Sex Academy

Author : LunA

Pairing : EXO official pairing! KrisTao, SuLay, ChenMin, HunHan, KaiSoo, ChanBaek

Rating : M for Mature content

Warning : OOC, smut, yaoi, boyxboy, bad language, hard sex, no children

Mungkin ff ini akan mulai beda konsep dari yang sebelumnya haha tapi tetap masuk ke arah pwp sih menurut saya

.

TYPO SEBAGIAN DARI SENI

.

.

Enjoy-

.

.

.


Seventh: KrisTao

Morning sex


Terdengar derap langkah kaki di lorong panjang Sex Academy, ditambah dengan suara siulan riang yang cukup nyaring. Seorang lelaki pirang bernama Kris Wu adalah pelakunya. Suasana hatinya sedang baik hari ini, karena ia akan segera mendapatkan hadiah menyenangkan pagi ini. Dengan santai, Kris menuju kamar kekasihnya Tao, seseorang yang akan memberinya hadiah.

Kris membuka pintu kamar asrama Tao perlahan, ternyata tidak dikunci. Kepala Kris agak melongok untuk memastikan keadaan di dalam kamar, apa Tao sedang pergi? Penasaran, Kris masuk dan tidak lupa mengunci pintu kamar tersebut agar tidak ada yang masuk tiba-tiba.

"Tao? Kau di dalam?"

Tidak ada jawaban, suasana benar-benar hening. Namun, Kris kemudian menyeringai saat melihat ada gumpalan seperti manusia di dalam selimut. Perlahan Kris mendekat ke ranjang lalu menyibak selimut tersebut. Tao tampak masih tertidur, tapi Kris tahu jika itu hanya akting Tao saja. Setidaknya Tao telah menepati satu permintaan Kris untuk naked saat tidur, untunglah tidak ada yang masuk kamar ini lalu memergoki Tao telanjang selain dirinya.

Kris berbaring di sebelah Tao dengan posisi tepat menghadap wajah sang murid, sengaja mempersempit jarak untuk membuat Tao risih. Tangan Kris mengelus perlahan surai hitam Tao, sementara tangan satunya dengan iseng menuju pantat Tao lalu meremasnya.

Awalnya Tao masih mempertahankan aktingnya, namun saat jari Kris hampir menyentuh lubang analnya reflek dia membuka mata. "Gege!"

Kris terkekeh puas, "Good moaning princess"

"Moaning? Princess?" Tao mendengus lalu menarik selimut miliknya sampai bagian dagu, mencegah Kris untuk berlaku yang tidak-tidak lagi. Meski sebenarnya percuma karena Kris itu licik.

"Sana gege keluar, Tao mau ganti baju," usir Tao.

"Untuk apa ganti baju? Tidak usah repot-repot Tao."

Tao terdiam saat Kris kembali mendekat padanya dan semakin memojokkannya ke sudut tempat tidur. Punggung Tao sudah menabrak tembok yang menandakan bahwa dia tidak bisa lari kemana-mana lagi. Nafas Kris terasa di wajah Tao dan dia segera memejamkan mata untuk menghindari kontak mata dengan Kris.

"Kau sudah berjanji padaku Taozi," suara Kris terdengar lebih rendah dari beberapa menit sebelumnya.

"Jan–" Tao tidak melanjutkan kalimatnya akibat terkejut dengan wajah Kris yang terlampau dekat dengan wajahnya. Ia mendorong pelan bahu Kris agar agak menjauh, kemudian membalas, "Janji apa?"

"Oh, jangan berpura-pura lupa peach," Kris menyeringai.

Tao masih saja berusaha mengelak, "Aku memang lupa."

Kris menyeringai lalu menarik selimut yang menutupi tubuh Tao dalam sekali gerakan. Tao terkejut dan berusaha mengambilnya lagi, namun, tubuh Kris menghalanginya. Wajah Tao sudah memerah semua bahkan sampai ke telinganya. Kris yang melihat itu terkekeh lalu berbisik ditelinga Tao, "Sudah ingat janji apa?"

"K-kan sudah aku tepati ge! Kau hanya memintaku naked kan?" Tao menunduk.

"Kau bilang itu jika aku bisa mendapatkan barang itu dalam waktu seminggu, jika kurang dari seminggu kau akan memberi hadiah tambahan. Bukankah itu perjanjiannya?"

