Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pair(s) : U. Sasuke & U. Naruto
Rate : T
Warning(s) : OOC, OOC, OOC, boy love, shonen-ai, AU, un-beta'd
Boy X Boy
Ch. VI
by greenandred
KonohaGakuen, 25th April
Hari ini Konoha Gakuen yang biasanya sudah ramai oleh siswa-siswa yang kelihatannya tidak pernah kehabisan energi itu terlihat makin ramai dengan dekorasi-dekorasi meriah dan stan-stan menarik. Yah tidak heran juga sih, mengingat hari ini adalah hari pelaksanaan festival tahunan yang diadakan sekolah untuk menyambut musim panas. Semua siswa terlihat sangat antusias mengikuti dan merancang kegiatan ini. Para pengunjung juga kelihatan sangat menikmati acara ini.
Pagi-pagi sekali mereka sudah datang ke sekolah untuk persiapan akhir dan langsung sibuk melayani pengunjung yang berdatangan setelah acara resmi dibuka oleh kepala sekolah mereka, Tsunade-sensei.
"Kyaaaaaaaa…! Sasuke-sama…!"
Uhm, kalian bisa tebak siapakah yang tengah jejeritan dengan alay-nya di seberang sana?
Tidak. Bukan Ino, atau Sakura, atau Karin, atau siapapun fans "Sasuke-sama" di Kogaku. Mereka sedang terlalu sibuk mengurus kelas mereka masing-masing untuk memikirkan Yang Mulia Pangeran , setidaknya sampai shift jaga mereka habis.
Mereka itu adalah fans Sasuke dari sekolah lain. Berada di Konoha selama tiga bulan ternyata membuat Sasuke sangat tenar. Kali ini Sasuke dikerubuti oleh fansnya-bahkan lebih banyak dari kerumunan yang biasanya- saat sedang berkeliling sekolah mempromosikan rumah hantunya.
Sebenarnya sih nggak dipromosikan juga bakal ada banyak orang yang datang ke rumah hantunya mengingat ada nama 'Uchiha' di selebaran promosi mereka (kalian tahu 'kan seberapa berpengaruhnya nama itu, bahkan di setting fic ini?). Tapi, untuk pertama kalinya, Sasuke akhirnya mau turun tangan dan menghadapi kerumunan massa demi mempromosikan rumah hantunya itu. Teman-temannya sendiri penasaran, ada angin apa sampai-sampai Uchiha Sasuke mau repot-repot seperti itu.
Jadi, begitulah, sekarang ini ada sebuah antrean sangat panjang di depan kelas Sasuke, yang sebagian besar adalah perempuan usia remaja sampai ibu-ibu rumah tangga kurang kerjaan yang sempat-sempatnya mampir ke Kogaku, menunggu giliran mereka untuk melihat sendiri 'The Great Uchiha Mansion'.
Sasuke sendiri kelihatan begitu puas melihat antrean panjang di depan kelasnya dan jeritan-jeritan histeris dari para pengunjung yang bisa terdengar dari waktu ke waktu dan wajah-wajah pucat mereka yang berhasil keluar dengan selamat. Sebagai penanggung jawab kelas Sasuke sebenanya tidak perlu ikut-ikutan menjadi 'hantu' di mansionnya. Tapi apa boleh buat, selama ini dia hidup di Inggis dan tidak pernah ada festival seperti ini. Paling banter hanya Bonfire Night yang tidak begitu dia sukai. Jadi sebenarnya Sasuke sangat antusias untuk mengikuti festival ini. Festival musim panas pertama dan terakhirnya.
Lagipula Sasuke benar-benar ingin memenangkan taruhannya dengan Naruto. Dia sangat menunggu saat di mana Naruto akan menjadi 'budak'nya selama musim panas nanti kalau dia menang. Mengingat hal ini, seringai Sasuke semakin melebar dan beberapa pengunjung yang sempat melihatnya langsung lari terbirit-birit ke pintu keluar.
"Kau tau, Ototou. Seringaianmu itu lebih mirip seringaian oom-oom mesum daripada Vampire Prince pemilik mansion ini."
Seringai Sasuke langsung mengendur saat mendengar suara yang sangat dia kenal ini.
