A/N : Mohon Maaf Lahir dan Batin...Bagi kuenya, boleh?
Warning : OOC!Maybe, typo!Maybe, Ada tokoh yang baruuuu, siapa yaaaa? XD
Axis Powers Hetalia © Hidekaz Himaruya
I love PEACE, Not You
-Chapter 8-
Indonesia yang terkejut Karena disekap dari belakang terus meronta, mencoba melepaskan diri. Tak disangka, rasanya beberapa hari ini memang hari sial untuknya. Belum cukup dihina calon suaminya sendiri…. Tunggu, calon suami? Sejak kapan ia mengakui Nederlanden sebagai calon suaminya? Mereka kan hanya pasangan main-main. Oh ya, ia baru ingat kalau keberuntungan telah jauh meninggalkannya sejak ia memutuskan untuk bertunangan dengan si jambul tulip. Yah, semestinya ia tidak lupa soal itu.
Si penyekap agaknya khawatir Nesia menimbulkan suara-suara yang akan membuat mereka ketahuan. Oleh karena itu, ia berbisik tepat di daun telinga Nesia sebelah kanan, "Sssstt! Jangan berontak, tolol!"
Nesia yang rasa-rasanya mengenal suara itu langsung menghentikan gerakannya. Ia menoleh ke belakang dan mendapati wajah datar setengah menyebalkan dengan rambut ikal berwarna karamel—persis seperti milik Belgie.
"HU...HUFF?!" seru Nesia yang tampak sangat terkejut sampai-sampai lupa bahwa mulutnya masih dibekap.
"Moien(1), Nesia. Lama tak bertemu. Nah, sekarang lebih baik tutup mulutmu."
Mau tak mau Nesia mematuhinya. Setidaknya sampai dua orang mencurigakan bersenjata api itu pergi.
Tak lama kemudian, setelah Nesia merasa keadaan aman, ia melepaskan tangan yang membekap mulutnya sedari tadi. Telapak tangan yang ternyata tidak terlalu besar itu kembali ke hadapan pemiliknya.
"Iuuh…. " seru si penyekap dengan tampang jijik mendapati telapak tangannya yang basah karena Nesia sempat menyebutkan namanya—meski sia-sia karena tak akan ada seorang pun yang mengerti siapa yang dia panggil— saat sedang dibekap.
"Biar kau seorang putri, ternyata liurmu tetap saja menjijikan," keluhnya.
"Memangnya kau harap apa? Liur yang seputih susu?!" balas Nesia jengkel.
Ia berpikir sejenak, berusaha membayangkan, dan hasilnya justru membuat dirinya ingin muntah.
"Jangan dibayangkan, bodoh!" Kemudian Nesia berkacak pinggang, "Lagipula, apa yang kaulakukan disini, Lux? Seharusnya kau kan— "
"Sudah berapa kali kubilang, jangan memanggilku dengan panggilan konyol begitu. Namaku Luxembourg. Luxie, kalau kau terlalu bodoh untuk mengeja."
Ini pertama kalinya ia melihat Luxembourg lagi sejak pesta pertunangannya beberapa waktu lalu. Dan pertemuan kembali ini membuat Nesia mulai naik darah lagi, namun ia berusaha tetap tenang. Adu bacot dengan anak kecil itu tidak dewasa, apalagi kalau sampai terpancing emosi. Membuatnya semakin terlihat bodoh saja.
"Kau tidak berubah ya, Lux. Tetap kasar, dan tidak sopan. Sama saja seperti kakakmu."
"Luxie, nona. Atau kau mau kubayari untuk ikut les bahasa?"
Amarah Nesia meledak. Ia menyambar tubuh kecil di depannya dan berusaha untuk menjitak Luxembourg sekuat tenaga. "Hiih! Bocah sial! Rasain nih, rassainn..."
