Tales of the Steel Flower Princess


[Wan an, readers-san. Wah~ Akhirnya perjalanan cerita ini sudah sampai chapter 8 XD Kuucapkan terima kasih untuk para readers dan reviewers yang mendukung cerita ini melalui membaca dan meng-review sampai sekarang. Pertama-tama, ini balasan untuk reviewers sekalian:

1. Mocca-Marocchi:

-Malie: *angguk* Salam kenal.

-Kaien: ...Tolong maklumi dia...Marysykess-san bilang kalau OC-nya yang satu ini memang pendiam.

-o-

2. GanNingers: Ah, rupanya Anda ingin cerita tentang Zhao Yun? Baiklah...coba saya pikirkan chapter berapa yang pas untuknya hahaha ^^ Untuk sementara lebih menonjol ke Cao Yin.

Malie: Tapi itu bikin Yun terlihat seperti supporting character daripada main character.

Kaien: Iya juga sih... #pundung di pojokan

-o-

3. Zepyhrus: Ga apa-apa kok, Zephyrus-san. Malah saya senang membacanya hahaha. Oh iya, hampir lupa tentang Cao Pi. Ya, Cao Pi lahirnya tahun 187 jadi saya munculkan di sini. Kalau di chapter ini, Cao Pi sudah umur 3 tahun berarti ya hahaha ^^ Kalau sampai tahun 187, yang ada cuma Cao Ang si anak sulung dan Cao Pi si anak kedua. Sebenarnya kalau menurut saya ada 3 tapi karena yang namanya Cao Shuo itu saya tidak tau banyak tentangnya, akhirnya saya pakai si Ang sama Pi saja deh.

Hmm... berarti cara penulisan saya sudah benar tapi saya ragu jadi saya satukan dong hahaha :D baiklah makasih untuk info yang elipsis itu. Baiklah kalau untuk kata 'menghaturkan' itu, saya sering dengar dan baca lalu saya coba cek pakai google translator (malas buka kamus tuh) dan tulisannya itu benar menghaturkan tapi kalau kata ini kelihatannya tidak punya kata dasarnya. Yang point ke-3 saya sudah tau, mungkin itu tergabung karena tidak disengaja oleh saya aka typo ^^. Hmmm untuk point ke-4 saya terima :D Untuk point ke-5, saya akui saya salah. Begitu saya cek di novel Sanguo bahasa Indonesia (sengaja beli untuk mengetahui penulisan pangkatnya apa saja yang harus dikapitalkan), saya melihat si pengarang menulis pangkat seperti ini: 'Jiangjun', 'Taihou', 'Chengxiang', 'Da Jiangjun', 'Huangshu' dan sebagainya. Lalu untuk panggilan, ia menulisnya 'saosao', 'xiaodi', 'dage', 'daren'.

Seharusnya untuk penulisan panggilan tidak dipisah tetapi karena khawatir readers sulit membacanya, jadi saya pisah saja. Wah...Anda menemukan banyak sekali typo XD Saya senang karena Anda menemukannya dan bisa membantu saya memperbaiki mereka. Terima kasih atas review dan bantuan menemukan typonya ya ^^ Arigatou *bow*

-o-

4. Black Roses 00: Sebenarnya saya biasa saja terhadap Cow Cow *disambit Cao Cao pakai Yi Tian Dao-nya* Eh ralat! Ralat! Maksud saya Cao Cao. Cao Malie itu perempuan. Memangnya saya belum jelaskan di chapter sebelumnya ya? *bingung* Kalau untuk chapternya Zhao Yun, harap ditunggu ya ^^


Disclaimer (terbaru): You know who owns Dynasty Warriors. I only own my OCs, my own created weapon, storyline and some others. Cao Malie belongs to the author Marysykess ^^ Marysykess-san, arigatou for lending me your OC :D

Note before the story: Baiklah, saya akan menaikan rating story ini menjadi T untuk jaga-jaga. Terima kasih untuk perhatian Anda. (^O^)

Baiklah, enjoy the story! XD #Author menghilang ke pluto (?)]


Chapter 8: Warlords, let's defeat the tyrant!

[190 A.D., Summer, Chenliu, Cao's family resident, 12.00 p.m]

Saat ini aku sedang sendiri di kamarku yang berada di lantai kedua rumah ini. Tanganku memegang sebuah buku tentang seni perang dan mejaku dipenuhi oleh setumpuk buku-buku tebal tentang sejarah dinasti terdahulu. Aku menghadap ke luar jendela, menikmati pemandangan yang disajikan oleh alam. Burung-burung bertengger di dahan pohon sambil berkicau dengan riang. Orang-orang berlalu-lalang di jalan dan tampak beberapa anak kecil sedang bermain bola di pinggir jalan. Suara tawa mereka terdengar dan itu mengingatkanku pada Zhao Yun. Sudah enam tahun kami berpisah dan aku tidak pernah mendengar kabar tentangnya. Kembali kuingat peristiwa itu dan kekhawatiran mulai menyelimuti pikiran serta hatiku. Aku benar-benar mengkhawatirkan kondisinya. Tiba-tiba, pikiran negatif mulai muncul di benakku dan aku menggelengkan kepalaku untuk menyingkirkannya. Aku menghela nafas panjang dan kembali membaca buku yang sedang kupegang ini.

