"Kurang ajar kau, Uchiha!"

Sasuke mundur selangkah ketika Neji yang berubah beringas mencoba untuk menerkamnya.

"Kubunuh kau!"

Oke, darimana ini semua berawal? Kita harus kembali ke sehari sebelumnya.

-#-

Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto

Warning : AU, OOC

.

.

Just My Luck

.: The Almighty Hyuugas :.

.

.

.

Seperti biasa di Minggu pagi yang cerah, matahari menyumbangkan sinarnya tanpa kenal pamrih, burung-burung menyanyikan kicauan merdu yang sebenarnya adalah kode bahwa musim kawin telah tiba, dan bunga-bunga berdansa bersama angin pagi yang masih suci dari asap kendaraan bermotor. Di sebuah rumah yang lebih tepat disebut dengan mansion, hidup sekelompok manusia elit yang bangga menyebut dirinya Hyuuga. Well, nggak semuanya anggotanya gitu sih.

Gadis manis dan pemalu yang cukup awkward ini selalu merasa dia tidak seharusnya berada di sini. Oh, bukannya dia tidak bersyukur, memiliki marga Hyuuga secara instan berarti kau mendapat respek dari seluruh kalangan masyarakat, tinggal di istana seluas dua hektar, dan selalu dimanjakan dengan kemewahan. Hinata hanya tak pernah merasa dia pantas mendapatkannya. Rasanya tidak adil jika dia mendapatkan semua ini hanya karena ayahnya adalah CEO perusahaan paling berpengaruh di Jepang.

Oh ayolah, Hinata, tak perlu sok rendah hati begitu. Kau tahu kau mencintai koleksi tas Gucci-mu lebih dari apa pun.

Minggu pagi bagi anggota keluarga Hyuuga tak pernah berarti bergulung-gulung di kasur sampai jam dua belas siang. Jam tujuh tepat, setiap anggota keluarga harus keluar dari kamar mereka masing-masing, berbau wangi, siap untuk sarapan.

Hiashi sebagai kepala keluarga, juga satu-satunya orang yang bersikeras untuk meneruskan tradisi Hyuuga yang satu ini, bukan merupakan tipe orang enak diajak ngobrol di meja makan. Hiashi punya kepribadian yang agak kaku. Inilah alasan kenapa Hinata nggak pernah merasa benar-benar nyaman jika berada di sekitar ayahnya, mungkin sikap pemalunya juga hasil dari didikan Hiashi yang keras, kadang Hinata bertanya-tanya apa dia benar-benar kenal sosok ayahnya.

Adik Hinata yang masih SMP, lain lagi. Kadang Hinata merasa iri dengan Hanabi. Satu-satunya orang yang cukup edan untuk melawan Hiashi, ya cuma Hanabi. Kalau Hinata lebih mirip dengan ibunya yang lemah-lembut, gemulai, dan sangat wanita, Hanabi ini sepertinya mewarisi hampir 90% sifat Hiashi. Keras kepala! Kadang jadi tontonan tersendiri kalau keduanya sudah mulai adu argumen. Tapi bagaimana pun, Hanabi selalu jadi putri kesayangan Hiashi. Well, bagaimana ya menjelaskannya... singkatnya, Hanabi ini jenius. Selalu peringkat satu, hampir selalu menang setiap kali ikut olimpiade, ikut kelas bela diri dan paling garang di antara teman-temannya yang laki-laki. Hinata merasa apa pun yang dilakukannya tidak akan pernah sebanding dengan itu.

Itulah mengapa, dia merasa, Hiashi muncul dengan ide untuk menjodohkan Hinata dengan pewaris Namikaze Corp. Hinata tidak cukup "Hyuuga" untuk menjadi pewaris Hyuuga, satu-satunya yang bisa ditawarkan Hinata adalah menjadi istri yang baik. Perusahaan ayahnya justru akan jatuh ke tangan sepupunya yang jenius, Neji. Dan tak seorang pun meragukan Neji. Hyuuga Corp. memang diserahkan pada Hiashi, tapi Hizashi juga punya kekuasaan yang sama besarnya atas perusahaan itu. Neji baru berusia 7 tahun ketika ayahnya meninggal, dan Hiashi langsung membawanya pulang dan merawat Neji layaknya anak sendiri. Hinata tidak pernah merasa sebagai pewaris, dia tidak pernah dididik seperti itu. Lain dengan Neji yang dua tahun lagi akan terbang ke Inggris untuk sekolah manajemen.

