Title: The Holy Grail War

Cast: Exo Members (ot12), other idols, OCs

Pairing: (Main) KaiSoo, ChanBaek, Slight!KaiBaek, other will be revealed later.

Rating: T/M for later chapters

Warning: Fate/Stay Night!AU, yaoi, typo, tidak sesuai dengan EYD

Disclaimer: Member EXO milik Tuhan dan keluarganya. Fate/Stay Night ©TYPE-MOON. I don't own anything except my OCs.

A/N: Kata-kata yang diketik dengan huruf italic adalah dialog dalam hati atau telepati(?). FF ini terinspirasi dari Visual Novel Fate/Stay Night jadi akan ada sedikit kemiripan ^^.

Untuk pertama kali dalam seumur hidupnya, baru kali ini Kim Jongin melihat sosok yang semenarik ini. Wajahnya terlihat tampan tapi ia juga terlihat cantik. Kulitnya putih pucat namun tampak berkilau terkena cahaya sinar bulan yang menjadi satu-satunya sumber penerangan di ruangan itu. Rambutnya berwarna hitam legam, sangat kontras dengan kulit putih pucatnya. Matanya lebar dan memberikan kesan innocent, tapi ada sesuatu di dalam kedua bola mata hitam itu yang membuat Jongin merasa terpesona dan terintimidasi dalam waktu yang bersamaan.

Pemuda pemilik pemilih bibir merah muda berbentuk hati itu kemudian berkata,

"Kau telah memanggilku kemari dan aku menjawab jawablah kau adalah Master-ku?"


"Menyerahlah dari perang ini dan berikan Command Spellmu padaku." Kata Baekhyun.

Jongin mencoba untuk berdiri dari tempat ia terjatuh, kemudian ia mengambil sebuah potongan besi dan mengarahkannya ke Baekhyun. Melihat benda yang dibawa Jongin itu, Baekhyun tertawa mengejek,

"Hahaha, percuma saja kalau kau akan mencoba mengalahkanku dengan senjata yang seperti itu. Kekuatan kita tidak sebanding, aku jauh lebih kuat darimu Jongin. Sudah jelas kau akan kalah. Jadi, cepat letakkan senjata anehmu itu."

Tidak suka dipandang rendah, Jongin mengertakkan giginya karena kesal. Lalu ia berkata,

"Mana ku tahu aku akan kalah darimu atau tidak kalau belum kucoba? Dan coba lihat dirimu Baek, kau sendiri terlihat lelah. Jadi jangan berani-beraninya kau memandangku dengan rendah, brengsek!"

Baekhyun memicingkan matanya saat ia mendengar Jongin memanggilnya brengsek, ingin sekali rasanya ia menghabisi lelaki di depannya ini. Kemudian ia menarik nafasnya dan mengeluarkannya secara perlahan, mencoba untuk menenangkan amarahnya,

"Hmmm..begitu ya?" Gumamnya. Lalu lelaki berambut sandy brown itu berjalan maju beberapa langkah ke arah Jongin, ia memasukkan tangannya ke dalam kantong celananya.

"Baiklah, aku akan meminta Command Spellmu secara baik-baik kalau begitu."

"Apa? Kau ingin minta apa?" Tanya Jongin sambil mengangkat satu alisnya.

Baekhyun mendengus, "Command spellmu! Berikan padaku! Aku tidak akan mengulanginya lagi, mengerti?"

"Hah? Kau gila apa? Tidak! Aku tidak akan memberikan command spellku padamu. Itu sama saja dengan aku mengkhianati Kyungsoo—"

"Aku memberikanmu waktu 3 detik." Potong Baekhyun.

"Apa—"

"Satu.."

"Baek—"

"Dua.."

"Tch.."

"Tiga. Waktumu sudah habis, apa jawabanmu Jongin?"

"Tentu saja aku tidak akan memberikan command spellku padamu Baekhyun!"

Baekhyun menatap Jongin dengan tatapan datar, kemudian ia mengeluarkan tangannya dari kantong celananya dan mengarahkannya ke Jongin. Huruf-huruf rune mulai bermunculan lagi di lengannya.

"Baiklah, aku tidak punya pilihan lain selain mengambilnya secara paksa. Maafkan aku jika aku secara tidak sengaja membunuhmu. Annyeong, Kim Jongin."

Beberapa saat kemudian di ujung jari milik Baekhyun muncul lingkaran hitam yang berukuran lebih besar dari yang biasanya, Jongin dapat merasakan seberapa banyak prana yang terkandung di dalamnya dan jumlahnya tidak sedikit. Ketika Baekhyun hendak menembakkan gandr shootnya, tiba-tiba terdengar suara seseorang berteriak.

