Uke – Uke Ngenes
Cast:
Para Uke: Jinyoung, Chanyeol, Sandeul
Para Seme: Gongchan, Kris, Baro
Support Cast:
Changmin, Minho Shinee, Jonghyun CNblue, Tao, Kyung Block B, Zico Block B
OC:
Dokter Jang, Suster Haerim
###HAPPY READING###
Chapter 7
"Keluarga Park Chanyeol?"
Zzzz… grook…slurrrp…hahh?! Jinyoung yang lagi asik bobo dengan kepala teleng ke kanan dan ke kiri di kursi ruang tunggu, refleks berdiri begitu mendengar nama Chanyeol disebut.
"Keluarga Park Chanyeol?" ulang suster itu kali ini dengan nada lebih keras sambil celingukan di ambang pintu ruang pemeriksaan.
Jinyoung langsung mendekat sambil ngelap ilernya, "Park Chanyeol ya? Ss…saya, Suster. Saya…"
Suster muda nan kinclong bername tag 'Cha Haerim' itu menatap Jinyoung heran, "Kamu keluarganya? Orangtuanya mana?" tanyanya curiga.
Mampus.
Dalam hati Jinyoung belingsatan panik, tapi ekspresi diluarnya tenang dan kalem, "Oh, itu…saya kakaknya, sus. Orangtua kami sedang keluar kota." Tring! Gak lupa menampilkan gummy smile yang mempesona.
Suster Haerim menatap Jinyoung lekat – lekat dengan tatapan 'kok gak mirip?'
Jinyoung masih stay dengan cengiran 'Tring, Tring'-nya, "Iya, sus. Saya kakaknya, Park Jinyoung. Apa perlu saya tunjukin KTP saya? Oh… maksud saya Kartu Keluarga. Apa perlu saya tunjukin Kartu Keluarga saya?" cerocos Jinyoung pasang tampang semeyakinkan mungkin.
"Gak perlu." Jawab si Suster cantik – cantik tapi judes itu, "Ya sudah, kamu masuk saja. Sudah ditunggu sama Dokter Jang di dalam."
Yes. Berhasil, berhasil, horee!
Jinyoung ngangguk sopan, teteup dengan akting profesinalnya. Gak boleh kebawa emosi, "Baik, sus. Makasih. Saya mau liat adik kandung saya dulu, yaa...? Permisiii…" pamit Jinyoung sambil memberi penekanan di 'adik kandung'. Entah Jinyoung ini ngeledek atau sengaja, masuk ya masuk aja gak usah pake ngomong gitu segala.
Suster Haerim hanya membalas dengan tatapan tajam yang tidak berubah.
"Kamu keluarganya Park Chanyeol?" tanya Dokter Jang yang sudah menyambut di meja kerjanya.
Ada apa sih dengan rumah sakit ini? Kayaknya kalo bukan keluarga pasien yang nganter gak dipercaya banget.
"Iya, dok. Saya kakaknya." dusta Jinyoung sambil duduk di kursi di depan meja Dokter Jang.
Dokter Jang manggut – manggut dengan muka tenang dan bersahaja. Baguslah dia gak curiga. Gak kayak suster rese tadi.
"Saya sudah banyak ngeliat keluarga yang agak beda satu sama lain tapi baru kali ini ada yang gak mirip sama sekali…"
Oh Doraemon…dimanakah dirimu berada? Jinyoung pengen menghilang nih.
Oke, jadi Dokter Jang emang gak curiga. Tapi dia UDAH TAU. Akting ala seleb hollywoodnya Jinyoung langsung mental secara mengenaskan dihadapan Dokter, yang kayaknya lebih pantes jadi Inspektur kepolisian, ini.
Satu kata. Malu. Dua kata. Malu bangeetttt!
"Ehh… engg… iyaa, dok… jadi gini…" Tampang meyakinkan dan senyum 'Tring, Tring' –nya luntur tak berbekas. Digantikan senyum canggung yang keliatan tolol banget, "Saya sama adik saya emang gak mirip karena saya lebih mirip ke bapak saya, sedangkan Chanyeol adik saya lebih mirip ke ibu saya." jelas Jinyoung sambil bersumpah dalam hati seumur – umur gak mau balik ke rumah sakit ini lagi.
"Oh. Begitu?"
Apa maksudnya coba 'begitu'?!
"Iya, dok. Seperti itu." sahut Jinyoung ala – ala Syahrini.
Dokter Jang manggut – manggut lagi, kali ini dengan senyum ramah, "Faktor gen, ya? Saya kira tadi karena kalian dioperasi di tempat yang berbeda."
Ha? Operasi?! Jinyoung udah setengah mati ketakutan kayak Naripadana yang mau ditembak mati sepuluh detik lagi, eh gak taunya Dokter Jang ngirain mukanya gak ada mirip - miripnya sama Chanyeol gara – gara beda tempat operasi plastik. Ya Tuhaaann! Rasanya Jinyoung pengen ketawa guling – guling sambil mukul – mukul lantai. Ini jujur… situasi yang awkward banget dalam artian yang berbeda.
Duuh…Dokter Jang, kamu lucuu banget, siihh?
"Karena itu juga sih…heheh…" Jinyoung ngaku sok malu – malu kucing. Kembali ke niat semula. Akting. Biarkan saja Dokter Jang dan dugaan kreatifnya.
Dokter Jang hanya menggeleng maklum. Gelengan yang kalo diartikan sama dengan: 'Dasar anak – anak muda jaman sekarang…'
"Dok, boleh saya liat adik saya?" tembak Jinyoung langsung sebelum Dokter Jang bertanya mukanya terinspirasi dari artis mana.
"Oh boleh, boleh. Silahkan." Dokter Jang menggiring Jinyoung menuju ke ranjang di balik tirai putih.
Jinyoung mendekati Chanyeol dengan raut cemas, "Lo…eh, kamu gak apa – apa kan?" Ceritanya mereka kakak -adik yang sopan gitu, panggil 'Aku – Kamu'.
"Iya, Kakanda. Saya tidak apa – apa."
Kakanda?! Bwahahah! Ya Ampun. Jaman Majapahit banget. Jadi Jinyoung harus bales manggil 'Adinda' nih? Dasar Jerapah sarap.
Sekarang Jinyoung musti mati – matian menahan senyum sambil melempar pelototan 'awas lo manggil Kakanda lagi, gue piting ampe tewas!', "Terus kamu udah ngerasa baikan? Gak mual – mual lagi? Perut kamu masih sakit?" tanyanya sambil ngelirik Dokter Jang dikit – dikit. Berharap akting ala film kartun gagalnya gak ketahuan. Tapi ternyata Dokter Jang anteng – anteng aja berdiri disitu. Mungkin faktor udah biasa ngadepin pasien dan keluarganya yang rada – rada.
"Enggak kok, Kak. Udah agak mendingan sekarang." Jawab Chanyeol sok kalem. Padahal dalem hati dia syok habis. Apalagi setelah mendengar pernyataan Dokter Jang bahwa dia…
Dokter Jang berdehem, "Jadi begini ya, dek… siapa tadi nama kamu…?"
"Jinyoung, dok." jawab Jinyoung.
"Iya, Jinyoung. Jadi begini ya, dek Jinyoung. Setelah saya periksa tadi, saya bisa menyimpulkan kalau adik kamu ini tidak mengalami keracunan makanan."
Jinyoung melongo kaget. Jadi bukan gara – gara keracunan nih? Prasangka buruknya menguat.
Dokter Jang keliatan ragu, "Karena saya bukan dokter spesialis, jadi ini masih dugaan sementara. Sebenarnya mual – mual yang dialami adik kamu ini bukan karena sakit perut atau keracunan makanan biasa."
"Te…terus… karena apa dong, dok?" tanya Jinyoung mulai cemas tingkat tinggi.
"Yaa…itu karena…"
.
.
.
.
Keheningan yang sangat panjang terjadi diantara Chanyeol dan Jinyoung. Masing – masing sibuk dengan pikirannya sendiri. Mereka masih berada di ruang tunggu. Menunggu hasil tes sampel darah Chanyeol yang saat ini sedang dibawa ke laboratorium untuk diperiksa lebih lanjut. Katanya untuk menguatkan diagnosa Dokter Jang tadi dalam bentuk bukti tersurat. Bagus. Setidaknya sebentar lagi seluruh dunia akan tau kalau dia sedang mengandung Kris Junior. Keren…
Tiba – tiba Jinyoung noleh dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak. Ngeliatin Chanyeol serius banget. Bikin namja tinggi itu jadi blingsatan di tempat sambil garuk – garuk kepala salah tingkah.
"A…apaan sih lo liat – liat? Naksir ya?" tukas Chanyeol berusaha ngeles gagal alias mati gaya.
Tatapan Jinyoung menajam. Jika saja tatapan itu dipake buat ngiris batu gunung, mungkin batunya akan terbelah menjadi tiga belas bagian.
Ngeliat Jinyoung kelewat serius gitu, tiba – tiba Chanyeol jadi pengen ngegodain dia, "Lo kenapa sih? Serius gitu tampang lo. Kayak orang lagi nahan diare menahun tau, gak?" Ledek Chanyeol sambil cekikikan garing. Tapi… sodarah – sodarah, lagi – lagi usaha ngelesnya gagal total! Bukan cuma gagal total, tapi terpeleset, terpelanting, kelelep, dan dimakan ikan hiu.
Harusnya nih ya, HARUSNYA! Jinyoung senyum gitu kek, ikut cekikikan, atau minimal nyengir dikit untuk menghargai usahanya. Eh…ini enggak sama sekali! Malah tatapannya makin menajam.
"Gue emang serius, Yeol…"
Cengiran Chanyeol langsung lenyap.
"Lo berutang penjelasan ke gue." tuding Jinyoung lurus – lurus ke muka Chanyeol.
"Penjela…"
"Jangan tanya!" potong Jinyoung, "Lo pasti udah tau apa yang lagi kita bahas sekarang."
Chanyeol meringis aneh, "E..ee…ee…" saking bingungnya mau ngejelasin, yang keluar malah suara orang lagi ngeden.
Tatapan Jinyoung kini berubah menjadi tatapan ala Rommy Rafael kalo mau menghipnotis orang jadi ikan pesut pemakan kaos kaki, terus PLUK! kedua tangannya ikut – ikut nemplok di pundak Chanyeol, "Chanyeol... kita ini… temenan kan?"
Chanyeol ngangguk.
"Gue ini temen lo, kan?"
Chanyeol ngangguk lagi.
"Oke. Kalau begitu…" Jinyoung nepuk – nepuk pundak Chanyeol, "Selamat menjelaskan."
Bukannya ngemeng, Chanyeol malah nunduk. Gulung – gulung ujung bajunya. Pose imut yang selalu bisa meluluhkan beruk buas macam Kris. Jika saja Kris yang sedang dia hadapi, pasti sudah dipeluknya namja ini dan dia berikan satu kecupan manis di bibir, di jidad, dimana saja, pokoknya di semua 'tempat – tempat' favorit Naga pirang itu.
"Yaa… gitu deh. Seperti yang lo tau….gue sama Kris…" Chanyeol mengibaskan tangan sambil buang muka, "Lo taulah…"
"Terus…kapan tepatnya?" tanya Jinyoung dengan muka yang udah ngadep ke depan lagi. Sengaja ngasih privasi buat Chanyeol biar gak canggung untuk cerita.
Tatapan Chanyeol menerawang keatas, mikir bentar, "Seingat gue itu… ehmmm…seminggu yang lalu…"
"Seminggu? Seminggu ini kapan, Yeol?"
Chanyeol ngetuk – ngetuk jari ke bibir, "Emmm…lo masih inget waktu itu gue bikinin lo spaghetti permintaan maaf? Yang waktu lo pulang bareng Shinwoo itu."
Jinyoung mengernyit, "Kap…aa...oh, iya iya inget gue! Yang waktu itu lo sama Kris masak berdua kan?" tudingnya sambil ngadep ke Chanyeol lagi, "Itu kan sembilan hari yang lalu kalo gak salah. Jadi… disitu…?"
Chanyeol ngangguk pelan banget.
"KOK BISAA?"
"Ssstt!" desis Chanyeol dengan muka risih, "Kenapa gak sekalian aja diumumin pake pengeras suara?" tanyanya sewot.
Jinyoung meringis sori, "Maaf, maaf. Kok bisa?" ulangnya dengan nada setengah berbisik, "Emangnya kalian gak pake 'pengaman', apa?"
"Ya…biasanya pake, sih. Tapi waktu itu kebetulan enggak…"
"KEBETULAN?!"
