Yeayyy….saya update…

Setelah sekian lama…XD

Semoga ngga kelamaan nunggu update fic ini #kalo ada yang nunggu, hhaa

Okeh…langsung saja…

Enjoy reading Minna (^_^)/

.

.

.

Watch in Time

.

.

.

Original Chara: Tite Kubo

Story: Ayra el Irista

.

.

WARNING:

OOC, AU, GAJE, TYPO(S), Abal, Kacau, Membosankan, Bahasa ngawur, Tanpa Pemeriksaan Ulang dan Dan seterus nya dan seterusnya...

(Kemungkinan mata sakit, sedikit bergeser, atau rabun mendadak,

silakan hubungi rumah sakit terdekat XD #Nyahaha)

Rated : M

Pairing: IchiRuki

Don't like Don't read.

(^_^)

Last…Enjoy reading!

.

.

.

Chapter 8

Perasaan Rukia

Rukia menguap. Untuk yang kedua kalinya dalam satu menit. Mata sayu yang terlihat mengantuk itu berusaha menatap rumus aljabar yang memenuhi papan tulis seperti akar serabut. Hasil karya Kariya Sensei setelah hampir satu setengah jam menjelaskan tentang persamaan x dan y dari beberapa soal yang ada dalam buku.

Semua siswa sedang menenggelamkan diri pada seluk-beluk aljabar yang sudah Rukia pahami beberapa bulan lalu saat mengikuti olimpiade. Sedikit rumit memang—tapi dia sendiri cukup menyukai materi ini.

Jin Kariya adalah guru matematika yang cerdas. Pintar mengajar hingga murid tak sulit untuk memahami. Terbiasa menyampaikan penyelesaian soal dengan jalan sederhana dan mudah di ingat. 'Tak perlu meniru sama persis apa yang ada di buku. Dalam matematika, banyak jalan menuju Roma' katanya suatu waktu dengan senyum simpul khas miliknya.

Dia tak menghabiskan musim gugur kali ini untuk membenamkan otak Rukia ke dalam rumus-rumus yang akan muncul di lembar soal olimpiade. Event yang terakhir kali membawanya ke Swiss itu telah selesai beberapa bulan lalu dan ia sedang menikmati masa hibernasi. Menikmati acara mengajar di kelas yang sempat hilang dan menyurutkan jiwa seorang pendidik.

Mengingat soal pendidik, Rukia kembali menguap seraya memikirkan Ichigo. Guru Sastra Klasik baru yang sukses membuatnya terjaga semalaman—nyaris, karena akhirnya Rukia tertidur pukul empat pagi, setelah memikirkan perdebatan yang tak penting.

Saat itu sudah menunjukan pukul sebelas lewat tiga puluh lima malam dan dengan antusiasnya, Rukia masih terduduk di sofa seorang diri. Memainkan game "Clash of Clans" selama hampir dua jam lebih untuk menunggu kepulangan Ichigo ketika pintu kamar akhirnya terbuka.

Rukia kesal—sebenarnya, hingga ia diam saja tanpa menoleh sedikitpun suaminya yang ia tahu baru saja masuk ke kamar. Tak di luangkan waktu karena pria berambut aneh itu selalu sibuk semenjak kedatangan mereka ke dunia manusia, membuat Rukia berpikir dia bukan lagi prioritas utama bagi Ichigo dan cukup memanasi kepalanya.

Kurosaki muda masuk dengan sedikit terkejut. Mendapati Sang Istri Mungil masih sibuk mengotak-atik benda datar dengan suara berisik dan kamar yang terang. "Kau belum tidur?"

Ia berjalan mendekat setelah menutup pintu dan mengendurkan dasi. Di lepasnya jas yang ia pakai saat mengajar tadi pagi dan menyampirkan ke kursi. Menjengukan kepala di bahu Rukia untuk mengintip.

"Apa yang sedang kau lakukan?"

"Main game." jawab Sang Putri menahan nafas begitu mencium bau manis. Ichigo seharusnya beraroma keringat yang kecut karena pergi seharian. Tapi anehnya, dia justru tetap memiliki wangi menyegarkan yang memikat meski belum mandi. Apa keringatnya itu adalah parfum alami?

"Sudah malam. Kau harus tidur." perintah Ichigo mengacak rambut hitam super lembut lalu beranjak ke lemari. Berkacak pinggang untuk mencari baju tidur yang ia beli beberapa hari lalu bersama Unohana.

Tanpa menyadari dua bola mata menyeramkan yang menatap punggungnya seperti target tembakan laser, Ichigo kembali bersuara.

"Bukankah kau harus ke sekolah pagi-pagi?" tanyanya menarik kaos putih polos dan celana pendek. Meneleng saat merentangkan celana basket dan tak bisa membayangkan betapa kakinya akan terlihat jelas dengan tidak sopannya. Sesuatu yang tak patut di lakukan oleh seorang anggota kerajaan. "Kau belum mengantuk?"

Masih tidak ada jawaban saat Ichigo melipat celana asal dan menyimpannya kembali ke tumpukan baju. Mengomentari betapa buruk selera para manusia dan berbalik untuk mengecek tubuh meringkuk dengan wajah serius.

"Tempat tidurmu kurang nyaman?"

Rukia mengumpat dalam hati dengan muka merah.

Oh—bagus. Bagaimana Lelaki Labu itu tahu jika sekarang ia tidak bisa tidur nyenyak tanpa tubuh keras yang menempel di punggungnya? Apa Rukia sempat mengiggau yang tidak-tidak saat tertidur?

Dia mendecak sebal. "Sangat nyaman, Tuan Pangeran. Apalagi jika kau tidak ada di sana." sungutnya berdiri dan melempar tablet ke atas sofa yang langsung mati. Menuju tempat tidur dengan hentakan yang teredam di atas karpet bulu bergambar mozaik. "Selamat malam."

Ichigo mengulum senyum. Memperhatikan tangan kecil yang menarik selimut dan menyembunyikan tubuh seperti boneka di dalamnya. Mirip buntalan kepompong yang masih berusia muda.

"Kalau begitu aku akan tidur di kamar lain."

Kepala dengan rambut berantakan sontak bangkit. Menatap tajam dengan selimut menutupi separuh badan.

"Apa?"

"Kau bilang sangat nyaman jika aku tidak ada disana." Ia menunjuk ruang kosong di sebelah Rukia yang masih rapi. Berwajah tersinggung meski sedang menyembunyikan gurat tawa yang menarik tulang tirus pipinya untuk mengerucut. "Kamar di rumahmu ada banyak. Aku bisa meminta Unohana menyediakan satu untukku."

Nona Kuchiki mengadu gigi keras dengan kening berkerut. "Apa kau pergi dengan Unohana tadi?"

"Ya. Kenapa?"

'Ya. Kenapa?' ulang Rukia membatin. Ia mendengus dan menendang selimut. Berjalan cepat menuju pintu dan melewati Ichigo yang berkernyit.

"Kau mau kemana?"

"Keluar." jawabnya cepat. "Kau—tidur saja disini."

"Rukia—"

Dengan cepat lengan Sang Putri yang terangkat untuk memutar kenop tercekal hingga ia melonjak. Terpekik karena belum terbiasa dengan kemunculan tiba-tiba suaminya yang memakai sihir.

"Sudah kubilang jangan muncul seperti kau itu hantu!" serunya kesal lalu menarik tangan yang tak kunjung di lepaskan. Berteriak frustasi ketika usahanya tak ada hasil. "Lepaskan aku, Tuan Labu!"

"Tenangkan dirimu. Kau seperti ingin menyeruduk dinding."

Tunggu—dia menyamakanku dengan banteng?

"Kau yang membuatnya begitu!"

Ichigo mengernyit. "Aku?"

"Ya—kau membuatku kesal dan ingin terus mengamuk Ichigo Kurosaki." sengit Sang Putri memejamkan mata lelah. Bercerai sepertinya tidak buruk untuk sekarang. Dia kewalahan untuk menahan rasa penat ini seorang diri di usia muda tanpa seseorang yang menuntunnya. "Lebih baik kita ber—" Rukia menahan suaranya. Mengerjap saat menatap mata amber yang kini menyidik curiga. Membatalkan rasa gatal yang hampir saja merajalela "Cukup—aku mau tidur."

"Kau ingin mengatakan lebih baik kita berpisah?"

Ichigo menarik tubuh Rukia mendekat hingga saling beradu. Menegaskan betapa ia begitu sensitif dengan kata-kata itu dan bisa membuatnya meledak hanya dengan mendengarnya.

Di tatapnya amethyst dengan tajam. Mengembangkan bunga-bunga kemarahan pada dadanya yang naik. "Aku tidak mengerti, Rukia. Katakan apa kesalahanku."

"Karena menahanku yang ingin pergi tidur."

"Apa?" Ichigo setengah menganga.

Asal saja—Rukia menjawab. Ia bahkan tak paham apa yang sedang terjadi pada dirinya. Seperti anak kecil yang menjengkelkan karena keinginannya tak di mengerti. Bukankah seharusnya ia tak boleh bersikap begitu. Menutupi kecemburuan yang justru bisa meretakkan hubungan yang sedang susah payah ia perbaiki.

"Kau tidak membiarkanku tidur dan itulah kesalahanmu." ulangnya berbohong dan Ichigo menggeram seraya menutup mata.

"Berhentilah bercanda, Gadis Landak." Ia meminta. Membasahi bibir kemudian baru berbicara lagi. "Katakan apa yang telah membuatmu marah."

"Kau ingin tahu?" tanya Nona Kuchiki menaikan satu alisnya tinggi-tinggi dan Sang Pangeran tak kalah gusar.

"Ya."

Ia berucap tegas dengan leher yang menegang serta bahu tak seimbang. Bergerak brutal dan membuat hempasan nafas tak beratur.

Rukia membuka mulut—akan berkata. Namun kemudian ia mengerjap dan menarik udara panas lewat hidungnya yang terasa pengap. Sudut mata Ichigo sudah berkilat dan akan menyambar jika Rukia melanjutkan isi dalam mulutnya. Dia akan tertelan dalam kemarahan lelaki itu jika berani bicara lebih tak masuk akal lagi.

Meski terkadang dia bertindak semaunya, tapi kemarahan Ichigo adalah hal terakhir yang ingin dia lihat seumur hidup dan sebisa mungin di hindari.

Kemudian menunduklah si mungil seraya mengambil jarak mundur. Merasa tak sanggup untuk mengutarakan kebenaran.

"Tinggalkan aku sendiri, aku mau tidur."

Dan Penyihir Hitam Terhebat itu tak pernah semarah ini sebelumnya hingga ia merasa sedang di siksa oleh api dunia bawah. "Kau tidak pernah mengatakan apa yang kau inginkan. Itulah masalahmu!" amuk Ichigo dengan kesal. Berbalik untuk memegang kepalanya yang berdenyut seraya meremas baju kuat. "Kau hanya diam lalu marah tanpa mengatakan apa alasannya dan selalu membuatku menjadi pihak yang bersalah!" geramnya menunjuk dengan mata melotot dan seolah tertarik paksa—kemarahan Rukia juga ikut muncul untuk melawan.

"Jika kau memang tidak suka maka silakan tinggalkan aku saja. Aku tidak pernah memintamu untuk bisa mengerti!" jeritnya tak kalah pedas meski hatinya memerintah untuk tak bicara lagi. Itu tak seperti apa yang ia inginkan—bukan itu yang ingin Rukia katakan. "Dan jika kau ingin pergi silakan saja!"

Ya Tuhan—semuanya jadi kacau.

Mulut Ichigo terbuka lebar. Tak percaya istrinya benar-benar meminta untuk meninggalkannya. Seperti perasaannya selama ini hanya barang lusuh tak bernilai di jalanan. Di remas dan di campakkan untuk ikut hanyut mengikuti aliran sungai berwarna keruh yang tak tahu akan berujung dimana.

Ichigo bisa mengatasinya—berapa kalipun sikap kekanakan Rukia muncul, ia tahu pemilik surai gagak itu hanya berharga diri tinggi. Keegoisan bisa Sang Pangeran terima mengingat ia yang memaksa gadis itu menikah dengannya. Tapi terkadang kelelahan untuk bersabar juga masuk begitu mudah seperti gas meresap ke pori-pori kulit dan membuatnya tak bisa berpikir panjang.