"Bagaimana dengan sekolah, Neji?"

Neji tersenyum sopan, menelan scrambled egg-nya terlebih dahulu sebelum menjawab. "Baik, Paman, sebentar lagi akan dilakukan pemilihan Ketua OSIS yang baru, jadi saya bisa lebih fokus pada pelajaran."

"Ah, sudah saatnya. Mereka tak bisa terus bergantung padamu terus." Hiashi melirik anak sulungnya, yang mulai punya perasaan nggak enak tentang ke mana pembicaraan ini akan mengarah. "Hinata, ada ulangan akhir-akhir ini?"

Hinata berusaha menghindari tatapan mengintimidasi ayahnya. "Terakhir kali ada ulangan, saya izin meninggalkan pelajaran..."

"Kenapa? Kau sakit lagi?"

"Hinata pingsan saat pelajaran olahraga, Paman." Neji yang nggak tega melihat Hinata gemetar di kursinya, menggantikan gadis itu dalam menjawab pertanyaan Hiashi. "Pada saat olahraga lari, Hinata pingsan di tengah jalan karena tidak sanggup melanjutkan."

"Pingsan di tengah jalan? Bagaimana kalau seseorang mencelakaimu? Sejak dulu selalu begitu, benar-benar tidak ada perkembangan. Bilang saja pada gurumu jika kau tak sanggup. Siapa yang membawamu kembali ke sekolah?"

Jantungnya mencelos, Hinata tidak ingin berbohong, tapi dia juga tak ingin menjawab pertanyaan ayahnya yang satu itu.

"Teman sekelasnya, Paman." Neji menjawab, suaranya terdengar getir.

"Pasti laki-laki bukan? Si Namikaze itu?"

Neji menghela napas panjang sebelum menjawab, "Bukan, Paman. Uchiha."

"Uchiha? Tapi bukannya kau sekelas dengan anaknya Minato? Kupikir kalian akan lebih akrab. Apakah dia bahkan menjengukmu di UKS?"

Hinata menggeleng pelan, masih menolak untuk menatap kedua mata ayahnya.

"Hinata, kau tahu kau akan menikah dengannya suatu hari nanti. Bukankah sebaiknya kalian mengakrabkan diri?"

Gadis itu masih merekatkan pandangannya ke menu sarapannya, pancake dengan sirup maple serta mentega, hidangan favorit Hinata, tapi dia telah kehilangan selera makannya.

"Ayah tidak tahu, ya? Nee-san sudah punya pacar."

Si setan kecil membuka mulutnya. Hinata mendongakkan kepalanya, matanya membulat dan napasnya tertahan. "Hanabi!"

"Apa benar itu, Hinata?" Hinata berani bersumpah dia melihat senyuman tipis di bibir Hiashi.

"T-t-tidak, Ayah. Hanabi... hanya mengarang-ngarang saja."

Tapi di antara Hinata yang ngomong terbata-bata dengan muka merona, dan Hanabi yang ngomong dengan suara tegas dan yakin, mana yang akan lebih kau percaya?

"Ah, jadi yang pergi ke festival kembang api bersamamu itu bukan pacarmu?"

Hinata makin salting, kelihatan banget nggak bisa mengendalikan situasi.

"Cukup, Hanabi." Jelas, satu-satunya pihak yang nggak nyaman dengan topik pembicaraan ini hanyalah Neji.

"Ah... Neji-nii kan punya dendam kesumat sama si Uchiha itu." Hanabi menenggak segelas susunya sampai habis, bangkit dan berkata, "Gochisousama deshita! Ayah, aku pergi ke dojo dulu."

"Hanabi, perjamuan belum selesai." Hiashi menatap anak bungsunya, jengkel.

"Tapi aku sudah selesai makan, dan aku tidak ingin terlambat. Bye." Gitu aja, dan dia langsung ngacir.