"Cao da ren sudah pulang!"

"Eh? yi fu sudah pulang?"

Aku langsung menutup bukuku dan berlari ke kamar adikku yang masih berusia tiga tahun, Cao Zihuan alias Cao Pi. Saat aku dalam perjalanan menuju kamarnya, aku bertemu dengan Cao Zixiu alias Cao Ang, anak kandung pertama yi fu.

"Pagi, Zixiu." Sapaku.

"Pagi, Yin jie." Balasnya dengan seulas senyuman mengembang di wajahnya. Wajar saja ia memanggilku 'Yin jie', aku lebih tua enam tahun darinya. "Kau juga mau ke kamarnya Zihuan?"

Aku mengangguk. "Begitulah."

"Kalau begitu, ayo. Aku juga sedang menuju kamarnya."

Kami berdua masuk ke dalam kamarnya, aku menemukannya sedang berbaring di atas kasurnya, menatap langit-langit dan kelihatannya ia sedang berpikir akan sesuatu.

"Di di! fu qin sudah pulang!" Seruku yang membuatnya tersadar dari lamunannya.

Ia langsung melompat turun kemudian bersorak. "Yay! Ayo kita temui fu qin! Jie jie, da ge!

Kami bertiga pergi keluar, begitu juga dengan hampir semua penghuni rumah ini. Kami semua berdiri menunggu di gerbang depan dan derapan langkah kuda terdengar mendekat dari kejauhan. Aku melihat seseorang mendekat dan ternyata memang benar, ia adalah yi fu.

"Yi fu!" Aku langsung berlari menghampirinya bersama Cao Pi.

Ia langsung melompat turun dari punggung kuda hitamnya dan menepuk kepalaku dan menggendong Cao Pi.

"Fu qin!" Ia merangkul yi fu.

"Zihuan, bagaimana kabarmu dan keluarga kita?"

"Semuanya sehat-sehat saja kok!" Balasnya dengan riang.

"Baguslah kalau begitu." Yi fu tersenyum lalu tangannya mengelus rambut Cao Pi.

"Oh iya, fu qin, banyak sekali yang kuingin ceritakan pada fu qin!"

"Fu qin tertarik untuk mendengar semua ceritamu, Zihuan." Ia tertawa pelan dan menurunkan Cao Pi dari gendongannya. "Tapi kau harus menceritakannya pelan-pelan karena fu qin harus mengurus banyak sekali urusan negara."

"Yah... fu qin...," Desahnya. "Baiklah." Ia tersenyum kembali.

"Kita tidak punya banyak waktu. Pengawal!"

Seorang pengawal datang dan berlutut di hadapannya.

"Cepat sebarkan berita mobilisasi perang ke daerah-daerah sekitar!"

"Baik, Cao da ren!" Pengawal itu langsung pergi keluar rumah.

Tentu saja aku heran mendengar yi fu memberikan perintah seperti ini secara tiba-tiba.

"Yi fu, memangnya apa yang sedang terjadi?"

"Yin, persiapkan dirimu sekarang. Kau akan ikut dengan yi fu ke medan perang!" Ia tegaskan.

"Medan perang? Apakah akan terjadi perang lagi dalam waktu dekat?"

"Begitulah. Ayo, bergegas. Kita tidak punya banyak waktu." Ia lalu mengalihkan pandangannya ke Cao Ang. "Zixiu, kau jaga Zihuan dan semua yang ada di sini sementara kami pergi."

Cao Ang membungkuk hormat. "Baiklah, fu qin."

Yi fu lalu berjalan masuk ke dalam sambil terus mengeluarkan perintah kepada para pengawal. Aku hanya menatap kepergiannya dan sebuah desahan keluar dari mulutku.

Perang? Perang apa lagi yang akan terjadi di dunia ini?

Untunglah Cao Pi tidak mengerti apa artinya perang. Kalau ia mengerti... aku yakin ia pasti mau ikut atau mungkin sudah menangis karena ketakutan.

Kami semua langsung masuk ke dalam dan mempersiapkan semua yang kami perlukan untuk perang yang akan segera berlangsung. Yi fu memanggil tukang besi untuk mulai membuat senjata dan baju zirah. Ia juga memesankan sebuah tombak yang ia rancang khusus untukku. Karena yi fu terus menjadikannya rahasia, aku sendiri tidak tau bagaimana rancangan tombak itu. Ia lalu menulis surat dan menyuruh para pengirim surat untuk mengirimkan surat-surat itu ke panglima pemimpin daerah lainnya. Keadaan di Chenliu sangatlah sibuk akibat persiapan perang ini, apalagi di kediaman keluarga Cao. Aku juga harus merasakan kesibukan yang amat sangat karena harus menemani Cao Pi bermain seharian di sela kesibukanku karena berpatisipasi dalam perang kali ini. Bahkan pada malam hari pun, kesibukan di kediaman keluarga Cao tidaklah berkurang sedikitpun, malah bertambah saja. Bahkan yi fu bekerja sampai larut malam demi persiapan perang ini. Saat ini sudah jam 10 malam dan sebagian besar penghuni rumah sudah tidur lelap. Hanya tinggal beberapa saja yang masih bangun, diantaranya adalah aku, Cao Pi dan yi fu. Cao Pi yang sudah kelelahan setelah seharian bermain di kamarku akhirnya tertidur pulas di kasurku. Aku menggendongnya lalu membawanya ke kamarnya. Setelah membaringkan Cao Pi di kasurnya sendiri, aku keluar , memutuskan untuk memeriksa yi fu. Aku berjalan ke arah kamarnya dan begitu sampai di depan pintunya, aku mengetuknya dengan perlahan.

