"Kau bisa ke sana dulu. Aku akan ke toilet sebentar, tunggu aku jika sudah selesai."
Perempuan cantik itu mengangguk, "Cepat kembali Kurosaki-kun." Ia memasuki salah satu stand di festival parade musim panas tersebut, sebuah stand ramal.
Tema yang diambil begitu menakutkan menurutnya, di sana terlihat wanita cantik sedang duduk, kulit berwarna tan meski sedikit tertutup oleh baju yang tengah dikenakannya. Wanita itu tersenyum padanya, "Duduklah Nona. Tidak perlu takut, aku hanya akan meramalmu." Orihime tersenyum kaku.
"Terima kasih telah masuk ke aku tidak semenakutkan yang kau bayangkan, jadi santai saja. Namaku Tia Harribel, namamu Nona manis?"
"Orihime. Senang bisa berkenalan denganmu Harribel-san." wanita itu melihatnya dengan sedikit bingung.
Tia menyiapkan kartu tarot, "Pilihlah," Orihime terlihat sangat bingung melihat begitu banyak kartu di depannya, "Ha~ pilihlah yang kau suka Hime. Berpikir panjang tidak akan merubah nasibmu, yang bisa kau ubah hanya takdir Nona." Wanita berkulit tan itu tertawa.
Orihime menunjuk sebuah kartu, "Aku pilih yang ini. Semoga ini tidak terlalu buruk." Tia menampakkan sebuah ekspresi serius.
"Kau datang bersama kekasihmu?" Orihime mengangguk dengan bersemu merah, "Kau pasti sangat mencintainya." Tia menghelah nafas kasar.
"Sebelum aku mengatakan ramalannya, ingatlah ini hanya sebuah ramalan. Masa depanmu tidak ditentukan oleh ini, hanya dirimu sendiri yang menentukan masa depanmu, bukan aku atau ramalan ini. Kau mengerti Nona?" dengan wajah sedikit ragu Orihime mengangguk pelan.
Terlihat sebuah tower yang terbakar di sana karena sambaran petir, "The tower. Runtuhnya sebuah hubungan, kecemburuan bisa menyebabkan bencana. Serta ketidakmampuan membuat dirimu menjadi lebih baik, mengharuskanmu melakukannya dari awal kembali. Bukan sekarang. Tapi akan segera terjadi."
Saigo ni Yume wo Miyou
.
.
.
Saigo ni Yume wo Miyou
Disclimer : Om Tite Kubo
Author : Hanna Hoshiko
Pairing : Ichigo K. Rukia K.
Rated : T
Genre : Angst/Hurt/Comfort/Romance/Family
.
.
.
Warning!
Cerita ini hanyalah fiksi dan semua yang ada di dalamnya kecuali chara adalah asli murni ide dari author. Kesamaan alur, scene,atau apapun itu dilakukan dengan ke-tidak sengajaan oleh author
Cerita ini akan update setiap hari Rabu, jika ada keterlambatan harap menunggu karena itu berarti author sedang sibuk di RL.
Karakter tokoh disesuaikan dengan tuntutan jalan cerita, dan diusahakan sehingga tidak sampai mem-bashing chara.
.
.
.
Don't Like Don't Read
.
.
.
Mempersembahkan
Ia menghelah nafas kesal, "Ha! Dasar. Kau duduk di depan danau yang membeku. Kau ingin koma lagi?" perempuan itu menoleh sebentar padanya, tanpa ekspresi apapun.
"Pergilah. Aku sedang tidak ingin bersamamu, aku ingin sendirian." Pengusiran yang amat kasar dan gamblang.
"Rukia?! Kau berani mengusirku. Ingatanmu sudah pulih, seharusnya kau ingat aku siapa?" Rukia mengernyit tidak suka, ia hanya ingin sendirian di hari pentingnya ini.