"Sssttttt!" Chanyeol berdesis panjang dengan pelototan maut kali ini, "Lu kalo mau bikin gue terkenal jangan tanggung – tanggung, noh ada mike!" tunjuknya dengan segenap emosi jiwa ke meja resepsionis.
"Ya, maaf. Habis lu ngomong santai banget! Gue nih yang gregetan! Yaa…kenapa bisa aja, sih? Gak habis pikir gue…" Jinyoung ngadep ke depan lagi sambil menyilangkan tangan di depan dada, "Lu emangnya udah planning mau nikah sama Kris dalam waktu dekat ini? Atau punya anak dulu trus nikah? Kenapaa? Why? Why?" desak Jinyoung gak sabar, "Gimme your reason. Alesan lo tuh apa? Atau karena udah bosen begitu – begitu aja makanya pengen nyari variasi baru?" cerocos Jinyoung, "Dan kenapa juga lu gak ingetin Kris sebelumnya untuk pake pengaman dulu sebelum beraksi?"
Dibombardir dengan banyak pertanyaan begitu Chanyeol malah makin kelabakan bingung, "Itu karena… karena…"
Jinyoung menatap Chanyeol dengan penuh perhatian, "Karenaa?"
"Karena… gue lupa."
W-H-A-T?! Lupa?! LUPA?!
Wahai Dewa Neptunus... sambarlah siluman alap – alap ini dengan tongkat petirmu.
"Elu…lupa?" ulang Jinyoung dengan muka terperangah shock ampun – ampunan. Eh… ini kan bukan salahnya Chanyeol juga. Tapi Kris Sang Penusuk!
"Terus kenapa pula si Kris gak inget make 'itu' sebelum beraksi? Apa dia… sengaja?" tanya Jinyoung memicing curiga.
Chanyeol menggeleng kemudian tarik napas panjang, "Gue gak tau kalo soal sengaja apa enggaknya. Tapi… kayaknya enggak deh." Huh. Masih dibelain aja! "Justru ini salah gue. Kris emang selalu begitu. Kalo dia udah hampir seminggu gak begituan, dia akan lupa kalo di dunia ini ada benda yang namanya kondom. Terus biasanya gue yang selalu ingetin. Tapi waktu itu gak tau kenapa gue dongok banget, Jinnie. Dongokk! Donggoook! Begooo! Kalian bener, gue begooo banget! Tolol! Bloonn!" pekik Chanyeol bikin kaget bapak – bapak gendut yang kebetulan lewat.
Jinyoung ikut tersentak dan dengan sigap nahan Chanyeol yang kalap namparin pipinya sendiri sambil ngacak – acak rambutnya dengan beringas, "Eh, apaan lo…Yeol! Udah! Berhenti, gak?" tahan Jinyoung sebelum Chanyeol mulai loncat kesana – kemari dan mencakari muka semua orang.
Jinyoung sempat melirik ke sekeliling, rada merinding mendapati belasan muka kepo kini menatap penasaran ke mereka. Dia langsung merasa gak enak. Jangan sampai orang – orang ngira dia lagi bawa kabur pasien RSJ. Pelan – pelan Jinyoung meraih Chanyeol dalam rangkulannya, "Enggak, Yeol. Lu gak bego kok. Lu gak idiot. Lu gak tolol. Udah ya… jangan ribut lagi kayak tadi. Tuh… jadi banyak yang ngeliatin kita." Ucapnya sabar sambil meremas – remas pelan bahu Chanyeol, mencoba mentransfer kekuatan gaib apapun ke raksasa yang kini tampak rapuh itu.
"Gak apa – apa, lu gak perlu ngerendah, kok. Gue emang tolol." ucap Chanyeol dengan senyum getir.
Ngeliat Chanyeol kayak gini, Jinyoung jadi merasa bersalah dan gak enak hati. Apalagi dia sama Sandeul sering ngeledekin Chanyeol yang bego lah, oon lah, bloon lah. Yaa habis mau gimana? Chanyeol emang suka ada – ada aja sih orangnya.
Jinyoung mengusap punggung Chanyeol hangat, menimbulkan rasa nyaman sekaligus tenang, "Enggak, Yeol Lu gak tolol. Lu hanya… lupa. Dan itu… itu manusiawi. Jadi berhenti nyalahin diri lo sendiri. Apalagi disini yang terlibat bukan hanya elo dengan bantal guling yang ada di kasur. Tapi ada makhluk bernama Kris. Nah… seperti yang gue bilang tadi. Berhenti nyalahin diri lo sendiri. Semua orang pernah lalai. Yaahh…nobody's perfect lah." tukasnya dengan nada tenang dan telaten. Jinyoung emang orang yang moody, tapi dia bisa berubah jadi cukup bijak dan dewasa di depan siapapun yang membutuhkan rangkulannya.
"Iyaa…tapi gak ada yang seidiot gue." Chanyeol masih saja menistakan dirinya sendiri, "Gue bego, bego, bego, bego, begooo! Gue sendiri juga heran, kenapa gue bisa bego gini." desisnya bikin siapapun yang melihat akan ikut nelangsa dan buru – buru melempar recehan…eh, tatapan simpati.
Jinyoung meringis. Kalo aja sikonnya lagi gak begini, dia pasti akan nyeletuk konyol: 'Mungkin bautnya ada yang lepas, Yeol'.
"Yeol, kan udah gue bilang… jangan nyalahin diri lo sendiri. Emang dengan ngatain diri lo sendiri bego sebanyak jutaan kali itu bisa memutar kembali waktu? Enggak kan?"
Chanyeol tercenung. Bermacam – macam hal berputar di kepalanya.
"Terus… rencana lo selanjutnya apa?" tanya Jinyoung hati – hati. Dia gak berharap Chanyeol akan langsung menjawabnya detik itu juga. Soalnya masalah begini kan butuh pemikiran yang panjang, gak bisa diputuskan dengan gegabah. But somehow, dia berharap Chanyeol akan meminta pertanggung jawaban Kris sebagai langkah awalnya. Harus! Cowok itu harus tau apa yang dia perbuat! Buatnya sangat tidak fair sekali kalo cuma Chanyeol yang kesusahan mikir ini sendirian. Dan Kris… apa coba maksudnya dia begituan tanpa berpikir untuk pakai pengaman? Memang sih Chanyeol bilang dia yang selalu ngingetin, karena Kris terlalu jerk untuk menahan nafsu segede gunungnya dan buru – buru maen sodok aja. Tapi kan tetep aja harusnya cowok itu tau apa resiko yang harus mereka tanggung jika sampai kebablasan kayak gini. Bukannya Jinyoung mau kasar sih tapi yaahhh… yang idiot disini sebenarnya bukan Chanyeol, tapi cowok itu! Chanyeol mungkin pada saat itu hanya terlalu terbuai dan jadi lupa diri. Tapi Kris? Mana sering ngajakin, sering diingetin, eh… masih gak sadar diri juga! Dasar jerk!
Apa jangan – jangan… cowok itu emang sengaja melakukannya?! Tapi… mereka kan baru pacaran biasa, belum resmi jadi pasutri. Masa sih Kris setega itu? Tega banget dia kalo sengaja! Yang jadi pertanyaannya sekarang adalah… untuk apa dia sengaja? Untuk… 'mempertahankan' Sang pujaan hati? Dengan cara seperti ini?!
Oke. Cukup. Pikirannya mulai horror. Padahal bukan Jinyoung yang ngalamin tapi dia yang pusing berat. Semoga aja bukan karena faktor kesengajaan. Semoga, harap Jinyoung.
Selain itu dia juga ngerasa ada yang aneh dari hubungan Kris dengan Chanyeol. Entah apa. Pokoknya ada yang ganjil aja. Soalnya meskipun ceria, tukang cengengesan, dan pecicilan, Chanyeol itu lumayan tertutup soal keluarga dan kisah percintaannya. Ralat. Bukan lumayan, tapi tertutup banget! Yang Jinyoung dan Sandeul tau, Chanyeol masih punya ibu kandung yang tinggal sendiri di kampung halamannya sana, sementara bokapnya udah lama meninggal. Ya. Hanya itu yang mereka tau.
Sedangkan mengenai kisah percintaannya, mereka hanya tau Kris dan Chanyeol itu sepasang kekasih yang rada nyleneh. Kris itu sex machine yang dulunya playboy bejat (dan sampai sekarang masih bejat), sedangkan Chanyeol si bocah kelewat polos yang mau – maunya aja diajakin ke kasur tiap hari atas nama CINTA. Udah. Cuma itu.
Dan oh ya, jangan lupa soal mimpi buruk yang selalu Chanyeol alami tiap malam. Kalau soal itu… jangan ditanya deh! Mereka malah gak tau apa – apa sama sekali. Emang wajar sih orang bermimpi buruk. Tapi kalo hampir tiap malem gitu siapapun pasti curiga, iya kan? Apalagi Chanyeol tiap kali ditanyai jawabannya beraneka ragam dan aneh – aneh semua, yang mimpi dikejar pocong keramas lah, babi ngesot lah, kuntilanak penunggu gua kelelawar lah, wewe gombel pemakan orang ganteng lah, gimana Jinyoung dan Sandeul gak makin curiga?!
Awalnya emang mereka masih biasa – biasa aja, toh wajar kalo mimpi manusia itu isinya aneh – aneh semua. Jadi jawaban ajaib pun mereka telan mentah – mentah. Malah Chanyeol dulu dikira penakut dan parnoan. Tapi pas diajakin nonton film horror…kok gak pernah takut? Kok setannya malah diketawain? Nah. Inilah yang memicu kecurigaan Sandeul dan Jinyoung. Hingga muncul berbagai macam spekulasi di kepala mereka.
Sandeul malah dengen gebleknya menduga kalo sebenernya Kris adalah jelmaan vampir yang sering nongol di mimpinya Chanyeol dan mengancam akan menerkam namja itu jika dia berani membocorkan rahasia bangsa vampirnya.
Guys, jangan salahin hipotesis sarapnya Sandeul. Toh mereka kan emang gak tau apa – apa. Lagian Chanyeol juga payah banget. Kalo emang mau ngebohong kenapa gak sekalian total aja? Misalnya… jadi cowok super penakut yang baru ngeliat bayangannya sendiri udah pingsan kejang – kejang. Yaahh… memang, yang namanya untuk melindungi privasi butuh pengorbanan yang besar, kawan.
Sementara Jinyoung terlarut dengan pikirannya sendiri, Chanyeol juga masih stuck di satu pertanyaan yang terus berputar - putar dalam kepalanya.
Iya ya… apa yang akan dia lakukan selanjutnya?
Yes, Chanyeol. What you'll gonna do with 'that'?!
.
.
.
.
Motor yang dikendarai Baro meluncur memasuki pelataran parkir sepeda motor di sisi ruas kanan gedung auditorium. Bahkan area parkir sepeda motornya aja udah membludak banget. Mereka sampai nyaris tidak dapat tempat parkiran.
"Gilaa ini yang bagian promosinya hebat beneerr!" puji Sandeul kagum saat turun dari motor. Bahkan temen – temennya Baro yang dibagian ticketingnya aja mengaku kalau tiketnya nyaris terjual habis. Ya wajarlah, spanduk sama balihonya aja ada hampir di seluruh area kampus. Bahkan di sisi kanan dan kiri ruas jalan utama di depan Universitas, yang notabene sering dilewati kendaraan umum, sudah dipenuhi sama umbul – umbul 'Come & Join Us: SPACE WORLD AND UNIVERSE 2015' milik klub IT Fakultas Teknik.
"Iya, gak salah aku nempatkan Hyunsik di bagian itu, Creative and Advertising. Dia emang anaknya bener – bener kreatif." Ucap Baro sambil melepaskan jaket dan menyimpannya di bagasi motor.
"Berarti spanduk, baliho, umbul – umbul, dan fliers semuanya dia yang desain, dong?" tanya Sandeul melotot takjub.
"Iya." sahut Baro singkat, "Yuk, masuk."
Sandeul menurut saja saat Baro mengamit lengannya dan menggiringnya masuk ke dalam gedung.
Baru masuk aja Sandeul langsung di sambut oleh berbagai macam benda – benda luar angkasa yang menggantung di langit – langitnya yang berlatar gelap seperti langit malam. Membuat namja itu berdecak – decak kagum untuk yang kesekian kalinya sambil melongok keatas terus.
"Idenya dateng darimana sih?" tanya Sandeul takjub.
"Darimana kamu pikir?" tanya Baro dengan dagu terangkat bangga.
Sandeul melongo, "Ha? Kamu?"
Baro ngangguk dengan tampang 'Yes, baby! ME!'