"KYAAAAAAAAAA!"

Baekhyun menarik tangannya dan lingkaran hitam itu menghilang begitu saja,

"Kau dengar itu?" Tanya Jongin.

Baekhyun menganggukkan kepalanya, "Iya, suara orang berteriak. Dan kurasa suara itu berasal dari bawah."

Tanpa berkata apa-apa Jongin berteleportasi ke tempat suara itu berasal dan meninggalkan Baekhyun sendirian.

"Yah! Kim Jongin, jangan pergi berkeliaran sendirian! Bagaimana kalau tiba-tiba ada musuh— Eugh! Sudahlah!" Baekhyun menjambak rambutnya sendiri karena frustasi. Kemudian ia mengejar Jongin ke lantai satu dan menemukannya sedang memegangi tubuh seorang murid perempuan yang terkulai lemas di dekat pintu keluar menuju ke halaman belakang sekolah. Lalu ia berjalan menghampiri mereka.

"Kurasa dia hanya tidak sadarkan diri." Gumam Jongin.

"Tidak, seseorang menyedot kekuatan hidupnya sebagai sumber mana. Kalau kita hanya membiarkannya seperti ini, dia akan mati." Kata Baekhyun sambil berjongkok dan mencolek pipi perempuan itu dengan telunjuknya.

"Mati? Tapi dia terlihat baik-baik saja, dan tidak ada luka sama sekali di tubuhnya." Ujar Jongin. Kemudian ia menidurkan tubuh perempuan itu di atas lantai.

"Tubuhnya memang tampak baik-baik saja jika dilihat dari luar. Tapi didalamnya, ia hampir mati kekeringan karena bajingan itu menyedot habis kekuatan hidupnya."

"Apakah ada cara untuk menyelamatkannya?"

"Tentu saja, minggirlah dari situ. Aku sangat ahli dalam melakukan ini."

Jongin bergesar dari tempatnya dan membiarkan Baekhyun menempatinya. Baekhyun merogoh kantong celananya sambil menjilati bibirnya yang kering.

"Aha! Ini dia!" Katanya, sambil menunjukkan sebuah batu ruby di tangannya.

"Baek, kau membawa batu-batuan mahal koleksimu ke sekolah?"

"Yep, dan ini bukan koleksi. Batu-batuan yang kumiliki itu berguna sebagai senjata atau perlengkapan lain seperti alat penyembuhan atau semacamnya."

Jongin menganggukan kepalanya. Lalu Baekhyun memejamkan matanya dan mulai menggumamkan mantra dengan bahasa yang tidak dapat dimengerti oleh Jongin, ia memperhatikan Baekhyun yang sedang mencoba berkonsentrasi,

"Melihat Baekhyun melakukan ini membuatku merasa tidak berguna. Ia bisa melakukan berbagai jenis magic, sementara aku—"

"Jongin, bisa kau tutup pintunya? Suara-suara yang berasal dari luar membuatku jadi susah berkonsentrasi." Ujar Baekhyun membuyakan lamunan Jongin.

"Ah iya.."

Jongin berjalan ke arah pintu dan hendak menutupnya, tiba-tiba dari arah samping ada sebuah tonggak tajam yang bergerak dengan cepat ke arah Baekhyun dengan cepat Jongin menepisnya dengan tangannya sendiri sehingga tangannya tertusuk tonggak itu dan bolong. Pada saat Baekhyun menolehkan kepalanya, tonggak itu menghilang begitu saja.

"Jongin tanganmu! Siapa yang melakukannya?" Ujar Baekhyun.

"Tidak apa-apa Baek, kau tetap focus saja dalam menyembuhkan gadis itu. Aku akan mencari pelakunya."

Baekhyun menatap Jongin yang sedang berjalan keluar dengan tatapan khawatir sebelum ia kembali menyembuhkan gadis itu.


Jongin berjalan menuju ke halaman belakang sekolah sambil memegangi tangannya yang berdarah, pikirannya kacau. Ia terus memikirkan dari mana tonggak tadi berasal dan siapa pelakunya? Apakah pelakunya juga seorang master? Kalau iya, berarti ada tiga orang master yang bersekolah di SOPA termasuk Jongin dan Baekhyun tentu saja. Jongin menghentikan langkah kakinya dan melihat sekitarnya, ia dapat merasakan keberadaan seseorang di dekatnya.

"Orang itu, dia ada di dekat sini. Tapi dimana?" Batinnya, kemudian ia menolehkan kepalanya ke arah gedung olahraga.

