Lewat tengah malam Hibari masih tetap terjaga, matanya tak bisa diajak terpejam barang semenit. Meski kamar Lirina membuatnya nyaman tapi ini pertama kali ia kembali ke tempat itu setelah sekian tahun dan rasanya asing.
.
"Padahal dulu dia paling takut tidur sendiri."
.
.
.
"Rin mau sama Kyou-nii!"
"Aku tak mau!" tandasnya dengan kesal karena acara tidurnya terganggu.
"Whuaaa!" tangisnya pun pecah karena penolakan Hibari. "Rin tak mau tidur sendiri! Ada hantu!"
"Tidak ada yang namanya hantu! Kau ini terlalu banyak mengkhayal!"
"Rin tak boho...ng! Huwaaa!"
"Ada apa ini?! Sudah malam tapi kalian masih saja ribut." Sakura Hibari dengan tergesa menghampiri anak dan keponakanya yang berteriak-teriak padahal hampir tengah malam.
"Ops, kau kenapa lagi anak manis?" Byakuran yang juga menginap di kediaman Hibari ikut mengundur jam tidurnya karena keributan yang dibuat dua bocah tadi. Dengan hati-hati digendongnya Lirina yang menangis sesegukan di depan kamar Hibari.
"A-ada hantu. Rin tak mau tidur sendiri!"
"Jangan pakai alasan itu untuk menganggu jam tidurku!"
"Rin tidak boho...ng! Bya-nii, Kyouya-nii jahat!"
"Kyouya, kau tak usah segalak itu pada adikmu kan?"
"Salahnya sendiri penakut! Ibu jangan memanjakannya!"
"Maa,maa, biar Rin tidur denganku. Toh sejak dia bayi aku sudah biasa bersamanya."
"Rin mau sama Kyouya-nii." Lirina masih saja berkeras, balita itu menggenggam lengan baju Hibari dengan erat, menatap Hibari dengan mata-berkaca-kaca. "Kyou-nii...!"
"..." belum sempat Hibari bicara, Byakuran sudah lebih dulu melepaskan genggaman Lirina dan membawanya pergi.
"Jangan memaksanya, Rin." Byakuran membujuknya.
"Maaf ya, Rin. Nii-san mu mungkin memang tak mengerti apa yang kamu lihat." Sakura berusaha membujuk keponakannya agar berhenti menangis.
"Jangan menganggu Kyouya, besok dia harus bangun pagi dan sekolah. Rin anak baik, kan?" tanya Byakuran sambil mengusap lelehan bening yang membasahi pipi Lirina. "Sekarang tidur dengan kakak saja ya?"
"I-iya..." meski agak tak rela akhirnya Lirina ikut ke kamar Byakuran.
"Kembalilah tidur Kyou, Rin sudah bersama Byakuran."
"Kenapa orang asing itu terus sok perhatian?" gerutu Hibari.
"Byakuran itu kan yang merawat Rin sejak bayi."
"Kita juga kan?"
"O...Kyouya cemburu?" goda Sakura yang membuat putra semata wayangnya melotot kesal. "Berarti tadi kamu sudah mau mengiyakan permintaan adikmu?"
"Huh!" Blam! Hibari menutup pintu kamarnya dengan keras. Sakura menggeleng_senyum simpul menghias wajahnya karena melihat sifat anaknya yang sama dengan sang ayah.
"Kyouya dan Alaude sama saja. Lirina seperti Fong." gumamnya setelah masuk kamar.
"Bagaimana?" tanya Alaude tanpa menoleh. Kepala polisi Namimori itu tetap duduk tenang membaca buku tentang 'Psikologi Kriminal'.
"Kau ini kalau khawatir harusnya ikut melihat mereka." Sakura berkacak pinggang di depan suaminya. "Kau dan anakmu sama saja! Adiknya menangis ingin tidur dengannya dia menolak, tapi begitu Rin dibawa Byakuran dia protes."
"Huh, anak bodoh." Alaude mendengus pelan disertai senyum sinis.
"Kau juga sama!" Alaude men'deathglare' istrinya yang kini malah tidur memunggunginya.
.
.
.
