"Pak Hakim, tolong komentarnya! Apa betul seorang kriminal yang selama ini tersembunyi akhirnya meninggal?"

"Bagaimana tanggapan Anda atas kasus ini, Pak?"

"Apakah yang menangis itu adalah adik dari Sakata Gintoki?"

Shige Shige menutup pintu di balik punggungnya. Ia tersenyum–bisnis. Jawaban diplomatis diberikan sukarela, "Kepolisian akan menjawab beberapa pertanyaan setelah laporan mengenai Sakata Gintoki selesai. Dan, ya, ia meninggal tepat pukul 2 lewat 10 siang karena kehabisan darah menurut dokter rumah sakit. Kami juga akan menindaklanjuti wanita yang menembaknya."

.

Sougo menghela napas pendek mendengar segala hiruk-pikuk di balik pintu. Segerombol pers dengan seluruh suara kamera yang menyalak itu keterlaluan berisik. Namun, suara itu perlahan memudar, tergantikan hening yang tenang.

Ah–sebentar. Suasana tidak benar-benar kalem. Masih ada si gadis bersurai jingga yang sesegukan, jemari kecil terselip di antara jemari Gintoki.

Sougo merotasi bola mata. "Cina, kau berlebihan. Sudah, cukup!"

Berikutnya, raungan itu terhenti. Kagura mengangkat wajahnya, mengusap wajah yang berantakan, dan cengiran andalan ditunjukan. "Aku hebat, kan, aru?"

Nobu Nobu terkikik kecil. Iris gulma jelas terhibur oleh apa yang tersaji di hadapan. Sneli putih masih menggantung pada pundak.

"Keren, kok," puji Nobu Nobu. "Rasanya mengeluarkan surat kematian akan mudah kalau begini."

Isao mengempas napas lega. Ia melihat ke arah bawahannya. Toshiro, setelah merasa bahwa situasi cukup aman–ia melangkah, dekati tubuh yang terbaring nihil tenaga di atas kasur. Pelupuk itu masih membalut iris darah.

Bulu matanya panjang.

"Sekarang," ujar Sougo. "Tinggal menunggunya bangun saja."


Gintama © Hideaki Sorachi

Warning! Modern! AU, Hijikata Toshiro x Sakata Gintoki, criminal! Gintoki, detective! Toshiro, rated T (16+), romance, drama, out of character (maybe, possibly), shounen-ai, boys love, typo(s), EyD semoga betul seluruhnya, dan lain-lain.

Acute by Saaraa

Arc VII – Days

A month before now ….


"Jadi, aku tidak akan basa-basi," Shige Shige memulai. Ia mengangkat sebelah lengan, membentuk angka dua dengan jemarinya. "Acute Project tidak resmi. Aku punya dua objektif menjalankan ini. Salah satunya adalah, untuk mencegah Sakata-san mati dengan cara yang sama seperti Yoshida Shouyo."

Selanjutnya, Isaburo mengangkat suara. "Aku dan Nobume sudah tahu ini sejak awal. Ketika Sakata-san tertangkap pun, hal itu memang tidak pernah dibuat laporan resmi kepada kepolisian. Bahkan, government officials pun tidak tahu."

Toshiro mengangguk. Tidak heran. Akan mudah menipu berbagai pihak dan sembunyikan banyak hal asal menyebut kata "atasan" dan "misi rahasia". Meski sempat ada tanda tanya dan rasa penasaran–Toshiro memilih tidak banyak bertanya sejak awal tugas ini diberikan.

"Apa itu artinya ketika orang itu mau membunuhku tempo hari, tikus kerah putih itu sudah tahu kalau sebetulnya aku berada dalam pengawasan polisi?" tanya Gintoki, mengingat insiden di Yoshiwara beberapa hari lalu.

Shige Shige memberi anggukan. Selanjutnya, pemuda itu lanjut menjelaskan, "Itu dia. Kurasa beberapa orang dari pemerintahan masih setia dengan Sada Sada dan mereka tahu kalau kau, kerabat dari seorang polisi bernama Yoshida Shouyo yang hampir menjebloskan Sada Sada ke penjara, masih hidup. Bahkan, sekarang datang untuk balas dendam. Tentu saja mereka akan bergerak cepat."

Kagura mengangkat tangannya. Hal itu sukses dalam menarik seluruh pasang mata ke arah si gadis. Maka si iris biru cemerlang dengan suara tinggi itu bertanya, "Tapi, sekarang sudah ketahuan, aru. Bahkan sepertinya mulai muncul ke publik juga. Melihat dari situasi, bukankah kemungkinan Gin-chan tetap akan dihukum mati, aru? Pasti hakimnya juga akan disuap, kan?"