Rukia mendecih pelan, "Pergilah. Aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu, aku juga tidak pernah menganggapmu pangeran." Ichigo terlihat semakin kesal, dengan pengusiran yang dilakukan Rukia.
Rukia memejamkan matanya, "Aku hanya tidak ingin kau sakit lagi." Asap putih menguap dari dalam mulut Rukia.
"Aku berjanji akan baik-baik saja. Kau bisa memegang itu, aku hanya ingin berdua dengan Kaa-san. ini hari yang penting untukku, aku akan selalu menghabiskan semua waktuku denganmu," ia tersenyum lepas. "Tapi hari ini aku ingin mengucapkan perpisahan pada Kaa-san."
Ichigo memandang dengan berbagai arti, "Musim dingin dan hari ulang tahunmu. Aku mengerti. yang bisa kulakukan memang menunggumu, jangan mengecewakanku Rukia." Ichigo menggenggam erat tangan Rukia.
Perempuan itu mengangguk, "Aku tidak pernah mengingkari janjiku." Akhirnya Ichigo pergi meninggalkan Rukia sendirian di sana, setidaknya ia akan mengawasi perempuan itu dari jauh.
Air matanya keluar, "Apa kata yang tepat untuk perpisahan Kaa-san?"
.
.
.
Ramalan
.
.
.
"Apa aku menganggumu?" gadis kecil yang terduduk di kursi roda itu meliriknya kemudian menggeleng pelan.
Ia tersenyum senang, "Apa yang sedang kau lakukan? Kulihat kau selalu sendirian." Lanjutnya penasaran, ini adalah sebuah panti asuhan yang sering ia kunjungi.
"Rukia-chan?" gadis manis itu meneleng padanya, ia hanya bisa mengerjap pelan.
Dengan agak sedikit ragu ia menorehkan senyum, "Kau tahu namaku?" gadis kecil itu mengangguk pelan, "Dari mana hm?" lanjutnya dengan sedikit gemas, ia hanya tahu jika gadis itu lumpuh sejak ia dilahirkan, dan ibunya tidak bisa menerimanya.
Mata hazel gadis itu melirik teman-temannya, "Mereka. Itu yang selalu aku dengar saat mereka menemuimu, bukankah aku benar?" Rukia mengangguk setuju.
"Wow, ternyata selama ini kau diam-diam menjadi penggemar rahasiaku. Aku sangat tersanjung," gadis kecil itu melirik tajam padanya. "Siapa namamu manis?"
"Aku bukan penggemarmu. Namaku Senna, senang berkenalan denganmu Rukia-chan." Rambut keungungan yang pendek itu tertiup angin musim semi pelan.
"Aku juga Senna-chan, kau tidak ingin bermain dengan teman-temanmu?" gadis kecil berumur tujuh tahun itu menggeleng pelan, "Kenapa? Aku selalu melihatmu menyendiri. Kau terlihat menyembunyikan semua beban, dibalik punggung kecilmu ini."
"Aku tidak yakin. Ibuku sudah membuangku, aku tidak ingin membuat diriku tersakiti lagi," ia melirik semua temannya, "Mereka bahkan Rukia-chan pun tidak bisa merasakan yang telah aku alami." Rukia tersenyum.
Ia menggeleng pelan, "Tidak. Mereka juga merasakannya, kalian mempunyai nasib yang tidak jauh berbeda, aku yakin kau juga mengetahui itu. akan menjadi hal lain jika kau hanya mengatakan aku saja, aku memang tidak bisa merasakannya." Gadis kecil itu tertegun sesaat.
"Aku tidak seharusnya berbicara seperti itu padamu, Rukia-chan." Rukia menggeleng pelan ia tersenyum.
Akan tetapi Senna menggeleng singkat, "Jika dilihat kita berdua sama saja. Takdir begitu menyakitkan untuk Rukia-chan terima juga bukan? Sama halnya denganku. Bagimu semua hancur saat kau mulai merasakan kebahagian," Rukia menegang sebentar, "Kejadian yang telah lalu maupun yang akan terjadi, itu sangat menyakitkan. Bahkan aku juga merasakannya sekarang, ini aneh." Setetes air mata turun dari mata hazel Senna.
