My Beatiful Destiny

Kim Jong in / Do Kyungsoo

SM Family

Rate : Aman

Happy reading

*

Hari sudah sore ketika Baekhyun mendapati seorang wanita cantik dengan setelan yang menarik perhatian banyak orang berdiri di lobi rumah sakit tempatnya bekerja. Dari jauh Baekhyun bisa melihat bahwa wanita itu terlihat sedang menunggu seseorang. Baekhyun terus berjalan berniat menghampiri wanita cantik itu sembari mengetikkan sesuatu di ponselnya.

"Kristal?" Suara Baekhyun sedikit membuat terkejut si wanita cantik.

"Unniiiie," Kristal menghambur memeluk Baekhyun, namun detik berikutnya ia mengaduh kesakitan karena lengannya yang di cubit Baekhyun.

"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Baekhyun mengabaikan wajah Kristal yang merajuk.

"Menunggumu!!!" Baekhyun mengernyit dengan nada semangat Kristal.

"Menungguku? Oh, apa aku harus bersyukur karena seorang artis terkenal terlihat bersusah payah menungguku?" Kristal terkekeh mendengar Baekhyun yang mengejeknya.

"Oh ayolah Baek. Ini tentang Kyungsoo,"

"Kyungsoo? Ada apa dengan anak itu?" Dalam hati ia sedikit was-was jika Kristal mengetahui di mana Kyungsoo kini.

"Kita lanjutkan pembicaraan di tempat lain yang ada tempat duduknya,"

"Kau mau ke apartmentku?" Tawar Baekhyun.

"Kalau di sana ada Chanyeol oppa, aku memilih tempat lain saja." Baekhyun terkekeh mendengar Kristal yang menolak dengan wajah menyedihkan. Pasalnya. Chanyeol terlalu suka mengejek Kristal tentang kencan buta yang selalu di atur ibunya. Dan itu membuat ia menjadi bulan-bulanannya Chanyeol.

"Baiklah. Bagaimana kalau 'SweetHome'?" Usul Baekhyun. SweetHome adalaha nama cafe kecil yang cozy namun bergaya vintage dengan sedikit sentuhan nuansa alam. Lebih tepatnya, SweetHome adalah tempat nongkrong yang baik untuk berbicara santai dan terhindar dari keramaian anak-anak remaja karena pengunjung SweetHome kebanyakan adalah mereka yang butuh tempat untuk menenangkan diri.

"Oh 'SweetHome' my sweet home, aku rindu tempat itu." Kristal sedikit menerawang mengingat masa-masa kuliahnya yang memusingkan.

"Tapi sebelumnya Kris, kita harus masuk ke mobil untuk sampai ke sana." Baekhyun berjalan mendahului Kristal dan masuk ke dalan mobil milik wanita itu.

Jalanan cukup lengang dan Kristal melajukan mobilnya santai. Baekhyun dan Kristal berbincang banyak hal karena mereka berdua memiliki kesibukkan masing-masing sehingga sulit untuk bertemu. Terakhir mereka bertemupun pada hari pertunangan Baekhyun dan Chanyeol beberapa bulan lalu. Biasanya, setiap Kyungsoo kembali ke Korea, mereka berempat akan bertemu dan berjalan-jalan bersama, tapi hal itu sudah lama sekali.

"Oh iya Kris, apa yang ingin kau katakan tentang Kyungsoo?" Tanya Baekhyun ketika mobil berhenti di lampu merah.

"Oh itu. Aku bertemu dengannya." Nada suara Kristal tenang, menandakan ia sedang membicarakan sesuatu yang serius.

"Dimana?!!" Tanya Baekhyun terlalu tergesa dan hal membuat Kristal menyeringai. "Ooh astaga!!!!" Baekhyun menyenderkan punggunggunya kasar.

"Aku tahu kau pasti tahu." Ujar Kristal saat mobil kembali melaju.

"Jangan bilang Chanyeol." Baekhyun berkata malas.

"Makanya aku bertemu denganmu di sini, kita hampir sampai."

"Ngomong-ngomong tentang si telinga lebar itu, aku belum memberitahunya kalau aku pulang denganmu." Baekhyun mengambil ponselnya dan membuka aplikasi chatting. Ia masih sibuk mengetikkan pesan untuk kekasihnua sebelum suara Kristal memaksanya beralih dari ponselnya.