"Dasar bocah," Hiashi mendengus pelan. "Hinata," dia menoleh ke arah Hinata yang masih terduduk kaku. "Kau sama sekali belum menyentuh sarapanmu."

Hinata menatap ayahnya dan Neji bergantian, menggigit bibirnya. Ragu-ragu ketika berkata, "Ano... kalau boleh saya izin meninggalkan perjamuan terlebih dahulu? Saya sudah merasa kenyang."

Hiashi menghela napas, "Anak muda zaman sekarang, tak bisakah mereka menghargai tradisi keluarga barang sedikit saja?" Hinata langsung menyesali perkataannya. "Baiklah, silakan saja."

"Terima kasih." Hinata membungkuk sopan, sebelum melangkah menuju kamarnya, kemudian menutup pintu di belakangnya.

Seperti kebanyakan remaja lainnya, kamar tidurnya bagi Hinata adalah tempat paling nyaman di rumah. Ibaratnya tempat bertapa, kamarnya selalu berhasil membawa ketenangan. Di kamarnya, dia memenuhi kebutuhan spiritualnya, seperti menjalankan hobinya menggambar sketsa, mendengarkan lagu, menulis... Sebagai orang yang jarang hang-out sama temen-temen dan nggak hobi update sosial media, Hinata menemukan kebahagiaan dalam kamarnya.

Yang paling dia suka dari kamarnya, selain cat dinding hijau toska yang merupakan warna favoritnya, adalah jendela yang mengarah tepat ke halaman belakang. Ketika senja tiba, dia akan membuka jendela kamarnya, melihat cakrawala, mentransfer apa yang baru saja dia lihat ke buku sketsa.

Hinata membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, menatap langit-langit kamar dan larut dalam pikirannya sendiri. Bertanya-tanya apa yang akan dikatakan ayahnya jika dia berkata jujur. Selama ini Hinata tak pernah mengeluarkan pendapatnya kepada Hiashi. Kadang Hinata berharap dia tumbuh di lingkungan keluarga yang lebih demokratis. Kadang Hinata berharap ayahnya lebih mengerti dan tidak terlalu berharap banyak. Kadang Hinata berharap ibunya masih ada di sampingnya...

Hinata tak akan pernah bisa mengeluarkan pendapatnya, tak akan bisa mengatakannya dengan lantang, tidak di depan ayahnya, tidak di depan Neji, tidak di depan siapa pun. Tentang perjodohan, jelas dia pihak yang paling keberatan, well, mungkin setelah Naruto. Naruto tidak ragu mengeluarkan pendapatnya kepada Hinata, dan Hinata tahu dia kesal, kalau tidak murka. Menurut Hinata, alasan sebenarnya Naruto menolak perjodohan bukan karena dia sudah punya cewek, tapi karena dia merasa kebebasannya dirampas. Hinata bukannya tidak merasakan hal yang sama, dia cuma tak pernah mengatakannya.

Hinata tahu dia akan menikah juga pada akhirnya, dia hanya tidak suka ketika semua hal itu direncanakan ayahnya. Tumbuh besar bersama dongeng-dongeng Disney, dia selalu bermimpi untuk menemukan pangeran tampan yang akan mencintainya apa adanya. Naruto adalah pribadi yang menyenangkan, teman yang baik, tapi Naruto bukan pangeran yang dia cari. Dia pangeran milik gadis lain.

Dan, rasanya, Hinata juga telah menemukan pangerannya sendiri.

Naksir Sasuke memang terdengar mainstream. Siapa cowok paling diinginkan di sekolah? Cowok paling ganteng, pinter, kaya, dan populer? Well, memang persaingan ketat antara Neji dan Sasuke, tapi terbukti Sasuke punya pasukan fangirls edan yang rela memberikan apapun demi menghabiskan sisa hidup mereka dengan Sasuke. Hinata sama sekali tidak ingin bergabung dengan Karin CS, tapi damn, Sasuke memang benar-benar irresistible.

