan Luo sedangkan detetif itu sekarang berada di bawah asuhannya.

"Oh begitu ya" Kapten Kim mengangguk-angguk. "Kadang-kadang aku merasa khawatir padanya. Mau jadi apa kalau kelakuannya tetap seperti itu, tapi baguslah kalau dia sudah mulai berubah"

Kim Kangin atau lebih dikenal dengan Kapten Kim, dia duda beranak satu. Umurnya masuk 46 tahun, dua bulan lagi. Beliau sangat dekat dengan Luo. Yang mengadopsi Luo, membesarkannya dan mengajarinya menjadi polisi. Suatu hari dia dikenalkan dengan dunia kriminal yang lebih ahli. Luo direkrut sebagai tim khusus, jadi snipper dengan berbagai keahlian tapi akhirnya turun pangkat jadi detektif polisi. Awalnya Luo menyesal dan merasa bersalah pada Kapten Kim yang telah memberinya banyak pengajaran namun tetap kalah dengan nafsunya, namun Kapten memaafkannya. Setelah dimaafkan bukan dia tambah baik, tapi kebiasaan susah menahan godaan wanita itu makin menjadi. Sekarang apa kata Luo saja, Kapten Kim sudah menyerah.

"Jadi bagaimana dengan Cho muda itu?", tanya Kapten mulai masuk ke niat kedatangannya kesini.

"Kausunya sudah terbuka, hanya saja mereka belum menyebut nama dalangnya"

"Oh!", seru Kapten. "Sebenarnya selain mewakili Jenderal Kang, aku punya hal yang ingin kusampaikan pada kalian. Ini mengenai silsilah keluarga Cho"

Kibum datang dengan dua gelas air putih, masih-masih di sebelah tangan kanan dan kirinya. Letnan Kim memprotes cara Kibum membawanya. Tidak sopan, harusnya Kibum membawa nampan. Tapi peduli amat, Kibum bukan OB. Lagipula kalau membawa nampan tidak jamin airnya tidak tumpah kalau Kibum yang membawanya. Sekali lagi, Kibum bukan OB.

Kibum tak berpindah jauh, dia berdiri di samping dua anak buah Kapten Kim yang tak bersuara sejak tadi.

"Beberapa dekade lalu moyang Cho itu memiliki tanah yang begitu luas. Beberapa diantaranya di wilayah Yeonggwang, Kori, Wolseong dan Uljin. Kau tahu di empat wilayah itu sekarang digunakan untuk apa?" Letnan Kim tidak mau menebak. "Reaktor nuklir" Letnan terkejut, jadi penasaran, begitu juga Kibum. "18 reaktor nuklir negara kita ada di tanah keluarga Cho. Wilayah-wilayah itu memiliki uranium melimpah, hingga pemerintah bisa mendirikan reaktor nuklir disana. Sebagai pembangkit listrik, untuk diekspor ke negara lain, juga untuk pertahanan negara. Dalam hal ini untuk pembuatan bom nuklir. Dari sinilah 10% lebih pendapatan negara di dapat" Kapten menghentikan penjelasannya. Dia meneguk air yang dibawakan Kibum lalu kembali bercerita. "Pemerintah bukan tak mau membeli tanah-tanah itu, atau melakukan bagi hasil, tapi keluarga Cho sendiri yang menolak. Mereka menyerahkan hasil itu pada pemerintah, dengan tidak menjual tanah mereka tapi juga tidak meminta sepeserpun hasilnya. Saat pemerintah memaksa memberikan sebagian hasil olah nuklirnya, Moyang Cho malah mengalokasikannya untuk mensubsidi masyarakat. Maka dari itu listrik serta hal yang berbau nuklir di negara kita murah"

Pendengar di ruangan Letnan Kim bertambah beberapa orang. Ada Luo dan Max, lalu Chang serta beberapa staff. Mereka kagum, bangga dengan Moyang Cho yang baik itu. Berpindah pada Kibum, begitu beruntungnya dia telah memacari salah satu keturunan Cho.

"Lalu keluarga itu terpecah, Cho yang sebagian bermukim di luar negeri dan Cho yang di dalam negeri. Moyang Cho dulu punya dua anak. Semua tanah yang dimiliki keluarga di berikan kepada anak pertama, Cho luar negeri. Lalu semua harta benda dan aset perusahaan diberikan pada anak kedua, Cho dalam negeri. Dihitung sama rata. Anak pertama masih memegang tatanan sama untuk mendonasikan keuntungan nuklir pada masyarakat Korea sampai sekarang. Tapi antara dua Cho itu memiliki perjanjian. Bahwa bila semua keturunan Cho pertama keluar dari Korea, semua tanah beserta isinya jatuh ke keturunan Cho kedua"

"Apa sebelum itu Cho pertama memang sudah banyak yang berpindah ke luar negeri?" Ada hal jangan. Kenapa tiba-tiba para Cho mengubah kewarganegaraan mereka?