"Baek, apa kau tau juga soal ini?" Tanya Kristal setelah ia memakirkan mobilnya. mereka telah sampai di halaman parkir 'SweetHome'.

"Soal apa?" Baekhyun menyahut dengan wajah masih menatap layar ponsel.

"Aku rasa kau harus melihatnya sendiri."

Dan alangkah terkejutnya ia, saat pandangannya mengarah pada pintu masuk cafe, dua orang yang mereka kenal meski salah satu dari kedua orang itu memakai masker dan topi juga kacamata bening, sedang berjalan keluar dari cafe secara berdampingan di mana tangan si wanita mengait erat ke lengan lelakinya. Keduanya terlihat sangat mesra dan senyum merekah di masing-masing bibir mereka.

"Aku tahu," Baekhyun mengucap pelan, "Ini sudah ke berapa kalinya aku melihat mereka berdua, tapi ini yang pertama kalinya melihat mereka seperti sepasang kekasih. Benar kata Kyungsoo, mereka terlihat sangat bahagia." Baekhyun memutus pandangannya dari arah di mana Luhan dan Sehun terlihat sudah memasuki mobil. Sedang Kristal yang mendengar nama Kyungsoo di sebut sontak menatap Baekhyun kaget dan penasaran.

"Kyungsoo tahu?" Anggukan Baekhyun membuat ia bertanya-tanya bagaimana caranya Kyungsoo mengetahuinya. Pasalnya, yang Kristal tahu, Kyungsoo, anak itu sudah berbulan-bulan tidak pernah berlibur ke Korea.

"Kita masuk?"

Baekhyun mengangguk, "Sepertinya, kau juga harus tahu."

.

"Jadi?" Kristal memulai percakapan begitu pelayan selesai mengantatlr pesanan mereka. Ia menyendokkan sepotong redvelvet ke dalam mulutnya.

"Yang mana dulu?" Timpal Baekhyun.

"Kenapa Kyungsoo bisa berada di apartemen si hitam itu??" Kristal sedikit mendengus mengingat sahabatnyanya, ia masih kesal karena Jongin menolak keinginannya.

"Kyungsoo yang mau." Jawab Baekhyun malas, ia jadi ingat kalau belum mengunjungi Kyungsoo, dan anak nakal itu sudah lewat seminggu berada di apartemen Jongin. Lagian, apa saja sih yang di lakukan Kyungsoo selama tinggal bersama Jongin sehingga tidak memberikan kabar padanya.

"Lalu? Sehun dan Luhan? Bagaimana bisa Kyungsoo mengetahuinya? Apa Jongin juga tahu soal pertunangan Sehun dan Kyungsoo? Huh, kok aku yang pusing mikirnya ya?" Kristal mengetuk lambat sendok tehnya. Ia melihat tidak sabaran ke arah Baekhyun.

Baekhyun sebenarnya malas menjelaskan sesuatu yang membuatnya pusing seperti ini. tapi bagaimanapun, kilat tidak sabaran di mata Kristal memaksa ia membuka mulutnya. Menarik napas sesaat, Baekhyun mulai menjelaskan tentang awal mula kedatangan Kyungsoo, bagaimana ia bertemu Jongin, juga tentang hubungan Luhan dan Sehun. Kristal di depannya mendengar penuh perhatian sesekali ia mengangguk mengerti. Dan setelah Baekhyun menjelaskan permasalahannya, Kristal terlihat diam, memikirkan sesuatu.

"Jadi, Jongin sama sekali tidak mengetahui identitas Kyungsoo?" Baekhyun mengangguk.

"Kita ke Kyungsoo?" Ajak Kristal spontan. Baekhyun di depannya terlihat berpikir.

"Sekarang?" Tanya Baekhyun kemudian.

"Ya masa tahun depan sih?" Jawab Kristal sembari memutar matanya malas.

"Dia akan terkejut."

"Dia harus terkejut. Aku juga ingin memastikan sesuatu." Baekhyun melihat Kristal menyeringai, dan ia tahu sesuatu yang menarik akan segera ia lihat.

