.

.

.

Enjoy

.

.

.


~ナルトはサスケへ~

For The One and Only. Journal, 12 March 2013

Aku kira, kita tidak akan tahu apa itu rindu sampai ada seseorang yang kau cintai berdiri tepat di depanmu, menatapmu dan seketika kamu tersadar! Aku tidak akan pernah bisa melihat orang lain sama seperti caraku melihat dan mencintaimu.

Hey yang berdiri di depanku.

Aku benar-benar mencintaimu!

.

.

.

" Aku kira kita punya pemikiran yang sama tentang hal ini. Yang membedakan adalah betapa takutnya aku untuk mengakui rasa suka dan berakhir orang itu memilih untuk menjauh."

"Ya, yang berdiri di depanku... Aku sangat mencintaimu juga."

~ナルトはサスケへ~


.

.

.

WHY MUST TWO?

Disclaimer :

Naruto, Masashi Kishimoto

Story :

Ada sedikit kemiripan plot dengan Dating Alone Park Chanyeol di chapter 1 dan 2.

Punya saya, semua karakter dipinjam dari punya om MK

Genre : Drama, Romance & Friendship

Rating : T

Main Pairing : SasuNaru [Sasuke x Naruto]

Side Pairing : Sai X Ino

Warning : AU, Multi chapters, Typos, OOC, Boys Love SasuNaru [Sasuke X Naruto], Don't like don't read! Feel free to leave this page if you don't like it. I've warned you already!

.

.

.

~ナルトはサスケへ~


Asbak di depannya terisi tiga puntung rokok bekas yang masih terlihat sisa asap, meski demikian masih ada pula sebatang rokok diapit kedua bibirnya. Kedua tangannya pun sibuk mengatur lensa kamera serta beberapa tombol lainnya.

Bunyi shutter terdengar.

"Tsk!" Decak kesal si pemegang kamera terdengar saat melihat hasil bidikan yang nampak kabur lalu sekali lagi memutar lensa fokus kamera.

Bidikan kedua.

Senyum tipis kameramen nampak diwajahnya.

Memotret objek dikeramaian memang sulit untuk mendapat hasil yang memuaskan.

Menarik nafas sejenak sambil menyesap rokok dalam satu tarikan panjang. Saat asap mengepul keluar, kameramen tersebut sesekali menekan tombol, memutar lensanya lagi. Kamera terangkat, mulai membidik ke arah sekumpulan manusia yang menyebarangi jalan saat lampu merah tanda berhenti kendaraan menyala.

Satu... Dua... Tiga... Empat... Lima shutter terdengar dalam satu bidikan.

Bersandar dikursi untuk melihat hasil, kameramen tersebut menumpu sebelah kaki dikaki lainnya, dan sekali lagi menyesap rokok yang belum juga dilepaskan sedari tadi.

Matanya meneliti lima foto dalam satu bidikan itu.

Foto pertama, sedikit kabur dan rata-rata kelompok penyebrang tersebut masih belum begitu banyak, sedang foto yang diinginkan adalah sekerumunan manusia saat menyebrang.

Foto kedua, senyuman tipis kameramen lagi-lagi mengembang. Bukan karena hasil bidikannya sesuai harapan. Senyuman itu mengembang saat melihat seorang anak kecil menyebrang dengan tangan kiri terangkat seolah-olah yang menghentikan kendaraan adalah dirinya.

Foto ketiga matanya masih fokus pada gadis kecil itu yang tidak menatap lurus ke sebrang jalan lagi, tapi sudah mendongkakan kepala, seperti berbicara dengan orang disampingnya. Mata yang fokus tadi berpindah untuk mengamati siapa yang diajak bicara oleh gadis kecil lucu ini.

Mendadak suhu ruangan tempat bernaungnya seakan turun drastis, rasa dingin menjalar keseluruh tubuh. Dengan menahan getaran ditubuhnya, tombol next ditekan untuk melihat foto keempat.

Foto keempat terlihat, anak itu menunjuk ke arah toko disamping tempat bernaung si kameramen dan otomatis membuat orang yang diajak bicara anak itu menatap kearah tempatnya bernaung.

Layar di-zoom sampai batas maksimal.

Rokok yang diapit terjatuh begitu saja dan matanya melebar diluar kendali.

Senyuman itu,

Wajah itu,

Dengan menahan getaran yang sudah merambah keseluruh tubuh, tangan yang semakin memucat itu berusaha untuk tidak menjatuhkan smarthphone saat menyentuh ikon memanggil kontak yang sudah dihafalnya.

"Aku... Aku ke rumah sekarang..." Ujarnya terbata, tanpa menunggu jawaban dari penerima telepon, dengan tergesa, dirinya membereskan peralatan kamera tanpa sempat melihat hasil foto ke lima.

Foto yang mungkin saja sesuai keinginannya.

~ナルトはサスケへ~

Dengan tenang, Iruka meletakkan secangkir kopi ke hadapan Sasuke yang sedang sibuk memainkan smarthphone-nya.

"Sasuke, tidak sopan jika kau mengabaikan tuan rumah seperti itu." Suara keibuan Iruka menegur tenang.

"Maaf..." Gumam Sasuke, lalu memasukan benda itu ke dalam kantung celana. "Kapan paman Minato tiba?" Tanya sedikit gelisah, terlihat dari cara duduk yang terus menurus bergerak.

"Beberapa menit lagi... Rumah Ino hanya beberapa rumah dari sini." Jelas Iruka masih dengan suara tenang miliknya. "...Mau rokok?" Tawarnya saat melihat pandangan Sasuke tidak lepas dari sebungkus rokok di atas meja ruang tamu

"Tidak... Terima kasih... Aku tid-..."

"-Bagus kalau kau tidak merokok, usiamu masih sangat muda untuk terkena penyakit akibat merokok." Suara familiar yang memotong percakapan sontak membuat Sasuke berdiri dan menyambut pemilik suara itu.

"...Minato-tousan..." Suara Sasuke lembut menyapa, ia bangkit berdiri menyambut Minato. Pandangan matanya meredup saat dua pria berbeda usia ini saling bertatapan. Sasuke memang memanggil Minato dengan panggilan tousan. Permintaan Minato tentu saja dan Sasuke tidak berkeberatan semenjak ayahnya telah meninggal.

"Ada apa? Hari ini kelihatannya kau tidak begitu bersemangat, nak..." Kekehan Minato terdengar lalu berjalan menuju sofa dan duduk disamping Iruka.

"...Minato-tousan..." Ucap Sasuke sekali lagi.

"Duduklah... Kau sepertinya benar-benar butuh bicara." Tegur Minato saat melihat Sasuke masih saja berdiri.

