Kim Na Na: makasih :D

Untuk kapannya, disimak aja deh. Namanya juga Ichiruki, jadi gak bakal ke yang lain kok. XD

Ini udah apdet. Selamat menikmati. :3

Cha'py Muetz: salam kenal juga :D/

Kalo 7 chapt sih bukan ketinggalan, tapi memang baca dari awal. Hehehe

Ripiuny langsung aku jawab ke pertanyaan yang belum terjawwab aja ya. :3
buat musuhnya, yang pasti nanti aja deh dimunculin. Hihi. Chap juga curiga sama gin ya? Uhmm *pasang tampang serius. Mau tau?

Simak terus aja ya XD

Buat rukia akan diapain sama si Kucing, simak aja deh. :3

Piyocco: Iya, yang cocok jadi sodara emang mereka ya kayaknya? :D

Kasihan sekali nasibmu Gin. Banyak yang nuduh. Tapi... Gin atau bukan ya? Yaaah, itu masih rahasia Author. XD

Ni udah apdet. Dibaca lagi yuk. :3

ChappyBerry Lover: adegan pangeran nyelametin Rukia? Uhmm... iya gak ya?

Kalo GrimmRukia... jawabannya ada di chapter ini. :D

RK-Hime: Iya, nona cantik, makasih ripiunya. ;)

Haha. Gomen ya kalo lama. Salakan saja tugas2 itu. XD *ngeles

Cieeeh, bener nih tebakannya. :3 selamat. Aku kasih coklat. Silahkan ambil di toko terdekat. (tapi jangan lupa bayar :P)

Iya, kemaren belum jadi pacar. :)

Aku masih semester 2 kok. Hehe

Voidy: haiih.. gomen, kelewatan ternyata T_T

Kematian Ichig persekongkolan. Siapa sama siapa? *malah nanya

Iyaaa, kasihan Ichi yaaa ._. *pray for Ichi *digeplak

Owwie Owl: iyaaaaa, gak lama2 kok. Kasihan ntar Ichigonya meweeek. XD

Hai' hai. Terimakasih buat ripiunya. :D

Semoga chapter kali ini tidak mengecewakan ya. Hehe.


Disclaimer: Tite Kubo & Shinjo Mayu

Never Changed By Time

Grazee's


Chapter 8: The boy is...

.

.

.

Empat pemuda berkemeja hitam berdiri berjajar rapi di samping sebuah ranjang, yang di atasnya terbaring seorang pemuda yang selama sisa umur hidup mereka akan selalu mereka segani. Pemuda itu masih belum sadarkan diri sejak peristiwa petang tadi. Saat ini sore sudah bertandang, menghadirkan warna senada dengan surainya.

"Ngh... Rukia..." Bibirnya merapalkan nama seseorang yang ia cari, namun matanya masih tertutup tak sadarkan diri. Seperti baru saja mendapatkan mimpi buruk, kedua hazel tersebut sontak membelalakan matanya, seakan teringat pada sesuatu.

"Rukia! Akh-" Ia begitu terburu-buru bangun dari posisinya semula tanpa sadar akan luka yang ada di telapak tangannya. Sembari menehan perih yang menjalar, ia mencoba merilekskan tubuhnya. Perlahan keadaannya sudah mulai kooperatif. Ia menoleh pada the Guardian yang berdiri membisu di depannya.

"Toushiro, Ishida, Gin, Ggio, di mana Rukia?" Tanyanya dengan nada dingin.

Toushiro dan Ggio menunduk seketika, menampakkan rasa bersalah yang begitu dalam. Mereka menyesal, mereka merasa gagal, karena telah membiarkan gadis pimpinan mereka dibawa pergi dengan mudahnya oleh musuh. Hanya melihat ekspresi yang mereka tunjukkan, Ichigo menyadari bahwa yang ia cari tak akan ia temukan di rumah ini. Jadilah ini bukan sekedar seperti mendapatkan mimpi buruk, karena memang pada kenyataannya ia mendapatkan mimpi buruk. Ichigo meremas rambutnya frustasi. Bukan hanya the Guardian saja yang merasa bersalah, Ichigo pun demikian. Ia padahal sudah berjanji akan menjaga Rukia, namun nyatanya sekarang ia lagi-lagi gagal, dan Rukia terambil begitu saja.

"Mm- maafkan kami, Kurosaki-sama. Kami gagal menjaga Kuchiki-sama."

"Ke mana Grimmjow membawa Rukia?" Tanyanya dengan pandangan kosong jauh ke depan tanpa tujuan.

"Kami sudah berusaha mencari di seluruh Tokyo, namun sepertinya mereka sudah tak ada di kota ini."

"Siapakan mobil, aku akan mencarinya."

"T- tapi Kurosaki-sama, Anda baru saja-"

"Laksanakan perintahku tanpa 'tapi'." Tegasnya tanpa ingin ditawar lagi. Ia yang mengetahui kondisi tubuhnya sendiri, bukan orang lain, itulah yang dipikirkan Ichigo.

Ggio segera meninggalkan tempat dan berlari menuju garasi rumah. Dalam ruangan yang dapat dikatakan luas untuk sebuah garasi, terdapat satu mobil berwarna hitam yang lainnya. Mobil ini biasanya dipakai oleh the Guardian, namun karena mobil Ichigo tak dapat digunakan lagi, akhirnya mobil itu yang digunakan. Ggio segera membawa mobil itu keluar dari tempat persembunyiannya, dan Ichigo sudah menunggu di depan pintu masuk rumah bersama ketiga penjaganya yang lain. Kali ini yang menemani sang pimpinan pergi adalah Gin dan Toushiro, sedangkan Ishida dan Ggio diperintahkan untuk pergi ke markas saja.

"Halo, Renji." Sambung Ichigo sembari melihatke arah luar jendela, bermaksud mencari Rukia yang ungkin saja kebetulan ada di luar.

"Ada apa, Ichigo?"

"Carikan aku informasi tentang keberadaan Grimmjow. Sekarang." Meski suaranya terdengar dingin dan tegas, namun dapat dilihat dengan jelas bahwa raut wajah tampannya menyiratkan kekhawatiran.