Bedanya, bagi Hinata, ganteng, kaya, dan populer itu cuma bonus. Yang dia perhatikan pertama kali tentang Sasuke adalah sikap tenangnya. Beda dengan Naruto yang suka meledak-ledak, Sasuke itu kalem, dia selalu bisa membawa diri, selalu bisa mengendalikan situasi dengan kepala jernih. Sasuke tak banyak bicara, lebih suka duduk menyendiri dan membaca, tapi selalu ada sesuatu yang menarik tentang dirinya. Sasuke tidak ramah, dia benci basa-basi, tapi dia selalu percaya diri. Ada satu bagian dari dirinya yang selalu berhasil membuat orang lain jatuh cinta. Hinata selalu mengagumi sosok Sasuke yang seperti itu. Kadang dia merasa, mereka begitu berbeda, tapi di saat yang lain, dia sadar bahwa sebenarnya mereka benar-benar mirip.

Ngomong-ngomong tentang Sasuke...

"Hinata."

Hinata bangkit dari tempat tidur, terlonjak mundur ketika melihat sosok dengan rambut hitam jabrik di balik jendela kamarnya.

"S-sasuke-kun?"

Di saat seperti ini, Hinata merasakan konflik dalam dirinya. Sasuke ini sebenarnya cowok baik-baik atau bukan sih? Apa pun yang dilakukannya, kesannya itu seperti dia cowok mesum. Apa yang dia lakukan di sana? Bagaimana kalau tadi Hinata sedang ganti baju?

Hinata melangkah maju perlahan, ragu-ragu ketika membuka jendela kamarnya. Wajah Sasuke datar seperti biasa. Mungkin kalau dia tahu ada sekitar dua puluh bodyguard berkeliaran di sekitar rumah Hinata, wajahnya nggak akan sedatar itu.

"Sasuke-kun, b-bagaimana kau bisa sampai di sini?"

Manjat pagar dong, Sayang. "Tidak penting untuk sekarang, boleh aku masuk?"

Tuh kan! Mau ngapain masuk kamar cewek!

"B-baiklah..."

Oh, Hinata, polos banget sih kamu.

Sasuke memanjat jendela kamar Hinata dengan susah payah, Hinata mau nggak mau mengulurkan tangan untuk menolongnya.

Menginjak lantai, selamat sehat wal'afiat, Sasuke nggak membuang waktu lagi. "Hinata, dengar, kita harus kabur dari sini."

"A-apa?"

"Just kidding," kata Sasuke datar, Hinata menghembuskan napas lega. Selera humor Sasuke emang rada sadis. "Kita akan menjalankan rencana Naruto untuk membujuk ayahmu supaya membatalkan rencana perkawinan kalian."

"Maksudmu perjodohan? Tunggu dulu, rencana Naruto?"

Sasuke sendiri juga kurang yakin, tapi untuk insan yang sedang jatuh cinta, yang nggak masuk akal terdengar jadi masuk akal.

Tiba-tiba terdengar ketukan di depan pintu.

"Hinata, kau baik-baik saja?"

Muncul sosok Neji dari balik pintu. Hinata berdiri kaku di tempatnya, menahan napas, Sasuke cuek dan pasang poker face. Melihat situasi seperti ini, orang waras mana pun pasti akan melakukan apa yang dilakukan Neji.

"Kurang ajar kau, Uchiha!"

Sasuke mundur selangkah ketika Neji yang berubah beringas mencoba untuk menerkamnya.

"Kubunuh kau!"

-#-

Masyarakat versus Sasuke Uchiha, atas tuduhan pemerkosaan, bagaimana vonis terdakwa?

"Jadi... bocah ini ada di kamar Hinata karena...?"

"Saya sendiri juga kurang tahu." Suara Neji terdengar frustasi.

Ruang keluarga Hyuuga diliputi suasana tegang sejak lima belas yang lalu. Faktor utamanya sih gara-gara Neji. Sasuke sih santai-santai saja, Hinata enggan buka suara, sementara Hiashi masih nggak ngerti apa sebenarnya yang terjadi.

Neji geregetan, kalau Sasuke keluar dari ruangan ini tanpa lecet sedikit pun, dia akan mengutuk dirinya sendiri yang nggak becus dalam melindungi adik sepupunya.