Kenapa Sandeul gak surprise ya? Habis moyangnya alien sih yang punya ide. Tapi tetep aja dia salut Baro dan kawan – kawan bisa merealisasikan acara tahunan kayak gini. Jadi di Universitas WS sudah ada peraturan tertulis dari Pak Rektor buat lembaga – lembaga kemahasiswaan dan UKM – UKM untuk ngadain satu kegiatan besar tiap tahunnya. Kalo dalam kurun waktu dua tahun gak ada kegiatan wow yang diadakan, maka siap – siap aja 'digusur'.
Sandeul kembali melongok keatas, asik menatap langit – langit.
Terus saja kagum, sayang. Karena ini baru permulaannya, batin Baro dengan senyum penuh makna.
Dan pastinya…. Baro tidak menyia – nyiakan kesempatan ini untuk…
"Eh…eh… Baro! Apa – apaan nih?! Kok gelap! Siapa yang matiin lampu?!"
"Pssttt….!" Desis Baro dari belakang leher Sandeul, menimbulkan sensasi geli yang langsung menjalar ke seluruh tubuh, "Tenang, sayang. Tenangg…"
"TENANG?! Tenang ap…"
"Sssttt! Tenang, ok?" potong Baro sebelum salah satu pengunjung memanggil satpam untuk mementung kepalanya, "Percaya deh. Aku punya kejutan untuk kamu…" gumamnya dengan suara jahil tingkat tinggi.
Kejutan? Belum sempat Sandeul bertanya lebih jauh, tiba – tiba dia merasakan ada benda lain yang menutup kedua matanya, bukan permukaan kulit, tapi kain. Ya… kain!
"Baro…" Sandeul menggeleng pelan sebagai tanda penolakan, "Apapun yang sedang lo rencanakan… tolong hentikan. Ini gak lucu!" ucapnya tegas dan sedikit mengancam.
"Udaahh, pokoknya kamu tenang aja deh." Sret! Baro berhasil mengikat kain di belakang kepala Sandeul membentuk simpul, "Okkee! Jalaannnn…" Namja itu segera menggiring Sandeul menuju ruang berikutnya.
"Baro… Baro! Kamu mau bawa aku kemana? Kejutan apa sih?!" Sandeul mulai panik dengan tangan yang meraba – raba ke depan kayak orang buta. Takut nabrak tembok terus terjengkang dengan cara tidak terhormat. Sementara Baro hanya berulang kali mengucapkan kalimat: 'Santaii', 'Tenang,' 'Sabar yaa', 'Kamu pasti suka', dan 'Liat aja nanti' tanpa mau ngasih tau kejutan apa yang sedang menanti Sandeul di depan sana. Yaiyalah! Kalo dikasih tau bukan kejutan kan namanya.
Sementara Sandeul sibuk menerka – nerka kejutan apa yang mungkin bisa diberikan oleh alien geek macam Baro, tiba – tiba dia dikejutkan dengan suara sorakan heboh yang sepertinya berasal dari teman – teman Baro.
"Mau kemana, Bang? Buru – buru amat." Celetuk sebuah suara yang Sandeul gak tau siapa.
"Ciee… cikitiewwww!" sahut yang lain bersiut – suit rame. Bikin budek telinga.
"Good luck, Kapten!" yang ini Zico. Dari intonasi suaranya, Sandeul bisa nebak kalo namja itu sedang nyengir lebar dengan tatapan jahil.
"Duileeh… buru – buru amat! Ada lumpia nih. Kagak mampir dulu?"
"Tau nih. Udah gak tahan, yaaaa?"
HAHAHAHA! Semuanya pada ngakak, Sandeul makin heran.
Gak tahan? Gak tahan apa?
Sementara Baro hanya menanggapi semua mulut – mulut iseng itu dengan komentar tenang dan santai. Terus berjalan ke depan tanpa berniat untuk berhenti. Bikin Sandeul makin kewalahan karena Baro terus menggiringnya dengan langkah super cepat dan terburu – buru.
"Baro! Kita mau kemana sih? Pelan – pelan aja, napa? Gue capek nih." keluh Sandeul.
Namun Baro tidak menjawab kali ini, terus saja menggiringnya. Sampai Sandeul bisa merasakan suasana di sekelilingnya berubah menjadi sunyi senyap, tidak ada lagi suara ketawa melengking yang menakutkan, suara tangisan bayi yang memekakkan telinga, suara orang ngobrol ngegosipin kucing tetangganya mati, dan suara sorakan gak jelas dari teman – teman Baro. Sebagai gantinya, Sandeul mendengar suara derit pintu terbuka di depannya, lalu Baro kembali menggamit lengannya dan menggiringnya memasuki suatu ruangan. Ruangan yang ini hening banget. Gak ada tanda – tanda kehidupan. Ini dimana sih?!
"Nah. Kita sampai!" seru Baro. Dari nadanya girang banget tuh orang. Padahal udah bikin Sandeul nyaris kesandung beberapa kali gara – gara jalan kecepetan ala terminator kebelet.
"Sampai?" tanya Sandeul bingung.
Lagi – lagi Baro tidak menjawab dan fokus ngebukain ikatan di belakang kepala Sandeul. Begitu kain tersibak…
"Lho? Lho? Kok masih gelep?!" pekik Sandeul panik. Gelap. Gelap banget! Matanya mengerjap – ngerjap ke segala arah. Mungkin gak ya orang bisa buta mendadak? Soalnya dia sama sekali gak bisa ngelihat apapun!
"Baroo! Apa gue kena kutuk? Kenapa gue gak bisa ngeliat apa – apaaa?!" pekik Sandeul kayak orang jahat di film – film sebelum mulai bertobat.
"Enggak, sayang. Kamu gak kena kutuk. Gak usah pake teriak – teriak, napa? Aku gak budek kok." desis Baro dengan nada pelan dan sabar.
Lho? Bukan kutukan? Syukurlah dia gak…
PROK! PROKK! Belum selesai Sandeul bernapas lega, dia dikejutkan dengan Baro yang tiba – tiba tepuk tangan tanpa sebab.
"Kyungg! Show time!"
Jreng, jrengg…. Ruangan gelap gulita itu kini menjadi sangat… silauuu meennn!
Duhh… apa ini? Sinar ultraviolet? Ini kejutan Baro untuknya? Sinar ultraviolet?!
Sandeul menghalau kedua matanya dengan tangan, matanya mengerjap – ngerjap heboh berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya – cahaya terang di sekelilingnya.
"Kyuung! Lu mau bunuh pacar gue?! Silau, begokk!" pekik Baro ke Kyung yang entah ada dimana.
Sinar pembunuh drakula itu perlahan – lahan mulai berpendar menjadi kerlap – kerlip cahaya warna – warni. Sandeul baru ngeh kalau cahaya – cahaya itu ternyata adalah… kunang – kunang?
Sandeul tergagap takjub. Benar – benar takjub yang mengarah ke terpukau dengan cahaya warna – warni yang ada disekelilingnya, "Ini…"
"Kejutan." tukas Baro dengan senyum manis pelumer hatinya.
"Kunang – kunang pelangi?" tebak Sandeul ngaco.
Baro menggoyang – goyangkan telunjuknya di depan hidung Sandeul, "Ckckck… bukan, bukan. Bukan kunang – kunang. Tapi luar angkasa." ralatnya.
Sandeul mengernyit, "Luar angkasa?" kemudian dia menatap sekelilingnya dengan lebih seksama. Takjub. Iya sih, kalau dilihat – lihat lagi, ruangan gelap dengan kerlap – kerlip cahaya warna – warni ini lebih mirip… miniatur luar angkasa! Sandeul bisa melihat ada delapan planet yang berjejer di depannya, mulai dari Merkurius sampai Neptunus. Hanya saja dalam ukuran lebih kecil. Dan mereka semua bergerak! Ralat, berotasi mengelilingi matahari. Bahkan Bulan–soulmatenya Matahari–pun ada. Tidak hanya planet – planet inti itu yang bergerak, semua bintang – bintang dan galaksi – galaksi di sekelilingnya juga bergerak perlahan. Sandeul merasa tubuhnya seperti benar – benar melayang di luar angkasa yang hampa udara dan melihat keindahan jagad raya dengan mata kepalanya sendiri. Bahkan ada komet numpang lewat di depannya yang terus melaju kearah bumi.
"Ini semua bener – bener…ckckck…" Sandeul yang biasanya bawel dan kritikus kelas kakap jadi kehabisan stok kata – kata, "Kok kamu bisa sih bikin kayak gini?" tanya Sandeul gak nyangka. Bener – bener gak nyangka yang mengarah ke kagum, bukan nada sarkastik seperti biasanya.
Baro tersenyum puas. Sebenernya sih ini cuma ruangan biasa yang dikelilingi cermin dan besarnya juga gak seberapa. Ruangan ini udah dipasangi lampu – lampu LED di langit – langitnya, jadi bisa memproyeksikan luar angkasa mini yang berhasil bikin Sandeul bungkam dengan mulut yang tidak berhenti mangap daritadi. Lalu Kyung? Ya dia ada di ruangan sebelah, sedang memutar film dokumenter luar angkasa dan memproyeksikan ini ke ruangan tepat ke ruangan dimana Baro dan Sandeul berada. Heheh, jenius kan? Brilian kan? Masterpiece kan?
Tapi Baro gak pengen ngerusak momen dengan menjelaskan bagaimana caranya dia membuat semua ini. Lagipula itu buang – buang waktu. Dia kan pengen cepet – cepet… emm… cepet – cepet…
"Gak penting gimana caranya. Tapi kamu suka kan?" tanya Baro dengan seringai penuh rahasia.
Sandeul ngangguk.
"Nah, sekarang kita duduk yuk? Capek berdiri terus…eh, melayang terus." ralat Baro seperti bisa membaca pikiran Sandeul.
Sandeul terkekeh. Dan tanpa banyak cingcong lagi seperti biasanya, langsung duduk. Sekarang planet bumi ada tepat di atas kepalanya. Begitu dia menjulurkan tangan mau menyentuh planet bumi, Baro dengan sigap menahannya.
"Just see and feel it." ucapnya sok canggih dengan tatapan syahdu dan senyum manis pelumer hati.
Bagai terhipnotis, Sandeul menurunkan tangannya dan kembali duduk anteng sambil menikmati semua penampakan menakjubkan ini.
Grep! Tangan Baro udah berhasil nyebrang ke pundak kanan Sandeul. Menarik tubuh bebek bawel itu mendekat dan membenamkannya dalam pelukan hangat.
"Kamu hebat bener bisa bikin semua ini." puji Sandeul. Dan horeee! Untuk yang pertama kalinya! Jangankan pacar sendiri, muji orang aja jarang. Langka malah!
Hebat? Baro cengengesan girang, "Aku gak akan mungkin kepikir mau bikin ini kalo bukan karena kamu juga." tukasnya sok ngerendah. Padahal kepalanya udah nyampe ke langit ke tujuh daritadi, "Tapi kamu suka kan?" tanya Baro memastikan.
"Suka? Bukan suka lagi. Tapi sukaaa banget. Dan…surpriseee!" tukas Sandeul yang gak berhenti nyengir. Sampai - sampai giginya mulai kering.
"Baguslah. Kalo kamu seneng aku ikut seneng dengernya," Ciee… ciee! Sekarang saatnya beraksi! "Eh kamu tau gak yang itu?" tunjuk Baro tiba – tiba ke salah satu bintang berwarna biru keputih – putihan, "Itu namanya Canopus."
Sandeul manggut – manggut.
"Dan yang itu…" telunjuk Baro berpindah ke bintang dengan warna putih kekuning – kuningan, "Itu Capella."
Sandeul manggut – manggut lagi.
Telunjuk Baro berpindah lagi, "Nah, kalo yang warnanya jingga kemerah – merahan itu..." Baro mikir bentar berusaha mengingat – ingat namanya, "Aldebaran."
"Kok namanya aneh – aneh semua? Emangnya yang ngasih nama siapa, sih? Jangan bilang kamu?" todong Sandeul dengan mata memicing curiga.
Baro ngakak, "Ya gak mungkin lah sayang. Masa aku? Yang ngasih nama ya orang – orang yunani kuno. Dan mereka membagi ini semua ke dalam daerah – daerah yang dinamakan rasi. Dan rasi bintang yang kita tau saat ini ada delapan puluh delapan. Terus penamaannya juga bersumber dari mitologinya mereka sendiri." jelasnya singkat. Kalo ribet – ribet takutnya Sandeul malah tewas kebingungan.
Sandeul manggut – manggut sambil menggumamkan 'Ooo' panjang kali ini. Sekali lagi manggut – manggut, dia akan sangat cocok di taruh di taman safari buat gantiin burung beo.