"Mungkinkah dia berada di hutan yang terletak dibelakang gedung olahraga?"

Ia berjalan menuju ke belakang gedung olahraga dan memasuki hutan itu. Matahari sudah mulai tenggelam dan membuat suasana hutan itu makin mencekam. Jongin memperhatikan sekelilingnya, kalau saja tahu-tahu ada musuh yang menyerangnya.

"Sepertinya tidak ada orang lain selain aku disini. Lebih baik aku kembali saja ke tempat Bae—"

Tiba-tiba Jongin merasakan ada seseorang mengawasinya dari balik pepohonan, ia membalikkan badannya ke belakang dan tidak menemukan siapapun.

"Siapapun itu, keluarlah!" Ujarnya.

Lalu terdengar suara tawa seorang laki-laki yang tidak asing di telinga Jongin,

"Sehun? Apakah itu kau?"

Kemudian Jongin melihat sosok laki-laki di balik sebuah pohon, dari penampilan fisiknya ia tampak seperti Oh Sehun. Jongin berjalan menghampirinya,

"Yah, Sehun! Kupikir hari ini kau tidak berangkat hari ini? Kenapa tiba-tiba kau ada di sekolah jam segi— AGGH!"

Tiba-tiba sesuatu menarik tangan Jongin yang terluka dan dengan secepat kilat ada seseorang yang menyayat lehernya. Jongin jatuh terduduk dan memegangi lehernya,

"Ugh..apa-apaan.." Katanya sambil melihat darah yang menempel di telapak tangannya. Jongin merasakan seseorang berdiri di depannya, ia mengangkat kepalanya dan melihat seorang lelaki berdir di depannya. Dan lelaki itu bukan Sehun tentu saja.

"Servant!?"

Dalam sekejap mata servant itu menghilang dari hadapan Jongin, ia membalikkan tubuhnya dan tahu-tahu servant itu sudah berada di dekatnya dan menendangnya hingga Jongin terlempar cukup jauh. Lalu servant itu menghilang lagi.

"Kemana dia pergi barusan? Aku bisa merasakannya mengawasiku dari kejauhan. Sial, aku juga tidak mungkin melawannya, dia seorang servant yang sudah jelas lebih kuat dariku." Jongin memperhatikan sekitarnya dengan nafas yang terengah-engah karena panik.

"Kalau dia menyerangku sekali lagi setelah ini. Aku yakin aku akan mati." Pikirnya. Kemudian Jongin melirik command spell yang berada di tangan kirinya.

"Hey, aku bisa menggunakan command spellku dan memanggil Kyungsoo kemari!"

Kemudian ia teringat akan perkatan Kyungsoo tempo hari, "Berjanjilah satu hal padaku. Jika kau merasakan ada bahaya, jangan segan-segan menggunakan Command Spells-mu untuk memanggilku."

Jongin menarik nafasnya dalam-dalam dan memejamkan matanya, ia ingin memanggil Kyungsoo tetapi ia masih terbayang-bayang kejadian saat Kyungsoo terluka dan bedarah-darah. Jongin menggelengkan kepalanya,

"Tidak-tidak! Aku tidak bisa memanggil Kyungsoo kemari! Aku tidak ingin ia terluka lagi!"

"Aku masih bisa bergerak dan bahkan aku memiliki senjata di tanganku. Dan kalau aku sedang berada di kondisi yang tidak menguntungkan seperti ini aku akan menteleportasikan diriku ke tempat lain dan bertarung disana. Aku baru akan memanggil Kyungsoo kalau semua usaha yang kulakukan gagal total." Pikirnya.

Tiba-tiba seseorang berkata, "Aku benar-benar terkejut. Kau tidak menggunakan command spellmu untuk memanggil servantmu."

Jongin menolehkan kepalanya ke segala arah dan ia tidak menemukan apapun lagi, kemudian ia menjawab,

"Maaf kalau aku mengecewakanmu, tapi aku hanya memiliki tiga command spell. Dan aku tidak berencana akan menggunakanya untuk hal-hal sepele seperti ini."

"Hmm..baiklah aku mengerti. Tapi menempatkan terlalu banyak keberanian pada dirimu hanya akan membuatmu menyesal." Kata suara itu.

"Tch! Sudah cukup main-mainnya, tunjukan siapa dirimu!" Teriak Jongin. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu menarik tangannya yang terluka lagi.

"Aku rasa aku tidak dapat melawan secara habis-habisan seorang Master yang tidak memiliki servantnya di sisinya. Aku akan mencoba dengan cara lain kalau begitu."