Menuruti perkataan Minato, Sasuke duduk berhadapan dengan Minato dan Iruka. "Aku..." Sasuke menjeda ragu. "...Aku merindukan Naruto..."

Minato dan Iruka menarik nafas dalam hampir bersamaan. Sekilas kedua iris berbeda warna itu brrtatapan.

"Sudah dua tahun lamanya kalian tidak bertemu, bukan?" Pertanyaan yang membutuhkan pembenaran dilontarkan Iruka.

Tidak!

Bukan!

Bukan itu yang diinginkan Sasuke sebagai jawaban.

Tapi, Sasuke tetap mengangguk, matanya awas memperhatikan gerak-gerik kedua pria di depannya, mengamati perubahan gesture jika saja mereka ingin memberitahukan sesuatu.

Nihil.

Kedua pria paruh baya itu tetap tenang. Sasuke mendesah, dua tahun berlalu dan dua pria ini masih saja bungkam perihal Naruto.

Masih segar dalam ingatan Sasuke saat Naruto berkata, 'Kejadian di kelas sampai waktunya, tolong dilupakan saja.' Sampai detik ini pun kalimat itu terasa membingungkan dan benar saja Naruto menghilang setelahnya.

Tidak bisa dihubungi.

Belum lagi, Ino, Minato dan Iruka juga tidak pernah mengatakan apapun tentang Naruto. Satu-satunya kalimat penenang yang diucapkan adalah 'Naruto baik-baik saja.'

Ya, Naruto baik-baik saja, tapi Sasuke-lah yang tidak baik-baik saja.

"Dua tahun terlewat dan kau masih saja menunggu bocah itu." Ucapan Minato membuyarkan lamunan Sasuke. Pria berumur ini sesekali menghembuskan asap rokok dari sela-sela bibirnya.

"...Minato-tousan... Sudah dua tahun Naruto pergi dari kota ini. Aku tidak akan bertanya alasannya lagi, tapi aku hanya butuh kepastian, apa Naruto benar-benar ingin menghapusku dari hidupnya?" Nada tenang tetap Sasuke pertahankan, meski kuatir jika yang ditanyakannya ini benar.

"Itu tidak benar, nak... Naruto tidak meninggalkanmu. Dia melakukan ini untuk kebaikanmu..." Jawab Minato sesekali menyesap rokok, mata biru-nya menatap foto Kushina -istrinya- yang terpajang di ruang keluarga.

"...Kebaikan?" Sasuke bertanya tanpa bisa menahan nada sinis. "Jika memang dia tidak menyukaiku. Cukup Minato-tousan dan Iruka-san, katakan dan aku akan pergi."

Helaan nafas panjang Minato dan Iruka terdengar sekali lagi. Pandangan mereka bertemu. "Naruto tidak akan pernah bilang seperti itu." Minato berujar pelan, lalu mematikan rokoknya. Suhu ruangan terasa naik, Sasuke mulai merasa kehilangan harapan sekaligus kesal.

Dua tahun menunggu bukan waktu yang pendek.

"Hari ini kau tidak ingin mampir sebentar ke kamar Naruto?" Pertanyaan Iruka membuat Sasuke menarik nafasnya panjang. Memang sudah menjadi kebiasan Sasuke untuk melihat sebentar kamar Naruto jika berkunjung. Ini pun awalnya ditawarkan Minato dan tentu saja Sasuke tidak menolak. Sebab di dalam kamar itu banyak terdapat foto Naruto.

"Hari ini tidak usah... Aku ingin pulang." Sasuke menolak dengan nada yang terdengar sedikit kasar. "Aku permisi dulu, Minato-tousan, Iruka-san."

Kedua pria paruh baya ini menatap kepergian Sasuke dengan pandangan meredup.

~ナルトはサスケへ~

Sasuke pikir Minato dan Iruka akan menatapnya dengan tatapan aneh, tapi kedua orang ini malah menyambutnya sehangat hari-hari kunjungan sebelumnya, meski Sasuke datang pukul 7 pagi, disaat Minato bahkan belum bersiap menuju kantor.

Setelah sedikit berbincang dan meminta maaf karena tindakannya yang kurang sopan dan datang terlalu pagi, Sasuke dibawa Minato ke studio dan kamar milik Naruto.

Sasuke bersyukur, Minato adalah seorang ayah yang penuh pengertian. Bukan karena Minato bisa menjadi mentor baginya di dunia seni, tapi Minato seolah mengerti bahwa Sasuke sangat merindukan Naruto dan itu yang membawanya datang berkunjung begitu pagi ke rumah ini.

Sasuke menyusuri tiap foto yang tertempel disalah satu sudut tembok. Mau tak mau segaris senyum menggembang diwajahnya. Tentu saja ia akan tersenyum saat melihat Naruto yang sedang tersenyum atau tertawa di beberapa foto yang tertempel.

Hey, apa kabarmu, Naruto...

Gumam Sasuke sesaat setelah melihat sebuah foto saat Naruto tertawa begitu lebar dan sedang bermain dengan dua ekor anjing. Naruto difoto itu masih terlihat sangat muda, mungkin diumur tahun akhir sekolah menengah pertama.

Menarik nafas dalam-dalam, Sasuke mengalihkan pandangannya untuk menatap setiap sudut kamar tidur milik Naruto. Ruangan itu, sama persis seperti saat ditinggal pemiliknya hanya ada beberapa barang baru yang mungkin saja diletakkan oleh Minato ataupun Iruka. Meja dan kursi saat mereka hampir saja berciuman pun masih terletak ditempat yang sama. Sasuke melangkahkan kaki, mendekat ke arah meja dan kursi tersebut. Kursinya sedikit bergeser dari tempatnya, mungkin Minato sempat duduk.

Tapi ketenangannya mendadak hilang berganti dengan jantung yang berdesir.

Langkah kaki dipercepat menyadari adanya jaket familiar yang tergantung disandaran kursi,

Itu jaket miliknya yang diberikan pada Naruto saat di kelas dulu.

Baru saja Sasuke hendak meraih jaket tersebut, matanya menangkap sebuah dompet berwarna orange dan kamera disana. Sasuke menghembuskan nafas kencang, mengurungkan niarnya untuk meraih jaket.

Bukan...

Bukan karena dompet yang warnanya mulai memudar itu atau karena jenis kamera digital tersebut atau karena jaket yang sekarang sudah berpindah ke tangannya, tapi karena semakin lama berada di ruangan ini, kenangan ditempat ini semakin berputar di kepalanya. Jadi, Sasuke memilih untuk segera keluar. Berusaha untuk mengabaikan benda-benda baru yang terdapat di kamar ini. Namun, saat Sasuke baru saja ingin melangkah, Sasuke menyadari lampu indikator kamera tersebut masih menyala. Refleks, tangannya terulur, hendak mematikan kamera.