Sougo bersiul pendek. "Otakmu cukup jalan, Cina."

Kagura mendelik kesal. "Aku lebih pintar daripada otak udangmu, aru."

Nobu Nobu mengulas senyum tipis. "Itu yang ingin kami bicarakan," ujarnya, lalu meraih tasnya. Merogoh sesuatu dari dalam situ, ia mengeluarkan ampul kecil berisi cairan. "Pernah dengar henbane?"

Gintoki mengangguk. Sedikit, ia masih memiliki ingatan atas pelajarannya dulu semasa kuliah dan menempuh pendidikan. "Tumbuhan yang digunakan untuk farmasi, sekaligus narkotika, karena ada kandungan alkaloid-nya, terutama dari daun dan bijinya yang punya bahan psikoaktif alami seperti skopolamin dan hiosiamin. Dengan kadar yang tepat, dokter biasanya menggunakan itu untuk anestesi atau obat bius sebelum operasi."

Tsukuyo menggeleng-geleng. Ternyata ia belajar dengan sungguh-sungguh waktu kuliah, ya.

Toshiro menoleh ke sampingnya, di mana sang lelaki perak duduk anteng. Dia itu sebetulnya tidak bodoh, ya. Tampangnya saja yang seperti orang bego.

"Tepat!" Nobu Nobu memperlebar cengirannya. "Namun karena henbane cukup berbahaya dan konsumsi berlebihan menimbulkan kematian, maka, aku mengutak-atik kandungannya. Aku juga mencampurnya dengan dengan bahan lain, tapi–intinya, bila satu ampul ini diminum, maka tidak akan menyebabkan kematian. Efeknya adalah orang yang meminum akan tidur selama 48 jam–itu maksimal–dan detak jantungnya memelan. Semacam koma, tapi lebih ke arah–tidur dengan sangat pulas dan tubuh dibuat relaks, sehingga jantung pun memompa darah dengan perlahan dan sulit terdeteksi."

Toshiro terdiam sesaat. Meski ia tak paham seluruh hal mengenai obat, sedatif, atau pun sebagainya–ada satu hal yang ia jadikan konklusi dari penjelasan Nobu Nobu. Untuk memastikan, lelaki bersurai jelaga berujar, "Kau ingin Gintoki 'mati' untuk sesaat?"

"Tunggu–itu mustahil," respon Gintoki. Ia mengerutkan dahi, lalu menekan pelipis. "Pertama, apa kau sudah menguji obat itu? Kedua, kalau kau sembarangan memalsukan kematianku, orang-orang itu pasti akan sadar."

"Aku sudah mengujinya, kok," ujar Nobu Nobu. "Pertama-tama, aku menguji pada beberapa tikus. Setelah itu, kelinci. Aku ingin mengetes dengan orang utan yang memiliki kemiripan gen sekitar 97 persen dengan manusia, tapi–aku tidak mungkin mendapat sampelnya. Lalu, melalui tikus dan kelinci, aku menemukan gejala yang sama, yakni tertidur pulas selama dua hari, lalu setelah itu terbangun dan mereka makan banyak untuk mengisi energi."

"Dia juga sudah mengujinya ke orang, kok," Shige Shige menyahut santai, lalu menyentil sudut bibir. Sedikit tertawa akibat respon manusia di sana yang memandangnya.

"Kau gila!" Gintoki menyembur, mengacak surai peraknya. Kirimkan tatapan tidak percaya, serta diperciki rasa khawatir di sana. "Bisa-bisanya kau mencoba itu, Sho-chan!"

Shige Shige tertawa. "Tak apa, hanya tertidur, kok, rasanya. Nah, selanjutnya, aku minta tolong Nobume-san untuk menjelaskan," ujar Shige Shige.

Gadis bersurai biru baja bangkit dari sofa. Ia maju ke bagian depan ruangan, menentang I-pad besertanya. Selanjutnya sebuah potret lelaki paruh baya diperlihatkan.

"Pengadilan Sakata Gintoki-san sudah ditetapkan, yakni bulan depan, pada tanggal 13 Februari 2019. Hakim yang bertugas hari itu adalah orang ini. Dia hakim yang subjektif dan menerima suap. Jadi, benar–Sakata-san pasti mendapat eksekusi mati."

"Sangat tidak menguntungkan," respon Isao.

"Tapi justru itu," Nobume membalas. Senyum tipis terbit pada bibirnya. Setipis helai kertas. "Karena hakim ini begitu subjektif dan pasti menerima uang suap untuk menjatuhkan hukuman mati … bagaimana kalau ia sendiri melihat Sakata Gintoki mati pada hari itu?"