"Yi fu, bolehkah aku masuk?" Tidak ada jawaban. Kembali kuketuk pintu itu namun masih tidak ada jawaban. Akhirnya dengan egan aku membuka pintu itu.

"Yi fu? Maaf kalau aku...,"

Aku masuk dan melihat ia sedang tidur dengan kepalanya di atas meja. Aku berjalan ke sampingnya dan melihat kertas-kertas yang berserakan di atas meja. Oh, rupanya ia sedang menulis beberapa surat titah untuk para panglima daerah. Aku mengambil selimut dan menutup tubuhnya dengan selimut agar ia tidak kedinginan. Aku pun beranjak meninggalkan ruangan itu.

"Selamat malam, yi fu."

Aku menutup pintu itu dan segera menuju ke kamarku untuk tidur. Sesampainya di kamar, aku langsung merebahkan diriku di atas kasurku. Mataku menatap langit-langit kamar yang terbuat dari kayu. Kenapa perang harus selalu terjadi? Apakah mereka yang menginginkan perang tidak pernah memikirkan bagaimana nasib rakyat yang menjadi korban perang? Padahal sejak pemberontakan Huang Jin sudah musnah, dunia sudah kembali damai tapi sekarang, entah karena apa, perang akan meletus kembali. Aku terus memikirkan hal itu sampai aku tidak sadar aku tertidur.

-X-

Keesokan harinya, aku terbangun oleh suara bising dari luar. Aku langsung mandi, berganti pakaian dan keluar rumah. Begitu aku berada di luar, aku melihat selaksa prajurit bebaris dengan teratur di luar kediaman kami. Mereka sudah mengenakan baju zirah mereka, lengkap dengan senjata seperti pedang, tombak dan busur serta anak panahnya. Aku menghampiri yi fu yang berdiri di ambang gerbang rumah sambil memandangi prajurit-prajurit yang berada di depannya.

"Yi fu, maaf aku terlambat." Aku membungkuk hormat dan meminta maaf.

Ia berbalik dan langsung menepuk bahu kananku.

"Berdirilah, Yin. Kau tidak perlu meminta maaf. Wajar saja kau bangun kesiangan karena kau terus bekerja seharian kemarin."

Aku kembali berdiri tegak dan menatap ke arah prajurit-prajurit ini. Mereka tampaknya sudah siap untuk terjun ke medan laga dan membela junjungan mereka.

"Bagaimana pendapatmu tentang mereka, Yin?" Yi fu bertanya sambil menoleh ke arahku.

"Mereka tampaknya sudah siap terjun ke medan perang, yi fu." Aku balas.

Yi fu tertawa dan ia menepuk pundakku tiga kali.

"Bagaimana dengan Zihuan?" Yi fu bertanya.

"Dia masih tertidur pulas."

Ia mengangguk lalu memanggil seorang pengawal dan pengawal itu datang dengan membawa 1 set baju zirah, sebuah tombak dan sebilah pedang. Ia mengambil baju zirah itu dan menyerahkannya padaku.

"Mulai sekarang, kau adalah seorang Jiangjun, Yin."

"Eh? Aku?"

"Ya. Kalau tidak, siapa lagi?" Ia tertawa-tawa.

Aku berlutut dan menerima baju zirah itu. "Terima kasih karena yi fu telah mempercayakan jabatan seperti ini kepadaku."

Lagi-lagi yi fu tertawa dan ia menyuruhku untuk bangun. Aku bangun lalu menerima tombak dan pedang yang diberikan oleh yi fu. Aku menarik pedang itu dari sarungnya dan aku menyadari di bilah pedangnya tertulis '新月剑' (Xin Yue Jian). Kuayunkan pedang itu beberapa kali dan menyarungkannya kembali. Seulas senyum muncul di wajahku, begitu juga dengan yi fu.

Seorang pengawal mengatakan bahwa saudara yi fu sudah datang untuk membantu. Aku melihat ke arah utara dan melihat sekelompok orang datang sambil membawa senjata masing-masing. Yi fu langsung berjalan ke arah orang-orang itu dan memeluk salah satu dari mereka.

"Yuanrang! Miaocai! Zixiao! Zilian! Aku senang kalian datang!"

"Tentu saja, Mengde! Kami pasti datang membantumu untuk melenyapkan tiran itu!" Salah satu dari mereka yang membawa busur berkata dengan semangat.

"Heh, kalian memang bisa kuandalkan!" Yi fu menepuk bahu Xiahou Dun shu shu dan Xiahou Yuan shu shu.

"Oh, Yin. Rupanya kau juga ikut dalam perang ini." Xiahou Dun shu shu berkata padaku.

"Tentu saja! Kalau ini demi dinasti Han dan juga yi fu, aku pasti ikut!"

"Heh, bocah yang sangat bersemangat. Mengde, kau beruntung memliki anak angkat seperti dia." Puji Xiahou Dun shu shu.