"Fong...aku membencimu. Kenapa kau harus mati? Kau akan ku 'kamikorosu' ketika bertemu di alam baka nanti!" Hibari membalik frame foto yang diletakkan di meja kecil di samping tempat tidur dengan kasar, Fon yang menggendong Lirina saat bayi.
.
.
.
Sehari sebelum hari H
.
Esok hari Hibari bangun dengan mata setengah mengantuk. Tidur jam 2 pagi membuat moodnya kurang bagus. Mandi air hangat akhirnya menghilangkan kantuknya yang mengganggu. Begitu keluar kamar terlihatlah Lirina berseliweran (?) dengan celana seragam dan kaos tanpa lengan dan apron, seragam dan sweaternya tergeletak seenaknya di atas sofa. Hibari menghela nafas panjang melihat tingkah wakil ketua OSIS-nya begitu masa bodo.
.
"Pagi! Sarapan dulu ya?" sapa Lirina begitu melihat Hibari di belakang sofa ruang tengah.
"Hn..." Hibari memakan sarapannya tanpa komplain, sesekali melirik Lirina yang tengah sibuk mencomot sarapan kemudian kembali menyusun isi kotak bekal untuk mereka berdua. Anak itu selalu membuatkannya bekal sejak mereka kelas 6 SD, tepatnya setelah terakhir kalinya anak itu memanggilnya 'Kyouya-nii'.
.
"Ini punyamu, habiskan semua!"
"Memangnya kau itu ibuku atau istriku sampai berani memerintaku?"
"Aku pemilik tempat ini, aku yang membuatkan bekal ini dan aku wakil ketua OSIS Namimori jadi kau harus mendengarkanku!"
"Kucing cebol berani memerintahku." Hibari menyambar kotak bekalnya, tanpa bicara apapun skylark tersebut meninggalkan apartement Gesso. (biar ribut tetep aja ngambil makanannya *ditonfa*)
"Aku manusia..." decaknya kesal. Lirina menjatuhkan tubuhnya ke sofa, semalam dia susah tidur jadi hari ini dia berniat berangkat siang. Masih jam 6 pagi sehingga diputuskannya tidur 2 jam lagi setelah menyetel weker di angka 8 lewat 15 menit.
.
.
.
.
.
Hari ini adalah hari yang paling merepotkan bagi para siswa, mengecek semua persiapan untuk esok hari juga pembagian ulang tugas tiap anak. Ada sedikit insiden kecil yang melibatkan kedua pengacau kelas a.k.a Mukuro dan Lirina. Keduanya kembali berseteru karena soal make up dan tugas si kecil sebagai petugas promosi alias harus keliling dengan kostum komplit. Alhasil mereka adu jotos hingga menabrak lemari penyimpanan yang berisi cat sisa and of course itu membuat cat yang tak ditutup rapat jadi tumpah mengenai papan nama yang ada disampingnya. Hukumannya adalah Lirina mengecat ulang sementara Mukuro membersihkan cat yang tumpah dalam lemari juga yang membasahi lantai tanpa dibantu siapapun! -itu kata Chikusa-
.
"Rin!"
"Huh?" pemilik nama yang sedang sibuk mengecat ulang papan nama yang ketumpahan cat pun menoleh. MM menyodorkan sebuah wig warna perak padanya. "Buat apa?"
"Dimakan."
"Memang bisa?" tanyanya dengan polosnya.
"Jelas ngak, bocah! Ini buat dipake lah! Masih nanya?!" MM berkacak pinggang karena sejak kemarin sudah pusing ngurus kelengkapan kostum.
"Ogah!" Anak paling kecil di kelasnya -umur dan badannya *disemprot air- sabun* itu kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Pake! Akan kuletakkan di tasmu!"
"Masa bodo."
.
.
.
.
.
Jam istirahat di habiskan Lirina di ruang OSIS, bukan karena Hibari memberi perintah namun hanya untuk menghindari para murid terutama kakak kelas -perempuan- yang mengejar ingin mengambil fotonya dengan kostum iblis -kelelawar-.
.
"Geesh, tomorrow will feel like in hell for me."
"I think not that bad." sahut Hibari yang sejak tadi dengan tenang memeriksa laporan tiap club. "Memangnya kenapa kau harus menggerutu? Bukankah orang-orang suka kau memakainya dan itu artinya cocok untukmu."
"...kalau menurutmu?"