Kagura melompat girang. Sebuah jawaban hadir di dalam kepala. "Maka, ia pasti akan melapor pada pemerintah kalau Sakata Gintoki sudah mati!"

Nobu Nobu mengangguk. "Ping-pong!"

"Begini rencananya yang sudah kami diskusikan, Gintoki-san," ujar Nobume. "Kita akan bagi tugas. Okita-san, Kondo-san, dan Hijikata-san bertugas seperti biasa, sebagai polisi yang mengawal sang kriminal. Di sana, Tsukuyo-san akan berperan sebagai seorang wanita yang suaminya terbunuh dan ia yang bertugas menarik pelatuk untuk 'membunuh' Sakata-san. Tapi, karena semua orang yang masuk dan keluar gedung persidangan akan diperiksa, maka, Kondo-san nanti akan menyelipkan pistol ke dalam tas Tsukuyo-san. Dia juga yang akan merebut pistol sesudah Tsukuyo-san menembak Sakata-san, agar tidak ada kecurigaan bila nanti dipertanyakan senjata api miliknya hilang ke mana."

Gintoki menarik napas panjang, lalu menghelanya pelan. Ada yang ingin ia bicarakan dan rasanya tepat untuk menyela–tapi, ia tengah memikirkan kata-kata yang tepat. Iris darah bergulir ke bawah, lalu dibalut kelopak mata sesaat.

"Selanjutnya, Kagura-san akan meyakinkan media dan hakim dengan berperan sebagai adik Sakata-san yang berduka karena kematian kakaknya," Nobume mengempas napas perlahan. "Untuk membuat ini tampak nyata, Sakata-san harus menaruh kantung darah di balik jasnya. Tapi, sekali lagi, sebelum masuk ke ruang sidang, Sakata-san pasti diperiksa lebih dahulu. Maka itu, ketika Tsukuyo-san akan menembak, Okita-san akan dengan cepat menyelipkan kantung darah dengan materi anti peluru di bagian belakang bungkusnya, jadi peluru tidak akan menembus dada. Sampai sini ada pertanyaan?"

Gintoki menggeleng pelan. Ia mendengarkan.

"Baiklah," Nobume melanjutkan. "Untuk membuat Sakata-san mati seketika, ampul berisi obat itu akan dicampur dengan kantung darah. Sehabis Tsukuyo-san menembak, Okita-san akan bertindak seolah-olah memberikan pertolongan pertama dengan menekan bagian 'luka'. Di sana, Okita-san perlu sedikit menggores kulit Sakata-san dan membuat luka betulan, agar darah artifisial bercampur obat yang tercecer dapat segera masuk dan menimbulkan efeknya. Terakhir, Sakata-san akan dibawa ke rumah sakit tempat Tokugawa Nobu Nobu-san bekerja, agar dia bisa mengeluarkan surat kematian. Jadi, setelah ini …," Nobume terhenti sesaat.

"Sakata Gintoki tidak akan ada lagi di dunia."

Shige Shige mengerjap melihat gurat wajah sang surai perak. "Sakata-san?" panggilnya, memutuskan mencari tahu alasan di balik ekspresi yang tak dapat ia jelaskan.

"Aku …," Gintoki melirih. Ia mengusap tengkuk. "Kalian melakukan terlalu banyak. Maksudku–kalian tidak memiliki kewajiban membantuku sampai begini. Lagipula, bukankah mata dibalas mata dan nyawa dibalas nyawa? Hukuman mati terdengar adil bagiku," ujar Gintoki, menelusuri setiap pasang mata di sana. Mencari jawaban.

Sebab, sungguh–ia tak paham. "Kalian melawan identitas kalian sendiri sebagai polisi. Kalau Tsukuyo dan Kagura, aku mengerti–tapi, kalian?"

Tsukuyo dan Kagura saling menoleh pada satu sama lain. Ucapan Gintoki tak salah. Tak ada alasan bagi kepolisian untuk melakukan ini.

Isaburo tersenyum tipis. "Kami hanya mengikuti perintah atasan yang absolut, Sakata-san."

Shige Shige tersenyum timpang. Pernyataan Isaburo disambut anggukan oleh Nobume.

"Dan kau, Sho-chan, kau sudah selesai balas budi. Itu cukup. Bukankah kaubilang ingin jadi polisi baik, yang adil?"

Shige Shige mengangkat bahu. Ia tersenyum tipis. "Secara teknis, aku adil. Aku tetap membawamu ke ranah pengadilan dan menjatuhimu eksekusi; sesuai keinginan mereka si kerah putih dan masyarakat."