Agak terburu-buru membuat tangannya menyenggol dompet tersebut sampai terjatuh. Sasuke menunduk untuk memungut dompet tersebut,

Tangannya sontak terasa lemas dan sedikit bergetar saat melihat sebuah foto dalam dompet.

Foto Naruto dan dirinya dua tahun lalu, bersama di dalam ruangan yang saat ini kefua kakinya berpijak. Foto yang terlihat sedikit usang mungkin akibat sering dipegang. Foto itu digunting sampai muat dalam tempat penyimpanan foto dompet tersebut.

...

...Tunggu!

Tangannya meramas kuat pinggiran dompet tersebut. Jika yang ada dalam kepalanya benar, itu artinya

Dompet ini adalah milik Naruto.

Sudah cukup!

Sasuke butuh penjelasan dari kedua orang tua yang menutup rapat segala hal tentang Naruto ini dan bagaimana caranya dompet yang Sasuke duga adalah milik Naruto berada diruangan yang sudah tidak ditempati pemiliknya lagi ini?

Tapi, rasanya kejutan hari ini tidak sampai disitu, sebab jantung Sasuke berdetak sangat kencang, darahnya kembali berdesir hebat saat pintu kamar ia buka dengan sedikit keras lalu tampak pemuda yang sangat amat dirindukannya, berdiri dengan senyuman kaku dan sebelah tangannya menggosok tenguk pertanda gugup,

...Seperti kebiasaannya.

"Halo, Sasuke..."

Naruto berdiri beberapa langkah tepat di depan Sasuke. Bandul miniatur kamera masih tergantung didadanya.

~ナルトはサスケへ~

Hampir lima belas menit Sasuke dan Naruto diam tanpa berbicara. Naruto lebih memilih menatap keluar jendela sambil menopang dagu, sedang Sasuke menyesap segelas kopi yang sebelumnya diantar Iruka dan sesekali menatap ke arah pemuda pirang di depannya.

Mata biru itu masih berbinar cerah. Hanya saja terlihat bengkak.

Setelah kejadian di depan pintu kamar Naruto, Sasuke belum mengeluarkan sepatah katapun. Naruto juga tidak banyak berbicara. Satu-satunya kalimat yang diucapkan Naruto yaitu meminta Sasuke untuk masuk dalam kamarnya sebelum meminta Iruka membuatkan minuman untuk mereka berdua.

"Tempat ini ternyata tidak banyak berubah, ya?" Kalimat pertama yang keluar dari mulut Naruto setelah keheningan yang cukup lama. Pandangan matanya belum beralih dari luar jendela.

Sasuke tidak menjawab pertanyaan Naruto, sebab dikepalanya sendiri juga memiliki banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan, tapi bingung pertanyaan mana yang harus ditanyakan terlebih dahulu.

"-Tapi dari penampilan, kau banyak berubah, Sasuke.-" Akhirnya pemuda itu memalingkan wajahnya menatap Sasuke sambil tersenyum.

Sasuke tidak bergeming.

"-Rambutmu..." Naruto mengangkat sebelah tangannya dan menunjuk rambut sendiri. "Lebih panjang. Bahkan sudah menyentuh bahu.-"

Yang dikatakan Naruto benar. Sasuke membiarkan rambutnya tumbuh panjang, bahkan sebagian poni menutup sebelah matanya. Tapi, dari penampilan pun Naruto cukup berubah, jika rambut Sasuke panjang, berbanding terbalik dengan Naruto yang memangkas habis rambutnya sampai tersisa beberapa senti saja dari kulit kepala.

"-Apa kau masih menyukai fotografi?"

Sasuke mengangguk sekilas dan memilih mengalihkan pandangannya dan Naruto sepertinya menyadari, Sasuke akan merespon jika bertanya mengenai fotografi.

Respon itu membuat senyuman diwajah Naruto melebar, Sasuke melihatnya dari pantulan kaca.

Masih seindah dua tahun lalu, seperti yang dikenalinya.

"-Aku juga... Masih menyukai foto dengan kegiatan manusia sebagai objek."

"Kapan kau tiba di kota ini?" Pada akhirnya Sasuke tidak bisa menahan pertanyaan ini meski ia masih enggan menatap Naruto. Tapi Naruto yang tertawa, memaksa Sasuke untuk berbalik dan menatap pemuda berambut pirang ini dengan tatapan heran.

"Masih seperti Sasuke yang kukenal. Berbicara langsung pada intinya." Naruto menghentikan tawa dan memilih menyesap lemon hangat miliknya. "Aku pikir kita akan banyak berbicara saat bertemu setelah sekian lama, tapi malah canggung seperti ini. Aku tiba kemarin pagi...-"

Ingin sekali Sasuke bertanya dengan nada tidak bersahabat pada Naruto. Jika kemarin pagi tiba, kenapa Sasuke tidak diberi kabar?

Sebegitu tidak inginnya Naruto untuk tidak bertemu dengannya?

Menghembuskan nafas pelan, Sasuke mengalihkan pandangannya lagi. Kali ini memilih menatap ponsel miliknya.

"-Aku kemarin menemui Ino terlebih dahulu...-" Lanjut Naruto dengan berbisik, seolah membaca pikiran Sasuke.

Ino?

Sasuke tersenyum sinis. Bahkan yang ada dikepala Naruto saat kembali setelah sekian lama adalah Ino bukan dirinya. Tanpa sadar Sasuke mengeratkan kepalan tangan digelas minum miliknya.

"...-Aku butuh mempersiapkan diri untuk bertemu denganmu. Aku terus berpikir kata-kata apa tepat saat bertemu denganmu.-"

Mendengar itu, kepalan tangan Sasuke mengendur.

"-Aku pikir aku sendiri yang tegang saat berpikir akan bertemu denganmu. Mungkin kau sebenarnya tidak ingin bertemu denganku. Meski aku pergi, aku kira kau baik-baik saja selama ini..."

Pandangan mata mereka akhirnya bertemu.

"Apa aku terlihat baik-baik saja?" Nada sinis akhirnya keluar begitu saja dari mulut Sasuke, "-Aku tidak baik-baik saja setelah kau menghilang tanpa kabar." Nadanya memang tidak terdengar sinis lagi, tapi tangan mengacak rambutnya sedikit kasar.

Gusar.

Sulit sekali menahan emosi yang bercampur aduk didalam dirinya.