"Orang – orang Yunani itu kosong banget ya hidupnya. Sampai – sampai semua bintang di kasih nama."
Pfrtt! Baro mengulum senyum mati – matian nahan ketawa. Baru kali ini ada yang ngatain orang – orang Yunani kuno kosong banget hidupnya.
"Yaahh… tapi tetep aja sih, dari semua bintang – bintang itu… hanya ada satu bintang yang paling bersinar saat ini…" Baro noleh ke Sandeul, pasang muka romantis, "Dan bintang itu… ada di dekat aku..."
Sandeul gak ngeh. Malah natap balik dengan wajah tolol.
"Kamu."
"Ha?" Sandeul nunjuk dirinya sendiri, "Aku?"
Baro ngangguk sok keren, "Iya. Kamulah bintang yang paling bersinar saat ini… di hati aku." Cieeehhh cieehhh… cikicitooosss! Ahaahayyyy!
Kayaknya sebelum kesini, Baro sempet berguru dulu sama Om Andre Taulany. Nih buktinya dia berhasil bikin Sandeul cengar – cengir nista kayak kuda lumping kebanyakan makan beling.
Sementara Kyung yang nongkrong di ruang sebelah, udah ngibrit ke toilet daritadi. Muntah – muntah.
Tanpa menunggu lama lagi, Baro segera memajukan wajahnya, seinci demi seinci mendekat, hingga kini bibir mereka saling bertautan. Untuk pemanasan awal, dia hanya melumat lembut bibir atas dan bawah Sandeul secara bergantian. Sambil melumat bibir namja kesayangannya, tangan Baro mulai menarik turun kerah kaos Sandeul dan melusupkan tangannya masuk ke dalam. Mengelus dua nipple pink Sandeul menggunakan ibu jari dengan gerakan memutar yang lembut dan bikin Sandeul terangsang setengah mati hingga melenguh panjang dalam lumatan bibir Baro.
"Ohh…shiit~" umpat Sandeul yang keluar menjadi desahan.
Baro menampilkan smirk nakal. Dari lumatan lembut berubah jadi lumatan penuh nafsu birahi. Gak cuma mulut yang beraksi, sekarang lidah juga ikutan beraksi. Sandeul membiarkan saja Baro yang menjadi pemenang adu lidah singkat mereka, hingga kini lidah namja itu mengeksplorasi gua hangat milik Sandeul, menjelajahi tiap sisinya, merasakan sensasi manis bibir Sandeul dan menyesapnya dalam – dalam. Membuat Sandeul kembali mengeluarkan lenguhan panjang yang menggairahkan.
Sekarang Baro jadi 'Turn On'. Buktinya celana jeans yang ia kenakan terasa semakin sempit dan menyesakkan karena 'adik kecil' nya ikutan semangat. Sementara namja dalam pelukannya hanya menatap balik dengan bibir basah dan tatapan full of lust yang seolah menantikan kejutan selanjutnya…
Dan Baro tidak ingin membuat Sandeul menunggu terlalu lama. Satu – persatu pakaian yang ada di tubuh Sandeul berhasil ditanggalkan, tentu saja dengan bantuan tangan cekatan Baro. Sementara Baro baru menanggalkan jaket hoodie dan kaos yang membungkus tubuhnya.
Sandeul menatap Baro heran, "Sayang… kamu gak buka yang dibawah?"
Yang dijawab Baro dengan seringai mesum, "Kamu itu gak sabar banget sih."
Sandeul mempoutkan bibir manyun yang langsung diserang oleh bibir lapar Baro tanpa ba-bi-bu lagi, hingga ciuman panas kembali terjadi. Lumatan, gigitan, desahan, adu lidah, decakan saliva, raupan ganas, semua itu menggema di dalam ruangan…ehmm, luar angkasa yang menakjubkan ini.
Sambil menggeliat erotis dan mendesah nikmat, Sandeul merebahkan tubuh naked mulusnya perlahan – lahan, menyentuh ubin lantai yang dingin. Tapi dia tidak merasa menggigil sedikitpun di bawah kurungan tubuh Baro. Malah rasa hangat yang menjalar di seluruh tubuhnya.
Lumatan Baro berpindah ke leher Sandeul, mencumbu habis di setiap sisi leher namja itu namun tanpa meninggalkan tanda, menjilati jakun namja dibawahnya lalu mendaratkan kecupan disana, kemudian bibir dan lidahnya bergerak turun mengeksplorasi dada bidang Sandeul, mendaratkan hujan kecupan di titik – titik sensitif Sandeul, menggigiti dan meninggalkan bitemark disana – sini, dan tak lupa mengulum kedua nipple pink menggiurkan di bawahnya. Sandeul yang kedua tangannya di pegangi oleh Baro, hanya bisa mendesah keenakan dan membusungkan dada menikmati permainan bibir Baro di tubuh mulusnya.
"Ahhh… engghhh…shhh…" Sandeul melenguh panjang dengan mulut megap – megap yang terbuka lebar. Meraup oksigen di sekelilingnya dengan lapar. Sementara selangkangan ereksinya terus bergesekan dengan selangkangan Baro yang masih terbungkus kain, menimbulkan sensasi nikmat tersendiri. Membuat kedua namja itu mengeluarkan desahan pelan dengan kedua mata tertutup rapat.
"Sekarang saatnya…" bisik Baro dengan suara beratnya yang kini terdengar seduktif. Namja itu menjauh sebentar, melepaskan segala penghalang lalu melemparkannya ke sudut ruangan. Mengekspos penis Baro yang teracung tegak dan siap menyerang. Sandeul pun ngiler seketika.
"Tunggu dulu, masih ada yang kurang." Baro berbalik untuk merogoh sesuatu di saku celananya lalu mengeluarkan kotak kecil berisi 'jimat'. Dengan terburu – buru, Baro membukanya dan mengeluarkan 'jimat' itu. Memakai itu di penisnya sendiri, mengeluarkan botol mencurigakan dari dalam tas ranselnya, menuang sedikit isi botol ke telapak tangannya lalu mengoleskannya ke penis yang kini telah terbungkus itu. Setelah selesai dengan ritual kecilnya, dia kembali merangkak naik di atas tubuh telentang Sandeul.
"Sudah siap?" tanyanya dengan seringai jahil, sengaja menggoda Sandeul.
"Menurut lo?" balas Sandeul sambil mendengus keki.
Baro menampilkan smirk miring yang menawan lalu memposisikan selangkangannya di depan paha Sandeul yang terbuka lebar. Mengundang 'Tamu spesial' untuk segera masuk.
Tapi baru aja Baro mau nyodok holenya Sandeul, gerakannya yang sudah setengah jalan jadi terhenti mendadak begitu mendengar suara gedebuk yang sangat keras dari ruang sebelah.
"Shit! Kyuuungg! Apa kesepakatan kita tadi?" seru Baro emosi kuadrat. Dasar mentimun itu. Udah di kasih tau masih aja curi – curi dengar!
"So…sori, bro. Soriii. Gue cuma mau ngambil…eng, dompet gue yang ketinggalan. Have fuunnn! Bubye!" BLAM!
Hening.
Setelah yakin seratus persen manusia timun tadi bener – bener sudah pergi, Baro kembali fokus ke misi utamanya. Perlahan – lahan penisnya memasuki hole Sandeul, membuat namja itu tercekat merasakan perih di bagian bawahnya dan refleks tarik napas panjang – panjang.
"Aww…aw…mmphh…"
Baro membungkam sepasang bibir di bawahnya dengan ciuman lembut, untuk mengalihkan rasa sakit itu. Sambil kembali melumat pelan bibir Sandeul, Baro juga memaju – mundurkan pinggangnya dengan gerakan perlahan dan teratur. Tidak ingin terburu – buru menaikkan tempo.
Keduanya melenguh nikmat secara bersamaan.
"Ahhng… terussh… leb-bihh.. cep-paath…" desah Sandeul dengan mulut bergerak – gerak dan mata setengah terpejam.
Suara decitan kulit kini bergema di seluruh penjuru alam semesta saat Baro menaikkan temponya dan terus menabrak prostat Sandeul dengan posisi kedua paha Sandeul yang berada di atas tangan Baro, sementara Baro yang terus memaju – mundurkan bagian bawah tubuhnya dengan keadaan bersimpuh di depan bokong Sandeul.
Sandeul juga mendorong pinggangnya ke penis Baro yang keluar masuk, "Iyaa… begitu…terush sayaangg…yeaahhh~" desahnya kemudian menggigit bibir bawahnya secara sensual.
Selama kurang lebih lima menit, Baro masih bertahan terus menabrakkan penisnya di prostat Sandeul, sementara namja imut di bawahnya terus mengocok batang kemaluannya naik turun menggunakan sebelah tangan dengan tempo super cepat sambil mengeluarkan suara desahan berkali – kali.
"Ahhh…aku akan…" Tau – tau cairan putih itu menyembur keluar sebelum Sandeul sempat menyelesaikan kalimatnya.
Baro yang melihat itu menampilkan smirk lagi, terus nyolek dikit cairan yang kini berleleran mengotor dada dan perut Sandeul, kemudian menjilatinya seperti serigala lapar, "Lezat…" gumamnya lalu tertawa renyah.
Baro kembali memaju mundurkan pinggangnya dengan segenap tenaga, dan mendesah panjang dengan kepala mendongak keatas merasakan jepitan dinding hole Sandeul yang semakin menguat di penisnya.
"Shit… inii….erghh…" gerakan maju – mundur Baro semakin melambat saat ia merasa sebentar lagi akan mencapai klimaks. Dan dengan sekali sentak, cairan itu menyerbu keluar dan memenuhi lapisan 'pelindung' Baro. Namja itu buru – buru menarik penisnya sebelum cairan spermanya yang melimpah ruah itu berceceran di hole Sandeul.
Congratulations. Baro dan Sandeul baru saja bercinta di luar angkasa!
Baru aja Sandeul mau merebahkan kepalanya di dada bidang Baro, tiba – tiba ponsel di tasnya bernyanyi riang melantunkan lagu ballad yang mellow abis.
"Siapa sih? Ganggu aja!" Sandeul bersungut – sungut sambil merangkak ogah – ogahan menuju celananya yang tergeletak di sudut lain ruangan. Merogoh sakunya lalu mengeluarkan ponsel dari dalam sana.
Tut. "Halo. Ooh… elu, kirain si jerapah. Iya, gue masih ama Baro. Napa lo?" tanya Sandeul gak iklas.
"Deul! Lo pulang deh sekarang. Harus. Penting! Cepet!" serang suara panik di seberang sana dengan nada serius dan tegas.
Apasih? Seenak jidadnya aja! "Eh…eh, tunggu! Apaan lo nyuruh – nyuruh gue pulang? Ada apa sih? Kok keliatannya urgent banget? Terus si Chanyeol mana?"
"Nah! Itu dia yang mau kita omongin. Karena ini emang urgent, makanya lu cepet pulang! Ngerti? Titik. Kagak pake koma."
Waduh. Pikiran Sandeul langsung dihantui perasaan gak enak.
"Tu…tunggu… emangnya Chanyeol kenapa?" Sandeul mulai ikutan panik
"Duuh… pokoknya lu pulang dulu deh. Kagak ada waktu ngejelasin sekarang! Cepet! Gak pake lama dan gak pake macet!"
Klik. Sambungan terputus.
Sandeul bengong. Ada apa ya?
"Sayaang." sebuah tepukan di pundak Sandeul membuat namja itu terlonjak dramatis, padahal Baro nepuknya pelan aja lho, "Kamu kenapa? Siapa tadi yang nelpon?" tanya Baro heran melihat reaksi berlebihan Sandeul.
"Baro… gue harus pulang. Anter gue pulang. Sekarang!"
.
.
.
.
Kris melempar hapenya barbar ke jok belakang saking gondoknya daritadi nelpon gak diangkat – angkat melulu.
Sial! Kenapa lagi sih bocah itu?!
Dengan dengusan napas keras, Kris mengusap wajahnya frustasi. Sudah dari kemaren ditelponin panggilannya dialihkan melulu. Terus bbm dan line pun gak pernah di read sama sekali. Di sms juga sama aja, sampai – sampai memori hapenya Kris full isinya sms semua, balesannya Chanyeol gak nongol – nongol juga.
Disaat Kris nyaris sinting karena kabar dari Sang kekasih tak kunjung datang, kabar keberadaan Chanyeol justru datang dari Jonghyun yang mengatakan kalau namja itu melihat Chanyeol sedang bersama dengan temannya baru saja melangkah keluar dari pintu gerbang rumah sakit tempat Jonghyun sedang magang saat ini.
