Disclaimer : Hunter x Hunter, togashi yoshihiro

Pairing : KilluaxOC

Category: tragedy, Hurt/Comfort.

Rated : T.

Warning : bisa ketularan gaje (?)

Ai tadi dapet pencerahan, ga tau dari mana. Tapi ni pencerahan bagus banget buat ai ngelanjutin fic ini. kalian tau apa? Pencerahannnya adalah... jeng jeng jeng… "niat ai". Jadi niat ai nulis fic buat pengembangan menulis ai sama nambah semangat ai buat nulis. Dan hountoni arigatou buat yang udah REVIEW, karna udah ngasih saran sama penilaian buat karya ai ^_^. Hountoni arigatou!.

Oh ia, gomen ne minna-san. Chapter ini sama selanjutnya kayanya bakal ai lanjutin aga lama, soalnya beberapa bulan kedepan ai bakal sibuk nih. Ai mau fokus UN sama masuk universitas jadi yah gitu deh, sama seperti janji ai, ai bakal benerin chapter-chapter sebelumnya juga jadi ajah tambah lama. Mohon do'anya yah! Dan makasih sebelumnya buat yang udah mau baca fic ai. Walaupun ai ga bisa liat wajah kalian, tapi ai yakin kalian orangnya baik banget deh, soalnya mau nyempetin baca fic ai ini ^_^. Dan jangan lupa peview-nya yah, ya itung-itung kenang-kenangan udah baca fic ini. ^-^ selamat menikmati.

.

.

.

Chapter 8 : ternyata.

Ana POV:

Aku masih menangis dipelukan kakakku . aku kau sangat sedih mengingat semua masalaluku itu. Itu semua salahku. Apalagi mimpiku semalm mengingatkanku bagaimana kecelakaan itu terjadi, dan itu, itu memang salahku yang terlalu manja.

Flash back on :

"ibu! Ayah! Pokoknya liburan sekarang ana mau jalan-jalan" rengekku sambil memeluk ibu yang baru datang dari luar negri bersama ayah.

"ana, ibu dan ayah masih lelah, minggu depan pun ibu dan ayah harus kembali lagi ke australia" bujuk ibu sambil mengelus kepalaku lembut.

"tidak papa, besok kita kepuncak yah!" kata ayah dengan senyuman khasnya.

Aku melepaskan pelukanku lalu menatap mata ayah dalam. "ayah ga bohong kan?" tanyaku

Ayah mengangguk memastikan kebenaran ucapannya.

"hore! Hore!" teriakku ceria.

"emang ayah ga cape?" tanya ibu pada ayah.

"ayah memang masih cape, tapi ayah juga pengen liat putri ayah yang cantik ini bahagia sebelum kita kembali ke australia nanti"

"baiklah kalau itu keputusan ayah"

Aku, ayah dan ibu masuk kedalam rumah, namun tanpa ka shalnark soalnya ka shalnark sibuk dengan pekerjaannya.

Keesokan harinya…

Kira-kira janm 10 kami berangkat menuju puncak, tempat yang dijanjikan ayah.

Aku berangkat dengan memakai baju dres berwarna biru muda dan cardigan sepinggang berwarna abu, rambutku kubiarka jatuh yang ditemani dengan bandana berwarna biru muda. Aku duduk di belakan ayah, tepat dibelang ayah. Sedangkan ibu duduk didepan disamping ayah. Ka shalnark tidak ikut, karna katanya ada meeting pagi ini.

"ana, kau senang?"tanya ayah

"ya, ana sangaaaaat senang!" jawabku riang.

"ana?"

"ya?"

"ana, ana udah punya pacar?"

"belom yah, emang kenapa?"

"mau ayah kenalkan dengan anak temen ayah?"

"tidak, ana tidak mau."

"kenapa?"

"ana belum mau pacaran, yah"

"oh. Kalo gitu.."

"ayah! Awwaaaasssss!" teriak ibu histeris

Sebuah mobil melaju dengan cepat menabrak mobil kami, kepalaku terbentur dikursi yang diduduki ayah dan setelah itu, aku tidak ingat apa yang terjadi.

~0.o~

Aku membuka mataku perlahan. Dengan bau obat-obatan yang kucium, aku tidak tau ini dimana. Setelah aku membuka mataku, ternyata aku sedang berada di atas ranjang rumah sakit.