Hanya satu.

Ia hanya ingin Rukia mengatakan apa yang di rasakan dan mempercayai dirinya. Itu saja! Tapi firasatnya mengatakan itu tak akan pernah terjadi meski warna rambutnya berubah memutih nanti.

Di anggukannya kepala seraya melempar kaos yang terpegang ke kursi. Menatap kecewa istrinya yang berdiri kaku di bawah sinar lampu.

"Baiklah—aku mengerti." ucapnya mengeratkan rahang. "Aku pergi."

Dengan cepat, di langkahkannya kaki dan menutup pintu keras. Seolah ingin memamerkan pertengkaran besar mereka yang berarti segalanya—kehancuran. Memukul pipi Rukia seperti pintu itu sendiri yang menghantam wajahnya.

Dia memegang dahi dengan kedua tangan—menyesal. Tak berharap bisa sampai semarah itu hanya karena hal sepele.

"Demi Tuhan, Rukia—apa masalahmu?!" sengitnya pada diri sendiri dan berjalan mondar-mandir. Amat frustasi. Menegakan wajah sesekali untuk melihat atap putih dengan lampu kristal kecil yang terbentuk dari bola kaca. Menghela nafas dan rasa sedih kian menghempas hatinya.

Apa sulitnya untuk berkata 'Ichigo, aku tidak suka kau berdekatan dengan Unohana' atau 'Ichigo, aku merasa cemburu setiap melihatmu bersama Unohana'. Rukia yakin suaminya itu sangat dewasa sekali hanya untuk mengerti keadaannya. Tak perlu repot untuk mengadakan acara pertengkaran yang sekarang—membuat lelaki itu justru semakin jauh untuk di jangkau.

"Ini gila." bisiknya pelan. Memejamkan mata untuk menahan emosi labil yang mulai menarik-narik lelehan bening agar keluar. Menghancurkan kemandirian seorang Kuchiki dan perlahan menyadari dirinya berubah.

Rukia yang dulu tak akan pernah menangis—apalagi karena kepergian seorang laki-laki. Rukia yang dulu tak akan merasa kesepian jika menghabiskan waktu seorang diri. Rukia yang dulu tak akan bergantung pada orang lain karena terbiasa melakukan semuanya sendiri.

Sementara Rukia yang sekarang?

Dia tahu penyebab perubahan drastis ini. Kegelisahan dan rasa lainnya yang bertumpuk selama beberapa hari belakangan, itu bisa di lihat di—

Ia mengulurkan tangan. Menarik lengan piyama yang panjang pelan sekali dengan jantung berdebar dan ketakutannya terbukti nyata.

Bunga magnolia semerah darah telah bermekaran hingga ke lekuk lengan dan masih terus merambat naik. Menyalurkan perasaan tersangkal Sang Putri untuk menjadi pembuktian tegas—bahwa dia ternyata sangat mencintai lelaki berperangai keras bermarga Kurosaki. Dia menyembunyikan getaran yang selama ini mengganggu. Terus tertutup—namun terkuak kala cat hidup merambat memenuhi kulit tubuhnya.

Ia sangat mencintai Pangeran Labu.

"Rukia!"

Suara Tatsuki berdenging tujuh oktaf dan membuat Rukia tersentak. Ia mengerjap seraya menggumam seperti lebah saat mendapati kelas sudah ribut tanpa Kariya Sensei lagi di depan kelas dan beberapa sudah berjalan keluar.

"Mau sampai kapan kau melamun? Cepat ambil bajumu." suruh Tatsuki gemas dan bersedekap. Mengapit pakaian olahraga di dadanya dan Rukia buru-buru menyimpan buku matematika ke dalam laci. Bahkan ia tak mendengar bel pergantian kelas—sejak kapan kupingnya tuli? "Kau tahu apa yang ku pikirkan?"

Si nomor satu mendesah. "Aku aneh." jawabnya memutar bola mata malas. Mengambil tas kertas berisi pakaian olahraga lalu berdiri. "Melamun di tengah pelajaran Matematika."

"Tepat sekali." Tatsuki menggeser tubuhnya dan mengekor di belakang Rukia. Keluar kelas melewati lorong untuk menuju ruangan kosong di sebelah kelas yang berlabel 'Ruang Ganti'. "Ada apa denganmu? Akhir-akhir ini kau tampak—" Telunjuknya menempel di sela kening. "Memiliki kerutan di sini."

Rukia menghela nafas berat. Membuka pintu ruang ganti yang sudah ramai dan langsung menuju loker 17 dengan sedikit berhimpitan. "Hanya kurang tidur. Persiapan festival kebudayaan menguras isi kepalaku. " dustanya membuka kancing baju dan melepas gontai. Mengenakan kaos longgar berwarna putih dan training hitam kemudian membisu. Merasakan denyut yang membuat dadanya sesak ketika tak sengaja melihat warna orange dari foto langit senja yang tertempel di loker sebelahnya.

"Kau tahu aku bisa melihatmu jika berbohong." tukas Tatsuki muncul dari balik pintu loker. Sudah selesai dan mengamati temannya yang beralih memakai sepatu. "Kau mungkin pandai mengelabui orang lain, tapi aku sudah mengenalmu sejak lama, Rukia. Kau tetap bisa tidur meski besok adalah ujian akhir sekolah."

"Baiklah." Gadis berambut hitam itu menyisir rambut asal dan mengikatnya ke atas. Menyisakan sedikit rambut pendek dan menatap lurus. "Sepertinya aku melakukan kesalahan, Tatsuki."

Nona Arisawa berkernyit.

"Kita harus cepat jika tak mau Kenpachi Sensei menghukum keliling lapangan sepuluh kali." ujarnya melangkah cepat setengah berlari. Menuju gedung olahraga yang berada di belakang sekolah dan menyempatkan diri untuk menoleh saat gadis jangkung menjajari langkahnya.

"Kau harus cerita nanti. Akan ku buat kau bicara bagaimanapun caranya."

Rukia tersenyum setengah tertawa. Mengangguk kecil dan menyusun sebuah cerita untuk mengelabui Tatsuki yang tak mudah di bohongi mengenai Ichigo.

.

.

.

Setelah berlari sepuluh kali, anak-anak kelas langsung berkumpul di lapangan voli untuk melakukan peregangan. Membagi kelas menjadi beberapa tim untuk nantinya bertanding voli dan di awasi langsung oleh Kenpachi Sensei yang duduk di pojok. Bersedekap dengan mata tajam dan rambut seperti kulit durian miliknya.

Pertama kali melihat, Rukia yakin jika ada balon yang tak sengaja terbang dan mengenai ujung rambut Kenpachi Sensei yang runcing—balon itu akan langsung meledak begitu malang. Dan ia berpikir untuk menguji cobanya lain kali sebagai pembuktian. Rukia sedikit usil bukan? Tidak, dia hanya iseng.

"Hei, itu Kurosaki Sensei."

Bagaikan magnet berukuran besar yang mampu menarik kepala seberapapun jarak yang terbentang, putri mungil sudah menanamkan kedua bola matanya pada lelaki yang kini tengah berjalan tegap seperti prajurit militer ke arah Kenpachi dan di iringi gumaman-gumaman bergemericik layaknya tuangan air dari teko.

"Ya, Tuhan—dia tampan sekali hari ini meski wajahnya lebih menyeramkan."

"Ahh—rasanya aku ingin di tatap terus-terusan oleh mata yang tajam ituuu~"

"Tidakah kalian lihat aura suramnya itu sangat berkharisma?"

Setelan jas abu cocok untuknya. Entah kapan Ichigo menjahit atau mungkin membelinya—yang jelas potongan itu sesuai dengan bentuk tubuh atletis yang mampu mendongkrak nilai plus menjadi tiga atau lima plus. Rukia tahu ia berlebihan, tapi kenyataannya—Ichigo memang luar biasa tampan.

Bibir kecil Putri Kuchiki tertarik getir. Mendengus sebagai tanggapan bisu mengenai komentar para siswi yang membuat dadanya ngilu.

Lelaki itu, yang kini tengah tertatap sendu oleh Rukia—adalah lelaki yang di kagumi oleh hampir separuh murid perempuan semenjak kedatangannya sehari lalu dan juga—lelaki yang telah ia usir pergi.

Hebat sekali. Seorang Rukia membuang pria yang jelas-jelas ingin di miliki dan memilih untuk hidup merana bersama keegoisan yang sama sekali tak berguna. Menelan kepahitan sementara penawar dengan rasa manis sudah ia lempar ke laut dan tak punya daya untuk menyembuhkan. Penawar itu terlalu sempurna untuk di buat penggantinya.

Rukia rindu senyum Ichigo yang ingin ia bekukan agar bisa di lihat kapan saja; sikap jahilnya saat menggoda yang tak akan pernah bisa terlupa; juga perlakuan hangat yang selalu membuat jantungnya kewalahan.

Apa ada yang mau bercerai dari suami sekelas Ichigo?

"1-0."

Suara peluit berbunyi di ikuti pukulan keras bola voli yang kini melambung ke udara. Terlempar ke sana ke mari dengan umpan dari tosser yang membuahkan smash kuat dari Tatsuki yang tak mampu di kembalikan dan membuang bola keluar melewati garis.

"Out. 2-0."

Natsui Mahana meniup peluit kembali pertanda service boleh di lakukan. Mengamati serius pergerakan bola yang ketat dari dua lapangan dan Rukia berjalan mendekat dengan menggeleng tak percaya.

Berapa lama aku melamun sampai tak tahu permainan sudah di mulai. Lagipula Tatsuki tidak mengajakku bergabung seperti biasa. Ah—apa aku mengabaikannya lagi?

Ia mendesah. Melangkah gontai dan berharap tak ada yang memergokinya tengah menatap lekat pada Ichigo saat melamun tadi. Mereka'kan tidak boleh terlihat memiliki affair satu sama lain di sekolah dan itu juga atas permintaannya yang tak mau di bantah.

Apakah karena terlalu lelah berpikir atau pandangannya yang mulai rabun, visual Rukia tiba-tiba terganggu. Semua orang nampak seperti penampakan bayangan putih yang bergoyang dan semakin pudar. Meski berkali-kali mengerjap dan menggeleng, penglihatannya tak kunjung membaik.

Tiga langkah terakhir Si Pembawa Pesan sudah terseret karena mendadak kehilangan tenaga. Dingin tiba-tiba merengkuh tubuhnya, membuat Rukia limbung dan memegang dahi. Rasa mual mulai menjalar. Di ikuti sakit kepala dengan dengungan yang perlahan mulai menutupi seluruh pendengaran hingga tak bisa bernafas.

Oh—tidak, tidak. Dia tahu keadaan ini.

Rukia sangat membenci momen dimana ia mendapat pesan! Demi Tuhan, kenapa juga saat ia masih berada di sekolah? Bagaimana kalau orang-orang menganggapnya aneh?

Kegelapan kembali terlihat kala ia sudah membuka mata. Berada di dimensi lain tanpa keriuhan teman-temannya yang sedang bertanding. Tak panik seperti saat pertama kali membaca pesan dan justru mulai menunggu. Mengatur nafas yang tersengal dan menyeka pelipis yang berkeringat dingin sembari terus melihat sekeliling yang begitu gelap. Bisa di pastikan wajah Sang Putri sedang pucat pasi.

Sekelabat cahaya putih lewat begitu cepat. Mengejutnya dan ia bergidik seraya memicingkan mata. Horror memasuki pikirannya dan menerka-nerka apa gerangan yang baru saja melintas seperti komet ekor panjang tadi. Apakah hantu?

Gadis itu menelan ludah seraya memantapkan diri untuk berjalan mendekat. Meremas jemari kuat—berharap bahwa ia benar-benar bisa mengajak Ichigo untuk menemaninya saat menerima pesan agar ketakutannya bisa di terbangkan ke luar angkasa.

"Aku pasti memang gila." desisnya mengumpat saat menemukan keinginannya untuk maju lebih besar daripada ketakutannya akan hantu. Mungkinkah karena sekarang ia tahu kalau hollow itu lebih mengerikan daripada hantu? Bisa jadi.