Gintoki menatapnya sesaat, lalu mendesah lelah. Ia menekan pelipis. Tidak percaya.

Lalu, Isao akhirnya bertanya. Satu hal yang menjadi ikhtisar semua ini. "Lalu, apakah kau tidak ingin hidup lagi, Sakata-san?"

Gintoki terdiam. Ia membeku, lalu melihat ke arah Toshiro. Lelaki itu membalas sorotan iris darah dengan biru samudra dalam yang sama seriusnya. Mengandung afeksi dan kasih yang sebetulnya telah ada di dalam sana, sejak lama.

Dulu aku memang pikir lebih baik mati. Tapi … jadi egois bukan pilihan.

"Begini saja," ujar Shige Shige. "Hijikata-san?"

Toshiro sedikit tersentak. Membalas singkat, "Ya?"

"Bagaimana pendapatmu? Sebagai polisi yang patuh hukum … menurutmu, apa baiknya?"

"Aku tidak mau," Toshiro membalas seketika. Tidak ada jeda untuk berpikir. Tak ada keraguan, lebih-lebih sebuah perasaan bimbang. Itu jelas, baginya. Betul-betul tak perlu dipertanyakan.

Gintoki tertawa kecil. Menunduk. Merasa ini waktunya berhenti berharap. Ah–ia akui, ia begitu kontradiktif. Namun mendengar jawaban tidak dari orang yang ia kasihi–tetap saja, beda.

Sudah pasti, ya.

"Aku tidak mau Sakata Gintoki mati."

Untuk kata-kata yang termuntah itu, Gintoki geming.

"Kurasa …," Toshiro menahan kata-katanya di sudut lidah. Lalu ia melihat Gintoki. Iris samudra itu betemu netra darah. "Shouyo juga tidak mau, Gintoki."

Kagura tersenyum lebar. Shige Shige mendekati Gintoki, lalu ulurkan tangan.

"Dengar, kan? Ayo dicoba, Sakata-san."

Gintoki tertawa tipis.

Benar-benar, deh.

Orang-orang ini sungguh absurd, Shouyo.

.

.

.

Kagura menaruh jari telunjuk di hadapan bibir merah muda pucat. Sougo mengangguk, melepas sepatu, lalu memberi sekantung sitrun pada sang gadis berhelai senja.

"Ojamashimasu," si pemilik surai kastanya keruh berujar kecil. "Sudah bangun?"

"Belum, tuh," balas Tsukuyo. Ia mengarahkan iris lavender ke arah kamar. Maka, Sougo melangkah, melongok ke dalam kamar. Di sana, si surai perak masih terbaring lemas di atas kasur dengan tempo napas yang teratur. Sadar bahwa entitas si iris vermillion ada di sana, Toshiro yang terduduk di sisi kasur menoleh melalui bahu.

"Oi," sapa Toshiro. Sougo mengangguk. Ia berjalan mendekat. Melihat wajah kalem si Monster Putih. Begitu tenang, begitu–damai.

"Kau tidak tidur, Hijikata-san?" tanya Sougo, sadar akan gurat kehitaman di bawah mata sang helai sepekat bulu gagak. Toshiro menggeleng, menekan batang hidung.

"Tidak bisa," ujar Toshiro. "Napasnya lemah sekali, tahu? Aku benar-benar–takut, kalau sewaktu-waktu itu akan berhenti. Meski hari ini lebih mending daripada kemarin–seolah-olah napasnya benar-benar sudah tidak ada."

Toshiro ingat tengah malam tadi ia sampai tahap di mana ia menaruh telinga di atas dada Gintoki–hanya untuk memastikan denyut lemah yang senantiasa berdetak konstan.

Sougo mengangguk atas jawaban itu. "Oh, ya, Kondo-san dan yang lainnya menitip salam. Karena kasus ini, kepolisian dan media heboh semua. Mereka sibuk dan tidak bisa datang. Shige Shige-san masih berusaha meredamnya dan Nobu Nobu-san sendiri mengurus surat kematian Sakata-san, agar tampak resmi. Sehabis ini mungkin Imai-san akan membantunya mencari identitas baru."

Kali ini, giliran Toshiro yang mengangguk singkat. Setelah itu, Toshiro mengusap sudut mata. Kaget kala kelopak bertirai bulu mata perak itu timbulkan pergerakan. Sougo mengerjap, panggilan menjadi stimulan untuk kesadaran, "Sakata-san?"

Sadar ada sesuatu, Kagura dan Tsukuyo ikut melangkah masuk ke dalam kamar. "Gin-chan?" sang gadis melirih kecil, lalu naik ke atas kasur perlahan, duduk di samping kepala perak.