"ana? Kau sudah sadar?" suara itu… itu suara…

Aku melirik kearah suara. Dan ternyata, itu adalah ka shalnark.

Aku tersnyum melihatnya. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di otakku.

"dimana ibu dan ayah?" tanyaku pada ka shalnark.. ya itulah yang mengganjal diotakku.

Sebelum ka shalnark menjawab, dia menundukkan kepalanya dalam-dalam. "ayah dan ibu…"

"ada apa dengan ayah dan ibu?"

"mereka… mereka sudah tidaka ada"

Flash back of.

"sudahlah ana! Itu bukan salahmu" kata ka shalnark mencoba membujukku sambil mengelus punggungku lembut."kalau kau begini terus teman-temanmu pasti akan sedih"

Teman? Aku tidak berniat untuk punya teman sama sekali. aku takut, aku takut merusak hidup mereka atau membuat kesialan dalam hidup mereka.

"apalagi setelah kaka mlihat kekhawatiran diwajah temanmu yang berambut putih itu"

Ha? Berambut putih? Killua kah?

Aku mulai berhenti menangis dan melepaskan pelukanku lalu menatap wajah ka shalnark dalam. Berusaha menemukan kebohongan dari perkataanyya barusan, tapi sayang aku tidak menemukannya. " siapa? Killua?" tanyaku memastikan.

"oh, namanya killua. Sepertinya dia menyukaimu ana, saat kamu pingsan kemarin, dia orang yang paling khawatir saat melihatmu jatuh, dan tidak mau pergi dari sini. Dia terus saja menjagamu, dia juga berjanji akan menyembuhkanmu."jelasnya yang berhasil membuatku terkejut bukan main.

Ternyata killua yang selama ini menyebalkan. Tapi tidak, aku tidak mau menyakitinya. Lebih baik dia menjauh dariku, karna aku hanya akan menyakitinya.

"benarkah?" tanyaku masih tak percaya.

"ia. Dia teman dekatmu? Lagipula sepertinya dia orang baik. Dia juga tampan ko."

Teman dekat? Yang benar saja, kita baru kenal dua hari yang lalu loh. Tampan? Aku juga tau ko kalau dia memang tampan, lalu?

"dia bukan temanku. Aku baru kenal dengannya beberapa hari lalu. Dia itu anak pindahan dari sekolah lain dan dia juga teman sebangkuku yang baru. Ya, karna ga ada kursi kosong lagi, jadi dia terpaksa ditempatkan bersamaku. Walau baru kenal, dia tuh nyebelin banget"

"hahahaha" kakak tertawa, nah itulah yang membuatku heran karna perasaan aku ga ngelucu sama sekali.

"loh ko, kaka tertawa?"

"killua itu ternyata anak yang unik yah. Apa dia ga tau gimana kalo kamu marah"

"sudah kubilangkan, dia baru kenal denganku" kataku sambil memutarkan bola mataku.

"lalu temanmu yang satu lagi itu namanya siapa? Dia polos banget yah."

"namanya gon, dia memang polos dan terkenal ramah dikelas kita"

"oh ia, ana sepertinya kaka ga bisa jemput ana siang ini soalnya acara kaka padat sampe sore. ana ga papakan telat pulang?" kata kaka sambil tersenyum padaku.

Aku mengangguk. "kakak sekarang ga ada janji?"

"ada sih, tapi kakak mau nengok adik kakak yang cantik ini. kakak takut adik kakak yang cantik ini kenapa-napa, apalagi ditemenin 2 cowo yang kakak sendiri belom kenal, dan ternyata kamu ga papa." Katanya lalu mencubit kecil hidungku.

" aku bukan anak kecil lagi, ga usah khawatir ana bisa jaga dir ko. ya udah kalo gitu, kakak penuhi janji kakak sekarang aja. Ana gapapa ko kalo ditinggal sendiri."

"ya udah, kayanya bentar lagi 2 temen kamu itu pulang, jadi kamu ga akan sendiri."

Aku mengangguk. Kakak bangkit dari duduknya lalu mengacak-acak rambutku sambil tersenyum "kaka tinggal dulu yah." Katanya lalu melangkahkan kakinya keluar dari ruangan ini.