Kapten Kim menggeleng. "Mereka keluar karena sering mendapat teror dari orang-orang tak dikenal. Pemerintah sudah menduga itu kelompok Cho lain, tapi keluarga Cho pemegang tanah tak mau menuduh apalagi melaporkan saudara mereka sendiri. Dan keadaan itu berlaku sampai sekarang"

"Oh!", Letnan Kim sampai takjub. "Jadi Kyuhyun itu Cho terakhir dari keturunan anak pertama yang masih menetap disini?" Kapten mengangguk. "Pantas pemerintah sangat peduli padanya"

"Kekhawatiran pemerintah sudah sampai puncak ketika mendengar percobaan pembunuhan terhadapnya. Dia mati dan seluruh kekayaan berpindah tangan pada Cho lain. Pemerintah pasti akan rugi besar kalau sampai tanah tanah itu diambil paksa"

Tentunya seluruh garis keturunan Cho tahu soal perjanjian itu. Ini ada hubungannya juga dengan Kian Farma. Mereka Cho terkuat dari keturunan kedua, setelah ayah mereka yang lembek itu mati, anak-anaknya pasti berfikir untuk merebut harta Cho dari pihak lainnya. Menakut nakuti Kyuhyun adalah jalannya. Toh keluarga Kyuhyun lebih sayang nyawa keluarga, mereka akan terus menyuruh Kyuhyun keluar Korea dari pada dibunuh di negara sendiri. Tipe-tipe keluarga yang mementingkan kebersamaan.

Kapten Kim menjatuhkan dokumen tebal ke meja Letnan Kim. "Itu adalah arsip negara. Silsilah keluarga Cho beserta semua kejadian dimasa lalu sampai masa sekarang ditulis disitu"

Kalau begitu, cara apa yang bisa mereka gunakan untuk menyelamatkan negara sekaligus menyelamatkan Cho Kyuhyun? Mencuri surat perjanjian konyol itu dan meleburkannya kah?

"Tidak mungkin menghancurkan perjanjian mereka. Tidak mungkin juga memenjarakan semua Cho yang tinggal di Korea tanpa bukti", kata Kapten Kim.

"Lalu apa yang harus kita perbuat?"

"Hal pertama, berikan kenyamanan tinggal pada setiap Cho dari keturunan anak pertama. Memberikan rasa aman pada mereka, membujuk agar mau kembali ke Korea. Biarkan mereka beranak-pinak di negara sendiri"

Letnan Kim menyengir garing. Membiarkan Cho beranak pinak maksudnya apa? Kalau soal keamanan, polisi bisa usahakan, tapi soal membujuk mereka kembali ke Korea itu tugas pemerintah. Kembali soal anak pinak tadi, berarti Kyuhyun tak sepatutnya berkencan dengan anak buahnya.

"Jadi Kibum tak bisa pacaran dengan Kyuhyun?" Letnan Kim menunjuk kasihan pada anak buahnya itu. "Mereka tak bisa menghasilkan keturunan"

Kapten beralih pandang pada Kibum. "Dia kekasih Kyuhyun? Todak masalah selama keturunan Cho itu banyak. Yang terpenting membuat mereka nyaman di Korea. Kau tak ada niat akan berpisah dengannya dalam waktu dekat?"

Kibum tak bisa menjawab selain menggeleng lalu mengangguk.

"Kalau bisa jangan. Buat dia tergantung padamu dan memutuskan terus tinggal disini"

Bisa jadi alasan bagus untuk tetap bersama Kyuhyun, maka dari itu Kibum mengangguk. Masalahnya, apa Kyuhyun mau terus bersamanya?

"Hal berikutnya, kalau ada masalah seperti ini lagi, tangkap penjahatnya. Cari bukti agar dalangnya juga bisa dipenjarakan"

Sudah jelas seperti itu intruksi dari atasannya Letnan Kim. Mereka harus siaga akan apapun yang terjadi. Selain melindungi rakyat dari tindak kejahatan, memecahkan kasus dan memenjarakan tersangka, mereka juga punya tugas menjagai Kyuhyun juga keluarganya kalau berada di Korea.

Beer

"Hyung… Leeteuk Hyung!", panggil Kyuhyun untuk ketiga kalinya.