"Hm, baiklah. Nanti kau akan aku hubungi setelah aku bisa menemukannya."

Ichigo terus menggumamkan sesuatu, seperti rasa kesal, namun juga merasa bersalah. Ia kesal dengan keadaan sekitarnya yang seakan tak mengijinkan dirinya memiliki Rukia, dan ia teramat sangat merasa bersalah atas semua hal yang menimpa Rukia selama bersama dirinya. Ulah Nel dan Grimmjow sepertinya akan menambah berat rasa benci Rukia padanya. Jika sudah seperti ini, ia ingin kembali saja seperti dulu yang tak kenal perasaan. Namun sayangnya, sosok Rukia tak pernah mengizinkan Ichigo untuk membuatnya berani dan tega melakukan hal tersebut.

Sebuat kota bernama Tokyo, sudah terjamah oleh roda mobil yang ditumpangi Ichigo Kurosaki. Sayangnya, tak sedikitpun ia menemukan jejak Grimmjow dan anak buahnya, serta Rukia. Ia sudah mencoba untuk pergi ke tempat Grimmjow yang pernah ia ketahui dulu. Sayangnya, tempat itu sudah ditinggalkan sejak lama. Menunggu kabar dari Renji pun, ia masih belum menghubunginya. Seharian bukan waktu yang sebentar untuk mencari Rukia. Jika kemungkinan mereka berada di luar Tokyo, akan menjadi hal yang sulit, mengingat daerah luar Tokyo bukanlah tempat yang sempit.

.

~o~

.

Grimmjow tengah duduk di sebuah sofa berwarna coklat, dan memandang lurus ke arah sudut ruangan, tempat seorang gadis yang maih tak sadarkan diri dan dalam keadaan terikat di kursi. Rukia, gadis yang ia bawa dengan paksa dari kediaman Kurosaki, terpaksa ia paksa untuk tak sadarkan diri dengan sebuah obat bius saat dirinya terus meronta meminta untuk dilepaskan. Ternyata ada juga gadis yang bisa membuat Kurosaki membawanya ke rumah. Hal tersebut menjadi pertanyaan baginya, karena ia juga mengenal sosok Kurosaki jika berhubungan dengan wanita.

"Grimmjow."

"Tt- Tuan?" Grimmjow segera bangkit dari tempat duduknya dan membungkukkan badan sebagai tanda hormatnya pada laki-laki yang tengah berdiri di ambang pintu. Grimmjow saat ini tengah berada di markas milik seseorang yang dianggapnya sebagai "penolong". Pria itu tersenyum, dan mendekat ke arah Grimmjow.

"Bagaimana dengan Kurosaki itu?"

"Saya sudah berhasil melemparnya ke jurang."

"Hmm... Bagus kalau memang begitu."

"Saya pikir, dia sudah mati."

Pria itu tersenyum lagi, sebuah senyuman penuh arti. Ia melirik ke arah Rukia yang tak mendengar mereka.

"Apakah dia gadis yang dikatakan penting untuk Kurosaki itu?"

"Sepertinya begitu, Tuan. Saya membawanya kemari, mungkin saja berguna untuk memancing Kurosaki dan melumpuhkannya."

"Aku punya ide yang lebih baik daripada itu."

"Hal apakah yang Anda rencanakan?"

"Hal yang akan membuat Kurosaki itu menangis untuk yang kedua kalinya." Gumam pria itu pelan, dan tak sampai ke telinga Grimmjow. Pria itu mendekati Rukia. Dipandanginya gadis mungil yang ia yakin masih belum disentuh oleh Ichigo itu. Wajahnya yang manis membuat pria itu tersenyum dibalik bingkai kacamata yang menghiasi wajahnya. Ia mengulurkan tangan untuk melepas ikatan tali yang melingkar di tubuh Rukia. Ia masih belum sadar. Digendongnya gadis itu dengan kedua lengan kekarnya, dan meningglakan ruangan itu, meninggalkan Grimmjow dengan tatapan heran.

"Ah, aku berterimakasih atas bantuanmu membawa gadis ini ke sini, Grimmjow."

"Tidak, Tuan, ini sama sekali bukan apa-apa jika dibandingkan dengan kebaikan Tuan selama ini." Ucap Grimmjow sungguh-sungguh.

Pria itu, adalah pria yang ia jumpai seminggu setelah hari pemakaman ayahnya. Ia datang dan menawarkan diri untuk mengasuh Grimmjow dan Nel. Awalnya ia menolak, dan tak ingin berurusan lagi dengan mafia. Ia dan keluarganya bukanlah mafia, hanya ayahnya saja yang berurusan dengan Kurosaki Isshin, itupun karena masalah hutang. Namun akhirnya ia menerima penawaran lelaki itu setelah lelaki itu berjanji padanya nakan membantunya membalaskan dendamnya. Ia mengatakan jika ia juga membenci Kurosaki. Akhirnya ia pun tinggal bersama pria itu. Jika adiknya bertanya, ia hanya akan menjawab jika ia adalah pria yang bersedia menjadi ayah angkat bagi mereka. Ia sama sekali tak menceritakan hal yang berhubungan dengan mafia. Begitu Grimmjow beranjak dewasa, ia baru menceritakan semua hal yang sebenarnya terjadi pada adiknya. Nel sama sekali tak menghalangi jalan Grimmjow yang berniat membalas dendam. Sejalan dengan itu, sepertinya niatnya itu mendapat sambutan baik dari 'ayah angkat' mereka. Beberapa anak buahnya ditugaskan untuk menjadi bawahan Grimmjow. Mereka dipierintahkan untuk bergerak di bawah perintah Grimmjow. Selain itu, ia juga memberikan Grimmjow sebuah tempat tinggal, dan keperluan lain. Hal yang Grimmjow tahu hanyalah, rencananya untuk membalas dendam telah terbantu.

Saat ini Grimmjow berada di daerah utara Tokyo, jauh di sebuah tempat pinggiran kota. Tempat ini adalah markas milik lelaki yang ia anggap sebagai penolong. Sang ayah angkatnya memberikan ia latihan pada saat remaja. Latihan menembak, menghindari musuh, dan cara bertahan. Hal tersebut sudah menjadi kegiatan rutin Grimmjow. Ia tampak sangat bersemangat, seolah membayangkan bahwa target latihannya adalah Kurosaki, yang benar-benar ingin ia musnahkan.