"Sudah kubilang, Yuanrang, anak ini tidak akan mengecewakanku." Yi fu lalu menepuk kepalaku dengan pelan kemudian ia menghadap ke para prajurit yang berbaris dengan rapi. "Semuanya! Ayo kita kalahkan si tiran marga Dong itu dan selamatkan kaisar!"

Semua prajurit itu serempak bersorak 'YA!' sambil mengangkat senjata mereka tinggi-tinggi ke udara. Kelihatannya mereka benar-benar sangat ingin mengalahkan tiran ini. Ha... begitulah seharusnya seorang prajurit, setia pada negara dan siap membela negara apapun resikonya. Aku mengalihkan pandanganku ke yi fu. Ia juga tampak sangat bersemangat dan sudah bertekad untuk memenangkan perang ini. Semangat yi fu itu selalu menjadi teladan bagiku dan mungkin, seluruh orang di sini. Aku menengadah ke langit dan terpikirkan kembali akan keberadaan Yun-yun. Kira-kira, dimana Yun-yun dan bagaimana kondisinya saat ini? Aku hanya bisa berdoa bahwa ia sehat-sehat saja dimanapun dia berada.

Yi fu lalu menyuruh kurir untuk pergi mengirimkan surat pada para panglima daerah. Ia kemudian mengangkat Xiahou dan Cao shu shu menjadi Jiangjun lalu bersama dengan mereka melatih pasukannya.

Aku melatih 150 orang prajurit yang ada di bawah pimpinanku. Pasukanku terdiri dari 73 infranti ringan, 27 infanti tombak, 20 infranti pelindung, 20 pemanah dan 10 kavilari bertombak. Aku mewajibkan pasukanku menguasai ilmu bertombak dan ilmu memanah di atas atau tanpa kuda. Menyadari bahwa laki-laki mungkin sulit menuruti perintah perempuan, aku harus berperilaku seperti laki-laki.

"Ayo tusuk ke depan!" Teriakku dengan keras.

Mereka menusukan tombak masing-masing sesuai dengan komandoku. Bagus tapi kurang.

"Pakai tenaga kalian!"

Mereka melakukannya lagi tetapi tidak jauh berbeda dari yang tadi. Aku mengambil tombakku. Aku mengayunkan tombakku dan melakukan tiga jurusku.

"Tusuk yang kuat seperti itu! Bagaimana kalian bisa membunuh tiran itu dengan kekuatan tebas yang lemah! Ulangi!"

Para prajurit langsung terus berlatih tombak dan akhirnya, mereka berhasil mencapai hasil yang cukup memuaskan. Aku memutuskan untuk melatih mereka dengan cara lain. Aku memanggil mereka semua, memerintahkan mereka ikut denganku ke hutan yang ada di selatan Chen liu. Aku memerintahkan mereka untuk menukarkan senjata mereka menjadi pedang kayu, tombak tanpa bilah pedangnya serta busur dan anak panah tanpa ujung tajamnya. Setelah mendapat persetujuan yi fu, kami semua langsung ke hutan. Sesampainya di hutan itu, aku langsung meluncurkan beberapa perintah pada mereka.

"Kalian bentuklah 10 regu. Berarti satu regu ada 15 orang. Salah satu regu akan kupimpin sendiri. Segera laksanakan perintahku!"

Mereka langsung membentuk 10 regu.

"Regu pertama, lepaskan helm kalian dan kumpulkan di bawah pohon itu. Regu kedua, lepas pelindung lengan kanan. Regu ketiga lengan kiri. Regu keempat pelindung kaki kanan. Regu kelima pelindung kaki kiri. Regu keenam, lepas pedang kalian. Regu ketujuh pakai sorban warna putih ini di lengan kanan kalian. Regu kedelapan pakai sorban warna merah. Regu kesembilan sorban hijau. Regu kesepuluh sorban biru."

Mereka segera melakukan perintahku dan regu tujuh sampai 10 mengambil sorban warna regu masing-masing dari kotak yang kubawa.

"Sekarang giliranku..." Aku melirik setiap regu dan memutuskan untuk... "Aku regu ke-11."

Mereka semua bingung.

"Baiklah, tidak usah pusingkan tentang hal itu. Sekarang kujelaskan peraturannya."

"Kalian harus menyerang lawan kalian. Gunakan taktik apapun. Aku telah menyediakan tali, cangkul, kapak dan 5 set busur dengan anak panah tanpa kepala untuk setiap regu. Kalian boleh menjebak lawan kalian tapi ingat, jangan bunuh mereka. Ini hanya latihan. Kalian tentukan sendiri pemimpin regu kalian. Jika kalian terjebak dalam jebakan atau diserang pada bagian yang vital seperti perut, dada, kepala atau leher, artinya kalian gugur. Regu yang berhasil bertahan sampai akhir yang menang. Yang kalah akan diberi hukuman lari keliling Chenliu 10 kali. Apakah kalian semua setuju?"

"Setuju, Jiangjun!" Mereka semua berkata serempak.

"Kalau begitu, berpencar sekarang! Aku beri kalian waktu tiga menit! Cepat!"

"Siap!"