Mereka berjalan menuju mobil setelah membayar pesanan masing-masing. Tepat setelah mendudukan diri di jok mobil, Kristal menyahut enteng,

"Aku tidak bisa membayangkan murkannya Chanyeol oppa jika tahu Kyungsoo bersama Jongin, dan-" Kristal menjeda kalimatnya,

"Dan?" Tanya Baekhyun horor.

"-dan, bagaiamana nasib mereka yang bekerja sama dalam hal ini."

"Ohhhh, aku tidak ingin pertunangan batal." Baekhyun menyander lesu, dan Kristal terbahak setelahnya.

.

Banyak hal yang bisa menjabarkan alasan mengapa kita jatuh cinta. Dia baik, dia cantik, dia pintar, adalah beberapa dari sekian banyak alasan klise yang bisa kita katakan. Tapi, akan beda halnya jika kita jatuh cinta pada pandangan pertama. Alasan seperti apa yang kita miliki? Mungkin satu-satunya alasan adalah, karena hati telah memilih. Karena hati jauh lebih tahu dan peka, atas siapa yang bisa mengisi hari. Namun, jangan salah sangka. Setahu-tahunya hati memilih, ia masih buta akan seperti apa kisah yang akan kita alami. Di ujung saja, apakah akhir bahagia menanti?

Kyungsoo mengangkat kedua tangannya ke atas guna meregangkan persendiannya yang mulai kaku akibat terlalu banyak duduk menunduk dan melihat ke arah laptop milik Jongin. Tidak terasa waktu berlalu sangat cepat, sehingga hari-harinya bersama Jongin tidak lama lagi akan berakhir. Ia harus kembali ke dunia nyata, menghadapi serentetan peristiwa yang harus ia urus sendiri kedepannya karena calon tunangannya si Ooh Stupid Sehun itu terlalu pengecut untuk mengahadapi cintanya.

Kyungsoo menatap ke seluruhan kamar, dan ia menyadari jika di luar matahari telah tenggelam. Apartemen Jongin terlihat sangat gelap, dan ia bertanya-tanya mengapa Jongin pulang terlambat. Biasanya, Jongin sudah berada di apartemen sebelum pukul 6 sore, dan ini sudah hampir pukul 7 malam.

Kyungsoo merapikan laptop dan buku sketch nya, memasukkan semuanya kecuali laptop, ke dalam koper miliknya. Beberapa hari ini, jika Jongin pergi ke kantor, dia akan di sibukkan dengan panggilan telepon dari Minseok, dan berakhir dengan coret-coretan berlembar-lembar di sketchnya. Dan ia bersyukur, beberapa klien tidak meminta lebih banyak revisi mengingat ia yg mulai mengosongkan jadwalnya.

"Apa aku menelponnya saja?" Kyungsoo menggumam, ia telah berada di luar kamar, memerhatikan keadaan apartemen yang masih terlihat rapi. Biasanya, jika Jongin berada di apartemen, mereka berdua akan menghabiskan bercup-cup ramen instan -jika Kyungsoo malas memasak- sembari menonton film horor, atau bermain console game, atau berbagi cerita, dan terbahak-bahak hingga pukul 2 pagi, yang mengakibatkan Jongin selalu bangun kesiangan dan membuat ia hampir telat ke kantor. Kyungsoo tersenyum samar mengingat setiap kekacauan pada pagi hari mereka yang indah. Ia akan merindukan Jongin nantinya.

Bunyi suara alarm pintu terbuka membuat Kyungsoo cepat-cepat menuju pintu apartemen, dan di sana telah berdiri Jongin yang masih memakai setelan kerjanya tadi pagi, namum jasnya telah ia sampirkan di lengan, juga kemeja coklat muda yang tangannya tergulung hingga siku, dasi yang di longgarkan, dan rambutnya terlihat acak-acakkan. Wajah lelah nampak terlihat dari matanya.

"Harimu buruk?" Jongin masih memberikan senyumnya pada Kyungsoo meskipun ia sangat lelah. Mengganti sepatu pantofel dengan sendal rumah, ia berjalan masuk di ikuti Kyungsoo dari belakang. Jongin langsung saja merebahkan punggungnya di sofanua yang empuk. Kyungsoo duduk manis di sampingnya.

"Ada beberapa masalah di kantor. Aku harus menghadle semuanya sendiri karena hyungku sedang berada di Cina dan ayahku sedang berada di Jepang." Jongin memejamkan matanya, silau dengan cahaya lampu yang berada tepat di atas kepalanya.