"Senna. Kau barusan melihat masa depanku?" akan tetapi anak kecil itu menggeleng, "Indigo. Kau anak indigo."
"Tidak Rukia-chan. Aku bukan anak indigo atau bisa melihat masa depan dan masa lalu, aku hanya seorang anak biasa. Kau mengerti?" anak itu mencoba meyakinkannya.
Rukia menggeleng, "Tadi apa yang kau bicarakan?" ia melihat dengan tatapan memohon, Senna tertawa pelan.
"Tenanglah. Itu hanya melintas di kepalaku, aku hanya ingin kau mengetahuinya. Tidak lebih," Senna tersenyum manis padanya membuatnya ikut tersenyum. "Rukia-chan, Tidak ada yang tahu lebih dari Tuhan."
.
.
.
Ramalan
.
.
.
"Berhenti meminum itu Orihime. Apa yang sebenarnya terjadi padamu?" ia mencoba menyingkirkan semua botol-botol minuman keras tersebut.
Terlihat jelas Orihime tengah mabuk berat, "Ramalan hik! Itu benar hik! Grimmjow," Orihime mulai menangis, "Tapi hiks kenapa terasa hiks begitu cepat. Aku tidak bisa merelakannya, kenapa Pangeran tidak memilihku?!" ia berteriak dengan sekuat tenaga.
"Kau tidak akan pernah bisa memaksakan hati seseorang Hime, sama halnya kau tidak akan bisa memaksaku untuk mencintaimu." Ia melirik Orihime yang masih menangis sambil meneguk minumannya.
"Tidak ada yang hik! Menyuruhmu mencintaiku." Suara ketukan pintu membuat Grimmjow mengurungkan niatnya untuk menjawab perkataan Orihime.
Ia tersenyum melihat orang yang telah berada di depan pintu, tanpa kata Grimmjow mempersilahkannya masuk, sebuah gelengan muncul setelah melihat keadaan Orihime. Grimmjow berjalan mendekat, "Kau sudah melihatnya sendiri bukan, kau masih mau meninggalkannya?"
"Mungkin tidak." Laki-laki itu bergerak mengelus rambut panjang Orihime, dengan sebuah tatapan lembut.
"Setelah melihatmu dia pasti akan membaik," Orihime akhirnya tertidur sepenuhnya, "Akhirnya tugasku berakhir. Terima kasih." Sebuah kekehan keluar dari mulut Grimmjow.
Laki-laki itu menggeleng singkat, "Tidak. Aku yang seharusnya berterima kasih, telah menjaganya untukku saat aku berada jauh darinya." Grimmjow mengangguk singkat.
"Dia sudah terlalu lama menunggumu Yang Mulia." Grimmjow berjalan menuju pintu keluar, dengan Orihime yang terlihat di gendongan laki-laki tersebut.
Laki-laki itu terkekeh pelan sambil melihat wajah tidur Orihime, "Aku kembali Hime."
.
.
.
Ramalan
.
.
.
"Lama tidak bertemu Kaa-san. bagaimana kabarmu di sana? Aku sedikit kesulitan di sini." Karena kecelakaan yang ia alami, bahkan sulit untuknya keluar rumah tanpa bantuan Ichigo.
Ia meletakkan setangkai mawar merah, "Bunga kesukaannya hm?" ia melihat ke arah samping kemudian tersenyum hangat.
"Aku ingin sepertinya. Ia masih meninggalkan kebahagiaannya meski ia tak lagi pernah membuatnya, menurutku itu sebuah keajaiban, kau juga pernah merasakannya?" ia mengerling ke arah Ichigo yang tengah bingung.