"Yakinlah, Sasuke... Aku juga tidak baik-baik saja setelah menghilang, ada titik dimana aku merasa hampir gila karena ingin bertemu denganmu."

"Jika seperti itu, kenapa kau pergi?" Nada Sasuke melembut seiring dengan tatapan matanya yang ikut melembut. "Apa karena pengakuan rasa suka ku?"

Hembusan nafas Naruto terdengar sangat berat, "Sebaliknya karena pengakuanmu, aku menjadi lebih kuat. Sejujurnya ada beberapa hal yang belum bisa aku ceritakan padam-..."

"Ya, kau tidak bisa bercerita karena kau menganggapku sebagai orang asing..." Sasuke memotong cepat perkataan Naruto.

"Bukan seperti itu... Aku hanya takut kau menghindar setelah benar-benar mengenali aku yang sebenarnya.."

Kali ini giliran Sasuke menarik nafas berat. Sungguh setelah dua tahun berpisah pun, Naruto masih seperti potongan puzzle yang belum lengkap. Masih terkesan penuh misteri.

"Apa kepergianmu berhubungan dengan sakit yang kau derita waktu di kelas dulu?"

Pertanyaan itu membuat iris biru Naruto sempat melebar berapa detik lamanya sebelum senyuman tipis kembali menghiasi wajahnya yang terlihat makin tirus. "Kadang aku takut dengan keakuratan tebakanmu..." Senyuman itu berganti kekehan halus. "Tapi itu hanya sebagian kecil jawaban yang benar...-"

"-Sasuke... Apa kau marah jika aku belum bisa memberitahukan apa yang aku sembunyikan?" Tanya Naruto setelah mereka berdua hening beberapa saat lamanya.

Dua kali Sasuke menarik nafasnya, "Jika kau ingin jawaban jujur. Aku tidak benar-benar marah. Aku hanya merasa bingung dan terus berpikir apa aku membuat kesalahan. Apa aku salah karena mengakui rasa suka ku?"

"Maaf..." Naruto bergumam, kepalanya menunduk.

"Sudahlah... Dibahas pun tidak ada gunanya kalau kau tetap menutup mulutmu." Lanjut Sasuke tetap berusaha tidak terbawa emosi.

Ya, hanya Naruto yang tetap tersenyum walau perkataan Sasuke barusan sengaja digunakan untuk menyindir.

"Mulutku akan terbuka jika kau menyogokku terlebih dahulu-..."

Alis Sasuke bertaut, tidak begitu mengerti maksud Naruto dan arah percakapan yang berubah menjadi ceria ini.

"-Karena sudah lama aku tidak berada disini, kau mau mengajakku berkeliling sebagai bayaran sogok?" Kalimat itu diakhiri dengan Naruto yang tersenyum lebar. Memamerkan barisan giginya.

"Kau lupa kita bukan mahasiswa lagi yang bisa bebas bolos kuliah? Aku sudah bekerja dan tentu saja hari ini pun aku harus ke kantor.-"

Jawaban dengan nada datar itu membuat senyuman dibibir Naruto menghilang berganti dengan bibirnya yang mencibir.

"-Tapi karena kantor tempat aku bekerja lumayan fleksibel, mungkin bolos sehari bukan masalah." Lanjut Sasuke.

Iris biru itu membola sesaat sebelum akhirnya tertawa lebar. "Sasuke, kau benar-benar membuatku mempercayai kata-katamu tadi...".

Tawa itu begitu lepas.

Sasuke pikir dari semua hal yang dirindukannya adalah tawa Naruto.

Asalkan tawa itu tetap terlihat, Sasuke bisa bertahan sejenak.

Sejenak untuk tidak membuat Naruto menghilang lagi. Meski ia harus menekan rasa keingintahuannya.

Lebih dari itu, tawa Naruto membuat Sasuke semakin yakin. Betapa dia merindukan pemuda ini.

~ナルトはサスケへ~

Awalnya memang Naruto meminta Sasuke membawa berkeliling. Sasuke memenuhi permintaan itu, dengan motor ninja milik-nya ia mengajak Naruto berkeliling. Di beberapa tempat bahkan mereka sempat berhenti untuk memotret. Tidak bisa dipungkiri, kemampuan memotret Naruto juga berkembang. Tapi pemuda itu terkadang masih meminta saran Sasuke. Ini membuat Sasuke mengenang kejadian saat pertama kali ia mengajari Naruto.

Bahkan selama itu pun aroma Naruto masih memikatnya.

"Sasuke, kau melamun?-"

Pertanyaan itu sontak membuyarkan lamunan Sasuke.

"-Apa yang kau pikirkan?" Tanya Naruto lagi.

"Aku memikirkan saat kegiatan klub fotografi dulu... Saat menjadi mentormu." Jelas Sasuke. Badannya disandarkan di motornya. Sedang Naruto berdiri beberapa meter di depannya. Tangan tan itu membidik kamera ke arah Sasuke.

"Saat kau mengajariku membidik objek?" Tanya Naruto saat menekan tombol shutter.

"Ya, saat kau masih kesulitan memotret objek yang bergerak dan apa kau baru saja memotretku?" Nada tidak suka terdengar jelas.

Naruto tertawa, "Yup! Aku baru saja memotretmu." Pemuda itu nampaknya tidak mempedulikan tatapan tajam tanda tak setuju Sasuke. Naruto malah semakin mendekat ke arah Sasuke, "Kejadian itu tidak akan pernah aku lupakan... Kau tahu aku saat itu, aku tidak berkonsentrasi pada penjelasanmu soal tombol-tombol di kamera. Saat itu aku terpesona padamu."

Pengakuan itu meski tanpa beban, tapi sukses membuat kedua pemuda berbeda iris ini diselimuti keheningan. Naruto terlihat kaget karena ucapannya sendiri.

"Saat kau ingin meyakinkanku dengan cara menjelaskan ulang juga membuatku terpesona padamu, apakah kau juga akan percaya?"

Awalnya Naruto memang terjebak hening lebih lama saat Sasuke bertanya, tapi kemudian sebelah alisnya terangkat seolah tak mempercayai kata-kata Sasuke.

Sasuke tidak bergeming mata hitam itu menatap Naruto dengan intens.

Ditatap seperti itu, bibir Naruto mengerucut. "Iya... Iya aku percaya. Bahkan setelah sekian lama tatapan matamu masih membuatku gugup."

Mendengar jawaban itu, Sasuke akhirnya memalingkan wajah dengan senyum tipis mengembang.

"Tatapan matamu yang tajam juga tidak berubah." Ujar Naruto sambil mendekat ke arah Sasuke dan berdiri tepat disampingnya. "Setelah ini kita kemana?".