Hiashi menoleh ke arah Sasuke yang kalem seperti biasa. Dia duduk dengan punggung diletakkan pada sandaran kursi, tangannya disilangkan di depan dada. "Anak muda, apa yang kau lakukan di kamar putriku?"

"Tidak ada." Sasuke menjawab dengan suara setenang permukaan air. "Saya hanya ingin berbicara dengan Hinata."

"Bohong! Dasar bocah mesum!" Sama seperti Sasuke, suara Neji juga setenang permukaan air. Permukaan air Sungai Ciliwung yang lagi banjir.

"Neji, cukup." Hiashi masih nggak ngerti apa yang terjadi pada Neji, belum pernah sebelumnya dia melihat Neji kehilangan kendali seperti ini. "Hinata, kau sendiri yang mengizinkan anak ini masuk ke kamarmu?"

Hinata, gemetar dari kepala sampai kaki, mengangguk.

"Kenapa? Kau tahu kau tidak boleh mengizinkan anak laki-laki masuk ke kamarmu."

Hinata bicara dengan suara bergetar. "S-sasuke... tidak bermaksud buruk..."

"Darimana kau tahu, Hinata?" Kalau tatapan bisa membunuh, Mikoto pasti udah nangis-nangis karena anak bungsunya tewas di tangan Neji Hyuuga.

Hinata memainkan jemarinya, kebiasaan kalau lagi gugup. "Kami... teman baik."

"Kami pacaran."

Um... oke, Sasuke, terserah kau saja. Improvisasi memang kadang dibutuhkan.

"APA?!"

"Well, belum resmi, tapi sebentar lagi." Sasuke memandang Neji dengan tatapan puas. "Maka dari itu, saya mohon agar Paman membatalkan perjodohan ini."

Hiashi mengerutkan dahi. "Darimana kau tahu?"

"Saya yang memberitahu dia."

Datang tepat ketika dia dibutuhkan, datang pahlawan kita.

"Naruto?!" Untuk kedua kalinya hari ini, Neji menjerit dengan tidak elit.

"Paman Hiashi, saya memohon Anda untuk membatalkan perjodohan ini." Naruto bicara dengan lantang, pandangannya lurus tertuju pada Hiashi. Sejak hari dimana dia mengenal Naruto, Sasuke belum pernah melihatnya seserius ini.

Hiashi memandang Naruto, Hinata, dan Sasuke bergantian, akhirnya mengerti apa yang sedang terjadi."Kau tahu aku tidak bisa melakukannya."

"Karena janji dengan ayah saya?"

Hiashi tidak menjawab. Tapi tatapannya mematikan.

"Perjanjian konyol, lebih tepatnya."

Hanabi muncul dari balik pintu, melangkah masuk ke dalam ruangan dengan langkah ringan.

"Tapi tenang saja. Naruto-kun tidak meminta Ayah untuk membatalkan perjanjiannya, hanya perjodohan dengan nee-san." Hanabi berjalan mendekati Naruto, berdiri tepat di sisinya. Gadis itu mengulas senyum, bikin merinding semua insan yang ada di ruangan. Entah apa yang dia rencanakan selanjutnya, yang jelas, Neji punya firasat buruk.

Hiashi memicingkan mata. "Jelaskan maksudmu, Hanabi."

Senyum Hanabi makin lebar, pandangannya berpindah dari Hiashi, ke Naruto. Detik berikutnya, lengan mungilnya menggamit lengan Naruto dengan begitu erat. "Aku akan menggantikan nee-san."

"APA?" Oke, sampai di sini batasnya, Neji tidak bisa menerima lebih banyak kejutan.

Untungnya Hiashi telah membiasakan diri dengan pola hidup sehat dan anti sama yang namanya makanan berkolesterol, jadinya nggak gampang kena serangan jantung deh.