Ia sudah benar-benar tidak peduli akan bersikap layaknya orang dewasa yang tak akan terpancing emosi dengan mudah. Persetan dengan putri, persetan dengan perempuan atau orang dewasa. Kalau ia harus menjadi ratu sekalipun, ia akan tetap membalas perbuatan Luxembourg—si setan kecil pembuat masalah. Siapa suruh cari gara-gara dengannya, Indonesia Raya.
Seakan tahu apa yang akan dilakukan Nesia, Luxembourg cepat-cepat mengelak. Mengakibatkan Nesia yang menerjang sekuat tenaga malah jatuh terjerembab, membuat wajahnya rata dengan tanah.
"Pftt—" Tawa tertahan itu memang tidak terlalu keras, namun cukup jelas di telinga Nesia. Membuatnya makin dongkol. Ia kelihatan sangat culun dengan kebaya yang tercemar oleh tanah.
Enggak kakak, enggak adiknya sama-sama menyebalkan. Rasa-rasanya Nesia harus meninjau ulang keputusannya menjadi calon menantu raja dan ratu negeri barat. Coba kalau dia lesbi, pasti lebih baik bertunangan saja dengan Belgie yang ceria dan baik hati. Tapi sebelum itu terjadi pasti dia digantung terbalik di tiang bendera dan dirajam oleh saudara-saudara yang lain.
Nesia menggeleng-gelengkan kepala. Sama sekali tidak percaya dengan apa yang ia pikirkan. Rupanya otaknya juga sudah mulai rusak.
"Pasti lagi mikir yang aneh-aneh…" sela Luxembourg dengan tatapan menuduh.
Nesia masih memandangnya dengan tatapan dongkol. Baru saja ia akan melontarkan sanggahan, telapak tangan Luxembourg dengan cepat mendorong kepalanya kembali ke tanah, "Ssstt! Mereka kembali. Merunduk!"
Dua kali Nesia merasakan ciuman dengan tanah hari ini, dan ia bersumpah akan membuat bocah karamel itu menjadi sate. Lengkap dengan bumbu kacang.
"Uphh—si...sial! Singkirkan tanganmu, Lux!"
"Tampaknya mereka sudah selesai dengan urusannya di dalam sana. Tapi... apa yang mereka lakukan?" gumam Luxembourg sambil memasang pose berpikir.
"Hei! Kamu gak dengerin, ya?"
Louxembourgh tidak terlalu ambil pusing karena suara berisik Nesia. Kedua pria itu hanya melintas dan segera menghilang dari hadapan mereka berdua.
"Ayo, Nes!" Mengacuhkan omelan Nesia, Louxembourgh segera menarik lengan calon kakak iparnya itu dan berniat mencari tahu apa yang dilakukan oleh kedua pria mencurigakan itu barusan.
"Heh! Pelan-pelan dong!" Lagi-lagi Nesia mengeluh akibat perlakuan tiba-tiba Luxembourg. Tampaknya ia sudah pasrah mengomel panjang lebar ke telinga Lux, malah membuatnya tambah keki saja. Meskipun masih banyak pertanyaan di benaknya, tanpa banyak bicara lagi, Nesia mengikuti langkah cepat Luxembourg ke arah yang baru saja ditinggalkan oleh kedua pria mencurigakan tadi.
.
Hatinya tidak tenang. Sepertinya Nederlanden benar-benar tidak bisa menunggu sampai pesta membosankan ini selesai. Sesegera mungkin, ia harus meminta maaf, meskipun kata-kata maaf belum juga selesai ia rangkai dalam otaknya.
Ia tidak bisa berhenti mondar-mandir di depan kamar Nesia dengan gelisah. Keringat dingin mulai mengalir dan ia memikirkan beberapa kemungkinan tindakan atau jawaban yang akan dilontarkan oleh Indonesia saat ia meminta maaf nanti. Dan Nethere sangat tidak yakin ada kemungkinan jawaban positif darinya.