"Terus? Sekarang mereka dimana?" tanya Kris setelah berhasil menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Wahh… kalo itu sih…kurang tau gue. Soalnya gue juga buru – buru banget tadi ada panggilan emergency." jelas Jonghyun dengan nada agak menyesal.
Kris berdecak. Tidak tau mau marah ke siapa, walhasil setir mobil yang jadi sasaran pukulan, "Mereka kearah mananya lo sempet liat gak?" korek Kris.
"Tadi sih gue ngeliatnya pada jalan kearah perumahan, kayaknya pada mau langsung balik. Kenapa gak lo cek ke rumahnya aja sih?"
Goddamnit! Kenapa gak kepikir ya? Gara – gara emosi terus, Kris sampai jadi bego.
"Oke, bro. Thanks infonya." tukas Kris dan langsung menutup telponnya setelah Jonghyun mengucap 'Sip!'.
Dengan rahang terkatup rapat, gigi gemeletuk dan tatapan yang seperti ingin membelah jalanan, Kris segera melajukan mobilnya menyusuri jalanan menuju ke area perumahan tempat Chanyeol tinggal.
.
.
.
.
Sandeul membeku. Sudah enam menit berlalu tapi ketiga namja itu belum juga bersuara. Baik Chanyeol maupun Jinyoung juga tidak ingin mengusik Sandeul yang sedang asik dengan pikiran sendirinya. Jinyoung aja yang diceritain untuk kedua kalinya sampai sekarang shocknya belum habis, apalagi Sandeul yang baru – baru denger sekarang versi lengkap cerita Chanyeol dari awal sampai akhir.
Mulai dari Chanyeol yang perutnya udah 'isi' selama satu minggu tiga hari, terus mimpi buruknya yang ternyata…mengenaskan, lalu Kris yang dengan lihainya memanfaatkan kelemahan Chanyeol pake bawa – bawa nama Bundanya segala demi mempertahankan hubungannya, dan juga persoalan rumit keluarganya di masa lalu antara nyokapnya Chanyeol dengan bokapnya yang ternyata adalah ayah kandung dari cowok yang nyaris saja membunuh dan memperkosa Chanyeol. Cowok yang seumur hidupnya terus menyimpan dendam dan menantikan saat – saat agar dia bisa membalaskan dendam ibunya yang mati bunuh diri karena ditinggal pergi oleh sang ayah demi nyokapnya Chanyeol.
Jadi bokapnya Chanyeol dengan ibu cowok itu menikah karena perjodohan dari keluarga kedua belah pihak. Biasa, faktor keuangan dan politik yang menjadi alasan utama. Pokoknya di dunia ini, jika sudah uang yang berbicara, segala sesuatunya menjadi mungkin. Tapi sayangnya, materi tidak dapat merubah ketetapan hati. Setidaknya itulah dilemma yang selalu dialami oleh bokapnya Chanyeol. Menikahi orang yang tidak dia cintai meskipun orang itu adalah teman akrabnya dari kecil. Berbeda dengan bokapnya, ibu cowok itu justru sudah lama memendam perasaannya dari kecil, dan menikahi bokapnya Chanyeol sama saja dengan Big Dream Comes True. Tidak peduli jika yang bersangkutan tidak memiliki perasaan yang sama dan mereka bersatu hanya karena faktor perjanjian tertulis diantara kedua belah pihak.
Singkat cerita, sudah lama menikah dan memiliki keturunan, bokapnya Chanyeol tidak juga merasa bahagia dengan apa yang dia miliki. Kehidupannya memang bergelimpangan harta dengan karir cemerlang yang tiada hentinya, dikarunia dua anak yang cerdas – cerdas, perusahaan ada dimana – mana, punya rumah sepuluh yang masing – masing rumah diisi setidaknya dua mobil yang harganya kalo digabungin bisa untuk beli pulau plus bangun penginapannya sekalian.
Namun semuanya berubah seratus delapan puluh derajat ketika sang bokap mulai berkenalan dengan seorang wanita di sebuah kedai minuman kecil. Tidak. Wanita itu bukan pengunjung kedai atau anak pemilik kedai. Melainkan cuma seorang pelayan biasa. Tapi pertemuan pertama itu kayaknya berkesan banget buat bokapnya Chanyeol, sampai – sampai tiap pulang kerja dia selalu datengin kedai itu. Kadang cuma buat ngerokok doang, kadang cuma pesen minuman sebotol terus pulang. Apapun modus yang bisa dilakukan untuk menarik perhatian si pelayan cantik yang telah berhasil mencuri hatinya. Gak peduli, mau ada petir menyambar – nyambar kek, angin topan, badai katrina, hujan darah, pokoknya dia jabanin aja demi bisa bertemu muka dengan sang wanita pujaan hati.
Sering ketemu gitu gak salah dong kalau kemudian muncullah benih – benih cinta diantara mereka? Jadi nyokapnya Chanyeol yang udah aware dengan perhatian 'pelanggan abadi' nya itu, perlahan – lahan mulai masuk ke kehidupan bokapnya. Mulai dari janjian ketemuan biasa di suatu rumah makan mewah, sampai ke janjian ketemuan intim di sebuah hotel mewah. Tapi sayang beribu sayang, kisah percintaan mereka harus kandas karena udah keburu ketauan sama istrinya. Nah. Semenjak saat itu, hijrahlah bokapnya Chanyeol sekeluarga ke Australia atas permintaan dari ibu cowok itu yang takut dengan kehadiran wanita lain dalam kehidupan suaminya. Tapi sekali lagi sayang sejuta sayang, nyokapnya Chanyeol udah keburu hamil duluan.
Singkat cerita lagi, dua tahun kemudian, bokapnya Chanyeol balik lagi ke korea dengan membawa pulang anak istrinya. Entah kayaknya emang udah takdir atau emang udah jodohnya, sang bokap dipertemukan kembali sama nyokapnya Chanyeol di salah satu rumah makan yang menjadi tempat favorit mereka dulu, dengan Chanyeol kecil yang saat itu sudah berusia setahun lebih.
Nah, disitulah drama dimulai, bokapnya Chanyeol membawa pulang wanita yang dia cintai beserta anak hasil hubungan gelapnya dan mengatakannya secara gamblang kepada istri sahnya kalo dia ingin menikahi nyokapnya Chanyeol. Terbukti pria itu tidak main – main. Dua hari setelah perceraian mereka, dia beneran menghilang dari kehidupan mantan istrinya dengan membawa pergi keluarga barunya jauh – jauh. Meninggalkan semua harta kekayaannya dan berpindah ke tempat yang baru untuk memulai kehidupan baru.
Wanita macam apa coba yang bisa tenang – tenang saja melihat orang yang sangat dia cintai pergi dengan wanita lain?
Lama dilanda stress yang berkepanjangan, karena tidak kuat menahan siksa batin dan gunjingan miring dari orang – orang, ibu cowok itu akhirnya jadi gila dan setahun kemudian bunuh diri di rumah sakit jiwa tempat ia dirawat. Meninggalkan dua anaknya yang masih sangat kecil – kecil dan terpaksa harus diasuh oleh kakek nenek mereka.
Berita duka itu ternyata sampai juga ditelinga bokap nyokapnya Chanyeol lewat teman lama sang bokap. Itu yang bikin nyokapnya Chanyeol terus diserang perasaan bersalah sampai sekarang. Bahkan meskipun suaminya telah meninggal dunia tiga tahun yang lalu, nyokapnya Chanyeol masih saja tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri. Makanya dari kecil Chanyeol udah diwanti – wanti untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti dia dulu.
"Jangan jadi pembunuh dan perusak hubungan orang." Itu pesan yang berulang kali selalu diucapkan Bundanya Chanyeol.
Terus perihal mimpi buruknya, Chanyeol justru telah berhasil melupakan nama dan wajah cowok itu. Tapi anehnya mimpi seperti insiden kelam beberapa tahun yang lalu itu masih terus saja menghantui sampai sekarang. Seperti semuanya baru terjadi kemaren sore. Chanyeol bahkan masih ingat dengan jelas kata – kata cowok itu yang paling menghantam batinnya:
"Kalo aja nyokap lo yang pelacur itu dan lo si anak haram gak muncul dan jadi pengacau, nyokap gue gak akan mati!"
Chanyeol tersentak sadar saat dia merasakan seseorang merangkul pundaknya.
"Yeol…jadi beneran nih gak mau cerita ke Kris dulu soal kehamilan lo?"
Chanyeol mengalihkan pandangannya ke Jinyoung yang kini tengah merangkulnya, terus menghela napas panjang, "Kalian sekarang udah tau kan perjanjian diantara gue dan Kris? Gimana kalo itu malah dia jadikan boomerang ke diri gue lagi?"
Jinyoung terdiam. Iya juga ya? Secara ini yang dibicarakan Kris gitu loh. Manusia paling intrik sedunia.
Sandeul menggaruk kepalanya frustasi, "Intinya lo gak mau ngasih tau dia dulu?"
Chanyeol menampilkan senyum penuh arti, "Gue pasti akan ngasih tau dia, tapi gak sekarang."
"Dan soal rencana lo tadi… lo yakin?" tanya Sandeul masih agak ragu tentang rencana 'Ayo beri pacar kita sedikit pelajaran'–nya Chanyeol.
Kalo tadi seringai penuh arti, sekarang cengiran penuh gigi, "Anggep aja gue ini prajurit yang sedang melakukan kudeta kepada komandannya." tukasnya yakin. Keputusannya sudah final. Tidak bisa diganggu gugat.
Sandeul dan Jinyoung saling bertukar pandang.
"Gue sih setuju setuju aja sama Chanyeol, apalagi ngadepin jerk guy macem Kris tidak cukup hanya dengan bicara. Tapi dengan tindakan. Tindakan dibalas dengan tindakan. Kris udah manfaatin elo dengan menggunakan masa lalu lo yang kelam itu demi kepentingannya…ralat, demi 'cinta' maksud gue. Tapi… come on. Nenek – nenek pusing juga tau itu bukan hal yang bener. Apa maksudnya coba nyimpen foto – foto lo kayak gitu selama bertahun – tahun?" ujar Sandeul gak habis pikir.
"Kalo menurut gue sih masalah lo sama dia cuma miskomunikasi alias kesalahpahaman. Ya kali aja setelah dengerin apa mau lo, dia bisa… berubah, maybe?" yang ini Jinyoung.
Sandeul melengos, "Berubah? Berubah jadi apa? Power ranger pink? Lo pikir merubah orang sama mudahnya dengan membalik telapak tangan bayi?" tukasnya sarkastik. Seperti biasa. Sandeul gitu lho, "Yang realistis dikit. Lo gak denger apa yang Chanyeol bilang tadi? Dia udah banyak kali 'berunding' dengan Kris dan hasilnya tetap nol besar. Kris tetap begitu dan bertindak sok kuasa." tambahnya sambil membentuk tanda kutip dengan jari. Terus noleh ke Chanyeol, "Iya kan, Yeol?"
Chanyeol menjentikkan jari, "Nah, maka dari itu… kalian mau kan ngebantuin gue?"
BUKK! Punggung Chanyeol kena tamparan janda super dari Sandeul, "Yaiyalah, Yeol! Masa sih kami gak mau?"
Chanyeol meringis nelangsa. Hih! Dasar bebek mutan! "Mau ya mau aja, gak pake gebuk juga kali!" protesnya sambil ngelus punggung.
"Iya, kita ini kan prens. Dan sebagai teman yang baik, harus menolong temannya yang sedang dilanda bencana." Jinyoung puk – nepuk pundak Chanyeol sok asik, terus gak lama mikir, "Tapi… jujur aja, gue salut banget ama lo. Bisa sesabar itu ngadepin Kris. Kalo gue pasti udah gantung diri di pohon toge."
"Heh, anak kuskus! Cuma plankton yang bisa mati setelah gantung diri di pohon toge." balas Sandeul nyablak.
Berhasil. Chanyeol yang mukanya keruh sekarang ikut cengengesan juga. Meskipun dikit banget tapi yang penting gak sekeruh tadi.
"Ciee… calon mamah muda…" empat deret alis naik turun bareng – bareng persis grup ulet daun obesitas yang lagi joget breakdance.
Sialan!
.
.
.
.
Kris bingung mendapati rumah kosan Chanyeol hening total dan tertutup rapat seperti sudah bertahun – tahun tidak pernah dihuni manusia. Tapi dasar Kris orangnya nekat, dia panjet aja tuh pagar rumah sambil tolah – toleh dengan muka was was. Untung aja suasana komplek hari itu lagi sepi – sepinya. Coba kalo enggak? Bisa – bisa si Kris dikeroyok rame – rame terus di seret ke rumah Pak RT.