Naruto memang pribadi yang penuh kejutan. Bahkan Sasuke, yang merupakan bagian dari rencana, sama sekali nggak tahu kalau ada anak di bawah umur yang dilibatkan. Naruto mungkin sengaja nggak bercerita tentang Hanabi, karena pastinya kalau Sasuke tahu, dia bakal langsung menghakimi dan menolak rencana Naruto. Selama ini, yang Sasuke tahu, Naruto sukanya sama Sakura, dan ini semua demi cintanya pada Sakura. Padahal, baru kemarin, untuk pertama kalinya, Sasuke memandang Naruto dengan rasa kekaguman. Baru kemarin, dia memandang Naruto sebagai laki-laki yang berani memperjuangkan cintanya. Kemarin, Naruto yang biasanya cuma aib jadi sosok yang memberi Sasuke inspirasi. Sasuke jadi merasa didustai, ternyata Naruto nggak lebih dari seorang...

"Pedofil!"

Dada Neji naik-turun, dari ekspresi mukanya terlihat sekali bahwa dia terluka. Gimana nggak? Kedua adik sepupunya yang manis, yang selalu dia cintai, sayangi, dan selalu berusaha dia lindungi, dinodai oleh dua cowok paling... apa ya kata yang tepat buat mendeskripsikan mereka? Oh ya, bejat.

Sasuke tidak bisa menyalahkan Neji sepenuhnya. Terutama tentang Hanabi. Siapa sih yang nggak murka kalau ada cowok bermuka oom-oom berniat menikahi adik sepupunya yang masih polos? Hanabi bahkan kaya'nya belum genap sepuluh tahun.

"Tapi Hanabi baru tiga belas tahun!"

Oh well, setidaknya tidak seburuk yang Sasuke bayangkan. Tapi tetap saja, seriously, Naruto?

"Paman tidak perlu khawatir. Aku akan menunggu sampai Hanabi berusia paling tidak dua puluh tahun. Yang jelas, saya tidak bisa melakukannya dengan Hinata. Lagipula, Hinata dan Sasuke..."

"Hampir resmi berpacaran," sambung Sasuke.

"Hampir resmi berpacaran," Naruto mengangguk setuju.

Baiklah, mari kita rekap terlebih dahulu. Naruto jatuh cinta sama Hanabi, berniat nembak tapi terhalang gara-gara Naruto malah dijodohin sama kakaknya Hanabi, Hinata. Jadi, dia punya ide jenius buat... tunggu dulu, kenapa nggak tinggal ngomong aja sama Hiashi dari dulu? Kaya'nya Hiashi juga nggak bakal keberatan kalau Naruto maunya sama Hanabi. Yang penting kan anaknya dijodohin sama anaknya Minato. Ah, sudahlah.

Yang penting semuanya dapat happy ending. Sasuke jadian sama Hinata, Naruto jadian sama Hanabi (so what gitu loh sama Komnas Perlindungan Anak), Hiashi dan Minato memenuhi janji masa muda mereka, Neji... well, untuk sekarang Neji belum mendapatkan happy ending sih. Yang sabar aja ya, Neji.

-#-

"Jadi, mereka ketemu di dojo?"

"Iya. Naruto-kun sering di-K.O sama Hanabi."

"Bisa kubayangkan."

"Karena itu, Naruto-kun ingin diajari khusus oleh Hanabi. Setiap hari, ketika yang lainnya sudah pulang, mereka berdua akan tetap berada di dojo, berlatih. Karena sering menghabiskan waktu bersama, mereka pun akhirnya jadi dekat."

"Ah, itu sih modusnya si Dobe."

Hinata terkikik, tawa paling merdu yang pernah didengar Sasuke. Ah, dasar orang kasmaran.

Sasuke selalu menganggap dirinya beruntung. Ganteng, kaya, jenius, populer. Iya sih, dia agak awkward kalau sama cewek, tapi tahu nggak? Yang membuatnya jadi orang paling beruntung di dunia adalah, dia dapet cewek yang sama awkward-nya dengan dia. Berdua, mereka jadi pasangan awkward paling imut di muka bumi.

"Ne, Sasuke-kun?"

Sasuke memandang gadisnya. Gosh, haruskah dia secantik ini? Dibandingkan dengan sinar mentari pagi itu, senyum Hinata tetap lebih cerah, di antara bunga-bunga yang bermekaran di halaman belakang rumahnya, Hinata tetap yang paling cantik.

"Hm?" Sasuke menjawab, setengah nggak sadar karena terhipnotis sama wajah angelic Hinata.