Baiklah begini, Tao meminta Kris untuk membelikannya jam tangan merk Gucci limited edition. Jika Kris bisa membelikannya dalam waktu seminggu maka Tao akan naked seharian untuk Kris, jika kurang dari seminggu maka Tao akan memberi hadiah tambahan yaitu menuruti keinginan Kris. Dan ternyata yah bisa kalian tebak sendiri jika Kris bisa membelikannya barang tersebut dalam dua hari entah bagaimana caranya.

Mau bagaimana lagi, Tao harus menepati janjinya. Lagipula, tidak menolak ataupun menolak juga Kris pasti akan tetap memaksakan dia untuk melakukan keinginan Kris.

"Baiklah, gege mau apa sekarang?" tanya Tao akhirnya.

Kris menyeringai puas lalu menggendong tubuh Tao meninggalkan kasur. Tao agak kaget dan buru-buru memeluk leher Kris agar tidak terjatuh. Kris mendudukkan tubuh Tao di atas meja rias (sebut saja begitu) setelah sebelumnya menjatuhkan barang-barang yang ada diatas sana. Tao mendelik tak terima, itu bukan hanya barang miliknya tapi juga milik Luhan. Kalau ada yang rusak memang Kris mau menggantinya?

"Gege! Itu milik Luhan ge, kalau nanti rusak ba– hmphh!"

Selalu saja mencuri start, begitulah hobi Kris.

Daripada mendengar ocehan Tao, lebih baik Kris bungkam saja dengan bibirnya. Lumayan kan, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Yeah, kau memang jenius Kris.

"Hmmph! Hnggh!" Tao mengerang tidak jelas dan memukul-mukul bahu Kris.

Kris tidak peduli dan malah menghisap bibir bawah Tao semakin kuat. Kemudian lidahnya kembali masuk dan menjajah mulut Tao. Lidahnya mengelus-elus dinding atas mulut Tao lalu menyentuh lidah Tao untuk mengajaknya bertarung. Tao meladeni dan berusaha mendorong lidah Kris keluar dari mulutnya, namun semua konsentrasinya pecah saat tangan Kris bermain di nipplenya.

"Nghh, mhhh," sel saraf tubuh Tao menegang, ia mencengkram erat bahu Kris sebagai pelampiasan.

Kedua tangan Kris masih setia bermain di dada Tao, menarik kedua putingnya secara bergantian. Menikmati setiap suara desahan Tao yang mengalun merdu di telinganya. Kris melepaskan tautannya dan menghentikan gerakan tangannya, menatap Tao yang sedang menarik oksigen banyak-banyak.

Kris merapatkan tubuhnya dan tubuh Tao, sengaja menempelkan bagian privatnya di lubang milik Tao.

"Gege sudah tegang."

Tao buru-buru menutup mulutnya yang sudah dengan kurang ajarnya keceplosan kalimat semacam itu. Wajahnya lagi-lagi memanas dan dia sudah bisa menebak jika Kris pasti menertawakan dia dalam hati. Sialan.

"Kalau begitu bantu aku menyelesaikan urusanku ini Taozi," Kris mengarahkan tangan Tao menuju selangkangannya yang menggembung. Menggerakkan tangan Tao mengelus miliknya meski Tao berusaha menarik tangannya kembali.

Kris tertawa lalu menarik dagu Tao agar mereka bertatapan. Keduanya terhanyut dalam pandangan masing-masing sampai akhirnya Kris memutus pandangan mereka dengan ciuman lembut. Tangan Kris membimbing kedua tangan Tao untuk melingkar di lehernya.

Kali ini Tao tidak menolak dan berusaha untuk menyeimbangi permainan Kris. Lidah keduanya saling membelit dan sama-sama tidak mau kalah. Bunyi kecipak memenuhi ruang kamar yang tadinya hening.

Tangan Kris mengelus paha dalam Tao, sukses membuat muridnya itu menyerah dan membiarkan sang guru mendominasi.

"Nghh, nhh," Tao menjambak kuat rambut Kris, menekan kepala Kris untuk memperdalam ciuman mereka.

Kris mengerti dan menuruti permintaan Tao, semakin kuat menghisap dan menggigit-gigit kecil bibir sang murid. Kemudian Kris menurunkan ciumannya menuju lehernya, menghirup wangi tubuh Tao dari sana dan mengecup-ngecup kecil lehernya. Tao mendongak, memberi akses lebih mudah bagi Kris untuk mencicipi lehernya. Kris menjilat leher Tao lalu menghisapnya seperti vampir kekurangan darah.