Kris berjalan cepat melintasi pekarangan depan menuju ke teras utama, kemudian mengetuk pintu keras – keras, "Chanyeol! Sayang! Aku tau kamu di dalam! Sayaaang… buka pintu!"
Sunyi. Tidak ada sahutan. Tidak ada suara langkah kaki yang datang dan membukakan pintu.
"Chanyeol! Buka pintu! Chanyeol!"
Tetap gak ada yang nyahut.
Kris menajamkan pendengaran. Berusaha menangkap suara sekecil apapun. Tapi kosan Chanyeol benar – benar 'tenang'! Gak ada suara siaran TV, gak ada suara orang lagi nyuci piring, gak ada suara orang ngobrol sampai ngakak heboh. Pokoknya gak kayak biasanya deh.
Ini benar – benar aneh. Masa sih ketiga – tiganya gak ada di rumah? Terus tadi Jonghyun bilangnya habis dari rumah sakit mereka langsung mengarah ke jalan pulang.
Kris seketika menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Ini terlalu ganjil baginya.
"Jadi begini ya cara kamu sekarang? Petak umpet? Brillian. Sooo mature." gumamnya sarkastik sambil berdecak sinis.
Kris memutar hendel pintu. Benar – benar terkunci. Lalu digedornya lagi pintu dengan kekuatan ekstra sampai – sampai jendela disekitarnya juga ikut bergetar, "CHANYEOL!"
Fuck! Kris mengeluarkan seluruh isi kebun binatang sambil mengacak – acak rambutnya emosi tingkat tinggi. Bodo amat sekarang rambutnya jadi ngejigrak kayak rambut profesor stress yang habis kena badai mahadasyat.
Kris melangkah mundur beberapa senti. Lalu dipejamkannya kedua mata dan ditariknya napas dalam – dalam, "Yeol… sayang?" panggilnya kali ini dengan lembut, "Sayang, bisa tolong keluar sebentar? Aku cuma mau bicara baik – baik sama kamu. Aku janji gak akan ada tatapan intimidasi atau sikap memaksa yang kayak biasanya. Kita bisa selesaikan ini dengan baik – baik. Tolong jangan bersikap kayak anak – anak gini."
Tetap saja sunyi.
Kris meletakkan kedua tangannya di pinggang, nyaris putus asa, "Jadi tolongg… bisa kamu keluar? Bentaarrrr ajaaa. Ayolah sayang, jangan bikin semuanya makin rumit."
Sekali lagi… hasilnya nihil! Tetap tidak ada tanda – tanda kehidupan.
Kepala Kris udah bukan berasap lagi, tapi udah ngeluarin tanduk kambing bandot, "Kurang ajar!" geramnya.
Bukan Kris namanya kalo dia gampang putus asa, cowok itu sekarang mengitari seluruh rumah sambil mengintip ke dalam jendela. Mulai dari kaca – kaca jendela yang ada di ruang tamu, ruang tengah, dapur, ruang makan, semuanya dia intipin. Sampai ventilasi kecil kamar mandi di dekat tangga juga tak luput dari inspeksi. Jaga – jaga jangan sampai dia nemuin minimal sebiji manusia yang lagi jongkok – jongkok di situ. Bukankah kamar mandi tempat persembunyian yang cukup perfect?
Tapi sayangnya, udah lama muter – muter sampai kegantengannya luntur sedikit, Kris tetap juga tak menemukan tanda – tanda kehidupan di dalam ruangan – ruangan yang sudah dia intip tadi.
Kris beringsut mundur ke pekarangan, kepalanya melongok keatas, ke kaca – kaca jendela yang ada di lantai dua. Tempat dimana semua kamar berada. Dan Kris juga masih cukup waras untuk tidak memanjat naik dan jadi sorotan para tetangga. Terlalu beresiko.
Kemungkinan terbesar 'buronan' yang dia cari ada di salah satu kamar itu. Meringkuk dalam - dalam dengan tampang siaga satu. Kris menampilkan smirk miring membayangkan wajah ketakutan Chanyeol yang lagi ngumpet di kolong tempat tidurnya. Sial! Memangnya dia ini dianggap apa? Semacam pembunuh berantai, gitu?
Masih tidak ingin menyerah. Kris mengubah taktik. Bukan Chanyeol yang dia panggil, tapi kedua teman – teman Chanyeol. Kris menempatkan kedua tangan disekitar mulutnya, membentuk corong, "Sandeullll! Jinyouungg! Kalian ada di dalam kan? Tolong biarkan gue bicara dengan Chanyeol. Kami cuma nyelesaikan masalah kami baik – baik. Udah. Itu aja!" Napas Kris megap – megap naik turun. Capek.
Satu kata. Hening.
Motherf-
Shit! Of course. Mereka pasti juga sudah kena hasut untuk diajak berkomplot.
Kris benar – benar putus asa kali ini. Sudahlah. Masih ada hari esok. Setidaknya dia masih bisa menemui pacarnya itu di kampus. Namja itu berjalan menjauh, kembali memanjati pagar besi, masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, dan melajukan mobilnya menjauh dari rumah kekasihnya yang 'kosong melompong' itu.
Sementara itu di kamar Sandeul, ketiga namja melongokkan kepalanya bareng – bareng di jendela.
"Aman, Yeol. Dia udah pergi." Sandeul mengacungkan jempol.
Chanyeol hanya menampakkan ekspresi senyum puas, tapi sebenarnya nyeri di dalam. Apalagi mendengar panggilan – panggilan menyayat hati tadi. Seumur – umur baru kali ini seorang Kris mengucap kata 'tolong' sebanyak itu. Kata 'tolong' bagi Kris sama saja dengan ucapan sakral yang tidak bisa diucapkan sembarangan. Apa dia sudah seputus asa itu?
Chanyeol menggeleng, buru – buru mengusir rasa belas kasihan di hatinya. Tidak. Belum. Dia gak boleh lemah. Atau Kris akan terus ngelunjak dan menginjak – injak harga dirinya. Ini belum seberapa. Jika dia menyerah sekarang, Kris hanya akan menatapnya sambil melempar senyum 'Sudah kuduga, kamu emang gak bisa hidup tanpa aku.' Nganggep remeh banget!
Jinyoung menyilangkan tangan di depan dada, "Aman sih aman, cuma pertanyaannya sekarang…sampai kapan lo begini?"
"Sampai kapan?" ulang Chanyeol sambil menatap dua wajah di depannya bergantian, kemudian tersenyum mantab, "Sampai dia nganggep gue manusia."
Dengan begini, Chanyeol resmi mengibarkan bendera perangnya.
.
.
.
.
Rupanya perlawanan Chanyeol berhasil menginspirasi Jinyoung. Sorenya dia langsung mendatangi rumah teman lamanya, Minho.
Namja itu terang aja kaget. Sudah lama gak ketemu semenjak reuni SMA mereka tujuh bulan yang lalu, Jinyoung baru kali ini nongol lagi di teras rumahnya.
Jinyoung melambai sekilas dengan gummy smile khasnya, "Hai."
"Jinyoung! Weits…apa kabar lo?" Minho segera saja memberi pelukan beruang ke Jinyoung, "Kemana aja lo? Tumben inget gue."
"Iya, lagi pengen aja inget elo." tukasnya kalem.
Minho terkekeh, "Yuk, masuk. Diluar dingin."
"Baguslah, gue kirain tadi bakal lesehan disini." jawab Jinyoung dengan senang hati saat Minho merangkul bahunya dan menggiringnya masuk.
Minho tertawa. Mereka udah akrab dari dulu, udah kayak saudara. Meski awalnya Minho sempat punya perasaan khusus ke Jinyoung, tapi itu semua udah lama berakhir semenjak pernyataan cintanya ditolak. Gak apa – apa. Patah hati udah biasa. Lagipula mereka tetap ceesan sampai sekarang.
Jinyoung menghempaskan diri di sofa, "Lo masih mendaki sampai sekarang?"
Minho duduk di dekat Jinyoung, "Masih dong. Apalagi baru – baru ini gue yang ditunjuk sama dedengkot – dedengkot gue di mapala buat jadi perwakilan kampus bareng kelima temen gue."
"Oh ya? Kegiatan apa emang?" tanya Jinyoung penasaran.
"Itu, acara tahunannya Mapala Fakultas Teknik di kampus lo, marathon lima gunung. Yaa… jadi kegiatannya itu macem kerjasama dengan Mapala Teknik dari kampus – kampus lain, istilah kerennya sih brothership." jelas Minho, "Lo emang gak tau? Bukannya pacar lo anak mapala ya?"
Haaa… boro – boro tau. Kalo ketemu aja hampir tiap saat ribut melulu. Tapi dari penjelasan Minho tadi memunculkan sebuah pemikiran di kepala Jinyoung. Justru itulah tujuan utamanya datang kemari.
"Eh… emangnya itu gak boleh ya kalo ada orang luar ikut?" tanya Jinyoung penuh harap.
Kening Minho terlipat heran, "Orang luar? Maksudnya volunteer gitu?"
Kepala Jinyoung manggut – manggut.
Minho mengulum senyum, senyum heran lebih tepatnya, "Kenapa emang? Lo mau ikutan?"
Jinyoung memainkan kesepuluh jarinya gusar, "Yaa… kalo boleh sih…" terus cengengesan dengan tampang konyol.
Minho menatap Jinyoung sangsi, "Lu gak becanda kan?"
"Apa gue keliatan becanda?" tanya Jinyoung balik. Rautnya serius kali ini.
Minho makin heran, terus garuk – garuk kepala, "Lu anak WS, tapi mau ikutan di Myeongdoo?"
Jinyoung pasang muka polos sok imut, "Emang kenapa?"
"Jinnie… oke, gue gak masalah sih sebenernya kalo lo mau gabung di kami. Tapi lo tau kan mapala itu bukan ekskul tamasya bareng temen?"
Jinyoung mendesis sebal sambil mutar bola mata keki, "Iya gue tau. Tau banget malah. Tapi gue kan mau ikut berpatisipasi juga sekali – sekali…" ucapnya dengan nada memohon, "Ayolaahh… pliss?"
"Apaan lo plas plis plas plis? Cuplis?" Minho sok plesetan bikin Jinyoung makin gondok.
"Minho. Gue serius!" tandasnya.
"Ini bukan masalah serius apa enggaknya. Masalahnya ini tuh bukan pendakian untuk pemula. Lima gunung sekaligus! Lo kan masih awam banget. Belum lagi lo gak ada basic – basic pendaki sama sekali."
Grggh! Sama aja kayak Gongchan!
Terpaksa deh harus curhat. Lagipula mustahil untuk ngebujuk Minho ngebolehin dia ikut tanpa harus membuat cowok ini curiga. Jinyoung gitu lho, apa sih motifasinya? Orang yang paling tidak tertarik dengan hiking, terus tiba – tiba pengen ikut mendaki. Dan pendakian perdana langsung lima gunung sekaligus pula. Itu sih bukan nekat lagi namanya, tapi gila! Ini aja kalo gak lagi mengemban 'misi khusus', dia juga akan berpikir milyaran kali untuk ikut.
"Jadi… ini semua demi… si doi, ralat, revenge?" Minho berusaha mati – matian untuk tidak ketawa.
"Kenapa lo? Masalah?" tanya Jinyoung sewot ngeliat muka geli Minho.
Minho berdecak sambil geleng – geleng kepala, "Ya udah, gue gak masalah sih sebenernya, asal lo tahan aja ikut latihannya. Tiap sore lho. Ini lima, bukan satu. Dan lo pemula, gue gak mau latihannya yang abal – abal. Dan sebelum berangkat, gue mau ada pengenalan medan sekali."
Jinyoung mengibaskan tangan, "Terserah elu! Yang penting gue ikut." Habis itu dia mikir, "Terus… peralatannya gimana?"
"Ya lo beli lah."
"Tapi gue gak tau peralatannya apa aja." jawab Jinyoung lesu sambil mempoutkan bibir.
Dasar amatir! "Ya udah, lo gak usah pikirin itu dulu deh. Soal peralatan gue ada, entar gue yang siapin."
"Beneran?"
"Iya, masa boongan?"
Senyum Jinyoung melebar, "Wah! Makasih, sob! Lo emang sohib gue yang paling baek sejagad raya. Gak salah gue minta tolong ama elo." ucapnya sambil nepuk – nepuk lengan Minho girang.
Minho mencibir, "Gombalnya entar aja kalo udah berhasil, sekarang lo mau minum apa? Jus mangga pake susu?" tanya Minho udah tau minuman favorit Jinyoung dari jaman orok.
"Nah iya, itu aja."
.
.
.