Mereka langsung berpencar sementara aku sendiri mencari posisi dan naik ke atas pohon untuk menyergap. Sudah lima menit berlalu tetapi belum ada regu yang mendekat. Aku menyiapkan busur dan anak panahku, bersiaga untuk segala kemungkinan serangan mendadak. Aku kembali menunggu selama 10 menit dan akhirnya, satu regu kelihatannya mendekatiku.

Srek srek!

Aku mendengar suara dari semak-semak dan melihat ada satu regu yang berjalan mendekat. Aku tersenyum puas dan langsung menyiapkan anak panahku. Begitu jarak salah satunya sudah tinggal lima meter dariku...

Syuuut tak!

"Yes! Kena satu!" Seruku.

Aku langsung melompat turun dan menyerang sisanya sebelum akhirnya pergi dan mencari tempat persembunyian baru. Bersembunyi lalu meluncurkan sebuah serangan mendadak terhadap mereka, itulah taktikku kali ini. Aku terus mengulang taktik ini dengan cara yang bervariatif sampai seluruh regu kalah. Kami berkumpul di luar hutan dan aku menyuruh seluruh prajuritku untuk beristirahat. Mereka semua menghela nafas lega dan duduk di atas tanah.

"Baiklah, latihan hari ini cukup sampai di sini. Kalian sudah melakukannya dengan baik jadi aku tidak akan menghukum kalian."

"Jie jie!"

Aku menengok ke belakang dan melihat Cao Pi yang diikut oleh Xing-Xing dan Lie-Lie sedang berjalan ke arahku. Penampilan Lie-Lie berbeda dari biasanya. Ia mengenakan zirah perang dan sepasang pedang menggantung di ikat pinggangnya. Hoo... rupanya ia juga akan berpatisipasi dalam perang ini? Asyik, aku punya teman perempuan setidaknya hahaha.

"Ada apa, Zihuan?" Aku berjongkok dan mengelus rambut hitamnya.

"Jie jie! Kata Xingyun, jie jie sedang bermain petak umpet di hutan. Kenapa kau tidak mengajakku?" Ia menggembungkan pipinya.

Eh?

"Jie jie jahat!" Mukanya mulai memerah karena menahan amarah. "Jie jie tidak sayang sama aku!" Ia mengomel.

Aku hanya ber-sweatdrop ria saja mendengar pernyataan Cao Pi ini. Ano... bagaimana cara menjelaskannya pada Zihuan ya? Xing-Xing, semua ini salahmu. Dan Zihuan, nanti kalau kau sudah besar, kau pasti tau apa yang jie jie-mu ini lakukan tadi itu bukanlah bermain petak umpet. Betapa aku berharap engkau cepat besar sehingga kau mengerti akan apa yang telah terjadi dan tidak mengatakan jie jie-mu tidak sayang padamu.

-X-

Beberapa hari kemudian, kami kedatangan beberapa laksa pasukan yang mengaku sebagai pasukan aliansi yang didirikan oleh yi fu. Salah seorang prajurit datang sambil membawa sebuah gulungan, membukanya lalu membaca nama-nama pemimpin pasukan itu. Satu per satu jendral-jendral pemimpin pasukan keluar dari barisannya. Ada Yuan Shao dari Nanpi, Gongsun Zan dari Beiping, Yuan Shu dari Shouchun, Sun Jian dari Jiangdong dan masih ada beberapa lagi.

Yi fu lalu mengundang semua pemimpin pasukan dan kami berempat masuk ke dalam rumah untuk berdiskusi siapa yang akan menjadi pemimpin pasukan aliansi. Sesampainya di dalam, para pemimpin langsung duduk di tempat masing-masing sementara aku berdiri di sebelah yi fu . Dalam pertemuan itu, semua kerabat yi fu dan aku sendiri tentu saja memilih yi fu sebagai pemimpinnya tetapi tidak dengan yang lain. Mereka lebih memilih Yuan Shao dibanding yi fu. Karena jumlah suara kami kalah dari mereka yang memilih Yuan Shao, akhirnya apa boleh buat, Yuan Shao lah yang menjadi pemimpinnya. Yuan awalnya menolak tetapi akhirnya menerimanya dengan alasan karena semuanya menginginkannya dan aku bisa melihatnya ia melemparkan sebuah senyum sinis yang disertai tatapan mengejek kepada yi fu. Tentu saja aku merasa kesal dan tidak tinggal diam. Bagaimana pun, yi fu lah yang telah mengumpulkan mereka dan ia adalah orang yang lebih pantas menjadi pemimpin dibanding si bodoh marga Yuan ini. Tanganku sudah siap untuk menarik Xin Yue Jian dari pinggangku tetapi kelihatannya yi fu menyadarinya dan ia memberikan sebuah isyarat untuk tidak melakukannya. Dengan kesal, kuhentakkan kakiku dengan pelan ke tanah dan melepaskan genggaman tanganku dari pangkal pedangku. Cih, Yuan Shao... Ingin benar rasanya kutebas lehernya dengan pedang baru yang yi fu berikan ini. Aku memalingkan wajahku ke belakang sambil menyembunyikan tatapan dengkiku terhadap si marga Yuan yang sok keren ini.

Tiba-tiba seorang prajurit datang dengan tergesa-gesa lalu berlutut sambil menghormat. Ia melaporkan bahwa sedang terjadi kekacauan kecil di gerbang utama Chenliu. Kami semua langsung ke gerbang utama dan menemukan tiga orang asing. Yi fu menghampiri mereka lalu bertanya tentang mereka.