Pertanyaan yang tak terduga itu membuat Sasuke memalingkan wajahnya menghadap ke arah Naruto.

Sekali lagi mereka terjebak keheningan.

Kedua wajah itu berhadapan dengan jarak sangat dekat. Hembusan nafas menerpa wajah masing-masing. Sasuke sadar ekspresi wajah Naruto terlihat gugup, tapi Sasuke tidak peduli dan memilih melipat tangannya lalu memajukan wajahnya.

Jarak wajah mereka menyempit.

"Aku akan membawamu ke tempat yang ingin kau kunjungi dari dulu.-" Suaranya berbisik dan bola mata Naruto melebar.

Sasuke tersenyum tipis, lalu memakaikan helm ke kepala Naruto yang masih membeku dan mengaitkan tali pengaman sampai bunyi klik terdengar.

"-Sampai kapan bingungnya, Naruto? Ayo kita berangkat." Jari telunjuk dan tengahnya menyentuh kening Naruto. Iris biru yang tadinya melebar berganti dengan kedipan beberapa kali.

"Kau membuatku terlihat seperti orang bodoh, Sasuke." Meski Naruto mendengus awalnya, tapi Sasuke tahu Naruto tidak benar-benar kesal, sebab dengusan itu berganti senyuman lebar. "Jadi kita mau kemana?" Naruto bertanya lanjut dan jawaban yang diberikan Sasuke hanya berupa mengangkat bahu ringan.

Sasuke tidak peduli jika yang dilakukannya ini menunjukkan perasaannya. Jadi, meski Sasuke belum begitu paham perasaan Naruto padanya, tapi Sasuke memilih menunjukkan perasaannya terlebih dahulu.

Pepatah mengatakan, cinta itu buta. Bagi Sasuke, cinta itu tidak buta. Cinta itu melihat apa yang menurutnya benar bagi yang sedang mengalaminya dan Sasuke pikir yang dilakukannya saat ini benar. Setidaknya ia berusaha meski kesannya menyakiti diri sendiri, hanya saja Sasuke tidak mau menyesal dikemudian hari.

Jadi, meski saat ini Naruto bersenandung ringan saat Sasuke memboncenginya, ia tetap tersenyum dan membawa ke tempat yang sebenarnya Naruto ingin lakukannya bersama kekasihnya.

Sasuke membawa Naruto ke rumahnya.

"Woaaaa, kau membawaku ke rumah siapa?" Kalimat pertama yang keluar dari mulut Naruto saat turun dari motor dan melepaskan helm-nya.

"Rumahku." Jawab Sasuke ringan. Senyuman tipis lepas begitu saja saat mata biru itu lagi-lagi membola.

"...Kau... Kau apa?! Ru-rumahmu?!" Bahkan ucapannya terbata.

"Ya... Jadi kau mau tetap berdiri disini saja dan ku tinggal atau mengikut ke dalam?" Jawaban Sasuke terdengar acuh. Langkah melangkah pasti menuju teras depan.

"...O-oi Sasuke... Tentu saja aku tidak keberatan, tapi bukankah ini terlalu tiba-tiba?" Naruto berlari kecil dari belakang untuk menyamakan langkah kaki mereka. "Aku belum mempersiapkan diri untuk bertemu ibumu. Akh! Aku merasa seperti bertemu calon mertua-"

Langkah kaki Sasuke berhenti dan akibatnya Naruto membentur kepalanya di punggung Sasuke. Ada rintihan kesakitan.

"-Kenapa berhenti tiba-tiba? Kepalaku kan jadi terbentur punggungmu... Saki-"

"Kau perlu mempersiapkan diri untuk bertemu ibuku dan merasa tegang seperti bertemu calon mertua?" Sasuke tidak peduli jika ia memotong ucapan Naruto. Sasuke butuh kalimat itu diucapkan sekali lagi, takut kalau yang didengarnya salah. Tapi dugaannya tidak salah. Sebab Naruto menunduk, tangannya menggosok tengkuk dan samar-samar rona merah nampak ditelinga.

Tidak perlu jawaban. Tingkah Naruto menunjukkan jika yang dibicarakannya itu benar.

Sasuke terdiam sejenak, menikmati ekspresi Naruto. "Apa benturan tadi masih sakit?" Tangannya terulur untuk menyentuh kening Naruto.

"Naru-ku?! Benarkah itu kau Naruto?-"

Sialan!

Siapa yang berani-berani mengganggu waktu berdua mereka!

Sasuke mengeram tertahan.

Itu Sai yang entah muncul dari mana, berlari kencang ke arah Naruto dan menubruk Naruto dengan pelukkan erat...

"-Astaga Naruto... Kau tidak tahu betapa ayah merindukanmu...-" Pelukan itu mengerat. Sasuke jadi risih sendiri. Mana Naruto tertawa karena pelukan itu pula.

Sasuke berdehem sekeras mungkin.

"-Oh kau disini juga ternyata?" Suara Sai terkesan acuh, bahkan hanya melirik dengan ekor matanya. "Kapan pulang ke sini? Cih, bahkan mulut lebar ibu, Ino, seakan punya kunci khusus jika aku bertanya tentangmu..." Lanjut Sai lagi, kembali memeluk Naruto.

Sasuke jengah.

Benar-benar jengah.

"Bisa lepaskan pelukanmu dulu, hm Uchiha Sai?!" Nada yang digunakan Sasuke penuh ancaman.

"Ups, ada yang cemburu rupa-..."

"Dan apa kau baru saja menyebut mulutku lebar, hm Uchiha Sai?"

Itu suara Ino yang berdiri beberapa meter jauhnya, tangannya terlipat didada. Kaki kanannya mengetuk lantai keras, teras tanda kesal.

Sai tertawa kaku sedang Naruto benar-benar tertawa. Tidak bisa menahan rasa geli.

"Oh Ino-koi... Sejak kapan kau berada disitu... Telingamu cukup tajam rupanya." Bahkan tegukan dari Sai terdengar jelas.

Ino memutar bola mata jengah, "Sejak kau bilang mulutku lebar selebar buaya."

Mau tak mau Sasuke tersenyum dan Naruto tertawa geli karena kalimat berlebihannya Ino. Sedang Sai tersenyum paksa.

Ino berjalan dengan acuh bahkan menyempatkan diri menubruk keras badan Sai. Terdengar bunyi 'aawww' dari mulut Sai.

"-Kejutan besar Naru bisa sampai kesini apa kau diajak pangeranmu ini?~" Nada menggoda terdengar saat ekor matanya melirik ke arah Sasuke. Niatnya menggoda, tapi ekspresi terlawat datar milik Sasuke membuat Ino berdecak kesal sendiri. "Uchiha Sasuke-kun... Bisa tidak kau lebih berkespresi, apa perlu aku meminta sepupu menyebalkanmu si Sai yang seenak diri menobatkan dirinya menjadi ayah Naruto untuk mengajarimu?!"