Secara ajaib, setiap langkah yang ia pijak menimbulkan pendaran putih bulat yang akan hilang kala kakinya terangkat dan akan terbentuk lagi di langkah berikutnya. Satu-satunya penuntun yang menerangi gelap di sekeliling Rukia dan ia terkesima.

Menginjak dan mengangkat kaki di tempat yang sama beberapa kali untuk memainkan cahaya lalu terkikik. Menjejak area hitam untuk kembali menuju arah komet menghilang dengan sedikit waspada. Sejauh yang ia tahu, meskipun terbunuh disana, Rukia hanya akan merasakan sakitnya dan kembali hidup ketika sadar. Membuat kepasrahan menjadi jaminan untuk bergerak lebih berani.

Bukan jarak yang jauh, Rukia tahu ia semakin dekat dengan tempat yang di tuju karena kegelapan kian sirna. Di ujung sana—berpendar terang area sebesar pintu dan cahaya menyilaukan menyambut layaknya keluar dari sebuah gua ketika ia melewatinya.

Hembusan udara hangat menembus tengkuk Rukia yang masih mengenakan seragam olahraga. Ia mengira akan tiba di sebuah hutan dengan pohon rindang dan kicauan burung. Bau khas dedaunan yang segar juga rumput hijau yang lembut. Namun hanya sebuah dimensi serba putih dengan batu besar mirip nisan tertanam beberapa meter darinya yang hadir menyambut.

Mulanya Rukia mengernyit, namun ia yakin tak salah lihat. Sebuah pedang putih yang sangat bersih tertancap di sana. Begitu indah—warna serupa salju yang sangat cantik. Di temani lambaian pita metallic dan dua buah kristal mirip berlian kecil seukuran gundu, entah bagaimana di kepala Rukia tercitra seorang Putri Salju.

"So—" Ia mengeja tulisan yang terbubuh di atas batu begitu saja. Berwarna hitam dan menjurus ke bawah. "De-no—" Rukia menyipitkan mata. ""Shi-rayu—ki?"

Seolah terpanggil, terdengar dentingan halus dan Sang Pembawa Pesan mengerjap. Mundur beberapa langkah karena mendadak pedang bergetar dan Rukia hanya mampu menyilangkan tangan saat mendadak angin kencang menghantam dan menghempas tubuh mungilnya berguling-guling tak karuan ke belakang.

"RUKIA AWAS!"

Rukia membuka mata seraya menarik nafas panjang—kembali ke dunia nyata. Tak sempat menghembus ketika matanya justru terbelalak semakin lebar saat menatap bayangan gelap yang menuju ke arahnya dengan cepat tepat ke wajah. Bola voli!

Ia memalingkan muka. Setidaknya jika harus terkena bola, biarkan tulang pipinya yang menerima. Rukia tak mau hidungnya bengkok dan membuatnya semakin tak bisa bernafas karena nyatanya ia sedang menahan nafas seraya mengutuk para penyihir yang membuat nasibnya begini.

Di keratkannya rahang kuat dan berharap tak akan meninggalkan bekas garis yang tentu bisa menjadi sorotan para reporter jika muncul di media nanti. Tak boleh berbekas, tak boleh berbekas! Dan—

Sial!

Sekali lagi ia mengumpat dan bunyi letusan membuat Rukia melonjak dengan kuping berdenging. Di awali dengan dorongan angin pelan dan suara gesekan di lantai, jika pendengarannya masih normal, itu adalah suara letusan bola karena pipinya tak kunjung terasa pias. Hah—tunggu. Manusia mana yang bisa meledakan bola?!

.

.

.

Suasana gedung olahraga mendadak sepi. Tangan-tangan yang bergerak lincah berhenti dan mematung di manapun terakhir kali mereka bergerak. Tak ada yang bersuara. Hanya mengerjap, melotot atau mengernyit ngeri sebagai ekspresi pertanda kehidupan.

Satu hal yang sama-sama di lakukan adalah menatap lelaki berkacamata dengan tangan di atas lantai yang menekan sisa kulit bola. Masih berlutut tak peka setelah menimbulkan kehebohan yang menarik perhatian dengan menahan serangan smash Harribel yang salah arah dan menggebrak benda bulat itu sampai meledak.

Ichigo Kurosaki—tengah berbincang dengan Kenpachi ketika tiba-tiba ekor matanya menangkap tubuh mungil Sang Istri melimbung. Mencurigai gadisnya sedang membaca pesan, ia terus menatap waspada sebelum akhirnya ber-shunpo saat melihat bola melejit ke sana dan menggebraknya tanpa sadar.

Tatsuki menganga. Natsui mengerjap dan menjatuhkan peluit di tangannya. Sementara Rukia mulai bertanya-tanya siapa pelaku peledakan itu?

"Kau tidak apa-apa?"

Syaraf Rukia merespon berkali-kali lebih cepat dari biasanya. Membuka mata dan terkesiap. Sepasang hazel berkerut cemas dan terasa—melegakan. Seperti cahaya senter yang menerangi gelapnya ruangan ketika mati lampu.

Seharusnya Rukia tahu ia akan selalu di lindungi bagaimanapun buruk sikapnya pada Pangeran Labu.

Nona Kuchiki baru saja akan memanggil suaminya saat ia merasa begitu lemas dan langsung tak sadarkan diri kemudian. Bergelayut di lengan Ichigo yang memanggilnya berulang-ulang dan melarikan dirinya segera ke ruang kesehatan. Seperti dorama romantis abad modern.

"Kurosaki Sensei dan Kuchiki—bukankah mereka terlihat sangat dekat?"

Tatsuki menoleh Natsui dengan alis menyatu dan saling bertukar pandang. Seolah baru saja mendengar bisikan aneh.

"Kurosaki Sensei—terlihat sangat cemas. Apa menurutmu tidak begitu?" tanya Natsui lagi melipat bibir ke dalam lalu melihat gedung olahraga yang mulai berkasak-kusuk. Menanggapi aksi heroik Guru Sastra Klasik yang menyelamatkan Murid Terpintar dan yang lebih menghebohkan—pukulannya yang sangat tak biasa. "Dia meledakan bola hanya dengan sekali pukul. Apa dia itu manusia super?"

Tatsuki melirik ke arah lain. Kenpachi Sensei yang sedang menyeringai tidak jelas seraya bersedekap seperti menamukan tontonan seru lalu Tia Harribel yang juga melipat tangan—sedang menatap kulit bola perpaduan kuning, biru dan putih yang kini compang-camping seperti sisa jahitan baju.

Gadis itu tampak menyipitkan mata dan entah kenapa, Tatsuki selalu mendapati matanya mengarah pada Harribel dan memiliki firasat berbahaya.

.

.

.

Ichigo menatap putri mungilnya lekat. Setelah Guru Kesehatan mengatakan Rukia hanya kelelahan karena kurang tidur, ia sedikit lega. Orihime tidak ada di dunia manusia dan tak ada yang bisa menyembuhkan istrinya secepat dia. Karena itu, jika terjadi sesuatu pada Rukia maka Ichigo-lah yang paling merasa bersalah.

Di belainya pipi putih yang sedikit pucat dan terpekur. Mengingat pertengkaran terakhir yang di lakukan semalam dan balok kayu kembali menyangkut di dada Ichigo. Seharusnya ia lebih bisa mengendalikan emosi dan menghindari pertengkaran apapun. Sumpah untuk selalu melindungi gadis rapuh itu mutlak di jalankan dan bukannya di langgar. Rukia sudah cukup terbebani dengan menjadi Pembawa Pesan dan juga pernikahan paksa mereka.

Di lihat dari manapun, bukankah Ichigo nampak memiliki rasa cinta yang sepihak?

Matanya tertuju lurus pada tangan kanan yang tertutupi lengan kaos olahraga. Memanggil rasa penasaran untuk di singkap dan Ichigo mengepalkan jemarinya yang sudah terulur. Mengintip tato pernikahan saat Rukia tertidur itu perbuatan pengecut dan ia berhasil lolos dari aksi memalukan.

Di helanya nafas dan menarik tangan. Mengangkat selimut sampai melewati dada dan membiarkan istrinya tidur.

Jam yang tergantung menunjukan pukul sepuluh lewat sepuluh dan ia mendesah. Lima menit lagi untuk masuk kelas dan Ichigo tak bisa mangkir. Terkecuali ia ingin ketahuan memiliki hubungan dekat dengan Rukia dan menimbulkan lebih banyak masalah.

Di bangkitkannya tubuh dan menyempatkan diri untuk berbalik. Menatap wajah pulas yang nyaman dan menyungging senyum resah baru kemudian menutup pintu.

"Ah, Kurosaki Sensei. Akan mengajar?"

Sapaan Guru Kesehatan yang muncul membuat Ichigo sedikit terkejut. Ia mengerjap sebelum berkata:

"Ah—ya."

Misato Ochi, Guru Kesehatan yang sudah bekerja selama tiga tahun di Karakura International High School kembali menimpali. Tersenyum seraya berucap, "Anda terlihat sangat khawatir tapi bisa ku pastikan Kuchiki baik-baik saja." Wanita itu bergumam saat Ichigo mengangguk.

"Dia murid yang pandai."

"Aku tahu—tentu saja. Namanya selalu muncul di papan informasi hampir setiap minggu karena memenangkan banyak perlombaan. Juga karena ini bukan pertama kalinya ia jatuh pingsan dan tidur di ruanganku. Makanya aku tahu."

Ichigo terperangah.

"Dia—sering tak sadarkan diri?"

Misato nyaris tertawa namun kemudian dia berdehem. "Mungkin Anda tidak mengetahuinya karena baru di sekolah ini. Tapi Kuchiki memiliki segudang kegiatan yang membuatnya terkadang tidak memiliki jam tidur. Anda tahu dia seorang putri bangsawan bukan?" Wanita berjas putih dengan segelas kopi di tangannya itu mendesis. "Terlebih dia satu-satunya penerus Kuchiki."

Demi Penguasa Tertinggi, Ichigo tahu istrinya itu seorang yang sibuk tapi tidak separah ini. Dan sepertinya mulai sekarang ia akan memastikan jadwal tidur Rukia berjalan dengan tepat.

"Kalau begitu permisi." pamit Ichigo bergegas dengan rencana matang untuk mengikat Rukia di ranjang malam ini jika gadis itu berontak pergi untuk menghadiri undangan apapun itu yang tak ia mengerti. Apa Si Landak itu tidak tahu jika kesehatannya yang paling penting?

Misato meneleng seraya mengerucutkan bibir. Menatap punggung keras Ichigo yang berjalan menjauh dan bahunya melorot turun.

"Apa dia sudah punya pacar?"

Tepat setelah Sang Guru Kesehatan bicara sendiri, pintu bergesar dan kopi yang ada di tangannya tumpah karena terlonjak.

"Kuchiki, kau mengagetkanku!" serunya mengelus dada dan Rukia meringis tanpa dosa. Ia menggumam kata maaf seraya memegang belakang leher.

"Kau sudah merasa baikan?"

Alih-alih memastikan Rukia tak mendengar gumamannya barusan, Misato mengibas-ngibaskan tangannya yang basah. Beruntungnya kopi panas itu sudah berubah hangat dan tak membakar kulit tipisnya.

"Ya, terima kasih sudah merawatku, Ochi Sensei."

Misato menggeleng. "Bukan aku. Kurosaki Sensei yang membawa dan menungguimu sejak tadi. Jika kau mengantuk seharusnya langsung saja datang ke ruang kesehatan dan bolos seperti biasa."

"Kurosaki—Sensei?"

Rukia mengerjap kaku dan Misato buru-buru mendorong dagunya maju untuk menunjuk koridor dimana seorang berjas tengah berjalan. Dan dengan sekali lihat, Rukia bisa mengenali warna mencolok yang selalu terlihat paling terang di matanya, namun di saat yang bersamaan juga terasa begitu teduh.

"Kurasa dia guru yang baik karena sangat memperhatikan keadaan muridnya."