"Ada yang bisa aku bantu untukmu?" Tanya Kyungsoo lembut, ia tidak tahu harus bagaimana membantu Jongin melewati masa sulitnya.

Suara kekehan Jongin membuat Kyungsoo sedikit malu, Jongin membuka matanya dan menegakkan tubuhnya, menghadap Kyungsoo.

"Melihatmu berada di rumahku, menungguku pulang, tersenyum menyambutku, tidak ada hal lain lagi perlu kau lakukan. Kau ada di sini, sudah menghilangkan penatku." Jongin menyingkirkan anak rambut Kyungsoo yang menutupi matanya, membuat Kyungsoo semakin bersemu dan berdebar. Selama beberapa hari tinggal bersama, Jongin tidak pernah melakukan hal seintim ini dengannya, Jongin juga sering menggodanya, tapi entah mengapa, kalimat Jongin barusan membuat ia sangat gugup, hingga memompa seluruh darah menuju pipinya.

"Ja-jangan menggodaku, adik kecil!!" Kyungsoo memaki dalam hati lidahnya karena berucap gugup. Ia menghindari tatapan intens milik Jongin dengan mengarahkan matanya ke segala arah asal bukan ke dalam mata kelam milik Jongin. Jika berlama-lama menatap mata itu, Kyungsoo takut ia tidak bisa mengendalikan perasaannya. Karena biar bagaimanapun, perasaan Jongin adalah sesuatu yang masih rahasia, yang bisa saja menjatuhkan ia pada sesuatu yang membuat luka.

"Noona," Suara Jongin dalam dan sedikit berat, memaksa Kyungsoo harus menatap padanya.

"A...apa?" Kyungsoo bisa melihat sorot mata Jongin sedikit gugup, tapi sesaat kemudian kembali tegas.

"Pada awalnya aku tidak menyukai seseorang yang mengusik kehidupan pribadiku, apalagi hingga memasuki rumahku," Jongin menjeda, "Tapi, kau adalau sesuatu yang aku tidak bisa prediksikan. Kau seperti udara, membuatku segera terbiasa, membuatku tidak bisa menghindari segala tentangmu. Aku selalu penasaran, mengapa aku suka mendengar suara tawamu, atau mengapa aku ingin segera pulang guna melihat senyummu. Aku kira, sesuatu yang terlalu cepat sangat menggaguku, tapi ternyata, ada yang lebih menggangguku, yaitu, jika aku berpikir bahwa kau akan segera hilang dari hariku." Jongin tidak bisa lagi memendam hal yang menggangu pikirannya sejak beberapa hari yang lalu, sejak ia percaya cinta telah menjatuhkannya pada sosok wanita yang baru saja masuk dalam kehidupannya. Jongin masih memandang ke arah Kyungsoo dan ia bisa melihat jelas jika Kyungsoo tersenyum sangat manis kepadanya.

"Hey," Kyungsoo menepuk pelan pipi Jongin, ia sedikit mencubit dan Jongin mengaduh kesakitan.

"Mengapa kau berpikir aku akan pergi?" Kyungsoo bertanya dengan perasaan yang menggelitik dari dalam perutnya. Ia tidak mengira Jongin akan mengatakan hal cheesy seperti itu.

"Kau bilang, kau hanya perlu dua minggu untuk tinggal di sini, dan kau sedang berlibur di korea. Itu berarti kau akan segera kembali." Kyungsoo terkekeh saat Jongin mengerucutkan bibirnya, ia sudah hapal sikap manja Jongin kepadanya.

"Aku sudah kembali, asal kau tahu." Jongin mengeryit, tidak mengerti.

"Apa maksudmu?"

"Korea. Aku sudah kembali." Jongin masih saja terlihat bingung dengan ucapan Kyungsoo.

"Rumahku di Korea, Jongin. Aku tidak akan kemana-mana, karena memang aku harus kembali ke Korea." Kyungsoo terkekeh geli melihat wajah bingung milik Jongin.

"Rumahmu di Korea?" Tanya Jongin seperti orang bodoh.

"Ya.. " Kyungsoo mengangguk.