"J-jangan kissmark ahhh Kris ohh!" terlambat karena Kris sepertinya terlanjur menandai Tao. Oh ayolah, Tao malas jika besok ditanya-tanya oleh teman ataupun guru di kelasnya.

Bisa saja jika Tao memakai slayer tapi tidak mungkin kan jika dia memakainya sepanjang jam pelajaran?

"Krishh nghh," Kris malah semakin banyak menandai Tao, cukup membuat Tao kesal.

Tao mendorong kepala Kris dengan kuat sampai akhirnya Kris berhenti bermain-main di lehernya. "Sudah kukatakan jangan membuat tanda apapun!"

Kris hanya tersenyum seakan tidak berdosa, "Maaf, aku kelepasan. Kau terlalu menggoda untuk kutidak kutandai."

Kedua pipi Tao merona tipis, dan semakin merona saat Kris kembali mengecup bibirnya. Hanya sekilas kemudian lelaki itu menjauhi tubuh Tao dan menuju ke lemari pakaian Tao. Mencari sesuatu untuk kegiatan mereka.

Mata Tao tidak akan salah melihat jika Kris membawa sebotol pelumas.

"Tekuk kakimu Huang." Tao hanya menurut dan menekuk kedua kakinya.

Kris membuka seluruh pakaiannya dan melemparnya asal, menyusul Tao untuk naked. Mata Kris tidak dapat berhenti memperhatikan lubang milik Tao, sial ingin sekali Kris langsung memasukinya sekarang. Namun, tentu saja dia tidak akan setega itu.

Kris mengoleskan jarinya dengan pelumas juga mengoles bagian luar lubang Tao. Kemudian perlahan Kris memasukan satu jarinya.

Tao memejamkan mata, merasakan perih yang amat sangat dibagian bawahnya. Sakit sekali, Tao merasa seperti perempuan yang diambil keperawanannya saat ini. Tidak mau membuat Kris menunggu, Tao mengucapkan lampu hijau untuk Kris.

Sempit, hanya itu yang dirasakan Kris saat jarinya masuk. Hangat sekali dan Kris langsung menggerakkan jarinya setelah Tao setuju. Terlalu sempit dan Kris tidak bisa untuk tidak bergerak cepat.

"Anghh," Mendengar itu Kris sadar jika ia menemukan sweetspot Tao, dan Kris berulang kali menusuknya.

"Anhhh morehh morehh" Tao kelojotan, tidak dapat menahan rasa nikmat saat jari panjang Kris menusuk titik manisnya.

Kris memasukkan jari tengahnya untuk menemani jari telunjuknya di dalam lubang Tao. Semakin sempit dan Kris menambah cepat gerakan keluar masuknya.

"Penuhh nghh," Tao mencengkram pinggiran meja, merasakan kedua jari Kris bergerak menggunting dibawah sana. Kemudian menusuk prostatnya dengan telak.

"Sempit sekali Tao, sempit." Kris ikut memejamkan mata, menikmati bagaimana lubang Tao memijat kedua jarinya. Kemudian Kris memasukkan jari ketiga yaitu jari manisnya, sukses membuat Tao menjerit.

"Anghhh keluarkannn, sakithh," Tao serius dengan kata sakit, ini terlalu sesak untuknya.

Tidak ingin membuat kekasihnya kesakitan, Kris berusaha menekan prostat Tao lagi. Kedua jarinya agak melebarkan lubang Tao, sementara jari tengahnya bergerak lebih dalam, untuk mencapai letak prostat.

"Nghh, i-iya disituhh ahh…"

Tao tidak dapat menggambarkan rasanya. Sakit dan nikmat sekaligus, terasa sesak namun menyenangkan tiap kali Kris mengenai prostatnya.

"Disini Tao? Disini?" jari tengah Kris kembali mengenai prostatnya.

"Anhh iyahh ge… lagihh lagihhh," Tao merengek-rengek seperti anak kecil.

Kris tertawa serak, menikmati wajah Tao yang tampak keenakan. Tangannya tetap begerak maju mundur di lubang Tao. Sampai ia rasa rektum Tao mulai menyempit, menandakan jika ia hampir mencapai puncaknya. Maka Kris semakin mempercepat gerakannya.