Laki-laki itu menggeleng pelan, "Tidak. Tou-san tak pernah meninggalkan kebahagiaanya, ia membawanya pergi juga. Membuat kami mencarinya sendiri." Rukia tersenyum kemudian tertawa.
"Raja tidak akan membawanya. Mungkin dirimu tidak menyadarinya, bahkan meski mereka meninggalkan kita namun mereka akan tetap mencintai kita lebih dari apapun yang mereka punya. Mereka meninggalkan apapun yang mereka punya di saat terakhirnya untuk kita."
"Aku ingin aku melakukan hal itu untukmu." Gumam Ichigo membuat Rukia menoleh.
"Aku tidak berhak mendapatkannya darimu." Perempuan itu kembali menatap nisan ibunya.
Ichigo mengenggam tangan Rukia, "Aku tidak memberikannya dengan suka rela." Rukia menoleh dengan tatapan sinis.
"Aku tidak membutuhkannya Ichigo," Rukia menghela nafas. "Kematian mengajarkanku banyak hal tentang rasa sakit. Dan aku memutuskan berhenti memperlajarinya."
"Sepertinya kau belajar banyak hal Rukia," perempuan itu mengangguk singkat, "Aku mau kau mengajariku setiap bagian dari hidupmu padaku, dan aku akan memberikan setiap detik bagian hidupku padamu."
.
.
.
Ramalan
.
.
.
16 tahun kemudian
Ia menenteng buku kedokteran ditangannya, ia masih siswa menengah atas, "Nao-kun!" ia berhenti ketika seseorang memanggilnya, mata berwarna ungu itu tidak sedikit pun berniat melirik.
"Tunggu Nao-kun. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Ia hanya bisa menghelah nafas pelan.
Nao melihat jam di pergelangan tangannya, "Baiklah. Aku tidak punya banyak waktu." Ia melihat gadis berambut coklat itu dengan bosan.
"Omedetou gozaimasu Nao-kun. Maaf aku terlambat mengucapkannya," gadis bermata biru muda itu melirik Nao dengan malu-malu. "Aku pikir jika aku memberikannya tepat waktu. Kau tidak akan melihatnya, karena akan tercampur dengan milik fansmu."
Gadis itu memberikan sebuah bingkisan kecil padanya, "Hn. Arigatou Yasutora... Fumiko... –san." Nao kembali berjalan mengabaikan sebuah tangis bahagia dari Fumiko.
Ketika ia sudah mendekati gerbang, ia meletakkan bingkisan tersebut ke dalam tempat sampah, ia hanya tersenyum tipis melihat seorang gadis yang menunggunya dengan wajah cemberut. Ia menambah kecepatannya, "Oi! Aku sudah menunggumu satu jam di sini bocah tengik."
Ia mendecih sebal dan memelankan kembali jalannya, "Berhenti memanggilku bocah tengik. Dasar preman!" ia berseru kesal.
"Setidaknya aku tidak selalu membuang hadiah dari seseorang. Cepat masuk bocah tengik, aku sudah mulai muak menunggumu di dalam sini." Nao masuk ke dalam mobil, duduk tepat di samping gadis berambut orange senja tersebut.
"Berhentilah bicara dan cepat jalan."
.
.
.
To be Continued
A/N :
Telat! Ya maaf, lain kali berharap tidak akan terulang lagi. Dua minggu yang lalu saya bener-bener lagi sibuk dan galau gara-gara tugas prakerin, review-nya ye minna ;)
Reply Reviews :
Azura Kuchiki : sengaja di buat begitu emang XP maaf atas keterlambatan ini, makasih udah review
Animea Khunee-Chan : Ah~ salah, yang bener Ichigo lo, karena Rukia bilang Ichi-go(Pelindung) maaf atas keterlambatan ini, makasih udah review
stefymayu yeniferangelina : Yep betul sekali, T~T kagak bisa kilat tapi semoga minggu depan pakek shinkansen aja updatenya atas keterlambatan ini, makasih udah review