Kini ia berdiri terdiam di dalam ruangan tersebut, sendiri. Rukia telah dibawa pergi oleh pria itu. Tentang hal apa yang akan dilakukan pada gadis yang dianggap sebagai gadis Ichigo tersebut, ia tak peduli. Pria bersurai biru itu melangkah, meninggalkan ruangan dan berjalan ke arah pintu keluar.

.

~o~

.

'Sial! Di mana sebenarnya mereka?' Ichigo masih duduk di dalam mobilnya yang juga masih setia menyisir jalanan di Tokyo. Sudah tengah malam, dan ia masih belum mau menyerah.

"Kurosaki-sama. Bagaimana kalau sebaiknya kita sudahi dulu saja. Kita lanjutkan besok." Toushiro menginterupsi keheningan di dalam mobil.

"Aku bisa saja pulang, lalu tidur dengan nyaman dan tenang. Tapi mereka... mereka tak akan menunggu besok untuk menyakiti Rukia." Jawab Ichigo dengan nada datar.

"Tapi, Kurosaki-sama. Jika Anda bertemu mereka dengan keadaan seperti ini, bukankah hanya akan lebih membahayakan Anda dan Kuchiki-sama? Anda belum pulih sepenuhnya." Gin mencoba menengahi. Saat ini, wajah tampan yang selalu terhiasi seringaian itu menunjukkan wajah yang serius. Ia sadar, ini bukanlah saat yang tepat untuk menampakkan wajah yang demikian. Ia masih fokus dengan jalanan, dan menunggu jawaban dari Ichigo yang akhirnya mempertimbangkan kata-kata Gin. Ia tampak berpikir, dan itu membuat kedua pengawalnya sedikit menghela napas lega.

"Baiklah. Kita pulang dan kita lanjutkan esok hari. Semoga saja besok Renji sudah dapat menemukan informasi tentang Rukia."

Gin dan Toushiro tersenyum. Bagaimanapun juga mereka juga butuh istirahat. Haluan berbalik arah, mereka kini pergi ke arah rumah pimpinan mereka. Sesampainya di rumah, Ichigo segera pergi ke kamarnya, namun bukan untuk mengistirahatkan diri. Bagaimana ia beristirahat sementara bahaya masih mengancam Rukia di luar sana. Pemuda itu duduk di sisi tempat tidur, dan memandang jam diding yang terpasang lurus di seberangnya. Jarum jam itu berdetak perlahan, membuat pemuda itu tak sabar dan serasa ingin segera memutarnya agar waktu segera berlalu. Ia mengambil telepon genggamnya, dan menekan sebuah nomor. Nada tersambung terdengar di sambungan. Rupanya ia menguhubungi Renji. Lama ia menunggu yang ia hubungi untuk menjawab panggilannya. Namun nihil. Berulang kali ia mencoba tetap saja tak ada jawaban. Mungkin Renji sudah tidur, pikirnya. Ia lalu meletakkan benda itu di meja, dan membaringkan tubuhnya ke ranjang. Tidur? Ia hanya berulang kali mengubah posisinya yang sepertinya tampak tak nyaman. Menggeliat ke kanan dan ke kiri, seperti mencari posisi tidur yang nyaman. Tapi tetap saja tak bisa. Bukan luka di tubuhnya yang membuatnya tak dapat berbaring dengan nyaman, namun pikirannya yang selalu terbayang akan Rukia. Ia bangkit dari posisinya, dan kembali duduk. Tak lama, ia sudah berdiri dan melangkah pergi meninggalkan kamarnya. Ia berjalan dengan gontai ke kamar Rukia. Dibukanya pintu kayu itu perlahan. Berharap bahwa hilangnya Rukia adalah sebuah kebohongan saja.

Tap tap tap

Ruangan tampak sunyi. Ichigo melangkah masuk tanpa menghidupkan lampu ruangan , dan membiarkannya tetap gelap. Ia membaringkan tubuhnya di ranjang tempat sang putri biasanya mengistirahatkan diri. Dua tangan jam sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Tak sedikitpun raa kantuk menghinggapi dirinya. Ichigo mengambil salah satu bantal yang ada di tempat tidur. Ada sedikit wangi khas Rukia yang tertinggal di bantal itu. Ichigo menghirup dalam-dalam. Bukannya terobati rasa rindunya, namun yang ada justru rasa bersalahnya semakin membuatnya merasa sesak.

"Kurosaki-sama! Kurosaki-sama!" Teriak seseorang dari arah luar dan terdengar seperti sedang berlari ke arah kamarnya. Ichigo keluar dari ruangan dan menemukan Toushiro tampak panik mencarinya.

"Ada apa, Toushiro?" Tanya Ichigo yang berdiri di depan pintu kamar Rukia.

"Ku- Kuchiki-sama-"

"Ada apa dengan Rukia?"

Belum sempat Toushiro menjawab, Gin datang, dengan Rukia dalam rengkuhan kedua tangan kurusnya. Tidak ada raut bahagia sama sekali yang tersirat pada wajah Ichigo padahal Rukia kini ada di depannya. Ichigo membeku seketika saat melihat keadaan Rukia. Dengan melihat saja, dugaan mereka bertiga tentang Rukia pastilah sama. Ichigo tanpa aba-aba segera mengambil Rukia dan membawa gadis itu ke kamarnya. Gin dan Toushiro hanya mengekor di belakang. Direbahkannya dengan hati-hati tubuh mungil yang ada sedetik lalu masih ada di gendongan kedua tangan kekarnya. Sakit. Hal itu lah yang Ichigo rasakan saat melihat kondisi Rukia. Kedua hazelnya tanpa sadar sudah basah oleh cairan bening. Ia menyingkirkan helai-helai surai Rukia yang menutupi wajahnya. Sakit, semakin sakit saat ia menjumpai sebuah luka memar di pipinya.