"Aku akan membunuhmu secara halus." Ujar Servant itu, tiba-tiba ia melontarkan rantai dari belakang, dan dengan cepat Jongin menggunakan projection magic untuk menepis serangannya. Ia menggunakan dual-blade dan melempar salah satunya ke arah servant itu, dan mengenainya sebelum servant yang menyerangnya barusan menghilang lagi.

"Hmph, ternyata kau tidak begitu sulit untuk dilawan. Kalau dibandingkan dengan Servant lainnya yang pernah kulihat, kau bahkan tidak terlihat menyeramkan." Ujar Jongin sambil tersenyum kecil.

Kemudian Jongin berlari, ia ingin segera keluar dari hutan itu. Sebenarnya ia bisa saja menteleportasikan dirinya keluar dari hutan itu, tapi melakukan teleportasi membuat tubuhnya merasa cepat lelah.

"Sudah cukup sampai disini saja. Kau tidak akan bisa lari kemana-mana." Kata Servant itu. Ia menarik sesuatu yang berada di tangannya dan membuat Jongin terjatuh.

"Agh!"

"Dengar anak muda, dari awal aku sudah menangkapmu." Katanya sambil menggerakkan tangannya, membuat Jongin berteriak kesakitan karena tangannya yang terluka seperti tertarik sesuatu.

"Aaaagh! A-apa-apaan ini!?"

"Kau masih tidak mengerti juga? Senjataku yang menusuk lenganmu tadi adalah tonggak yang terhubung dengan rantai yang sedang kubawa saat ini."

Jongin menolehkan kepalanya dan melihat ada sebuah tonggak yang menancap di tangannya. Ia mengerutkan alisnya. Dengan satu gerakan kecil, servant itu menarik rantainya dan membuat Jongin terangkat di udara dan menggantungnya dengan satu lengan di atas pohon. Jongin mencoba meraih tonggak itu dan berusaha melepaskannya dari tangannya, ia menahan rasa sakit selama ia mencoba melepaskan dirinya.

"Hmm, kau ternyata cukup berani karena kau selalu mengambil pilihan yang membuatmu merasakan rasa sakit. Dan beberapa saat yang lalu aku mendengarmu mengatakan sesuatu yang menarik perhatianku, kau bilang aku terlihat lemah jika dibandingkan dengan Servant lainnya? Aku pikir aku harus membuatmu berfikir lagi tentang apa yang kau katakana tentangku anak muda."

Servant itu kemudian melemparkan tonggaknya ke arah Jongin dengan cepat, tapi tonggak tersebut terlempar karena ada sesuatu yang menghalanginya. Baekhyun menembakkan gandr shootnya ke rantai yang mengikat Jongin sampai ia terlepas dari rantai itu dan jatuh di atas tanah. Kemudian dengan cepat Baekhyun menembak Servant itu tapi ia langsung menghilang begitu saja.

Jongin mencabut tonggak itu dari tangannya, ia sedikit berteriak.

"Aw!"

Baekhyun membalikkan badannya kemudian ia berlari menghampiri Jongin,

"Hey, kau tidak apa-apa?" Tanyanya.

"Yeah, aku tidak apa-apa. Luka ini akan langsung sembuh setelah beberapa saat."

"Tapi yang namanya luka juga perlu dirawat dan dibersihkan!" Omel Baekhyun sambil mengangkat tangan Jongin yang terluka. "Omong-omong lelaki yang barusan itu siapa?"

"Entahlah, kurasa ia adalah seorang Servant."

"Siapa Masternya?"

"Entahlah Baek, semuanya berlangsung dengan sangat cepat dan aku hampir tidak bisa mengingat apapun."

Baekhyun mengerutkan alisnya tapi ia tetap menganggukkan kepalanya, "Hmm..begitu ya. Sebenarnya aku sudah tahu kalau ada Master lain di sekolah kita."

"Apa maksudmu? Jadi selama ini kau sudah tahu?"

"Kau juga merasakan seperti ada pembatas yang mengitari gedung sekolah kan Jongin?" Tanya Baekhyun.

Jongin berusaha mengingat-ingat kejadian tadi pagi ketika ia memasuki halaman sekolah, "Ya, aku merasakannya. Kupikir itu hanya perasaanku saja. Jadi, gadis yang kita temukan barusan itu—"

"Ya, kurasa si pembuat pembatas itu yang menyerangnya. Aku sudah menyuruh Chanyeol membawanya pergi dari sini jadi kurasa ia akan baik-baik saja."

