19! An Affair chapter 8

"Wedding's Memory"

~Happy Reading~

Di suasana yang cukup dingin itu, Jaejoong berlari keluar rumah dengan nafas terengah-engah. Semuanya terasa kacau. 'kejam! Keterlaluan! Aku benci mereka semua! Aku benci eommonim! Aku benci Seo Yeji! Aku juga benci Jung Yunho! AKU BENCI!' teriak jaejoong dalam hati sambil menitikkan air mata. Rasanya Jaejoong ingin bersabar tetapi dia sudah tidak tahan di perlakukan seperti itu. Baru kali ini Jaejoong merasa merana seperti ini.

JJ POV ON

Mereka semua menyakiti hatiku. Apakah mereka sudah puas? Mereka begitu tega kepadaku. Sebenarnya siapa yang paling penting bagi yunho? Aku atau eommonim? Air mataku tak terbendung lagi dan terus mengalir deras, dan sekarang kepalaku terasa berat dan pusing.

Aku terus berlari sampai kehabisan nafas. Tanpa kusadari, aku berada di tempat yang aku kenali. Tempat yang begitu familiar yaitu gereja. Gereja ini dahulu adalah tempat aku dan yunho menikah. Taman di depan gereja tampak tenang dan sunyi. Suasana di sekitarnya remang karena memang kini sudah masuk jam makan malam. Aku merasa dinginnya angin malam sambil terus menangis. Seolah-olah ingin menenangkan pikiran, aku duduk di tangga batu gereja.

Tiga tahun yang lalu pada bulan juni, aku dan yunho melangsungkan pernikahan di gereja ini. Saat itu langit berwarna biru cerah. Aroma pepohonan tercium di udara. Semua tamu tertawa gembira. Pemberkatan, sumpah sehidup semati, buket bunga lili dan baju pengantin putih yang sederhana.

Semua itu terbayang dalam benakku, suara lonceng gereja saat itu masih menggema di telingaku sampai sekarang. Aku teringat, yunho tertawa bahagia saat itu. Semua terbayang lagi di pelupuk mataku. Hatiku terluka. Nafasku terasa sesak. Air mataku terus mengalir dan menetes di batu tangga gereja.

Sudah tiga tahun berlalu, aku mengalami berbagai kejadian dan bertemu banyak orang, tertawa, menangis, marah, bahagia, semua tak asing bagiku,

Aku teringat yunho, dia selalu memanjakanku seolah-olah aku ini masih anak-anak. Yunho selalu menjagaku. Aku percaya bahwa perasaan yunho tidak akan berubah sampai kapanpun, akan tetapi sekarang aku merasa sendiri.

Angin malam yang dingin terasa menggigit. Aku masih menangis karena merasa kesepian. Egoiskah aku jika menginginkan Yunho berada disini dan menggenggam tanganku. Bukankah kami sudah bersumpah sehidup semati. Apakah cinta sejati itu hanya khayalan saja? Apakah cinta sejati itu hanya kebohongan buatan manusia?

Entah sudah berapa lama aku duduk di tangga batu gereja ini. Sedikit demi sedikit perasaanku yang kacau mulai mereda. Perasaan marah dan sedih masih tersisa, seolah-olah kenanganku sudah tenggelam kedasar laut yang sangat dalam.

Aku seperti sedang berbicara dengan diri sendiri. Jaejoong, kenapa kamu seperti anak kecil? Kenapa kamu merasa kacau? Bukankah kamu masih mencintai Yunho? Yunho adalah orang terpenting dalam hidupmu. Kamu merasa sudah menemukan cinta yang sesungguhnya, kan? Benar kan Jaejoong?

Jaejoong, apakah cinta sejati bagimu? Apakah cinta sejati itu hanya sebatas dicintai dan mencintai oleh seseorang? Jika kamu mencintai seseorang, apakah kamu akan menuntut orang tersebut untuk mencintaimu juga? Apakah itu yang dinamakan cinta sejati? Bukan kah jika kamu mencintai seseorang kamu ingin orang tersebut bahagia bukan? Kamu ingin Yunho bahagia, kan? Seperti yang di katakan oleh eommonim, Yeji jauh lebih baik untuk Yunho.