"Hn," tanggap Sasuke saat dia menoleh dan mendapati Itachi tengah bersandar santai pada tembok di seberangnya dengan senyum kecil di bibirnya.
"Ngapain kau di sini?" ucap Sasuke ketus sambil melipat tangannya di dadanya.
"Hmm, aku mengharapkan sambutan yang lebih hangat, Prince. Lagi pula apa salahnya kalau aku ingin mengunjungi mansion adikku sendiri. Harus kuakui, mansionmu ini cukup menarik. Kalau saja aku tidak tahu bagaimana cara membuat semua jebakan-jebakan itu sudah pasti aku akan langsung lari pulang ketakutan," jawab Itachi panjang lebar.
"Hn. Kalau kau datang kemari hanya untuk menggangguku lebih baik kau pulang saja," ujar Sasuke ketus dan berbalik menuju ke posisinya semula.
"Yah, sebagian memang karena aku ingin melihat hasil karyamu saja. Sebagian lagi karena aku ingin melihat kafe Naruto-kun. Kudengar kalau mereka membuat cosplay cafe."
Perkataan Itachi itu membuat Sasuke berhenti seketika.
"Maksudmu?" tanya Sasuke perlahan.
"Yah, kau tahu. Anak perempuan yang berpakaian seperti anak laki-laki dan anak laki-laki yang berpakaian seperti anak perempuan," jawab Itachi. Seringai kecil mengembang di bibirnya. Mata hitam Sasuke sedikit menyipit mendengar perkataan Itachi itu.
"Kau tahu, dari pada kau benar-benar mati pensaran di tempat ini, kenapa tidak kau lihat saja sendiri?"
Berkata begitu, Itachi berjalan ke pintu keluar yang berada tidak jauh dari tempat Sasuke berdiri, meninggalkan si bungsu Uchiha dengan kerut besar menghiasi wajahnya.
Kyuubi berjalan menyusuri stand-stand yang didirikan oleh siswa Kogaku dengan pandangan tidak bisa ditebak.
"Kyuu-chan, bias bicara sebentar?" Itachi yang juga pergi ke festival sekolah itu bersamanya tiba-tiba menghentikan langkahnya dan membuat Kyuubi juga ikut berhenti.
"Mau apa?" ucap Kyuubi singkat.
"Aku ingin minta maaf padamu," ujar Itachi, menundukkan kepalanya. Dia menunggu sejenak kalau-kalau Kyuubi ingin menimpalinya. Namun sama sekali tidak ada jawaban dari pemuda berambut merah itu, maka ia pun melanjutkan.
"Aku minta maaf karena aku sudah melukaimu hari itu. Aku minta maaf karena aku sudah meninggalkanmu hari itu. Aku minta maaf karena aku sudah jadi pengecut selama ini…"
"Kenapa baru sekarang?"
Itachi berjengit mendengar suara Kyuubi saat mengatakannya. Begitu dingin.
"Kenapa setelah sepuluh tahun kau ungkit lagi hal itu? Kenapa selama ini kau menghindariku? Apa kau sebegitu bencinya padaku?"
"Tidak!" Itachi berkata cepat, kali ini mendongak memandang Kyuubi. Apa yang dilihatnya membuatnya sangat kaget. Kyuubi kelihatan susah payah sekali menahan air mata yang mengancam akan mengalir dari matanya. Itachi tidak menyangka dia telah sebegitu parahnya menyakiti Kyuubi.
"Aku sama sekali tidak membencimu, Kyuu-chan. Sama sekali tidak. Aku menghindarimu karena aku takut. Aku takut untuk bertemu denganmu karena aku tahu, setelah kejadian itu kau pasti akan sangat membenciku. Aku takut melihat kebencian yang terpancar dari matamu ditujukan padaku, aku takut…"
"Kenapa sekarang? Kenapa kau memutuskan untuk minta maaf sekarang?"
"Karena melarikan diri sama sekali tidak menyelesaikan apa-apa," jawab Itachi lirih.
"Karena aku melarikan diri kau jadi semakin terluka. Karena aku sadar bahwa aku tidak sanggup lagi mengulur waktu," lanjut Itachi. Suaranya sedikit tercekat di tenggorokannya sekarang.