Bukan, Rukia menyangkal dalam hati dengan bibir terkembang. Mendapati begitu kuat debaran yang terjadi di dadanya hanya dengan menatap punggung yang kian jauh. Ia nyaris berlari dan menyerukan nama suaminya jika saja seorang gadis berseragam tidak muncul dari pertigaan koridor dan membuat suaminya berhenti berjalan. Lalu—hup!

Mendarat di pelukan Ichigo yang tampak terkejut.

.

.

.

Ichigo kaget—sangat. Ketika seseorang berteriak memanggilnya lalu tiba-tiba tubuh mungil sudah bergelayut kencang seperti lehernya adalah akar pohon.

"Aku sangat merindukanmu."

Mata amber mengerjap bingung. Kedua tangan masih kaku tak bergerak dengan tubuh sedikit terdorong ke belakang dan justru mulai di masuki ragam pertanyaan.

"Apa kau tidak merindukanku?"

Gadis berambut ungu itu kembali berucap seraya menarik wajahnya yang mengiba dan di buat hampir menangis. Menatap berkaca dengan bibir melengkung ke bawah dan Ichigo baru tersadar ia sedang tak bermimpi.

"Lepaskan pelukanmu, Senna." perintah Pangeran Karakura kemudian setelah terbangun dan menarik tangan mantan tunangannya untuk di lerai.

Dengan berat hati, Putri Kerajaan Soul Society menurut dan membiarkan Ichigo mengambil satu langkah mundur yang besar. Merasa tak akan mampu membantah karena sejak dulu ia tahu—Ichigo seperti tembok baja jika berkata dengan wajah berlipat dua.

Lalu tanpa sengaja, kepalanya bergerak ke samping dimana dua mahluk sedang membelalak dan salah satunya mencuri perhatian. Gadis kecil yang berpostur mirip dirinya dan berambut hitam. Ah, dia tahu gadis itu.

"Dia Putri Hueco Mundo?"

Ichigo mengikuti arahan mata dan mendesah. Jelas istrinya tadi melihat dan mendadak Ichigo bisa melihat betapa kelabu hari-harinya ke depan. Satu masalah belum selesai dan sekarang Rukia bisa saja meninggalkannya dengan tuduhan berselingkuh.

"Bagaimana kau ada di sini?"

Senna tersenyum dan bersiap cerita. "Aku meminta Dewan Agung Shinji untuk membukakan Gerbang Senkaimon supaya bisa bertemu denganmu."

Si brengsek itu!

Dahi Ichigo berkerut padat dengan gigi terkerat. Dia bisa membayangkan senyum cemerlang dari gigi berbaris si rambut kuning yang merasa menang dan bersumpah akan menggunduli kepalanya setibanya di Karakura nanti.

"Dan tentu saja aku harus menemui seseorang yang sudah merebut calon suamiku dan memberinya pelajaran." desis Senna menyipit kesal dan akan menyerang perempuan berambut hitam terkuncir. Tapi hela nafas terhembus kemudian ketika ia tak bisa maju.

"Kau tahu dia Calon Putri Mahkota bukan?"

Senna melirik tajam. "Kenyataannya dia menikah denganmu." sanggahnya menarik-narik lengan yang tercekal dengan tak sabar. "Dan apa aku terlihat peduli untuk mengetahui statusnya sebagai Calon Putri Mahkota? Yang ku inginkan adalah membuatnya menyesal karena merebutmu dari ku Ichigo."

"Kau bisa merusak persekutuan antara Karakura dengan Soul Society."

"Kau sudah melakukannya." sambar Senna cepat dengan tangan gemetar. Wajahnya tertekuk dalam dan siap menangis hingga Ichigo membelalak. Oh—tidak. Gadis itu serius.

Perjodohannya dengan Senna memang ia terima—tapi dulu, sebelum ia bertemu dan jatuh hati pada Rukia dan bersumpah hanya memiliki satu orang istri. Ichigo tak berniat memiliki selir. Selain untuk menghormati Rukia, dia juga merasa tak akan bisa menyukai wanita lain.

Sudah pernah terlintas bahwa hubungan kerajaan antara keduanya akan memburuk dengan keputusan sepihak yang di ambil. Menikahi Rukia dan menjadikannya istri utama selagi ia memiliki Senna memang salah. Melanggar aturan. Tapi bahkan Ichigo sudah siap jika memang harus berperang dengan Soul Society dan memang itu yang ia katakan pada Raja Isshin.

Di liriknya Nyonya Kurosaki yang masih berdiri dengan raut penasaran dan Ichigo mengamit tangan Senna untuk pergi bersamanya.

"Kita bicarakan di ruanganku."

"Aku tidak mau." tolak Putri Soul Society lekas. "Ku katakan aku harus menyelesaikan urusanku dengan Putri Hueco Mundo."

"Jangan lakukan, Senna." pinta Ichigo melunak. Ia khawatir Rukia bahkan akan mengalami penyakit tidur dan muncul dengan lingkaran hitam seperti panda. Atau lebih parah jatuh pingsan kembali. "Dia sedang dalam kondisi tidak baik."

Mulut Senna menganga sempurna. "Kau mencemaskannya sementara disini—ada seseorang yang baru saja kau sakiti Ichigo Kurosaki. Kau membuangnya demi perempuan lain dan kau masih mencemaskannya daripada perasaanku?"

Baiklah—Ichigo salah berkata. Mungkin memang benar, ia tak bisa memahami semua jenis mahluk yang bernama perempuan.

Tunggu, apakah dia baru saja merasa putus asa?

"Demi keselamatanmu, sebaiknya kau tidak menyerang Calon Putri Mahkota Karakura karena sebagai Panglima Kerajaan sudah menjadi tugasku untuk selalu melindunginya. Kau paham?" Ia berkelit.

Ichigo menghela nafas begitu berat dan merasa sakit kepala mendadak hanya untuk mengurus dua perempuan yang membuatnya ingin gantung diri. Demi Vasto Lorde, haruskah ia melajang seumur hidup saja?

Senna sudah bersiap untuk meneteskan air mata karena kepedasan mulut Ichigo yang patut di acungi jempol ketika sebuah ide muncul di benaknya. Ia kemudian bersedekap dengan mata dingin.

"Aku akan memaafkannya jika kau mengabulkan satu keinginanku."

Pangeran Kedua menaikan satu alis curiga yang langsung di balas tatapan meyakinkan dari sklera berwarna serupa miliknya.

"Aku tidak akan memintamu untuk menikahiku. Hanya sebuah makan malam—" Ia mendadak tersipu. "Berdua saja."

Dilema yang tak masuk akal. Biasanya Panglima Kerajaan di bingungkan oleh siasat berperang untuk memenangkan suatu wilayah. Tapi Panglima Karakura justru di bingungkan oleh para gadis.

Masalah akan selesai jika saja Rukia tak memergoki mereka berdua berpelukan—yang tidak Ichigo duga, sebenarnya.

Dan sekarang ia mesti memilih.

Keheningan koridor menambah kesengsaraan yang menuntut untuk mengambil keputusan. Satu sisi, Ichigo tak mau mengambil resiko dengan mengiyakan ajakan Senna. Tapi Shinigami itu juga tahu, Senna adalah tipe yang akan melakukan apapun sampai keinginannya tercapai dan akan lebih membahayakan hubungannya dengan Rukia

Mungkin jika dia merahasiakannya dari Gadis Landak, itu tak akan menjadi masalah.

"Baiklah." Akhirnya ia mendesah setelah menimbang sisi positif dan negatif lalu menatap senyum Senna yang begitu senang. "Nanti malam."

Dan anggukan Senna begitu antusias terjadi sementara gadis berkaos olahraga di belakangnya, berbalik badan dan pergi.

.

.

.

Sungguh lucu sekali jika ada yang bisa menebak isi kepala Rukia Kuchiki. Dengan bola mata bundar menyerupai iblis yang ingin menakuti anak-anak pada malam hari, ia menudingkan tatapannya pada dua orang di depan kelas berseragam abu yang cerah. Pertanda baru.

Satu gadis dan satu laki-laki. Si gadis berambut ungu tergerai sebahu sudah Rukia temui beberapa saat lalu di koridor. Tersangka yang di curigai memiliki suatu hubungan dengan suaminya dan jelas sekali ia berharap untuk tidak berurusan dengan gadis itu.

Sementara si laki-laki—oh, Rukia tak percaya ini.

"Aku Grimmjow J. Kurosaki. Salam kenal."

Apa? Salam kenal? Darimana Grimmjow mengetahui frasa itu?

Seperti yang sudah di ramalkan Rukia, keonaran terjadi kala nama Kurosaki berkumandang. Marga itu mempunyai daya pikat selangit yang membuat para gadis terkesiap hanya dengan mendengarnya saja dan Rukia bahkan sudah membentengi diri agar tak terganggu namun gagal.

Tangan terulur untuk memegang dahi yang berkedut keras. Menunduk seperti siswi terpuruk karena menjadi satu-satunya yang gagal ujian dengan nafas terhela berat. Meja kayu sebagai penyangga siku Rukia terasa menusuk lengannya. Seolah menambah kebiadaban takdir yang begitu sempit.

"Apa kau mempunyai hubungan dengan Kurosaki Sensei?"

"Jangan-jangan kau adalah adiknya?"

"Tapi mereka terlihat tidak mirip."

"Ya, Tuhan—keluarga Kurosaki sepertinya bukan manusia. Lihat ketampanan mereka."

Ayolah, kalian mungkin akan pingsan jika melihat tiga bersaudara itu berjajar seperti lukisan hidup, dengus Rukia tak tahan dan membayangkan lautan darah serta tumpukan tubuh tergeletak tak berdaya.

"Kalian hentikan semua." ujar Sawatari Sensei memukul tumpukan buku dengan penggaris beberapa kali. Kelas terlalu ribut hanya untuk sebuah perkenalan singkat. "Senna kau bisa duduk di sebelah Natsui dan Kurosaki—"

"Bisakah aku duduk bersamanya?"

Suasana mendadak hening dengan kepala yang terotasi pada satu titik. Meja di samping jendela paling belakang yang di huni oleh seorang berkepala menunduk dengan surai hitam. Tak bereaksi hingga sosok itu menyadari kejanggalan di sekelilingnya lalu mendongak.

Kerjapannya terpaku pada jari yang terarah padanya dari si murid baru berambut biru dengan senyum cerah.

"Ah, Kuchiki, dia—"

Tanpa menunggu persetujuan, Grimmjow sudah melangkah penuh percaya diri melewati sela kursi. Terus berjalan dengan menebarkan aroma pinus menyegarkan kemudian mendaratkan ranselnya di atas meja. Langsung duduk dengan nyaman seperti kucing menemukan tempat sejuk dan menyeringai.

"Dia selalu duduk sendiri." lanjut Sawatari nyaris tak terdengar karena berkata seraya mendesah.

Senna menyipit tak suka dan beranjak menuju mejanya ketika Sawatari menyuruhnya untuk duduk. Tak membalas senyum Natsui yang menyapanya karena terlalu sibuk mengamati kegusaran Rukia yang menyikut rusuk Grimmjow seraya mendelik.

"Kakak Ipar, bagaimana kabarmu?" bisiknya dan Rukia gatal ingin menjambak kuncir rambut di belakang leher lelaki itu. Alhasil ia hanya memberi tatapan seram sebelum menulis beberapa kata di atas kertas.

"Jangan memanggilku 'Kakak Ipar' di sini dan kenapa kau bisa ada di dunia manusia?"

Grimmjow memberikan senyum setengah tertawa yang sangat menawan sebelum menarik pena di jemari Rukia dan ikut menulis.

Sekali malaikat, tetap saja malaikat, gerutu Rukia hampir tersipu dan mulai membaca begitu buku bergeser.

"Guru Urahara memintaku datang untuk membantu Kak Ichigo menjaga Kakak Ipar. Salah satu Penjaga Gerbang hilang dan kami menduga mereka di culik oleh para Espada agar bisa menyeberang ke dunia manusia."

Jemari Rukia teremas kasar di bawah meja. Beberapa hari hidup di dunia nyata membuatnya lupa bahwa ia tak selamanya bisa bernafas nyaman seperti sekarang. Akan tiba dimana ketakutan kembali membayangi dan memburu seperti pembunuh bayaran.