Leeteuk masih memandang ke pintu keluar ruang rawat Kyuhyun. Sejak Letnan Kim beserta rombongannya keluar beberapa menit yang lalu. Leeteuk seperti dejavu melihat salah satu orang di rombongan tadi.

Kyuhyun menoel Leeteuk sampai temannya itu terkejut, gelagapan dan salah tingkah.

"Kau ini kenapa Hyung?"

"Aku sepertinya pernah lihat orang besar tadi"

"Letnan Kim? Beliau sudah pernah menemui kita di rumah sakit, Hyung!"

"Bukan-bukan. Yang besar satu lagi" Leeteuk beralih pada Kibum. "Siapa orang itu?"

"Kapten Kim", jawab Kibum tak tahu menahu.

"Kapten Kim ya? Dia mirip dengan tetanggaku dulu. Dia berteman dengan appa-ku walau usia mereka terpaut cukup jauh. Kim siapa ya, aku sedikit lupa" Leeteuk melihat Kibum bingung sendiri terhadap keterangannya. "Kim Yoongwon kan? Iya itu namanya". Leeteuk sampai tertawa bertepuk tangan bangga pada diri sendiri.

"Kim Kangin namanya"

Teman Kyuhyun itu jadi lesu kembali, tebakannya salah. "Jadi bukan ya?"

"Kalau kau penasaran, temui dia agar lebih jelas. Kibum pasti tahu alamat rumahnya"

"Tidak", jawab Kibum. "Tapi aku tahu alamat kantornya"

"Kalian ini, aku cuma ingat tetanggaku. Kalau bukan, ya sudah" Leeteuk tampak kecewa tapi dia menutupinya. "Badanku capek sekali. Aku pulang sekarang, mau istirahat!", pamitnya langsung melenggang sebelum diiyai Kibum dan Kyuhyun.

"Dia jatuh cinta!", celetuh Kyuhyun.

"Pada Kapten Kim?" Kibum bergidik. "Kapten itu duda beranak satu, dua dengan Luo. Sebentar lagi putrinya menikah dan pasti akan punya anak. Masa Leeteuk hyung suka dengan calon kakek-kakek sepertinya?"

"Cinta itu tak pandang usia"

"Lagi pula Leeteuk hyung tak seperti kau yang suka sesama jenis" Kibum pasang muka jijik. Mungkin lupa diri, dia juga suka sesama jenis kan? Bahkan menjalih hubungan dengan Kyuhyun.

Kyuhyun tak mau menanggapi kekonyolan Kibum. "Tadi sepupuku menelepon" Alihnya ke topik lain.

"Eunhyuk?"

"Bukan", jawab Kyuhyun sebal. "Heechul hyung. Dia bilang pernah ditemui polisi karena kasusku. Bilang pada kawan-kawanmu, Heechul hyung tak ada hubungannya dengan semua ini"

"Kapten Kim tadi sudah jelaskan banyak hal" Kibum mengambil tempat seperti biasanya, duduk di sebelah Kyuhyun. "Jadi itu alasan kau sangat dipentingkan pihak negara? Memang sejak dulu kau keturunan orang kaya"

"Kalau negara saja berlaku baik padaku, kau juga harus melakukannya. Aku ini bukan orang sembarangan, kau tahu!"

"Aku tahu!"

"Dua hari lagi aku akan pulang. Tinggal di rumahmu selama renovasi rumahku masih berjalan"

"Kau harus bayar sewa"

"2 juta dolar masih kurang banyak?"

"Kau belum memberikan sepeserpun padaku"

"Nanti", kata Kyuhyun kesal. "Kuberi uang sewa sekalian, aku orang kaya katamu. Sewanya akan kubayar sepuluh kali lipat dari yang kau minta!", kata Kyuhyun congkak.

Tentu saja Kyuhyun sanggup melakukan apapun dengan uangnya, tapi Kibum tak mau dibayaran dengan uang. Kalau dia minta apa yang dikatakan Kapten Kim tadi, apa Kyuhyun bisa memenuhinya? Jadi kekasihnya saja seumur hidup, atau paling tidak sampai Kibum menemukan kekasih baru setara Ren dan Kyuhyun baru Kyuhyun boleh meninggalkannya.

"Nanti kuhitung biaya sewamu perbualannya"

Kibum berdiri, menundukkan kepala pada Kyuhyun dan mulai proses ciuman basah mereka. Selesai dengan ciuman, Kibum memakai jaketnya, lalu mulai berjalan menjauh.

"Kau mau kemana?"

"Cari makan malam. Aku lapar!"

Kyuhyun menaikkan bahunya sejenak lalu membiarkan Kibum pergi.

To be continue

See you next week!