"Ini semua rencana Naruto-kun ya?" tanyanya. Wajah Hinata terlihat sendu ketika mengatakannya. Bagi Sasuke, ekspresi Hinata yang satu ini yang paling mematikan, karena siapa pun yang melihat ekspresi Hinata sekarang pasti takluk padanya, bawaannya jadi pengen ngasih Hinata lollipop gratis dan berkata bahwa semuanya baik-baiknya.

Sasuke butuh waktu beberapa detik sebelum benar-benar mencerna pertanyaan Hinata dengan sempurna. Dia menampilkan senyum, seringaian khas Uchiha yang bikin insan berkromosom X ganda mana pun menggelepar. "Bagian mananya? Bagian Neji mergokin kita di kamar sama sekali tidak direncanakan."

Hinata tertawa pelan, tapi dari ekspresinya Sasuke tahu dia masih punya satu pertanyaan.

"Ya." Sasuke menjawab dengan mantap. "Semuanya direncanakan. Tapi bukan oleh Naruto. Oleh Tuhan, mungkin?"

Smooth... udah kaya' playboy profesional aja nih Sasuke.

Hinata tersenyum, mukanya bersemu merah. Sasuke akan memberikan apa pun untuk melihat muka Hinata yang imut-imut kaya' gini setiap hari.

"Hinata." Namanya meluncur begitu saja dari mulut Sasuke.

"Hm?" Mata lavender itu menatap Sasuke lembut. Kenapa keturunan Hyuuga harus punya sepasang mata yang begitu cantik? Bikin susah aja.

Oke, selanjutnya, apa yang harus dia lakukan? Oh God, dia sama sekali belum merencanakan yang satu ini. Sasuke yang tadinya udah percaya diri, kembali ke jati dirinya yang asli: canggung dan gampang salting. Sasuke menelan kegugupannya.

Ini dia, momen paling menentukan dalam sejarah hidup Sasuke. Masa depan Sasuke, apakah dia bisa mendapatkan perempuan yang cantik dan pinter masak ini sebagai pendamping hidup, apakah dia bisa mendapatkan keturunan hybrid Uchiha-Hyuuga yang keren, semuanya tergantung pada momen ini. Eh... Sasuke ini mau nembak apa ngelamar sih?

"Hn. Kau mau... resmi berpacaran?"

Payah. Tolol. Bego. Ini yang kamu sebut nembak, Sas?

Yah, maklum aja sih, namanya juga baru pertama kali.

Untungnya ini juga yang pertama kalinya bagi Hinata, jadi dia sama sekali nggak bisa bedain cara nembak yang keren dan yang payah. Dibilang juga mereka ini pasangan serasi.

Senyumnya merekah. Amboi, manis sekali. "Mau kok."

Hinata yang hobi pakai flat-shoes, harus berjinjit sedikit. Postur tubuh Sasuke yang agak bungkuk mempermudah Hinata untuk menghapus jarak tinggi badan di antara mereka. Bermodalkan nekat dan pengetahuan minim yang didapat dari seringnya baca shoujo manga, Hinata melingkarkan kedua tangan di leher pacarnya (udah resmi loh sekarang), dan mencium Sasuke.

.:: the end ::.

Just kidding. Masih pada penasaran kenapa Neji punya dendam kesumat sama Sasuke?

Oke, jadi ceritanya berawal sepuluh tahun yang lalu...

Sepulang sekolah, Neji kecil biasa menghabiskan waktunya di tempat penitipan. Orang tuanya yang sibuk hanya punya waktu untuknya setelah jam tiga sore. Dia sama sekali nggak protes, dia telah memberitahu dirinya sendiri bahwa dia cukup dewasa untuk memaklumi pekerjaan orang tuanya. Neji yang berusia tujuh tahun memang punya kedewasaan yang levelnya jauh di atas teman-teman sebayanya.

Hm... nggak juga sih.

Di tempat penitipan, Neji cuma bisa disibukkan sama satu mainan. Nggak bisa yang lain. Harus yang itu. Pesawat-pesawatan warna oranye dengan corak warna merah dan putih. Disimpan dengan aman oleh Neji setiap harinya di lemari paling ujung, di belakang boneka Teddy Bear usang yang kehilangan satu bola matanya. Selama ini tempat persembunyiannya cukup aman, tidak ada yang mengetahuinya kecuali Neji sendiri.