"Nghh... lepas- kanh- aku... aku mohon..." Igau Rukia tiba-tiba dengan raut wajah yang tak tenang.

Tak ada yang menyangkal, dugaan mereka semakin kuat. Namun kedua penjaga itu tak ada yang berani angkat bicara mengutarakan pendapat mereka, karena mereka juga yakin bahwa sang pimpinan pasti tahu penyebabnya. Mereka hanya memandangi Ichigo yang semakin tampak terluka melihat keadaan Rukia.

"Rukia... Rukia... sadarlah Rukia..." Ichigo semakin merendahkan tubuhnya, mencoba lebih dekat melihat gadisnya, "Rukia... ada apa denganmu?"

"Kurosaki-sama..."

"Toushiro, Gin, di mana kalian temukan Rukia?"

"Kami menemukan Kuchiki-sama tersandar di depan pagar rumah dengan kondisi yang sama dengan sekarang." Jawab Gin.

"Apa kalian tak menemukan siapapun di sana?"

"Tidak, Tuan. Kami segera keluar saat terdengar suara gaduh seperti seseorang memukuli gerbang utama."

"Brengsek! Tak akan aku maafkan mereka!" Ichigo menggeram marah. Tanpa mereka ketahui, sebelah hazel kini sudah menggelap, menampakkan kilau emas.

Buru-buru Gin dan Toushiro segera mengunci tangan Ichigo begitu mereka sadar Hichigo muncul. Ichigo meronta meminta dilepaskan.

"Kurosaki-sama. Kami mohon Anda tenang. Kami akan membantu Tuan!" Seru Toushiro, "Sebaiknya sekarang Kurosaki-sama menjaga Kuchiki-sama sampai Nona sadar."

Hazel dan emas itu kini dipaksa untuk melihat pada Rukia yang terbaring tak sadarkan diri dengan kondisi yang sangat tidak baik. Gin dan Toushiro masih mengunci tangan pimpinannya itu dengan kuat. Mereka sama sekali tak ingin ambil risiko karena mereka tahu, Hichigo lebih berbahaya daripada Ichigo. Berulangkali kelopak Ichigo mengerjap. Perlahan amarahnya sedikit mereda. Kini, permata emas itu sudah kembali ke sediakala. Kedua pemuda berambut putih itu lalu melepaskan tangan pimpnannya, dan membiarkan ia berjalan gontai ke arah Rukia. Dipelukanya dengan erat tubuh mungil yang tak berdaya itu. Hatinya semakin miris melihat raut wajah ketakutan, padahal ia sedang tak sadarkan diri.

"Rukia, maaf..." Ditangkupnya wajah Rukia, dan diusapnya kedua pipi putih itu, "Aku sudah gagal menjagamu." Ichigo mengecup lembut kening Rukia, "Aku berjanji, tak akan membiarkanmu disakiti lebih dari ini. Aku berjanji, akan membunuh siapapun yang melakukan ini padamu." Sumpah Ichigo dengan sungguh-sungguh.

"Gin, Toushiro, kalian bisa pergi."

"Baik. Kami akan mencoba mencaritahu siapa yang melakukan hal ini."

"Ide bagus. Beritahu segera jika kalian menemukannya, dan aku akan membereskannya dengan tanganku sendiri. Aku tak akan membiarkannya hidup tenang. Cari Grimmjow, dan selidiki dia. Dia lah yang membawa Rukia terakhir kali. Cari dia sampai dapat."

"Baik." Jawab mereka dan segera pergi meninggalkan kediaman Kurosaki.

Kini tinggal Ichigo dan Rukia yang ada di rumah besar itu. Pria berambut oranye itu beranjak dari tempat, dan mengambil air hangat dan kembali untuk perlahan melepaskan pakaian yang melekat di tubuh Rukia dan menggantikannya. Ia menyeka perlahan tubuh polos yang ada di depannya. Amarahnya memuncak, melihat beberapa bercak yang menempel di tubuh Rukia. Tanda seperti itu, bukanlah hal yang asing untuk dirinya. Sebelumnya ia berharap mereka tak melakukan hal sejauh yang ia duga pertama kali. Namun melihat bekas cairan kental yang sudaha mengering, dan lagi-lagi tak asing baginya. Ia harus menerima kenyataan bahwa gadisnya sudah... dinodai. Semakin mendapat bukti, hatinya semakin berontak. Ia sangat berharap bahwa dugaannya adalah sebuah kesalahan terfatal yang pernah ia lakukan. Sang pimpinan mafia terkuat itu... menangis. Ia menangis melihat gadisnya sedemikian rupa. Hatinya teriris. Dengan cepat ia membersihkan semua bekas "kotor" yang membuat kulit bersih itu menjadi cacat. Begitu selesai, ia memakaikan salah satu kemeja yang ada di almari padanya. Betapa mungilnya Rukia yang sangat tampak saat dalam balutan kemeja Ichigo, yang tampak kebesaran padanya. Namun ini bukan saat untuk mengagumi Rukia. Malaikatnya itu kini rapuh, teramat sangat rapuh. Ditariknya selimut untuk menghangatkan tubuh Rukia, berharap dapat sedikit menghilangkan raut wajah ketakutan Rukia. Namun usahanya nihil. Tetap saja gadis bermata violet itu ketakutan.

Sang surya sudah bertengger tinggi di langit. Memancarkan sinarnya hingga menerobos tirai putih di jendela kamar Ichigo. Dalam ruangan yang tampak hening itu, terdapat sesosok pria yang duduk sembari terus mengamati gadis yang dicintainya. Ia masih belum sadar.

Tok tok tok

Suara yang berasal dari balik pintu itu berhasil mengalihkan perhatiannya, meski hanya sebentar. Ia hanya berkata 'masuk' sebagai tanda mempersilahkan sesorang yang barusaja mengetuk pintu meminta izin. Begitu pintu terbuka, tampak Ishida, Renji, Gin, Toushiro, dan Ishida yang membawa makanan. Semangkuk bubur dan sepiring nasi.