Saat pelupuk itu terangkat perlahan, tatapan sayu diperlihatkan. Gintoki mengerang lembut. Pandangan masih bersepai sebelum akhirnya menyatu. Saat wajah Toshiro adalah satu hal yang kali pertama ia lihat, Gintoki tersenyum lebar. Ia tertawa kecil.

"Hehe …."

"Oh, iya," Sougo menyeletuk. "Nobu Nobu-san bilang, after effect obat ini adalah ciri-ciri seperti orang mabuk."

Kagura mengangguk paham. "Pantas saja tampang Gin-chan lebih tolol lagi."

"Gintoki?" Toshiro menyebut namanya, pelan. Lelaki beriris biru samudra dalam kira Gintoki tak memiliki tenaga. Maka, ada keterkejutan yang amat sangat ketika kedua telapak tangan Gintoki menangkap sisi pipinya, lalu membawanya mendekat, dan mempertemukan dua bibir.

Tsukuyo menutup mulut dengan sebelah tangan. "Oh, whoa."

Toshiro sendiri tidak menyangka, tapi tidak melepas pula. Malah, tangannya terulur untuk menyentuh sisi wajah Gintoki.

Bibirnya kering, Toshiro mengecup singkat.

Bukankah kita seharusnya keluar? Sougo melirik pada Kagura. Si gadis menjulurkan lidah, mengangkat bahu.

Setelah tautan bibir singkat itu lepas, Gintoki merentangkan lengan. Ia melingkarkannya pada pundak Toshiro, lalu tersenyum tipis. "Berhasil, kan?"

Toshiro menarik napas, lalu menghelanya lega. Ia menaruh kepala pada perpotongan leher sang perak. "Kau membuat orang khawatir, idiot."

"Ah," Sougo ingat. "Shige Shige-san menitipkan pesan untukmu, Sakata-san."

"Hm?"

"Katanya," kata Sougo, menggulirkan iris vermillon ke atas, mengingat-ingat. "Objektif kedua dari membuat Acute Project adalah, karena selain berjanji akan mengabulkan satu permintaanmu, aku juga menjanjikanmu bahagia, Sakata-san. Kuharap hal itu sudah terealisasikan melalui pertemuanmu dengan Hijikata-san."

Gintoki mengerjap. Melepaskan pelukannya. "…. Bedebah, sejak awal tidak ada peraturan ketiga. Berarti kurasa tinggal dengan Hijikata-kun sudah diputuskan, dari awal?"

Sougo tersenyum. "Tidak heran. Di hari penangkapanmu, aku diberi perintah langsung oleh Sasaki-san untuk pergi membawa Hijikata-san menginspeksi daerah itu. Atasan sudah tahu kau ada di sana. Kurasa Shige Shige-san juga sudah menyelidiki dulu tentang Hijikata-san sebelum ia memutuskan menaruhmu di rumahnya."

Toshiro menggelengkan kepalanya. "Dari awal kita menari-nari di telapak tangannya."

Tsukuyo membalas itu dengan tawa lembut. Bahagia. "Tak apa, kan? Berakhir dengan baik, kok."

Kagura mengangguk-angguk. Ia tergelak. "Gin-chan, sukses, ya?"

Gintoki mendengus melalui hidung. Lalu, ia melihat orang di sekelilingnya. Senyum terbit, sehalus gores pensil, pada bibirnya.

"Ya," ujarnya. "Sukses."

.

.

.

.

.

Angin musim panas datang perlahan. Menyisir ranting dan milyaran daun hijau. Memberi rasa adem dengan kecupan lembut pada setiap insan. Meski sang surya rasa-rasanya bertindak keterlaluan, musim panas ialah sesuatu yang diharapkan.

Ya–bagaimana tidak? Segala kemeriahan, festival menyenangkan, kembang api riuh meletus di angkasa–seluruh hal itu, terasa begitu meneduhkan hati.

Maka itu, sebelum laksanakan hasrat untuk bersenang-senang malam ini, Gintoki kini mengatupkan kedua telapak tangan. Ia menutup mata untuk sesaat. Lalu saat iris darah itu kembali tampak ke permukaan, bibirnya mengulas senyum tipis.

Ia duduk bersila, meski alas bebatuan terasa membakar. Dupa telah dinyalakan, dua buah onigiri menjadi persembahan.

"Shouyo," Gintoki memulai. "Sudah 8 tahun sejak kematianmu."

Sontak, memori itu tumpah ruah. Segalanya hadir dalam kepala. Sejak awal, hingga sekarang. Satu per satu momen yang tak akan dapat ia lupakan. Baik itu yang penuh duka mau pun dikecup oleh suka. Baik itu yang timbulkan sesak, dirundung lara, mau pun yang dibalut bahagia dan cengiran cerah.