Jongin menghela nafasnya dengan lega, kemudian ia melirik Baekhyun.

"Apa lihat-lihat? Jangan bilang kau mengira kalau aku yang menempatkan pembatas itu di sekitar sekolah!?"

"Hehe..maaf. Tapi sekarang aku percaya kalau bukan kau yang melakukannya Baek, kau bahkan bukan tipe orang yang seperti itu."

"Hmph."

"Jadi haruskah kita melanjutkan urusan kita yang belum selesai tadi?" Tanya Jongin, ia terdengar serius.

Baekhyun hanya mencebikkan mukanya lalu menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku sudah tidak tertarik untuk melawanmu lagi. Jadi kita lanjutkan saja lain kali."

Jongin tertawa kecil, lalu Baekhyun menarik tangannya yang luka, "Aku akan merawat lukamu sebelum kau mati gara-gara terkena infeksi. Kau masih punya cukup energy untuk menteleportasikan kita berdua kan?"

"Iya. Masih ada.."

"Kalau begitu cepat teleportasikan dirimu dan aku kerumahku."

"Baiklah tuan muda, kau tidak perlu memaksaku juga."

"Yah! Aku tidak memaksamu—"

Jongin tertawa terbahak-bahak sebelum ia menteleportasikan dirinya dan Baekhyun pergi dari sekolah.


"Daebak! Lukamu benar-benar langsung sembuh." Ujar Baekhyun sambil menatap tangan Jongin yang sudah bersih tanpa luka apapun.

"Yeah, aneh kan?"

"Itu sama persis ketika Berserker hampir membelahmu jadi dua. Lukamu langsung menutup dengan sendirinya, kau memiliki kekuatan regenerasi yang luar biasa. Kau mengingatkanku pada sebuah anime yang ku tonton beberapa waktu yang lalu."

"Beberapa waktu yang lalu kau bilang padaku kalau ini mungkin ada hubungannya dengan Kyungsoo kan?"

"Yap, benar sekali."

"Aku tidak begitu mengerti tapi, kurasa selama aku masih terikat dengan kontrak dengan Kyungsoo mungkin lukaku akan sembuh dengan sendirinya."

"Tapi kau bilang dari dulu kalau kau terluka lukamu akan sembuh dengan sendirinya dengan cepat? Dan kalau aku jadi dirimu, aku tidak akan terlalu bergantung dengan kekuatan itu." Ujar Baekhyun sambil menuangkan teh ke dalam cangkir. "Jika memang Kyungsoolah yang menyembuhkan lukamu, itu artinya dia memperbanyak penggunaan mana-nya untuk menyembuhkanmu kalau kau terluka. Kau mengerti maksudku kan?"

"Ya, aku mengerti. Kyungsoo akan kehilangan mana-nya."

"Benar sekali, karena itulah jangan ceroboh."

Jongin meminum tehnya, "Oh iya Baek, tadi kau bilang kalau di sekolah ada master lainnya selain kita berdua? Kau tahu siapa orangnya?"

"Aku bisa merasakan keberadaanya tapi tidak dapat mengetahui siapa orangnya. Dan orang itu pasti sangat jahat karena bajingan itu rela menggunakan orang-orang di sekolah untuk memperkuat Servantnya."

"Apa? Ia menggunakan semua orang di sekolah? Apakah dia gila?"

"Ya kau pikirkan saja sendiri. Dia memasang pembatas dan segel di seluruh bagian sekolah! Tapi segel tersebut belum selesai dibuat, dan pada saat segel itu diaktifkan semua orang di sekolah akan melemah kemudian mati."

"Aku tidak akan membiarkannya melakukan itu!"

"Begitu pula denganku. Aku akan mencoba menghentikannya untuk mengaktifkan segel itu, karena itulah aku masih berada di sekolah waktu itu, aku berkeliling sekolah untuk mencari segel itu tapi aku tidak menemukannya dimana-mana."

"Oh, jadi karena itu kau masih di sekolah tadi?"

"Benar sekali, lalu aku bertemu dengan seorang Master yang benar-benar bodoh karena ia berkeliaran sendirian tanpa ditemani oleh Servantnya. Ia membuatku kesal jadi aku memutuskan untuk menghentikan pencarian segel itu." Kata Baekhyun sebelum ia meminum tehnya.

Jongin mengunyah cookiesnya lalu menggumamkan kata maaf. Baekhyun hanya menganggukan kepalanya lalu ia meletakkan cangkirnya,

"Jongin, sebenarnya aku memiliki tawaran untukmu."

"Apa itu?"