"Kakak Ipar tenang saja. Begitu masalah di Karakura selesai, kita akan segera kembali kesana."

Senyum kaku yang di paksakan Rukia membuat Grimmjow mengendurkan tarikan di bibirnya. Kesedihan terkontak jelas dari mata ungu yang tengah berusaha untuk nampak biasa namun sedikit gagal ketika tangan Grimmjow sudah mendarat di atas tangan Si Pembawa Pesan.

Gadis itu terkesiap.

"Kau pasti akan baik-baik saja." bisik Pangeran Ketiga secara tidak terduga dan Rukia merasa butuh di siram air dingin agar sadar dengan siapa ia bicara.

Di tariknya tangan dan kembali menonjok lengan adik iparnya pelan yang ternyata—lebih kekar dari perkiraannya dan membuat terkesima. Apa semua Pangeran Karakura itu di takdirkan untuk menjadi musuh wanita? Rukia menyumpah pada ketidakadilan Tuhan yang menciptakan mereka dengan kesempurnaan.

"Baiklah, buka buku kalian." perintah Sawatari memulai Kelas Sejarah Dunia dan menghentikan aksi terkagum Rukia.

.

.

.

Satu pelajaran kosong adalah berkat paling menggembirakan bagi para siswa dan saat yang selalu di tunggu-tunggu. Entah apapun itu alasannya, mereka tak akan ambil peduli dan menikmati waktu senggang hingga bel berdentang.

Soma Sensei yang memiliki kelas di dua jam terakhir di kabarkan sakit dan tak bisa datang mengajar hari ini. Tak ada guru piket yang menganggur untuk mengganti dan jam bebas pun terjadi.

Soal bagaimana menghabiskan dua jam pelajaran dengan efektif bagi Rukia adalah dengan berkunjung ke perpustakaan. Mungkin teman-temannya akan semakin menjulukinya 'Si Haus Ilmu', tapi Rukia sungguh menyukai belajar.

Ia meninggalkan Grimmjow yang bisa cepat akrab dengan siswa laki-laki di kelas dan sibuk mengobrol. Tatsuki masih berkutat dengan salinan data untuk rapat OSIS sepulang sekolah nanti dan teman lainnya—jangan harap mau menginjakkan kaki di perpustakaan. Bagi mereka itu adalah tempat terakhir yang akan di kunjungi jika dunia sudah mau berakhir dan menjadi syarat untuk masuk surga.

Perpustakaan terletak di gedung B yang mengharuskan Rukia memutar. Menaiki satu lantai dan menyusuri koridor kelas tiga jurusan science dengan berbekal sebuah buku tulis dan pena di dalamnya.

Dia bohong jika pergi ke perpustakaan untuk membaca lembar-lembar informasi kali ini. Tidak—ia pergi ke sana untuk menenangkan diri. Kesendirian di butuhkan untuk memproses pemikiran supaya berjalan lebih halus dan tepat.

Kabut-kabut gelap yang menutupi sudah harus di singkirkan. Rukia bisa mendapatkan mukjizat ketika berada di tempat tenang dan menyusun rangka ide dengan sistematis untuk menyelesaikan masalah yang kebanyakan selalu berakhir sempurna.

Di bukanya pintu dan langsung tersenyum pada Ugaki Sensei yang langsung menyambut dengan kartu pengunjung.

"Pelajaran kosong?"

Rukia mengangguk dan mengeluarkan ID Card KIHS untuk kemudian di dekatkan pada layar pendeteksi. "Soma Sensei tidak masuk karena sedang sakit."

Ugaki mengangguk seraya bergumam. "Dia tampak sehat-sehat saja kemarin." ujarnya lebih pada berbicara sendiri lalu kembali menatap pengunjung setianya. "Keberatan jika kau seorang diri, Kuchiki? Rasanya aku butuh kopi untuk menghilangkan kantuk."

"Tentu saja, Sensei."

Ruang perpustakan Karakura International High School tidak terlalu besar tapi memiliki banyak koleksi buku. Rak-rak dari kayu bercat cokelat terbaris rapi mengelilingi ketiga sisi dan di tengahnya—terdapat meja panjang dan kursi kayu untuk membaca. Kaca tembus pandang menjadi dinding ruangan untuk menimbulkan kesan terang dan aroma citrus berbaur dari empat Air Conditioner di dinding atas.

Sepeninggal Ugaki, Rukia langsung menuju tempat favoritnya. Pojok ruangan yang tertutup oleh sebuah rak besar hingga begitu cocok untuk menjadi tempat bersembunyi.

Sudut itu sangat di sukainya. Cahaya masuk dari jendela ketika bersandar pada rak dan luasnya cakrawala terlihat begitu jelas seperti warna crayon. Keadaan yang hangat bisa membuat Rukia duduk berjam-jam untuk membaca buku atau menatap sejuknya dunia.

Ia langsung meringkuk dan menghela nafas nyaman begitu menumpu punggung ke rak buku yang lama di tinggalkan. "Ini memang tempat yang menenangkan."

Senyumnya terukir. Mengadu pandang pada dinding di depannya seolah tengah membalas pandang. Lalu di silanya kaki dan mulai berdialog dalam hati—mengerucutkan bibir. Kening Rukia semakin lama berkerut dengan gumaman dan sesekali mendecak.

Semua itu tentang Ichigo.

Rukia bertanya-tanya mengenai murid baru di kelasnya, Senna dan tentu saja, setelah mendengar nama itu, Rukia tahu Senna adalah gadis yang di bicarakan oleh Grimmjow saat di Karakura waktu itu dan di jodohkan dengan Ichigo.

Gadis itu tiba-tiba saja muncul tanpa alasan. Pasti dia datang kemari bukan untuk melindunginya seperti Grimmjow. Lalu kenapa?

"Apakah Ichigo memintanya kemari karena sudah bosan denganku yang selalu membuat pertengkaran? "

Ya Tuhan, untuk pertama kalinya Rukia merasakan putus asa. Bagaimana kalau itu memang benar terjadi?

"Aaahhh—kenapa semua begitu memusingkan?" keluhnya menarik kaki gusar dan menumpu dahi di lutut. Menggumam tak jelas mengenai pernikahannya yang harus di selamatkan dan merasa tak percaya diri. "Kemarin Unohana lalu sekarang Senna. Ada apa dengan para wanita dan Ichigo?"

Ia mendongak dengan rambut acak-acakan. "Bukankah jika dia memang berselingkuh seharusnya ku tinggal pergi?" tanyanya pada dinding bisu yang tak menjawab dan membuahkan decakan sebal. "Apa mereka tidak tahu jika Ichigo itu sudah menikah?"

"Siapa yang sudah menikah?"

Rukia melonjak kaget dan memutar kepala. Mendapat diskon 75% karena ia lebih terkejut lagi melihat siapa yang berdiri di balik rak.

"Ichigo?"

Lelaki itu bersandar seraya melipat tangan di depan dada. Wajah datar tersuguh seperti makanan sehari-hari dan Rukia buru-buru berdiri.

"Kenapa kau ada disini?"

Ah, rupanya gadis mungil itu masih belum terbiasa dengan status suaminya yang sudah menjadi bagian KIHS.

Melerai sedekap, pria jangkung menunjuk dengan ibu jari. "Ini perpustakaan." jawabnya singkat dan Rukia sudah membuka mulut namun tertutup kembali.

Ia memalingkan muka dan menunduk. Meskipun sudah merencanakan untuk meminta maaf, tapi ketika bertemu dengan Ichigo secara langsung, kebulatan tekad itu mendadak luntur. Sebagai hasil terakhir, Rukia bungkam seribu bahasa dengan mata mengerjap dan tak mau menatap suaminya.

"Selain suka membuatku marah, ternyata kau juga menyukai berbicara seorang diri." sindir Ichigo beranjak dan membuat punggungnya menjadi sasaran pelototan tajam.

"Dan kau suka memancing kemarahanku."

Ichigo mendengus dan berbalik. Lagi—bersedekap. Mengapit sapphire yang mendelik dengan ketajaman mata emasnya. "Kau salah, Putri. Yang ku lakukan adalah menggodamu seperti memberi mainan pada kucing yang kebosanan."

Umpatan sudah ada di ujung lidah. Hanya terpagar oleh gemetarnya gigi hingga Rukia akhirnya menarik nafas. Melihat sekeliling dan mereka aman. Untuk memanggil satu sama lain dengan sebutan asli.

"Kau Pangeran Labu—" tunjuknya kesal. "Aku bukan kucing."

Tanpa di sangka-sangka Ichigo tersenyum miring dan memotong jarak. Mendaratkan mata senjanya yang cemerlang dan menyumbat pernafasan Rukia. "Tapi kau seliar dia." bisiknya menimbang untuk melumat bibir Rukia yang megap-megap atau tidak sampai gadis itu menarik diri mundur dan Ichigo menyeringai senang.

"Kau tahu Grimmjow menjadi murid baru di kelasku?" alih Rukia mengerjap cepat ketika menatap sudut meja baca dan Ichigo mengikuti alur.

"Ya."

"Dan Senna?"

Sang Pangeran nampak menarik nafas panjang sebelum memberi jawaban. Dan menurut Rukia itu menjengkelkan. Seolah Ichigo mengalami masa-masa buruk karena dirinya.

"Dia mengatakan sesuatu padamu?"

"Kau merahasiakan sesuatu dariku?"

Ichigo dan Rukia akan menjadi pasangan paling menarik jika mereka sedang mengikuti debat kusir. Suami-istri yang hobi adu argumen dan tak mau kalah.

Lelaki itu mendesah. "Bisakah kau menjawab pertanyaan dengan jawaban dan bukannya balik bertanya?"

Rukia mengerjap beberapa kali tanpa merespon kegusaran suaminya yang semakin menekuk sudut lancip di sela alis. Seolah bukanlah hal penting, ia kembali bertanya, "Apakah dia tahu kau sudah menikah?"

Mendengus adalah satu-satunya pilihan yang ada bagi Ichigo. Ia mendapati dirinya memberi senyum menahan kesal pada Rukia yang menatap tanpa dosa.

Dia tak percaya bisa melakukan ini.

"Dia kemari untuk menemuiku dan—" Pria berjas abu itu menjahit keseriusan di mimik wajahnya yang sudah terlalu penuh dengan kerutan jenuh. "Bisakah kau jawab pertanyaanku sekarang?"

Rukia terdiam untuk beberapa detik. "Dia tidak mengatakan apa-apa. Kau puas?" sambarnya pedas.

Bunga sakura di balik jendela bergoyang pelan. Saling mengadu kelopak merah jambu yang manis dan berguguran. Semilir angin membimbingnya menari seperti pusara sebelum bergabung bersama lainnya di atas tanah. Mirip permadani tebal yang bergambar timbul.

Rukia mengayunkan matanya pada ranting pohon yang berisi penuh bunga mekar. Mengurangi kesahnya yang berakar serabut sementara Ichigo menatap wajah istrinya yang sangat ia rindukan.

"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" selidik Nona Kuchiki tiba-tiba. Ia lupa jika Sang Pangeran Karakura belum menjawab pertanyaannya yang ketinggalan kereta dan lelaki itu menarik nafas tanpa melepas tatapannya yang melumpuhkan.

"Apa kau akan percaya dengan apa yang ku katakan?"

"Setelah melihatmu berpelukan dengan gadis lain? Coba saja." tantangnya mengedikan bahu acuh.

"Apa kau menyukaiku, Rukia?"

Nyonya Kurosaki nyaris tersedak nafasnya sendiri. Ia mengedipkan matanya berulang kali dan wajah datar Pangeran Kedua Karakura mengkonfirmasi bahwa apa yang di dengarnya bukan kesalahan.

Selama masa pernikahan mereka, Rukia Kurosaki tidak pernah sekalipun mengatakan suka pada Ichigo. Sedikit aneh, jika melihat seberapa jauh hubungan mereka terjalin, perkataan itu tak terlontar sekali saja dari mulut Rukia. Seolah ada benteng kokoh yang membatasi agar kalimat menyeramkan itu tak kunjung terucap.