Jeda.
"Karena aku mencintaimu,"
Kyuubi sangat terkejut mendengar kalimat terakhir Itachi. Dia sama sekali tidak pernah menyangka Itachi akan berkata seperti itu kepadanya. Apalagi sekarang setelah mereka terpisah selama sepuluh tahun lebih.
"Kau bohong," ujar Kyuubi dengan pelan pada akhirnya.
"Kau ingin aku berbuat apa agar kau percaya?" Tanya Itachi pada Kyuubi yang tengah memandangnya dengan wajah yang sama sekali tak bisa dibaca.
"Apa kau pikir aku bakal percaya pada kata-katamu itu? Apa kau pikir aku bakal percaya begitu saja padamu setelah semua yang telah kau lakukan padaku selama ini?" ucap Kyuubi dengan suara dingin.
"Kyuu-chan, kali ini saja. Kumohon kau percaya padaku. Aku akan melakukan apa saja untukmu agar kau percaya padaku. Dan aku benar-benar…"
"Kalau begitu pergi. Pergi dari hadapanku sekarang juga."
"Kyuu-chan, aku…"
"Berhenti memanggilku begitu dan pergi sekarang juga!"
Kyuubi menaikkan suaranya sekarang sehingga beberapa pengunjung yang kebetulan ada di dekat mereka menoleh ke arahnya dan Itachi yang berdiri di tengah jalan. Matanya melebar dan memandang Itachi dengan berbagai macam hal tercermin di dalam sana. Itachi melihat ada rasa sakit di sana, ditemani oleh kebencian dan kemarahan. Juga sesuatu yang lain yang tidak bias diartikan.
Itachi akhirnya menghela nafas pasrah. Dia memandang Kyuubi untuk yang terakhir kalinya, kemudian berbalik meninggalkannya dengan langkah pelan, berusaha keras untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.
"Selamat datang!" ujar Naruto dan Sakura ramah pada pengunjung kafe mereka yang entah keberapa.
"Terima kasih. Tolong meja untuk berdua," jawab si pengunjung tak kalah ramahnya.
"Baik. Mari, silakan," Sakura kemudian membawa keduanya menuju ke salah satu sudut kelas mereka yang telah diubah menjadi sebuah kafe yang sangat nyaman dengan dekorasinya yang tidak terlalu meriah namun tetap memberi kesan ceria.
"Huff," Naruto meniup rambut poni pirangnya yang jatuh menutupi matanya. Dia menatap Sakura-versi-cowok yang tengah melayani tamu terbaru mereka sambil merapikan wig pirang panjangnya yang sedikit berantakan.
"Halo, Naruto-kun,"
Naruto sedikit terlonjak mendengar sapaan yang datangnya tiba-tiba itu. Saat dia berbalik dia mendapati calon kakak iparnya tengah berdiri di hadapannya dengan sebuah senyum menghias wajah tampannya.
"Itachi-niisan!" seru Naruto dengan suaranya yang sekarang tinggi melengking akibat pengubah suara yang dia pakai.
"Wah, wah, Naruto-kun, aku tidak menyangka cosplay cafe-mu bakal jadi setotal ini. Kalian bahkan pakai pengubah suara juga ya?" tanya Itachi sambil melihat-lihat suasan kafe di sekelilingnya dengan tertarik.
"Yah, tentu saja. Kami ingin memenangkan hadiah tahunan festival ini sih! Dan lagi ini adalah festival terakhir kami. Jadi lebih baik dibuat semeriah dan semaksimal mungkin," jawab Naruto masih dengan suara tinggi dan kelewat bersemangat.
"Ha, ha. Yah, aku bisa paham kemauan kalian itu. Sudah lama sekali sejak terakhir kali aku menghadiri festival sekolah seperti ini,"
"Wah, memang Itachi-nii pernah ikut festival musim panas juga?"
"Pernah satu kali di tahun pertama SMP-ku sebelum kami semua pindah ke Inggris. Waktu itu aku dan teman-temanku sibuk sekali mempersiapkannya,"
"Wah, benarkah? Waktu itu bikin apa?" tanya Naruto lebih lanjut.