Jika Yunho menikah dengan Yeji, mungkin dia akan bahagia. Dia bisa makan masakan Korea setiap hari, terutama eommonim yang sangat cocok dengan Yeji.

Jika dibandingkan dengan ku, Yeji jauh lebih pantas menjadi menantu keluarga Jung. Hubungan antara aku dan eommonim sangatlah buruk, dan aku tidak ingin memperburuk keadaan. Aku tidak ingin Yunho pulang dalam keadaan lelah dan harus menghadapi situasi yang tak menyenangkan dirumah.

Aku sangat memikirkan kebahagiaan Yunho. Jika itu memang yang terbaik untuknya, aku rela. Walaupun aku harus tersakiti, tetapi demi kebahagiaan Yunho, biarlah.

Aku terus berfikir sambil duduk di tangga batu gereja sambil memeluk lututku dan membenamkan kepalaku.

JJ POV OFF

Tak lama berselang, Jaejoong merasakan kehadiran seseorang. Jaejoong mengangkat kepala dan melihat ternyata suami tercintanyalah yang berdiri dihadapannya.

" Yunnie?"

" Boojae, Syukurlah kamu ada disini." Ucapnya dengan raut wajah cemas. Terlihat oleh Jaejoong bulir-bulir keringat mengalir di pelipis Yunho. Kemudian Yunho jalan mendekati Jaejoong. Dan duduk didekat Jaejoong dengan tenang. " aku cemas karena Boojae belum pulang, maka dari itu aku mencarimu" katanya dengan lembut. Yunho menggenggam tangan Jaejoong. Jaejoong merasa kehangatan tangan Yunho mengalir ketangannya. Tadinya Jaejoong ingin menepisnya, tetapi entah kenapa tangannya malah tidak dapat bergerak sama sekali. Bahkan jaejoong tidak mampu menatap wajah Yunho dan hanya bisa terus menunduk dengan perasaan campur aduk.

" Boojaejoongie" panggil Yunho dengan lembut. " Ayo kita pulang"

" Aku tidak ingin pulang" jawab jaejoong singkat seolah-olah dirinya tengah berbicara untuk dirinya sendiri.

" Benarkah kau tidak ingin pulang?" ulang Yunho. Dan bukanya menjawab, jaejoong hanya mengangguk singkat tanda dirinya benar-benar tidak ingin kembali kerumah itu. " Baiklah. Kalau begitu aku akan tetap duduk disini sampai Boojae ingin pulang bersamaku." Lanjut Yunho dengan suara yang masih terdengar lembut.

Jaejoong mengangkat wajahnya dan menatap mata Yunho yang memancarkan kehangatan.

" Boojae sudah tidak tahan lagi yah? Jika ada yang ingin dibicarakan , katakan saja. Jika Boojae mau berbicara tentang umma, jangan segan. Bukan kah kita pasangan suami istri yang harus saling berbagi dalam suka maupun duka?"

" Yun..."

" Gwenchana.. katakan saja semua yang ingin kau katakan kepadaku. Jangan kau pendam semua luka itu sendiri."

Jaejoong tidak dapat perkata apapun. Yang dia bisa hanya diam sambil menatap Yunho-nya.

" Aku bukanlah seorang pria yang berfikiran sempit. Aku selalu berusaha mengerti perasaanmu" ujar Yunho sambil tersenyum. Melihat senyuman hangat Yunho, tiba-tiba perasaan jaejoong bergejolak. Dan Jaejoong pun mulai menangis kembali.

" Boojae masih tidak ingin pulang? Sepertinya sudah lama Boojae tidak merajuk seperti ini. Aku sungguh senang melihatmu merajuk seperti ini."

" Yun.."

" sesungguhnya aku ingin memahami perasaanmu yang terluka. Boojae selalu menjaga perasaanku dengan baik karena itu kau tidak pernah mengadukan perilaku umma yang buruk kepadaku. Aku tahu Boojae benar-benar bersabar dan bekerja keras untuk itu. Aku tidak pernah tahu perasaanmu yang sebanarnya karena kamu tidak pernah berkata apapun. Aku berusaha menghargai dan menunggumu mengungkapkan seluruh isi hatimu kepadaku. Boojae yang kukenal memang selalu manja, tetapi aku tetap mencintai dirimu yang seperti itu apa adanya."