"Bagaimana kalau kita melakukan gencatan senjata dalam beberapa saat dan membuat aliansi?"

"Aliansi? Aku dan kau?"

"Benar sekali. Kejadian hari ini membuat kita berdua menunjukkan kepada pihak musuh kalau kita berdua adalah seorang Master. Dan master musuh yang berada di sekolah kita mungkin akan cukup susah untuk dikalahhkan. Jadi aku ingin kita melawannya berdua sebelum kita saling membunuh satu sama lain. Bagaimana?"

"Hmm..sebenarnya aku juga merasa lebih baik jika aku berada di sisimu Baek. Karena kau begitu kuat dan yeah..aku ini lemah sekali." Kata Jongin sambil menundukkan kepalanya.

"Baiklah kalau begitu, kita adalah partner sampai kita mengalahkan Master yang ada di sekolah kita." Kata Baekhyun sambil menjabat tangan Jongin.

"Yeah, semoga kita bisa menjadi partner yang baik."


Sementara itu, di kediaman keluarga Kim. Kyungsoo sedang memandang ke arah luar jendela dengan alis yang berkerut, beberapa kali ia terlihat mondar-mandir sambil menggigiti kukunya.

"Kyungsoo-ya, ada apa? Kau terlihat khawatir." Tanya Eunhee sambil menghampiri Kyungsoo.

"Ah, tidak apa-apa Eunhee-ssi. Aku hanya sedikit khawatir kenapa Jongin belum pulang juga, ini sudah hampir menunjukkan jam makan malam."

"Aigoo~ kau perhatian sekali. Aku rasa dia sedang ada urusan di sekolah, kau tahu kan? Anak itu mungkin sedang membuat gerakan koreo baru dengan temannya."

"Ya, mungkin saja. Tapi tetap saja aku merasa khawatir."

Eunhee hanya tersenyum kemudian mengelus-elus bahu Kyungsoo, "Jongin beruntung sekali, ia memiliki seseorang yang begitu perhatian dengannya. Aku yakin kau akan jadi istri yang baik untuknya di masa depan."

"I-istri!?" Ujar Kyungsoo, pipinya agak memerah.

"Hihihi, lihatlah dirimu. Pipimu memerah."

"Eunhee-ssi…"

"Sudah sudah, daripada kau terus-terusan mengkhawatirkan Jongin bagaimana kalau kau membantuku menyiapkan makan malam? Akan kuajarkan kau cara memasak makanan kesukaan Jongin." Kata Eunhee sambil menyeret Kyungsoo ke dapur. Kyungsoo hanya menghela nafasnya lalu mengikuti Eunhee ke dapur.


Seorang laki-laki sedang duduk di atas sofa dan memperhatikan tubuh seorang perempuan yang terkulai lemah di bawah kakinya, sesekali ia menendanginya dengan pelan kemudian ia tertawa kecil,

"Aku benar-benar tidak menyangka Byun Baekhyun akan datang dan menghentikanmu membunuh Jongin, Lay."

Lay, nama Servant itu hanya diam saja dan berdiri di samping Masternya.

"Tapi itu bukan masalah besar, tunggu saja sampai persiapan yang kulakukan di sekolah sudah selesai." Kata Lelaki itu sambil tersenyum licik.


"Apa maksudmu dengan ayahmu tidak pernah memaksamu untuk menjadi seorang magus? Padahal ia sudah memberikan magic circuitnya padamu?" Ujar Baekhyun sambil memukul meja.

Jongin hanya mengangkat bahunya. Baekhyun menghela nafasnya lalu memijit dahinya,

"Jadi itu sebabnya mengapa pengetahuanmu akan magic sangat sedikit?" Tanyanya lagi.

"Iya, sihir yang bisa kulakukan hanyalah teleprtasi, reinforcement, dan projection."

"Stop, stop! Berhenti."

"Kenapa?"

"Kau ini bodoh atau apa? Seorang magus tidak pernah memberi tahu magus lainnya tentang sihir yang ia kuasai, jadi lebih baik kau diam saja." Kata Baekhyun sambil mengangkat satu tangannya.

"Percuma saja kalau aku diam saja, karena setiap aku habis melakukan sihir kau selalu memintaku menjelaskan semuanya. Lagipula, ayahku juga pernah bilang padaku kalau sihir bukanlah suatu hal yang harus di sembunyikan."

Baekhyun mengangkat kepalanya dan memelototi Jongin, "Kau bilang apa barusan? Apakah ayahmu benar-benar mengatakannya?"