"Hei, Naruto! Jangan mengobrol saja di situ! Cepat layani tamu yang lain!"
Potong Sakura sebelum Itachi sempat menjawab.
"Ah, baik, Sakura-chan!" balas Naruto sambil menggaruk-garuk kepalanya karena kebiasaan.
"Oke, Itachi-nii. Mari kuantar ke meja terbaik di kafe kami!" ujar Naruto bersemangat sambil menggandeng Itachi ke salah satu meja di samping jendela yang menghadap ke arah taman sekolah yang saat itu sangat ramai.
"Itachi-nii mau pesan apa? Kami punya hampir semua makanan, kecuali yang sudah habis pastinya. He, he, he," kata Naruto sambil menyodorkan menu pada Itachi. Itachi akhirnya memutuskan untuk memesan es kopi saja. Sambil menunggu pesanannya datang dia mengamati orang-orang yang berlalu lalang di halaman sekolah. Dia bisa melihat dengan jelas rambut merah Kyuubi yang bergerak di antara para pengunjung. Itachi menghela nafasnya sekali, kemudian terus memperhatikan kepala merah itu sampai menghilang di kerumunan.
Sasuke dengan ragu memandang spanduk berwarna-warni yang terpajang di depan kelas Naruto. Spanduk itu tidak begitu besar, tapi sangat ramai dengan warna-wana yang mencolok sekali sehingga sangat tidak mungkin terlewatkan. Sudah lebih dari sepuluh menit dia beridir di pojokan ini, ragu-ragu. Apakah sebaiknya dia masuk ke kafe warna-warni itu atau pulang saja ke kelasnya. Lagipula jadwal istirahatnya akan berakhir setengah jam lagi.
Sasuke terus saja berkutat dengan pikirannya sendiri sampai akhirnya dia menyerah. Dengan menghela nafas sekali, dia melangkahkan kakinya menuju ke pintu masuk kelas Naruto yang telah berubah bentuk jadi aneh dan berwarna-warni itu.
"Irashaimasu!"
Sapaan yang begitu tiba-tiba dan terlalu bersemngat itu benar-benar membuat Sasuke melonjak kaget. Dirinya bertambah kaget saat dilihatnya siapa yang telah menyapanya dengan kelewat antusias itu.
"N-naru...d-do-b-be...?"
"Eh! Teme! Ngapain kau kemari! Pergi sana! Aku tidak ingin kau ada di sini!" seru Naruto ketus saat menyadari siapa tamunya kali ini. Dia melipat tangannya di depan dadanya yang sekarang menggembung dan mendelik pada Sasuke yang kelihatannya sedang susah bernafas.
Bagaimana tidak, saat ini calon suaminya yang menurut Sasuke dalam keadaan bisa saja sudah sangat imut dan seakan-akan memintanya untuk melahapnya sampai habis setiap saat tengah ber-cosplay menjadi seorang gadis seksi dengan rambut pirang panjang dan berdada besar. Apalagi suaranya juga sudah berubah jadi lebih tinggi beberapa oktaf dari suaranya yang biasa.
"D-dobe, apa y-yang...ka-u pakai i-it-tu...?" tanya Sasuke, dengan susah payah menahan agar dirinya tidak mimisan.
"Pikirmu apa? Tentu saja ini seragam kerjaku untuk hari ini," jawab Naruto ketus.
"Uhm..."
"Oh, Otouto. Kau kemari juga akhirnya?" seru Itachi dari meja tempatnya duduk di seberang ruangan sendirian dengan hanya segelas es kopi menemaninya.
"Hn," gumam Sasuke singkat; berusaha mengembalikan kewarasannya.
"Sini, sini. Temani kakakmu ini minum," panggil Itachi sambil melambai-lambaikan tangannya pada adik semata wayangnya itu. Sasuke pun menurut. Yah, dari pada tidak ada hal lain yang dikerjakan, lebih baik ngobrol dengan Itachi saja. Dan Sasuke akan memastikan bahwa kali ini Itachi akan membayar ransumnya.
"Ngapain kau masih di sini?" tanya Sasuke setelah dirinya memesan minuman.
"Memangnya kenapa? Aku hanya sedang bernostalgia saja," jawab Itachi, sedikit senyuman masih tertinggal di wajahnya.