"Ahh nghh le-lebih cepat lagi..."

"Ge ahh, hampir sampaihh,"

Tao merasa penisnya semakin cepat berkedut dan ada sesuatu yang ingin membuncah keluar dari perutnya.

"Datanghh ohh, Kris ge!"

Ribuan kupu-kupu beterbangan di dalam perut Tao, pandangannya seakan memutih. Klimaksnya lumayan banyak dan nafas Tao benar-benar tidak karuan.

Kris menarik keluar jarinya lalu mengoleskan kejantanannya dengan pelumas, dia sudah terlalu tegang untuk menunggu lebih lama lagi. Sementara Tao masih sibuk mengatur nafas dan detakan jantungnya, Kris memasukkan setengah penisnya ke dalam lubang Tao.

"Arghhh!" Tao berteriak dan mencengkeram pinggiran meja lebih erat. Bibirnya berdarah karena terlalu keras ia gigit, kedua pipinya mulai basah karena air matanya.

Tidak tega, Kris mencium bibir Tao sambil tangannya mengelus-elus pinggang sang kekasih untuk memberinya ketenangan. Pinggang Kris tetap bergerak maju-mundur dan berusaha mencari letak prostat Tao.

"Anhh fuck! Morehhh ahh, lagihh" Tao reflek melepas tautan bibir mereka saat Kris mengenai prostatnya dengan telak.

Kris menyeringai dan menyentuh titik itu berulang kali, menikmati tiap pijatan lubang Tao terhadap penisnya. Suara Tao terlalu seksi untuk tidak dia ingat baik-baik dalam otaknya.

"Fuck? Oh, kau belajar bahasa kasar darimana, hm?" bisik Kris rendah tepat dihadapan wajah Tao.

Wajah Tao memerah, namun ia membalas, "Ahh d-darih manusia bernama Wu Yifan nghh,"

Gerakan pinggang Kris semakin cepat yang menyebabkan tubuh Tao terhentak dan punggungnya menabrak cermin di belakangnya dengan cukup keras. "Siapa Wu Yifan itu?"

"Anhh mhh, d-dia kekasihku," suara Tao terdengar lebih serak dari sebelumnya.

Mendengar itu Kris menyeringai, mulai meneruskan kegiatannya dengan menjilati leher Tao. Menghisap lalu menggigit leher mulus tersebut, menghasilkan erangan Tao yang lebih keras dari sebelumnya. Tao tidak peduli lagi meski nanti akan ada banyak tanda ditubuhnya. Persetan, Tao sudah tidak tahan.

"Ohh nghhh, Kris nghh,"

Kris merasakan lubang Tao yang semakin menyempit, menandakan jika muridnya itu sudah mendekati klimaksnya yang kedua. Maka Kris memperlambat gerakannya, sengaja untuk menggoda Tao.

"Ah, le-lebih cepat gege! Lebih cepathh!" Tao memerintah.

"Tadi menolak, sekarang lihat sendiri siapa yang tidak sabaran," seringai Kris semakin lebar.

Tao mengalihkan pandangan ke arah lain, dia muak dan wajahnya seakan terbakar jika mendengar semua ucapan menyebalkan Kris. Gerakan Kris benar-benar lambat dan Tao semakin kesal karena Kris tetap tidak ingin berhenti menggodanya.

Bukannya cepat-cepat menyelesaikan, Kris malah menggendong Tao turun dari meja. Tao mengernyit bingung, namun kemudian mengerti saat Kris menyuruhnya menghadap kaca. Kris mendorong tubuh Tao agar sedikit menunduk lalu kembali memasukkan penisnya.

Tao memejamkan mata saat Kris kini tanpa segan menusuk asal lubangnya. Hingga akhirnya tusukan Kris tepat mengenai prostatnya dan Tao akhirnya keluar. Kedua kaki Tao seakan lumpuh dan dia hampir ambruk jika saja Kris tidak menahan pinggangnya.

"Kenapa kau sempit sekali sih?" Kris menanyakan hal tidak penting dan masih dengan cepat memaju-mundurkan pinggangnya. Tangannya mendorong dan menekan leher Tao agar tubuh muridnya lebih menunduk.

Tao tidak menjawab, dia terlalu lelah bahkan untuk sekedar mengumpati Kris.