Ucapan yunho barusan memberikan kehangatan didalam hati jaejoong meski air matanya terus mengalir di kedua buah pipinya. Bibir berwarna ceri itu menyabutkan nama suaminya dan langsung memeluk tubuh tegap suaminya dengan begitu erat. Untuk beberapa saat, Jaejoong menangis dalam pelukan Yunho.

" Boojae, kajja kita pulang." Ajak Yunho kembali.

Melihat ketulusan dan rasa cinta dari perkataan yunho, Jaejoong pun mengangguk. Kemudian mereka berjalan sambil bergandengan tangan di dalam kegelapan. Bintang bersinar dilangit malam. Dan tak lama kemudian mereka sampai dikediaman mereka.

Tiba-tiba, langkah mereka terhenti karena melihat bayangan manusia yang mencurigakan disudut rumah. Bayangan itu berada di dekat pintu masuk halaman. Orang tersebut terlihat sedang mengintip kedalam rumah mereka. Jaejoong maupun Yunho berfikir bahwa mungkin saja itu pencuri!

Setelah di perhatikan lebih jauh oleh pasangan Yunjae, kini mereka yakin bahwa itu benar-benar pencuri. Jaejoong begitu ketakutan dan menggenggam tangan Yunho erat. Sedangkan Yunho langsung memandang Jaejoong kemudian mengangguk dan menaruh telunjuknya di depan bibir hatinya memberi tanda agar Jaejoong tetap tenang.

Dengan mengendap-ngendap, Yunho mendekati pencuri tersebut. Melihat tindakkan nekat Yunho, Jaejoong merasa jantungnya berhenti berdetak. 'apa tidak takut?' pikir Jaejoong. Jaejoong berfikir, bisa saja maling tersebut membawa senjata tajam dan akan terjadi sesuatu yang buruk. Terbersit di benak Jaejoong untuk memanggil polisi saja. Namun, pada saat Jaejoong berfikir untuk mencegah, Yunho telah menyergap pencuri tersebut dengan memitingnya dari belakang.

" A-Appayoo, appooo! Yak Appo!" teriak orang tersebut.

" Apa yang sedang kau lakukan dirumahku? Siapa kau?" Bentak Yunho. Jaejoong dapat melihat orang itu berdiri tegang mendengar bentakkan dari Yunho.

Jaejoong benar-benar terpesona dengan tidakan Yunho, meski nekad tetapi suaminya itu dapat langsung meringkus si penjahat dengan cepat.

" Hais! Yun, Hentikan! Ini aku, nak! " teriak Orang asing itu. Betapa terkejutnya baik Yunho maupun jaejoong begitu mendengar suara yang tak asing di telingan mereka. Dengan segera Yunho melepaskan lengan orang yang dikira pencuri tersebut. Kemudian memandang lekat-lekat wajahnya. Dan benar saja dugaan mereka.

" A-Appa?! Kenapa bisa ada disini? Bukan kah appa sedang dinas di London?"

TBC

Mianhae kemarin aku salah tulis, bilang mw tamat 2 chap lagi seharusnya 3 chap lagi heheh,, jumlah ff ini sampai 10 chap,,,

Mianhae jika feel kurang dapet, aku udh menambahkan beberapa adegan supaya feelnya terasa. Meski masih sm dengan yang di buku.

Mianhae jika banyak typo

Judul dan jalan cerita kubuat mirip dengan yang dibuku karena aku membuat ceritanya dari sana hanya saja aku menambahkan beberapa adegan dan merubah gaya bahasa dari tidak baku ke baku.. di serialnya pun kata-katanya singkat. Jadi mian jika ketika kalian tertarik sm judul tetapi ketika kalian membacanya membuat kalian tidak berminat.. sekali lagi mianhae ^^

Terimakasih buat sahabat aku vebby yang kmren langsung kasih tahu letak typo aku sehingga bisa cepat langsung aku edit...

Special thanks :

Snow . Drop . 1272, shipper89, KimRyan2124, shanzec, de, birin . rin,Fian Nrsrta, joongie, Mybabywonkyu, Suchan.

Salam nyanil_joongie