"Lalu kenapa kau tidak kembali ke rumahmu?" Jongin tidak bisa menahan rasa ingin tahunya. Jika Kyungsoo punya rumah sendiri, mengapa Kyungsoo memilih tinggal bersamanya, apa motif Kyungsoo sebenarnya, apa Kyungsoo musuh perusahaannya, atau apapun yang terlijat jahat sekarang berkumpul di kepala milik Jongin.

Kyungsoo sedikit menyesal telah membohongi Jongin, tapi biar bagaimanapun ia harus mengatakan alasan mengapa ia memilih tunggal bersama Jongin. Menghela napas sesaat, Kyungsoo membuka suaranya menjelaskan.

"Jadwal kepulanganku harusnya bulan depan, tapi aku mempercepat segalanya," Jongin mendengar penuh minat cerita Kyungsoo, meski ia curiga, tapi ia bisa tahu bahwa Kyungsoo bukanlah orang yang ingin menjahatinya.

"Hari di mana aku bertemu denganmu pertama kali adalah hari yang sama dengan kedatanganku. Alasan aku pulang lebih cepat adalah, aku ingin bersenang-senang sebelum menghabiskan waktu dengan banyak tumpukkan kerja dan masalah. Asal kau tahu ya, aku ini orang penting!!" Jongin sedikit mendengus mendengar Kyungsoo membanggakan dirinya.

"Lalu, mengapa kau tidak pulang saja ke rumahmu?" Tanya Jongin sedikit ketus. ia merasa semacam di bohongi. Pasalnya, ia sangat terganggu memikirkan bagaimana cara untuk membuat Kyungsoo berada lebih dekat dengannya tapi rupanya sia-sia.

"Ya ampun, Jonginnnn.. Kalau aku kembali ke rumah, bagaimana bisa aku bersenang-senang. Aku memiliki seorang oppa yang sangat protektif, bisa gawat kalau dia tahu aku kembali tanpa memberitahunya. Lagian, aku memiliki alasan utama kenapa memilih tinggal bersamamu." Jelas Kyungsoo sedikit kesal, ia merasa Jongin seperti tidak ikhlas menerima ia tinggal di rumahnya.

"Apa memangnya?" Tanya Jongin tanpa minat. ia masih kesal pada Kyungsoo.

Kyungsoo melihat reaksi Jongin seperti tidak tertarik dengan hal yang ingin ia utarakan. Ia jadi marah karena Jongin dengan mudahnya membuat ia tersipu namun sekarang membuat ia seperti tidak di hargai.

"Yak Jongin, kau mendengarku tidak sihh?"

"Aku dengar Kyungsoo. Jadi, apa alasan yang membuatmu memilih tinggal bersamaku?" Tanya Jongin masih sedikit ogah-ogahan. Ia bahkan memanggil Kyungsoo tanpa embel-embel noona.

"Karena aku jatuh cinta padamu sejak pertama aku melihatmu malam di mana kau menabrakkan sepeda sialanmu itu padaku Kim Jongin, tapi sepertinya kau saat ini terlihat tidak menyukai keberadaanku di sini." Kyungsoo menyelesaikan kalimatnya dalam satu tarikan nafas, dan ia menjadi lebih marah karena reaksi Jongin hanya bengong dan terdiam seperti orang bodoh.

Dengan kesal, karena lima menit menunggu Jongin dalam diam, Kyungsoo memilih berdiri secara kasar, ia sedikit terluka karena Jongin bahkan tidak meliriknya, sebenarnya, apasih yang lelaki itu pikirkan? Batin Kyungsoo.

Kyungsoo berjalan cepat menuju pintu keluar, mungkin sudah saatnya ia harus pulang ke rumah, jika Jongin tidak lagi ingin bersamanya. Ia membanting keras pintu apartemen milik Jongin, dan keluar dari sana dengan kecewa.

Di sisi lain, Jongin yang sedari tadi masih mencerna pengakuan Kyungsoo terkejut karena mendengar suara bantingan pintu yang sangat keras dan ia menyadari bahwa Kyungsoo baru saja pergi. Dengan tergesa, ia berlari menyusul Kyungsoo, memaki dalam hati kenapa ia tidak menyadari perlakuan Kyungsoo untuknya selama ini. Ia marah hanya karena pusing mencari cara agar Kyungsoo bisa lebih lama bersamanya, dan ternyata, jauh sebelum dirinya, Kyungsoo lebih dulu mencari cara untuk mendekat ke arahnya. Jongin bodoh, makinya.