"Berhenti pasang tampang aneh begitu,"
"Eh? Tampang aneh apa? Kalau kau tidak sadar, Sasuke, wajahku memang sudah begini dari lahir,"
"Hn. Terserah apa katamu lah,"
Mereka diam sejenak sementara salah satu teman Naruto yang Sasuke tidak ingat namanya mengantarkan minuman pesanannya.
"Silakan dinikmati," ujar anak itu ramah.
"Hn," jawab Sasuke singkat.
Sasuke menyeruput sedikit minumannya saat anak itu telah pergi sementara Itachi terus mengawasi gerak-gerik adiknya itu.
"Apa?" ujar Sasuke yang mulai gerah dengan pandangan menyelidik kakaknya itu.
"Ah, tidak. Hanya saja kau sepertinya sedikit berubah sejak terakhir kali kita ketemu sebelum kau ke Jepang dulu itu," jawab Itachi. Dia meraih gelasnya kemudian menyedot cairan berwarna cokelat muda di dalamnya.
"Cuma perasaanmu saja," jawab Sasuke singkat. Dia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah halaman sekolah yang terlihat jelas dari tempat dudukya saat ini.
"Benarkah? Menurutku sih tidak begitu," timpal Itachi, tetap pada pendiriannya.
"Apa yang membuatmu jadi keras kepala begitu?"
"Ah, tidak. Aku hanya berpikir kalau Naruto itu punya pengaruh yang baik pada dirimu,"
"Masa?" tanggap Sasuke singkat.
"Hm-em. Jadi, kau sudah bicara dengannya tentang masalah itu?" Itachi memancing lebih jauh.
"Sudah tahu jawabannya masih tanya," ucapan Sasuke ini disambut oleh tawa renyah yang jarang sekali keluar dari mulut Itachi.
"Lalu bagaimana denganmu? Apa kau sudah melaksanakan misimu sendiri? Alasan sebenarnya kenapa kau sampai mau repot-repot menjemputku ke Jepang?" Sasuke mengalihkan pembicaraan. Itachi tersenyum suram menanggapi perkataan adiknya itu.
"Dia kabur waktu aku bilang maaf," ucap Iatchi sambil tertunduk.
"Ah. Sepertinya bakal sedikit susah," komentar Sasuke. Itachi mengangguk.
"Irashaimasu!"
Sasuke tersenyum kecil mendengar suara melengking Naruto yang menyambut tamu-tamunya.
Shikamaru membuka kedua matanya saat mendengar bunyi pintu atap yang tengah disinggahinya membuka dan menutup. Akhirnya orang yang sejak tadi dia tunggu datang juga. Dia sudah meminta orang itu untuk datang ke atap sekolah tepat pada saat ini tadi pagi sebelum acara festival dimulai. Dia memang orang yang sangat tepat waktu.
Shikamaru kemudian mendudukkan dirinya saat didengarnya bunyi langkah kaki orang itu mengarah ke tempatnya duduk. Meskipun dia bisa merasakan orang itu duduk di sebelahnya dia tidak mengatakan apa-apa ataupun memberikan respon lain selain hal yang telah dilakukannya itu. Matanya terus saja menatap menerawang ke arah langit Konoha yang sudah mulai menjingga.
Temannya pun kelihatannya tidak terlalu keberatan akan hal itu. Dia sebenarnya sudah tahu apa yang akan dilakukan Shikamaru pada menit-menit selanjutnya. Namun karena dia juga ingin mengalaminya, jadi dia biarkan saja si jenius pemalas itu melakukan segala sesuatunya menurut temponya sendiri.
Beberapa menit berlalu tanpa terjadi apapun. Sampai akhirnya, Shikamaru yang entah sudah bosan menunggu atau telah mengumpulkan rohnya dengan lengkap, mengangkat tangannya dan merangkulkannya ke bahu teman yang tengah duduk di sebelahnya itu.
"Ada apa, Nara-kun?" tanya Hyuuga Neji pada akhirnya. Dia tidak bisa menahan kebisuan itu lebih lama lagi. Tidak saat dia bisa mendengar degup jantungnya yang bahkan lebih bising dari suara pesawat terbang sekalipun.