"Iya, aku rasa begitulah cara beliau mengatakan padaku untuk tidak selalu mengikuti peraturan yang ada. Dan seperti yang kukatakan tadi, beliau juga tidak pernah memaksaku untuk menjadi seorang magus seperti dirinya. Ia juga pernah bilang jika aku tidak ingin menjadi seorang magus, sebaiknya aku berhenti melatih sihirku dan tumbuh seperti anak-anak pada umumnya." Ujar Jongin sambil memainkan sendok teh yang ada di tangannya.

Merasa tidak terima, Baekhyun beranjak dari tempat duduknya dan mendobrak meja di depannya, "Jangan bercanda! Ayahmu bukan seorang magus dan begitu pula dengan kau!" Ujarnya sambil menunjuk Jongin,

"Iya-iya, aku tahu dari awal aku memang bukan seorang magus. Kenapa kau tiba-tiba malah marah seperti itu?"

Baekhyun mendecakkan lidahnya, "Aku marah bukan karena kau itu bukan seorang magus atau apa. Aku marah karena.." Ia tidak melanjutkan kata-katanya, tapi dia malah menundukkan kepalanya.

"Maaf.." Gumam Baekhyun. "Aku tidak bisa menahan amarahku."

"Tidak apa-apa, jadi kau marah karena apa?" Tanya Jongin. Baekhyun menoleh kearah Jongin kemudian ia kembali duduk di atas kursinya.

"Dengarkan aku baik-baik. Untuk seorang Magus, sihir yang ia miliki bukanlah miliknya seorang diri. Sihir itu adalah salah satu pengalaman hidup dari seorang magus yang diberikan secara turun temurun kepada anak cucunya. Jadi itu sudah menjadi tugas utama seorang Magus untuk menurunkan sihirnya kepada generasi penerusnya dan mengajarinya. Tapi ayahmu.."

"Kenapa dengan ayahku?"

"Beliau meninggalkan tugas utamanya sebagai seorang Magus. Itulah kenapa sebabnya.." Baekhyun memejamkan matanya, ia teringat masa lalunya ketika ayahnya meninggalkanya untuk berpartisipasi dalam perang cawan suci sebelumnya. "Itulah kenapa sebabnya aku marah, dan aku tidak bisa memaafkan apa yang dilakukan oleh ayahmu itu."

"Baekhyun.."

"Maaf, aku tahu jika aku mengatakan hal-hal seperti tadi tidak akan merubah apapun." Ujarnya sambil menundukkan kepalanya.

"Tidak apa-apa Baek." Lalu Jongin mengecek jam di ponselnya, waktu sudah meunujukkan pukul 8 malam. "Umm..sepertinya aku harus pulang sekarang."

"Baiklah. Oh iya, mulai besok aku ingin kita saling bertukar informasi jika kau menemukan sesuatu yang baru tentang Master yang ada di sekolah kita. Bagaimana kalau besok kita bertemu di atap sekolah ketika jam makan siang?"

"Baiklah."

"Baguslah kalau begitu. Chanyeol." Baekhyun memanggil Servantnya, Chanyeol tiba-tiba muncul di belakangnya.

"Kau memanggilku, Master?"

"Ya. Jadi begini, untuk sementara waktu kita akan membentuk aliansi dengan Jongin dan Kyungsoo, dan aku ingin kau mengantarnya pulang."

"Lagi?" Ujar Jongin dan Chanyeol secara bersamaan.

"Iya lagi, dan aku tidak menerima kata 'Tidak' dari kalian berdua. Kau jangan coba-coba membunuhnya ya, Chanyeol."

"Tch, baiklah-baiklah. Ayo kita pergi bocah ingusan." Ujar Chanyeol sambil membalikkan badannya dan berjalan menuju pintu keluar. Jongin membuat wajah mengejek kemudian mengikuti Chanyeol dari belakang.


Mereka berjalan dalam diam. Setelah berjalan cukup jauh Jongin menghentikan langkah kakinya kemudian berkata,

"Aku rasa sampai disini saja. Kau bisa kembali ke tempat Baekhyun."

"Hmph, aku memang berencana akan meninggalkanmu disini saja. Dan aku juga tidak merasa kalau aku harus mematuhi perintahmu."

Jongin menolehkan kepalanya, "Brengsek.."

Chanyeol tertawa kecil, "Dari apa yang Baekhyun ceritakan padaku. Aku selalu berfikir kalau kau ini adalah tipe-tipe orang yang tidak tega menyakiti apapun, bahkan seekor lalat. Tapi sepertinya kau bisa merasakan rasa tidak sukaku padamu."