Seharusnya Naruto tertawa, setidaknya itu yang diduga Sasuke. Tapi, Naruto hanya terdiam dan melihat Sasuke dan Ino bergantian.

"Bahkan kau sudah lebih dekat dengan Sasuke dengan panggilan -kun. Apa aku pergi begitu lama dan melewatkan banyak hal?"

Ah Naruto dan mood-nya yang berubah dengan cepat.

Bahkan sifat merajuknya ini pun belum berubah.

Sasuke melangkah mendekat saat Ino dan Sai yang terlihat kehilangan kata-kata. Sekali

Kening Naruto diketuk pelan oleh Sasuke.

"Ino memanggil dengan sebutan -kun saat ingin menyindirku..."

Naruto terdiam sesaat, seperti sedang berpikir. Kemudian bibirnya mencibir. "Jadi seperti itu? Aku pikir aku yang melewatkan banyak hal.." Nada cerianya kembali.

Lihat? Mood swing Naruto benar-benar cepat.

"-Oh ya, Ino-chin..." Naruto menjeda sejenak untuk menatap Ino dari ujung kepala sampai ujung kaki. Alis Ino terangkat heran. "Sedang apa berduaan dengan ayah Sai-kun?" Pertanyaan itu benar-benar terdengar menggoda dan sontak membuat warna merah muda menyebar diwajah Ino.

"Tentu saja calon ibumu Ino datang berkunjung ke rumah ayahmu untuk mengakrabkan diri dengan keluarga ayahmu..." Itu Sai dengan suara menggoda datang mendekat lalu menggalungkan tangannya dipundak Ino.

Sasuke jengah dengan opera sabun yang menurutnya terlalu banyak sabun ini.

Lebih anehnya kenapa Naruto ikut tetawa?

Jadi, meski terkesan memaksa, Sasuke mengenggam tangan Naruto dan menariknya masuk ke dalam. Sayup-sayup terdengar Sai yang bersiul menggoda.

"Kau marah, Sasuke?" Tanya Naruto saat mereka sampai di ruang tamu.

"Tidak... Aku kesal pada Sai, yang bisa sebegitu akrabnya denganmu! Sedangkan aku kesulitan untuk berbicara banyak padamu..." Ada desahan suara saat Sasuke menjelaskan.

Genggaman dari tangan Naruto menggerat dan itu membuat Sasuke menatap sekilas genggaman mereka lalu mengalihkan pandangannya tepat di kedua mata Naruto.

"Akrab tidak selamanya harus saling berbicara dan saling menggoda seperti itu. Kau yang tidak banyak bicara pun bagiku, cukup membuatku terikat padamu melebihi kata akrab. Itulah sebabnya aku selalu melekat padamu dan lebih menghabiskan banyak waktu bersamamu dibandingkan mereka."

Sasuke terdiam. Terpana dengan ucapan Naruto. Dalam dadanya terasa seperti setetes embun menyejukan.

Sasuke melepas genggaman mereka. Baru saja ia ingin mengelus surai Naruto karena pandangan mata itu juga membulat, memohon untuk mempercayai kata-katanya, suara langkah kaki menghentikannya.

"Kau bersama siapa, Sasuke-kun?"

"Kaa-san?"

Itu suara ibunya yang muncul dari ruang keluarga.

"Temanmu?" Tanya ibunya sekali lagi.

"Ya... Ini Na-"

"-Perkenalkan, saya Uzumaki Naruto... Junior Sasuke-san saat kuliah dulu."

Ucapan Sasuke disela terlebih dahulu oleh Naruto. Suara itu terdengar gugup. Naruto membungkuk hormat bahkan kalimatnya terdengar sangat sopan. Sasuke hampir saja tertawa.

"Oh... Aku ibu Sasuke-kun, Mikoto Uchiha... Sangat jarang Sasuke-kun membawa teman ke rumah ini. Apalagi junior sewaktu kuliah..."

Naruto tertawa kecil, tenguknya digosok karena ucapan wanita paruh baya di depannya.

"Apa kalian sejurusan? Aneh, rasanya dia tidak pernah pernah bercerita mengenai juniornya dulu. Dia cuma bercerita tentang menemukan orang yang menarik seumur hidupnya... Um... Uzu... Uzu-..."

"-Siapa margamu tadi, anak muda?" Ada jeda panjang sebelum ibu Mikoto seakan tersadar.

"Uzumaki Naruto..." Jawaban Naruto terdengar kebingungan,

"Ya! Mungkinkah kau yang dianggap menarik oleh Sasuke-kun?" Mikoto menjeda lagi lalu memperhatikan Naruto. "Aku pikir kau seorang wanita." Terselip nada kecewa disana.

Orang pertama yang menyadari bahwa ekspresi Naruto berubah menjadi pucat adalah Sasuke.

"Kaa-san..." Suaranya menegur halus dan berhasil merebut perhatian ibunya. "Naruto bukan wanita tapi dia memang menarik perhartianku.." Ekor mata Sasuke melirik ke arah Naruto. Pemuda itu masih terdiam membatu. "Aku memerlukan Naruto... Kami akan berdiskusi sesuatu dulu di kamarku. Permisi kaa-san.-"

"-Ayo, Naruto..." Panggil Sasuke mengeraskan suaranya untuk menyadarkan Naruto. Pemuda pirang ini tersentak lalu membungkuk sopan pada ibunya sebelum mengikuti Sasuke dari belakang dalam diam.

~ナルトはサスケへ~

"Naruto... Kau sepertinya punya banyak pikiran." Sasuke menyentuhkan gelas berisi air dingin ke pipi Naruto yang sebelumnya telah diambil dari dispenser yang teletak dalam kamarnya lalu duduk di samping Naruto.

Naruto duduk ditempat tidur Sasuke, pandangan matanya tampak kosong semenjak masuk dalam kamar Sasuke dan saat gelas itu menyentuh pipi Naruto, pemuda itu lagi-lagi tersentak.

"Umm... Yeah... Tidak begitu banyak pikiran, hanya sedang ingin berpikir saja...-" Naruto tersenyum berujar terima-kasih saat menerima gelas tersebut lalu meneguk beberapa tegukan.

"-Kamarmu benar-benar rapi seperti kepribadianmu..." Ujarnya lagi sambil mengedarkan pandangannya keseluruh kamar Sasuke.