.
Keesokan harinya, Chanyeol yang punya janji ketemuan sama Changmin udah ngetem di cafet kedokteran. Untung aja Changmin orangnya gak tukang ngaret, jadi jam sebelas teng dia udah nongol dengan senyum memukaunya.
"Hai, gue tepat waktu kan?" tanyanya sambil duduk di bangku di depan Chanyeol, "Kamu udah pesen?"
Chanyeol ngangguk sopan, "Udah tadi hyung."
"Mbak, mbak…" Changmin manggil salah satu mbak mbak pelayan yang lagi asik colek – colekan sama mas mas cleaning service. Dengan muka males, karena acara bergenit – genit rianya di interupsi, mbak mbak pelayan itu datang nyamperin, "Saya pesen Jjajangmyeon sama Milkshake vanilla ya? Semuanya satu."
Setelah mencatat pesanan, mbak mbak pelayan itu langsung ngeloyor pergi.
"Kamu gak ada kuliah hari ini?" tanya Changmin sambil ngeluarin laptop dari dalam tasnya.
"Kuliah? Ada sih. Tapi nanti jam setengah dua belas."
"Nah, kamu tadi nyampe kampusnya jam berapa?"
Chanyeol ngeliatin jam tangannya, "Yaa… jam sepuluh lewat empat puluh lima kalo gak salah tadi."
Changmin melotot agak kaget, "Terus dari dateng kamu langsung kesini?"
Chanyeol ngangguk salah tingkah. Salah tingkah karena takut Changmin salah paham dan semangat banget mau ketemu dia. Padahal niatnya gak langsung nyamperin kelas sengaja mau ngindarin Kris dulu.
Untung aja Changmin gak ambil pusing dan langsung ngidupin laptop, "Oh iya sori tadi di rumah gue gak sempet masukin di fd. Entar kamu aja deh yang pilih – pilih sendiri. Bebas. All free!" katanya dengan nada ceria. Terus setelah halaman utama windows muncul di laptop, dia pindah duduk di sebelah Chanyeol. Membuka folder Rock Music terus nyorong laptopnya ke Chanyeol, "Di situ semua musik rock mulai dari barat sampai japanese ada. Silahkan. Jangan malu – malu."
Chanyeol tersenyum canggung, makin canggung saat Changmin tiba – tiba pindah di sebelahnya terus duduknya deket banget. Nyaris nempel malah! "I…iya, hyung. Makasih." Dia langsung ngeluarin fdnya sendiri terus di tancepin ke laptopnya Changmin.
"Paramore suka gak?"
"Yaa… lumayan sih." jawab Chanyeol.
"Kalo gitu kamu harus dengerin lagunya yang ini dan yang ini, terus…" Changmin sibuk nunjuk – nunjuk sambil ngejelasin, sementara Chanyeol manut aja masukin lagu – lagu rekomendasi dari Changmin.
Duuh… Changmin ngapain sih duduknya deket – deket gini? Bangkunya kan masih luas. Chanyeol gak tenang sendiri.
"Lah? Kok dihapus?" tanya Changmin kaget bikin Chanyeol ikut tersentak. Ha? Hapus? Apanya yang dihapus?
"Itu." tunjuk Changmin ke layar laptopnya, "Kamu baru aja ngapus lagu yang baru gue download tadi."
Ah? Masa? Chanyeol melirik ke bawah dan baru sadar kalo tadi dia ketuker antara tombol 'Delete' dan tombol 'Backspace'. Goblokkk! Seenaknya aja ngapus lagu orang. Meskipun dia gak sengaja kan tapi gak enak sama Changmin nya. Ini efek grogi nih pasti.
Chanyeol langsung mati gaya. Bingung mau bereaksi gimana. Mematung dengan muka bengong yang aneh dan pastinya tolol.
"Ya udah gak apa – apa. Masih bisa download lagi kok, kamu kagetnya gak usah gitu banget kali." tukas Changmin sambil tertawa pelan.
"Hehehe." Chanyeol nyengir malu sambil garuk kepala, "Maaf, hyung… gak sengaja tadi. Salah pencet. Piss…Damai." angkat dua tangan bentuk tanda victory.
Changmin tersenyum sambil ngibasin tangan tanda sebodo amat, "No problem. Don't take it too much."
"Milkshake vanilla." kata mbak mbak pelayan sambil mindahin minuman menggiurkan itu dari nampan ke meja.
"Makas…." ucapan Chanyeol terpotong karena dia megang gelasnya barengan ama Changmin!
"Eh…ehm… maaf, sori, sori." dengan gerakan salah tingkah Changmin spontan narik tangannya, "Kamu milkshake vanilla juga ya? Sori gue gak tau. Kirain tadi…"
Salting bisa menular gak ya? Soalnya sekarang Chanyeol juga sama tingkahnya,"Enggg… gak apa – apa kok, hyung. Santai aja. Nih, kalo mau." Chanyeol geser minumannya ke Changmin yang langsung ditolak dengan gelengan dan senyum kikuk.
"Gak apa – apa. Itu buat kamu aja. Maaf, yang tadi gak sengaja. Beneran. Suwer! Bukan modus."
Chanyeol mau gak mau ketawa geli dalam hati. Ada ya orang modus bilang – bilang? Ada – ada aja.
Lagi asik – asiknya grogi bareng, mereka gak sadar kalo daritadi ada satu orang yang ngawasin mereka dan duduknya di pojokan. Orang yang kontan terperangah kaget begitu melihat adegan 'mesra' diatas secangkir gelas tadi. Dan orang ini langsung mengontak Kris untuk memberi tau kalo sang kekasih sedang asik – asikan bareng seorang cowok yang baru pertama kali ini diliatnya.
"Kris… lo dimana? Lagi nyari Chanyeol? Kebetulan dia ada disini. Iya, gue lagi di cafet kedok. Udahh kagak usah banyak cingcong! Lu kesini aja deh. Oke? Buruan!"
.
.
.
.
Sementara itu, di lapangan bola di belakang kampus ekonomi, Jinyoung udah kipas – kipas kaos kegerahan. Puanassss! Bayangin aja, dari jam Sepuluh udah disuruh dateng, eh pas dateng bukannya langsung latihan kek. Malah disuruh berdiri – berdiri gak jelas. Pas di bawah terik matahari pula. Emangnya dia ikan asin? Dijemur gitu? Bukannya Jinyoung alergi panas matahari sih, tapi ini udah kebangetan! Bagus kalo sambil pemanasan kek atau lari lari di tempat kek. Nah ini? Apa jangan – jangan Minho sengaja ngerjain dia?!
"Min, lo kalo mau bikin gue gosong jangan tanggung – tanggung. Kenapa kita gak ke Zimbabwe aja sekalian? Atau ke neraka aja yuk? Mau?" sindir Jinyoung dengan muka emosi tingkat delapan.
Eh tuh bocah edan malah cengengesan, "Ohhh… udah nyerah rupanya. Sengaja. Biar entar kalo pas lo ketemu medan yang panas lo udah terbiasa dan gak pingsan. Ngerepotin aja!"
What?
"Ya tapi sambil apa kek, salto kek, jungkir balik kek. Bukan berdiri – berdiri kayak patung bersejarah gini!" Protes Jinyoung sambil berkacak pinggang.
"Baru segitu aja udah ngeluh. Cemen amat lo!" ledek Minho, "Gimana mau mendaki lima gunung. Jangankan lima, setengahnya aja lu gak bakal sanggup kayaknya."
Owh, owh… nantangin nih?!
Jinyoung memicingkan mata sambil menyilangkan tangan di dada, "Fine. Kalo itu mau lo. Sampai besok subuh juga gue sanggup!"
Minho manggut – manggut, "Bagus, bagus. Gue suka semangat lo."
Tiga puluh menit kemudian…
"Oke. Cukup."
Keringat Jinyoung bercucuran deras. Kalo ditampung mungkin udah cukup buat mandi orang – orang sekampung.
"Step berikutnya adalah… lo gelantungan di palang besi itu. Kalo masih belum kuat untuk ngangkat badan, lo cukup gelantungan aja semampu lo. Ini untuk melatih ketahanan otot – otot tangan lo." instruksi Minho.
Dengan satu tarikan napas panjang, Jinyoung jalan menuju palang besi yang tadi ditunjuk Minho. Untung aja dia udah sempet cukuran, jadi bulu keteknya gak menyapa kemana – mana.
Satu, dua, tiga… ambil ancang – ancang dulu. Hup! Dengan sekali loncatan, Jinyoung berhasil gelantungan di palang.
"Tiap kali latihan, lo akan gelantungan di palang kayak gini. Dan tiap hari akan gue hitung dengan stopwatch. Kita lihat apa ada peningkatan atau enggak."
Buseet… kayaknya Minho ini lebih cocok jadi instruktur senam ibu – ibu gembrot daripada sarjana teknik mesin.
Jinyoung meringis dengan tampang sengsara maksimal. Tangannya mulai kesemutan, pegel – pegel, sakit, nyeri, dan berasa ketarik – tarik. Belum lagi efek dijemur lama tadi tangannya jadi basah dan licin karena keringat. Berkali – kali genggaman tangannya hampir lepas.
"Mi…Minhoo… gue udah gak…AAAHH!" genggaman tangan Jinyoung benar – benar terlepas dan BRUK! Dia jatuh nimpa Minho yang kebetulan berdiri di depannya dengan…bibir yang saling menempel!?
.
.
.
.
"Eh, eh, Bro!
"Hmm…" sahut Gongchan malas.
"Bro! Bro!" Tao nyolek – nyolek pundak Gongchan panik.
"Iya, apa sih?! Napa?" sahut Gongchan sewot.
"Bukannya itu pacar lo, ya? Sama siapa tuh?! Buseeet… ekstrem banget begituan di tengah lapangan! Cckckk…"
Karena penasaran, Gongchan yang lagi bawa motor segera mengalihkan pandangannya kearah yang ditunjuk Tao. Dan ulalala! Alangkah terkejutnya dia melihat Jinyoung lagi rebahan di rumput sambil ciuman dengan cowok lain, belum lagi posisi mereka yang awkward banget. Jinyoung menempel di atas tubuh cowok itu dan kedua tangan cowok itu yang melingkari pinggang Jinyoung. Siapapun yang melihat akan langsung menyangka mereka sepasang kekasih yang 'salah tempat'.
"Lu gak puter balik?" tanya Tao heran melihat Gongchan terus melajukan motornya, "Masa sih lo diem aja ngeliat pacar lo begitu sama cowok lain?" Tao manas – manasin, "Kalo gue jadi elo, udah gue…"
"TAO! Bisa kan lu gak ngebacot?! Mau gue turunin dari motor, apa?!"
Tao langsung mingkem dengan muka manyun gak terima.
Orang bukan dia yang salah kenapa jadi dia yang kena bentak?
.
.
.
.
"Hai, sayanggg."
PUURFTTTT! Chanyeol kayak mbah dukun yang lagi ngobatin pasien, nyembur. Uhuk…uhukk… ohooekkk! Terus batuk – batuk kalap sambil megangin leher, keselek milkshake.
Dengan gerakan horror, Chanyeol langsung noleh ke belakang dan makin melotot horror begitu tau siapa yang ada di belakangnya.
"Kk-Kris hyung…" cicitnya dengan cengiran aneh.
Kris langsung menyambutnya dengan senyum lembut. Namun senyum bukanlah jendela hati. Tapi mata. Dan hanya Chanyeol yang tau pasti apa yang tersembunyi dibalik sepasang manik coklat itu.
"Aku mau ngajakin kamu jalan – jalan."
"Gak! Gue gak mau!" tolak Chanyeol serta merta.
Senyuman lembut itu menghilang, digantikan dengan wajah yang mengeras dan kedua tangan yang mengepal geram dengan urat – urat yang bertonjolan, "Gak mau? Jadi kamu lebih milih berduaan dengan dia?" tunjuk Kris lurus – lurus ke muka Changmin.
Changmin yang gak terima dengan tindakan lancang Kris, segera menepis tangan cowok itu dari mukanya, "Santai, bro. Ini ada apa sebenarnya? Lo siapa? Bisa bicara baik – baik aja kan?" tukas Changmin dengan nada kalem.
"Gue siapa? Harusnya gue yang nanya gitu! Gue ini cowoknya." Kris nunjuk Chanyeol, terus nunjuk Changmin lagi, "Elo yang siapa!?"
Chanyeol bangkit berdiri sambil gebrak meja, "Kris! Kamu itu apa – apaan sih?!"
"Kamu yang apa – apaan?! Kamu sengaja ya ngindarin aku?! Ayo jawab!"