"Kalau kau ingin bertarung denganku kau bisa menyerangku kapan saja. Yang hanya ingin kulakukan sekarang adalah menghentikan perang bodoh ini dengan segera."

"Tanpa membunuh orang lain dan tanpa membiarkan orang lain terbunuh? Haha, lucu sekali."

"Memangnya kenapa? Dan apa yang lucu dari semua itu?"

"Aku benar-benar tidak menyangka dulu kau se-naïve ini Kim Kai." Gumam Chanyeol.

"Apa? Kau bilang apa barusan? Aku tidak mendengar—"

"Aku ingin bertanya satu hal padamu Jongin."

"Apa?"

"Kudengar kau tidak menggunakan Command Spellmu saat kau bertarung melawan Rider."

"Rider? Maksudmu, Servant yang menyerang aku dan Baekhyun di sekolah tadi?"

"Ya, dan aku pikir kau cukup bodoh untuk melawan seorang Servant seorang diri. Kenapa kau tidak memanggil Kyungsoo?"

Jongin mengepalkan tangannya, "Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan itu? Dan aku tidak akan menjawab pertanyaanmu.

"Hmm..tidak ada yang salah dengan hal itu. Jadi aku hanya bisa menebak jalan pikiranmu. Kau selalu berfikir akan lebih baik jika kau menanggung semua rasa sakit yang ada daripada orang lain yang menanggung rasa sakit itu. Heh, kau membuatku merinding."

"Yah!"

"Memiliki seorang Master yang kekanak-kanakan sepertimu pasti akan sangat berat untuk Kyungsoo—"

"Aku tidak akan membebani Kyungsoo! Aku akan bertarung menggantikanya!"

Chanyeol menatap Jongin dengan tatapan menilai, kemudian lelaki berkuping lebar itu menggelengkan kepalanya, "Kau pikir itukah yang sebenarnya diinginkan oleh Kyungsoo?"

Jongin diam saja, lalu Chanyeol berbicara lagi,

"Percuma saja aku mengatakan hal ini padamu sekarang. Kau tidak akan mengerti juga. Jadi, kau ingin menghentikan perang Cawan Suci ini tanpa benar-benar bertarung dan menyakiti orang lain?" Katanya sambil membalikkan tubuhnya sambil berjalan meninggalkan Jongin.

"Aku akan bertarung dengan sungguh-sungguh!"

"Tapi kau tidak akan mengambil nyawa orang lain."

"Tsk!"

"Kau pikir dengan menanggung semua beban orang lain akan membuatmu menyelamatkan dunia? Selama kau tetap berpegang teguh dengan ideal semacam itu, kau akan menemukan banyak hal yang berlawanan dengan idealmu itu di masa depan. Dan kau akan menyerah dari cara pandangmu itu secara perlahan." Kata Chanyeol sebelum ia menghilang dari hadapan Jongin.


Jongin memasuki rumahnya diam-diam, ia berjalan menuju ke kamar Kyungsoo dan membuak pintunya perlahan-lahan. Ia melihat tubuh mungil Kyungsoo meringkuk di dalam selimut, Jongin tersenyum kecil dan ketika ia hendak menutup pintu itu ia mendengar Kyungsoo berbicara,

"Kau sudah pulang, Jongin?"

"Eh..iya."

"Kau kemana saja?" Tanya lelaki berambut hitam itu, ia mendudukkan dirinya di atas kasur.

"Tidak dari mana-mana. Maafkan aku kalau aku membuatmu khawatir Soo. Kau bisa kembali tidur, selamat malam."

"Iya tidak apa-apa. Aku senang kau baik-baik saja." Ujar Kyungsoo sambil tersenyum, membuat jantung Jongin berdegup dengan kencang. Lelaki berkulit tan itu memegangi dadanya. Ia melirik Kyungsoo yang sudah kembali tertidur, kemudian Jongin menutup pintunya dan berjalan ke kamarnya. Sesampainya dikamar, ia melompat ke atas kasur dan merebahkan tubuhnya. Ia terus memikirkan perkataan Chanyeol sepanjang malam,

"Si Chanyeol itu..apa yang sebenarnya ingin dia katakan?" Gumam Jongin sebelum ia terlelap dan pergi ke alam mimpi.

-TBC-


[A/N]: Yahooooo~! Saya kembali dengan chapter terbaru. Maaf agak lama updatenya karena author baru selesai UTS terus sebenernya belakangan ini agak males mau nulis cerita hehe. Jeongmal mianhae TT TT

RnR please? .w.

Xoxo,

-kimkainekiken-