"Aku jadi bisa liat tontonan gratis." nada bicara yang terdengar cukup mengejek, tapi dengan kesabaran ekstra dari kantong D*raemon (?) kali ini sang wakil prefek menahan emosinya.
"Huh, kau memang tak bisa dimintai pendapat berguna!" hening kembali menyelimuti ruang OSIS.
.
.
.
"Kufufufu, kenapa kalian jadi seperti patung?"
.
Entah kapan datangnya tanpa mereka sadari pucuk nanas Mukuro sudah menyembul dari jendela tepat di samping meja kerja Hibari. Hibari mendengus melihat kemunculan Mukuro yang selalu mengkontaminasi ketenangan dunia (?). Lirina sendiri malah tidur di sofa memunggungi keduanya.
.
"Oya, oya, kenapa aku dicuekin?" Mukuro bingung sendiri karena kedua penghuni tetap (?) ruang OSIS Namimori-chuu malah tak menggubris keberadaannya. "Kufufufu, bangun sleeping demon." goda sang nanas sambil menusuk-nusuk pipi Lirina. (Ziho cuma tahu sleeping beauty, bukan demon.)
"Get out! Im not in mood to talk with you!" geram Lirina.
"Itu kau ngomong. Ayo bangun!" Mukuro memaksa dengan kembali men'toel-toel' pipi Lirina.
"Mukunyaropi!" akhirnya dia benar-benar bangun, langsung melayangkan bogem ke perut Mukuro. Sayangnya sang nanas lebih cepat menghindar. "Jangan ganggu aku sehari saja bisa kan, Muku-nyan?!"
"Huf!" Hibari menahan tawa mendengar sederetan nama untung Mukuro. "Mukunyaropi, huh? Bagus sekali melebihi pervert nappo king"
"Kufufufu, jaga mulutmu! Cukup kucing kecil ini yang memanggilku begitu!"
"Aku manusia Woy!"
"Kucing." sahut Mukuro.
"Chihuahua" sambung Hibari. "Landak mini juga mirip."
"Kufufufu, Golden Lion Tamarin juga."
"Jangan samakan aku dengan peliharaanmu! Aku bukan Monyet! Kalian bedua ini kenapa?!" Lirina makin kesal karena kedua Karnivora Namimori malah jadi duet kompak mengejeknya.
"Mencari hiburan/Bosan." sahut keduanya.
"Aku benci kalian!" Lirina menyambar tasnya dan segera angkat kaki dari ruangan yang sudah terkontaminasi oleh kegilaan.
.
.
.
"Oya,oya, dia marah betulan?"
"Biarkan saja. Beberapa jam lagi juga lupa." Hibari kembali melanjutkan kegiatannya yang tertunda.
"Kau sungguh akrab dengannya."
"Bukan urusanmu, jika tak ada urusan maka pergilah dari sini."
"Dingin sekali. Padahal saat bersama dia kau lebih ramah."
"Matamu buta."
"Kufufufu, meski satunya adalah donor dari seseorang, mataku bekerja dengan baik. Apakah dia istimewa bagimu?"
"Tidak. Dia hanya hermaprodite yang selalu membuntutiku."
"Hermaprodite, biasanya kau memanggil orang lain herbivora."
"Huh, pergi sebelum aku meng'kamikorosumu!"
"Kufufufu, kau sungguh tak bisa jadi orang jujur. Suatu saat kau akan kehilangan dia, Kyouya. Dan saat itu aku yakin topeng dinginmu akan hancur berantakan." kata Mukuro sebelum meninggalkan ruang OSIS.
"Huh, kehilangan? Memangnya bisa terjadi hal yang lebih dari saat ini? Ugh!" Hibari menekan dada kirinya yang tiba-tiba sakit. Dengan cepat ia mengambil sebuah botol kecil berisi pil kemudian menelannya 2 butir sekaligus. "Aku yang kehilangan dia atau dia yang kehilangan aku? Meski aku tak ada dia akan tetap baik-baik saja, dia bukan lagi anak yang selalu mengejar langkahku."
.
.
.
Edden : kok makin ngawur dan OOC Hibarinya?
RIN : yang ngetik kan kamu.
Edden : iya sie. Eh, mar! Aku dah update yah! Jangan lempar action figure detective conannya! Aku mauuuu!