Shikamaru, sebagai seseorang yang sangat tidak menyukai kesia-siaan, langsung membalikkan tubuhnya agar dia bisa menatap langsung Neji yang duduk di sebelahnya dan masih dirangkulnya.
"Dengarkan aku baik-baik Hyuuga," Shikamaru memulai.
"Aku menyukaimu. Aku ingin kau jadi kekasihku. Kau mau?" Shikamaru berkata dengan singkat, padat, dan jelas. Persis seperti apa yang bisa diharapkan darinya. Neji sedikit tersenyum mendengar pernyataan Shikamaru itu. Benar-benar khas si pemalas. Tidak pernah buang-buang waktu dan langsung tepat sasaran.
"Tentu saja. Dengan satu syarat," jawab Neji. Senyumnya menjadi sedikit lebih lebar saat dilihatnya kening Shikamaru mengrnyit.
"Cium aku,"
Shikamaru tersenyum kecil, kemudian mendekatkan dirinya pada Neji untuk mendapatkan hadiahnya.
Sasuke menghela nafas untuk entah yang keberapa kalinya sore itu. Mata hitamnya memandang kosong ke arah langit Konoha yang sudah mulai menjingga, menandakan bahwa malam akan segera meraja. Saat ini dia sedang berada di ruang UKS sekolah. Kenapa, kalian tanya? Yah, tentu saja semuanya gara-gara Naruto si dobe itu. Gara-gara calon suaminya itu dia harus berlama-lama terkurung di dalam ruangan putih berbau antiseptik itu.
Sebenarnya sih sedikit banyak dia bersalah juga. Kalau saja dia tidak menantang Naruto untuk masuk ke rumah hantunya tentu saja dia tidak akan berakhir seperti ini. Oh, apa yang terjadi? Oke, akan kuberi tahu apa yang terjadi sebenarnya.
Kalian ingat tantangan yang diberikan Sasuke kepada Naruto di chapter sebelumnya? Yak, yang itu. Kemudian, saat Sasuke akhirnya menagih Naruto untuk menjalankan tantangannya, si dobe itu dengan (sok) beraninya langsung saja nyelonong masuk ke dalam rumah hantu Sasuke dengan langkah (sok) gagah. Dia sama sekali tidak tahu bahaya apa yang telah menghadangnya di dalam bangunan/kelas/mansion mengerikan itu.
Hasilnya? Sebelumnya, kalian tahu kan kalau Naruto itu punya phobia yang sedikit kelewatan terhadap para hantu, cerita hantu, bangunan berhantu, atau bahkan cuma rumah hantu biasa? Tapi, karena sifatnya yang (sok) jagoan, dia sama sekali tidak mau ditemani oleh siapa pun dalam menghadapi rumah hantu itu. Namun, setelah ditunggu selama satu jam oleh Sasuke dan teman-temannya yang lain, Naruto belum juga keluar dari rumah hantu itu. Setelah beberapa saat mencari akhirnya si pirang itu ditemukan telah terbujur lemas di salah satu kamar wahana dengan muka yang sangat pucat.
Buru-buru Sasuke membawanya ke UKS. Sasuke baru bisa tenang saat Shizune-sensei memberitahunya kalau Naruto cuma pingsan karena syok atau yang semacamnya. setelah itu Shizune-sensei menyuruh Sasuke untuk menunggui si blonde dan keluar dari UKS dan tidak kembali-kembali lagi sampai sekarang. Sasuke menggeram kesal sekali lagi. Memang sih kejadian ini juga sebagian adalah salahnya. Tapi dia menganggap Naruto juga bersalah. Kalau dia punya phobia sama hantu kenapa nggak bilang padanya dari awal? Ugh! Dasar dobe!
"Ungh…"
Sasuke tersadar dari lamunannya saat dilihatnya Naruto mulai bangun dari pingsannya. Si blonde itu perlahan-lahan membuka matanya yang kelihatan tidak terlalu terfokus. Naruto mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar dan menemukan sosok Sasuke yang tengah duduk di samping ranjang tempatnya berbaring.
"Sasuke…?" ucap Naruto pelan.