Jongin berlari semakin cepat saat melihat Kyungsoo sudah berada di depan lift, menekan kasar tombol down, menunggu pintu lift terbuka.

"Noona," Jongin mengambil tangan Kyungsoo dan segera di tepis oleh wanita itu, namun Jongin tidak menyerah, ia menarik kasar tubuh Kyungsoo agar menghadap padanya, ia bisa melihat wajah Kyungsoo memerah mungkin karena marah, tapi ia mengabaikan, dengan sekali hentakkan, Jongin menarik Kyungsoo lebih dekat padanyaa, wajahnya ia dekatkan pada wanita yang kini terlihat gugup itu, ia memandang wajah Kyungsoo sangat intens, menghapal dalam kepala struktur sempurna wajah Kyungsoo, lalu dengan senyum tulus, ia berbisik pelan,

"Aku mencintaimu," Kalimat itu meluncur mulus, tulus, ringan, menerbangkan helaian menggelitik ke dalam dada Kyungsoo juga Jongin sendiri, dan entah keberanian dari mana, Jongin semakin mendekatkan wajahnya pada wajah milik wanita itu, lalu dengan lembut, bibirnya menempel pada bibir ranum Kyungsoo, sangat lembut, dan berperasaan, lalu Jongin kembali menyampaikan perasaannya dengan lumatan yang ia berikan pada bibir bawah Kyungsoo, melumatnya berulang-ulang, bibir Kyungsoo seperti air yang mampu menghilangkan dahaganya. Suara erangan Kyungsoo menyadarkan Jongin, bahwa keduanya butuh bernapas, Jongin melumat bibir bawah Kyungsoo sedikit keras sebelum akhirnya melepaskan ciuman manis mereka.

Kyungsoo terengah-engah, dengan rona wajah merah di pipinya, dan Jongin tersenyum sedikit menyeringai, ia menjilati bibirnya sendiri, seperti baru saja mencicipi makanan terenak sedunia.

Keduannya masih dalam posiai dimana Kyungsoo berada dalam pelukan Jongin, dengan lengan Jongin menahan punggungnya, dan jemari Kyungsoo memegang erat kemeja kerja milik Jongin. Mereka berdua bahkan lupa jika berada di luar ruangan, tepatnya di depan lift, namum sebelum mereka tersadar dengan sendirinya, rupanya lift telah terbuka sedari tadi, dan dua orang wanita dengan wajah shock dan mulut menganga menatap tidak percaya pada keduanya.

"Oh My God!!!!?" Kristal memekik keras membuat Jongin dan Kyungsoo tersadar dari dunia berbunga-bunga mereka.

"Aku akan pingsan." Suara Baekhyun lemah, pemandangan tidak senonoh yang ia lihat barusan seperti memendekkan usianya. Ia bisa membayangkan, semurka apa Chanyeol jika sampai tahu bibir hati milik adik kesayangannya telah menjadi santapan beruang mesum Kim Jongin.

Lalu, bagaimana reaksi Jongin dan Kyungsoo? Yah, keduanya hanya diam dengan wajah merona samar di pipi, dan sedikit rasa malu. Ya, sedikit. Dari pada malu, mereka lebih berbahagia, karena cupid berbaik hati menembak tepat pada kedua hati mereka.

.tbc.

.

Note :

Hew hew hew. Anna's here.

apa kabar semuanya. Aku tahu ini sangat lama, dan chapter ini sepertinya terlalu memaksa. Tapi, aku harap kalian bisa menikmatinya, dan memberikan review.

terima kasih juga karena sudah mau mereview, fav, dan follow ff ini, dan sekali lagi aku minta maaf karena tidak bisa membalas satu persatu tapi asal kalian tahu, aku sangat senang membaca setiap review dari kalian.

Dan, ff ku yang judulnya "Hurt", sebenarnya ff itu sudah selesai, tapi aku masih harus mengubahnya lagi karena aku pusing menentukan endingnya. Tapi, secepatnya aku akan menamatkan semua ffku, dan aku harap kalian masih mau menunggu.

sampai ketemu lagi,

salam sayang,

anna :)