Lagipula, menurut Rukia tanpa di katakan pun seharusnya Ichigo bisa melihat jelas bagaimana perasaannya.

Tapi menurut Ichigo, ada beberapa hal yang harus di katakan karena tak bisa terbaca dengan jelas.

Sudah pasti mereka tidak akan menemui akhir yang memuaskan.

"Pertanyaanmu keluar dari pembicaraan, Pangeran." tolak Rukia tersenyum sarkastik dan mulai berkelit lagi. Ia terburu untuk kabur seperti yang sudah-sudah tapi berhenti mendadak dan sadar—karena keegoisannya inilah hubungan mereka tak berjalan lancar dan tak boleh di teruskan.

Di posisikannya diri tepat di samping meja baca dan menghirup nafas meyakinkan diri. "Kau benar-benar menanyakan itu? Setelah sejauh ini?" tanyanya lagi dan Ichigo memutar tubuh untuk menghadap istrinya yang ada di baliknya.

"Sejauh apa?"

Kerikil-kerikil penyulut api mulai berdatangan ke kepala Rukia tanpa di undang.

"Aku tak merasa hubungan kita sudah berjalan jauh karena kau yang membatasinya. Bukankah begitu?"

Tuduhan Ichigo menyiram api yang semula hanya bara menjadi kobaran besar.

"Jadi karena itu kau memanggilnya kemari? Karena aku yang membatasi diri?" selidik Rukia yang bersambut kerjapan tak mengerti Ichigo. "Ku pikir semua sudah jelas dan aku begitu percaya kau bisa mengerti diriku, Ichigo. Bahkan hanya kau satu-satunya yang ku biarkan masuk ke dalam kehidupanku tapi kau mengecewakan."

Tunggu—dia bilang apa? Mengecewakan?

"Mungkin aku telah salah menilaimu dan terlalu berharap lebih." aku Rukia gamblang di barengi Ichigo yang melepas kacamata gusar dan melemparnya asal tanpa peduli akan pecah. Gadis itu terus nyerocos seraya membalikkan badan dan menumpahkan keluhannya seperti ledakan meriam. "Kau bukan seseorang yang pantas aku biarkan mengobark-abrik kehidupanku. Seharusnya aku tak—"

Tubuh Rukia terbalik kasar dan selanjutnya lumatan gila di bibirnya menyetop setiap inci perkataan dan berbuah perlawanan. Ia mendorong dada Ichigo menjauh tapi tangan lelaki itu menarik lehernya kuat dan justru dirinyalah yang terpojok.

"—mmhh—"

Tubuh Rukia terdorong keras ke belakang menuju meja dan bahkan ia tak tahu kapan Ichigo melakukannya—dia sudah terlentang di atas meja dengan paha membuka.

Serangan liar itu bahkan lebih memabukkan dan membuat api kemarahan berubah menjadi api yang lain. Ia tahu suaminya sangat mahir berciuman tapi ini sungguh—sialan!

Terlentang dengan rontaan yang kian melemah, akhirnya Rukia tahu ia tak akan pernah menang jika sudah bersentuhan dengan Pangeran Kurosaki. Kepasrahan untuk di bimbing mengikuti alur cepat ciuman panas membawa jantungnya tak mampu mengimbangi dan ia bahkan tak keberatan melakukannya dengan Ichigo di area sekolah.

Sejak kapan bibir suaminya begitu sulit untuk di lepaskan?

Ah, sejak lelaki itu bilang tak akan menyentuhnya sampai dia sendiri yang mengatakan 'menginginkannya' dan Ya, Tuhan—Rukia menginginkan pria menggoda ini sekarang!

"Hhh—hah—"

Nafas Rukia menyapu wajah Ichigo saat ia menarik diri. Dan dengan tersengal, Rukia mencoba mengumpulkan suara.

"Ichi—"

"Ichigo!"

Perlu beberapa kali mengerjap untuk membawa kembali kesadaran Rukia yang sempat hilang dan dia membelalak saat menatap Senna ada di depan pintu dengan wajah—tercengang. Saling bertatapan sementara Ichigo bahkan masih terengah di samping wajah istrinya tak ambil peduli.

Tanpa berkata apa-apa, gadis itu berbalik pergi dengan kekecewaan dan kemarahan yang bisa Rukia lihat.

"Ichigo, dia—"

"Kau mengatakan aku mengecewakanmu?" ucap Ichigo dengan—tunggu, dia marah?

Rukia membuka mulutnya namun Ichigo sudah berdiri dan meneleng. Memotong apapun yang ingin di ucapkan istrinya dan dengan kening bergetar pertanda kelabilan emosi, ia tersenyum sinis seolah merencanakan sesuatu yang—Demi Tuhan, alarm di kepala Rukia mengaum keras.

"Kalau begitu aku akan melakukan tuduhanmu itu." tegasnya yakin dan beranjak untuk mengejar Senna. Meninggalkan Rukia yang menganga dan tak mengerti dengan tindakan Pangeran Labu.

Barusan dia menciumnya dengan begitu panas lalu sekarang—mengejar gadis lain?

Apa, sih, mau laki-laki itu!?

.

.

.

Rukia memegang wajahnya yang kuyu dan menyibak rambut. Menatap cerminan dirinya di kaca toilet lalu mendesah. Membuka kran wastafel malas dan menunduk. Membasuh mukanya dengan air dingin yang begitu menyegarkan dan berharap keletihan bisa ikut mengalir hilang.

Terlalu banyak peristiwa yang terjadi hanya dalam sehari dan tak ada yang beres.

"Huwaaa!"

Dia berteriak keras ketika kembali mendongak dan langsung bersandar pada dinding seraya memegang dadanya yang berdegub kencang. Rukia tengah sendirian di sana sebelum tiba-tiba muncul sosok mungil di belakangnya yang hadir tanpa suara dan sedang meneliti kuku santai.

Ya ampun, Rukia bisa memiliki umur yang pendek karena selalu terkejut. Kenapa penyihir suka sekali muncul seperti hantu?

"Kemampuan sihirmu pasti buruk sekali karena tak bisa merasakan reiatsu-ku." cibirnya tak mengalihkan mata dari jemari lentik yang menari di udara. "Mungkin karena itu Raja Aizen menyembunyikan keberadaanmu yang memalukan." Senna menyindir dengan senyum manis dan terlihat mengerikan hingga Rukia memilih untuk memalingkan wajah.

Jika sudah marah, wanita bahkan bisa lebih menyeramkan daripada hantu, batin Rukia menyelipkan rambut ke belakang telinga dan memilih untuk pergi.

"Sepertinya hubunganmu dengan Ichigo tak berjalan baik."

Kenop urung tersentuh dan Rukia mematung. Satu lagi pertengkaran mungkin sungguhan bisa membuatnya terkapar di ranjang rumah sakit. Ingin ia hindari, tapi rasanya mengaku kalah tanpa perlawanan itu bukan dirinya.

Oh—harga diri sialan.

Berbaliklah dia dengan senyum cerah yang di buat-buat. "Ku pikir kami baru saja melakukan suatu ciuman panas yang tersembunyi." kenangnya menggerakan bola mata Senna pada satu titik—dirinya. "Apa yang akan terjadi jika saja tadi kau tidak datang?"

"Kau pikir Ichigo mencintaimu? Ku rasa tidak."

Kembali—langkah untuk lekas pergi tertahan di depan pintu.

Senna mendengus sambil bersedekap. Menatap lewat pantulan kaca Rukia yang melirik melalui ekor mata. "Karena jika memang begitu, dia tidak akan merahasiakan makan malam kami darimu."

Senyum manis gadis berambut ungu itu melebar ketika pupil Putri Hueco Mundo sedikit membesar.

"Bagaimana menurutmu? Tidakkah kau merasa pernikahan kalian hanyalah bentuk tanggung jawab yang ia berikan saja?"

Rukia mendesah. Ia pasti akan percaya perkataan Senna jika tidak pernah melihat tato di dada Ichigo yang hampir memenuhi area itu. Dan dia sendiri bahkan pernah mengutarakannya—bahwa Ichigo menyukainya. Tak ada alasan untuk meragukan itu. Hanya saja, apa sekarang perasaannya sudah berubah begitu cepat seperti cuaca?

"Aku datang kemari karena dia yang memintaku datang." aku Senna lagi dan Putri Hueco Mundo mulai merasa pening.

Memilih untuk tak mendengar hal-hal yang bisa memperburuk keadaan, Rukia bergegas keluar dan menghembuskan nafas berat. Menampik tudingan yang menyalahkan dirinya sebagai sumber perpecahan dan semakin terasa denyut-denyut tak menyenangkan itu.

Jadi Ichigo benar-benar sudah bosan denganku dan beralih pada gadis lain?

.

.

.

Kapan terakhir kali Rukia mengobrol santai dengan Ichigo? Rasanya tidak pernah. Mereka selalu bertengkar setiap kali bertemu dan menghasilkan jarak yang semakin kentara.

Sebenarnya apa penyebab hubungan mereka berubah buruk sejak berada di dunia manusia? Ketika berada di dunia sihir, Rukia bahkan mengalami saat-saat yang menyenangkan tapi sekarang tidak lagi.

Ichigo mulai tertutup dan semakin sulit di tebak. Ia memiliki rahasia dengan perempuan lain dan ketika statusnya bukanlah seorang yang lajang lagi, seharusnya itu tak boleh.

Hubungan Ichigo dengan Unohana masih mengganggu pikiran Rukia dan sekarang di tambah Senna. Jika saja mereka tak bertengkar semalam dan memiliki sesi kedua di perpustakaan, mungkin sekarang Rukia sudah meminta penjelasan mengenai hubungan mereka bertiga.

Rukia ingin percaya suaminya tipe lelaki setia. Tapi ketika merahasiakan sebuah kencan gelap dengan wanita lain—kubur saja kata setia itu bersama Ichigo sekalian!

"Ini rumit sekali." desah Rukia mendorong kepala ke belakang untuk bersandar pada kursi penumpang. Menatap lampu jalan yang sudah hidup dan berwarna kekuningan.

Suasana gelap karena awan kelabu menutupi Kota Karakura meski jam pada dasbor mobil baru menunjukkan pukul lima sore. Cuaca yang tak bisa di perkirakan karena biasanya hujan tak akan turun saat musim semi. Tapi akibat Global Warming—mungkin, cuaca di Karakura sekarang tak bisa di prediksi.

Rintik air mulai berjatuhan ketika Rukia sampai dan baru masuk ke dalam rumah. Melangkah lelah dan memijat lehernya yang pegal. Kurang-lebih ia merasakan tanda-tanda serangan vertigo.

"Selamat datang, Nona."

Rukia hanya mengangguk pada Unohana yang sudah menunggu di bawah tangga menuju lantai dua. Isane terlihat sedang membereskan peralatan makan malam dan membungkuk sebelum melanjutkan tugasnya lagi.

Mengira dirinya memiliki undangan makan malam karena peralatan makan sudah di bereskan, Rukia kemudian bertanya.

"Ichigo sudah pulang?"

Dia harus menyelesaikan masalahnya dengan jelas dan cepat karena tak memiliki banyak waktu. Kebohongan lelaki itu yang menyimpan rahasia makan malam bersama Senna menguras pikiran Rukia selama sisa kegiatannya di sekolah dan tak bisa ia bawa ke dalam pertemuannya dengan para petinggi negara nanti. Itu bisa merusak mood.

"Sejak sore tadi dia ada di dalam kamarnya." jawab Unohana dan Rukia menimbang untuk menemui Ichigo di kamarnya atau kamar tamu tempat ia tidur setelah pertengkaran mereka kemarin. "Dia sudah siap untuk pergi."

Kening Rukia tak urung berkerut. "Pergi?"

Semula Unohana nampak terkejut dan ia kembali berucap. "Bukankah Nona akan pergi dengannya?"

Mulut Rukia membentuk 'Ah' pendek seraya mengangguk. Teringat ucapan Senna mengenai makan malam yang sepertinya memang benar.

Membuat Rukia ingin marah—juga menangis.

"Jadi berita itu benar." bisiknya pelan namun masih terdengar oleh Unohana.