"Hey peach, lihat ke kaca."

Dengan sisa kekuatan yang ada, Tao membuka mata lalu mendongakkan kepalanya. Ia bisa melihat bagaimana milik Kris memasukinya dan itu membuat wajah Tao kembali memerah. Kris menyeringai dan terkekeh saat melihat ekspresi Tao.

Suara kulit yang bertabrakan mendominasi di ruangan tersebut, serta suara Tao yang tidak berhenti mengerang setiap Kris mengenai titik manisnya. Tao sampai merasa tenggorokannya perih karena daritadi tidak berhenti berteriak. Mungkin kalau ada yang menguping, mereka akan dengan mudah tahu apa yang dilakukan Kris dan Tao.

Tidak lama Kris merasa miliknya hampir pecah, maka dia menghentikan gerakannya. Tao terdiam dan mengatur nafas, mengira-ngira apalagi yang sebenarnya ingin Kris lakukan.

Kris membaringkan Tao diatas ranjang tanpa melepaskan tautan mereka. Tangan Kris mengelus rambut Tao yang basah karena keringat lalu mencium lembut bibirnya. Kris ingin berhenti tapi, ayolah dia mana bisa tahan untuk tidak menyetubuhi Tao.

"Lanjutkan saja ge," ucap Tao pelan, mungkin lebih kearah berbisik.

Dengan itu Kris kembali bergerak, kali ini mulutnya menuju dada Tao. Kris mengelus pelan kedua puting Tao lalu menghisapnya.

"Ahh ahh," tubuh Tao melengkung dan kedua tangannya mencengkeram sprei, mendadak ia tidak merasa ngantuk lagi.

Lidah Kris menjilat-jilat lalu menggigit pelan nipple Tao, sementara tangan kirinya memilin nipple lainnya.

"Anhhh, ohh hahh Krishh,"

"A-aku datang Tao." Kris melepas gigitannya lalu terfokus pada gerakan maju-mundurnya.

Kris menggeram saat penglihatannya memutih, sementara Tao berteriak pelan saat semprotan cairan Kris mengenai titik manisnya.

Keadaan kamar mendadak hening, hanya deru nafas keduanya yang terdengar berantakan. Tao memejamkan matanya, dia sudah terlalu lelah dan ingin segera tidur. Kris menatap wajah Tao, mencabut kejantanannya lalu ikut berbaring di sebelah Tao.

Kris memeluk tubuh Tao lalu mengecup-ngecup puncak kepalanya sebagai pengantar tidur. Setelah dirasa nafas Tao cukup teratur, Kris bangun dan membereskan pakaiannya. Dia masih ada urusan yang harus diselesaikan.

"Sleep well, love."


Kris melangkahkan kaki menuju ruang guru, ia melirik jam yang melingkar ditangannya dan berdecak saat tahu ternyata ini sudah jam 12 siang. Lelaki tinggi itu mempercepat langkahnya untuk menuju ruang guru. Namun, langkahnya terhenti saat ia mendengar sesuatu dari dalam sebuah kamar asrama.

Penasaran, Kris mendekatkan telinganya ke pintu dan berusaha mendengar lebih jelas. Sesaat setelah bisa menebak suara apa, Kris menyeringai. Mengangkat bahu lalu memilih untuk mengabaikan apapun yang terjadi di dalam kamar tersebut.

.

.

.

.

.

Finish.

[Balasan review chap 6]

Skymoebius: jangan tabok dia, pelindung dia serem/?

BigSehun's Junior: iya kali ya wkwk, siap ini dilanjut

Oh Grace: oh iya ya, setelah aku pikir-pikir lagi keknya masih ada kesalahan disana. Makasih koreksinya^^

baekdoakis: astagfir otaknya /gak nyadar diri/ lanjut kok haha, sex party ya? Hmm akan dipikirkan

kikikikik: siap, udah lanjut ya

windabaekhyunee: hai makasih reviewnya hehe^^ siap, ini udah lanjut yaa

.

.

.

woahhh udah berapa lama gak apdet ya wkwk. Sorry banget kalo ini kurang hot karena ketidakprofesionalan saya, saya lagi sibuk dengan dunia sekolah dan bentar lagi juga ujian T-T selain itu yaaa baru dapet feel lagi untuk nulis hehe. Maaf ya semua kalo ini bakal sering late update T-T see you in next chap!

With love,

LunA