"Kupikir, hidup tidak akan lebih baik kala itu. Apa pun yang kulakukan, bagaimana pun dunia berputar–kupikir waktuku sudah berhenti. Kupikir kau lah titik hentiku. Bodoh, nggak, sih?" Gintoki tertawa kecil.

"Tapi, dunia menunjukkanku–kalau, memang nyatanya tidak hanya hal pahit yang ada di sini. Bayangin, deh, Shouyo. Kalau orang tuaku tidak membuangku, maka aku tidak akan ke panti asuhan Otose. Kalau aku tidak bertemu Otose, aku tidak akan menjadi anakmu. Kalau aku tidak menjadi putramu, aku tak akan mengalami kematianmu, sekaligus saat-saat di mana aku balas dendam untuk itu," ujar Gintoki, lalu menarik napas. Senyum tak lesap barang secuil.

"Kalau aku tidak membunuh sekian banyak orang dan Sho-chan tidak membantuku, aku tak akan bisa bertemu Hijikata-kun. Aneh, ya? Mereka bilang, moral, kemanusiaan, kebahagiaan, berbanding lurus dengan perbuatan baik. Tanpa perbuatan baik, maka jangan harap bisa bahagia. Tapi justru melalui perbuatan buruk itu–aku bertemu Hijikata-kun."

Gintoki mengingat-ingat pertemuan pertama. Di mana keduanya akan bertengkar bagai anjing dan kucing.

"Ah! Aku tidak membenarkan perbuatanku, sih. Membunuh tetaplah salah. Nyawa adalah hal berharga yang tak boleh dihabisi, bahkan oleh pemiliknya sendiri. Itu satu hal yang sangat pasti. Tapi … kurasa, kalau ada eksistensi yang namanya Tuhan," Gintoki tertawa kecil. "Mungkin Ia menghendaki ini, supaya ada satu manusia-Nya yang bahagia. Setidaknya, sebelum mati."

Gintoki bangkit dari duduknya. Menepuk-nepuk bagian belakang celana tiga per empat, ia mengusap bagian atas nisan. Sebuah nama terukir indah di bagian depannya. Dicetak dengan warna emas, mengkilat diterpa cahaya mentari.

"Karena itu, Shouyo, terima kasih sudah pernah ada di hidupku," ujar Gintoki. Sebuah penutupan. "Suatu hari nanti–tidak sekarang–aku ingin bertemu lagi denganmu. Dan ... aku bahagia sekarang. Dengan Hijikata-kun. Jadi, kau tidak perlu khawatir."

Sesudah itu, Gintoki mempertemukan kedua telapak tangan terbuka. Bunyi tepak terdengar. Ia tersenyum, membalik tubuhnya. Tak jauh dari sana, Toshiro bersandar di balik pohon rindang, mengapit rokok di antara sela jemarinya–hanya seperti biasa. Setelah sadar Gintoki mendekat, lelaki itu bertanya singkat, "Sudah?"

Gintoki mengangguk. Menyentil sudut bibir. Ia langsung merangkul sang lelaki beriris biru samudra dalam.

"Tadi, berdoa soal apa saja?"

Gintoki memiringkan kepala. Berpura untuk berpikir. "Apa, ya? Rahasia, Hijikata-kun~!"

Toshiro mendengus. Ia melepas rangkulan Gintoki. Sebagai gantinya, ia menelusupkan jemarinya sendiri di antara jemari Gintoki. Mereka berjalan menjauh dari sana.

"Nanti malam mau makan apa?"

"Ehh~? Bukankah kita akan ke festival musim panas? Bersama Kagura dan yang lain."

Toshiro mengangkat bola mata ke atas. "Oh. Benar juga. Ya sudah, ayo pulang dan tidur siang."

Gintoki merengut. "Tidur siang?" ujar sang lelaki, lalu menendang sudut bibir. Ada rasa jahil mendadak. "Bukannya mau main? Sudah lama kita nggak melakukannya, kan?"

Langkah Toshiro terhenti. Ia melepas rokok dari kedua belah bibir, lalu menoleh ke samping. Gintoki tersenyum kaku. "Maaf, bercanda."

"Oh, mau main?" Toshiro mengulas seringai tipis. "Ya sudah, siap-siap saja ke festival musim panas dengan sakit pinggang."

Gintoki menggeleng.

"Eh, tidak, hanya bercanda! Hijikata-kun? Hijikata-kun!"

.

.

.