Wanita berkepang itu lalu menimpali. "Saya meminta Isane untuk membereskan meja karena mengira Nona akan makan malam dengan Ichigo." Ia buru-buru berputar dan bicara pada Isane yang tengah menumpuk piring bulat. "Isane, siapkan makan malam." perintahnya membuat Isane berkedip-kedip sejenak lalu menurut juga.

"Saya sudah menyiapkan air hangat untuk Nona mandi." ujar Unohana namun Rukia tampak menatap lantai kosong dan membiarkan telinganya penuh oleh suara riuh di atap karena hujan.

Tampak tak mendengarkan, ia berbisik lirih. "Unohana, apa kau mengenal Senna?"

Ada keraguan sebelum Kepala Maid Keluarga Kuchiki itu menjawab tapi ia tahu tak punya hak untuk bungkam. "Yang saya tahu dia adalah Putri dari Soul Society dan di jodohkan dengan Ichigo."

Senyum paksaan lagi-lagi muncul di wajah pucat Putri Kuchiki. "Dia—ada di dunia manusia dan datang untuk menemui Ichigo atas permintaannya."

Entah apa alasannya Rukia mengatakan informasi itu pada Unohana yang tak ada kaitannya dengan mereka. Karena unsur tak sengaja atau mungkin—Rukia sudah terlalu rapuh untuk memendam kecewa seorang diri.

"Apa Nona sedang bertengkar dengan Ichigo? Nona terlihat ingin menangis." tandas Unohana dan Sang Majikan menggeleng pelan untuk menutupi kebohongan yang sia-sia.

"Kami baik-baik saja."

"Jika sulit, Nona bisa mencobanya secara perlahan. Saya rasa Ichigo sangat mengerti Nona Rukia dan yang Nona butuhkan hanyalah sedikit keberanian untuk mengungkapkan apa yang di rasakan."

Seandainya itu bisa di lakukan semudah ucapan yang keluar, Rukia tak akan kesulitan seperti ini. Harga dirinya membuatnya berdiri pada ujung tebing agar nantinya bisa jatuh ke jurang. Dan setelah mengetahui bahwa Ichigo tak tertarik lagi, dia sungguhan berakhir pada batu terjal di bawahnya.

"Ku rasa sudah terlambat." tanggap Rukia menyerahkan tas pada Unohana. "Aku mau berenang."

.

.

.

Hujan turun dengan deras. Menyerbu muka bumi hingga membuatnya basah dengan kegelapan suram yang pekat. Mirip hati Rukia yang kini juga tengah berubah kelam.

Ia merasakan sakit hati yang menoreh dalam. Saat mengingat perkataan Senna di toilet, sekarang kepercayaan Rukia pada Ichigo sudah terkikis.

"Kau pikir Ichigo mencintaimu? Ku rasa tidak."

Ya—jika dia memang mencintaiku, seharusnya dia tak akan makan malam bersama gadis lain secara diam-diam, batin Rukia mulai bergejolak.

"Bagaimana menurutmu? Tidakkah kau merasa pernikahan kalian hanyalah bentuk tanggung jawab yang ia berikan saja?"

"Aku datang kemari karena dia yang memintaku datang."

Itu benar. Sejak awal seharusnya Rukia tak boleh percaya lelaki seperti Ichigo yang bisa mencium gadis lain saat memiliki seorang tunangan. Ucapannya waktu itu tepat sekali—bahwa Ichigo adalah tamak perempuan dan tipe yang tak boleh masuk ke dalam daftar pria idamannya.

Tapi semua seolah tak terkendali.

Rukia sudah terlanjur jatuh cinta pada laki-laki labu yang memiliki senyum menawan, pintar meluluhkan hati wanita dan sentuhan yang tak bisa terlupa.

Ia terlambat membentengi diri.

"Ichigo Kurosaki—menyebalkan—"

Wajah Rukia tertutup oleh kedua tangan saat sengguk tangis pecah dan ia berjalan menerjang hujan. Tanpa melepas jas sekolah, gadis itu melompat ke kolam renang dan membiarkan air matanya tercampur dengan air kolam yang dingin.

.

.

.

Ichigo enggan sekali untuk pergi makan malam dan kebetulan hujan turun deras sejak beberapa menit lalu. Membuat uap putih di kaca jendela yang buram dan bunyi rintikan mengisi keheningan kamar Sang Pangeran.

Tubuhnya masih terlentang di atas tempat tidur meski sudah mengenakan setelan jas untuk menghadiri sebuah makan malam di restoran hotel bintang lima rekomendasi Senna. Dan sepuluh menit lalu, gadis itu sudah menelepon untuk memastikan Ichigo tak mengingkari janjinya. Dia seorang pangeran—janji itu mutlak di lakukan jika sudah terucap, meski terpaksa.

Sepasang hazel kemudian menatap ke luar jendela. Membayangkan wajah mungil Gadis Pembawa Pesan yang tengah merengut, senyum terukir begitu saja di bibir Ichigo kala mengingat istrinya yang pemarah.

Ia mengusap bibirnya yang masih bisa merasakan kelembaban bibir Rukia yang terlumat saat di perpustakaan. Masih manis dan—membuat ketagihan seperti biasa. Beberapa hari tak menyentuh Rukia terasa seperti padang tandus yang tak di turuni hujan. Terkadang Ichigo menyesali tantangan yang ia buat dan terkena serangan batin yang hebat.

Apa yang di pikirkan gadis itu tentangnya sekarang setelah mengatakan akan membuatnya kecewa? Apakah dia berpikir Ichigo serius akan melakukannya?

Suara air dari balik jendela mengundang Ichigo untuk mendekat dan jelas—berbeda dengan air hujan yang hanya jatuh dan bertempo sama, suara benda jatuh itu lebih mirip bunyi orang berenang.

Semula ia mengernyit ketika menyibak tirai, tapi ketika melihat seragam abu-abu dan kepala berwarna hitam muncul-tenggelam dari dalam air, Ichigo bersumpah jantungnya melompat ke ubun-ubun.

Apa yang gadis gila itu lakukan dengan berenang di tengah hujan?

Tubuh Ichigo melesat cepat keluar kamar dan menuruni anak tangga dengan lompatan besar. Ia berhenti ketika melihat Unohana yang lewat dengan handuk di tangannya.

"Apa yang Rukia lakukan?" tanyanya nyaris berteriak dan Unohana tersenyum seraya menjawab pendek.

"Berenang."

Lalu di dahului oleh Ichigo yang sudah setengah berlari setelah mendecak lebih dulu, Unohana mengurungkan niat pergi dan berbalik ke dapur.

Ichigo melepas jas dan menutupi kepalanya agar tak terkena hujan. Mengumpat ketika tubuhnya hampir jatuh terpeleset karena lantai yang licin dan berteriak memanggil Rukia.

Berkali-kali ia berteriak dan sebanyak itu pula Rukia mengacuhkannya dengan terus berenang.

"Sial!"

Di singkapnya jas yang sudah basah dan dingin langsung menyapuh tengkuknya ketika terkena hujan. Tetesan air menjalar menuruni dahinya yang berkerut tajam dan Ichigo tak ambil keputusan dua kali untuk terjun ke dalam kolam.

.

.

.

BYURRR

Rukia tahu Ichigo masuk ke dalam kolam dan berenang ke arahnya. Tapi dia terlalu asyik membunuh sesak di dadanya dengan menahan nafas berlama-lama di bawah air dan terus berenang.

"Apa kau sudah gila!?"

Sang Panglima membentak keras ketika berhasil menyusul Rukia dan menarik lengannya hingga oleng. Gadis itu menarik nafas panjang-panjang dengan bahu naik-turun dan belum berkata sepatah katapun.

"Lihat wajahmu!" teriak Pangeran Labu membekap wajah pucat istrinya yang di jatuhi tetesan air dan bermata merah. Sedikit bengkak dan membuat Ichigo kian marah. "Matamu sudah memerah—kau benar-benar gadis gila!" lanjutnya menarik Rukia ke tepian tapi gadis itu tak bergerak dan malah menunduk.

"Cinta—"

"Bergeraklah Rukia dan jangan membuatku harus memanggulmu untuk keluar dari kolam ini!" gertak Ichigo tak mendengar bisikan istrinya yang tertelan suara hujan dan gadis itu masih menunduk. Makin mengarahkan kekhawatiran Ichigo menjadi amukan yang tertahan. "Baiklah jika itu maumu—"

"Aku mencintaimu."

Tubuh Ichigo yang akan mengambil kuda-kuda untuk membopong tubuh istrinya mematung. Matanya membelalak besar dan saling beradu pada sapphire yang sendu. Memberi jawaban padanya bahwa warna merah di daging mata Rukia bukan berasal dari lamanya ia berendam di air kolam—tapi karena menangis.

Gadis itu meneteskan air mata yang di tutupi oleh air hujan. Hanya getaran di bibirnya yang Ichigo perhatikan sebelum ia mendengar pengakuan itu lagi.

"Aku mencintaimu—Ichigo Kurosaki."

.

.

.

Apa Ichigo sedang bermimpi?

Barusan dia mendengar Rukia mengatakan cinta?

Benarkah itu?

"Ichigoooooo!"

Keterkejutan Ichigo pecah dan meski ia masih belum sepenuhnya sadar—pundaknya sudah berotasi ke arah pintu dimana gadis bergaun ungu muda berdiri seraya melambaikan tangan padanya.

Senna sudah datang untuk menagih janji makan malam. Wajahnya memberengut tak suka begitu melihat siapa yang berada di kolam bersama Ichigo tapi ia bersabar menunggu laki-laki itu datang. Ia tak mau menerobos hujan dan membasahi gaun yang sudah di persiapkan.

Oh, baiklah—Ichigo punya urusan dengan Senna yang harus di selesaikan lebih dulu dan setelahnya, ia bisa mengkonfirmasi pengakuan Rukia. Tidak, mungkin Ichigo akan menemui Senna dan mengundur janji mereka lalu kembali lagi pada Rukia untuk memastikan dia baik-baik saja juga—pernyataannya.

"Kau bisa kedinginan, Rukia. Cepat naik."

Rukia meneleng sedih.

"Kau akan pergi?"

Ah—kapan istrinya itu akan belajar untuk menurut sekali saja.

Ichigo menghela nafas. Hujan masih terus mengguyur dan jika di biarkan, Rukia bisa berubah menjadi mayat hidup karena dingin yang menusuk.

Di tariknya lagi tangan untuk mengarah ke tepian kolam namun tetap begitu kokoh seperti dinding baja.

"Jangan keras kepala."

"Apa kau akan tetap pergi jika aku mengatakan jangan?"

Penguasa Tertinggi—mimpi apa Ichigo?

Rukia menggeleng pelan dengan bibir menekuk ke bawah. "Jangan pergi." pintanya memelas dan untuk sesaat, Ichigo lupa bagaimana caranya bernafas.

"Ku mohon jangan pergi, Ichigo. Aku—" Sang Putri menelan ludah dengan kesedihan kental. "Aku menginginkanmu."

Rukia menunduk dan menggosok matanya dengan punggung tangan seolah tetes hujan adalah air mata yang mengganggu. Tak mendapat respon seperti yang ia perkirakan jika jujur mengatakan isi hatinya karena Ichigo hanya mematung. Lelaki itu bahkan tak menimbulkan pergerakan sedikitpun dan Rukia menganggapnya sebagai sebuah jawaban akhir yang menyakitkan.

"Ichigo, aku—"

Sang Putri menahan nafas kala bibirnya terbungkam. Ia bisa merasakan tangan gemetar yang tengah menangkup wajahnya dan kening Ichigo yang terus berkerut ketika menciumnya. Tapi pikirannya terlalu fokus pada sapuhan di bibirnya yang terpijat lembut dan ia memejamkan mata. Meresapi rasa yang bisa di kecap meski tak teruntai melalui kata dan perasaan itu bahkan sebenarnya tak pernah hilang.

Melalui bibir yang saling menyatu, Rukia bisa merasakan kuatnya perasaan Pangeran Labu dan telapak tangan yang menempel di dadanya membuktikan betapa lelaki itu berdebar karena kehadiran dirinya.