"Siapa kalian?"

"Liu Xuande alias Liu Bei." Ia memperkenalkan diri sambil membungkuk satu kali.

"Guan Yunchang alias Guan Yu."

"Zhang Yide alias Zhang Fei!"

"Hmm... kiranya, apa tujuan kalian kemari?"

Liu Bei membungkuk. "Untuk ikut serta menyelamatkan Kaisar dan dinasti, Cao da ren." Tuturnya dengan hormat.

"Hmm...," Yi fu mengangguk. "Baiklah, xian sheng sekalian, mari." Ia lalu berjalan kembali ke tempat para panglima berkumpul.

Aku menghampiri mereka dan membungkuk hormat pada mereka yang mereka balas dengan hal yang sama dan senyuman di wajah mereka.

"Namaku Cao Yin, anak angkat Cao Cao yi fu. Kiranya xian sheng sekalian mau memperkenalkan diri sekali lagi agar hubungan kita menjadi semakin dekat?" Aku bertanya dengan ramah.

Mereka semua mempekenalkan diri masing-masing dan aku teringat akan sebuah kabar angin tentang mereka.

"Oh! Bukankah Anda bertiga adalah tiga saudara yang berjasa besar dalam menumpas Huang Jin Jun? Wah! Sungguh beruntung saya bisa bertemu dengan Anda bertiga hari ini!" Aku langsung membungkuk.

"Hahaha, Yin xiao jie, anda terlalu memuji kami." Orang yang bernama Liu Bei itu tersenyum ramah padaku.

Dari kabar yang kudengar, Liu Bei adalah seseorang yang sangat sayang pada rakyat bagai menyayangi anaknya sendiri. Wajahnya memang sudah menunjukkan sifat itu dan senyuman ramahnya itu sudah mewakili perasaan yang ia miliki. Pastinya banyak rakyat yang sangat suka padanya dan dia bisa memikat hati semua rakyat Han! Benar-benar orang yang sangat hebat! Lalu kualihkan mataku ke Guan Yunchang, pria setinggi 9 kaki, berwajah merah dan memiliki janggut yang panjang. Tangan kanannya memegang sebuah golok bertangkai panjang yang berwarna hijau dengan motif naga di bilah goloknya. Orang ini sangat tenang dan kelihatannya bukan orang dengan kemampuan biasa. Melihat senjatanya itu, aku ingin mencoba untuk mengangkatnya.

"Umm...Guan xian sheng, apakah aku boleh meminjam senjatamu sebentar?"

Guan Yu mengangguk dan memberikan senjatanya padaku. Pada saat aku mengangkatnya, saat itu juga aku menjatuhkan senjatanya itu. Astaga! Berat sekali! Aku mendengar suara tawa ramah dari Guan Yu.

"Guan xian sheng, berapakah beratnya senjata Anda?" Aku bertanya sambil masih berusaha mengangkat golok bertangkai panjang itu yang masih tertancap di tanah.

Ia mengatakan bahwa senjata itu beratnya kurang lebih 44 kilogram dan tentu saja aku terkejut mendengarnya.

"44 kilogram?! Yang benar saja! Orang ini pastinya benar-benar kuat sampai golok seberat ini pun dapat ia angkat dengan mudahnya seperti mengangkat tongkat kayu!" Batinku.

Guan Yu lalu mengangkat golok yang tertancap itu dengan mudahnya, tidak seperti aku yang kesulitan dalam mengangkatnya. Aku hanya terkagum-kagum oleh kekuatan yang ia miliki itu. Kali ini aku memandang orang yang bernama Zhang Fei itu. Penampilannya juga sepertinya mendukung bahwa ia bukan orang biasa. Ia menopang sebuah tombak yang panjangnya hampir tiga meter berbilah tombak yang berbentuk ular itu dengan santai di pundaknya.

"Xian sheng, mari."

"Yin xiao jie, mari."

Kami berempat berjalan ke tempat pertemuan sambil berbincang-bincang. Sesampainya kami di sana, para panglima langsung menyapa yi fu lalu duduk kembali di kursi masing-masing. Aku berjalan ke belakang yi fu. Sementara itu, ketiga saudara malah hanya berdiri saja di hadapan kami semua, sekitar tujuh meter di depan Yuan Shao. Para panglima seperti tidak mengindahkan kehadiran ketiga saudara yang barus aja bergabung dengan kami.

"Hei, Yuan Shao!" Hardikan Zhang Fei membuat si pemilik nama terkejut dan melihatnya. "Da ge datang kemari dengan susah payah dan kau tidak menghiraukan kami?" Ia kembali melanjutkan hardikannya.

"San di, kau tidak sopan." Liu Bei menegur adiknya itu dan Zhang Fei langsung diam.

Yuan Shao langsung bertanya pada yi fu.

"Mengde, apakah mereka perwiramu?"

"Bukan." Yi fu lalu berdiri dan berjalan ke depan tiga saudara itu lalu menunjuk Liu Bei dengan sopan. "Dia adalah...," kalimatnya terhenti sebentar. "Maaf... aku tidak ingat namamu." Ia berkata dengan suara pelan tetapi aku bisa mendengarnya. Aku langsung menepuk jidatku. Yi fu...