END


A/N:

Yosh, owari! Ahh~ akhirnya kelar. Thank you guys udah mau baca sampai sini! Oh ya, sebelum lanjut author note-nya, ada beberapa hal yang ingin saya tegaskan. Satu, henbane adalah tumbuhan yang berbahaya. Meski akan sulit menemukannya di Indonesia, tapi apa pun itu, jangan menggunakan narkotika dan obat-obatan medis dengan salah. Kedua, alkoloid adalah senyawa bersifat basa yang berkhasiat sebagai obat. Sementara itu, psikoaktif adalah obat yang bereaksi pada sistem saraf pusat. Obat-obatan seperti stimulan dan depresan termasuk dalam golongan obat psikoaktif. Ketiga, fun fact, scopolamine (skopolamin) adalah senyawa kimia yang sangat berbahaya. Tahu truth serum yang biasa digunakan dalam drama kepolisian? Truth serum atau obat kejujuran adalah hal yang nyata, berbahan dasar skopolamin ini.

Penjelasan singkatnya, cara obat kejujuran ini bekerja adalah, ketika skopolamin diberikan pada seseorang, senyawa itu semacam menghambat bagian-bagian atau "rantai" di otak yang bertugas membuat memori. Karena itu, semisalnya seorang kriminal diberikan serum kejujuran, lalu membuat kebohongan, dia tidak akan bisa mengulang kebohongan yang dia buat ketika ditanya lagi, karena dia tidak mengingatnya. Ini baik untuk mengungkap kejahatan.

Ironisnya, skopolamin juga digunakan untuk hal buruk. Orang yang diberikan skopolamin dalam dosis tinggi bisa dimanfaatkan oleh penjahat karena mereka tidak akan memiliki ingatan atau memori sesudahnya. Orang yang diberikan skopolamin juga akan tampak biasa saja, karena itu penjahat bisa menyuruh mereka melakukan banyak hal demi keuntungannya sendiri tanpa membuat orang lain curiga. Tidak terlihat kalau korban baru saja diracuni obat. Bahkan, ada kasus di mana seorang wanita tidak sadar kalau dirinya habis diperkosa karena dibuat mengonsumsi skopolamin.

(Saya mendapat pengetahuan ini dari laman Kompasiana dan beberapa websites lainnya.).

Karena itu, hati-hati, ya, guys, kalau ada yang menawarkan minuman atau makanan. TAPI! Yang paling penting bukan menghindari orang jahat seperti itu. Yang paling penting adalah JANGAN menjadi orang jahat seperti itu!

Mengulas satu hal lagi, Gintoki (di kisah ini) juga bilang, nyawa adalah sesuatu yang tidak boleh dihabisi oleh siapa pun, bahkan oleh pemiliknya sendiri. So, if you are thinking about suicide right now, I dare you to tell me your stories. I'll listen to you and I hope I can help you. Do not search for drugs, nor an instant way to release yourself from pain. Because you are not alone; you can do it! It's okay to feel sad, but don't let it consume you. So, hang in there and fight! :D

Oke, mari bahas lagi soal cerita ini. Jadi, segala macam obat-obatan atau pun tindakan dalam kisah ini, jangan ditiru, ya. Saya mendapat inspirasi memalsukan kematian Gintoki dari kisah Romeo dan Juliet. Pasti tahu, kan, di mana Juliet meminum obat dan tampak seperti orang mati? Nah, di cerita itu, William Shakespeare menggunakan tanaman hebenon (mungkin plesetan henbane) sebagai bahan dasar obat yang diminum Juliet. Karena Acute sepenuhnya kisah fiktif, tentu saja tidak semudah itu membuat obat tidur dengan efek seperti orang mati, apalagi di dunia nyata ini. Jadi jangan coba-coba menjalankan trik semacam ini, ya, karena selain tidak realistis, ini berbahaya. :")

Oke! Jadi itu saja, kira-kira. Once again, thank you udah mau baca sampai sini. I have a lot of fun while writing this. So, I also hope you find it enjoyable reading this. Saya mengetik ini ketika ada di tengah-tengah UN. Saat chapter ini terbit, saya pasti sudah tidak berada dalam jenjang SMA. Karena itu, fanfiksi ini jugalah semacam simbol perpisahan saya pada kehidupan sekolah selama 12 tahun lebih. Oh, ya, salah satu alasan mengapa jarak kematian antara Shouyo dan pertemuan Gintoki-Toshiro adalah 6 tahun, itu karena pertama kali saya mengenal dunia fanfiksi dan menulis adalah 6 tahun lalu, saat kelas 1 SMP.

Okay, then, my readers, see you in the next story!

P.S : Oh, ya, ada epilog! Silakan di-check. :)

3 April 2019


Epilog

"Gin-san, otsukaresama deshita!"