Aku melihat keluar jendela menatap betapa birunya lagit dengan hiasan awan yang indah. Aku masih tidak percaya dengan kelakuan killua padaku. Apakah dia memang benar menyukaiku? Ah. Apa yang kubayangkan? Kenapa aku malah memikirkan anak menyebalkan itu? Aku memang sempat merasa ada sesuatu yang aneh darinya apalagi kelakuannya semalam. Dia, dia memang tidak seperti yang kubayangkan selama ini. kukira dia hanya lelaki tampan bajingan yang tidak peduli dengan orang lain. Tapi ternyata dia orang yang sangat baik.

"kita pulang!" sebuah teriakan ceria yang datang dari arah pintu.

Suara itu adalah milik orang yang kukenal. Siapalagi kalau bukan gon.

Aku menoleh kearah gon. Dengan wajah yang ceria dan tangan yang membawa beberapa keresak yang entah isinya apa itu melangkah kearahku disusul dengan lelaki bersurai putih yang memasukkan sebelah tangannya kedalam saku celana dan sebelah lagi membawa keresek yang aku sendir tidak tau apa isinya.

"hei ana! Eh? kenapa kamu senyam senyum sendiri?" tanya gon polos sambil membengkokkan kepalanya.

Apa? ah, aku ga mau ketahuan telah memikirkan killua.

"ti-tidak, ano…"

"kau memikirkanku?" tanya killua yang berada tidak jauh di belakang gon.

Gawat. Kenapa killua bisa tau kalo aku memikirkannya?

"eh?"

"kau memikirkan killua ana?" tanya gon dengan wajah polosnya.

"tidak" bohongku.

"hahahahaha… tuh, wajahmu memerah tuh!" kata killlua, ya nadanya itu lebih mirip nada meledek sih.

Yang benar saja. apa yang membuat wajahku memerah? Ah, dia pasti bohong.

"wajahku tidak merah ko" kataku.

"hahahahahaha becanda ko, becanda. Aku beliin kamu coklat nih, kau mau?"

Coklat? Dia membelikanku coklat? Kenapa dia bisa tau kalau aku suka coklat?

"terima saja ana! Ga diracun ko!" kata gon sambil tersenyum padaku.

"kenapa kau membelikanku coklat?" tanyaku penasaran. Aku takut ada maksud lain dari pemberiannya ini.

"emangnya kenapa?"

"aku takut ada sesuatunya" tanyaku penuh selidik.

"oi oi. Ini sengaja kubelikan untukmu, ya itung-itung aku minta maaf atas kejadian dikelas kemarin. Kamu suka coklat kan?"

Tunggu, kenapa dia bisa tau kalau aku suka coklat? Aku menatapnya mencoba menemukan kebohongannya dan menjawab pertanyaanku, namun aku tidak menemukannya.

Karna aku tidak menemukannya, ya aku menerimanya saja. untuk pertanyaan kenapa dia tau aku suka coklat itupun kututup dengan jawabanku sendiri yaitu saat istirahat aku membeli coklat. Aku mengambil coklat yang diberikannya padaku lalu tersenyum tak lupa mengucapkan terima kasih

"makasih yah."

Dia mengangguk sambil membalas senyuman yang tlah kuberikan padanya.

"ana, besok kamu mau mulai sekolah?" tanya gon.

Aku mengangguk dengan semangat, lagi pula aku kangen banget sama sekolahku. Dan siang inipun aku sudah diizinkan pulang kerumah, namun aku harus kontrol setiap minggunya kesini, ya walaupun untuk 3 hari kedepannya aku harus kesini dulu memeriksakan keadaanku.

"eh lili? Kenapa buburmu tidak kau makan?" tanya killua yang kini duduk di sampingku di pinggir kasur.

"engga ah, lagi pula rasanya hambar"

"kalau kau tidak makan, nanti kamu malah tambah sakit loh"

Lah? Sejak kapan killua jadi perhatian kaya gini?

"tapi kan ga enak"

"kalo gitu, kamu mau kubutkan sup?"

"emang kamu bisa masak?"

"lihat saja nati. Tapi itu juga kalo kamu mau sih"

Aku berfikir sejenak. Sepertinya boleh juga, aha bagaimana kalo aku ngasih tantangan. Kalo masakannya ga enak, aku bakal jadiin dia budakku.

"emmm… boleh, tapi ada syaratnya."

"syarat? Boleh."

"kalo makananmu menurutku ga enak, kamu harus jadi budakku selama seminggu. Gimana?"