Liu Bei lalu membungkuk di hadapan Yuan Shao yang sedang berdiri.

"Margaku Liu, nama Xuande alias Bei. Pejabat di kota Pingyuan." Ia memperkenalkan diri.

"Lalu mereka berdua...?" Yuan Shao bertanya kembali.

"Ini adalah adik keduaku, Guan Yu alias Guan Yunchang." Ia memperkenalkan Guan Yu lalu Guan Yu membungkuk hormat.

"Dia adalah adik ketigaku, Zhang Fei alias Zhang Yide."

Zhang Fei membungkuk hormat.

Yuan Shao diam sebentar lalu ia melanjutkan kembali pertanyaannya. "Silsilahmu?"

Kali ini Liu Bei terdiam sebentar, begitu juga dengan semua orang di sini. Ia lalu membuka mulutnya untuk menjawab.

"Saya adalah keturunan Raja Muda Sheng dari Zhongshan." Ia kembali membungkuk hormat.

Para panglima langsung tertawa mendengarnya tetapi Yuan Shao, yi fu, Guan xian sheng, Zhang xian sheng dan aku tidak tertawa sama sekali.

"Turunan Raja Muda Sheng apanya? Kau hanya seorang rakyat biasa, mana mungkin turunan Kaisar?" Seorang panglima bernama Liu Dai mengejek Liu Bei. Liu Bei hanya diam saja mendengarnya. Hebat.

Para panglima yang lain juga setuju dengan pendapat Liu Dai itu. Aku bisa melihat dari sudut mataku Zhang Fei hendak mencabut pedangnya untuk membunuh Liu Dai tapi Guan Yu terlebih dahulu menghentikannya sehingga Zhang Fei segera memasukan pedangnya yang sudah setengah ia tarik kembali ke sarungnya dan menggertu kesal.

"Seharusnya Guan xian sheng tidak menghalangi Zhang xian sheng untuk mencabut pedangnya~" Aku bergumam dalam hati dan berusaha menyembunyikan senyumanku.

Yi fu juga sepertinya menikmati pertunjukan ini dan seulas senyum mengembang sedikit di wajahnya.

"Kalau kau memang turunan kaisar... pengawal!" Yuan Shao memanggil seorang pengawal dan pengawal itu datang lalu menghormat pada Yuan Shao. "Bawakan bangku untuk dia!"

Pengawal itu pergi dan kembali dengan sebuah kursi kecil untuk Liu Bei. Ia meletakannya di sebelah salah seorang panglima dan menjadi orang yang duduknya paling jauh dari Yuan Shao. Meskipun dipelakukan sedemikian rupa, Liu Bei tetap berterima kasih, menghormat lalu duduk di kursi itu.

"Eh, da ge!"

Zhang Fei berusaha menghentikan da ge-nya itu tetapi Liu Bei tetap saja duduk di sana. Zhang Fei dan Guan Yu hanya bisa diam dan berjalan lalu berdiri di belakang da ge mereka. Ok, kali ini ingin benar rasanya kucabut pedangku dan menggoresnya di leher Liu Dai, Yuan Shao dan beberapa orang lainnya. Memang apa yang Liu xian sheng katakan kita tidak tau benar atau tidaknya tapi aku tau ia mengatakan kenyataannya dan seharusnya Yuan Shao tidak memperlakukannya seperti itu. Rupanya ini juga sebuah ledekan dari Yuan Shao dan mereka semua. Mereka tidak menghitung Liu Bei sebagai panglima ke-19 yang bergabung dengan mereka. Dasar sial.

"Nah, pemilihan ketua sudah selesai. Kalau begitu, ayo segera ke ibukota dan kalahkan si tiran Dong Zhuo itu!"

Aku menoleh dan melihat yi fu mencabut pedangnya yang kemudian ia angkat tinggi-tinggi ke udara. Kami semua langsung keluar dan mereka bergegas menunggangi kuda masing-masing. Pasukan mereka mengikutnya sambil meneriakan kata-kata penyemangat.

"Kurasa sudah saatnya. Baiklah!" Aku langsung melompat ke punggung kudaku, begitu juga dengan tiga saudara itu dan menyusul yi fu yang sudah berada di depan.

"Ayo selamatkan Kaisar dan bunuh tiran itu!" Aku berteriak dan teriakanku disambut baik oleh para prajurit.

To Be Continued...


Kaien dan Yin: Jangan lupa RnR ya! #acung jempol

Yin: Eh iya, Yun-yun?

Kaien: Yun kan sedang tidak diketahui keberadaannya jadi tidak bisa ikut minta RnR!

Yin: *suram di pojokan* Yun-yun...

Kaien: (Tapi bukannya sama Yuan Shao ya si Zhao Yun? A... suan le. ._."...)


~Finishing Note~

1. Cao Zihuan alias Cao Pi adalah anak kedua dari Cao Cao serta pendiri dan Kaisar pertama kerajaan Cao Wei pada masa tiga kerajaan. Anak pertama dari Cao Cao dan Lady Bian. Pada tahun 220, Cao Pi memaksa sang Kaisar Han, Xian, untuk turun tahta dan akibatnya, berakhirlah Dinasti Han dan China memasuki masa tiga kerajaan (Wei, Shu dan Wu). Meninggal pada tahun 226 dan digantikan oleh Cao Rui. Titlenya adalah 'Emperor Wen of Wei'.