"Rukia—" Ichigo menelan nafas dan mendorong tangannya ke balik pinggang Rukia hingga tubuh mereka berhimpitan. Menempelkan dada istrinya yang menggugah minat dan dia sendiri mencoba menarik suara.

Ichigo tak akan peduli dengan janjinya sebagai seorang pangeran. Sudah berapa lama ia menantikan ini? Menunggu Rukia berkata menginginkan dirinya.

Oh—Penguasa Tertinggi, yang Ichigo tahu—ia hanya ingin memeluk Rukia sampai malam tak terbit lagi.

"Rukia—" panggilnya lagi terengah dengan mata gelap melingkupi seluruh viola dan meremangkan jantung Sang Putri. "Aku butuh berada di dalammu—sekarang."

.

.

.

Oke, author tahu. Demi Menos Grande, hentikan memberi death glare padaku!

Hahaha….

Gomene….author tahu ini nanggung…tapi kalo di lanjutin bisa di jadiin dua chapter nanti. Karena itu harus di cuuuuuut #XD kikikikkkk

Jadi…tertebak apa yang akan ada di chapter depan? #smirk

Chapter ini sudah bergulir panjang…ngga terasa uda delapan dan sembilan chap depan XD!

Lebih memberatkan ke romance yah agaknya daripada action-nya…#hahaha

Begitulah…#ngga tahu mesti bilang apalagi

Lalu rasanya hubungan IchiRuki sekarang sudah di tegaskan, ya…

Semoga ngga ada yg bosen dengan hubungan mereka yg tarik ulur #tenang sekarang mereka bisa bersama, sepertinya…

Lalu tetap…saya merasa chap ini kurang maksimal (_ _)'

Dan…maafkan author yg mulai sekarang sepertinya akan sedikit lama untuk update…

Sudah mulai sibuk untuk membiayai hidup #hikhikhik

Jadi ngetik cuma ketika senggang aja….#sedihnya

Tapi akan di usahakan untuk tidak hiatus kok…

Okeh 'lah…sekarang bales review yg ngga login aja…

(^_^) Terima kasih banyak minna-minna sekalian:

Chieru cherry:

Konbanwa Chieru-saaan XD

Hhaaa…chapter 4 beneran bisa update kilat saat itu, mwehehee

Owh…saya yang berterima kasih karena sudah membaca fic ini Chieru-san (^_^)

Benarkah? Aha…terima kasih…

Memang untuk bagian lemon masih di tunda, hheheee

Hahaaak…dia ngga nyariin…justru malah bertanya 'siapa elu?"

Hahaaa…Byakun masih dalam keadaan hilang ingatan jd dy ngga nyariin deh…

Okeh…terima kasih banyak Chierru-san…sudah membaca dan memberikan review…

Semoga suka dengan kelanjutan ceritanya dan happy reading…

(^_^)/ Ja neeeee….

Lawlietsft:

Yosh! Saya datang lagi untuk membalas review XD

Sudah saya update loohh….

Chap 8 XD

Hahaaa….Lawlietsft-san…saya jg sebenarnya sangat cemburu pada Rukia (T_T)

Okeh…terima kasih banyak Lawlietsft-san…sudah membaca dan memberikan review…

Semoga suka dengan kelanjutan ceritanya dan happy reading…

(^_^)/ Ja neeeee….

Wakamiya Hikaru:

Hikaru-saaaan….I'm comiiiing jugaaaa! XD

Hhaaa….kurang greget, ya….besok saya tebar kutu supaya pada gatel semua #hhaa

Emm..maaf sekali…chap 8 juga belum bisa menguak misteri karena masih fokus sama IchiRuki romance…

Jadi misteri tetep kesimpen dulu…hheee

Sudah di banyakiin XD

hampir semuanya IchiRuki scene…

daaaan awwawa…maaf…hubungan Unohana dan Ichigo belum terkuak (_ _)"

gomeeen…janji next chap =D

Okeh…terima kasih banyak Hikaru-san…sudah membaca dan memberikan review…

Semoga suka dengan kelanjutan ceritanya dan happy reading…

(^_^)/ Ja neeeee….

Ichiruki:

Ayayaaay….maaf sekaleeee karena lama update #hikhikhik

Sungguh limit waktu jd ngetiknya terbengkalai…

Aha…benarkah? #pofff

Aigo….gomawoooo…congmal gomawo….#ngga tau tulisannya yg penting kedengerannya begini, hhaaa

Terima kasih uda di bacain jampi-iampi sampe saya ngga tenang tidur karena mikirin fic ini (T_T)

Okeh…terima kasih banyak Ichirukiholic-san-san…sudah membaca dan memberikan review…

Semoga suka dengan kelanjutan ceritanya dan happy reading…

(^_^)/ Ja neeeee….

Hendrik Widyawati:

Aha…reviewnya ada duaa….saya jawab dengan format yg sama yaaa Widyawati-saaan XD

Ahaaa…lihat Ichigo…kau membuat Widyawati-san tekanan batin…XD

Sana peluk dulu….

Emmm…ada…ada….

Ketua kelas Rukia…dy akan menjadi cabe dalam hubungan Ichigo dan Rukia…

Rencana author begitu….tapi entah akan terlaksana atau tidak…karena nti kelamaan di dunia mereka ngga blik-balik ke dunia sihir (_ _)'

Akhirnya author galau…

Okeh…terima kasih banyak Widyawati-san…sudah membaca dan memberikan review…

Semoga suka dengan kelanjutan ceritanya dan happy reading…

(^_^)/ Ja neeeee…

Guest:

Hahaa…kalau author juga jd muridnya, saya yakin ngga konsentrasi sama pelajaran XD

Belum terekspos ni hubungan Ichi dan Unohana…maaf…

Chap depan pasti terkuak…

Yep! Dy si seksi yg sangat cocok untuk jadi musuh, hhee

Emm…hayo coba tebak…dari ciri-cirinya…hheeee

Tentu saja ada…

Yep! Itu dia si ketua kelas…

Hhaaaa….sedang di rencanakan tapi saya ngga yakin akan terealisasi atau tidak…

Karena takut kepanjangan nantinya…hheee

Aha…sudah saya lanjutkan untuk fic The Rose and The Sunflower…

Baru saja di update beberapa hari yg lalu…semoga suka XD

Okeh…terima kasih banyak Guest-san…sudah membaca dan memberikan review…

Semoga suka dengan kelanjutan ceritanya dan happy reading…

(^_^)/ Ja neeeee…

Ichigo:

Tunggu-tunggu…apa maksudnya itu review Cuma bilang 'halo Chappy-chan, maaf baru review padahal bacanya…' #katakan padaku!

Ah…sungguh teganya…teganya…teganya…hooo…pada diriku #dangdut

Ya, tuhan…

Ichigo, aku bisa jatuh cinta padamu dan membuang Rukia dari sisimu (*_*)

Jadi tolong jangan menolak untuk berdebat denganku!

Awawawaw…ke….kenapa kau bisa berkata begitu?! Baka! #blushing

Heh…benarkah kau bisa memasak? Kalau begitu buatkan aku ramen…tolong. Aku hanya ingin itu saja…

Whatz? Tidak…tolong jangan sebut dia dan masakannya #mendadak pucet

Hhaaaa…lihat, Ichigo. hidungmu lebih panjang karena sekarang kau bisa sombong begitu tahu Rukia juga menyukaimu bukan?

Hah…kau mematahkan hatiku,

Jangan keras-keras! Byakuya bisa mendengarmu! Kau mau di serang Senbonzakura, hah?

Sudah terima saja…apa boleh buat…#mendesah

Dia memang ayah mertuamu.

Emmm, tidak Ichigo…

Disini hanya ada senkaimon…dan hanya ada delapan penjaga gerbang #sesuai arah mata angin

Semua di pegang oleh penjaga gerbang,

Yg bisa bolak-balik hanya penjaga gerbang saja…juga mereka yg memang di izinkan untul lewat senkaimon…

Whatz?! BBM sedang naik…mungkin ongkosnya bisa dua kali lipat.

Ya, ampun…dasar jeruk baka. Kau daritadi sudah bertanya padaku.

Emmm…itu rahasia #smirk

Tak akan ku katakana padamu…tunggu saja di chap selanjutnya.

Ah…pria tua itu gurumu?

Itu juga rahasia! Jangan bertanya tentang itu…tidak akan ku beritahu kecuali…kau buatkan aku ramen #fufufufu

Tenang…sebentar lagi misteri ini akan terkuak, ichigo. Aku janji…

Hahaaa…kemane aja bapak kagak nongol-nongol…

Baru tiga chap kook…dan belum ada ide lagi untuk melanjutkan…

Okeh…terima kasih banyak Ichigo-san…sudah membaca dan memberikan review…

Sudah saya update untuk chap 8 dan Semoga suka dengan kelanjutan ceritanya…

Happy reading…

(^_^)/ Ja neeeee Ichigooo-saaan…

Fuuchi:

Aloooowwwwww! XD

Hhaa…iyaa…pas kemaren ngetik rasanya ngebayangin makanan-makanan yg bikin ngiler…

Gitu deh jadinya…hhaaa gomen…

Hhahaa…iya dy tua banget….

Soal itu…well, byakuya dan Ichigo juga ngga akrab malah kayak musuh bebuyutan…

Jd ketika mereka bertemu pasti…..hahhaa, tebak saja Fuuchi-saan

Karenaaa…..belum terungkap. Hehee….akan muncul di chap selanjutnya nanti…

Mohon di tunggu yah #kedip cantik

Hhaaaa….ketauan deh kebonya Ruki…daaan…bukan salah Rukia kalo dy burned karena Ichigo…

Emm…sedang di rencanakan tapi belum yakin akan terealisasi tau tidak…

Takutnya kepanjangan…

Okeh…terima kasih banyak Fuuchi-san…sudah membaca dan memberikan review…

Semoga suka dengan kelanjutan ceritanya dan happy reading…

(^_^)/ Ja neeeee…

Uzumaki Santi:

Uda saya update XD Uzumaki-saan….

Terima kasih banyak karena sudah membaca dan memberikan review…

Semoga suka dengan kelanjutan ceritanya dan happy reading…

(^_^)/ Ja neeeee…

Kirito2239:

Uda muncuuul XD #bimsalabim

Keluarlah chap 8…

Terima kasih banyak Kirito-san karena sudah membaca dan memberikan review…

Semoga suka dengan kelanjutan ceritanya dan happy reading…

(^_^)/ Ja neeeee…

Kanami:

Kanami kau kemana saja! #guncang bahu ampe gigi rontok

Ahaha…cieee yg kelas tigaaaa XD

Selamet yaaa….#gaje

Terima kasih…ow, tentu saja tidak. Dy sangat mencintai Rukia…

Akhirnya….#fiuh

Semakin ke belakang akan semakin nampak kok…percayaalah…

Byakuya lagi semedi di seiretei #bhahakkk

Ahh…segitu sibuknya yah…#muka sedih

Kalo begitu semangat dengan segala aktivitas kelas tiganya Kanami-san…

Tenang…author baca kok…dan sudah membalasnya…

Eh, ada review lagi?

Haha…byakuya hilang ingatan…di cuci otaknya sama author pake sabun colek :P

Rukia anak kandung Byakuya asli looh…#fufufu

Yosh! Chap 8 uda saya update (meskipun ngga tau sekarang uda sempet baca atau belom)

Terima kasih banyak karena sudah membaca dan memberikan review…

Semoga suka dengan kelanjutan ceritanya dan happy reading…

(^_^)/ Ja neeeee…

Ulvha:

Hahaa…terima kasih…jadi ngebayangin balita dengan pipi tembem…

Gomene…ngga bisa update cepet…

Sedikit agak lama tapi sudah sy update untuk chap 8 Ulvha-saaan…

Terima kasih banyak karena sudah membaca dan memberikan review…

Semoga suka dengan kelanjutan ceritanya dan happy reading…

(^_^)/ Ja neeeee…

Baiklah….selesai…

Terima kasih minna-minna sekalian karena sudah suka fic ini juga alert, fave dan review XD

Ngga pake cuap-cuap lagi…

Sampe ketemu di chapter 9…

See you…

Babayyyy (^_^)/

Ayra el irista