"Nes, maaf aku tadi gak sengaja—akkh! Gak bagus!" Ia mengacak-acak rambutnya.
"Maaf soal tadi, tapi kamu harus tahu kalau ada masalah yang—Neen!(2) Ini juga gak bagus!" Nederlanden mendengus kesal.
Selanjutnya ia mendesah pasrah, mungkin ia akan mengatakan yang sejujurnya saja pada Indonesia. Itu pilihan terbaik. Maka ia membuka pintu kamar Indonesia yang tidak terkunci.
"Nes—"
Dan tidak mendapati seorangpun disana.
.
"Jangan berisik Nesia, mata-mata itu harus tenang." Luxembourg memperingati Indonesia untuk yang kesekian kalinya melihat calon kakak iparnya itu sibuk dengan kain batiknya.
"Bukan mauku, Lux. Pakaian ini membuatku sulit bergerak."
Luxembourg mendesah, "Sudahlah, minimalisir saja gerakanmu."
Indonesia mengangguk mengerti.
Mereka berdua akhirnya berhenti setelah masuk kembali ke dalam halaman istana. Cukup jauh dari pintu masuk, melalui dinding samping istana yang tinggi dan dikelilingi dengan pohon-pohon serta semak tinggi. Disana hanya ada jalan setapak. Indonesia sama sekali belum pernah menjelajahi daerah ini, namun Luxembourg tahu persis yang ditujunya adalah penjara bawah tanah. Luxembourg mengamati pergerakan mencurigakan apapun dalam gelap sementara Indonesia berjongkok di belakangnya berusaha tidak menimbulkan suara saat menepuk nyamuk yang terus menghisap darahnya.
Lama menunggu, akhirnya Luxembourg menangkap sekelebat gerakan yang mencurigakan. Dua pria yang tadi ia intip bersama Indonesia muncul dari pintu masuk penjara. Luxembourg berusaha memicingkan matanya untuk melihat lebih jelas, namun percuma. Kedua pria itu menggunakan masker serta topi yang menutupi dahi dan kedua mata mereka. Dalam gelap, mustahil mengenali mereka.
Terlalu banyak pertanyaan di benak Luxembourg. Siapa pria-pria itu? Mana bungkusan hitam besar yang mereka bawa masuk tadi? Apa yang sebenarnya mereka incar?
Setidaknya, Luxembourg mendapat sebagian jawaban ketika muncul satu orang lagi yang ikut keluar dari penjara bawah tanah. Wajah orang yang sangat mudah dikenali, PORTUGUESA.
Indonesia terkesiap kaget dan Luxembourg dengan sigap kembali menutup mulut gadis itu, berjaga-jaga jika Indonesia hendak mengeluarkan suara lagi. Indonesia mengerti, ia berusaha bersikap tetap tenang dan mengatur detak jantungnya yang berdetak terlalu cepat.
Luxembourg memutar otak untuk menghentikan tiga komplotan itu sebelum mereka kabur. Ia hanya memiliki sebuah pisau kecil yang selalu siap siaga di pinggangnya. Tidak ada waktu untuk memanggil penjaga, sehingga Luxembourg harus mengambil tindakan secerdik dan secepat mungkin.
Menerjang langsung hanya mengantarkan nyawanya. Ia berpikir untuk menjadikan Indonesia sebagai umpan sementara ia menyelinap dari belakang. Tapi, resikonya terlalu besar. Belum lagi jika nanti kakaknya tahu, ia bisa tewas di tempat karena berani menggunakan Indonesia sebagai umpan.
Di saat Luxembourg sedang berpikir keras, ia malah dibuat terkejut setengah mati karena Indonesia malah memutuskan untuk menerjang langsung. Tanpa senjata.
"BEGOOOO!"
'DUAKK!'