"Ichigo. Kalau kau memang mau melindungi Rukia, sebaiknya kau jangan menyiksa diri." Ucap Renji yang mengambil tempat di seberang Ichigo. Ini sudah dua hari ia absen untuk mengisi tenaga. Jika dia dalam keadaan sehat, sepertinya bukan masalah besar. Namun Ichigo sendiri barusaja mendapatkan luka baru dari Grimmjow kemarin.

"Letakkan saja di meja. Aku akan memakannya kalau Rukia sudah sadar, dan ia juga mau makan." Jawabnya tak acuh dan masih terus memperhatikan Rukia.

"Tentang Grimmjow, aku sudah menemukannya."

Seketika Ichigo menatap marah pada sahabatnya itu, "Kau tak berguna, Renji!" Ichigo memberikan tatapan membunuhnya ke arah Renji. Pemuda berambut merah itu hanya menampakkan tatapan dingin. Ia sudah baru kali ini menemukan eksprei seperti itu dari Ichigo.

"Sebagai permintaan maafku, aku akan membantu mengahabisi siapapun yang kau mau."

"Kenapa kau tak bisa lebih cepat, hah?" Ichigo berdiri, dan menatap murka pada sahabatnya. Renji masih diam, membiarkan Ichigo menumpahkan kekesalan, "Kau lihat? Rukia sampai begini! Mereka, dengan brengseknya menjamahkan tangan kotor mereka ke tubuh Rukia, dan membuatnya kehilangan hal yang paling berharga pada dirinya." Pemuda itu menumpahkan amarahnya. Namun sedetik kemudia, ia mulai membisu.

Hening sejenak meraja diantara mereka. Ichigo kembali melemparkan pandangan ke arah Rukia. "Maaf. Sepertinya ini memang salahku. Aku seharusnya bisa menjaga Rukia."

"Diamlah, Ichigo. Percuma saja kau menyalahkan dirimu. Ini juga sudah terjadi, dan ini juga diluar kuasamu."

"Kau mungkin bisa bicara seperti itu dengan tenang, karena Rukia bukan siapa-siapamu!"

"Lalu, apa maumu?"

"Aku akan menemukan pelakunya, dan mengenyahkannya."

"Nghh..." Rintihan kecil yang meluncur dari bibir mungi Rukia berhasil menyita perhatian semua pemuda yang ada di ruangan itu, terutama yang berambut oranye. Ia segera duduk tepat di samping gadis itu. Sepertinya Rukia mulai sadar, tampak dari kelopak matanya yang bergerak berusaha membuka dan menunjukkan bening violetnya.

Satu kali. Cahaya terang perlahan menyusup.

Dua kali. Siluet terlihat dalam penglihatannya.

Setelah beberapa kerjapan berikutnya, ia dapat melihat dengan jelas sosok Ichigo.

"AAAAAAAAAAARRRRGGGHHHH! PERGI KALIAN!" Teriak Rukia tiba-tiba begitu sembari refleks menutup kembali violet dan kedua telinganya, "Pergi!" Lagi, teriakan penuh ketakutan itu terulang.

"Rukia! Tenanglah, Rukia. Aku mohon tenanglah!" Ichigo berusaha menenangkan Rukia. Ia mencoba mengamit tangan mungil yang kini bergetar hebat karena ketakutan itu. Dapat ia lihat, cairan bening mengalir membasahi pipinya. Baru kali ini ia melihat Rukia menangis, "Rukia..."

"PERGI KAU!" Ia berteriak untuk yang kesekian kalinya. Ia meronta, menolak uluran tangan Ichigo.

"Kalian pergilah dulu. Tinggalkan aku sendiri." Perintah Ichigo.

Dengan patuh, kelima orang itu meninggalkan kamar Ichigo, membiarkan pimpinan mereka menenangkan Rukia. Di dalam ruangan, Rukia masih terus menolak Ichigo. Ia tak mendengarkan sepatah kata pun dari bibir pemuda itu. Kejadian yang ia alami, terlalu membuatnya ketakutan. Tak tahu apa yang harus dikatakan lagi, Ichigo akhirnya memilih untuk mebawa Rukia ke dekapannya. Awalnya gadis itu masih meronta, namun perlahan perlawanannya melemah dan mengalah pada dekapan hangat pemuda itu. Meski sudah menyerah, namun dapat Ichigo rasakan tubuh mungil itu masih bergetar, dan menyiratkan rasa takut.

"Puas sekarang kau, Kurosaki! Aku sudah kotor. Mafia-mafia brengsek seperti kalian, sebaiknya mati saja." Maki Rukia dalam amarahnya. Ia menangis. Sepertinya ia sudah pasrah dengan keadaannya. Ia sama sekali tak menyangka bahwa dirinya akan mengalami semua ini.

"Katakan padaku, Rukia. Katakan padaku siapa yang melakukan ini padamu?"

Rukia melepaskan iri dari rengkuhan pemuda itu. Ia menatap nyalang padanya, "Apa pedulimu? Karena kau, aku mengalami semua ini. Kau tahu? Aku sudah tak memiliki apapun lagi. Aku bahkan sudah tak memiliki kesempatan untuk menemuinya. Aku sudah tak punya nyali untuk menemukannya. Aku sudah kotor!"

"Tenanglah Rukia. Aku mohon. Katakan padaku, siapa yang sudah melakukan ini padamu!"

"Lalu kau mau apa jika tahu siapa yang melakukannya? Kau tahu pun, tak akan membuat hal ini tak terjadi. Semua ini gara-gara kau! Kesialan terbesar dalam hidupku adalah bertemu dengan-" Rukia menghentikan perkataannya saat tak sengaja melihat sebuah foto yang terpajang di dinding. Foto sebuah keluarga. Bukan... bukan potret akan keluarga bahagia yang membuatnya tertegun, melainkan salah satu sosok yang ada dalam bingkai. Ia beranjak dari tempatnya, dan berjalan perlahan ke arah foto itu. Ia ingin memastikan bahwa penglihatannya tak salah, diiringi oleh tatapan heran Ichigo. Selangkah kemudian ia sudah tepat berada di depan foto keluarga yang dilihatnya. Benar, dan ia tak salah lihat.

"Kurosaki, siapa anak ini?" Tanya Rukia sembari menunjuk gambar seorang anak yang berpose tersenyum di tengah rangkulan kedua orangtuanya.