Sasuke terdiam membiarkan Naruto memperbiasakan diri dalam kamarnya. Sejujurnya Sasuke ingin sekali Naruto menyadari apa yang dilakukannya hari ini.

Membawa Naruto ke rumahnya.

Bukankah itu, salah satu keinginan Naruto yang ingin dilakukan Naruto bersama kekasihnya?

Sasuke ingin Naruto peka terhadap situasi ini.

Tapi, pemuda itu sepertinya melupakan hal itu. Sebab, Naruto sudah bangun dan berjalan mengelilingi kamarnya.

Desahan halus Sasuke terdengar.

"Waahhh..." Ada suara kagum dari nada suara Naruto saat menatap beberapa rak buku dalam kamar miliknya. "Aku tidak tahu kalau kau memiliki perpustakaan mini... Ini keren!" Naruto kembali berjalan lalu berdiri tepat di depan meja kerja Sasuke. Telunjuknya bermain di atas meja, "Apa kau sudah bekerja?"

"Ya..." Sasuke menjawab singkat.

"Dimana?" Tanya Naruto yang kini menyentuh kamera digital miliknya di atas meja.

"Freelance di beberapa media cetak."

"Apa itu menyenangkan?"

"Yah... Seperti itulah..."

"Aku jadi ingin melihatmu dengan pakaian kantoran." Naruto berbicara tanpa memandang Sasuke. "Asbak?" Suara Naruto penuh keheranan saat matanya menangkap keberadaan asbak disalah satu sisi meja kerja Sasuke.

"Miliku..." Jawab Sasuke singkat lalu bangkit berdiri dan meraih asbak rokok yang hampir dipegang Naruto kemudian membung abu rokok ke tempat sampah.

"Milikmu?" Naruto mengulang ucapan Sasuke, "Kau merokok?!" Akhirnya pandangan mereka bertemu dengan bola mata Naruto membesar, kaget.

Sasuke tidak menjawab hanya mengangkat bahu ringan dan kembali menyimpan asbak rokok yang telah bersih ditempatnya.

Bahu Sasuke tersentak saat Naruto membalikan tubuh Sasuke sedikit kasar. Alis Sasuke bertaut. Sedetik kemudia Sasuke tidak bisa menahan ekspresi terkejut.

Dengan tangan yang masih mencengkram bahu Sasuke, Naruto mendekatkan wajahnya ke arah Sasuke.

Naruto mengendus Sasuke!

Nafas Sasuke tertahan di tenggorokan.

Naruto mulai mengendus dari jaket yang di pakai Sasuke, ke dadanya, menuju lehernya dan Sasuke meneguk ludahnya keras. Kegiatan itu kemudian berhenti tepat di depan bibirnya, hidung Naruto hanya beberapa mili dari bibirnya.

Aroma jeruk khas milik Naruto tercium jelas oleh penciuman Sasuke.

"Kau merokok." Ucap Naruto menyadarkan Sasuke. Wajah mereka telah menjauh. "Kenapa?" Tanya Naruto lagi.

"Aku butuh sesuatu untuk melepas stress." Jawab Sasuke lalu melangkah mundur, selangkah.

Naruto hanya memandangi Sasuke sesaat kemudian mengangguk seakan paham.

"-Kau tidak bertanya alasan lebih pasti kenapa aku merokok selain stress?" Sasuke sedikit heran dengan Naruto yang seakan langsung menerima alasannya.

"Sejujurnya aku ingin bertanya, tapi aku takut menganggu privasimu." Aku Naruto jujur.

"Bertanyalah..." Pinta Sasuke lembut saat ia duduk dikursi dekat meja kerjanya.

"Apa yang membuatmu begitu tertekan sampai-sampai merokok?" Tanya Naruto melangkah mendekat dan memdangi lembut Sasuke dengan mata birunya.

"Apa yang membuat ayahmu merokok?" Sasuke tidak ingin langsung menjawab pertanyaan Naruto. Jadi, ia memilih menjawab dengan pertanyaan.

"Karena tou-san tertekan saat kaa-san meninggalkannya?" Jawab Naruto dengan sebelah alis terangkat.

"Begitu juga denganku. Aku sangat merindukanmu saat kau pergi dua tahun lalu. Kau percaya jika merokok dan fotografi yang dapat membuatku bisa melupakan sejenak?" Jawab Sasuke pasti dan mengunci tatapan Naruto.

Naruto terdiam cukup lama dan tetap memandangi Sasuke seolah mencari kebenaran dalam mata malamnya itu. Kemudian Naruto tersentak. Ia mengalihkan pandangannya, menghindar tatapan Sasuke.

Pandangan matanya lebih memilih menatap sebuah buku tebal. Buku bacaan Sasuke.

Sasuke tahu Naruto menghindari dan Sasuke tetap diam memperhatikan gerakan tubuh Naruto yang sedikit kikuk.

Sasuke tersenyum tipis.

Naruto gugup karena ucapannya.

Tangan kanan Naruto beralih dan membuka beberapa halaman buku itu. Buku tebal yang halamannya terlihat agak kusam akibat sering dibaca

Sasuke tetap memperhatikan, ia sudah bisa menebak reaksi Naruto selanjutnya.

Terkejut.

Ya, Terkejut.

Naruto terkejut saat melihat foto sebagai pembatas buku itu.

Itu foto Naruto saat tertawa lepas dan Sasuke yang tersenyum. Foto dari dua tahun lalu saat mereka berada di kamar Naruto.

Tangan Naruto terlihat bergetar saat mengakat foto itu dari buku bacaan Sasuke.

"Aku selalu melihat foto itu saat merindukanmu." Jelas Sasuke sambil memegang sudut yang satunya dari foto itu. "Sama sepertimu yang menyimpan foto ini di dalam dompetmu.-" Sasuke tahu seharusnya dia tidak memperkeruh suasana hati Naruto, sebab tangan tan itu semakin bergetar. Tapi, dia hanya ingin menyuarakan yang ada dalam kepalanya saja.

"Jika aku bilang aku sangat merindukanmu, apa itu ada artinya bagimu? Aku bahkan sempat ragu apa kau pernah merindukanku?" Itu ucapan pertama kali Naruto semenjak keterdiamnya tadi. "Selama dua tahun kita berpisah, aku selalu berusaha sesibuk mungkin. Tapi disaat aku berhenti sejenak, aku langsung memikirkanmu. Mungkin bagimu aku tidak paham seberapa besar rasa rindumu. Tapi, aku yakin rasa rinduku tidak pernah kalah dari rasa rinduku padamu." Ucapannya terdengar sangat lirih.

"-Aku takut perasaanku terdengar aneh dan aku takut kau menjauhku karena alasan ini." Perkataan itu semakin lirih.