"em… boleh juga, tapi kalo kamu kalah, kamu harus makan masakanku tiap hari, gimana?"

"Boleh."

Dinilah pertarungan dimulai. Siapakah yang akan menang? Namun, bagaimana pun rasanya, aku akan berkata ga enak, biar dia jadi budakku, hahahaha.

"kalian ga masuk sekolah?"

"aku ga mungkin sekolah meninggalkanmu dengan keadaanmu yang seperti ini"

"lalu apa kata guru-guru nanti kalau kalian ga masuk, pasti absen kalian alfa." Kataku khawatir.

"ga papa ko ana, lagi pula sekolah itu milik killua" jawab gon

"eh? milik killua?" tanyaku kaget.

Aku sangat kaget mendengar jawaban gon barusan. Kenapa tidak? Orang seperti killua yang punya sekolah sehebat itu?

"ayolah gon, kau tak usah membuatku malu." Kata killua lalu memalingkan wajahnya.

Kurasa dia malu karna pujian gon barusan.

"sekolah ternama hunter high school itu milik killua?" tanyaku masih tidak percaya.

"ia. Killua pindah kesini itu untuk melihat sekolah yang akan diurusnya nanti saat dia lulus. Dan sekaligus akan mengurus perusahan milik ayahnya yang berada dikota ini." jelas gon.

Dan lagi-lagi penjelasan gon barusan membuatku semakin tidak percaya. Killua? Sehebat itukah dia?

" oi gon, sudahlah ! jangan bahas hal memalukan seperti itu!" kata killua dengan nada yang aga tinggi.

Kukira dia mulai marah, atau sangat malu karna diuji oleh seorang gon yang polosnya minta ampun.

" hehehehe, maaf maaf kalo emang itu membuatmu malu."

"ah, sudahlah aku mau masak dulu." Kata killua sambil menundukkan wajahnya dan pergi dari hadapan kami.

"emang killua ga suka dipuji yah?" tanyaku penasaran.

"hehe, ya kurasa memang begitu."

Tok… tok… tok…

Seorang mengetuk pintu dari luar.

"masuk!" teriak gon.

Dari balik pintu terlihat seorang lelaki memakai jas putih. Kalau tidak salah dia adalah dokter yang mengurusku. Dia memang masih terlihat muda dibandingkan dengan dokter yang pernah kutemui, tapi siapa tau dia sudah mempunyai istri.

"nyonya ana? Bagaimana keadaan anda? Apakah anda merasa lebih baik?" tanya dokter itu ramah dengan senyumannya yang manis.

Aku mengangguk pelan.

"loh, kenapa buburnya tidak anda makan?" tanyanya sambil melihat bubur yang tidak kusentuh sama sekali yang tergeletak begitu saja diatas meja disamping tempat tidurku.

"rasanya hambar dok" jawab gon polos.

"oohhh… makanan dirumah sakit memang selalu hambar. Gimana kalo kita makan diluar saja?" tanyanya ramah.

Namun aku tidak mengerti dengan ajakannya, untuk apa aku diajak makan diluar? Aku takut ada sesuatu yang telah direncanakannya. Ya walaupun dia seorang deokter, tapi tidak menutup kemungkinankan, kalau seorang dokter tidak bisa melakukan kejahatan?

~o.0~

Apa yang akan dilakukan pariston dengan mengajak ana makan diluar? Lalu bagaimana dengan makanan yang killua buat? Apakah killua yang akan menang ataukah ana? Tunggu saja dichapter selanjutnya!

To be continue…

Beres deh, tinggal lanjut chapter 9. Nanti aku bakal bikin kalian kaget deh, tapi ga tau deh chapter berapanya. Gimana-giamana? Ceritanya makin bagus ato makin ancur? Ato jangan-jangan makin gaje? Ato makin ga nyambung? Aduh bisa gawat tuh.

Tapi jangan kapok yah baca fic ini, hahaha.

Nah, sekarang tibalah kita dibagian akhir fic ini. Okeh, karena masih banyak kekurangan ataupun kesalahan dalam fic saya ini, jadi seperti biasa mohon REVIEW-NYA !

Ya, semoga dengan review-nya saya bisa menciptakan fic yang lebih bagus lagi.

Sebelumnya, makasih yang udah mau REVIEW. ^^