"Memangnya ada apa dengan anak itu?" Ichigo yang berdiri di belakang Rukia malah berbalik tanya.

"Katakan, siapa anak ini!"

"Anak di foto itu, aku. Lalu yang ada di sampingnya adalah kedua orangtuaku. Mereka sudah meninggal saat aku masih kecil."

"..." Rukia terdiam membeku. Bagaimana bisa? Di foto itu, sang anak kecil yang dimaksud Rukia memiliki rambut berwarna hitam, jauh berbeda dengan Ichigo yang berambut oranye. Di dalam potret itu, anak kecil yang tengah tersenyum lebar di tengah orangtuanya, adalah anak yang dulu menolongnya, juga anak lelaki yang ia sukai sampai sekarang. Jika dikatakan aneh, ia menyukai seseorang hanya karena menolongnya, itu salah, ia menyukainya karena dulu anak itu satu-satunya yang mau menolong.


"Hikksss... tolong aku..."

Beberapa anak laki-laki melewati tempat tersebut. Mendengar permintaan tolong itu, mereka berhenti sejenak, dan memandang Rukia kecil dengan tatapan mengejek.

"Haha. Lihat anak aneh itu. Biarkan saja dia. Nanti juga bakal ada yang menolong. Sudah... sudah, ayo kita pergi. Sudah hampir sore." Tak menolong, mereka melanjutkan langkah, meninggalkan Rukia.

"Hikss… hikss…" Gadis kecil bermata violet itu menangis ketakutan di sebelah semak semak. Ia menatap takut pada daerah sekitarnya. Gelap. Gadis kecil berusia enam tahun itu masih menangis dan semakin terisak saat terdengar suara-suara aneh dari hutan di seberang. Ini mungkin masih sore, namun tetap saja ia takut sendirian. Dia kini terjebak di sebuah turunan landai di samping taman kota. Ia tergelincir jatuh saat akan mengambil bolanya.

"Hey." Panggil seseorang dari atas. Gadis itu menoleh dan mendapati seorang anak seumuran dengannya memanggil.

"Hikss…"

"Kau jangan menangis, akan kubantu kau." Anak lelaki berambut hitam itu tampak mencari sesuatu. Tak menemukan apapun yang bisa digunakan, ia lalu melepas bajunya dan menggulungnya menjadi seperti tali pendek. Diulurkannya baju itu ke arah gadis yang di bawah, "Tangkap ini, pegang, dan aku akan menarikmu."

Si gadis kecil hanya bisa mengangguk menurut. Diraihnya baju gulungan pendek itu. Perlahan ia ditarik dan mencoba menjejakkan kakinya ke tanah yang sudah menggelincirkannya tadi. Tak lama kemudian ia berhasil naik ke permukaan. Bajunya kotor, tapi ia tak peduli. Ia melihat anak laki-laki yang menolongnya tadi tengah memakai kembali bajunya yang ikut menjadi kotor.

"Terimakasih…" Ucap gadis itu perlahan.

"Kau lain kali hati-hati!"

"Iya."

"Ngomong-ngomong kau manis. Aku menyukaimu!" Ucap anak laki-laki itu spontan.


"Ada apa sebenarnya?"

"Katakan padaku kalau itu bohong." Rukia berbalik badan menghadap Ichigo.

"Sayangnya, tidak."

"Lalu, bagaimana bisa sosok kalian berbeda?"

"Saat kecil aku memang begitu. Renji memberitahuku, saat aku lahir musuh ayah tahu bahwa Kurosaki memiliki penerus anak laki-laki. Bagaimanapun juga, mereka berusaha menyingkirkanku. Musuh ayahku tahu bahwa ciri-ciri yang paling menonjol dariku adalah rambutku yang berwarna oranye. Jarang, kan, anak laki-laki memiliki rambut berwarna oranye? Karena tak mau membuat ibuku sedih, aku dan ibuku disembunyikan di sebuah desa yang tak diketahui banyak orang. Beberapa tahun kemudian, aku dan ibuku pergi ke Tokyo, sebelumnya ibu mengubah penampilanku, dan foto ini diambil setelah kami bertemu. Sayangnya, setelah bertemu ayahku, musuh ayahku yang dulu mengincar nyawaku, mengetahui kami dan mengejar kami. Satu mobil, dikejar 5 mobil sekaligus. Daerah perbukitan itu sangat tak menguntungkan." Ichigo mencoba mengingat kembali cerita Renji, "Akhirnya musuh ayahku menang, dan berhasil melemparkan mobil ayahku yang saat itu dikemudikan oleh ayah Renji, ke jurang. Hanya aku dan ayah Renji yang selamat. Aku dibawa ke kediaman Abarai. Di sana aku bertemu dan berteman dengan Renji. Awalnya ia tak menyukaiku, tapi lama-lama kami berteman juga. Agar tak ada yang mengetahui bahwa aku masih hidup. Aku dilatih oleh ayah Renji selama bertahun-tahun. Aku kembali ke Tokyo setelah umurku 16 tahun. Aku mulai berani untuk menunjukkan identitasku, demi Kurosaki. Akhirnya aku mengembalikan penampilanku seperti semula. Begitu mengetahui kemunculanku, mereka mulai memburuku."

Brugh

Rukia jatuh terduduk di lantai. Kenyataan semuanya sudah ia ketahui. Orang yang dicarinya selama ini ada di depan matanya. Ia meremas rambutnya frustasi. Senang? Sedih? Marah? Atau kecewa? Ia tak tahu harus berbuat apa. Ia memeluk dirinya sendiri, dengan wajah kebingungan. Ichigo merendahkan dirinya, berjongkok di depan Rukia. Ia masih belum mengeluarkan sepatah kata pun.

"Lalu... kenapa kau tak mengingatku?"

"Mengingatmu?"

"Aku... aku anak kecil yang dulu kau tolong."