2. Ada 18 panglima yang ikut bergabung untuk membasmi Dong Zhuo. Pasukan aliansi ini didirikan oleh Cao Cao namun karena pada saat pemilihan ketua banyak yang memilih Yuan Shao, akhirnya dipimpin oleh Yuan Shao.

3. Yuan Shao atau Yuan Benchu (袁本初) berasal dari sebuah keluarga terhormat bermarga Yuan. Keluarga ini sangat disegani pada masa dinasti Han. Meskipun Yuan Shao memiliki sangat banyak pasukan, daerah yang luas dan ransum yang melimpah, ia adalah seorang yang sangat sulit mengambil keputusan dengan cepat dan juga sulit untuk membedakan mana nasihat yang berguna dan tidak berguna. Oleh karena itu, ia kalah telak dari Cao Cao di Guandu (官渡) dan Baima (白马). Yuan Shao memiliki 3 orang anak yaitu: Yuan Tan, Yuan Xi dan Yuan Shang.

4. Sun Jian atau Sun Wentai (孙文台) lebih dikenal sebagai 'Harimau dari Jiangdong' karena sewaktu masih berusia 17 tahun, ia pernah dengan gagah berani sendirian menyerang sekawanan bandit hingga bandit-bandit itu lari tunggang langgang.

5. Bai Ma Jiangjun atau Jendral Kuda Putih adalah julukan untuk Gongsun Zan. Bai (白) = putih, ma (马) = kuda, Jiangjun (将军) = Jendral.

6. Liu Bei, Guan Yu dan Zhang Fei adalah tiga saudara dan kisahnya dikenal sebagai 'Tao Yuan San Jie Yi (桃园三结义)'. Sebenarnya mereka bukan saudara kandung ataupun saudara sepupu, melainkan menjadi saudara karena sama-sama bersumpah untuk menjadi saudara.

7. Liu Bei / Liu Xuande, seorang patriot Han, pendiri sekaligus Kaisar pertama kerajaan Shu Han, seorang keturunan Kaisar dan juga Huangshu (Paman Kaisar). Ya, Beliau adalah seorang keturunan dari Pangeran Sheng yang merupakan anak dari Kaisar Jing. Dan konon, Liu Bei lah yang menciptakan sepatu karena sebelum ia menjadi tentara, ia menghidupi dirinya dan ibunya dengan nafkah yang ia dapatkan dari penjualan sepatu jerami yang ia buat sendiri. Tapi tentu saja, hal ini masih diragukan. Liu Bei digambarkan sebagai seorang yang sangat baik pada rakyat, pembela kebenaran dan sangat menjunjung tinggi keadilan seperti saudara-saudaranya. Pada awalnya, kubu Liu Bei sangatlah lemah dan lebih sering menderita kekalahan dibandingkan kemenangan. Meskipun demikian, Liu Bei terus berjuang demi rakyat Han dan Dinasti Han. Liu Bei meninggal tahun 223 karena sakit setelah kekalahan yang ia derita di pertempuran Yiling.

8. Liu Bei mempunyai sepasang pedang yang ia beri nama Shuang Gu Jian. Guan Yu memiliki sebuah golok bertangkai panjang yang diberi nama Qing Long Yan Yue Dao sedangkah Zhang Fei memiliki sebuah tombak panjang bernama Ba Zhang She Mao.

9. Xin Yue Jian dan Qing Long Qiang (青龙枪) adalah senjata milik Yin. Qing () artinya hijau, Jian () artinya pedang dan Qiang () artinya tombak. Xin () artinya baru, Yue () artinya bulan, dan Jian () artinya pedang. Jika Xin dan Yue digabung, akan menjadi xin yue yang artinya bulan sabit. Jadi, Xin Yue Jian artinya Pedang Bulan Sabit atau Crescent Sword.

10. Saat ini, Yin sudah berumur 19 tahun dan memiliki pangkat Jiangjun yang berarti Jendral.

11. Suan le (算了) artinya forget it.


Author's Note: Owowo...kok kayaknya chapter ini panjang banget ya? O.O Apakah akan menjadi chapter terpanjang dari cerita ini? Menurut readers-san? ^^ Oh iya hampir lupa. Saya sedang mengadakan polling untuk mengetahui para readers lebih suka saya release chapter terbarunya setiap berapa lama sekali. Silahkan vote untuk pilihan Anda :D Thanks for the attention. Jangan lupa beritau saya jika Anda menemukan typo. Review, kritik dan saran Anda akan sangat membantu saya dalam membuat cerita ini lebih baik :D

DAN! Setelah author hitung, ternyata Cao Ang lebih muda enam tahun dari Yin. Cao Ang lahir tahun 177 sedangkan Yin memang lahirnya tahun 2006 tetapi jika disamakan dengan zaman, Yin lahirnya tahun 171. Jadi: Cao Cao tahun 155, Zhao Yun tahun 169 (sebenarnya masih belum diketahui dan author mengeditnya saja), Cao Yin tahun 171, Cao Ang tahun 177, Cao Pi tahun 189. Maaf atas kelalaian author yang satu ini.

Duo xie...

Akhirnya author menemukan typo yang author incar sejak lama ^^"... hehehe...