"Hn. Bagus kau sudah sadar, dobe,"
"Ugh. Kepalaku sakit. Memangnya aku kenapa?" tanya Naruto sambil berusaha duduk. Sasuke buru-buru bangkit untuk membantunya. Dengan perlahan, Sasuke menyandarkan Naruto ke kepala ranjangnya.
"Memangnya kau tidak ingat?" tanya Sasuke. Naruto menggeleng.
"Kau jatuh di rumah hantuku. Kepalamu yang apes, jadinya kau pingsan," jawab Sasuke.
"Oh…" ujar Naruto singkat. Mukanya memerah karena malu.
"Kau sudah baikan? Lebih baik kita pulang sekarang. Yang lain sudah mulai membereskan kelas mereka lho," ujar Sasuke sambil terus mengawasi Naruto yang telah melepas wig pirangnya. Sengaja dia mengabaikan topik pingsannya Naruto maupu hal-hal yang berkaitan dengan itu. Dia sedang malas membicarakan hal itu. Yang dia inginkan sekarang adalah pulang ke rumah dan beristirahat setelah seharian penuh bekerja. Lebih bagus lagi kalau Naruto mau menemaninya tidur malam itu.
"Oke. Tapi sebaiknya aku ambil tasku dulu dan ganti baju,"
"Tidak perlu repot-repot. Tadi Sakura sudah membawakan semua barang-barangmu. Ini,"
Sasuke meraih tas ransel oranye Naruto dan gakurannya yang sebenarnya tergeletak di meja kecil di samping Naruto. Naruto menerimanya dengan sedikit heran, kenapa dia tidak melihat tas dan gakurannya sebelumnya? Ugh, kepalanya pasti terbentur agak keras tadi. Sasuke kemudian berdiri, menutup tirai yang mengelilingi ranjang tidur Naruto dan berdiri di luarnya, memberikan si blonde ruang untuk berganti baju. Setelah beberapa saat, akhirnya Naruto keluar dari balik tirai.
"Oke. Ayo kita pulang," ajak Naruto. Sasuke mengangguk. Kedua pemuda itu kemudian meninggalkan ruang UKS dan berbelok ke koridor yang akan membawa mereka keluar dari gedung utama Kogaku.
Di tengah perjalanan mereka bertemu dengan Shikamaru dan Neji yang sepertinya juga akan pulang.
"Ah! Shikamaru!" panggil Naruto saat dia melihat penanggung jawab kelasnya berjalan dari koridor yang tersambung dengan koridor yang tengah dia lewati.
"Naruto," ucap Shikamaru pelan saat dilihatnya si pirang periang itu berjalan cepat ke arahnya.
"Shikamaru, maaf ya tadi aku pingsan duluan sebelum acara habis. Aku benar-benar minta maaf," ujar Naruto. Dia kelihatan benar-benar menyesal.
"Yah, tidak apa-apa. Lagi pula tadi shift jagamu memang sudah habis 'kan?" ujar Shikamaru menenangkan.
"Ah, iya. Aku benar-benar minta maaf," ujar Naruto lagi sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Sudahlah. Ayo kita pulang,"
Naruto mengangguk menyetujui usul Shikamaru. Akhirnya keempat pemuda itu pun berjalan ke halte bus sama-sama. Sementara Shikamaru dan Naruto berdikusi seru tentang festival hari ini –Naruto yang banyak bicara sementara Shikamaru cuma mengangguk-angguk saja–, Sasuke dan Neji hanya terdiam, menikmati suasana sore hari Konoha dan celotehan-celotehan Naruto yang sepertinya tak ada hentinya.
A/N : Halo, readers! Oke, pertama saya mau minta maaf soal typos yang ada di chap lalu. Hehe, masih ngantuk saya waktu itu =P. Untuk yang tanya soal POV di cerita saya, saya sengaja buat seperti itu, tanpa peringatn, biar reader jadi pada penasaran. Hehehe. Mungkin saya bakal tuliskan nama si pemilik POV saja mulai sekarang. Kemudian time-skip yang kelihatannya agak kacau di chap ini juga saya sengaja biar kelihatannya lebih bagus lagi. Mohon maaf kalau reader sekalian jadi bingung. Oke, akhir kata, REVIEW please…
Regards,
G+R