Ichigo terdiam dengan pandangan bertanya. Ia lalu mencoba mengingat sesuatu. Mendadak rasa sakit menyerang Ichigo. Jika bukan karena berusaha mengingat keras, tak ada lagi. Saat Rukia menyakan hal barusan. Ia memegangi kepalanya. Rukia hanya melihat dengan raut wajah antara cemas dan takut. Ia tak berani menyentuh Ichigo sedikitpun. Pemuda yang ada di hadapannya perlahan mulai tenang. Sedetik kemudian, ia hazel dan violet itu sudah bertemu. Tanpa aba-aba, Ichigo menarik Rukia ke dalam pelukannya.

"Aku ingat. Aku ingat kau. Aku ingat kau, gadis kecil yang manis." Ucap Ichigo sembari mendekap erat gadis yang ada di masih membisu.

"Ini salah..."

"Kenapa, Rukia?" Ichigo menjauhkan sejenak dirinya dari Rukia. Ia menatap intens pada raut wajah manis yang ada di hadapannya.

"Ini salah!" Rukia mendorong Ichigo dan segera berlari keluar. Langkahnya terhenti begitu berada di ujung tangga. Ia melihat ke bawah, dan menjumpai 5 pasang mata melihat ke arahnya. Ia membeku di tempat. Mafia... ia lagi-lagi bertemu dengan mafia. Akhirnya, belum sempat melanjutkan langkah, tubuhnya serasa melayang tiba-tiba. Rupanya Ichigo menggendongnya dan membawanya ke kamar.

Cklek

Suara pelan kuncian terdengar. Ichigo membaringkan Rukia di ranjangnya dan menindih gadis itu.

"Kau seharusnya menyadari penampilanmu sekarang!" Ternyata Ichigo cemburu jika kelima pengawalnya melihat keadaan Rukia sekarang ini. Bagaimana tidak? Ia hanya mengenakan kemeja Ichigo yang hanya menutupi hingga atas lututnya.

"Lepaskan aku, Kurosaki!"

"Ichigo. Panggil aku Ichigo."

"Ken-"

"Sekarang alasanku untuk membunuh mereka lebih kuat. Katakan Rukia. Katakan apa yang mereka lakukan padamu? Katakan siapa yang melakukan hal ini padamu? Katakan padaku, dan aku akan segera menghabisi mereka."

Dari sederet pertanyaan yang dilontarkan pemuda itu, tak ada satupun yang dijawab. Hanya bulir-bulir air mata yang Rukia berikan. Ia menutup rapat-rapat kedua violetnya, dan terisak dalam tangisnya. Sebuah bealaian lembut ia dapatkan di helai gelapnya. Faktanya, pria yang ada di depannya adalah orang yang membuat hidupnya hancur seperti sekarang, namun di sisi lain, dia adalah orang yang paling ingin ia temui. Ia adalah satu-satunya lelaki yang ia harapkan bisa menghapus semua kengerian tentang lelaki padanya selama ini. Boleh kan, kalau ia menganggap dunia ini tidak adil? Ya, Rukia sedang mengutuk garis takdir yang ia terima. Ia mengutuk senyuman dan air mata yang datang dalam waktu bersamaan, dan membuatnya tak tahu harus berbuat apa. Dapat ia rasakan sebuah pelukan merengkuh tubuhnya.

"Jawab aku, Rukia."

"Kenapa kami-sama tak adil padaku?" Rukia bergumam pada dirinya sendiri.

"Rukia, kau bilang kau sangat mencintainya, kan? Kau sudah bertemu dengannya, ia ada di depanmu. Lantas kenapa kau masih tak acuh padaku?"

"Aku seorang perempuan, Kurosaki! Perempuan mana yang sanggup melihat dan masih mengharapkan orang yang ia cintai, sementara dirinya sudah kotor!"

Ichigo menggenggam kedua tangan mungil Rukia di samping kepala gadis itu, "Aku yang salah di sini. Aku yang bodoh sampai membiarkan mereka menyakitimu. Tapi aku janji, aku tak akan membiarkan hal itu terulang lagi. Aku mencintaimu, bukan tubuhmu. Aku mencintaimu karena aku memang mencintaimu. Kalau kau menganggap dirimu kotor, akan aku hilangkan semua tanda menjijikan dari mereka. Aku akan membuatmu hanya mengingatku."

Sedetik kemudian, Ichigo sudah membawa Rukia dalam sebuah ciuman. Rukia diam tak merespon. Ia masih mengatupkan bibirnya untuk Ichigo. Namun karena ia memang tak menuntut, ia hanya menyapukan bibirnya dengan lembut. Ia ingin meyakinkan Rukia.

"Katakan padaku, Rukia..." Pinta Ichigo untuk yang kesekian kalinya.

"Hanya satu orang yang melakukannya." Jawab Rukia dengan pandangan kosong.


Flashback

Rukia yang mulai sadar, berusaha mencari cahaya dengan mengerjapkan matanya. Namun nihil. Tetap saja hanya ada gelap. Ia akhirnya sadar ada sesuatu yang menghalangi pandangannya, yang menutup matanya.

"Kau sudah bangun rupanya, Kurosaki no hime?"

"Siapa kau? Lepaskan aku!"

"Aku hanya ingin membuat Kurosaki itu menyerah." Jawab seorang pria yang kini mulai menindih Rukia. Tak membuang waktu, ia dengan kasar merobek pelapis tubuh gadis itu. Detik detik berikutnya, jamahan-jamahan kasar menyergap tubuh polos Rukia. Beberapa tamparan mendarat mulus di pipinya karena ia terus berontak. Kekuatan pria, yang kini tengah berusaha menembus pertahanan terakhir Rukia itu, jauh lebih besar darinya.

"Akkhh-" Rintihan itu meluncur dari belah bibir Rukia. Cairan kental berwarna merah yang membekas di tempat, menjadi saksi bahwa Rukia telah kehilangan mahkotanya. Bertubi-tubi pria itu menghujamkan dirinya, dan berakhir dengan benih-benih yang memenuhi rahim gadis itu. Terlalu lelah dengan semua paksaan yang ia dapat, Rukia kini menyerah pada lelap menyergap. Ini adalah akhir dari hidupnya. Hal itu lah yang memenuhi pikirannya.