"Bro…"
Telunjuk Kris terarah ke Changmin lagi, "Lu-gak-usah-ikut-campur!" desis Kris penuh penekanan di setiap kalimatnya. Matanya berkilat marah.
Changmin memilih untuk duduk dan mengalah karena perhatian orang – orang daritadi terarah ke mereka. Lagipula Chanyeol emang bukan siapa – siapanya. Dan siapapun cowok sengak ini, kalo saja Changmin gak inget umur dan gak inget sabar, sudah dilayangkannya satu tinju ke dagu beruk lancang dihadapannya ini.
"Kris… lepasin! Aku gak mau ikut! Lepasin, gak?!" bentak Chanyeol sambil meronta – ronta saat Kris mencengkram pergelangan tangannya dan mati – matian berusaha menyeretnya pergi.
Lepasin? Siapa yang sudi! Udah dari dua hari berturut – turut dia belingsatan sendiri dan begitu target udah ketemu masa mau dilepasin gitu aja?
"Kita harus bicara!"
Chanyeol langsung mengkeret di bawah tatapan mengancam Kris.
"Dan ELO…" Kris nunjuk Changmin lagi, "Urusan kita belum selesai."
Diiringi dengan puluhan pasang mata yang menatap dengan ekspresi campur aduk, Chanyeol akhirnya berhasil diseret pergi juga dari cafet kedok.
.
.
.
.
Bendera perang Chanyeol segera terjawab dengan PENCULIKAN.
"Masuk!"
BLAM! Pintu mobil terbanting menutup tepat saat Kris berhasil mendorong tubuh Chanyeol masuk. Dengan sigap dia langsung mencet remote auto-lock sebelum Chanyeol berhasil membukanya lagi dan melarikan diri.
Kris berjalan cepat mengitari mobil, menekan kembali remote auto-open dan melompat masuk ke belakang setir.
"Lo gak bisa ngelakuin ini ke gue!" seru Chanyeol dengan suara gemetar.
"Sikap kamu itu yang bikin aku terpaksa ngelakuin ini." tandas Kris tajam.
Chanyeol nelen ludah. Ditatapnya Kris dengan sorot takut dan tidak mengerti, "Apa sih mau lo?"
Kris menginjak pedal gas lalu melajukan mobilnya meninggalkan pelataran parkir Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
"Apa mau lo?!" ulang Chanyeol dengan nada lebih tinggi tapi masih terdengar gemetar.
Tatapan Kris tetap fokus ke depan, jarum di speed meter pelan – pelan bergerak naik. Mobil Kris nyelip – nyelip lincah di antara mobil lain di jalan raya.
"Udah. Kamu diem aja, sayang. Nanti kamu akan tau sendiri." tukasnya tenang dengan senyum sok misterius.
Jantung Chanyeol berdegup kencang. Debaran takut. Debaran waswas. Kemanapun Kris akan membawa dia, itu pasti bukan tempat yang bagus. Tunggu…jangan bilang kamar hotel?!
"Kris… aku tau kemana tujuan kamu dan jangan coba – coba…" Kini Chanyeol mengeluarkan suara mengancam.
"Oh ya?" Kris pasang muka kaget sekaget kagetnya, "Emangnya kita bakal kemana?" tanyanya belagak bego.
Chanyeol mengatupkan rahang rapat – rapat. Geram dan muak, matanya menyipit tajam, "Hotel."
Ckittt! Ban mobil Kris berdecit menimbulkan bunyi yang mengiris kuping saat mobilnya bermanuver lincah memasuki pintu gerbang sebuah hotel, saking lincahnya nyaris menabrak pegawai hotel yang bertugas ngebukain pintu mobil.
Mobil Kris sekarang benar – benar anteng di depan pintu masuk utama hotel.
Kemudian cowok itu menoleh, menampilkan senyum yang sulit ditebak maknanya, lalu mendekatkan wajahnya di telinga Chanyeol, "Tepat…sekali!" desisnya, bikin bulu kuduk Chanyeol berdiri semua, "Ayo turun!"
Chanyeol tidak punya pilihan lain selain menurut saat Kris membukakannya pintu dan menggandengnya keluar dengan cara biasa. Benar – benar dengan cara biasa. Bukan tarikan ngotot ala om – om pedofil mesum yang mau nyulik anak orang.
"Ingat… satu tindakan gegabah aja kamu yang tanggung akibatnya!" bisik Kris di telinga Chanyeol.
Smirk sinis nampak di bibir Chanyeol, "Tenang aja, sayang. Aku gak akan bertindak gegabah." –tapi aku gak akan nyerah! sambungnya dalam hati.
Begitu kunci kamar sudah di tangan, Kris kembali menggandeng Chanyeol menyusuri koridor hotel. Begitu dipastikannya sudah tidak ada orang, gandengan tangan berubah menjadi rangkulan kuat. Biar Chanyeol gak tiba – tiba muntir tangannya dan merubah dia jadi pecundang dalam sekejap.
Mereka berhenti di depan kamar nomor 22. Kris segera membukanya, menyalakan lampu kamar, menutup pintu kembali, menguncinya dan menghempaskan tubuh Chanyeol ke ranjang.
"Ini yang kamu sebut dengan 'bicara baik – baik'?" ketus Chanyeol.
Sepasang mata Kris menyipit sadis, "Kalo aja kemaren kamu keluar dan gak bersembunyi, aku gak akan bersikap begini." tukasnya sambil membuka kancing kemeja navy nya yang membungkus tubuh atletisnya.
Omong kosong! Chanyeol melengos sambil berdecak marah.
"Kamu pikir aku tolol, ya? Kamu kira aku gak tau kamu dan temen – temen kamu itu ngumpet di dalam dan ngebiarin aku di luar teriak – teriak kayak orang sakit jiwa." Set! Kris melempar kemejanya ke sudut ruangan. Lalu kaki – kaki panjangnya perlahan berjalan mendekati ranjang, membuat Chanyeol spontan beringsut mundur dengan tampang siaga satu.
"Loh? Bukannya kamu emang sakit jiwa, ya?" balas Chanyeol sengit.
Kris tertawa, "Kamu orang kesekian yang ngomong begitu."
"Berani mendekat, aku akan bikin kamu nyesel!" pekik Chanyeol. Seluruh ketakutannya lenyap entah kemana.
Kris bersiul panjang, "Terlambat…" Yaa, karena Kris sekarang sudah merangkak naik di atas tubuh Chanyeol. Menatap balik sepasang mata menantang di bawahnya. Mata yang tidak menggambarkan ketakutan dan rasa gentar sama sekali. Gak kayak biasanya. Membuat Kris sempat terperangah sesaat lalu buru – buru memasang wajah pokerfacenya kembali, sebelum Chanyeol menyadari raut terkejutnya.
"Kalo ngomong itu pake mulut Kris, bukan pake selangkangan." sindir Chanyeol berusaha tenang.
"Tapi sayangnya kalo sama kamu… ngomong itu harus pake selangkangan, bukan mulut."
What the…
FUCK!
Darah – darah Chanyeol mendidih dan berhasil nyampe ke ubun – ubunnya. Bagai lava panas yang siap meledak keluar dan memuntahkan semua laharnya. Lahar kemarahan. Segala luapan emosi dan perasaan yang selama ini mati – matian berusaha dia pendam tersalur lewat tangan dan berubah jadi tamparan telak di pipi Kris.
Tamparan telak yang menyakitkan. Tamparan perdana Chanyeol seumur hidupnya untuk Kris. Tamparan yang tidak hanya berasa perih di pipi, tapi juga di relung hati Kris yang paling dalam.
Chanyeol menatap Kris dengan tatapan nanar, "Sudah cukup, Kris." usai berkata begitu, Chanyeol segera mendorong tubuh Kris menjauh. Menyambar kunci di atas meja lalu berjalan pergi meninggalkan Kris yang masih membeku shock dengan segala pikiran yang berkecamuk di kepalanya.
.
.
-TBC-
.
.
.
A/N: Sesuai janji saya di chapter sebelumnya, karena banyak yang vote Yes, jadi cerita ini saya jadiin MPREG. Tapi… ada tapinya nih. Sebelum saya membahas lebih jauh, saya akan bagi temen – temen yang Pro dan Kontra dalam dua kubu, yang pro 'Sayap Kanan', yang kontra 'Sayap Kiri'.
Karena saya bukan pejabat yang tukang janji – janji doang, cerita ini tetap jadi MPREG sesuai saran temen – temen sayap kanan. Sementara temen – temen sayap kiri takut ceritanya bakal tambah ribet kalo jadi MPREG. Maka dari itu, saya berusaha narik benang merah diantara kedua pendapat. Chanyeol tetap hamil, tapi fokus ceritanya bukan ke kehamilannya si Chanyeol sampai gimana caranya dia mengandung selama Sembilan bulan terus menyusui… (ngebayangin Chanyeol nete'in anaknya aja, saya sendiri juga gak sanggup ;-,-), karena kalau seperti itu… judul cerita ini akan berubah menjadi 'Chanyeol mamah muda yang ngenez'. Dan saya juga gak akan bikin para uke bunting semua dalam cerita ini seperti sangkaan temen – temen sayap kiri, karena kalo gitu berarti judulnya akan berubah jadi 'Uke – uke bunting yang ngenez'. Lagian kalo fokus utamanya ke Chanyeol dan perut 'isi'nya, nanti cerita ini akan menjadi berlarut – larut kayak sinetron Cinta Fitri season delapan dan Tersanjung Sembilan. Saya gak mau. Masih ada Tugas akhir dan Laporan kerja praktek yang memanggil – manggil nama saya (T.T). Jadi konfliknya tetep lebih menitikberatkan ke Chanyeol with his problems, Sandeul with his problems dan Jinyoung with his problems.
Sebelumnya saya juga mau minta maaf sebesar – besarnya. Karena perencanaan saya yang kurang matang di awal cerita. Saya juga sih yang salah, kenapa gak dipikirin baik – baik dulu waktu bikin cerita ini bakalan mpreg atau enggaknya. Saya harap temen – temen mau maklum, karena saya baru penulis pemula yang masih butuh banyak belajar (;-.-). Udah jadi setengah jalan baru kepikiran soal gimana endingnya nanti kalo cerita ini gak mpreg. Gimana kalau semua couple pada nikah? Masa rame – rame pada mau adopsi anak? Dan karena kebetulan ada temen reader yang ngusulin mpreg. Yaaa… why not?
Dan saya bikin story linenya jadi kayak gini karena menurut saya ini yang paling pas untuk menjaga ceritanya tetap 'Keep in Line' alias gak keluar jalur.
Lagipula kehamilannya Chanyeol juga bakal perfect banget untuk melengkapi scenario kriminal dalam otak saya….hehehhahahahahahohoho (ketawa jahat).
Tadinya sih emang rencananya si Chanyeol langsung ngaku gitu ke Kris… tapi kok agaknya kurang berasaa gimanaa gitu ya? Tapi temen – temen jangan takut lah, saya mau bikin Chanyeol jadi pemberontak dulu dan bikin cowoknya sadar. ^^
Terus buat yang nge-request, 'bed time story', sori cuma bisa saya kabulin di couple BaroxSandeul aja. Jinyoung belum saatnya ^^. Sabar yaa? Saya juga kepengen sih sebenernya, secara saya juga Jinchan shipper (T,T). Tapi harus singkirin dulu ego nafsu demi jalan cerita 'Keep in Line' tadi. (Tapi kenapa pas ngebuat adegannya BaroxSandeul saya malah ngebayangin GongchanxJinyoung yaaa? #PLAKK! :p).
Terus rencananya (baru rencana) saya akan menghabisi cerita ini hanya sampai pada chapter dua belas aja. Paling dikit sepuluh lah. Ya, kayaknya segitu aja udah cukup.
Terus… sebenernya ini FF juga untuk balas dendam saya sih. Habis udah muter – muter di internet kagak dapet juga ceritanya GongchanxJinyoung yang endingnya nikah trus punya anak ! Yaa saya bikin ndiriiii…. Gitu aja repot!
Mungkin ada sih dalam bahasa Thailand…yang baru bisa saya baca sepuluh tahun kemudian setelah saya kursus bahasa Thailand dulu (T.T).
#Ya udah gitu aja kesan dan pesan saya (yang singkat ini?). Maaf ya. Semoga temen – temen pada gak kecewa sama saya . Dan jangan ada dendam diantara kita. Okeh? Peace!
#Makasih buaaannnyak buat temen - temen yang udah ngebaca, ngelike, ngasih saran (mulai dari yang sweet ampe yang hot), komen, ngedukung, bantu saya nyari inspirasi, pokoknya buat semuanya deh. U're the best :* #Sekian & RnR :*