Gintoki mengangguk. Ia tersenyum, lalu membalas, "Otsukaresama."

Shimura Shinpachi mengulum senyum tipis. Berikutnya, Tae memanggil namanya, menyerahkan sekantung plastik. Maka, Shinpachi segera mengambilnya, menyodorkannya teruntuk sang surai perak. "Untukmu, Gin-san."

"Oh?" Gintoki mengintip melalui celah, lalu tersenyum senang. "Arigato."

"Dihabiskan, ya, Gin-san!" balas Tae, ikut tersenyum lebar. Gintoki mengangguk. Meski ia tak yakin dapat mengonsumsi benda serupa abu jelaga ini. Puji Tuhan koki yang bekerja di kafe ini bukanlah Tae. Tak lama, pintu kafe itu kembali dibuka. Denting bel di atasnya menarik perhatian. Kagura menarik napas, lalu menghelanya pelan.

"Tadaima," ujar sang gadis, lesu. "Patsuan, aku belum makan! Aku minta onigiri, aru."

"Okaeri," sahut Shinpachi. "Kuliah malam itu berat, ya?"

Kagura mengangguk. Melihat sang kakak ada di sana, ia langsung mendekap Gintoki, nyaris terlelap. Gintoki tergelak kecil, mengusap-usap surai jingga yang kini telah tumbuh hingga sepunggung. "Aku harus pulang, Hijikata-kun sudah mencariku."

"Oh, baik, aru. Omong-omong ... Toshi hari ini ulang tahun, kan?"

Gintoki mengangguk. "Tapi, aku masih bingung soal hadiahnya. Lebih baik aku memberinya apa?"

Kagura tersenyum–bagai iblis kecil, sungguh. "Gin-chan, itu sangat, sangat, mudah ..."

.

"Baik. Iya, aku tahu, Kondo-san," Toshiro mengangguk, meski lelaki di seberang telepon tak akan melihatnya. "Ha'i. Baiklah. Otsukare."

Lalu, sambungan telepon itu diputus. Toshiro menghela napas, lalu sandarkan punggung pada kursi. Ia tak repot-repot bangkit dari kursi kala mendengar suara kunci dibuka. Sebab, ia sudah tahu bahwa Gintoki akan muncul dari sana, kirimkan cengiran bodoh seperti biasa. Nah, kan. Toshiro tendang sudut bibir tipis.

"Tadaima," ujar Gintoki, melepas jaket dan menaruhnya di gantungan.

"Okaeri," Toshiro membalas. Barulah setelah itu dia berdiri dari kursi, mendekat ke arah pintu masuk. Tawa Gintoki pecah jadi serpihan. Sebab sang iris biru samudra dalam persis bagai anak anjing yang menunggu tuannya pulang. Toshiro mendekat, menempelkan bibirnya pada milik Gintoki. Punggung si surai perak menyentuh pintu, bersandar di sana. Menurunkan pelupuk, Gintoki menikmati ketika bibir lembab itu mengecupnya.

Maka Gintoki melepas kantung plastik yang ia bawa, menjatuhkannya ke atas pualam. Menangkup kedua pipi Toshi, Gintoki memperdalam cumbuan itu. Ia sengaja membuka kedua belah bibir agar lidah Toshiro dapat masuk ke dalamnya.

"Hnn–"

Gintoki melenguh pendek ketika lidah itu menjarah langit-langit mulutnya, memberi kecupan-kecupan kecil dan decak yang memabukkan. Untuk tuntutan oksigen, Toshiro melepas tautan itu sesaat. Mengusap sudut bibir Gintoki sementara si iris darah meraup napas.

"Hei," Gintoki memanggil.

"Hm?"

"Happy birthday, Hijikata-kun."

Toshiro tersenyum tipis. "Mana hadiahku?"

Gintoki tertawa. "Tiket satu malam bersama Gin-san?" ujarnya.

Ada dengusan diberikan, lalu bibir Toshiro berlabuh pada perpotongan tengkuk di perak, menghisap lembut di sana.

"Nnh." Gintoki menahan napas ketika merasakan gigitan-gigitan kecil. Mengekspektasi ruam merah di sana yang bertahan hingga dua hari ke depan.

"Kalau begitu," Toshiro berujar. "Aku ingin mengambil hadiahku sekarang."

Gintoki tertawa. Ciuman diberikan pada bibir. Dalam, lembut. Sekaligus menuntut dan inginnya memonopoli untuk sisa malam. Terakhir, sang surai perak mengecup ujung hidung Toshiro.

"Ya sudah, sini," ujar Gintoki. Sepenuhnya serahkan diri. "Diambil saja."