"Aku tidak akan menghindar... Apa kau ingat perkataanku saat di kelasmu dahulu jika apapun alasanmu, aku tetap berada disisimu dan membuktikan keseriusanku?-" Pandangan mata Sasuke kembali meneliti wajah pemuda itu, tapi Naruto menunduk sambil mengangguk.

"Hubungan kita... Sebenarnya seperti apa?" Tanya Naruto.

Apa mood Naruto berubah lagi?

"Hubungan apa yang kita miliki? Aku juga tidak mengerti. Kadang kita lebih dari kata teman lalu kadang kau membuatku seperti orang asing. Semenit lalu kau berbicara seakan aku orang berharga dihidupmu, semenit kemudian kau berbicara seolah aku tidak ada artinya. Semenjak kita bertemu, kadang kau membuatku berharap, tapi kadang kau benar-benar tidak peduli. Aku berharap kau membuat keputusan pasti tentang perasaanmu yang selalu membuatku berharap. Aku benar-benar tidak tahu apa yang kau inginkan dariku, Naruto... Aku juga tidak mengerti hubungan kita." Kali ini Sasuke yang menarik nafas panjang setelah mengeluarkan seluruh pikirannya.

"Kau benar... Mungkin aku yang terlalu cepat mengambil keputusan." Desahan nafas Naruto terdengar berat. "Apa kau masih ingat aku punya alargi serbuk bunga?" Naruto kembali menyimpan foto itu dalam halaman buku tadi.

"Aku ingat dan kau juga menderita lambung akut..." Sasuke menjeda sejenak ucapannya. "Meski aku tidak yakin apa benar kau punya sakit lambung." Lanjutnya lagi dan itu membuat Naruto tertawa meski yang diucapakan Sasuke terkesan serius.

"Kau pengamat yang hebat... Aku memang tidak punya sakit lambung yang akut..." Kali ini giliran Naruto yang menjeda ucapannya. "...Kau tahu kan alasan aku tidak suka saat seseorang ingin mengusap atau mengacak rambutku? Aku melakukan itu bukan tanpa alasan." Naruto menatap Sasuke, mata biru itu menyendu.

Sasuke mengangguk ragu dan senyum Naruto mengembang, tapi berbanding terbalik dengan ekspresi diwajah dan sorot matanya yang memudar.

"-Berdirilah, Sasuke." Pinta Naruto halus dan Sasuke tidak sanggup untuk menolak. "Kau ingin mengelus rambutku?" Pertanyaan itu lebih terdengar seperti permintaan bagi Sasuke.

Sekali lagi Sasuke mengangguk. Matanya menatap mata Naruto, mengunci tatapan itu lalu beralih menatap rambut pirang milik Naruto. Tangan perlahan terulur dan Sasuke tidak tahan untuk menyentuh wajah Naruto sebelumnya. Menyusuri pipi tirus Naruto dengan punggung tangannya dan menyentuh ujung mata sembab Naruto dengan telunjuknya.

Wajah ini... Wajah yang sangat dirindukannya.

Saat punggung tangan Sasuke menyusuri pipi berkulit tan itu, Naruto menutup matanya. Semenit kemudian tangannya juga ikut terangkat dan menyentuh tangan Sasuke dan menuntun tangan Sasuke untuk menuju rambutnya untuk mengelus rambut pirang pendek itu. Rambut yang sangat lembut.

Satu kali.

Dua kali elusan, dan Sasuke tidak bisa menahan rasa terkejut.

Rambut pirang itu, rontok.

Sangat banyak.

Perlahan iris biru itu terlihat lagi. Sasuke menatap Naruto dengan penuh tanya, tapi pemuda itu hanya menyungging sebuah senyuman tipis lalu mendorong tangan Sasuke menjauh darinya. Tidak sampai disitu, Naruto juga berbalik, berjalan menjauh menuju jendela kamar Sasuke lalu menatap keluar.

Ke arah langit.

"Kaa-san..." Gumamnya, cukup keras untuk didengar oleh Sasuke. "Hari ini... Aku akan memberitahu Sasuke.-"

Sasuke masih terdiam, tidak mengerti dengan situasi ini.

"-Sasuke..."

Panggilan itu langsung mendapatkan seluruh perhatian Sasuke.

"-Sama seperti Kaa-san," Senyum itu terlihat sangat kecut, tapi ada ketegaran dikedua bola matanya. "Aku terkena kanker otak stadium akhir."

Sasuke rasa dunianya runtuh.

"-Setelah pengakuanku ini. Kau boleh pergi dan meninggalkanku..."

.

.

.

" Love is not blind. Love sees what is most true"

-unknown-

.

.

.

To Be Continued


.

.

.

Note

Gomeeennnnnn story ini nggak apdet lama TTATT. Saya belakangan ini sangat sibuk sampai-sampai gak bisa sekedar untuk aplod. Mohon maaf yang menunggu lama.

Dan...

Selamat buat yang bisa menebak alasan Naruto bertingkah aneh... Entahlah saya pengen buat story yang menyayat meski gak yakin ini cukup melukai (?) atau tidak.

Maaf juga ya, Saya gak bisa balas review readers-tachi...

Yang jelas meski apdetan selanjutnya juga belum pasti kapan (saya masih sangat tidak diijinkan buat nyante sama bos besar). Tapi WMT dan Am I Lucky pasti akan ditamatkan.

Ah! Mohon maklum dan koreksi jika ada tipo ^^

.

.

.


Special Thanks For Reviewers:

Call me, mischazz, choikim1310, Lusy922, Zizi Kirahira Hibiki 69, Park RinHyun-Uchiha, Mizuumi Yoite, arashilovesn, Kuro SNL, Guest (1), liaajahfujo, Neko-Chan, ayame, sukasn, Nikeisha Farrasm Guest (2), naruukelovers, Haruko N, Jasmine DaisynoYuki, snluv, Beautiful Garnet, CacuNaluPolepel, minul, zz, versetta, Habibah794, Classical Violin,Ratu Sion dari Negri Iblis, Kirei-neko, Julia Nita Sifa, Guest (3), yg jelas snl selalu, D, shira, Diena Luna no Aze;a, amura, Mikami, Viiinii , Rini, Furijata710, animelovers dan amura.

Ada yang terlewat?

Terima Kasih sekali lagi buat yang sudah me-review, follow dan favorite. Sampai jumpa di chapter selanjutnya~

Selanjutnya mohon dukungan dengan meninggalkan review ya...

And the least not the last...

Our Ship Doesn't Need A Canon For It To Sail!

~08-07-2017~

.

.

.

See, ya~

Best Regard.