Sampai bocah itu datang...

Di suatu hari yang normal, Neji datang sendirian ke tempat penitipan, meletakkan tas punggungnya, dan bergegas ke lemari ujung tempat si Teddy Bear jelek bertengger manis. Neji dengan semangat menggeser Teddy Bear jelek itu, hanya untuk mendapati bahwa mainan favoritnya tidak ada di sana.

Mainannya tidak ada di sana. Melainkan di tangan bocah itu.

Neji memicingkan matanya pada bocah itu. Rambut hitam jabrik dan kedua bola mata onyx yang sama sekali tidak memancarkan rasa ketertarikan terhadap pesawat mainannya. Mainannya. Punya Neji!

Detik berikutnya, murni karena kesalahan pilot, pesawat oranye kesayangan Neji mengalami kecelakaan tragis, dengan satu korban jiwa. Jiwa Neji!

Sejak saat itu, nggak cuma pesawat mainan Neji aja yang direbut dan diporak-porandakan Sasuke. Waktu SD, reputasi Neji sebagai anak jenius dikalahkan. Waktu SMP, sama juga. Tapi yang paling parah baru saja dimulai ketika dia menginjak bangku SMA.

Dan sekarang, Neji duduk di kursinya, berusaha untuk menahan air mata tapi sia-sia.

Hinata terlihat sempurna dengan gaun putih gading yang dikenakannya. Rambut indigo-nya telah mencapai pinggang, Neji ingat ketika dulu rambut pendek Hinata hanya mampu menutupi sebagian telinganya. Wajahnya yang cantik dipoles dengan make-up ringan, tapi riasan paling ampuh untuk mempercantik wajahnya adalah senyum bahagia yang terulas di bibirnya. Tangan kanannya menggenggam rangkaian bunga lili, lengan kirinya menggamit lengan ayahnya seraya melangkah dengan anggun dan mempesonakan para tamu undangan.

Dan di sana, di ujung altar, berdiri si brengsek itu, dengan setelan dan dasi hitam. Rambut hitam jabriknya yang tak bisa diatur benar-benar mengganggu pemandangan. Kedua mata onyx-nya terpaut pada satu wanita saja, senyum tipis menghiasi wajahnya.

Neji tak akan pernah memaafkannya. Tak akan pernah.

Dan ketika dia mengusapkan tisu ke pelupuk matanya, melihat adik sepupunya mengikrar janji, baru saat itulah Neji akhirnya mengakui bahwa ini juga merupakan happy ending buatnya.

.:: the end (beneran) ::.

Oke, yang terakhir itu alternate ending. Iseng-iseng aja sih buatnya. Kalau ada yang pengen berhenti sampai "the end" yang pertama juga halal-halal aja kok.

Anyway, selamat hari raya Idul Fitri bagi yang merayakan! Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf atas semua kesalahan yaaa, seperti sering bikin kesel gara-gara telat update dan sebagainya. ^^ Huhuhu entahlah karena sibuk (alah) ini-itu jadi agak melalaikan pekerjaan yang satu ini. Jiah pekerjaan, kaya' digaji aja. =_= Daaan ternyata fanfic ini umurnya udah setahun. Wow. Ngapain aja sih ni author, 8 chapter aja setahun baru komplit. Ckckck.

Tapiii syukurlah akhirnya tamat juga! Tamat, saudara-saudara! Nggak discontinued! Woohoo prestasi tersendiri nih, hiahaha. Terima kasih bagi saudara-saudaraku yang sudah serius mengikuti fanfic yang ceritanya sama sekali nggak serius ini. Bagi yang ngefave, ngefollow, ngereview, kalian adalah bahan bakar yang bikin fanfic ini bisa jalan terus. Tanpa kalian, rasa malas saya pasti sudah mengambil alih dan fanfic ini akan tercampakkan. Sooo... arigatou gozaimasu aishiteru I lap you pul!

One last request, leave a comment please?