Flashback end


Teringat akan hal itu, Rukia kembali ketakutan. Ia meringkuk di bawah Ichigo. Mencoba untuk menenangkannya, Ichigo menarik tangan Rukia dan memaksanya melihat ke arahnya.

"Rukia..." Tak ada jawaban, "Katakan kalau kau bersedia menjadi milikku, dan aku akan membalaskannya untukmu."

"..."

"Katakan, Rukia." Mohon Ichigo.

"A- aku... Aku ber- sedi- ehmp-"

Belum sempat menyelesaikan jawabannya, Ichigo sudah mengunci bibir gadis itu dalam sebuah ciuman yang lembut. Semakin lama pangutan itu semakin dalam. Sudah tak ada lagi sapuan bibir yang lembut, karena kini benda kenyal di dalam mulut Ichigo sukses memporakporandakan isi mulut Rukia. Rukia sudah kehilangan arah, dan pasrah ke pelukan pria yang kini mulai membuka satu persatu kancing kemejanya. Ia hanya berharap, menyerah pada orang yang ternyata adalah cinta pertamanya itu, dapat sedikit membuatnya merasa lebih aman. Sepenuhnya sekarang ia berharap pada Ichigo. Dengan kata lain, Ichigo adalah harapn terakhirnya. Jikalau ia lagi-lagi dilukai oleh lelaki, ia bersumpah memastikan bahwa Ichigo lah lelaki terakhir yang mau ia kenal seumur hidupnya.

Sisi lain, Ichigo kini merasa lega dan senang, gadisnya sudah dapat ia berhasil menanggalkan pelapis terakhir, Ichigo mencoba menggantikan setiap bekas yang ada di tubuh Rukia dengan tanda baru darinya. Keposesifan dan kekesalan terpancar jelas dari setiap sentuhan yang Ichigo berikan. Ia benar-benar ingin membuktikan perkataannya. Ia ingin membuat Rukia hanya mengingat sentuhannya saja.

"Ngghh..." Desahnya saat merasakan bibir Ichigo kembali memberikan tanda di belakang telinganya.

"Lihat aku, Rukia. Lihat aku agar kau ingat hanya aku yang memberikan semua tanda ini." Ichigo mengeliminasi jarak, "Kau milikku, selamanya." Bisiknya dan kembali menghanyutkan diri mereka dalam sebuah ciuman. Rukia bergidik ketika merasakan sesuatu menyentuh bagian selatan tubuhnya. Kini Ichigo tengah mempersiapkan diri, menyambut puncak di antara mereka.

"Khh- Akh- Kuro- saki..." Rintihan dan desahan yang menyatumengiringi kegiatan Ichigo yang tengah menyatukan tubuh mereka. Ini titik puncak.

"Panggil aku Ichigo, Rukia...nghh..." Perintah Ichigo di sela desahannya.

"..." Rukia menggeliat tak nyaman. Kabut nafsu menuntutnya untuk menyelesaikan kegiatan ini segera.

"Rukia..."

"I- Ichigo... akhhk-!"

"Itulah yang ingin aku dengar." Ichigo tersenyum senang.

Kini dua insan itu telah menyatu sempurna. Meski nafas memburu menandakan nafsu, namun tak ada sedikitpun laku kasar. Kelembutan lah yang ingin disampaikan dalam setiap sentuhan yang memabukkan itu. Hentakan demi hentakan mendecitkan ranjang yang menjadi alas. Semakin lama hentakan itu bertambah intens, seiring dengan masing-masing rasa yang telah di titik akhir. Hentakan terakhir yang lebih kuat, membawa Ichigo menjamah Rukia lebih dalam, dan meninggalkan benih-benih Kurosaki dalam rahim gadisnya yang juga mencapai puncak berbarengan dengannya. Dipeluknya dengan erat tubuh mungil Rukia yang kelelahan. Rukia membisu dalam rengkuhan hangat kekasihnya. Kekasih? Sudah pasti Ichigo akan menganggapnya demikian. Ia menjawab "bersedia", yang berbarengan dengan menyerahkan semua kepercayaannya pada Ichigo. Tak lama kemudian, Rukia sudah terlelap karena kehabisan tenaganya. Ichigo mengecup pipi gadis itu. Ia memakaikan kembali kemeja Rukia yang tadi ia tanggalkannya. Setelah selesai memakai pakaiannya sendiri, Ichigo beranjak. Ia berjalan ke arah almari dan mengambil sebuah kotak. Kembali ke Rukia, ia duduk di samping gadis itu, lalu memakaikan sebuah kalung yang ia ambil dari kotak yang ada di tangannya.

"You are my white moon. Mine. These feelings never changed by the time, from years ago, and also now on 'till forever." Ucap Ichigo dan kemudian mengecup kening Rukia.

Ia lalu beranjak pergi dan menemui the Guardian yang masih menungguinya di bawah. Ichigo menuruni tangga dan berhenti tepat di depan mereka.

"Renji, di mana Grimmjow berada?"

"Dia dan anak buahnya berada kota di belah selatan Tokyo."

"Antar aku ke sana."

"Baiklah."

Ichigo Kurosaki, dan kelima penjaganya meninggalkan Tokyo dan mendatangi tempat persembunyian Grimmjow yang sudah berhasil dilacak Renji. Dua buah mobil itu meninggalkan kediaman Kurosaki, mengantarkan sang pimpinan menangkap mangsanya.

.

.

.

To be Nyambung

.

.

Saya sepertinya sangat bersemangat dengan chapter kali ini. Full IchiRuki. :3

Puaskah Reader dengan cerita ini? Sudah 5k+ hanya untuk ceritanya saja. :3 Buat kalian semua deh. Semoga tidak mengecewakan ya!

Adakah yang shock dengan kejadian yang menimpa Rukia? Dunia mafia memang tak kenal perasaan jika menyangkut tentang musuh, kawan. hehe~ maaf ya... tapi ini memang harus muncul karena demi kelancaran fic ini.

Minasan, arigatou gozaimasu! :D

note: maaf! republish. editanya di tengah-tengah sih ya, jadinya begini. hikss... maafkan saya. Terimakasih untuk yang sangat memperhatikan fic ini. hehe. ^^v

See you next chapter!