Bersamaan dengan teriakan Luxembourg yang keluar tanpa sadar, Indonesia telah menendang jatuh salah satu komplotan itu. Ada robekan panjang di kedua sisi kain batik Indonesia. Luxembourg menduga Indonesia sengaja merobeknya untuk mempermudah ia bergerak, dan itu Indonesia lakukan saat Luxembourg sibuk dengan strateginya. Bodoh, sampai suara robekan kain yang seharusnya bisa jelas terdengar saja ia abaikan.
Luxembourg tak sempat berpikir lagi, ia ikut menerjang langsung dengan pisaunya. Paling tidak dua orang lebih baik daripada satu.
Perkelahian sengit terjadi. Indonesia dengan tangan kosong menggunakan teknik karate yang diajarkan sensei di negerinya. Seharusnya ia menggunakan karate hanya untuk melindungi diri, namun saat terdesak seperti ini tak ada salahnya ia pakai. Salah satu pria yang ia tendang jatuh bangkit lagi, dan saat ia sedang berkonsentrasi menangkis serangan pria yang satu lagi, Indonesia tidak sempat mengelak dari tendangan keras yang tepat mengenai punggung belakangnya. Indonesia jatuh pingsan.
Luxembourg keluar pada saat yang tepat karena ia berhasil menangkis serangan senjata tajam dari Portuguesa yang diarahkan kepada Indonesia. Ukuran senjata mereka terpaut cukup jauh, namun Luxembourg dapat mengimbangi serangan Portuguesa dengan kekuatannya. Selanjutnya mereka terus saling menyabet, menyerang dan menangkis. Sampai akhirnya pisau kecil Luxembourg menembus perut samping kiri Portuguesa. Sayangnya, kini Luxembourg menjadi tanpa pertahanan dan senjata tajam milik Portuguesa berhasil merobek perut samping kanannya.
"OHOKK!" Luxembourg muntah darah dan berusaha menghentikan dengan tangannya. Ia ambruk seketika.
'DORR!'
Tepat pada saat mereka berdua ambruk, suara tembakan peringatan terdengar jelas. Ketiga komplotan itu segera kabur meninggalkan kedua korbannya yang terbaring tak berdaya.
Nederlanden yang menembakkan pistol kecilnya ke udara segera menghampiri sumber keributan. Ia pun mendapatkan pemandangan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Meskipun tak dapat melihat wajah seorang perempuan yang pingsan dengan tubuh tengkurap di hadapannya, ia yakin itu Indonesia.
"Nes—"
Dan tak jauh dari tubuh Indonesia, keadaan yang lebih menggenaskan terjadi pada adik kandungnya.
"Bro…er…(3)"
"LUX! BERTAHANLAH, LUX!" teriaknya panik seraya menahan tubuh adiknya yang berlumuran darah segar.
Dengan sisa tenaganya, Luxembourg menarik baju kakaknya dan dengan terbata-bata mencoba memberikan informasi "Po…port, ka….bur—"
Tangan Luxembourg langsung kehilangan tenaganya dan jatuh ke samping. Ia pingsan kehabisan darah.
Tuberculosis...TBC...
Note:
(1) Hello in Luxembourgish
(2) No in Dutch
(3) Brother in Dutch
A/N: Maaf, saya baru sadar setelah baca ulang chapter 1-6 ternyata gaya penulisan dan ceritanya udah mulai jauh sama chapter 7 sama 8 ini...
Chapter 1-6 itu apa banget... mana pas Portue ditangkep ceritanya begitu doang lagi... (author gak puas)
Pokoknya saya mo ngerombak ulang chapter awal biar paling enggak masuk akal dikit... huahahahaha. Dan makin kesini kayaknya jauh banget sama cerita 'zettai heiwa daisakusen' ye... macem sinetron plagiat aja ini penpik, awalnya doang yang mirip.
Yang mau penpik ini dilanjutnya, ripiuwnya dong...oom...tante... (nodong pake pistol) (ini author apa banget sih, lemparin pisang aje nyok!)
